Aku
adalah jiwa yang rapuh, aku adalah jasad yang terlalu bosan bersandiwara dengan
kebahagiaan, aku menangis, merintih, jiwaku sakit, sangat sangat sakit. Mataku
tak dapat lagi melihat keindahan dunia, telingaku tak lagi dapat mendengar
kebisingan, tanganku tak lagi bergerak memegang sang pena dan menggenggam sang
raja kitab, aku lupa dengan semua kehidupanku saat semua yang kuharap baik berujung
seperti ini.
Kau
menertawakanku, memalingkan wajahmu dari sakitnya hati yang lebih berat
kurasakan sebelumnya. Aku yang tak paham dengan semua sandiwara ataupun fakta
yang kau lakukan kepadaku saat ini. Aku terlalu percaya dengan jiwa dan jasadmu
serta manisnya perkataanmu selama ini. Dengan lamanya waktu yang telah kita
lalui selama ini.
Perjuanganku
untuk bersamamu, dan perjuanganmu untuk bersamaku. Aku tutup telingaku untuk
tak mendengar semua kata-kata yang amat keras menyakitkan untukku. Aku mencoba
menahan segala amarahku dengan membebaskanmu bersama mereka, aku mencoba
berfikir bahwa kita akan lebih baik tanpa kata “STATUS”. Ku akui adahal baik
dengan keputusan itu, dan aku sama sekali tak pernah memintamu memberikan
segala perhatianmu untukku yang hanya seorang wanita yang tak tahu terimakasih
dengan semua yang telah kau berikan untukku. Namun, aku adalah insan yang yang
teguh dengan semua prinsipku.
Kau
yang telah mengantarkanku hingga aku sampai disini, hingga aku reda dari segala
kepedihan dan tangisan yang selama ini adalah mimpi burukku. Menyelamatkanku
dari suramnya hari-hariku. Orang yang rela kembali pulang hanya untukku, hanya
untuk memayungiku dari basah dan derasnya air hujan. Kau mengenalanku akan arti
cinta yang sesungguhnya, kau adalah jiwa yang ada dalam jiwaku, dan kau adalah
bagian dari hidupku dan bagian dari ceritaku.
Kini
ku sama sekali tak paham dengan sikapmu, tak paham dengan kata-katamu, kau
lebih ku kenal sebagai orang lain saat ini. Ku akui, aku telah banyak
membebanimu. Namun, yang ku pintta saat ini bukanlah perhatian, sandaran,
ataupun bantuan darimu. Aku hanya ingin senyum sapaku kau lihat dan kau balas
saat ini. Namun bahkan kau sama sekali tak melihatku, kau palingkan wajahmu
itu.
Entah
apa alasanmu seperti itu, dimana letak kesalahnku??? Aku marah, aku kesal, aku
bingung, tak paham denganmu, aku seperti tak mengenalmu saat ini. Aku menyesal,
aku menyesal aku sangat sangat menyesal.
Kau
membuatku rapuh saat ku benar-benar rapuh. Saat aku sendiri sepi, saat waktuku
benar-benar habis dengan kata menyesal. Bukan menyesal karena mengenalmu, tapi
menyesal telah membiarkan rasa “cinta” ada dalam hidupku. Aku menyesal........
Kau
diam dalam tanyaku, kau tertawa seakan tak ada hal yang penting dalam tanyaku,
kau tega bersamanya di balik kepedihanku, di balik rasa takutku. Hatiku
berontak saat ku tahu kau melakukan itu, yang kau lakukan hanyalah membuatku
menyerah dan pergi meninggalkanmu. Seenaknya kau berkata “aku ingin bersama
yang lain”. Kau tak punya hati untuk sedikit paham dengan perasaanku. Dan
dihadapnmu, ku tak ada artinya.
Saat
aku lemah, saat jiwaku rapuh, saat tak ada penopang dala hidupku, kau bahkan
pergi tanpa sedikitpun kau jawab segala tanyaku, kau hanya bilang “kau bisa
tanpaku, kau masih punya sahabat yang bisa menyayangimu, dan Allahlah yang
membolak-balikan hati manusia. Dari sanalah aku paham, bahwa hatimu tak lagi
untukku. Kau telah jauh pergi, dalam hidupku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar