Selasa, 12 Mei 2015

muhkam dan mutasyabih




MUHKAM DAN MUTASYABIH
A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih
   Ada beberapa pengertian yang dikemukakan oleh ulama tafsir mengenai muhkan dan mutasyabih :
1.      Menurut As-Suyuthi muhkam adalah sesuatu yang telah jelas artinya, sedangkan mutasyabih adalah sebaliknya.
2.      Menurut Imam Ar-Rajzi Muhkam adalah ayat-ayat yang dalalahnya kuat baik maksud maupun lafadznya, sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang dalalahnya lemah masih bersifat mujmal, memerlukan takwil dan sulit dipahami.
3.      Menurut Manna Al-Qoththan Muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui secara langsung tanpa memerlukan keterangan lain, sedangkam mutasyabih tidak seperti itu ia memerlukan penjelasan dengan menunjuk kepada ayat lain.
4.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya dapat diketahui dengan gamlang, baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. Sementara itu ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang maksunya hanya diketahui Allah seperti saat kedatangan hari kiamat keluarnya dajal dan huruf-huruf muqothoah, definisi ini dikemukakan kelompok ahlussunnah.
5.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang tidak memunculkan kemungkinan sisi arti lain, sedangkan ayat-ayat mutasyabih mempunyai kemungkinan sisi arti banyak. Definisi ini dikemukakan Ibn Abbas.
6.      Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maknanya dapat dipahami akal seperti bilangan rokaat sholat kekhususan bulan Ramadhan untuk pelaksanaan puasa wajib, sedangkan ayat-ayat mutasyabih sebaliknya. Pendapat ini dikemukakan Al-Mawardi.
Dapat disimpulkan bahwa ayat muhkamat adalah ayat yang sudah jelas baik, lafadz maupun maksudnya sehingga tidak menimbulkan keraguan dan kekeliruan bagi orang yang memahaminya. Sedangkan ayat mutasyabih merupakan kumpulan ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran yang masih belum jelas maksudnya, Hal itu dikarenakan ayat mutasyabih bersifat mujmal (Global) dia membutuhkan rincian lebih dalam.


B. Sikap Para Ulama Terhadap Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih
Para ulama berbeda pendapat tentang arti apakah arti ayat-ayat mutasyabih dapat diketahui pula oleh manusia, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya. Pangkal perbedaan pendapat itu bermuara pada cara menjelaskan struktur kalimat ayat berikut:
.... وما يعلم تأويله إلا الله والراسخون فى العلم يقولون امنا به ..... (العمران :  7 )
Dari ayat diatas para ulama berbeda pendapat yang berawal dari lafadz  والراسخون فى العلم  Permasalahannya apakah lafadz itu diatofkan dengan lafadz  الله atau lafadz والراسخون فى العلم itu merupakan mubtada مبتدأ  berangkat dari sinilah muncul silang dikalangan ulama menurut Ibnu Abbas dan Mujahid (dari kalangan sahabat) berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui arti dan takwil ayat-ayat mutasyabihat mereka ini berlasan lafadz الراسخون  di ‘atofkan kepada lafadz الله . Menurut mereka jika hanya Allah yang mengetahui dan tidak melimpahkan kepada manusia (ulama) yang mendalami ilmunya tentang ayat-ayat Mutasyabihat baik tentang pengertian maupun takwil berarti mereka sama saja dengan orang awam.
Walaupun ada ulama ayang mengatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih itu dapat ditakwilkan oleh manusia, namun menurut sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat-ayat mutsyabih itu tidak dpat diketahi oleh seorang pun kecuali Allah.
Dari dua pendapat yang kelihatannya kontradiksi di atas, adalagi ulam yang berpendapat lain. Menurut arraghib al-asfahani dia mengambil jalan tengah dari kedua pendapat di atas. Arragif membagi ayat-ayat mutasyabih menjadi dua bagian:
1.      Ayat yang sama sekali tidak diketahui hakikatnya oleh manusia seperti waktu tibanya hari kiamat: Ayat Mutasyabih yang dapat diketahui oleh manusia (orang awam) dengan menggunakan berbagai sarana terutama kemampuan akal pikiran.
2.      Ayat-ayat Mutasyabih yang khusus hanya dapat diketahui maknanya oleh orang-orang yang ilmunya dalam dan tidak dapat diketahui oleh orang-orang selain mereka.

Sikap para ulama terhadap ayat-ayat Mutasyabih terbagi dalam dua kelompok, yaitu:
1.      Madzhab Salaf, yaitu para ulama yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuh nya kepada Allah sendiri (tafwidh ilallah). 
2.      Madzhab Khalaf, yaitu para ulama yang berpendapat perlunya menakwilkan ayat-ayat mutsyabih yang menyangkut sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. Dalam Arrisalah annidzamiah, ia menuturkkan bahwa prinsip yang dipegang dalam beragama adalah mengikuti madzhab salaf sebab mereka memperoleh derajat dengan cara tidak menyinggung ayat-ayat mutasyabih.
Ulama kholaf meberikan penakwilan terhadap ayat-ayat Mutasyabih. Istiwa ditakwilkan dengan”keluhuran” yang abstrak, berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. “kedatangan Allah” ditakwilkan dengan kedatangan perintahnya. “Allah berada di atas hamba-Nya” menunjukan ke Maha Tinggian-Nya, bukan menunjukan bahwa dia menempati suatu tempat dan lain sebagainya.
Untuk menengahi kedua madzhab yang kontradiktif itu, Ibnu Addaqiq al-id mengatakan bahwa apabila penakwilan yang dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabih dikenal oleh lisan arab, penakwilan itu tidak perlu diingkari. Jika tidak dikeal dengan tulisan arab, kita harus mengambil sikap tawaquf (tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkannya). Namun, bila arti lahir ayat-ayat itu dapat dipahami melalu percakapan orang-orang arab, kita tidak perlu mengambil sikap tawaquf.

C. Pembagian ayat-ayat mutasyabihah
Ayat ayat mutasyabih dapat dikategorikan dalam tiga bagian yaitu
1. Mutasyabih dari segi lafadz
Mutsyabih dari segi lafadz ini dibagi menjadi dua macam
·         yang dikembalikan kepada lafadz yang tunggal yang sulit pemaknaannya seperti الأب dan يزفون  dan yang dilihat dari segi gandanyaa lafadz itu dalam pemakaiannya, seperti lafadz اليد dan العين
·         lafadz yang dikemblikan kepada bilangan susunan kalimatnya, yang seperti ini ada tiga macam :
1)      Mutasyabih karena ringkasan kalimat, seperti firman Allah:
و إن خفتم ألا تقسطوا فى اليتمى   yang dimaksud dengan   اليتمىdisini adalah juga mencakup  اليتميات
2)      mutasyabih karena luasnya kalimat, seperti firman Allah ليس كمثله شيئ  niscaya akan lebih mudah dipahami jika diungkapkan dengan ليس مثله شيئ
3)    mutasyabih karena susunan kalimatnya, seperti firman Allah : انزل على عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا  akan mudah dipahami  على عبده الكتاب قيما ولم يجعل له عوجاانزل  
2. Mutasyabih dari segi maknanya
Mutasyabih ini adalah menyangkut sifat-sifat Allah, sifat hari kiamat, bagaimana dan kapan terjadinya. Semua sifat yang demikian tidak dapat digambarkan secara konkret karena kejadiannya belum pernah dialami oleh siapapun
3. Mutasyabih dari segi lafadz dan maknanya
Mutasyabih dari segi ini, menurut As-Suyuthi, ada lima macam
·         Mutasyabih dari segi kadarnya, seperti lafadz yang umum dan khusus ;
·         Mutasyabih dsari segi caranya seperti perintah wajib dan sunah;
·         Mutasyabih dari segi waktu, seperti nasakh dan mansukh;
·         Mutasyabuh dari segi tempat dan suasana dimana ayat itu diturunkan, misalnya;
·         Mutasyabih dari segi syarat-syarat, sehingga suatu amalan itu tergantung dengan ada atau tidaknya syarat yang dibutuhkan. Misalnya ibadah, sholat dan nikah tidak dapat dilaksanakan jika tidak cukup syaratnya.



D. Hikmah keberadaan ayat Mutsyabih dalam ayat Al-Quran
Diantara hikmah keberadaan ayat-ayat Mutasyabih di dalam Al-Quran dan ketidakmampuan akal untuk mengetahuinya adalah berikut ini
1.      Memperlihatkan kelemahan akal manusia
2.      Teguran bagi orang-orang yang mengotak atik ayat Mutasyabaih
3.      Memberikan pemahaman abstrak ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya .


















2 komentar: