Tawassul
Setelah kita mengetahui bahaya kesyirikan yang
sangat besar di dunia dan akhirat, kita perlu mengetahui secara rinci
bentuk-bentuk kesyirikan yang banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita.
Di antara bentuk-bentuk yang banyak terjadi pada mereka adalah berdo’a dan
meminta pada kuburan-kuburan yang dianggap keramat, kepada orang-orang shalih
yang telah mati atau kepada jin-jin dan malaikat-malaikat. Banyak pula di
antara mereka yang bertawassul (mengambil perantara) dengan ruh atau kedudukan
nabi dan bertawassul dengan kemuliaan para wali dan orang-orang shalih (yang
sudah mati).
Jika kita mencermati nash-nash dalam al-Qur’an
maupun sunnah, maka akan kita dapati pula hal demikian ini pada zaman jahiliyah
dulu ketika Rasulullah diutus.
Kaum musyrikin di zaman jahiliyah dulu ataupun
pada zaman kita ini selalu beralasan bahwa mereka tidak menyembah
sesembahan-sesembahan tadi melainkan hanya sebagai taqarruban (mendekatkan
diri) dan wasilah (perantara) kepada Allah. Allah mengkisahkan jawaban mereka
ketika diperingatkan dari kesyirikan dalam firman-Nya:
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama
yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain
Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka
mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan
memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat
ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3)
Siapakah yang lebih sesat daripada orang-orang
yang meminta sesuatu kepada selain Allah dimana mereka tidak mungkin akan dapat
mengabulkannya sampai hari kiamat. Mereka telah mati, telah terputus
hubungannya dengan kita dan berbeda alamnya. Bahkan Mereka di alam barzakh (alam
kubur-red.) disibukkan dengan urusannya sendiri.
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang
yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan
(do’a) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka?”
(QS. Al Ahqaaf: 5)
Mengapa tidak meminta secara langsung
kepada yang Maha Mendengar dan Maha Melihat?
“Dan Rabb-mu berfirman: “Berdo’alah
kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan
hina dina.” (QS. Az-Zumar: 60)
Mereka yang dianggap oleh sebagian masyarakat
dapat menyampaikan harapannya kepada Allah, dalam keadaan sedang sibuk
mendekatkan diri mereka sendiri kepada-Nya, mengharapkan rahmat dari-Nya dan
takut akan adzab-Nya. Dan mereka tidak dapat mendengarkan do’a mereka. Bahkan
jika mereka adalah orang-orang yang shalih ketika hidup di dunia, tentu akan
mengingkari kesyirikan ini pada hari kiamat kelak.
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar
seruanmu; dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan
permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan
tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh
Yang Maha Mengetahui.” (QS. Faathir: 14)
Maka yang akan terjadi pada hari kiamat adalah
mereka saling salah-menyalahkan sebagaimana dalam kelanjutan ayat dalam surat Al Ahqaaf di atas:
“Dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari
kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari
pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al Ahqaaf: 6)
Untuk itu perlu kita bahas makna tawassul dan
wasilah. Karena jika terjadi kesalahan dalam masalah ini dapat menjerumuskan
seseorang dalam kesyirikan besar yang dapat menggugurkan seluruh amalannya.
Definisi tawassul
Tawassul berasal dari kata الوسيلة yaitu suatu sebab yang dapat menghantarkan pada tercapainya
tujuan. Wasilah juga mempunyai makna yang lain, yaitu kedudukan di sisi raja,
atau derajat dan kedekatan. Di dalam hadits berikut ini kata wasilah dipakai
untuk pengertian “kedudukan tinggi di surga”.
Apabila kamu mendengar (ucapan) muadzin, maka
ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya. Kemudian bershalawatlah kepadaku
karena sesungguhnya orang yang membaca satu shalawat kepadaku, maka Allah akan
membalasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah kepada Allah untukku wasilah,
karena ia adalah kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba
di antara hamba-hamba Allah dan aku berharap menjadi orang tersebut. Barangsiapa
meminta untukku wasilah tersebut ia berhak memperoleh syafaat. (HR. Imam
Muslim).
Itulah makna wasilah secara bahasa.
Adapun makna wasilah menurut al-Qur’an adalah
sebagaimana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah
kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan
berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al
Maidah: 35)
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah
ketika mengutip penafsiran Ibnu Abbas, Mujahid, Abu Wail, Al-Hasan, Abdullah
bin Katsir, Asuddi, Ibnu Zaid dan lainnya- berkata bahwa wasilah di dalam ayat
ini (Al Maidah ayat 35) ialah peribadatan yang dapat
mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga menukil perkataan Qatadah mengenai
ayat tersebut: “Mendekatkan kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan
amal yang membuat-Nya ridha”.
Maka tawassul atau wasilah adalah mencari jalan
kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan beribadah kepadanya dengan
cara yang diajarkan oleh Rasul-Nya. Dengan demikian hendaklah orang yang
berdo’a mengambil perantara agar dikabulkan do’anya dengan perkara-perkara yang
dicintai dan disukai oleh Allah, yaitu yang diajarkan oleh Rasulullah. Bukan
dengan kebid’ahan yang membuat Allah benci, bukan pula dengan kesyirikan yang
membuat Allah murka!
Tawassul yang Disyariatkan
Ada
beberapa macam tawassul yang disyari’atkan dan dicontohkan oleh Rasulullah,
yaitu:
1. Bertawassul dengan nama-nama Allah
ta‘ala, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya
“Hanya milik Allah asmaaul husna, maka
bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu …” (QS. Al
Anfaal: 18)
Di antara tawassul dengan nama-nama Allah adalah
ucapan Rasulullah:
Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu
yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang perempuan. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu.
Hukum-Mu telah berlaku atasku. Ketentuan-Mu telah adil bagiku. Aku memohon
kepada-Mu, ya Allah, dengan semua nama yang Engkau miliki yang Engkau namakan
diri-Mu dengannya. Atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Atau yang Engkau
ajarkan kepada salah seorang dari hamba-Mu. Atau yang Engkau khususkan dalam
ilmu ghaib di sisi-Mu. Jadikanlah Al Qur’an Al Adhim sebagai penyejuk hatiku,
cahaya dadaku, penghilang kesedihan dan kegelisahanku. (HR. Ahmad dan
dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Di antara tawassul dengan menyebutkan sifat-Nya
adalah doa beliau:
Aku berlindung dengan kemuliaan dan kekuasaan
Allah dari kejelekan yang aku jumpai dan aku takuti. (HR. Muslim)
Dan di antara tawassul dengan perbuatan-perbuatan
Allah adalah shalawat yang diajarkan oleh Rasulullah yang dikenal dengan
shalawat Ibrahimiyah yaitu:
Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad
dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim
dan keluarganya.
Kalimat “kama
Shallaita” dalam hadits di atas yang artinya “sebagaimana Engkau memberi
shalawat” merupakan salah satu perbuatan Allah.
2. Bertawassul dengan keimanan kepada
Allah dan rasul-Nya
“Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar
(seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Rabb-mu”,
maka kami pun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan
hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta
orang-orang yang banyak berbakti.” (QS. Ali Imran: 193)
Dari ayat di atas disebutkan bahwa dengan sebab
keimanan kami kepada rasul-Mu maka ampunilah dosa kami. Maka jadilah iman
ke-pada Allah dan rasul-Nya menjadi wasilah atau sebab diampuni dosa-dosa.
3. Bertawassul dengan keadaan orang yang
berdo’a.
Yaitu seorang yang berdo’a bertawassul dengan
keadaannya, seperti pernyataan seseorang ketika berdo’a:
Ya Allah, sesungguhnya aku ini faqir sangat
membutuhkanmu. Ya Allah sesungguhnya aku ini tawanan (budak) milikmu….
Adapun dalilnya adalah firman Allah:
“Ya Rabb-ku sesungguhnya aku sangat
memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al
Qashash: 24)
4. Bertawassul dengan do’anya orang yang
mungkin dikabulkan doanya.
Adapun dalilnya adalah ketika seseorang yang
meminta Rasulullah untuk berdo’a kepada Allah agar diturunkan hujan, orang itu
berkata: “Wahai Rasulullah, telah binasa harta benda kami dan terputus
jalan-jalan maka mohonkanlah kepada Allah agar menurunkan hujan”. Maka
Rasulullah mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa: “Ya Allah turunkanlah
hujan, ya Allah turunkanlah hujan.” (HR. Muslim)
Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa syarat
orang yang diminta untuk berdo’a adalah:
1. Hadir atau dapat mendengar
permintaan orang tersebut.
2. Masih hidup dan dapat
melakukan do’a tersebut.
3. Hati harus tetap yakin bahwa Allah-lah
yang akan menentukan segala sesuatunya. Tidak ada kecenderungan hati
kepada selain-Nya.
Adapun meminta dido’a-kan atau meminta
disampaikan keinginannya kepada orang yang telah mati atau kepada
kuburan-kuburan, atau kepada orang yang tidak hadir dan tidak mendengar
walaupun masih hidup, maka yang demikian merupakan kesyirikan yang nyata.
5. Bertawassul dengan amal shalih
Yakni menyebutkan dalam do’anya amal shalih yang
pernah dikerjakannya. Hal itu seperti yang ditunjukkan oleh sebuah hadits yang
diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar, bahwa ada 3 orang
laki-laki yang terkurung di dalam gua. Kemudian mereka berdoa dengan
menyebutkan amalan shalihnya masing-masing agar dibukakan pintu gua tersebut
dari batu yang menutupinya. Akhirnya Allah mengabulkan doa mereka, dan mereka
dapat keluar dari gua tersebut.
Demikianlah uraian ringkas tentang tawassul yang
disyari’atkan dan peringatan terhadap bentuk-bentuk tawassul yang dapat
menjerumuskan kita dalam kesyirikan. Semoga Allah senantiasa menjauhkan kita
dari segala macam kesyirikan sehingga akan selamatlah amalan-amalan kita. Amin.
Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar