Sabtu, 15 April 2017

Evaluasi Pembelajaran Bahasa Arab



PERENCANAAN EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Evaluasi mencakup berbagai aspek, mulai dari evaluasi: kurikulum, proses pembelajaran, kemampuan atau pemerolehan siswa, kinerja tenaga pengajar –termasuk efektivitas metode yang digunakan, manajemen sekolah, lingkungan pembelajaran, partisipasi masyarakat dan bangsa terhadap pensuksesan pembelajaran.
Evaluasi merupakan landasan utama dalam setiap pengambilan kebijakan kependidikan, baik mengenai pengembangan kurikulum, perlunya pemberian remidiasi (penguatan, les tambahan), pemberdayaan kinerja tenaga pengajar dalam menggunakan metodologi, maupun dalam menentukan kelulusan siswa, kenaikan biaya pendidikan, penambahan dan peningkatan fasilitas pembelajaran, seperti: perpustakaan, laboratorium, multimedia, dan sebagainya. 
Evaluasi didefinisikan sebagai proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi, obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu.
Tujuan utama evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas [ketepatan dalam pencapaian tujuan] dan efisiensi [penggunaan tenaga, sarana, biaya dan waktu yang minimal] suatu proses pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya prestasi siswa semata.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud dengan pengertian Evaluasi?
2.      Apa saja yang termasuk kedalam tujuan dan fungsi dari Evaluasi pembelajaran?
3.      Apa saja yang menjadi dari prinsip dalam Evaluasi pembelajaran?
4.      Bagaimana teknik yang dilakukan dalam Evaluasi pembelajaran?
5.      Bagaimana langkah dan perencanaan dalam Evaluasi pembelajaran?

C.     TUJUAN PENULISAN
1.      Mengerti akan arti dari Evaluasi
2.      Mengetahui apa saja tujuan dan fungsi dari Evaluasi pembelajaran
3.      Mengetahui prinsip-prinsip dalam Evaluasi pembelajaran
4.      Mengerti dalam teknik-teknik pengEvaluasian dalam pembelajaran
5.      Mengetahui bagaimana langkah dan perencanaan yang diambil untuk mengevaluasi pembelajaran


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Evaluasi
Kata evaluasi berasal dari bahasa inggris evaluation yang mengadung kata dasar value  “nilai”. Secara istilah evaluasi berkaitan dengan keyakinan bahwa suatu hal itu baik dan buruk, benar atau salah, kuat atau lemah, cukup atau belum, dan sebagainya.
Dalam Kamus Ilmiah Populer yang dikarang oleh Pius A Partanto dan M Dahlan Al Barry, “evaluasi” dapat diartikan sebagai penaksiran, penilaian, perkiraan keadaan, penentuan nilai. 
Untuk memberi pemahaman mengenai evaluasi, sebagaimana dikutip oleh Ainin, Tohir dan Asrori,  maka Gronlund dan Lin seorang pakar evaluasi pengajaran (1985: 5) mengemukakan definisi evaluasi sebagai berikut : Evaluation is a systematic process of collecting, analizing, and interpreting information to determine the extent to wich pupils are achieving intructional objctives. Evaluation answers the question “how good?”. Definisi tersebut menjelaskan bahwa evaluasi merupakan suatu proses yang sistematis dalam mengumpulkan menganalisis dan menafsirkan data-data untuk menentukan apakah seorang siswa dipandang telah mencapai target pengetahuan atau ketrampilan yang dirumuskan dalan tujuan pembelajaran.
Evaluasi didefinisikan sebagai proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi, obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan ter Evaluasi merupakan proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi, obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu.
Dengan definisi – definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi  merupakan suatu proses penilaian yang sistematis terhadap suatu hal untuk menganalisis dan mengukur tentang benar atau salah.
Istilah Evaluasi sama artinya dengan asesmen, pengukuran dan tes. Istilah istilah tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang sama, akan tetapi ada perbedaan dalam hal cakupan yang dianalisa. Evaluasi ini dapat berupa tes maupun non tes, disesuaikan dengan apa yang akan kita evaluasi.


B.        Tujuan dan fungsi Evaluasi
Dalam pembelajaran terdapat empat komponen utama yaitu tujuan, materi metode dan evaluasi (Kasbolah, 1993). Dilihat dari segi prosesnya setiap pembelajaran terdiri atas tiga tahapan yaitu perncanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Evaluasi mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam suatu pembelajaran yang merupakan bagian terakhir dalam tahap pembelajaran. Akan tetapi, evaluasi dapat juga dilakukan pada saat ditengah proses pembelajaran.
Adapaun tujuan evaluasi menurut Sukardi, terdapat minimal enam tujuan evaluasi yang terkait dengan belajar mengajar, antara lain:
1.      Menilai ketercapaian (attainment) tujuan
2.      Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi
3.      Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui.
4.      Memotivasi belajar siswa
5.      Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling
6.      Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum
Evaluasi tidak hanya untuk mengevaluasi proses belajar megajar akan tetapi juga dapat digunakan untuk menilai program dan sistem dan program pembelajaran yang ada di lembga pendidikan. Dalam melakukan evaluasi  agar mendapatkan hasil yaang baik maka syarat-syaratnya diantaranya :1) valid, 2) andal, 3) objektif , 4) seimbang, 5) membedakan, 6) norma, 7) fair, 8) praktis.
Adapun tujuan evaluasi yang lain yaitu sebagai berikut:
a) Untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjut. Adapun tindak lanjut evaluasi itu berupa: penempatan pada tempat yang tepat, diagnosis kesulitan belajar siswa, dan penentuan kelulusan.
b) Untuk mengetahui seberapa efektif program pembelajaran yang telah dilaksanakan.
c) Untuk mengetahui seberapa tinggi kinerja masing-masing komponen ( tujuan, materi, metode, maupun proses evaluasi itu sendiri)sebagai faktor penting yang mendukung kelancaran dalam perencanaan pembelajaran.
d)Untuk mengetahui tingkat prestasi belajar peserta didik dalam bidang studi.
e) Untuk menilai sejauh mana perencanaan pembelajaran dapat memberikan pengalaman belajar sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
f) Untuk mengetahui sampai sejauh mana proses dapat memberikan perubahan perilaku secara optimal.
Adapun fungsi Evaluasi sebagai berikut:
1.      Evaluasi berfungsi selektif.
Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai tujuan, antara lain:
a)  Untuk Memilih siswa yang dapat di terima disekolah tertentu.
b)   Untuk memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
c)    Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
2.    Evaluasi berfungsi diognatik.
Yaitu untuk mengetahui kelebihan ataupun kelemahan yang dimiliki siswa, sehingga lebih mudah dicari solusinya.
3. Evaluasi berfungsi sebagai perbaikan
4. Memperbaiki proses belajar mengajar.
5. Menumbuhkan motivasi dalam belajar. Bagi siswa yang mendapat hasil yang rendah, maka hasil evaluasi menjadi cambuk semangat untuk lebih berhasil dalam belajar.
6. Penentuan tindak lanjut hasil pengembangan dalam suatu sistem pendidikan.
7. Menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.

C.        Prinsip-prinsip Evaluasi
Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1. Kontinuitas
Evaluasi tidak boleh dilakukan secara insedental karena pembelajaran itu sendiri adalah suatu proses yang kontinyu. Oleh sebab itu evaluasi pun harus dilakukan secara kontinyu pula.
2.Komprehensif
Dalam melakukan evaluasi terhadap suatu obyek, guru harus mengambil seluruh obyek itu sebagai bahan evaluasi.


3.Adil dan obyektif
Dalam melaksanakan evaluasi guru harus berlaku adil dan tanpa pilih kasih kepada semua peserta didik. Guru juga hendaknya bertindak secara obyektif, apa adanya sesuai dengan kemampuan peserta didik.
4. Kooperatif
Dalam kegiatan evaluasi hendaknya guru bekerjasama dengan semua pihak, seperti orang tua peserta didik, sesama guru, kepala sekolah, termasuk dengan peserta didk
5. Praktis
Praktis mengandung arti mudah digunakan baik oleh guru itu sendiri yang menyusun alat evaluasi maupun orang lain yang akan menggunakan alat tersebut.

D.        Perencanaan dan langkah-langkah evaluasi pembelajaran
Dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran hendaknya dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Evaluasi pembelajaran secara garis besar melibatkan 3 unsur yaitu :
1. Input yaitu bahan mentah yang dimasukkan kedalam transformasi. Dalam dunia sekolah maka yang yang dimaksud dengan bahan mentah adalah siswa buru yang akan memasuki sekolah. Sebelum memasuki suatu tiungkat (institusi), calon siswa itu dinilai dahulu kemampuannya. Dengan evaluasi itu ingin diketahui apakah kelak ia akan mampu mengikuti pelajaran dan melaksanakan tugas-tugas yang diberikan padanya.
2. Transformasiyaitumesin yang bertugasmengubahbahanmentahmenjadibahanjadi. Dalamduniasekolah, sekolahitulah yang dimaksuddengantransformasi. Sekolahitusendiriterdiri dari beberapamesin yang menyebabkanberhasilataugagalnyatransformasi. Bahanjadi yang diharapkan, yang dalamhalinisiswalulusansekolahditentukanolehbeberapafaktorsebagaiakibatbekerjanyaunsur-unsur yang ada. Unsur-Unsurtransformasisekolahtersebutantaralain :
a. Guru dan personallainnya.
b. Bahanpembelajaran.
c.  Metode mengajar dan sistem evaluasi.
d.  Sarana penunjang.
e.   System administrasi.

3. Output yaitu bahan jadi yang dihasilkan oleh transformasi. Yang yang dimaksud adalah sisiwa lulusan sekolah yang bersangkutan.Untuk dapat menetukan apakah seorang siswa berhak lulus atau tidak, perlu diadakan kegiatan evaluasi.
Apabila prosesdur yang dilakukan tidak bercermin pada 3 unsur tersebut maka dikhawatirkan hasil yang digambarkan oleh hasil evaluasi tidak mampu menggambarkan gambaran yang sesungguhnya terjadi dalam proses pembelajaran. Langkah-langkah dalam melaksanakan kegiatan evaluasi pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Perencanaan (mengapa perlu evaluasi, apa saja yang hendak dievaluasi, tujuan evaluasi, teknikapa yang hendak dipakai, siapa yang hendak dievaluasi, kapan, dimana, penyusunan instrument, indikator, data apa saja yang hendak digali, dsb).
2. Pengumpulan data ( tes, observasi, kuesioner, dan sebagainya sesuai dengan tujuan).
3. Verifiksi data (uji instrument, uji validitas, uji reliabilitas, dsb).
4. Pengolahan data ( memaknai data yang terkumpul, kualitatif atau kuantitatif, apakah hendak di olah dengan statistikatau non statistik, apakah dengan parametrik atau non parametrik, apakah dengan manual atau dengan software (misal : SAS, SPSS ).
5. Penafsiran data, ( ditafsirkan melalui berbagai teknik uji, diakhiri dengan uji hipotesis ditolak atau diterima, jika ditolak mengapa? Jika diterima mengapa? Berapa taraf signifikannya?) interpretasikan data tersebut secara berkesinambungan dengan tujuan evaluasi sehingga akan tampak hubungan sebab akibat. Apabila hubungan sebab akibat tersebut muncul maka akan lahir alternatif yang ditimbulkan oleh evaluasi itu.

E.        Teknik Evaluasi Pembelajaran
1.      Teknik non tes
Ada beberapateknik non tes, yaitu :
a) Skalabertingkat (rating scale), skalamenggambarkansuatunilai yang berbentukangkaterhadapsuatuhasilpertimbangan. Seperti Oppenheim mengatakan ’’rating gives a numerical value to some kind of judgement’’,maka suatu skala disajikan dalam bentuk angka.
b) Kuesioner (questionare), juga sering dikenal sebagai angket. Pada dasarnya, kuesioner adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi orang yang akan diukur, (responden). Dengan kuesioner orang dapat diketahui tentang keadaan, data diri, pengalaman, pengetahuan, sikap, atau pendapatnya dan lain-lain.


Kuesioner dapat ditinjau dari  dua segi antara lain :
a)      Dari segisiapa yang menjawab :
Ø  Kuesionerlangsung, jikakuesionertersebutdikirimkan dan diisilangsungoleh orang yang akan dimintaijawabantentangdirinya.
Ø  Kuesionertidaklangsung, yang dikirimkan dan diisiolehbukan orang yang bimintaiketerangannya. Kuesionertidaklangsungbiasanyadigunakanuntukmencariinformasitentangbahan, anak, saudara, tetangga dan sebagainya.
b)        Dari segi cara menjawab dibedakan atas :
Ø  Kuesioner tertutup, kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban langkah sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda pada jawaban yang dipilih.
Ø  Kuesioner terbuka, adalah kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. Kuesioner terbuka disusun apabila jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beranekaragam. Keterangan tentang alamat pengisi, tidak mungkin diberikan dengan cara memilih pilihan jawaban yang disediakan. Kuesioner terbuka juga digunakan untuk meminta pendapat seseorang.
c.       Daftar cocok (chek list), adalah deretan pernyataan (yang biasanya singkat-singkat) dimana responden yang dievaluasi tinggal membubuhkan tanda cocok ( ) ditempat yang sudah disediakan.
d.      Wawancara (interview), suatu cara yang digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab sepihak. Dikatakan ssepihak karena dalam wawancara responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaanhanyadiajukanolehsubjekevaluasi. Wawancaradapatdilakukandenganduacara :
a. Wawancarabebas
Respondenmempunyaikebebasanmengutarakanpendapatnya.
b. Wawancaraterpimpin
Dalam hal ini responden pada waktu menjawab pertanyaan tinggal memilih jawaban yang sudah dipersiapkan oleh penanya.



e.       Pengamatan (observation) suatu teknik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis.
Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakuya. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.
Menurutcara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam:
a)      Obserfasipartisipatif dan non partisipatif
Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut ambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya. Sedangkan observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka. Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru mengamati setiap anak. Kalau observasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.

b)      Observasi sistematis dan observasi nonsitematis
Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati
Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati.
Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mengamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga.
Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.

c)      Observasi experimental
Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis.Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan, gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan.
f.       Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan dan sikap dari objek yang dimulai.

2.      Teknik tes
Definisi yang dikutip dari Webster’s Collegiate “Test=any saries of questions or exercise or other means of measuring the skill, knowledge, capacities of aptitudes or an individual or group.”
Yang kurang lebih artinya : tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan, atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok.
Tes ada tiga macam :
a. Tes diagnostic, adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa, sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat.
b.Tes formatif, dari kata “form” yang merupakan dasar dari istilah “formatif” maka evaluasi formatif bertujuan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya seperti ini tes formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostic pada akhir pelajaran. Evaluasi formatif atau tes formatif diberikan pada akhir setiap program. Tes ini merupakan post-test atau tes akhir proses.
c. Tes sumatif, dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Dalam pengalaman di sekolah tes formatif dapat disamakan dengan ulangan harian, sedangkan tes sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau akhir semester.
Dilihat dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1. Tes individual yakni tes dimana tester (Guru) berhadapan dengan satu orang testee (murid) saja, dan
2. Tes kelompok yakni tes dimana tester berhadapan lebih dari satu orang testee.

Dilihat dari segi waktu yang disediakan bagi testee utuk menyelesaikan tes, tes dapat dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1. Power test yakni tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi,
2. Speed test yaitu tes di mana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
Dilihat dari segi bentuk responnya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.Verbal test yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tertulis, dan
2. Nonverbal test yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku, jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.

Ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberikan jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :
1. Tes tertulis yakni jenis tes di mana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawabannya juga secara tertulis, dan
2. Tes lisan yakni tes di mana tester di dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan dan testee memberikan jawabannya secara lisan pula.

Dengan mempertimbangkan kriteria- kriteria dapat dihasilkan alat tes (soal-soal) yang berkualitas memenuhi syarat- syarat diantaranya:
o    Shahih ( valid) yaitu mengukur yang harus diukur, sesuai dengan tujuan.
o    Relevan yaitu diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
o    Spesifik, soal hanya dapat dijawab oleh peserta didik.
o    Representif, soal mewakili materi ajar secara keseluruhan.
Sebuah tes yang bisa dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki :
a.         Validitas
Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Contoh, untuk mengukur partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, bukan diukur melalui nilai yang diperoleh pada waktu ulangan, tetapi dilihat melalui: kehadiran, terpusatnya perhatian pada pelajaran, ketepatan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru dalam arti relevan pada permasalahannya.
b.        Reliabilitas
Berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Tes dapat dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan. Jika dihubungkan dengan validitas, maka: Validitas adalah ketepatan dan reliabilitas adalah ketetapan.
c.         Objektivitas
Sebuah dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. hal ini terutama terjadipada sistem scoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan pada sistem scoringnya, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.

d.        Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktibilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis dan mudah pengadministrasiannya. tes yang baik adalah yang: mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas.
e.         Ekonomis
Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak, dan waktu yang lama.











BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Evaluasi didefinisikan sebagai proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi, obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan ter Evaluasi merupakan proses kegiatan yang terencana untuk mengetahui dan menilai keadaan suatu obyek (proses pendidikan) dengan menggunakan instrumen tertentu dan hasilnya dibandingkan dengan tolok ukur tertentu (tujuan yang telah ditetapkan), sehingga diperoleh suatu kesimpulan (penilaian, kualifikasi, obyektifikasi) dalam rangka pengambilan keputusan atau kebijakan tertentu.
Adapaun tujuan evaluasi menurut Sukardi, terdapat minimal enam tujuan evaluasi yang terkait dengan belajar mengajar, antara lain:
1.      Menilai ketercapaian (attainment) tujuan
2.      Mengukur macam-macam aspek belajar yang bervariasi
3.      Sebagai sarana (means) untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui.
4.      Memotivasi belajar siswa
5.      Menyediakan informasi untuk tujuan bimbingan dan konseling
6.      Menjadikan hasil evaluasi sebagai dasar perubahan kurikulum.
Untuk memperoleh hasil evaluasi yang lebih baik, maka kegiatan evaluasi harus bertitik dari prinsip-prinsip umum sebagai berikut:
1. Kontinuitas
5. Praktis
3.Adil dan obyektif
4. Kooperatif
2.Komprehensif
Teknik Evaluasi Pembelajaran
1.Teknik non tes
2.Teknik tes

DAFTAR PUSTAKA