Selasa, 10 April 2018

BUKAN MENAFIKAN POLIGAMI

BUKAN MENAFIKAN POLIGAMI

Aku seorang wanita yang telah menjadi seorang istri dari laki – laki yang menurutku luar biasa. Allah anugerahkan dia untuk hidup berdampingan denganku. Menjalani hari – hari bersama, berdua dengan kasih dan cinta.

Kami baru beberapa bulan ini menikah. Belum genap satu tahun rasanya. Jujur, sebelum menikah, in syaa Allah aku akan mengijinkan suamiku untuk menikah lagi, menghalalkan wanita lain untuk dirinya. Namun setelah menikah, entah mengapa rasanya berat sekali. Memang pikirku dari pada dia berzinah, lebih baik aku ijinkan dia menikah. Karena rasa sayang ini suci. Menginginkan zina dan jerat syaitan mneghindar dari suami. Namun benar, tak segampang dan semudah itu memberikan ijin. Berat sekali. Hingga air mata benar – benar harus membanjiri pipi.

Entah permintaan menikah lagi adalah sebuah keseriusan atau hanya sekedar candaan dan gurauan. Namun aku teringat akan suatu hadist rosulullah yang mulia, bahwa pernikahan dan perceraian, meski diniatkan untuk sekedar candaan, ia tetap ternilai menjadi sebuah keseriusan. Dan suamiku pun tahu akan hal itu. membuat hati ini semakin sakit.

Aku tak ingin egois. Aku menyayangimu, wahai suamiku terkasih. Aku ingin kau bahagia. Namun apa tak ada cara dengan menikahi seorang wanita, lagi. saat dia berkata langsung dihadapanku, meminta ijin untuk berpoligami, dengan tampang ceria penuh canda, aku pun akan meresponnya dengan senyum dan canda pula. Namun kau tak tahu bukan, bagaimana hati ini menangis dan menjerit. Seberapapun kerasnya hati menjerit, toh percuma saja, tidak ada yang mendengar selain tuhan. Suamiku tak pernah tau bagaiamana aku terisak karna permintaannya. Aku selalu instrospeksi diri, apakah yang kurang dalam diri ini. Sehingga sang suami menginginkan menikah lagi. tapi sungguh, aku sama sekali tak bermaksud menafikan syariat mulia ini. Hanya saja akuu belum sanggup, atau mungkin benar – benar tak sanggup menghadapi apa yang akan terjadi.

Jika pernikahan kedua benar – benar datang untuk suamiku, entah apa yang akan aku lakukan. Entah bagaimana koyaknya hati dan perasaan, karena aku tahu, itu adalah suatu ujian pernikahan.

Aku ingin menjadi istri sholehah. Aku ingin menjadi hamba Allah yang Allah tawarkan kepadaku, mau dari pintu mana aku memasuki surganya. Ahhh,, rasanya itu hanya angan namun juga harapan. Namun aku juga tak tahu, akankah aku kuat berbagi seorang suami yang aku cintai. Aku takut diri ini lemah. Hingga bukan pahala yang ku dpatkan, melainkan dosa yang semakin memberatkan timbangan keburukanku. Aku tak bisa menjamin bagaimana hati ini kelak. Meski aku pasti akan berusaha tegar dan ikhlas. Namun aku tak bisa menjamin, dan kau pun, wahai suamiku, tak bisa menjamin itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar