Seperti
biasa, aku pulang sore-sore dari kampus jingga. Namun hari ini lebih sore dari
hari-hari biasanya, dan hari ini cukup lelah. Iya, hari ini adalah hari kamis.
Kakiku melangkah dengan pasti, perlahan meski tubh sedikit terkuyung dan lemas,
mungkin sedikit kehilangan ion, karena hari ini aku sedang shaum.
Jalan-jalan
kecil yang biasa aku lewati saat pergi atau pulang dari tempat aku menggarap
ilmu, ya tentunya dari kampus jingga itu. Kampus yang lumayan terdominasi oleh
orang-orang yang berakhlakul karimah, menurutku.
Seketika
saat aku berjalan, terlihat jelas sekali langit sore ini mendung. Eh tak lama
kemudian memang benar, hujanpun turun. Posisiku masih jauh dari kosan. Aku
mencoba berlari saat itu, takut tas dan bukuku kebasahan. Jalan sedikit berjinjit,
kakiku secepat itu kebasahan, begitu pasti kaos kakinya, karena memang sepatuku
sudah bolong dasarnya.
Ak
terus berlari, namun terasa sekali sakit di kaki, semua itu tak ku peduli.
Saking terburu-burunya, aku tak sadar ternyata sepatu karetku mulai robek, dan
kakiku lecet karena terpaksa harus memakai sepatu karet itu meski sudah kecil.
Terhenti
sejenak di sebuah warung kecil, sedikit istirahat karena masih jauh dari kosan
dan menunggu hujan sedikit reda. Aku duduk di kursi panjang tempat pembeli duduk
di warung kecil itu. Menengok ke sebelah kiriku, ada seorang bocah yang sedang
menangis.
“ade
kenapa menangis?” tanyaku.
“aku
di ejek sama temanku”.... jawabnya.
“di
ejek kenapa emang dek?”
“adek
belum punya baju seragam dan sepatu ka, makanya adek pake baju seragam yang
berbeda seperti teman-teman, dan adek masih pake sendal.” Mereka menertawakanku
dan membuang sendalku yang satu.”
Ya
allah kasihan sekali anak ini, betapa aku merasakan sedih yang dia rasakan, air
mataku hampir terlihat olehnya. Lalu aku sedikit menghiburnya.
“dek,
jangan nangis lagi ya, jangan dengarkan semua ocehan teman-temanmu, suatu saat
nanti kau akan lebih baik dari mereka, nanti atau mungkin esok, pasti ibumu
membelikanmu baju seragam dan sepatu untukmu.” (sambil tersenyum)...
“aku
tak punya ibu”, jawabnya.
“ibumu
kemana dek?”
“ibuku
meninggal saat melahirkanku, aku tinggal bersama ayahku, ayahku seorang
pemulung di kota ini, makanya dia hanya mampu membelikanku sendal.” (air
matanya terlihat jelas sekali membasahi pipinya, meski air bercampur air
hujan)...
“hmm,
sabar ya de, jangan sedih, coba adek lihat, sepatu kakak juga jelek, udah
ruusak, dan masih kakak pake, tapi kakak seneng pakenya de, meskipun sudah
sangat sempit buat kaki kakak.” Udah udah jangan nangis ya.... (sambil mengusap
air matanya).
“oya
adek udah makan belum?” tanyaku lagi.
“belum
ka”, jawabnya.
“yaudah
ini ada uang, adek beli makan ya, kakak pergi duluan soalnya hujannya udah
reda.”
“iya
ka, makasih”. (mulai tersenyum).
Karena
hujan memang sudah reda, aku lekas meneruskan perjalanan pulang. Tak kuat
rasanya aku menahan tangis saat mendengarkan semua ceritanya. Air mata pun tak
dapat lagi terbendung, aku teringat saat masa kecilku, saat aku di ejek oleh
temanku. Saat itu aku belum punya baju seragam pramuka, lalu aku memakai baju
seragam pramuka putera, karena memang saat itu baju putera dan puteri saat SD
masih pendek. Ditertawakan, di olok-olok oleh mereka. Terasa sampai sekarang
bagaimana suasana hatiku saat itu.
Lalu
aku terus berjalan, sebentaar lagi sampai kosan, tapi sepatuku sudah tak kuat
lagi ku pakai, robeknya mulai membesar, terpaksa ku buka tapi tetap ku bawa.
Karena ku tahu tak ada lagi sepatu selain sepatu ini yang bisa ku pakai. Sudah
4 tahun sepatu ini masih ku pakai, meski tak bagus, tapi aku bersyukur karena
ia cukup tahan lama ku gunakan. Si hitam yang kuat. Itulah julukan untuk
sepatuku.Semoga suatu saat aku bisa membelikan sepatu untuk orang tuaku,
adik-adikku, keluargaku, dan si bocah yang terhina itu. Dan membelikan yang
lebih dari itu.
Tak terasa
ternyata sudah sampai ke kosan, meski kaki kotor dan basah kuyup, tapi ada hal
yang luar biasa dalam perjalanan tadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar