Kamis, 06 Oktober 2016

kedudukan belajar mengajar



1.   Qur’an surat At  - Taubah : 122
* $tBur šc%x. tbqãZÏB÷sßJø9$# (#rãÏÿYuŠÏ9 Zp©ù!$Ÿ2 4 Ÿwöqn=sù txÿtR `ÏB Èe@ä. 7ps%öÏù öNåk÷]ÏiB ×pxÿͬ!$sÛ (#qßg¤)xÿtGuŠÏj9 Îû Ç`ƒÏe$!$# (#râÉYãŠÏ9ur óOßgtBöqs% #sŒÎ) (#þqãèy_u öNÍköŽs9Î) óOßg¯=yès9 šcrâxøts ÇÊËËÈ  
 Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

            Hal ini merupakan penjelasan dari Allah mengenai apa yang dikehendaki – Nya yaitu berkenaan berkaitan dengan keberangkatan semua kabilah bersama Rosulullah Saw. Ke medan Tabuk. Segolongan ulama salaf ada yang berpendapat bahwa setiap muslim diwajibkan berangkat dengan Rosulullah Saw. Apabila beliau keluar (berangkat ke medan perang).
            Dapat pula ditakwilkan bahwa ayat ini merupakan penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah sehubungan dengan keberangkatan semua kabilah, dan sejumlah kecil dari tiap – tiap kabilah apabila mereka tidak keluar semuanya (boleh tidak berangkat). Dimaksudkan agar mereka yang berangkat bersama Rosulullah memperdalam agamanya melalui wahyu – wahyu yang diturunkan kepada Rosulullah. Selanjutnya apabila mereka kembali kepada kaumnya memberikan peringatan kepada kaumnya tentang segala sesuatu yang menyangkut musuh mereka (agar mereka waspada). Dengan demikian maka golongan yang tertentu ini memikul dua tugas sekaligus. Tetapi sesudah masa Nabi Saw., maka tugas mereka yang berangkat dari kabilah – kabilah itu tiada lain adakalanya untuk belajar agama atau untuk berjihad, karena sesungguhnya hal tersebut fardhu kifayah bagi mereka.[1]


2.   Qur’an Surat Al – ‘Alaq : 1 – 5
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam.
5. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Tafsir Qur’an Surat Al – ‘Alaq : 1 – 5
1. (Bacalah) maksudnya mulailah membaca dan memulainya (dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan) semua makhluk.
2. (Dia telah menciptakan manusia) atau jenis manusia (dari ’alaq) lafal ‘alaq bentuk jamak dari lafal ‘alaqah yang artinya segumpad darah yang kental.
3. (Bacalah) lafal ayat ini mengukuhkan makna lafal ayat pertama yang sama (dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah) artinya tiada seorang pun yang dapat menandingi kemurahan –Nya. Lafal ayat ini sebagai haal dari dhamir yang terkandung di dalam lafal ‘Iqra’.
4. (Yang mengajar) manusia menulis (dengan perantaraan kalam) orang pertama yang menulis dengan memakai qalam atau pena ialah Nab Idris a.s.
5. (Dia mengajarkan kepada manusia) atau jenis manusia (apa yang tidak diketahuinya) yaitu sebelum Dia mengajarkan kepadanya hidayah, menulis dan berkreasi serta hal – hal lainya.[2]
3.   Qur’an Surat Al – Mujadilah : 11
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
          Allah berfirman untuk mendidik hamba – hamba – Nya yang beriman seraya memerintahkan kepada mereka agar sebagian dari mereka bersikap baik kepada sebagian yang lain dalam mejlis – mejlis pertemuan.
            Demikian itu karena pembalasan desesuaikan dengan jenis amal perbuatan.  Abu Qatadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaandengan mejlis dzikir. Demikian itu karena apabila mereka melihat ada seseorang dari mereka yang baru datang, mereka tidak memberikan kelapangan untuk tempat duduknya dihadapan Rosulullah Saw., maka Allah memerintahkan kepada mereka aga sebagian dari mereka memberikan kelapangan tempat duduk untuk sebagian yang lainya.
            Janganlah kamu mempunyai anggapan bahwa apabila seseorang dari kalian memberikan untuk tempat duduk saudaranya yang baru tiba atau dia disuruh bangkit dari tempat duduknya untuk saudaranya itu hal itu mengurangi haknya (merendahkanya). Tidak, bahkan hal itu merupakan suatu derajat ketingian baginya di sisi Allah dan Allah tidak akan menyia – nyiakan pahalanya di dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya barang siapa yang berendah diri terhadap perintah Allah, niscaya Allah akan meninggikan kedudukanya dan mengharumkan namanya[3].


[1]http://ibnukatsironline.blogspot.co.id
[2]http:// www.tafsironline.org
[3] http://ibnukatsironline.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar