BAB I
PENDAHULUAN
Tata bahasa
merupakan istilah lain dari gramatika (grammar) atau dalam bahasa Arab disebut
nahwu-sharaf. Tata bahasa merupakan deskripsi dari aturan-aturan yang berlaku
pada setiap bahasa. Brown (1987: 341) berpendapat bahwa tata bahasa adalah
suatu sistem aturan yang mempengaruhi susunan dan hubungan konvensional
kata-kata dalam suatu kalimat. Berdasarkan pengertian tersebut, tata bahasa
dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu (1) tata kata dan (2) tata kalimat.
Dalam bahasa Arab ilmu yang membahas tata kata disebut dengan ‘ilm sharf
(morphopogy). Sedangkan tata kalimat dalam bahasa Arab dikaji dalam ‘ilm
nahwu (sintax).
Morfologi
merupakan salah satu cabang linguistik yang membahas mengenai perubahan kata.
Dalam bahasa Arab, morfologi merupakan ‘ilm al-sharf, dimana di dalamnya
banyak membahas tentang perubahan-perubahan kata dari satu kata menjadi
sejumlah kata yang mempunyai arti tersendiri. Dalam kajian morfologi, terdapat
poin-poin yang menjelaskan lebih rinci tentang morfologi itu sendiri, seperti
objek kajian morfologi, proses morfologi, hubungan morfologi dengan ilmu-ilmu
tata bahasa lainnya, serta morfologi dalam bahasa Arab itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Morfologi
Morfologi (atau
tata bentuk, Inggris Morphology) adalah bidang linguistik yang
mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal (Verhaar, J.W.M.,
1983: 52). Ramlan (1983: 16-17) mengemukakan bahwa morfologi ialah bagian dari
ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh
perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata; atau morfologi
mempelajari seluk beluk bentuk kata serta fungsinya perubahan-perubahan bentuk
kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.[1][1] Pendapat lain mengemukakan Morfologi adalah
ilmu yang mempelajari morfem, dan morfem itu adalah unsur bahasa yang mempunyai
makna dan ikut mendukung makna[2][2].
B. Proses Morfologik
Proses morfologik
adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk
dasarnya. Ada tiga proses morfologik dalam bahasa, diantaranya:
1. Proses pembubuhan
afiks
Proses pembubuhan afiks adalah pembubuhan
afiks[3][3] pada sesuatu
satuan, baik satuan itu berupa bentuk tunggal maupun bentuk kompleks, untuk
membentuk kata. Contoh: memanas, merendang, tercantik, bersuara, dll.
2. Proses
pengulangan
Proses pengulangan atau reduplikasi adalah
pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagian, baik dengan
perubahan bunyi ataupun tidak. Contoh: rumah-rumah, biji-bijian, bolak-balik,
dll.
3. Proses
pemajemukan
Proses pemajemukan adalah gabungan dua kata
yang menimbulkan suatu kata baru. Contoh: tenaga kerja, medan tempur, gelap
gulita, pejabat tinggi, dll.[4][4]
Pendapat lain
mengatakan, proses morfologis yang umumnya tercatat dan berlangsung dalam
hampir setiap bahasa dapat dibedakan atas :
1. Proses Afiksasi
2. Proses pergantian
Proses pergantian
kadangkala disebut pula dengan perubahan Dakhil (Internal Change. Sebuah
morfem dasar bebas dapat mengalami perubahan dalam tubuhnya sendiri dengan
adanya pergantian salah satu unsur fonemnya baik konsonan, vokal, maupun
ciri-ciri suprasegmental (nada, tekanan, durasi, dan sendi).
Contoh : pemuda –
pemudi, mahasiswa – mahasiswi, dll.
3. Proses duplikasi
4. Proses kosong
Bentuk-bentuk
yang tidak mengalami proses, contoh seperti dalam bahasa Inggris, untuk
mengetahui kata tersebut bermakna jamak biasanya diakhiri dengan –s,
contoh book – books,. Tetapi ada morfem
yang tidak mengalami proses itu seperti pada kata sheep – sheep.[5][5]
C. Objek Kajian
Morfologi
Objek kajian morfologi adalah tentang Morfem
dan Kata.
1. Morfem
Morfem adalah
morfem juga berarti satuan gramatik yang paling kecil, satuan gramatik yang
tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya.[6][6]
Klasifikasi
morfem :
a. Morfem
tunggal dan kompleks
Satuan sepatu bila dibandingkan dengan
bersepatu, bersepatu hitam, ia membeli sepatu dari toko, ternyata ada
perbedaannya. Satuan sepatu tidak mempunyai satuan yang lebih kecil, sedangkan
bersepatu terdiri dari satuan ber- dan sepatu. Bersepatu hitam terdiri dari
satuan ber-, sepatu, hitam. Satuan ber-, sepatu, hitam masing-masing merupakan
morfem tunggal, sedangkan satuan-satuan bersepatu, bersepatu hitam merupakan
morfem kompleks.
b. Morfem
bebas dan terikat
Morfem dapat digolongkan menurut
kemungkinannya berdiri sendiri sebagai kata, bahkan sebagai kalimat jawaban
atau perintah, juga ada morfem yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai kata.
Dengan kata lain, dalam tuturan biasa satuan-satuan gramatik itu ada yang dapat
berdiri sendiri dan ada yang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan selalu
terikat pada satuan yang lain.
2. Kata
Kata adalah satuan bebas yang terkecil, atau
dengan kata lain, setiap satu satuan bebas merupakan kata. Kata terdiri dari
dua satuan, yaitu satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan
fonologik, kata terdiri dari satu atau beberapa suku kata, dan suku kata itu
terdiri dari satu atau beberapa fonem. Sebagai satuan gramatik, kata ada yang
terdiri dari satu morfem dan ada juga kata yang terdiri dari beberapa morfem.[7][7]
1. Morfologi dan
Leksikologi
Leksikologi
adalah cabang linguistik yang memperlajari leksikon. Leksikon merupakan
komponen bahasa yang memuat semua informasi tentang makna dan pemakaian kata
dalam bahasa.
Jika morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk
kata terhadap golongan dan arti kata, sedangkan leksikologi mempelajari
seluk-beluk kata, yaitu perbendaharaan kata, pemakaian kata serta artinya
seperti dipakai masyarakat pemakai bahasa.
Ada persamaan
antara leksikologi dengan morfologi, yaitu mempelajari masalah arti, namun
terdapat perbedaan diantara keduanya itu. Perbedaan tersebut adalah.
a. Leksikologi
mempelajari arti kata yang terkandung dalam kata (arti leksikal). Contoh:
(1) Kata senjata
berarti ‘alat yang dipakai untuk berperang dan berkelahi’
(2) Kata bersenjata
berarti ‘memakai senjata’
Kedua kata
tersebut masing-masing memiliki arti leksikal.
b. Morfologi
mempelajari arti kata yang timbul sebagai akibat peristiwa gramatik (arti
gramatikal). Dalam morfologi, yang
dibicarakan adalah perubahan bentuknya dari senjata menjadi bersenjata,
perubahan golongannya dari kata nominal menjadi kata verbal, dan perubahan
artinya yang timbul akibat melekatnya afiks ber- pada bersenjata,
adalah timbul makna ‘mempunyai’ atau ‘memakai, mempergunakan’.
2. Morfologi dan
Etimologi
Etimologi adalah
ilmu yang mempelajari atau menyelidiki perubahan dan perkembangan bentuk kata.
Dalam perkembangannya, perubahan bentuk kata dapat dibedakan atas:
a. Perubahan bentuk
kata dari perbendaharaan kata-kata asli suatu bahasa akibat pertumbuhan dalam
bahasa sendiri, misalnya kamu, engkau, anda, dsb.
b. Perubahan bentuk
kata dari kata-kata pinjaman, misalnya:
Taubat (arab)
: tobat
Parameswari (skt) : permaesuri
Lamp (ing) :
lampu
Eksamen :
samen
3. Morfologi dan
Sintaksis
Sintaksis
merupakan penguasaan atas suatu bagasa yang mencakup kemampuan untuk membangun
frase atau kalimat yang berasal dari kata.
Sintaksis bersama-sama dengan morfologi merupakan bagian dari subsistem
tata bahasa atau gramatika.
Morfologi
menyelidiki struktur intern kata. Satuan yang paling kecil (morfem) hingga
satuan yang paling besar (kata). Sedangkan sistaksis menyelidiki struktur
satuan bahasa yang lebih besar dari kata, mulai dari frase hingga kalimat.
Contoh: mata kaki, rumah sakit, dst. Jika dilihat dari unsur-unsurnya
yang berupa kata atau pokok kata, kata majemuk seperti kata-kata tersebut
termasuk bidang sintaksis, tetapi jika dilihat bahwa satuan-satuan itu mempunyai
sifat sebagai kata maka pembacaraannya termasuk morfologi.
E. Ilmu Sharaf
(Morfologi Bahasa Arab)
Menurut
al-Ghalayayni (1987: 9) ‘ilm al-sharf adalah ilmu yang membahas
dasar-dasar pembentukan kata, termasuk di dalamnya imbuhan.[9][9] Sharaf memberikan aturan pemakaian
masing-masing kata dari segi bentuknya yang dikenal dengan Morfologi.
Dengan kata lain bahwa sharaf memberikan aturan pemakaian dan pembentukan
kata-kata sebelum digabung atau dirangkai dengan kata-kata yang lain.
Bahasa Arab
adalah bahasa yang pola pembentukan katanya sangat beragam dan fleksibel, baik
melalui cara derivasi (tashrif isytiqaqy) maupun dengan cara infleksi (tashrif
i’raby). Dengan dua cara tersebut, bahasa Arab menjadi sangat kaya dengan
kosakata.
Bahasa Arab dari
segi pengembangan makna gramatikal ditandai dengan Isytiqaq, yang
menjadikan kata-kata Arab berubah secara elastis dalam kata itu sendiri. Dari
satu kata عَلِمَ dan عِلْم umpamanya, dapat dikembangkan menjadi jumlah kata sepertia pada
kolom dibawah ini.
|
الاندونيسية
|
العربية
|
الاندونيسية
|
العربية
|
|
|
Tahu,
mengetahui
Mengajar
Memberi
informasi
Meminta
informasi
Ilmu-ilmu
|
عَلِم
عَلَّم
أَعْلَمَ
اسْتَعْلَمَ
عُلُوم
|
Tahu, pengetahuan
Orang
pandai
Maha
Mengetahui
Yang
luas ilmunya
Diketaui
|
عِلم
عالم
عليم
علاّم
معلوم
|
Bahasa Arab termasuk bahasa yang infleksi,
pengembangan makna gramatikal dilakukan dengan cara mengembangkan satu bentuk
menjadi sejumlah bentuk untuk menunjukan variasi makna yang berbeda. Lain
halnya dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, yang dalam pengembangan makna
gramatikalnya banyak mengandalkan proses afiksasi (awalan, akhiran, sisipan),
dan reduplikasi (pengulangan), seperti pada tabel di atas. Dari perbandingan
itu tampak bahasa Arab lebih ajeg (qiyasi) dalam pemahaman makna, dan
lebih simpel bentuk pengembangannya (ijaz), karena perubahan terjadi
secara internal, tidak perlu banyak mengandalkan afiksasi atau reduplikasi.[10][10]
F. Pokok Pembahasan Morfologi Bahasa Arab (Tashrif
al-Ishthilahiy)
Cakupan yang dibahas dalam morfologi bahasa Arab
biasanya terkait dengan bentuk dan perubahan bentuk fi’il madhi, fi’il
mudhari, mashdar, isim fa’il, isim maf’ul, isim makan, isim alat, dst.
Contoh Tahsrif al-Ishthilahiy :
|
اسم الالة
|
اسم المكان
|
اسم الزمان
|
فعل النهى
|
فعل الامر
|
اسم المفعول
|
اسم الفاعل
|
مصدر
|
فعل المضارى
|
فعل الماضى
|
|
منصر
|
منصر
|
منصر
|
لاتنصر
|
انصر
|
منصور
|
ناصر
|
نصرا
|
ينصر
|
نصر
|
|
مكرم
|
مكرم
|
لاتكرم
|
اكرم
|
مكرم
|
مكرم
|
اكراما
|
يكرم
|
اكرم
|
|
|
مكتسب
|
مكتسب
|
لاتكتسب
|
اكتسب
|
مكتسب
|
مكتسب
|
اكتسابا
|
يكتسب
|
اكتسب
|
|
|
مستغفر
|
مستغفر
|
لاتستغفر
|
استغفر
|
مستغفر
|
مستغفر
|
استغفارا
|
يستغفر
|
استغفر
|
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian yang telah dijelaskan dalam bab
pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa morfologi merupakan bagian dari
linguistik, yang membahas tentang perubahan-perubahan kata secara gramatikal.
Materi yang dibahas dalam morfologi diantanya tentang perubahan bentuk dalam
kata seperti fi’il madi, fi’il mudhari, dan sebagainya.
Terdapat hubungan antara lorfologi dengan ilmu-ilmu
tata bahasa lainnya seperti leksikologi, etimologi dan sintaksis. Diantara
ilmu-ilmu tata bahasa tersebut terdapat persamaan dan perbedaan juga
karakteristik masing-masing.
DAFTAR PUSTAKA
Djajasudarma, Fatimah. 2006. Metode
Linguistik. Bandung: PT Refika Aditama.
Fachrurrozi, Aziz dan Erta
Mahyudin. 2011. Teknik Pembelajaran Bahasa Arab. Jakarta: Lembaga Bahasa
Yassarna YBMQ Jakarta.
Parera, Jos Faniel. 1977. Pengantar
Linguistik Umum: Bidang Morfologi. Ende: Penerbit Nusa Indah.
Resmini, Novi, dkk. 2006. Kebahasaan
I (Fonologi, Morfologi dan Semantik). Bandung: UPI Press.
http://makalahratih.blogspot.co.id/2013/05/morfologi-bahasa-arab.html
[1][1] Dra. Novi Resmini, M.Pd.
dkk., KEBAHASAAN (Fonologi, Morfologi, dan Semantik), UPI PRESS, hlm. 97.
[2][2] Prof. Dr. Hj. Fatimah
Djajasudarma, METODE LINGUISTIK, Reflika ADITAMA, hlm. 35.
[3][3] Afiks adalah suatu satuan
gramarik terikat yang yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata
dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan-satuan lain
untuk membentuk kata atau pokok kata baru.
[4][4] Dra. Novi Resmini, M.Pd.
dkk., hlm. 189-209.
[5][5] Jos Daniel Parera, Pengantar
Linguistik Umum: Bidang Morfologi, Nusa Indah, Hlm. 25-27.
[6][6] Dra, Novi Resmini, M.Pd.
dkk., hlm. 118.
[7][7] Ibid.
[8][8] Dra. Novi Resmini, M.Pd.,
dkk., hlm. 104-108.
[9][9] Prof. Dr. H. Aziz
Fachrurrozi, MA dan Erta Mahyudin, Lc., S.S., M.Pd.I., Teknik Pembelajaran
Bahasa Arab, Lembaga Bahasa Yassarna YBMQ Jakarta, hlm. 55.
[10][10] Ibid., hlm. 17-18.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar