PERENCANAAN
EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Evaluasi
mencakup berbagai aspek, mulai dari evaluasi: kurikulum, proses pembelajaran,
kemampuan atau pemerolehan siswa, kinerja tenaga pengajar –termasuk efektivitas
metode yang digunakan, manajemen sekolah, lingkungan pembelajaran, partisipasi
masyarakat dan bangsa terhadap pensuksesan pembelajaran.
Evaluasi
merupakan landasan utama dalam setiap pengambilan kebijakan kependidikan, baik
mengenai pengembangan kurikulum, perlunya pemberian remidiasi (penguatan, les
tambahan), pemberdayaan kinerja tenaga pengajar dalam menggunakan metodologi,
maupun dalam menentukan kelulusan siswa, kenaikan biaya pendidikan, penambahan
dan peningkatan fasilitas pembelajaran, seperti: perpustakaan, laboratorium,
multimedia, dan sebagainya.
Evaluasi
didefinisikan sebagai proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan
menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen
tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang
telah ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi,
obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu.
Tujuan
utama evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas [ketepatan dalam
pencapaian tujuan] dan efisiensi [penggunaan tenaga, sarana, biaya dan waktu
yang minimal] suatu proses pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya prestasi
siswa semata.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa
yang dimaksud dengan pengertian Evaluasi?
2.
Apa
saja yang termasuk kedalam tujuan dan fungsi dari Evaluasi pembelajaran?
3.
Apa
saja yang menjadi dari prinsip dalam Evaluasi pembelajaran?
4.
Bagaimana
teknik yang dilakukan dalam Evaluasi pembelajaran?
5.
Bagaimana
langkah dan perencanaan dalam Evaluasi pembelajaran?
C.
TUJUAN
PENULISAN
1.
Mengerti
akan arti dari Evaluasi
2.
Mengetahui
apa saja tujuan dan fungsi dari Evaluasi pembelajaran
3.
Mengetahui
prinsip-prinsip dalam Evaluasi pembelajaran
4.
Mengerti
dalam teknik-teknik pengEvaluasian dalam pembelajaran
5.
Mengetahui
bagaimana langkah dan perencanaan yang diambil untuk mengevaluasi pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Evaluasi
Kata
evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation yang mengadung kata dasar
value “nilai”. Secara istilah evaluasi
berkaitan dengan keyakinan bahwa suatu hal itu baik dan buruk, benar atau
salah, kuat atau lemah, cukup atau belum, dan sebagainya.
Dalam
Kamus Ilmiah Populer yang dikarang oleh Pius A Partanto dan M Dahlan Al Barry,
“evaluasi” dapat diartikan sebagai penaksiran, penilaian, perkiraan keadaan,
penentuan nilai.
Untuk
memberi pemahaman mengenai evaluasi, sebagaimana dikutip oleh Ainin, Tohir dan
Asrori, maka Gronlund dan Lin seorang
pakar evaluasi pengajaran (1985: 5) mengemukakan definisi evaluasi sebagai
berikut : Evaluation is a systematic process of collecting, analizing, and
interpreting information to determine the extent to wich pupils are achieving
intructional objctives. Evaluation answers the question “how good?”. Definisi
tersebut menjelaskan bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis
dalam mengumpulkan menganalisis dan menafsirkan data-data untuk menentukan
apakah seorang siswa dipandang telah mencapai target pengetahuan atau
ketrampilan yang dirumuskan dalan tujuan pembelajaran.
Evaluasi
didefinisikan sebagai proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan
menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen
tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah
ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi,
obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan ter Evaluasi
merupakan proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan
suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan
hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah
ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi,
obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu.
Dengan
definisi – definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi merupakan suatu proses penilaian yang
sistematis terhadap suatu hal untuk menganalisis dan mengukur tentang benar
atau salah.
Istilah
Evaluasi sama artinya dengan asesmen, pengukuran dan tes. Istilah istilah tersebut
mempunyai maksud dan tujuan yang sama, akan tetapi ada perbedaan dalam hal
cakupan yang dianalisa. Evaluasi ini dapat berupa tes maupun non tes,
disesuaikan dengan apa yang akan kita evaluasi.
B.
Tujuan dan fungsi Evaluasi
Dalam
pembelajaran terdapat empat komponen utama yaitu tujuan, materi metode dan
evaluasi (Kasbolah, 1993). Dilihat dari segi prosesnya setiap pembelajaran
terdiri atas tiga tahapan yaitu perncanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Evaluasi
mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu pembelajaran yang merupakan
bagian terakhir dalam tahap pembelajaran. Akan tetapi, evaluasi dapat juga
dilakukan pada saat ditengah proses pembelajaran.
Adapaun
tujuan evaluasi menurut Sukardi, terdapat minimal enam tujuan evaluasi yang
terkait dengan belajar mengajar, antara lain:
1.
Menilai ketercapaian (attainment) tujuan
2.
Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi
3.
Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui.
4.
Memotivasi belajar siswa
5.
Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling
6.
Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum
Evaluasi
tidak hanya untuk mengevaluasi proses belajar megajar akan tetapi juga dapat
digunakan untuk menilai program dan sistem dan program pembelajaran yang ada di
lembga pendidikan. Dalam melakukan evaluasi agar mendapatkan hasil yaang
baik maka syarat-syaratnya diantaranya :1) valid, 2) andal, 3) objektif , 4)
seimbang, 5) membedakan, 6) norma, 7) fair, 8) praktis.
Adapun tujuan
evaluasi yang lain yaitu sebagai berikut:
a) Untuk mendapatkan informasi yang akurat
mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat
diupayakan tindak lanjut. Adapun tindak lanjut evaluasi itu berupa: penempatan
pada tempat yang tepat, diagnosis kesulitan belajar siswa, dan penentuan
kelulusan.
b) Untuk
mengetahui seberapa efektif program pembelajaran yang telah dilaksanakan.
c) Untuk mengetahui seberapa tinggi kinerja
masing-masing komponen ( tujuan, materi, metode, maupun proses evaluasi itu
sendiri)sebagai faktor penting yang mendukung kelancaran dalam perencanaan
pembelajaran.
d)Untuk
mengetahui tingkat prestasi belajar peserta didik dalam bidang studi.
e) Untuk menilai sejauh mana perencanaan
pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang
ditetapkan.
f) Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses dapat
memberikan perubahan perilaku secara optimal.
Adapun fungsi
Evaluasi sebagai berikut:
1.
Evaluasi berfungsi selektif.
Dengan
cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap
siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
a) Untuk
Memilih siswa yang dapat di terima disekolah tertentu.
b) Untuk
memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
c) Untuk
memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
2. Evaluasi
berfungsi diognatik.
Yaitu
untuk mengetahui kelebihan ataupun kelemahan yang dimiliki siswa, sehingga
lebih mudah dicari solusinya.
3. Evaluasi
berfungsi sebagai perbaikan
4. Memperbaiki
proses belajar mengajar.
5. Menumbuhkan
motivasi dalam belajar. Bagi siswa yang mendapat hasil yang rendah, maka hasil
evaluasi menjadi cambuk semangat untuk lebih berhasil dalam belajar.
6. Penentuan
tindak lanjut hasil pengembangan dalam suatu sistem pendidikan.
7. Menelaah
suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar
untuk pengambilan keputusan.
C.
Prinsip-prinsip Evaluasi
Untuk
memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus
bertitik dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1. Kontinuitas
Evaluasi
tidak boleh dilakukan secara insedental karena pembelajaran itu sendiri adalah
suatu proses yang kontinyu. Oleh sebab itu evaluasi pun harus dilakukan secara
kontinyu pula.
2.Komprehensif
Dalam
melakukan evaluasi terhadap suatu obyek, guru harus mengambil seluruh obyek itu
sebagai bahan evaluasi.
3.Adil dan
obyektif
Dalam
melaksanakan evaluasi guru harus berlaku adil dan tanpa pilih kasih kepada
semua peserta didik. Guru juga hendaknya bertindak secara obyektif, apa adanya
sesuai dengan kemampuan peserta didik.
4. Kooperatif
Dalam
kegiatan evaluasi hendaknya guru bekerjasama dengan semua pihak, seperti orang
tua peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, termasuk dengan peserta didk
5. Praktis
Praktis
mengandung arti mudah digunakan baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat
evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut.
D. Perencanaan
dan langkah-langkah evaluasi pembelajaran
Dalam
melaksanakan evaluasi pembelajaran hendaknya dilakukan secara sistematis dan
terstruktur. Evaluasi pembelajaran secara garis besar melibatkan 3 unsur
yaitu :
1.
Input yaitu bahan mentah yang dimasukkan kedalam transformasi. Dalam dunia
sekolah maka yang yang dimaksud dengan bahan mentah adalah siswa buru yang akan
memasuki sekolah. Sebelum memasuki suatu tiungkat (institusi), calon siswa itu
dinilai dahulu kemampuannya. Dengan evaluasi itu ingin diketahui apakah kelak
ia akan mampu mengikuti pelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan
padanya.
2.
Transformasiyaitumesin yang
bertugasmengubahbahanmentahmenjadibahanjadi. Dalamduniasekolah, sekolahitulah
yang dimaksuddengantransformasi. Sekolahitusendiriterdiri dari beberapamesin
yang menyebabkanberhasilataugagalnyatransformasi. Bahanjadi yang diharapkan,
yang
dalamhalinisiswalulusansekolahditentukanolehbeberapafaktorsebagaiakibatbekerjanyaunsur-unsur
yang ada. Unsur-Unsurtransformasisekolahtersebutantaralain :
a. Guru dan personallainnya.
b. Bahanpembelajaran.
c. Metode
mengajar dan sistem evaluasi.
d. Sarana
penunjang.
e. System
administrasi.
3.
Output yaitu
bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi. Yang yang dimaksud adalah sisiwa
lulusan sekolah yang bersangkutan.Untuk dapat menetukan apakah seorang siswa
berhak lulus atau tidak, perlu diadakan kegiatan evaluasi.
Apabila
prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan
hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran
yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam
melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan
(mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan evaluasi,
teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana,
penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb).
2. Pengumpulan
data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan).
3. Verifiksi
data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb).
4. Pengolahan
data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak
di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non
parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS ).
5. Penafsiran
data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis
ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa
taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan
dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila
hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang
ditimbulkan oleh evaluasi itu.
E. Teknik
Evaluasi Pembelajaran
1.
Teknik non tes
Ada beberapateknik non tes, yaitu :
a) Skalabertingkat (rating scale),
skalamenggambarkansuatunilai yang berbentukangkaterhadapsuatuhasilpertimbangan.
Seperti Oppenheim mengatakan ’’rating gives a numerical value to some kind of judgement’’,maka
suatu skala disajikan dalam bentuk angka.
b) Kuesioner (questionare),
juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya, kuesioner adalah sebuah
daftar pertanyaan yang harus diisi orang yang akan diukur, (responden). Dengan
kuesioner orang dapat diketahui tentang keadaan, data diri, pengalaman,
pengetahuan, sikap, atau pendapatnya dan lain-lain.
Kuesioner dapat
ditinjau dari dua segi antara lain :
a) Dari segisiapa yang menjawab :
Ø Kuesionerlangsung,
jikakuesionertersebutdikirimkan dan diisilangsungoleh orang yang akan
dimintaijawabantentangdirinya.
Ø Kuesionertidaklangsung, yang dikirimkan dan
diisiolehbukan orang yang bimintaiketerangannya.
Kuesionertidaklangsungbiasanyadigunakanuntukmencariinformasitentangbahan, anak,
saudara, tetangga dan sebagainya.
b) Dari segi cara menjawab
dibedakan atas :
Ø Kuesioner tertutup,
kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban langkah sehingga
pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
Ø Kuesioner terbuka,
adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas
mengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusun apabila jawaban pengisi
belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beranekaragam.
Keterangan tentang alamat pengisi, tidak mungkin diberikan dengan cara memilih
pilihan jawaban yang disediakan. Kuesioner terbuka juga digunakan untuk meminta
pendapat seseorang.
c. Daftar cocok (chek
list), adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat) dimana
responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ( ) ditempat yang
sudah disediakan.
d. Wawancara (interview), suatu cara yang
digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak.
Dikatakan ssepihak karena dalam wawancara responden tidak diberi kesempatan
sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaanhanyadiajukanolehsubjekevaluasi.
Wawancaradapatdilakukandenganduacara :
a. Wawancarabebas
Respondenmempunyaikebebasanmengutarakanpendapatnya.
b. Wawancaraterpimpin
Dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih
jawaban yang sudah dipersiapkan oleh penanya.
e. Pengamatan (observation) suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan
secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan
memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun
bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan
pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan
sasaran pengamatan.
Menurutcara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi
3 macam:
a)
Obserfasipartisipatif dan non
partisipatif
Observasi partisipatif adalah observasi
dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut ambil bagian dalam kegiatan
yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan observasi nonpartisipatif,
observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah
sebagai penonton belaka. Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru
mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai
pengamat, dan tidak ikut bermain.
b)
Observasi sistematis dan
observasi nonsitematis
Observasi sistematis adalah observasi
yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau
kriteria, masalah yang akan diamati
Sedangkan observasi nonsistematis
yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan
diamati.
Contoh observasi sistematis misalnya
guru yang sedang mengamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru
melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati,
misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan
kebersihan. Kemudian
ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.
Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat
kategori-kategori diatas, tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam
bunga.
c)
Observasi experimental
Observasi eksperimental adalah observasi yang
dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis.Tujuannya untuk mengetahui
atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja
diadakan.
f. Riwayat hidup adalah gambaran
tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari
riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang
kepribadian kebiasaan dan sikap dari objek yang dimulai.
2.
Teknik tes
Definisi yang dikutip dari Webster’s Collegiate “Test=any saries of questions or exercise or other means of measuring
the skill, knowledge, capacities of aptitudes or an individual or group.”
Yang kurang
lebih artinya : tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan, atau alat lain
yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan
atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes ada tiga
macam :
a. Tes diagnostic, adalah tes yang digunakan untuk mengetahui
kelemahan-kelemahan siswa, sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut
dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
b.Tes formatif, dari kata “form” yang merupakan dasar dari istilah
“formatif” maka evaluasi formatif bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa
telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti ini
tes formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostic pada akhir pelajaran.
Evaluasi formatif atau tes formatif diberikan pada akhir setiap program. Tes
ini merupakan post-test atau tes akhir proses.
c. Tes sumatif, dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian
sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam pengalaman di
sekolah tes formatif dapat disamakan dengan ulangan harian, sedangkan tes
sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada
akhir catur wulan atau akhir semester.
Dilihat dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan
menjadi dua golongan, yaitu:
1. Tes individual yakni tes dimana tester (Guru)
berhadapan dengan satu orang testee (murid) saja, dan
2. Tes kelompok yakni tes dimana tester
berhadapan lebih dari satu orang testee.
Dilihat dari segi waktu yang disediakan bagi testee utuk menyelesaikan tes,
tes dapat dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1. Power test yakni tes di mana waktu yang disediakan
buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi,
2. Speed test yaitu tes di mana waktu yang
disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Dilihat dari segi bentuk responnya, tes dapat dibedakan menjadi dua
golongan, yaitu:
1.Verbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon
(jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik
secara lisan maupun secara tertulis, dan
2. Nonverbal test yakni tes yang menghendaki
respon (jawaban) dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat,
melainkan berupa tindakan atau tingkah laku, jadi respon yang dikehendaki
muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.
Ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan
jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :
1. Tes tertulis yakni jenis tes di mana tester
dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis
dan testee memberikan jawabannya juga secara tertulis, dan
2. Tes lisan yakni tes di mana tester di dalam
mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan dan testee
memberikan jawabannya secara lisan pula.
Dengan mempertimbangkan kriteria- kriteria dapat dihasilkan alat tes
(soal-soal) yang berkualitas memenuhi syarat- syarat diantaranya:
o Shahih (
valid) yaitu mengukur yang harus diukur, sesuai dengan tujuan.
o Relevan
yaitu diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
o Spesifik,
soal hanya dapat dijawab oleh peserta didik.
o
Representif, soal mewakili materi ajar secara keseluruhan.
Sebuah tes yang bisa dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi
persyaratan tes, yaitu memiliki :
a.
Validitas
Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang
hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar
mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi
dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada
permasalahannya.
b.
Reliabilitas
Berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dapat
dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan
berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut
menunjukan ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka: Validitas adalah
ketepatan dan reliabilitas adalah ketetapan.
c.
Objektivitas
Sebuah dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu
tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. hal ini terutama terjadipada
sistem scoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas
menekankan ketetapan pada sistem scoringnya, sedangkan reliabilitas menekankan
ketetapan dalam hasil tes.
d.
Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila tes
tersebut bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. tes yang baik adalah
yang: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan
petunjuk-petunjuk yang jelas.
e.
Ekonomis
Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak
membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang
lama.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Evaluasi
didefinisikan sebagai proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai
keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu
dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah
ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi,
obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan ter Evaluasi
merupakan proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan
suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan
hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah
ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi,
obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu.
Adapaun
tujuan evaluasi menurut Sukardi, terdapat minimal enam tujuan evaluasi yang
terkait dengan belajar mengajar, antara lain:
1.
Menilai ketercapaian (attainment) tujuan
2.
Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi
3.
Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui.
4.
Memotivasi belajar siswa
5.
Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling
6.
Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum.
Untuk
memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus
bertitik dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1. Kontinuitas
5. Praktis
3.Adil dan
obyektif
4. Kooperatif
2.Komprehensif
Teknik Evaluasi
Pembelajaran
1.Teknik non tes
2.Teknik tes