أسلوب القسم
والتعجب والتدريب على ترجمة النص
أسلوب القسم
Definisi uslub
qasam
أسلوب القسم من
أساليب التوكيد. وهو يتكون من أداة القسم والمقسم به وجواب القسم.
Uslub qasam
termasuk salah satu uslub taukid (penegasan), tersusun dari perangkat qasam,
muqsam bih dan jawab qasam.
Contoh:
وَاللهِ لَنْ يُضِيعَ حَقَّنَا demi Allah, dia tidak akan menyia – nyiakan hak
kita
الواو : wawu qosam
الله Muqsam bih, majrur dengan kasrah :
لَنْ يُضِيعَ
حَقَّنَا Jawab qasam :
Berikut ini
penjelasan masing-masing rukun uslub qasam yang 3:
a. ادوات القسم )huruf qasam(
Perangkat qasam
adalah: ) الواو – الباء -
التاءWawu – Ba’ –
Ta’(
وهي حروف جر تجر
ما بعدها (ولا تدخل – التاء – إلا على لفظ الجلالة – الله - )
Semuanya huruf
jar yang memajrurkan isim setelahnya (Ta’ tidak masuk ke selain lafdzul
jalalah (( الله
)) ).
Adat qasam adalah sighat yang
digunkan untuk menunjukkan qasam, baik dalam bentuk fi’il maupun huruf seperti
ba, ta, dan wawu sebgaai pengganti fi’il qasam.
Contoh qasam dengan memakai kata kerja, misalnya firman Allah SWT:
(#qßJ|¡ø%r&ur «!$$Î/ yôgy_ öNÎgÏZ»yJ÷r& w ß]yèö7t ª!$# `tB ßNqßJt 4 4n?t/ #´ôãur Ïmøn=tã $y)ym £`Å3»s9ur usYò2r& Ĩ$¨Z9$# w cqßJn=ôèt ÇÌÑÈ
Artinya:
“Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh:
“Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (tidak demikian), bahkan
(pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah,
akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. “(QS. An-Nahl ayat 38)
Adat qasam yang
banyak dipakai dalah wawu, sebagaimana firman Allah SWT:
ÈûüÏnG9$#ur ÈbqçG÷¨9$#ur ÇÊÈ ÍqèÛur tûüÏZÅ ÇËÈ
Artinya: “Demi
(buah) Tin dan (buah) Zaitun dan demi bukit Sinai.” (QS. At-Tin: 1-2)
b. )
المقسم بهMuqsam bih(
يكون المقسم به
عادة لفظ الجلالة (الله) أو بعض الألفظ الّتى جرى استعمالها كمقسم به,مثل: حقك,
حياتك...
Muqsam bih
biasanya lafdzul jalalah (( الله
)) atau sebagian lafadz yang biasa digunakan sebagai muqsam bih, misalnya: حَقّكَ, حَيَاتكَ
dan seterusnya.
Al-Muqsam bih
yaitu sesuatu yang dijadikan sumpah. Sumpah dalam al-Qur’an ada kalanya dengan
memakai nama yang Agung (Allah), dan ada kalanya dengan menggunakan nam-nama
ciptaanNya. Qasam dengan menggunakan nama Allah dalam al-Qur’an hanya terdapat
dalam tujuh tempat yaitu:
a.
QS. Adz-dzariyat ayat 43
b.
QS. Yunus ayat 53
c.
QS. Al-Hijr ayat 92
d.
QS. At-Taghabun ayat 17
e.
QS. Maryam ayat 68
f.
An-Nisa ayat 65
g.
QS. Al-Ma’arij ayat 40
Misalnya firman
Allah SWT:
* tRqä«Î6.^tFó¡tur <,ymr& uqèd ( ö@è% Î) þÎn1uur ¼çm¯RÎ) A,yss9 ( !$tBur OçFRr& úïÌÉf÷èßJÎ/ ÇÎÌÈ
Artinya: “Dan
mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu? Katakanlah:
“Ya, demi Tuhanku, Sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali
tidak bisa luput (daripadanya)”.(QSYunus ayat 53)
Selain pada
tujuh tempat diatas, Allah memakai qasam dengan nama-nama ciptannya seperti
dalam firman Allah SWT:
* Ixsù ÞOÅ¡ø%é& ÆìÏ%ºuqyJÎ/ ÏQqàfZ9$# ÇÐÎÈ
Artinya: “Maka
aku bersumpah dengantempat beredarnya bintang-bintang”. (QS. Al-Waqi’ah: 75).
c. ) جواب القسم Jawab qasam/muqsam ‘alaih(
Muqsam ‘alaih
merupakan suatu pernyataan yang datang mengiringi qasam, berfungsi sebagai
jawaban dari qasam. Di dalam Qur’an terdapat dua muqsam ‘alaih, yaitu yang disebutkan
secara tegas atau dibunag. Jenis yang pertama terdapat dalam ayat-ayat sebagai
berikut:
ÏM»tͺ©%!$#ur #Yrös ÇÊÈ ÏM»n=ÏJ»ptø:$$sù #\ø%Ír ÇËÈ ÏM»tÌ»pgø:$$sù #Zô£ç ÇÌÈ ÏM»yJÅb¡s)ßJø9$$sù #·øBr& ÇÍÈ $oÿ©VÎ) tbrßtãqè? ×-Ï$|Ás9 ÇÎÈ ¨bÎ)ur tûïÏe$!$# ÓìÏ%ºuqs9 ÇÏÈ
Artinya: “Demi
(angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.dan awan yang mengandung hujan, dan
kapal-kapal yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang
membagi-bagi urusan, Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar, dan
Sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.” (QS. Adz-Dzariyat: 1-6)
Jenis kedua
muqsam ‘alaih atau jawab qasam dihilangkan/dibuang karena alasan sebagai
berikut:
Pertama, di
dalam muqsam bih nya sudah terkandung makna muqsam ‘alaih.
Kedua, qasam
tidak memerlukan jawaban karena sudah dapat dipahami dari redaksi ayat dalam
surat yang terdapat dalam al-Qur’an.
Contoh jenis
ini dapat dilihat mislanya dalam ayat :
4ÓyÕÒ9$#ur ÇÊÈ È@ø©9$#ur #sÎ) 4ÓyÖy ÇËÈ
“Demi waktu matahari
sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap).” (QS. Ad-Dhuha:
1-2).
يكون جواب القسم
إما جملة اسمية أو جملة فعلية.
Jawab qasam
bisa jumlah ismiyah atau jumlah fi’liyah.
فإذا كان جواب
القسم جملة اسمية مثبتة وجب تأكيده بإنَّ وباللام أو بإنّ وحدها.
1.
Apabila jawab qasam berupa jumlah ismiyah
positif, maka wajib memberi taukid dengan inna dan lam atau
dengan inna
Contoh:
وَاللهِ إِنَّ فَاعِلَ الخَيْرِ لَمَحْبُوْبٌ demi Allah, sesungguhnya pelaku kebaikan disukai
Atau:
وَاللهِ إِنَّ فَاعِلَ الخَيْرِ مَحْبُوْبٌ demi Allah, sesungguhnya pelaku kebaikan disukai
فإذا كان جواب
القسم جملة فعلية مثبتة وكان فعلها ماضيا أكد الجواب بقد واللام أو قد وحدها
2. Apabila jawab
qasamnya jumlah fi’liyah positif dan fi’ilnya madhi, maka jawab qasam
ditaukidkan dengan قَدْ dan lam atau قَدْ
Contoh:
تَاللهِ لَقَدْ أَطَعْتُ أَمْرَكَ demi Allah, aku telah memenuhi perintahmu
Atau:
تَاللهِ قَدْ أَطَعْتُ أَمْرَكَ demi Allah, aku telah memenuhi perintahmu
فإذا كان جواب
القسم جملة فعلية مثبتة وكان فعلهامضارعا أكد بلام القسم ونون التوكيد
3. Apabila jawab
qasam jumlah fi’liyah positif dan fi’ilnya mudhari’, maka ditaukidkan dengan lam
qasam dan nun taukid.
Contoh:
وَاللهِ لَأُحَاسِبَنَّ المُقَصِّرَ demi Allah, aku akan memberi perhitungan kepada
yang lalai
4. Adapun apabila
jawab qasam negatif, maka tidak diberi taukid, sama saja apakah jumlah ismiyah
atau fi’liyah.
Contoh:
وَحَقِّكَ لَا نَجَاحَ إِلَّا بِالمُثَابَرَةِ demi hak-mu, tidak akan berhasil kecuali dengan
ketekunan
وَاللهِ مَا يُضِيعُ مَجْهُودَكَ demi Allah, dia tidak akan menyia – nyiakan
kesungguhanmu
أسلوب التعجب
A. Definisi
أسلوب التعجب أسلوب يستعمل المتصبير عن الدهشة أو
استعتظام صفة في شئ ما.
Uslub ta’ajjub adalah uslub yang digunakan untuk memberi berita
tentang suatu kedahsyatan atau pengagungan sifat sesuatu.
Contoh:
مَا أَعْذَبَ مَاءَ النِّيلِ betapa
jernihnya air sungan Niil
B.
Dua shighah
ta’ajjub.
Ta’ajjub mempunyai dua shighah:
مَا أَفْعَلَهُ dan أَفْعِلْ بِهِ
Dua
shighah untuk ta’ajjub ini disyaratkan fi’ilnya harus:
a. Tsulatsi
(tiga huruf).
Contoh:
جَمُلَ – عَظُمَ – عَذُبَ –
صَدَقَ – كَبُرَ – كَثُرَ
b. Tam
(yaitu tidak naqish seperti Kana dan saudaranya).
c. Bukan
sifat yang berwazan أَفْعَلُ yang muannatsnya فَعْلَاء.
d. Mutsbat
(tidak dinafikan).
e. Mabni
lil ma’lum
f. Mutasharrif
(yaitu ada madhi, mudhari’, dan amr).
Contoh:
مَا أَجْمَلَ السَّمَاءَ betapa
indahnya langit ini
(مَا : Isim nakirah dengan makna sesuatu yang
agung, mabni atas sukun pada posisi rafa’ mubtada’. أَجْمَلَ : Fi’il mdhi, fa’ilnya dhamir mustatir
wujuban tersiratnya هو, kalimat dari fi’il dan fa’il khabar مَا)
السَّمَاءَ : Maf’ul bih manshub dengan fathah.
Atau:
أَجْمِلْ بِالسَّمَاء betapa indahnya langit ini
(أَجْمِلْ : Fi’il madhi dalam bentuk amr, mabni atas
fathah yang tersirat. بِالسَّمَاءِ : Ba’ huruf jar tambahan, السَّمَاءِ
: Fa’il marfu’ dengan dhammah yang tersirat pada hamzah)
Apabila fi’il bukan tsulatsi ( Misalnya: تَفَوَّقَ,
اِنْتَصَرَ dan seterusnya)
atau naqish ( misalnya: Kana, Zhalla dan seterusnya) atau
sifat yang berwazan أَفْعَلُ yang muannatsnya فَعْلَاء (misalnya: سَوِدَ, حَمِرَ dan seterusnya), maka kita perantarai
ta’ajjub dengan kata ((أَشَدَّ )) atau (( أَشْدِدْ )) atau yang semisalnya dan kita datangkan
setelahnya mashdarnya yang sharih atau mashdar muawwal.
Contoh:
مَا أَصْعَبَ كَوْنَ
الدَّوَاءِ مُرًّا betapa
sulitnya keadaan obat yang pahit
(Fi’il naqish)
مَا أَرْوَعَ أَنْ يَنْتَصِرَ
الجَيشُ betapa
megahnya kemenangan tentara itu
(Fi’il bukan tsulatsi)
مَا أَشَدَّ سَوَادَ اللَيلِ betapa
pekatnya malam
(Sifat berwazan أَفْعَلُ yang muannatsnya فَعْلَاء )
Apabila fi’il dinafikan (misalnya: لَا
يَصْدُقُ, لَا يَقُولُ dan se terusnya) atau mabni majhul (Misalnya:
يُقَالُ, يُعَاقَبُ dan seterusnya), maka kita perantarai ta’ajjub dengan cara yang
sama seperti di atas bersamaan dengan menggunakan mashdar muawwal.
Contoh:
مَا أَضَرَّ أَلَّا يَصْدُقَ
العَامِلُ betapa
merugikanya apabila pekerja tidak jujur
(Fi’il dinafikan)
مَا أَجْمَلَ أَنْ يُقَالَ
الحَقُّ betapa
indahnya kebenaran itu diucapkan
(Fi’il mabni majhul)
Sama sekali tidak bisa membuat ta’ajjub dari fi’il jamid ( عَسَى – لَيسَ – نِعْمَ – بِئْسَ )
Catatan:
Ta’ajjub juga mempunyai shighah yang bukan qiyasi.
Contoh:
سُبْحَانَ اللهِ subhanallah
(maha suci Allah)
لِلهِ دَرُّهُ betapa
hebatnya dia
يَا لَهُ مِنْ بَطَلٍ
betapa hebatnya dia sebagai pahlawan
Botto