Selasa, 11 Agustus 2015

cerpen "aku adalah jiwa yang rapuh"



Aku adalah jiwa yang rapuh, aku adalah jasad yang terlalu bosan bersandiwara dengan kebahagiaan, aku menangis, merintih, jiwaku sakit, sangat sangat sakit. Mataku tak dapat lagi melihat keindahan dunia, telingaku tak lagi dapat mendengar kebisingan, tanganku tak lagi bergerak memegang sang pena dan menggenggam sang raja kitab, aku lupa dengan semua kehidupanku saat semua yang kuharap baik berujung seperti ini.
Kau menertawakanku, memalingkan wajahmu dari sakitnya hati yang lebih berat kurasakan sebelumnya. Aku yang tak paham dengan semua sandiwara ataupun fakta yang kau lakukan kepadaku saat ini. Aku terlalu percaya dengan jiwa dan jasadmu serta manisnya perkataanmu selama ini. Dengan lamanya waktu yang telah kita lalui selama ini.
Perjuanganku untuk bersamamu, dan perjuanganmu untuk bersamaku. Aku tutup telingaku untuk tak mendengar semua kata-kata yang amat keras menyakitkan untukku. Aku mencoba menahan segala amarahku dengan membebaskanmu bersama mereka, aku mencoba berfikir bahwa kita akan lebih baik tanpa kata “STATUS”. Ku akui adahal baik dengan keputusan itu, dan aku sama sekali tak pernah memintamu memberikan segala perhatianmu untukku yang hanya seorang wanita yang tak tahu terimakasih dengan semua yang telah kau berikan untukku. Namun, aku adalah insan yang yang teguh dengan semua prinsipku.
Kau yang telah mengantarkanku hingga aku sampai disini, hingga aku reda dari segala kepedihan dan tangisan yang selama ini adalah mimpi burukku. Menyelamatkanku dari suramnya hari-hariku. Orang yang rela kembali pulang hanya untukku, hanya untuk memayungiku dari basah dan derasnya air hujan. Kau mengenalanku akan arti cinta yang sesungguhnya, kau adalah jiwa yang ada dalam jiwaku, dan kau adalah bagian dari hidupku dan bagian dari ceritaku.
Kini ku sama sekali tak paham dengan sikapmu, tak paham dengan kata-katamu, kau lebih ku kenal sebagai orang lain saat ini. Ku akui, aku telah banyak membebanimu. Namun, yang ku pintta saat ini bukanlah perhatian, sandaran, ataupun bantuan darimu. Aku hanya ingin senyum sapaku kau lihat dan kau balas saat ini. Namun bahkan kau sama sekali tak melihatku, kau palingkan wajahmu itu.
Entah apa alasanmu seperti itu, dimana letak kesalahnku??? Aku marah, aku kesal, aku bingung, tak paham denganmu, aku seperti tak mengenalmu saat ini. Aku menyesal, aku menyesal aku sangat sangat menyesal.
Kau membuatku rapuh saat ku benar-benar rapuh. Saat aku sendiri sepi, saat waktuku benar-benar habis dengan kata menyesal. Bukan menyesal karena mengenalmu, tapi menyesal telah membiarkan rasa “cinta” ada dalam hidupku. Aku menyesal........
Kau diam dalam tanyaku, kau tertawa seakan tak ada hal yang penting dalam tanyaku, kau tega bersamanya di balik kepedihanku, di balik rasa takutku. Hatiku berontak saat ku tahu kau melakukan itu, yang kau lakukan hanyalah membuatku menyerah dan pergi meninggalkanmu. Seenaknya kau berkata “aku ingin bersama yang lain”. Kau tak punya hati untuk sedikit paham dengan perasaanku. Dan dihadapnmu, ku tak ada artinya.
Saat aku lemah, saat jiwaku rapuh, saat tak ada penopang dala hidupku, kau bahkan pergi tanpa sedikitpun kau jawab segala tanyaku, kau hanya bilang “kau bisa tanpaku, kau masih punya sahabat yang bisa menyayangimu, dan Allahlah yang membolak-balikan hati manusia. Dari sanalah aku paham, bahwa hatimu tak lagi untukku. Kau telah jauh pergi, dalam hidupku.
“Maafkanlah, aku harus pergi, kau harus kuat dan bisa tanpaku”. Hanya kata-kata itulah yang bisa kau berikan untukku. Aku tak bisa memaksa hatimu kembali padaku meski hatiku berontak. Aku berusaha menerima mimpi buruk ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar