Jumat, 17 Juni 2016

Diri dan Konsep diri



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
     Seseorang mempunyai jati diri masing – masing. Ia juga memiliki pandangan atas dirinya maupun orang lain. Ia berkembang atas pandangan orang lain terhadap dirinya maupun pandangan terhadap dirinya sendiri. Mengenali diri sendiri itu penting. Karena dengan begitu ia bisa menjalankan peran penting dalam hidupnya.
     Diri adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang tubuh dan keadaan psikisnya saja, melainkan juga tentang anak – istri, pekerjaan, rumah, nenek moyang, teman – teman, milik dan uangnya. Kalau semua bagus, ia merasa senang dan bangga. Akan tetapi jika ada yang kurang baik, hilang, ia merasa putus asa, kecewa dan lain – lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diri (self) adalah semua ciri, jenis kelamin, pengalaman, sifat sifat, latar belakang budaya, pendidikan dan sebagainya yang melekat pada seseorang. Semakin dewasa dan semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin mampu ia menggambarkan dirinya sendiri. Untuk itu dalam makalah ini kami mencoba memaparkan bagaimana persepsi diri itu sebenarnya dan bagaimana konsep diri itu berkembang.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan diri ?
2.      Bagaimana konsep diri yang sebenarnya ?
C.  Tujuan
1.   Mengetahui yang dimaksud dengan “diri’.
2.   Mengetahui bagaimana konsep diri yang sebenarnya.





BAB II
DIRI DAN KONSEP DIRI
A. DIRI (SELF)
     Apakah diri itu ? untuk menjawab pertanyaan ini, kita seyogyanya memperhatikan tanda – tanda awal dan melihat diri itu sebagai perspektif dari rangka kehidupan. Diri yang akhirnya berkembang ialah komposisi pikiran dan perasaan yang menjadi kesadaran seseorang mengenai eksistensi individualitasnya, pengamatanya tentang apa yang merupakan miliknya, pengertianya mengenai siapakah dia itu, dan perasaanya tentang sifat – sifatnya, kualitasnya dan kepunyaanya.
     Menurut De Vito, jika kita harus mendaftarkan berbagai kualitas yang ingin kita miliki, kesadaran diri pasti menempati prioritas tinggi. “kita semua ingin mengenal diri secara lebih baik, karena kita yang mengendalikan pikiran dan prilaku kita sebagian besar sampai batas kita memahami diri sendiri – sebatas kita menyadari siapa kita”.
     Karena itu cukup beralasan apabila kemudian De Vito menegaskan bahwa dari semua komponen tindak komunikasi yang paling penting adalah diri (self). Dalam bukunya yang terkenal “principles of psychology”, william James mengemukakan masalah self ini. Self adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang tubuh dan keadaan psikisnya saja, melainkan juga tentang anak – istri, pekerjaan, rumah, nenek moyang, teman – teman, milik dan uangnya. Kalau semua bagus, ia merasa senang dan bangga. Akan tetapi jika ada yang kurang baik, hilang, ia merasa putus asa, kecewa dan lain – lain. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diri (self) adalah semua ciri, jenis kelamin, pengalaman, sifat sifat, latar belakang budaya, pendidikan dan sebagainya yang melekat pada seseorang. Semakin dewasa dan semakin tinggi kecerdasan seseorang semakin mampu ia menggambarkan dirinya sendiri.
     Diri (self) dapat pula menunjukan keseluruhan lingkungan subjektif seseorang. Untuk orangnya sendiri, diri ini merupakan “pusat pengalaman dan kepentinganya”. Diri juga mempunya komponen sikap yang meliputi perasan orang terhadap dirinya sendiri, asal – usul dan latar belakang sikapnya terhadap kedudukanya pada saat ini dan harapanya tentang hari depanya, kecenderunganya terhadap rasabangganya atau perasaan malunya, keyakinanya mengenai penerimaan atau penolakan dirinya dilingkungan dimana ia berada.[1] 
Self hanya bisa dimengerti melalui interaksi dengan lingkungan. Self dibangun berdasarkan pandangan orang yang bersangkutan dan pandangan orang lain. Unsur self terdiri dari tiga hal yaitu
·         Perceived self (bagaimana seseorang atau orang lain melihat tentang dirinya)
·         Real self (bagaimana kenyataan tentang dirinya)
·         Ideal self (apa yang dicita – citakan tentang dirinya)[2]
B.  KONSEP DIRI
1.      Diri sebagai bangunan konsep
           Manusia adalah makhkuk yang istimewa, selain karena memiliki kemampuan – kemampuan yang lebih tinggi dari makhluk lainya, ia juga memiliki apa yang disebut aku (diri/self/ego). Karena memiliki ini, dia dapat berdialog dengan orang lain yang juga punya ‘aku’. Individu juga dapat berdialog dengan dirinya sendiri, sebab ‘aku’ ini bisa berperan sebagai subjek (I) dan bisa juga berperan sebagai objek (me). aku / self meliputi segala kepercayaan,sikap, perasaan dan cita – cita baik yang disadari ataupun tidak tentang dirinya.[3]
Dalam kaitanya, kita dapat melihat sekurangnya lima aspek dari diri, yaitu :
·         Dari yang paling jelas adalah fisik diri, tubuh dan semua aktifitas biologis berlangsung didalamnya. Walaupun banyak orang mengidentifikasikan diri mereka lebih pada akal pikiran dari pada dari tubuh mereka sendiri, tak dapat disangkal bahwa manakala tubuh terancam bahaya atau benar – benat cidera – misalnya, saat kaki seseorang harus diamputasi – pengertian diri menjadi terganggu.
·         Suatu area luas yang bisa kita sebut “diri sebagai proses”, suatu aliran akal pikiran, emosi dan prilaku kita yang konstan. Apalagi kita mendapat suatu masalah, memberikan respon secara emosional, membuat suatu rencana untuk memecahkanya dan kemudian melakukan tindakan semua peristiwa tersebut adalah bagian dari diri sebagai proses. Maka diri sebagai proses menjadi markas bear penyesuaian.
·         Diri – sosial, yaitu sebuah konsep yang penting bagi ahli ilmu – ilmu sosial. Diri sosial terdiri atas akal pikiran dan prilaku yang kita ambil sebagai respon secara umum terhadap orang lain dan masyarakat.
·         Ada suatu panangan pribadi yang dimiliki seseorang tentang dirinya masing – masing yaitu konsep diri. Konsep diri anda adalah apa yang terlintas dalam pikiran saan anda berpikir tentang “saya”. Masing – masing kita melukis sebuah gambaran mental tentang diri sendiri dan meskipun gambaran ini mungkin sangat tidak realistis. Hal tersebut tetap milik kita dan berpengaruh besar pada pemikiran dan prilaku kita.
·         Yang terakhir ini merupaka cita diri. Apa yang anda ingingkan. Cita diri merupakan faktor yang paling penting dari prilaku anda. Jika cita – cita anda adalah menjadi presiden wanita kedua di negara kita, anda akan bertindak berbeda dibandingkan dengan seseorang yang bercita – cita mendapat penghasilan lima belas juta rupiah per bulanya. Jadi cita – cinta anda akan menentukan konsep diri anda dengan mengukur prestasi anda yang sebenarnya dibandingkan dengan cita diri yang membentuk konsep diri anda.
2.      Hakikat konsep diri
           Konsep diri adalah semua persepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, sosial dan psikologis yang didasalkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain. Siapakah saya? apakah saya? Jawaban yang diberikan terhadap dua pertanyaan tersebut mengandung konsep “diri saya” yang terdiri atas :
·         Citra diri (self image) : bagian ini merupakan deskripsi sederhana. Misalnya, saya seorang pelajar, seorang kakak, seorang olahragawan, tinggi badan saya 170cm, berat badan saya 65kg dan lain sebagainya.
·         Penghargaan diri : bagian ini meliputi suatu penilaian, suatu perkiraan mengenai kepantasan diri. Misalnya saya sangat ramah, sangat pandai dan lain sebagainya.
           Myers mengatakan bahwa penghargaan diri adalah suatu perasan yang dapat anda peroleh pada saat tindakan anda sesuai dengan kesan pribadi anda dan pada saat kesan khusus mengira – ngira suatu versi yang diidealkan mengenai bagaimana anda mengharapkan diri anda sendiri.
           Konsep diri menurut Rogera, adalah bagian sadar dari ruang fenomenal yang disadari dan disimbolisasikan , yaitu “aku” merupakan pusat referensi setiap pengalaman. Konsep diri ini merupakan bagian inti dari pengalaman individu yang secara perlahan – lahan dibedakan dan disimbolisasikan sebagai bayangan tentang diri yang mengatakan “apa dan siapa aku sebenarnya?” dan “apa yang sebenarnya harus aku perbuat?”.
           Jadi konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap mengenai pengalaman yang berhubungan dengan “aku” dan membedakan “aku” dan “yang bukan aku”. Sehubungan dengan konsep diri ini kita harus membedakanya dengan istilah kepribadian. Kepribadian terbentuk berdasarkan penglihatan orang lain terhadap diri sendiri, dengan kata lain “pandangan dari luar”. Sebaliknya konsep diri merupakan suatu yang ada dalam diri. Lebih mudahnya digambarkan bahwa kepribadian adalah saya seperti orang lain melihat saya, sedangkan konsep diri adalah saya seperti saya melihat diri saya sendiri. Baik kepribadian maupun konsep diri merupakan sesuatu yang tiak statis sifatnya, namun justru dapat berubah. Hal ini karena baik kepribadian maupun konsep diri terbentuk berdasarkan penggabungan tingkah laku yang mencerminkan keadaan emosi tertentu ataupun bawaan tertentu dan setiap dari tingkah laku ini bisa berubah sehinga kepribadian dan konsep diri pun dapat berubah.
3.      Bagaimana konsep diri terbentuk
           Konsep diri terbentuk dalam waktu yang relatif lama dan pembentukan ini tidak bisa diartikan bahwa reaksi yang tidak biasadari seseorang dapat mengubah konsep diri. Namun, apabila tipe reaksi seperti ini sangat penting terjadi atau jika reaksi ini muncul karena orang lain yang memiliki arti yaitu orang – orang yang kita nilai umpamanya orang tua, teman dan lain – lain, reaksi ini mungkin berpengaruh terhadap konsep diri. Sebenarnya konsep diri ini terbentuk berdasarkan persepsi seseorang, tentang sikap orang lain terhadap dirinya. Pada seorang anak, ia mulai belajar berpikir dan merasakan dirinya seperti apa yang telah ditentukan oleh orang lain dalam lingkunganya.
Konsep diri pada dasarnya ini tersusun atas beberapa tahapan, sebagai berikut :
·         Konsep diri primer : konsep yang terbentuk atas dasar pengalamanya terhadap lingkungan terdekatnya, yaitu lingkungan rumahnya sendiri. Konsep tentang bagaimana dirinya banyak bermula dari perbandingan antara dirinya dengan anggota keluarga yang lain. Adapun konsep bagaimana peranya, aspirasinya atau tanggung jawabnya dalam kehidupan ini banyak ditentukan atas dasar didikan ataupun tekanan yang datang dari orang tuanya.
·         Konsep diri sekunder : setelah anak tumbuh dewasa dan mulai mengenal lingkungan luar, ia akan memperoleh konsep diri yang baru. Yaitu konsep diri sekunder. Lingkungan luar inilah yang nantinya akan menunjang terbentuknya konsep diri sekunder.
·         Konsep diri konsisten : pada masa seorang anak memasuki masa remaja, ia mengalami begitu banyak perubahan dalam dirinya. Sikap atau tingkah laku yang ditampilkanya juga akan mengalami perubahan. Dan sebagai akibatnya, sikap orang lain terhadap dirinya juga ikut berubah. Karena itulah dapat dipahami bahwa konsep diri seorang remaja cenderung tidak konsisten dan hal ini juga karena sikap orang lain yang dipersepsikan oleh diri remaja tersebut juga berubah. Akan tetapi melalui cara ini, si remaja mengalami suatu perkembangan konsep diri, sampai akhirnya ia memiliki konsep diri yang  konsisten. Jadi Konsep diri terbentuk karena adanya interaksi individu dengan orang disekitarnya.
4.      Proses perkembangan konsep diri
           Pada dasarnya, perkembangan konsep diri merupakan proses yang relatif pasif. Pada pokoknya anda berprilaku dengan cara tertentu dan mengamati reaksi orang lain terhadap prilaku anda. Sewaktu lahir, anda tidak memiliki konsep diri, tidak memiliki pengetahuan tentang diri sendiri. Jadi, jelaslah bahwa konsep diri bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain. Dalam berinteraksi, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yang diberikan akan menjadi cerminan bagi individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Pada hakikatnya, konsep diri kita sangat tergantung pada cara bagaimana kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Seiring dengan berkembangnya pandangan kita terhadap diri sendiri maupun orang lain, maka konsep diri kita juga mengalami perkembangan.
           Seseorang yang hendak mengembangkan konsep dirinya sebaiknya didasarkan pada hal – hal berikut :
·         Saya sebagaimana saya (Me as I’m).
·         Saya sebagaimana yang saya pikir tentang saya.
·         Saya sebagaimana yang orang lain pikirkan tentang saya.
·         Saya sebagaimana yang saya pikir tentang orang lain memandang saya.
·         Saya seperti yang saya pikir tentang saya yang seharusnya.
5.      Faktor – faktor yang mempengaruhi konsep diri
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang, yaitu sebagai berikut :
·         Self appraisal – viewing self as an object
Penilaian diri yang menggambarkan diri sebagai objek. Istilah ini menunjukan suatu pandangan yang menjadikan diri sendiri sebagai objek dalam komunikasi, atau dengan kata lain adalah kesan kita terhadap diri sendiri.
·         Reaction and response of others
Konsep diri dipengaruhi oleh reaksi serta respon orang lain terhadap diri kita.
·         Roles you play – role taking
Dalam hubungan pengaruh peran terhadap konsep diri. Adanya aspek peran yang kita mainkan sedikit banyak akan mempengaruhi konsep diri kita.
·         Reference groups
Yaitu kelompok yang kita menjadi anggota di dalamnya. Jika kelompok ini kita anggap penting, dalam arti mereka.[4]









BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
      Diri (self) adalah segala sesuatu yang dapat dikatakan orang tentang dirinya sendiri, bukan hanya tentang tubuh dan keadaan psikisnya saja, melainkan juga tentang anak – istri, pekerjaan, rumah, nenek moyang, teman – teman, milik dan uangnya. Unsur self terdiri dari tiga hal yaitu
·         Perceived self (bagaimana seseorang atau orang lain melihat tentang dirinya)
·         Real self (bagaimana kenyataan tentang dirinya)
·         Ideal self (apa yang dicita – citakan tentang dirinya)
      Konsep diri adalah semua persepsi kita terhadap aspek diri yang meliputi aspek fisik, sosial dan psikologis yang didasalkan pada pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain. Konsep diri pada dasarnya tersusun atas beberapa tahapan, yaitu :
·         Konsep diri primer
·         Konsep diri sekunder
·         Konsep diri konsisten















HASIL OBSERVASI
Narasumber I : Iis Nuraeni (mahasiswi semester 6 jurusan TBI IAIN SMH Banten)
Narasumber II : Annisah (mahasiswi semester 6 jurusan PAI IAIN SMH Banten)

Diri dan Konsep Diri
Penanya              : apa yang anda ketahui tentang “diri” ?
Narasumber I     : saya kira diri itu adalah sifat, karakteristik, rasa senang dan semua hal ada dalam diri kita.
Narasumber II    : menurut saya diri itu adalah kepribadian.
Penanya              : sejak kapan anda mengenali diri anda sendiri ?
Narasumber I     : saya mengenali diri saya seutuhnya ketika saya berusia 17 tahun.
Narasumber II    : saya rasa saya bisa mengenali diri saya sejak saya memasuki aliyah.
Penanya              : apakah anda merasakan ada perubahan dalam perkembangan diri anda ?
Narasumber I     : jelas ada. Yang dulunya saya kekanak – kanankan, sekarang sudah mulai dewasa meskipun masih ada sifat kanak – kanak. Dulu saya tidak pernah memilikirkan orang tua dan orang lain, namun sekarang sudah bisa memikirkan mereka. Bagaimana mereka menafkahi saya dan yang lain sebagainya. Sifat saya menjadi lebih dewasa beriring dengan bertambahnya usia.
Narasumber II    : tentu saya merasakan perubahan itu. perubahan dalam hal penampilan,sikap,pemikiran. Yang jelas saya lebih bisa memahami keadaan orang lain. Sekarang ego saya menjadi lebih berkurang dibandingkan dulu ketika masih anak – anak.
Penanya              : proses apa saja yang anda jalani dan anda rasakan dalam rangka mengenali diri sendiri ?
Narasumber I     : prosesnya tidak bisa diungkapkan hanya bisa dirasakan. Saya merasa bahwa diri saya seperti ini tanpa harus bertanya pada orang lain pun saya sudah bisa mengenali bahwa diri saya seperti ini. Ada kesadaran yang membuat diri saya berubah menjadi lebih dewasa seperti sekarang.
Narasumber II    : dalam membantu mengenali diri ini, saya mencoba banyak bertanya pada orang lain bagaimana sikap saya. Karena terkadang persepsi kita dengan orang lain itu berbeda. Mungkin kita merasa bahwa diri kita benar, perfect, namun belum tentu demikian dengan pandangan orang lain. Jadi saya mencoba hal demikian.
Penanya              : faktor apa saja yang anda rasakan yang mempengaruhi perkembangan dan perubahan  dalam mengenali diri sendiri ?
Narasumber I     : faktor lingkungan yang sangat terasa mempengaruhi diri saya sampai sekarang. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan yang lainya.
Narsumber II      : faktor lingkungan dan pergaulan yang sangat mempengaruhi. Saya sangat merasakan bagaimana kuatnya faktor lingkungan ini dalam membentuk diri saya yang sekarang.


        [1] Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung : 2003, Pestaka Setia, Hal. 499 – 501.
        [2] H. Mahmud, Psikologi Pendidikan, Bandung : 2010, Pustaka Setia, hal. 365.
        [3] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, Bandung : 2011, Remaja Rosdakarya, Hal. 139.
        [4] Alex Sobur, Psikologi Umum, Bandung : 2003, Pestaka Setia, Hal.504 – 522.

Selasa, 24 November 2015

TAWASSUL



Tawassul
Setelah kita mengetahui bahaya kesyirikan yang sangat besar di dunia dan akhirat, kita perlu mengetahui secara rinci bentuk-bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Di antara bentuk-bentuk yang banyak terjadi pada mereka adalah berdo’a dan meminta pada kuburan-kuburan yang dianggap keramat, kepada orang-orang shalih yang telah mati atau kepada jin-jin dan malaikat-malaikat. Banyak pula di antara mereka yang bertawassul (mengambil perantara) dengan ruh atau kedudukan nabi dan bertawassul dengan kemuliaan para wali dan orang-orang shalih (yang sudah mati).
Jika kita mencermati nash-nash dalam al-Qur’an maupun sunnah, maka akan kita dapati pula hal demikian ini pada zaman jahiliyah dulu ketika Rasulullah diutus.
Kaum musyrikin di zaman jahiliyah dulu ataupun pada zaman kita ini selalu beralasan bahwa mereka tidak menyembah sesembahan-sesembahan tadi melainkan hanya sebagai taqarruban (mendekatkan diri) dan wasilah (perantara) kepada Allah. Allah mengkisahkan jawaban mereka ketika diperingatkan dari kesyirikan dalam firman-Nya:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)
Siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang yang meminta sesuatu kepada selain Allah dimana mereka tidak mungkin akan dapat mengabulkannya sampai hari kiamat. Mereka telah mati, telah terputus hubungannya dengan kita dan berbeda alamnya. Bahkan Mereka di alam barzakh (alam kubur-red.) disibukkan dengan urusannya sendiri.
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka?” (QS. Al Ahqaaf: 5)
Mengapa tidak meminta secara langsung kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat?
“Dan Rabb-mu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Az-Zumar: 60)
Mereka yang dianggap oleh sebagian masyarakat dapat menyampaikan harapannya kepada Allah, dalam keadaan sedang sibuk mendekatkan diri mereka sendiri kepada-Nya, mengharapkan rahmat dari-Nya dan takut akan adzab-Nya. Dan mereka tidak dapat mendengarkan do’a mereka. Bahkan jika mereka adalah orang-orang yang shalih ketika hidup di dunia, tentu akan mengingkari kesyirikan ini pada hari kiamat kelak.
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Faathir: 14)
Maka yang akan terjadi pada hari kiamat adalah mereka saling salah-menyalahkan sebagaimana dalam kelanjutan ayat dalam surat Al Ahqaaf di atas:
“Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al Ahqaaf: 6)
Untuk itu perlu kita bahas makna tawassul dan wasilah. Karena jika terjadi kesalahan dalam masalah ini dapat menjerumuskan seseorang dalam kesyirikan besar yang dapat menggugurkan seluruh amalannya.
Definisi tawassul
Tawassul berasal dari kata الوسيلة yaitu suatu sebab yang dapat menghantarkan pada tercapainya tujuan. Wasilah juga mempunyai makna yang lain, yaitu kedudukan di sisi raja, atau derajat dan kedekatan. Di dalam hadits berikut ini kata wasilah dipakai untuk pengertian “kedudukan tinggi di surga”.
Apabila kamu mendengar (ucapan) muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya. Kemudian bershalawatlah kepadaku karena sesungguhnya orang yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan membalasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku wasilah, karena ia adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba di antara hamba-hamba Allah dan aku berharap menjadi orang tersebut. Barangsiapa meminta untukku wasilah tersebut ia berhak memperoleh syafaat. (HR. Imam Muslim).
Itulah makna wasilah secara bahasa.
Adapun makna wasilah menurut al-Qur’an adalah sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 35)
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah ketika mengutip penafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Wail, Al-Hasan, Abdullah bin Katsir, Asuddi, Ibnu Zaid dan lainnya- berkata bahwa wasilah di dalam ayat ini (Al Maidah ayat 35) ialah peribadatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga menukil perkataan Qatadah mengenai ayat tersebut: “Mendekatkan kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan amal yang membuat-Nya ridha”.
Maka tawassul atau wasilah adalah mencari jalan kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah kepadanya dengan cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Dengan demikian hendaklah orang yang berdo’a mengambil perantara agar dikabulkan do’anya dengan perkara-perkara yang dicintai dan disukai oleh Allah, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah. Bukan dengan kebid’ahan yang membuat Allah benci, bukan pula dengan kesyirikan yang membuat Allah murka!
Tawassul yang Disyariatkan
Ada beberapa macam tawassul yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah, yaitu:
1. Bertawassul dengan nama-nama Allah ta‘ala, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya
“Hanya milik Allah asmaaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu …” (QS. Al Anfaal: 18)
Di antara tawassul dengan nama-nama Allah adalah ucapan Rasulullah:
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang perempuan. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu. Hukum-Mu telah berlaku atasku. Ketentuan-Mu telah adil bagiku. Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, dengan semua nama yang Engkau miliki yang Engkau namakan diri-Mu dengannya. Atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu. Atau yang Engkau khususkan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an Al Adhim sebagai penyejuk hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihan dan kegelisahanku. (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Di antara tawassul dengan menyebutkan sifat-Nya adalah doa beliau:
Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan Allah dari kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti. (HR. Muslim)
Dan di antara tawassul dengan perbuatan-perbuatan Allah adalah shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah yang dikenal dengan shalawat Ibrahimiyah yaitu:
Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya.
Kalimat “kama Shallaita” dalam hadits di atas yang artinya “sebagaimana Engkau memberi shalawat” merupakan salah satu perbuatan Allah.
2. Bertawassul dengan keimanan kepada Allah dan rasul-Nya
“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabb-mu”, maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)
Dari ayat di atas disebutkan bahwa dengan sebab keimanan kami kepada rasul-Mu maka ampunilah dosa kami. Maka jadilah iman ke-pada Allah dan rasul-Nya menjadi wasilah atau sebab diampuni dosa-dosa.
3. Bertawassul dengan keadaan orang yang berdo’a.
Yaitu seorang yang berdo’a bertawassul dengan keadaannya, seperti pernyataan seseorang ketika berdo’a:
Ya Allah, sesungguhnya aku ini faqir sangat membutuhkanmu. Ya Allah sesungguhnya aku ini tawanan (budak) milikmu….
Adapun dalilnya adalah firman Allah:
“Ya Rabb-ku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al Qashash: 24)
4. Bertawassul dengan do’anya orang yang mungkin dikabulkan doanya.
Adapun dalilnya adalah ketika seseorang yang meminta Rasulullah untuk berdo’a kepada Allah agar diturunkan hujan, orang itu berkata: “Wahai Rasulullah, telah binasa harta benda kami dan terputus jalan-jalan maka mohonkanlah kepada Allah agar menurunkan hujan”. Maka Rasulullah mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa: “Ya Allah turunkanlah hujan, ya Allah turunkanlah hujan.” (HR. Muslim)
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa syarat orang yang diminta untuk berdo’a adalah:
1. Hadir atau dapat mendengar permintaan orang tersebut.
2. Masih hidup dan dapat melakukan do’a tersebut.
3. Hati harus tetap yakin bahwa Allah-lah yang akan menentukan segala sesuatunya. Tidak ada kecenderungan hati kepada selain-Nya.
Adapun meminta dido’a-kan atau meminta disampaikan keinginannya kepada orang yang telah mati atau kepada kuburan-kuburan, atau kepada orang yang tidak hadir dan tidak mendengar walaupun masih hidup, maka yang demikian merupakan kesyirikan yang nyata.
5. Bertawassul dengan amal shalih
Yakni menyebutkan dalam do’anya amal shalih yang pernah dikerjakannya. Hal itu seperti yang ditunjukkan oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar, bahwa ada 3 orang laki-laki yang terkurung di dalam gua. Kemudian mereka berdoa dengan menyebutkan amalan shalihnya masing-masing agar dibukakan pintu gua tersebut dari batu yang menutupinya. Akhirnya Allah mengabulkan doa mereka, dan mereka dapat keluar dari gua tersebut.
Demikianlah uraian ringkas tentang tawassul yang disyari’atkan dan peringatan terhadap bentuk-bentuk tawassul yang dapat menjerumuskan kita dalam kesyirikan. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita dari segala macam kesyirikan sehingga akan selamatlah amalan-amalan kita. Amin.
Wallahu a’lam