1. Qur’an surat At - Taubah : 122
*
$tBur c%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuÏ9 Zp©ù!$2 4 wöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuÏj9 Îû Ç`Ïe$!$# (#râÉYãÏ9ur óOßgtBöqs% #sÎ) (#þqãèy_u öNÍkös9Î) óOßg¯=yès9 crâxøts ÇÊËËÈ
“Tidak
sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).
Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang
untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya”.
Hal ini merupakan penjelasan dari
Allah mengenai apa yang dikehendaki – Nya yaitu berkenaan berkaitan dengan
keberangkatan semua kabilah bersama Rosulullah Saw. Ke medan Tabuk. Segolongan
ulama salaf ada yang berpendapat bahwa setiap muslim diwajibkan berangkat
dengan Rosulullah Saw. Apabila beliau keluar (berangkat ke medan perang).
Dapat pula ditakwilkan bahwa ayat
ini merupakan penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah sehubungan dengan
keberangkatan semua kabilah, dan sejumlah kecil dari tiap – tiap kabilah
apabila mereka tidak keluar semuanya (boleh tidak berangkat). Dimaksudkan agar
mereka yang berangkat bersama Rosulullah memperdalam agamanya melalui wahyu –
wahyu yang diturunkan kepada Rosulullah. Selanjutnya apabila mereka kembali
kepada kaumnya memberikan peringatan kepada kaumnya tentang segala sesuatu yang
menyangkut musuh mereka (agar mereka waspada). Dengan demikian maka golongan
yang tertentu ini memikul dua tugas sekaligus. Tetapi sesudah masa Nabi Saw.,
maka tugas mereka yang berangkat dari kabilah – kabilah itu tiada lain
adakalanya untuk belajar agama atau untuk berjihad, karena sesungguhnya hal
tersebut fardhu kifayah bagi mereka.[1]
2. Qur’an Surat Al – ‘Alaq : 1 – 5
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Tafsir Qur’an Surat Al – ‘Alaq : 1 – 5
1. (Bacalah) maksudnya mulailah membaca dan memulainya (dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan) semua makhluk.
2. (Dia telah menciptakan manusia) atau jenis manusia (dari ’alaq) lafal ‘alaq bentuk jamak dari
lafal ‘alaqah yang artinya segumpad darah yang kental.
3. (Bacalah) lafal ayat ini mengukuhkan makna lafal ayat
pertama yang sama (dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah) artinya tiada seorang pun yang
dapat menandingi kemurahan –Nya. Lafal ayat ini sebagai haal dari dhamir yang
terkandung di dalam lafal ‘Iqra’.
4. (Yang mengajar) manusia menulis (dengan perantaraan kalam) orang pertama yang menulis dengan
memakai qalam atau pena ialah Nab Idris a.s.
5. (Dia mengajarkan kepada manusia) atau jenis manusia (apa yang tidak diketahuinya) yaitu sebelum Dia mengajarkan
kepadanya hidayah, menulis dan berkreasi serta hal – hal lainya.[2]
3. Qur’an Surat Al – Mujadilah : 11
$pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sÎ) @Ï% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿt ª!$# öNä3s9 ( #sÎ)ur @Ï% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
“Hai
orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah
dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan”.
Allah berfirman untuk mendidik hamba – hamba –
Nya yang beriman seraya memerintahkan kepada mereka agar sebagian dari mereka
bersikap baik kepada sebagian yang lain dalam mejlis – mejlis pertemuan.
Demikian itu karena pembalasan
desesuaikan dengan jenis amal perbuatan.
Abu Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaandengan mejlis
dzikir. Demikian itu karena apabila mereka melihat ada seseorang dari mereka
yang baru datang, mereka tidak memberikan kelapangan untuk tempat duduknya
dihadapan Rosulullah Saw., maka Allah memerintahkan kepada mereka aga sebagian
dari mereka memberikan kelapangan tempat duduk untuk sebagian yang lainya.
Janganlah kamu mempunyai anggapan
bahwa apabila seseorang dari kalian memberikan untuk tempat duduk saudaranya
yang baru tiba atau dia disuruh bangkit dari tempat duduknya untuk saudaranya
itu hal itu mengurangi haknya (merendahkanya). Tidak, bahkan hal itu merupakan
suatu derajat ketingian baginya di sisi Allah dan Allah tidak akan menyia –
nyiakan pahalanya di dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya barang siapa yang
berendah diri terhadap perintah Allah, niscaya Allah akan meninggikan
kedudukanya dan mengharumkan namanya[3].