BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Kemahiran berbicara (maharatul kalam) merupakan salah satu
kemahiran berbahasa yang aktif-produktif, kemampuan berbicara menuntut
penguasaan terhadap beberapa aspek dan kaidah penggunaan bahasa (Djiwando,
1996). Secara umum, proses pembelajaran maharoh kalam tidak jauh berbeda dengan
pembelajaran kemahiran berbahasa lainnya yang bersifat gradual. Namun
masing0masing dari maharah memiliki ciri dalam proses pembelajarannya. Oleh
karena itu dalam makalah ini akan dibahas secara umum tentang Pendekatan,
Metode, Strategi, dan Tekhnik Pembelajaran Maharah Kalam yang diharapkan mampu
memberikan kemudahan dan pemahaman bagi para pendidik maupun peserta didik
dalam proses pembelajaran Maharatul Kalam.
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan metode perencanaan pembelajaran bahasa
arab ?
2.
Bagaimana teknik dalam perencanaan pembelajaran bahasa arab ?
3.
Apa kaitan metode pembelajaran dalam keterampilan berbahasa arab ?
C.
TUJUAN
1.
Mengetahui dan memahami makna metode perencanaan pembelajaran
bahasa arab
2.
Mengetahui dan memahami tehnik dalam perencanaan pembelajaran
bahasa arab
3.
Mengetahui kaitan metode pembelajaran dalam perencanaan
pembelajaran bahasa arab.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Makna Metode Perencanaan Pembelajaran
Salah satu
faktor yang perlu mendapat perhatian dalam perencanaan pembelajaran adalah
pandangan kita tentang bagaimana caranya (metode) agar proses ini dapat
sepatutnya berlangsung. Hal ini tentulah harus mengacu kepada tujuan yang
hendak kita capai dan sifat dari materi yang menjadi isi pembelajaran tersebut,
metode perencanaan pembelajaran ini berkaitan dengan bagaimana metode, cara,
strategi, atau kegiatan yang dilakuakan siswa memperoleh pengalaman belajar
untuk mencaoai tujuan. Setiap metode yang digunakan berdampak terhadap proses
memperoleh pengalaman yang dilaksanakan. Berdasarkan perencanaan pembelajaran,
setiap komponen ketergantungan dengan tujuan. Metode perencanaan pembelajaran
merupakan suatu cara menyusun materi-materi pembelajaran atau pengalaman
belajar yang ingin dicapai. Setiap metode mewarnai jenis materi, urutan serta
tehnik mempelajari. Oleh karena itu setiap perencanaan pembelajaran menekankan
kepada aspek tertentu, maka proses belajar untuk mempelajari materi
pembelajaran berbeda.
B.
Kriteria Metode Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan
pembelajaran tentu memiliki keunggulan dan kelemahan. Kelemahan tersebut perlu
dihilangkan, atau setidaknya diperkecil, kemudian melakukan modifikasi. Oleh
karena itu perlu dirumuskan kriteria metode pembelajaran yang efektif, seperti
yag diungkapkan Ralp W.Tyler, sebagai berikut : 1) Berkesinambungan, 2) Urutan
Materi, 3) keterpaduan.
1.
Berkesinambungan
Berkesinambungan
menunjukkan keadaan pengulangan kembali unsur-unsur utama perencanaan
pembelajaran secara vertikal. Sebagai contoh, jika dalam pelajaran Bahasa Arab
pengembangan ketrampilan membaca dipandang sangat penting, maka metode latihan
membaca perlu dilakukan terus menerus atau berkesinambungan, agara siswa
memperoleh kesempatan untuk mengembangkan keterampilan tersebut.
2.
Urutan Materi
Urutan materi
mempunyai hubungan dengan kriteria berkesinambungan. Dengan kriteria ini
dimaksudkan bahwa isi perencanaan pembelajaran diorganisasi dengan cara
mengurutkan materi pembelajaran sesuai dengan tingkat kedalam atau keluasan
yang dimiliki. Sebagai contoh, keterampilan membaca yang dikembangkan pada
pelajaran Bahasa Arab, pada kelas pertama dapat berisi materi pembelajaran yang
sederhana, namun pada tingkat selanjutnya harus semakin kompleks.
3.
Keterpaduan Materi
Keterpaduan
materi menunjukkan pada hubungan horizontal pengalaman belajar yang menjadi isi
perencanaan pembelajaran. Organisasi pengalaman belajar dapat membantu siswa
memperoleh pengalaman itu dalam suatu kesatuan. Sebagai contoh, dalam
mengembangkan keterampilan Qiraat dalam pelajaran Bahasa Arab penting pula
dipertimbangkan cara bagaimana keterampilan itu dapat digunakan secara efektif
dalam PAI, IPS, dan pelajaran lainnya. Jadi, pengethuan, keterampilan maupun
sikap yang diperoleh sebagai pengalaman belajar tidak berdiri sendiri,
melainkan dapat diterapkan dalam berbagai bidang.
Ketiga
kriteria diatas merupakan petunjuk dalam membuat metode perencanaan
pembelajaran. Hal ini tidak terikat pada suatu perencanaan pembelajaran apapun
yang digunakan, karena pada dasarnya
semua metode perencanaan pembelajaran itu mempunyai matei pembelajaran yang
akan dijadikan isi. Perbedaan hanya terjadi tentang jenis materi pembelajaran
itu. Oleh karenanya, semua kriteria itu berlaku untuk perencanaan pembelajaran
apapun yang akan digunakan.
C. Metode dan Tehnik dalam Perencanaan Pembelajaran Bahasa Arab
a. Metode
Metode secara umum adalah segala hal yang termuat dalam setiap
proses pengajaran, baik itu pengajaran matematika, kesenian, olahraga, ilmu
alam dan lain sebagainya. Secara semantik, metodologi berarti ilmu pengetahuan
yang mempelajari tentang cara-cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai
suatu tujuan yang efektif dan efisien. Maksud dari Metodologi Pembelajaran
Bahasa Arab adalah cara atau jalan yang ditempuh bagaimana menyajikan
bahan-bahan pelajaran bahasa Arab agar mudah diterima, diserap, dan dikuasai
oleh anak didik dengan baik dan menyenangkan.
Setelah kita membahas tentang hal-hal yang menjadi pertimbangan
dalam memilih metode maka pembahasan kita selanjutnya adalah tentang
metode-metode yang telah berkembang dalam pembelajaran, yaitu:
1.
Metode Nahwu wa tarjamah
Dari yang telah kita ketahui bahwa dalam penerapan metode ini
banyak menekankan pada penggunaan nahwu
(tata bahasa) dan praktik penerjemahan dari bahasa dan ke dalam bahasa sasaran.
Metode ini bahkan harus kita akui sebagai metode yang paling populer digunakan
dalam pembelajaran bahasa baik di sekolah, pesantren maupun di perguruan
tinggi.
2.
Thariqah Mubassyaroh (Metode Langsung/Direct Method)
Metode ini lahir sebagai reaksi terhadap penggunaan metode nahwu wa
tarjamah yang mengajarkan bahasa seperti bahasa yang mati. Dan sebelumnya sejak
tahun 1850 telah banyak muncul propaganda yang menyampaikan agar menjadikan
penajaran bahasa itu hidup menyenangkan dan efektif. Sehingga secara cepat
lahirlah metode pembelajaran baru yang disebut dengan metode langsung.
3.
Thariqah Sam’iyah Syafawiyah (Audio Lingual Method)
Metode ini sebagai respon bagi 2 hal penting pada tahun 50-an dan
60-an yaitu :1) studi bahasa yang dilakukan oleh ahli jiwa dan ahli bahasa
terhadap bahasa-bahasa lisan Hindia diwilayah Amerika serikat, 2) perkembangan
sarana komunikasi antar bangsa yang bisa mendekatkan jarak antara mereka dan
adanya kebutuhan mempelajari bahasa asing tidak hanya digunakan untuk membenci
tetapi untuk komunikasi langsung antar mereka. Kedua hal ini mendorong untuk
melihat kembali fungsi bahasa yang tidak hanya untuk
komunikasi bahasa lisan atau transfer budaya manusia, akan tetapi bahasa
sebagai alat untuk merealisasikan komunikasi lisan.
4.
Thariqah Qira’ah (Reading Method)
Metode ini lahir dari pemikiran para ahli pengajaran asing pada
awal abad 20. Teori ini dipelopori oleh beberapa ahli pendidikan Inggris dan
Amerika. Mereka perpendapat bahwa belajar membaca secara lancar jauh lebih
penting bagi orang-orang yang belajar bahasa ketimbang berbicara. Karena mereka
menganggap hal itu sebagai ketrampilan yang paling bermanfaat yang harus
diperoleh dalam bahasa, tetapi juga karena hal itulah yang paling mudah.
b. Teknik (Uslub)
Sebagaimana telah diketahui pada penjelasan sebelumnya tentang
pendekatan dan metode, ketiganya adalah merupakan rangkaian yang tidak
terpisahkan dalam proses pengajaran, maka setelah kita mengetahui pengertian
masing-masing dari pengertian pendekatan dan pengertian metode, selanjutnya
kita akan memahami pengertian teknik dalam pengajaran. Teknik pengajaran
merupakan operasionalisasi metode. Karena itu, teknik pengajaran itu berupa
rencana, aturan-aturan, langkah-langkah tersebut haruslah terkait erat dengan
bingkai umumnya yaitu metode.
Pengaturan, penyusunan dan gaya mengajar sangat tergantung pada
guru serta ketrampilan kepribadian guru dalam mengelola kelas, karena semua hal
ini akan dipengaruhi oleh perbedaan situasi dan kondisi. Oleh sebab itu tidak
bisa dikatakan bahwa ini adalah metode yang terbaik, ini adalah teknik yang
terbaik yang cocok untuk segala situasi dan kondisi pengajaran. Perbedaan
tujuan, materi, siswa serta perbedaan guru membutuhkan teknik/stategi yang
berbeda dalam sebuah penerapan metode.
Berikut ini adalah penjelasan seputar teknik/strategi pembelajaran
yang meliputi empat ketrampilan bahasa.
1.
Teknik Pembelajaran Istima’ (Menyimak)
Istima’ mempunyai peranan penting dalam hidup kita, karena istima’
adalah sarana pertama yang digunakan manusia untuk berhubungan dengan sesama
dalam tahapan-tahapan kehidupannya. Melalui istima’ kita kenal mufrodat,
bentuk-bentuk jumlah dan taraakib. Dan dengan istima’ pula kita bisa menguasai
ketrampilan-ketrampilan bahasa yang lain yaitu kalam, qira’ah dan kitabah.
2.
Teknik Pembelajaran Kalam (Berbicara)
Kemampuan untuk menyusun kata-kata yang baik dan jelas mempunyai
dampak yang besar dalam hidup manusia. Baik untuk mengungkapkan pikiran-pikiran
atau memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Berbicara dengan bahasa asing merupakan
ketrampilan dasar yang menjadi tujuan dari beberapa tujuan pengajaran bahasa.
Sebagaimana bicara adalah sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain.
3.
Teknik Pembelajaran Qira’ah (Membaca)
Membaca merupakan materi terpenting di antara materi pelajaran.
Oleh sebab itu membaca merupakan sarana yang utama untuk mencapai tujuan
pembelajaran bahasa. Membaca adalah salah satu ketrampilan berbahasa yang tidak
mudah dan sederhana, tidak sekedar membunyikan huruf-huruf atau kata-kata akan
tetapi sebuah ketrampilan yang melibatkan berbagai kerja akal dan pikiran.
4.
Teknik pembelajaran kitabah (menulis)
Diantara ketrampilan-ketrampilan berbahasa, ketrampilan menulis
adalah ketrampilan tertinggi dari empat ketrampilan berbahasa. Menulis
merupakan salah satu sarana berkomunikasi dengan bahasa antara orang dengan
orang lainnya tidak terbatas oleh tempat
dan waktu.
Ø Kemampuan menulis dengan
tujuan yang benar
Ø Memperbaiki khoth
Ø Kemampuan mengungkapkan
pikiran secara jelas dan detail.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
Konsep dalam mengembangkan keaktifan proses pembelajaran dilakukan
guru maupun siswa. Penerapannya berlandaskan pada teori belajar yang menekankan
pentingnya belajar melalui proses mengalami untuk memperoleh pemahaman. Siswa
sebagai pusat pembelajaran mempunyai peran yang sangat penting dalam menentukan
materi pembelajaran.
Secara umum penerapan metode pembelajaran meliputi empat kegiatan
utama, yaitu kegiatan awal yang bersifat orientasi, guru berupaya memfokuskan
perhatian dan kesiapan siswa untuk mempelajari materi. Lalu, kegiatan inti
dalam proses pembelajaran, guru menggunakan metode untuk memudahkan siswa.
Selanjutnya, penguatan dan balikan, guru memberikan tugas yang harus dikerjakan
siswa. Dan kegiatan terakhir dilakukan penilaian terhadap keberhasilan yang
dicapai siswa melalui proses belajar yang dilakukan.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Lukmanul. 2008. Perencanaan pembelajaran. Bandung :
CV Wacana Prima
Sudjana,
D. 2000. Strategi Pembelajaran. Bandung : Falah Production
Uno, Hamzah B. 2010. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta :
Bumi Aksara
Tidak ada komentar:
Posting Komentar