BUKAN MENAFIKAN POLIGAMI
Aku seorang
wanita yang telah menjadi seorang istri dari laki – laki yang menurutku luar
biasa. Allah anugerahkan dia untuk hidup berdampingan denganku. Menjalani hari –
hari bersama, berdua dengan kasih dan cinta.
Kami baru
beberapa bulan ini menikah. Belum genap satu tahun rasanya. Jujur, sebelum
menikah, in syaa Allah aku akan mengijinkan suamiku untuk menikah lagi,
menghalalkan wanita lain untuk dirinya. Namun setelah menikah, entah mengapa
rasanya berat sekali. Memang pikirku dari pada dia berzinah, lebih baik aku
ijinkan dia menikah. Karena rasa sayang ini suci. Menginginkan zina dan jerat
syaitan mneghindar dari suami. Namun benar, tak segampang dan semudah itu
memberikan ijin. Berat sekali. Hingga air mata benar – benar harus membanjiri
pipi.
Entah permintaan
menikah lagi adalah sebuah keseriusan atau hanya sekedar candaan dan gurauan. Namun
aku teringat akan suatu hadist rosulullah yang mulia, bahwa pernikahan dan
perceraian, meski diniatkan untuk sekedar candaan, ia tetap ternilai menjadi
sebuah keseriusan. Dan suamiku pun tahu akan hal itu. membuat hati ini semakin
sakit.
Aku tak ingin
egois. Aku menyayangimu, wahai suamiku terkasih. Aku ingin kau bahagia. Namun apa
tak ada cara dengan menikahi seorang wanita, lagi. saat dia berkata langsung
dihadapanku, meminta ijin untuk berpoligami, dengan tampang ceria penuh canda,
aku pun akan meresponnya dengan senyum dan canda pula. Namun kau tak tahu
bukan, bagaimana hati ini menangis dan menjerit. Seberapapun kerasnya hati
menjerit, toh percuma saja, tidak ada yang mendengar selain tuhan. Suamiku tak
pernah tau bagaiamana aku terisak karna permintaannya. Aku selalu instrospeksi
diri, apakah yang kurang dalam diri ini. Sehingga sang suami menginginkan
menikah lagi. tapi sungguh, aku sama sekali tak bermaksud menafikan syariat
mulia ini. Hanya saja akuu belum sanggup, atau mungkin benar – benar tak
sanggup menghadapi apa yang akan terjadi.
Jika pernikahan
kedua benar – benar datang untuk suamiku, entah apa yang akan aku lakukan. Entah
bagaimana koyaknya hati dan perasaan, karena aku tahu, itu adalah suatu ujian
pernikahan.
Aku ingin menjadi
istri sholehah. Aku ingin menjadi hamba Allah yang Allah tawarkan kepadaku, mau
dari pintu mana aku memasuki surganya. Ahhh,, rasanya itu hanya angan namun
juga harapan. Namun aku juga tak tahu, akankah aku kuat berbagi seorang suami
yang aku cintai. Aku takut diri ini lemah. Hingga bukan pahala yang ku dpatkan,
melainkan dosa yang semakin memberatkan timbangan keburukanku. Aku tak bisa
menjamin bagaimana hati ini kelak. Meski aku pasti akan berusaha tegar dan
ikhlas. Namun aku tak bisa menjamin, dan kau pun, wahai suamiku, tak bisa
menjamin itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar