MUHKAM DAN MUTASYABIH
A. Pengertian
Muhkam dan Mutasyabih
Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh
ulama tafsir mengenai muhkan dan mutasyabih :
1.
Menurut As-Suyuthi muhkam adalah sesuatu yang telah jelas artinya,
sedangkan mutasyabih adalah sebaliknya.
2.
Menurut Imam Ar-Rajzi Muhkam adalah ayat-ayat yang dalalahnya kuat
baik maksud maupun lafadznya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang
dalalahnya lemah masih bersifat mujmal, memerlukan takwil dan sulit dipahami.
3.
Menurut Manna Al-Qoththan Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat
diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkam
mutasyabih tidak seperti itu ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada
ayat lain.
4.
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan
gamlang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sementara itu ayat-ayat
mutasyabih adalah ayat yang maksunya hanya diketahui Allah seperti saat kedatangan
hari kiamat keluarnya dajal dan huruf-huruf muqothoah, definisi ini dikemukakan
kelompok ahlussunnah.
5.
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan
sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti
banyak. Definisi ini dikemukakan Ibn Abbas.
6.
Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal seperti
bilangan rokaat sholat kekhususan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib,
sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
Dapat
disimpulkan bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang sudah jelas baik, lafadz
maupun maksudnya sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi orang
yang memahaminya. Sedangkan ayat mutasyabih merupakan kumpulan ayat-ayat yang
terdapat dalam Al-Quran yang masih belum jelas maksudnya, Hal itu dikarenakan
ayat mutasyabih bersifat mujmal (Global) dia membutuhkan rincian lebih dalam.
B. Sikap Para Ulama
Terhadap Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih
Para
ulama berbeda pendapat tentang arti apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat
diketahui pula oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Pangkal
perbedaan pendapat itu bermuara pada cara menjelaskan struktur kalimat ayat
berikut:
.... وما يعلم
تأويله إلا الله والراسخون فى العلم يقولون امنا به ..... (العمران : 7 )
Dari
ayat diatas para ulama berbeda pendapat yang berawal dari lafadz والراسخون
فى العلم Permasalahannya
apakah lafadz itu diatofkan dengan lafadz الله atau lafadz والراسخون فى العلم
itu merupakan mubtada مبتدأ berangkat dari sinilah muncul silang
dikalangan ulama menurut Ibnu Abbas dan Mujahid (dari
kalangan sahabat) berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui arti dan takwil
ayat-ayat mutasyabihat mereka ini berlasan lafadz الراسخون di ‘atofkan kepada lafadz الله .
Menurut mereka jika hanya Allah yang mengetahui dan tidak melimpahkan kepada
manusia (ulama) yang mendalami ilmunya tentang ayat-ayat Mutasyabihat baik
tentang pengertian maupun takwil berarti mereka sama saja dengan orang awam.
Walaupun
ada ulama ayang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih itu dapat ditakwilkan
oleh manusia, namun menurut sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat-ayat
mutsyabih itu tidak dpat diketahi oleh seorang pun kecuali Allah.
Dari
dua pendapat yang kelihatannya kontradiksi di atas, adalagi ulam yang
berpendapat lain. Menurut arraghib al-asfahani dia mengambil jalan tengah dari
kedua pendapat di atas. Arragif membagi ayat-ayat mutasyabih menjadi dua
bagian:
1.
Ayat yang sama sekali tidak diketahui hakikatnya oleh manusia
seperti waktu tibanya hari kiamat: Ayat Mutasyabih yang dapat diketahui oleh
manusia (orang awam) dengan menggunakan berbagai sarana terutama kemampuan akal
pikiran.
2.
Ayat-ayat Mutasyabih yang khusus hanya dapat diketahui maknanya oleh
orang-orang yang ilmunya dalam dan tidak dapat diketahui oleh orang-orang
selain mereka.
Sikap
para ulama terhadap ayat-ayat Mutasyabih terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
1.
Madzhab Salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani
ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuh nya kepada Allah sendiri (tafwidh
ilallah).
2.
Madzhab Khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya
menakwilkan ayat-ayat mutsyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan
arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Dalam Arrisalah annidzamiah, ia
menuturkkan bahwa prinsip yang dipegang dalam beragama adalah mengikuti madzhab
salaf sebab mereka memperoleh derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat
mutasyabih.
Ulama
kholaf meberikan penakwilan terhadap ayat-ayat Mutasyabih. Istiwa ditakwilkan
dengan”keluhuran” yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini
tanpa merasa kepayahan. “kedatangan Allah” ditakwilkan dengan kedatangan
perintahnya. “Allah berada di atas hamba-Nya” menunjukan ke Maha Tinggian-Nya,
bukan menunjukan bahwa dia menempati suatu tempat dan lain sebagainya.
Untuk
menengahi kedua madzhab yang kontradiktif itu, Ibnu Addaqiq al-id mengatakan
bahwa apabila penakwilan yang dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabih dikenal
oleh lisan arab, penakwilan itu tidak perlu diingkari. Jika tidak dikeal dengan
tulisan arab, kita harus mengambil sikap tawaquf (tidak membenarkan dan tidak
pula menyalahkannya). Namun, bila arti lahir ayat-ayat itu dapat dipahami
melalu percakapan orang-orang arab, kita tidak perlu mengambil sikap tawaquf.
C. Pembagian
ayat-ayat mutasyabihah
Ayat
ayat mutasyabih dapat dikategorikan dalam tiga bagian yaitu
1. Mutasyabih
dari segi lafadz
Mutsyabih dari
segi lafadz ini dibagi menjadi dua macam
·
yang dikembalikan kepada lafadz yang tunggal yang sulit pemaknaannya
seperti الأب dan يزفون
dan yang dilihat dari segi
gandanyaa lafadz itu dalam pemakaiannya, seperti lafadz اليد
dan العين
·
lafadz yang dikemblikan kepada bilangan susunan kalimatnya, yang
seperti ini ada tiga macam :
1)
Mutasyabih karena ringkasan kalimat, seperti firman Allah:
و إن
خفتم ألا تقسطوا فى اليتمى yang
dimaksud dengan اليتمىdisini adalah juga mencakup اليتميات
2)
mutasyabih karena luasnya kalimat, seperti firman Allah ليس
كمثله شيئ niscaya akan lebih mudah dipahami jika
diungkapkan dengan ليس مثله شيئ
3) mutasyabih
karena susunan kalimatnya, seperti firman Allah : انزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا akan mudah dipahami
على عبده الكتاب قيما ولم يجعل له عوجاانزل
2. Mutasyabih
dari segi maknanya
Mutasyabih ini
adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan
terjadinya. Semua sifat yang demikian tidak dapat digambarkan secara konkret
karena kejadiannya belum pernah dialami oleh siapapun
3. Mutasyabih
dari segi lafadz dan maknanya
Mutasyabih dari
segi ini, menurut As-Suyuthi, ada lima macam
·
Mutasyabih dari segi kadarnya, seperti lafadz yang umum dan khusus
;
·
Mutasyabih dsari segi caranya seperti perintah wajib dan sunah;
·
Mutasyabih dari segi waktu, seperti nasakh dan mansukh;
·
Mutasyabuh dari segi tempat dan suasana dimana ayat itu diturunkan,
misalnya;
·
Mutasyabih dari segi syarat-syarat, sehingga suatu amalan itu
tergantung dengan ada atau tidaknya syarat yang dibutuhkan. Misalnya ibadah, sholat
dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syaratnya.
D. Hikmah
keberadaan ayat Mutsyabih dalam ayat Al-Quran
Diantara
hikmah keberadaan ayat-ayat Mutasyabih di dalam Al-Quran dan ketidakmampuan
akal untuk mengetahuinya adalah berikut ini
1.
Memperlihatkan kelemahan akal manusia
2.
Teguran bagi orang-orang yang mengotak atik ayat Mutasyabaih
3.
Memberikan pemahaman abstrak ilahiah kepada manusia melalui pengalaman
indrawi yang biasa disaksikannya .