”Mama,
Aku Ingin Tersenyum SepertiMereka”
Saat
malam tiba, saat rasa sunyi itu menemani, saat itulah aku dan air mataku
kembali bertemu. Ketika teman-temanku tertidur lelap diatas kasur dan si
bantal, melepas rasa lelah, rasa kantuk dan penat. Disitulah saat aku terdiam
dan bermuhasabah, bersujud, merenung, berlinang air mata, dan berkata: “
Tuhan..... aku ingin tersenyum seperti mereka”.
La
tahzan, innallaha ma’ana.... aku selalu percaya dengan kalam-Mu, dan innama’al
usri yushro, begitupun dengan ayat ini. Namun terkadang aku iri dengan mereka yang
selalu merasakan kehangatan dan ketenangan hidupnya, seperti tak ada masalah
berat dalam hidupnya.
Berawal
dari keinginan kerasku untuk tetap bisa kuliah, maka aku harus bertahan dengan
semua yang ku alami sepahit apapun itu, tak peduli dengan cacian orang, tak
pedli dengan waktu dan tenaga yang terkuras. Namun ketika air mata orang tua
yang keluar, disanalah aku tak bisa menerima kesalahanku yang telah membuat
mereka lebih menderita dari sebelumnya.
Selama
beberapa bulan di kota ini, belum sama sekali aku merasakan ketenangan,
kesibukan yang ku lakukan adalah cara untukku melupakan semua masalah yang ku
hadapi, aku hanya ingin tersenyum seperti mereka, iya, seperti teman-temanku
pada umumnya.
Tak
pernah sebelumnya aku kehilangan kasih sayang orang tua seperti ini, aku
seperti hidup sendiri di tengah-tengah komplotan dan kebisingan orang, aku
seperti kehilangan jati diriku yang sesungguhnya, merangkul berjuta beban yang
datang, pikiran yang seolah berontak dalam hati, aku sibuk dengan kata “aku
bahagia, aku juga bahagia”.....
Mama....
aku tak bisa dengan pelajaran ini, aku kesulitan mempelajarinya, aku tak bisa
seperti ini, aku ingin pulang, aku lelah, aku ingin tidur lelap dikala malam,
seperti mereka, aku ingin tersenyum tenang seperti mereka, aku ingin menutup
mata dan berada di tempat yang tenang,” seperti itulah kata yang selalu ingin
ku ucapkan setiap malam. Namun kenyataannya itu hanya ada dalam qalbu, tak
terucap oleh lisanku. Karena ini adalah keinginanku dulu, maka aku harus kuat
menghadapi terjalnya jalan ini, kencangnya angin, deru hujan badai, terik mata
hari yang surutkan pandang. Aku harus siap dengan semua ini dan tetap tegar dan
kokoh berjalan menuju destinasi yang sangat jauh.
Biarlah
tubuh yang lemah ini tetap berdiri, biarkan mata yang lemah ini semakin layu,
biarkan tangan semakin mengepal, dan kaki yang selalu melangkah meski dunia
saat ini tertawa. Aku akan tetap berjalan dan mengatakan kepada dunia “aku
bisa”....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar