Selasa, 11 Agustus 2015

cerpen "sepatu"



Seperti biasa, aku pulang sore-sore dari kampus jingga. Namun hari ini lebih sore dari hari-hari biasanya, dan hari ini cukup lelah. Iya, hari ini adalah hari kamis. Kakiku melangkah dengan pasti, perlahan meski tubh sedikit terkuyung dan lemas, mungkin sedikit kehilangan ion, karena hari ini aku sedang shaum.
Jalan-jalan kecil yang biasa aku lewati saat pergi atau pulang dari tempat aku menggarap ilmu, ya tentunya dari kampus jingga itu. Kampus yang lumayan terdominasi oleh orang-orang yang berakhlakul karimah, menurutku.
Seketika saat aku berjalan, terlihat jelas sekali langit sore ini mendung. Eh tak lama kemudian memang benar, hujanpun turun. Posisiku masih jauh dari kosan. Aku mencoba berlari saat itu, takut tas dan bukuku kebasahan. Jalan sedikit berjinjit, kakiku secepat itu kebasahan, begitu pasti kaos kakinya, karena memang sepatuku sudah bolong dasarnya.
Ak terus berlari, namun terasa sekali sakit di kaki, semua itu tak ku peduli. Saking terburu-burunya, aku tak sadar ternyata sepatu karetku mulai robek, dan kakiku lecet karena terpaksa harus memakai sepatu karet itu meski sudah kecil.
Terhenti sejenak di sebuah warung kecil, sedikit istirahat karena masih jauh dari kosan dan menunggu hujan sedikit reda. Aku duduk di kursi panjang tempat pembeli duduk di warung kecil itu. Menengok ke sebelah kiriku, ada seorang bocah yang sedang menangis.
“ade kenapa menangis?” tanyaku.
“aku di ejek sama temanku”.... jawabnya.
“di ejek kenapa emang dek?”
“adek belum punya baju seragam dan sepatu ka, makanya adek pake baju seragam yang berbeda seperti teman-teman, dan adek masih pake sendal.” Mereka menertawakanku dan membuang sendalku yang satu.”
Ya allah kasihan sekali anak ini, betapa aku merasakan sedih yang dia rasakan, air mataku hampir terlihat olehnya. Lalu aku sedikit menghiburnya.
“dek, jangan nangis lagi ya, jangan dengarkan semua ocehan teman-temanmu, suatu saat nanti kau akan lebih baik dari mereka, nanti atau mungkin esok, pasti ibumu membelikanmu baju seragam dan sepatu untukmu.” (sambil tersenyum)...
“aku tak punya ibu”, jawabnya.
“ibumu kemana dek?”
“ibuku meninggal saat melahirkanku, aku tinggal bersama ayahku, ayahku seorang pemulung di kota ini, makanya dia hanya mampu membelikanku sendal.” (air matanya terlihat jelas sekali membasahi pipinya, meski air bercampur air hujan)...
“hmm, sabar ya de, jangan sedih, coba adek lihat, sepatu kakak juga jelek, udah ruusak, dan masih kakak pake, tapi kakak seneng pakenya de, meskipun sudah sangat sempit buat kaki kakak.” Udah udah jangan nangis ya.... (sambil mengusap air matanya).
“oya adek udah makan belum?” tanyaku lagi.
“belum ka”, jawabnya.
“yaudah ini ada uang, adek beli makan ya, kakak pergi duluan soalnya hujannya udah reda.”
“iya ka, makasih”. (mulai tersenyum).
Karena hujan memang sudah reda, aku lekas meneruskan perjalanan pulang. Tak kuat rasanya aku menahan tangis saat mendengarkan semua ceritanya. Air mata pun tak dapat lagi terbendung, aku teringat saat masa kecilku, saat aku di ejek oleh temanku. Saat itu aku belum punya baju seragam pramuka, lalu aku memakai baju seragam pramuka putera, karena memang saat itu baju putera dan puteri saat SD masih pendek. Ditertawakan, di olok-olok oleh mereka. Terasa sampai sekarang bagaimana suasana hatiku saat itu.
Lalu aku terus berjalan, sebentaar lagi sampai kosan, tapi sepatuku sudah tak kuat lagi ku pakai, robeknya mulai membesar, terpaksa ku buka tapi tetap ku bawa. Karena ku tahu tak ada lagi sepatu selain sepatu ini yang bisa ku pakai. Sudah 4 tahun sepatu ini masih ku pakai, meski tak bagus, tapi aku bersyukur karena ia cukup tahan lama ku gunakan. Si hitam yang kuat. Itulah julukan untuk sepatuku.Semoga suatu saat aku bisa membelikan sepatu untuk orang tuaku, adik-adikku, keluargaku, dan si bocah yang terhina itu. Dan membelikan yang lebih dari itu.
Tak terasa ternyata sudah sampai ke kosan, meski kaki kotor dan basah kuyup, tapi ada hal yang luar biasa dalam perjalanan tadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar