Minggu, 04 Desember 2016

pengertian akhlak tasawuf


  UAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI “SMH” BANTEN 2014 M
Kata Pengantar
Puji dan syukur dengan sepenuh hati selalu di panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena dengan rahmat dan limpahan kasih sayang nya, alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas makalah “islam dan kehidupan peribadahan”dengan baik. Sholawat serta salam tak lupa kami limpahkan kepada nabi kita, nabi Muhammad saw. Beserta keluarga, shohabat, para tabiin dan tabi’at nya sampai akhir zaman.

             Selanjutnya kami mengucapkan banyak trimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.kepada orang tua kami yang senantiasa mendoakan kami, teman-teman yang telah mengeluarkan pemikiran serta sarannya sehingga terbentuklah makalah ini walaupun sederhana.

            Kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat yang baik untuk kita semua, terutama dalam memberi pemahaman mengenai studi islam tentang akhlak dan kemanusiaan. Atas perhatiannya kami mengucapkan banyak trimakasih.













DAFTAR ISI



  KATA PENGANTAR..............................................................................................................1
     DAFTAR ISI.........................................................................................................................2
     BAB I
  1. PENDAHULUAN
a.       Latar belakang..........................................................................................................4
b.      Rumusan Masalah....................................................................................................4
c.       Tujuan.......................................................................................................................4
     BAB II
  1. LANDASAN THEORY
a.       Pengertian Akhlak…………………………………………………………………
b.      Pengaruh Akhlak dalam kehidupan peribadahan........................................................6
     BAB III
  1. PENUTUP
a.       Kesimpulan..............................................................................................................13

     DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................14






BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
                Islam adalah Agama yang dibawa olehNabi Muhammad saw yang ajaran pokoknya yaitu: mengenal tuhan, cara beribadah, dan membersihkan hati dalam diri. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan pembinaan akhlak dan karakter mulia secara kompheresif, baik dari segi materi, metode, pendekatan, dan pelaksanaan. Ajaran islam tentang Iman, Islam dan Ihsan  belum dinilai sempurna jika tidak menimbulkan dampak pembinaan akhlak dan karakter  yang mulia. Sebagai contoh, seseorang yang merasa beriman belum sempurna imannya bila perutnya kenyang sendiri, sementara tetangga dan orang-orang disekitar menderita kelaparan. Juga seseorang yang mengaku telah melaksanakan ibadah, misalnya sholat, dianggap sebagai pendusta agama jika shalatnya itu tidak menghasilkan dampak positif bagi kehidupan sosial.
              Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar Akhlak dan budi luhur Nabi Muhammad saw dijadikan sebagai contoh dalam kehidupan diberbagai bidang. Mereka yang mencontoh akhlak Nabi Muhammad Saw. Dijamin keselamatan hidupnya didunia dan diakhirat. Seseorang yang ahli ibadah belum tentu dikatakan seseorang yang berakhlak baik,  Karena sebenarnya seseorang yang beribadah itu bukan hanya menyembah saja tapi dia taqorub kepada Allah agar roh manusiadiingatkan kepada hal-hal yang bersih dan suci.Dengan demikian rasa kesucian mereka menjadi tajam. Karena seseorang yang beribadah itu bukan hanya latihan hal-hal spiritual tapi juga latihan moral. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila sesuai dengan muammalah. Muammalah bisa dinilai dengan baik apabila seseorang berakhlak yang baik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi Akhlak?
2.      Berapa besarkah pengaruh akhlak dalam kehidupan, Terutama dalam hal ibadah?

C.     Tujuan
Setelah selesai pembahasan ini, mahasiswa diharapkan agar :
1.      Mengetahui pengertian akhlak dengan baik
2.      Memahami hubungan akhlak dengan ibadah dalam kehidupan dan bisa mengaplikasikan secara maksimal.





















BAB II
LANDASAN THEORI

A.   Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlak. Menurut bahasa, akhlak adalah perangai, tabiat, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalq yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan kata khaliq yang berarti pencipta dan makhluq yang berarti “yang diciptakan”
Ibn Al-jauzi menjelaskan (w. 597 H) bahwa al-khuluq adalah etika yang dipilih seseorang. dinamakan khuluq karena etika bagaikan khalqah (karakter) pada dirinya. Dengan demikian, khuluq adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan seseorang. Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaannya dinamakan al-khaym
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti, watak, dan tabiat.
Berkaitan dengan pengertian khuluq yang berarti agama, Al-Fairuzzabadi berkata, “Ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak. Barang siapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas empat landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian, dan keadilan.”
Secara sempit, pengertian akhlak dapat diartikan dengan:
a)      Kumpulan kaidah untuk menempuh jalan yang baik
b)      Jalan yang sesuai untuk menuju akhlak
c)      Pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan.
Kata akhlak lebih luas artinya dari pada moral atau etika yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia sebab akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahiriah dan batiniah seseorang. Ada pula yang menyamakannya karena keduanya membahas masalah baik dan buruk tingkah laku manusia.

             Akhlak adalah sesuatu yang praktis yang harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tenggelam dan munculnya suatu bangsa tergantung kepada akhlaknya. Setiap tingkah laku dan kehidupan manusia tak terlepas dari norma-norma akhlak, baik itu yang  menyangkut manusia secara individu ataupun sebagai anggota masyarakat dan bahkan sebagai penduduk dalam suatu negara.
 Sebagaimana kita maklumi bahwa ilmu akhlak itu adalah ilmu yang membicarakan tentang perbuatan manusia di tinjau dari segi baik dan buruknya, apa yang harus di lakukan dan bagaimana caranya untuk diri sendiri dan orang lain dalam mencapai tujuan, maka sudah barang tentu ruang lingkup yang akan di bicarakan oleh ilmu akhlak adalah sekitar materi yang ada dalam pengertian yang kita dapati tersebut dia atas. 
Sebagai di ketahui oleh masyarakat bahwa nabi muhammad Saw. Di utus menjadi nabi dan rosul untuk menyempurnakan akhlak,


Artinya: sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak
Secara teoretik, akhlak dapat di bedakan menjadi dua:
1.      Akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah)
2.      Akhlak tercela (al-akhlaq al-madzmumah)
Akhlak mulia adalah akhlak yang sejalan dengan al Quran dan sunnah; sedangkan akhlak tercela adalah sebaliknya, yaitu akhlak yang tidak sejalan dengan al Quran dan sunnah, atau yang lebih tepatnya adalah perbuatan yang melanggar aturan yang di tentukan dalam al quran dan sunnah.      



B.   Hubungan Akhlak dan Ibadah
             Islam telah menghubungkan secara erat antara akidah dan akhlak. Dalam islam, akhlak bertolak dari tujuan-tujuan akidah. Akidah merupakan barometer bagi perbuatan, ucapan, dengan segala bentuk interaksi sesama manusia. Berdasarkan keterangan al Quran dan as Sunnah, iman kepada Allah Swt. Menuntut seseorang mempunyai akhlak yang terpuji. Sebaliknya, akhlak tercela membuktikan ketidak-adaan iman tersebut. Berikut ini akan dikemukakan salah satu contoh tentang pengukuran kadar iman seseorang dengan akhlak terpujinya.
Keterkaitan antara akhlak dan aqidah dapat dilihat ketika Allah SWT mengkaitkan keimanan dengan akhlak mulia. Ketika al-Quran menyuruh berlaku adil, sebelumnya ia menyebut tentang iman. Allah SWT berfirman:



Artinya: “wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
Al-Quran juga menghubungkan antara amal saleh dan perbuatan baik. Allah SWT berfirman:


Artinya: “dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizhalimi sedikitpun. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangannya”

Demikian pula, Rasulullah SAW ditanya, “siapa diantara kaum mu’min yang paling utama keimanannya?’ Beliau menjawab. Yang paling baik akhlaknya”
Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda :


Artinya: Iman itu memiliki 70 cabang (riwayat lain 77 cabang)dan yang paling utama ialah Laa ilaaha Illa Allah, dan yang terendah ialah membuang duri dari jalan. Malu juga merupakan salah satu cabang iman.”
Iman tidak cukup sekadar disimpan dalam hati, tetapi harus direalisasikan dalam perbuatan nyata dan amal shaleh. Hanya iman yang melahirkan amal shalehah yang dinamakan iman yang sempurna.
Akhlak mulia merupakan mata rantai keimanan. Contoh, rasa malu berbuat jahat merupakan salah satu akhlak yang mulia. Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu haditsnya menegaskan:

Artinya: “Malu adalah cabang iman”
Sebaliknya, akhlak buruk adalah yang menyalahi prinsip-prinsip keimanan. Sekalipun suatu perbuatan pada lahirnya baik, tetapi jika titik tolaknya bukan keimanan, perbuatan tersebut tidak mendapatkan penilaian di sisi Allah SWT.
Adapun  kaitan ilmu akhlak dan ibadah dapat dijelaskan bahwa tujuan akhir ibadah adalah keluhuran akhlak. Ibadah terpenting yang disyariatkan Islam dan yang paling pertama dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Shalat juga merupakan barometer kepribadian seseorang. Hikmah disyariatkannya shalat adalah menjauhi keji dan mungkar

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Islam telah menghubungkan secara erat antara kaidah dan akhlak. Dalam Islam, akhlak bertolak dari tujuan-tujuan aqidah. Aqidah merupakan barometer bagi perbuatan, ucapan, dengan segala bentuk interaksi sesame manusia. Berdasarkan keterangan Al-Quran dan As-Sunah, iman kepada Allah SWT. Menuntut seseorang mempunyai akhlak yang terpuji.
Adapun  kaitan ilmu akhlak dan ibadah dapat dijelaskan bahwa tujuan akhir ibadah adalah keluhuran akhlak. Ibadah terpenting yang disyariatkan Islam dan yang paling pertama dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Shalat juga merupakan barometer kepribadian seseorang. Hikmah disyariatkannya shalat adalah menjauhi keji dan mungkar.










DAFTAR PUSTAKA






Tidak ada komentar:

Posting Komentar