BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seseorang mempunyai jati diri
masing – masing. Ia juga memiliki pandangan atas dirinya maupun orang lain. Ia
berkembang atas pandangan orang lain terhadap dirinya maupun pandangan terhadap
dirinya sendiri. Mengenali diri sendiri itu penting. Karena dengan begitu ia
bisa menjalankan peran penting dalam hidupnya.
Diri adalah segala sesuatu yang
dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang tubuh dan
keadaan psikisnya saja, melainkan juga tentang anak – istri, pekerjaan, rumah,
nenek moyang, teman – teman, milik dan uangnya. Kalau semua bagus, ia merasa
senang dan bangga. Akan tetapi jika ada yang kurang baik, hilang, ia merasa
putus asa, kecewa dan lain – lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diri
(self) adalah semua ciri, jenis kelamin, pengalaman, sifat sifat, latar
belakang budaya, pendidikan dan sebagainya yang melekat pada seseorang. Semakin
dewasa dan semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin mampu ia menggambarkan
dirinya sendiri. Untuk itu dalam makalah ini kami mencoba memaparkan bagaimana
persepsi diri itu sebenarnya dan bagaimana konsep diri itu berkembang.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan diri ?
2. Bagaimana konsep diri yang sebenarnya ?
C. Tujuan
1. Mengetahui yang dimaksud dengan “diri’.
2. Mengetahui bagaimana konsep diri yang sebenarnya.
BAB II
DIRI DAN KONSEP DIRI
A. DIRI (SELF)
Apakah diri itu ? untuk menjawab
pertanyaan ini, kita seyogyanya memperhatikan tanda – tanda awal dan melihat
diri itu sebagai perspektif dari rangka kehidupan. Diri yang akhirnya
berkembang ialah komposisi pikiran dan perasaan yang menjadi kesadaran
seseorang mengenai eksistensi individualitasnya, pengamatanya tentang apa yang
merupakan miliknya, pengertianya mengenai siapakah dia itu, dan perasaanya tentang
sifat – sifatnya, kualitasnya dan kepunyaanya.
Menurut De Vito, jika kita harus
mendaftarkan berbagai kualitas yang ingin kita miliki, kesadaran diri pasti
menempati prioritas tinggi. “kita semua ingin mengenal diri secara lebih
baik, karena kita yang mengendalikan pikiran dan prilaku kita sebagian besar
sampai batas kita memahami diri sendiri – sebatas kita menyadari siapa kita”.
Karena itu cukup beralasan
apabila kemudian De Vito menegaskan bahwa dari semua komponen tindak komunikasi
yang paling penting adalah diri (self). Dalam bukunya yang terkenal “principles
of psychology”, william James mengemukakan masalah self ini. Self adalah segala
sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang
tubuh dan keadaan psikisnya saja, melainkan juga tentang anak – istri,
pekerjaan, rumah, nenek moyang, teman – teman, milik dan uangnya. Kalau semua
bagus, ia merasa senang dan bangga. Akan tetapi jika ada yang kurang baik,
hilang, ia merasa putus asa, kecewa dan lain – lain. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa diri (self) adalah semua ciri, jenis kelamin, pengalaman,
sifat sifat, latar belakang budaya, pendidikan dan sebagainya yang melekat pada
seseorang. Semakin dewasa dan semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin mampu
ia menggambarkan dirinya sendiri.
Diri (self) dapat pula menunjukan
keseluruhan lingkungan subjektif seseorang. Untuk orangnya sendiri, diri ini
merupakan “pusat pengalaman dan kepentinganya”. Diri juga mempunya komponen
sikap yang meliputi perasan orang terhadap dirinya sendiri, asal – usul dan
latar belakang sikapnya terhadap kedudukanya pada saat ini dan harapanya
tentang hari depanya, kecenderunganya terhadap rasabangganya atau perasaan
malunya, keyakinanya mengenai penerimaan atau penolakan dirinya dilingkungan
dimana ia berada.[1]
Self hanya bisa dimengerti melalui interaksi dengan lingkungan. Self
dibangun berdasarkan pandangan orang yang bersangkutan dan pandangan orang
lain. Unsur self terdiri dari tiga hal yaitu
·
Perceived self (bagaimana seseorang atau orang
lain melihat tentang dirinya)
·
Real self (bagaimana kenyataan tentang
dirinya)
·
Ideal self (apa yang dicita – citakan tentang
dirinya)[2]
B. KONSEP DIRI
1. Diri sebagai bangunan konsep
Manusia adalah makhkuk yang
istimewa, selain karena memiliki kemampuan – kemampuan yang lebih tinggi dari
makhluk lainya, ia juga memiliki apa yang disebut aku (diri/self/ego). Karena
memiliki ini, dia dapat berdialog dengan orang lain yang juga punya ‘aku’.
Individu juga dapat berdialog dengan dirinya sendiri, sebab ‘aku’ ini bisa
berperan sebagai subjek (I) dan bisa juga berperan sebagai objek (me).
aku / self meliputi segala kepercayaan,sikap, perasaan dan cita – cita baik
yang disadari ataupun tidak tentang dirinya.[3]
Dalam kaitanya, kita dapat melihat sekurangnya lima aspek dari diri, yaitu
:
·
Dari yang paling jelas adalah fisik diri,
tubuh dan semua aktifitas biologis berlangsung didalamnya. Walaupun banyak
orang mengidentifikasikan diri mereka lebih pada akal pikiran dari pada dari
tubuh mereka sendiri, tak dapat disangkal bahwa manakala tubuh terancam bahaya
atau benar – benat cidera – misalnya, saat kaki seseorang harus diamputasi –
pengertian diri menjadi terganggu.
·
Suatu area luas yang bisa kita sebut “diri
sebagai proses”, suatu aliran akal pikiran, emosi dan prilaku kita yang
konstan. Apalagi kita mendapat suatu masalah, memberikan respon secara
emosional, membuat suatu rencana untuk memecahkanya dan kemudian melakukan
tindakan semua peristiwa tersebut adalah bagian dari diri sebagai proses. Maka
diri sebagai proses menjadi markas bear penyesuaian.
·
Diri – sosial, yaitu sebuah konsep yang
penting bagi ahli ilmu – ilmu sosial. Diri sosial terdiri atas akal pikiran dan
prilaku yang kita ambil sebagai respon secara umum terhadap orang lain dan
masyarakat.
·
Ada suatu panangan pribadi yang dimiliki
seseorang tentang dirinya masing – masing yaitu konsep diri. Konsep diri anda
adalah apa yang terlintas dalam pikiran saan anda berpikir tentang “saya”.
Masing – masing kita melukis sebuah gambaran mental tentang diri sendiri dan
meskipun gambaran ini mungkin sangat tidak realistis. Hal tersebut tetap milik
kita dan berpengaruh besar pada pemikiran dan prilaku kita.
·
Yang terakhir ini merupaka cita diri. Apa yang
anda ingingkan. Cita diri merupakan faktor yang paling penting dari prilaku
anda. Jika cita – cita anda adalah menjadi presiden wanita kedua di negara
kita, anda akan bertindak berbeda dibandingkan dengan seseorang yang bercita –
cita mendapat penghasilan lima belas juta rupiah per bulanya. Jadi cita – cinta
anda akan menentukan konsep diri anda dengan mengukur prestasi anda yang
sebenarnya dibandingkan dengan cita diri yang membentuk konsep diri anda.
2. Hakikat konsep diri
Konsep diri adalah semua
persepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, sosial dan
psikologis yang didasalkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang
lain. Siapakah saya? apakah saya? Jawaban yang diberikan terhadap dua
pertanyaan tersebut mengandung konsep “diri saya” yang terdiri atas :
·
Citra diri (self image) : bagian ini merupakan
deskripsi sederhana. Misalnya, saya seorang pelajar, seorang kakak, seorang
olahragawan, tinggi badan saya 170cm, berat badan saya 65kg dan lain
sebagainya.
·
Penghargaan diri : bagian ini meliputi suatu
penilaian, suatu perkiraan mengenai kepantasan diri. Misalnya saya sangat
ramah, sangat pandai dan lain sebagainya.
Myers mengatakan bahwa
penghargaan diri adalah suatu perasan yang dapat anda peroleh pada saat
tindakan anda sesuai dengan kesan pribadi anda dan pada saat kesan khusus
mengira – ngira suatu versi yang diidealkan mengenai bagaimana anda
mengharapkan diri anda sendiri.
Konsep diri menurut Rogera,
adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan ,
yaitu “aku” merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri ini
merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan – lahan
dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan
“apa dan siapa aku sebenarnya?” dan “apa yang sebenarnya harus aku perbuat?”.
Jadi konsep diri adalah
kesadaran batin yang tetap mengenai pengalaman yang berhubungan dengan “aku”
dan membedakan “aku” dan “yang bukan aku”. Sehubungan dengan konsep diri ini
kita harus membedakanya dengan istilah kepribadian. Kepribadian terbentuk
berdasarkan penglihatan orang lain terhadap diri sendiri, dengan kata lain
“pandangan dari luar”. Sebaliknya konsep diri merupakan suatu yang ada dalam
diri. Lebih mudahnya digambarkan bahwa kepribadian adalah saya seperti orang
lain melihat saya, sedangkan konsep diri adalah saya seperti saya melihat diri
saya sendiri. Baik kepribadian maupun konsep diri merupakan sesuatu yang tiak
statis sifatnya, namun justru dapat berubah. Hal ini karena baik kepribadian
maupun konsep diri terbentuk berdasarkan penggabungan tingkah laku yang
mencerminkan keadaan emosi tertentu ataupun bawaan tertentu dan setiap dari
tingkah laku ini bisa berubah sehinga kepribadian dan konsep diri pun dapat
berubah.
3. Bagaimana konsep diri terbentuk
Konsep diri terbentuk dalam
waktu yang relatif lama dan pembentukan ini tidak bisa diartikan bahwa reaksi
yang tidak biasadari seseorang dapat mengubah konsep diri. Namun, apabila tipe
reaksi seperti ini sangat penting terjadi atau jika reaksi ini muncul karena
orang lain yang memiliki arti yaitu orang – orang yang kita nilai umpamanya
orang tua, teman dan lain – lain, reaksi ini mungkin berpengaruh terhadap
konsep diri. Sebenarnya konsep diri ini terbentuk berdasarkan persepsi
seseorang, tentang sikap orang lain terhadap dirinya. Pada seorang anak, ia
mulai belajar berpikir dan merasakan dirinya seperti apa yang telah ditentukan
oleh orang lain dalam lingkunganya.
Konsep diri pada dasarnya ini tersusun atas beberapa tahapan, sebagai
berikut :
·
Konsep diri primer : konsep yang terbentuk
atas dasar pengalamanya terhadap lingkungan terdekatnya, yaitu lingkungan
rumahnya sendiri. Konsep tentang bagaimana dirinya banyak bermula dari
perbandingan antara dirinya dengan anggota keluarga yang lain. Adapun konsep
bagaimana peranya, aspirasinya atau tanggung jawabnya dalam kehidupan ini
banyak ditentukan atas dasar didikan ataupun tekanan yang datang dari orang
tuanya.
·
Konsep diri sekunder : setelah anak tumbuh
dewasa dan mulai mengenal lingkungan luar, ia akan memperoleh konsep diri yang
baru. Yaitu konsep diri sekunder. Lingkungan luar inilah yang nantinya akan
menunjang terbentuknya konsep diri sekunder.
·
Konsep diri konsisten : pada masa seorang anak
memasuki masa remaja, ia mengalami begitu banyak perubahan dalam dirinya. Sikap
atau tingkah laku yang ditampilkanya juga akan mengalami perubahan. Dan sebagai
akibatnya, sikap orang lain terhadap dirinya juga ikut berubah. Karena itulah
dapat dipahami bahwa konsep diri seorang remaja cenderung tidak konsisten dan
hal ini juga karena sikap orang lain yang dipersepsikan oleh diri remaja
tersebut juga berubah. Akan tetapi melalui cara ini, si remaja mengalami suatu
perkembangan konsep diri, sampai akhirnya ia memiliki konsep diri yang konsisten. Jadi Konsep diri terbentuk karena
adanya interaksi individu dengan orang disekitarnya.
4. Proses perkembangan konsep diri
Pada dasarnya, perkembangan
konsep diri merupakan proses yang relatif pasif. Pada pokoknya anda berprilaku
dengan cara tertentu dan mengamati reaksi orang lain terhadap prilaku anda.
Sewaktu lahir, anda tidak memiliki konsep diri, tidak memiliki pengetahuan
tentang diri sendiri. Jadi, jelaslah bahwa konsep diri bukanlah sesuatu yang
dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari
pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain. Dalam berinteraksi,
setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diberikan akan menjadi
cerminan bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Pada
hakikatnya, konsep diri kita sangat tergantung pada cara bagaimana kita
membandingkan diri kita dengan orang lain. Seiring dengan berkembangnya
pandangan kita terhadap diri sendiri maupun orang lain, maka konsep diri kita
juga mengalami perkembangan.
Seseorang yang hendak
mengembangkan konsep dirinya sebaiknya didasarkan pada hal – hal berikut :
·
Saya sebagaimana saya (Me as I’m).
·
Saya sebagaimana yang saya pikir tentang saya.
·
Saya sebagaimana yang orang lain pikirkan
tentang saya.
·
Saya sebagaimana yang saya pikir tentang orang
lain memandang saya.
·
Saya seperti yang saya pikir tentang saya yang
seharusnya.
5. Faktor – faktor yang mempengaruhi konsep diri
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang, yaitu sebagai
berikut :
·
Self appraisal – viewing self as an object
Penilaian diri yang menggambarkan diri sebagai objek. Istilah ini
menunjukan suatu pandangan yang menjadikan diri sendiri sebagai objek dalam
komunikasi, atau dengan kata lain adalah kesan kita terhadap diri sendiri.
·
Reaction and response of others
Konsep diri dipengaruhi oleh reaksi serta respon orang lain terhadap diri
kita.
·
Roles you play – role taking
Dalam hubungan pengaruh peran terhadap konsep diri. Adanya aspek peran yang
kita mainkan sedikit banyak akan mempengaruhi konsep diri kita.
·
Reference groups
Yaitu kelompok yang kita menjadi anggota di dalamnya. Jika kelompok ini
kita anggap penting, dalam arti mereka.[4]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Diri (self) adalah segala
sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang
tubuh dan keadaan psikisnya saja, melainkan juga tentang anak – istri,
pekerjaan, rumah, nenek moyang, teman – teman, milik dan uangnya. Unsur self
terdiri dari tiga hal yaitu
·
Perceived self (bagaimana seseorang atau orang
lain melihat tentang dirinya)
·
Real self (bagaimana kenyataan tentang dirinya)
·
Ideal self (apa yang dicita – citakan tentang
dirinya)
Konsep diri adalah semua
persepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, sosial dan
psikologis yang didasalkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang
lain. Konsep diri pada dasarnya tersusun atas beberapa tahapan, yaitu :
·
Konsep diri primer
·
Konsep diri sekunder
·
Konsep diri konsisten
HASIL OBSERVASI
Narasumber I : Iis Nuraeni (mahasiswi semester 6 jurusan
TBI IAIN SMH Banten)
Narasumber II : Annisah (mahasiswi semester 6 jurusan PAI
IAIN SMH Banten)
Diri dan Konsep Diri
Penanya :
apa yang anda ketahui tentang “diri” ?
Narasumber I : saya
kira diri itu adalah sifat, karakteristik, rasa senang dan semua hal ada dalam
diri kita.
Narasumber II : menurut
saya diri itu adalah kepribadian.
Penanya :
sejak kapan anda mengenali diri anda sendiri ?
Narasumber I : saya
mengenali diri saya seutuhnya ketika saya berusia 17 tahun.
Narasumber II : saya
rasa saya bisa mengenali diri saya sejak saya memasuki aliyah.
Penanya :
apakah anda merasakan ada perubahan dalam perkembangan diri anda ?
Narasumber I : jelas
ada. Yang dulunya saya kekanak – kanankan, sekarang sudah mulai dewasa meskipun
masih ada sifat kanak – kanak. Dulu saya tidak pernah memilikirkan orang tua
dan orang lain, namun sekarang sudah bisa memikirkan mereka. Bagaimana mereka
menafkahi saya dan yang lain sebagainya. Sifat saya menjadi lebih dewasa
beriring dengan bertambahnya usia.
Narasumber II : tentu
saya merasakan perubahan itu. perubahan dalam hal penampilan,sikap,pemikiran. Yang
jelas saya lebih bisa memahami keadaan orang lain. Sekarang ego saya menjadi
lebih berkurang dibandingkan dulu ketika masih anak – anak.
Penanya :
proses apa saja yang anda jalani dan anda rasakan dalam rangka mengenali diri
sendiri ?
Narasumber I : prosesnya
tidak bisa diungkapkan hanya bisa dirasakan. Saya merasa bahwa diri saya
seperti ini tanpa harus bertanya pada orang lain pun saya sudah bisa mengenali
bahwa diri saya seperti ini. Ada kesadaran yang membuat diri saya berubah
menjadi lebih dewasa seperti sekarang.
Narasumber II : dalam
membantu mengenali diri ini, saya mencoba banyak bertanya pada orang lain
bagaimana sikap saya. Karena terkadang persepsi kita dengan orang lain itu
berbeda. Mungkin kita merasa bahwa diri kita benar, perfect, namun belum tentu
demikian dengan pandangan orang lain. Jadi saya mencoba hal demikian.
Penanya :
faktor apa saja yang anda rasakan yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan dalam mengenali diri sendiri ?
Narasumber I :
faktor lingkungan yang sangat terasa mempengaruhi diri saya sampai sekarang.
Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan yang lainya.
Narsumber II :
faktor lingkungan dan pergaulan yang sangat mempengaruhi. Saya sangat merasakan
bagaimana kuatnya faktor lingkungan ini dalam membentuk diri saya yang
sekarang.