Selasa, 10 November 2015

cerpen - mama aku ingin tersenyum seperti mereka

”Mama, Aku Ingin Tersenyum SepertiMereka”
Saat malam tiba, saat rasa sunyi itu menemani, saat itulah aku dan air mataku kembali bertemu. Ketika teman-temanku tertidur lelap diatas kasur dan si bantal, melepas rasa lelah, rasa kantuk dan penat. Disitulah saat aku terdiam dan bermuhasabah, bersujud, merenung, berlinang air mata, dan berkata: “ Tuhan..... aku ingin tersenyum seperti mereka”.
La tahzan, innallaha ma’ana.... aku selalu percaya dengan kalam-Mu, dan innama’al usri yushro, begitupun dengan ayat ini. Namun terkadang aku iri dengan mereka yang selalu merasakan kehangatan dan ketenangan hidupnya, seperti tak ada masalah berat dalam hidupnya.
Berawal dari keinginan kerasku untuk tetap bisa kuliah, maka aku harus bertahan dengan semua yang ku alami sepahit apapun itu, tak peduli dengan cacian orang, tak pedli dengan waktu dan tenaga yang terkuras. Namun ketika air mata orang tua yang keluar, disanalah aku tak bisa menerima kesalahanku yang telah membuat mereka lebih menderita dari sebelumnya.
Selama beberapa bulan di kota ini, belum sama sekali aku merasakan ketenangan, kesibukan yang ku lakukan adalah cara untukku melupakan semua masalah yang ku hadapi, aku hanya ingin tersenyum seperti mereka, iya, seperti teman-temanku pada umumnya.
Tak pernah sebelumnya aku kehilangan kasih sayang orang tua seperti ini, aku seperti hidup sendiri di tengah-tengah komplotan dan kebisingan orang, aku seperti kehilangan jati diriku yang sesungguhnya, merangkul berjuta beban yang datang, pikiran yang seolah berontak dalam hati, aku sibuk dengan kata “aku bahagia, aku juga bahagia”.....
Mama.... aku tak bisa dengan pelajaran ini, aku kesulitan mempelajarinya, aku tak bisa seperti ini, aku ingin pulang, aku lelah, aku ingin tidur lelap dikala malam, seperti mereka, aku ingin tersenyum tenang seperti mereka, aku ingin menutup mata dan berada di tempat yang tenang,” seperti itulah kata yang selalu ingin ku ucapkan setiap malam. Namun kenyataannya itu hanya ada dalam qalbu, tak terucap oleh lisanku. Karena ini adalah keinginanku dulu, maka aku harus kuat menghadapi terjalnya jalan ini, kencangnya angin, deru hujan badai, terik mata hari yang surutkan pandang. Aku harus siap dengan semua ini dan tetap tegar dan kokoh berjalan menuju destinasi yang sangat jauh.
Biarlah tubuh yang lemah ini tetap berdiri, biarkan mata yang lemah ini semakin layu, biarkan tangan semakin mengepal, dan kaki yang selalu melangkah meski dunia saat ini tertawa. Aku akan tetap berjalan dan mengatakan kepada dunia “aku bisa”....



Tidak ada komentar:

Posting Komentar