Rabu, 11 November 2015

kisah nyata - persahabatan dunia akhirat - in syaa Allah




Syaikh Abbas Batawi – rahimahullah – adalah seorang petugas penyelenggara jenazah terkenal di KSA. Selama 25 tahun,dari sisa usianya ia habiskan untuk mengurusi jenazah kaum muslimin di kota Jeddah. Dalam sebuah wawancara yang disiarkan stasiun televisi Al – Wathan, beliau mengisahkan :
“suatu hari, seperti biasa aku menyiapkan daftar wafat harian. Tiba – tiba rekan kerjaku memanggilku – wahai syaikh kit kedatangan jenazah- baiklah, masukan keruang pemandian. Aku mendapati seorang pemuda yang meminta agar semua orang keluar dari tempat pemandian. Tak terkecuali orang tua dan saudara si mayit. Kalau saja aku tak memakai baju kerja, pasti dia juga sudah mengusirku”.
“aku katakan kepadanya, - baiklah, aku butuh 1 atau 2 orang untuk membantuku memandikan jasad ini -. Dengan cepat pemuda itu menjawab. – biarkan aku sendiri yang membantumu - . ketika aku mulai membuka wajah si mayyit dan menanggalkan pakaiannya satu per satu, tiba – tiba pemuda itu menangis hiteris. Aku lantas menegurnya. Aku katakan padanya – bila engku tidak sanggup menahan tangis, maka tunggulah diluar. Biar orang lain yang membantuku - . tidak wahai syaikh, biarkan aku sendiri, begitulah jawabnya”.
“saat aku menanggalkan pakaian terakhirnya dan mulai menekan perut si mayit untuk mengeluarkan sisa air atau kotoran, tiba – tiba pemuda itu menangis sejadi – jadinya. – sudah kamu keluar saja – lalu pemuda itu menimpali – tidak... biarkan aku sendiri – baiklah.. kalau kau terus begini, maka si mayyit akan tersiksa dengan tangisanmu”.
“selang beberapa lama, rasa penasaran membuatku bertanya – apakah engkau kerabatnya ? – pemuda itu menjawab – aku adalah saudaranya,bapaknya sekaligus ibunya – kemudian aku bertanya lagi, kalau begitu kamu bukan saudaranya..? kamu mengusir semua orang padahal kamu bukan siapa  - siapanya ? lalu pemuda itu menjawab – aku lebih dari saudara, ibu dan bapaknya - . aku semakin merasa aneh. Baiklah aku akan memandikanya terlebih dahulu “.
“setelah proses memandikan selesai pemuda itu memotong kapas dan mengambilkan untuku segala keperluan pengafanan.. aku sempatkan bertanya kepadanya. Mengapa ia bisa menangis sekeras itu, padahal ia bukan siapa – siapa bagi si mayit”.
“ pemuda itu menjawab – wahai syaikh apakah engkau ernah mendengar persaudaraan seperti ini ? sejak dulu kita belajar dibangku SD bersama, kemudian di jenjang SMP dan SMA juga bersama. Kita lulus dari perkuliahan yang sama. Bahkan bekerja di tempat yang sama. Qodarullah, kami menikahi dua wanita yang bersaudara. Masing – masing dikaruniai putra dan putri . kami pun tinggal di apartemen yang saling berhadapan. Setiap ke masjid, kami selalu bersama. Kemana – mana selalu bersama. Demi Allah aku bertany kepadamu, apakah disepanjang usiamu engkau pernah tahu ada persaudaraan seperti ini ? – tidak. Aku hanya bertemu saudaraku pada moment – moment tertentu saja – jawabku”.
“di KSA pemakaman dibagi dalam beberapa deretan yang kami sebut syarsurah.dalam satu deretan terdapat kurang lebih 30 makam yang siap digunakan.semuanya bernomor. Setelah jenazahnya disholatkan, kami memakamkanya syarsurah nomor 7, makam nomor 10”.
“keesokan harinya, saat aku mempersiapkan daftar wafat harian, aku kedatangan jenazah lagi. Aku langsung masuk ke tempat pemandian. Saat itu ayah si mayit turut hadir. Ketika aku buka wajahnya, akupun bergumam. Sepertinya aku mengenal wajah ini. Aku katakan pada ayahnya bahwa sepertinya wajah pemuda ini tak asing bagiku”.
“tiba – tiba sang ayah menangis – wahai syaikh, orang inilah yang kemarin membantumu mengurus jenazah shahabatnya. Dia yang membantumu menggunting kapas dan kain kafan untukmu- . sontak aku terdiam. Kemarin dia membantuku mengurusi jenazah sahabatnya. Dan kini aku sedang memandikanya. Selama memandikanya, air mataku terus mengalir membasahi jasadnya”.
“aku berpikir, betapa kematian datang tak mengenal waktu. Kemudian aku bertany pada ayahnya bagaimana ia bisa meninggal dunia ? bagaimana kisahnya? . ayahnya mengisahkan – sekembalinya dari pemakaman, tepatnya selepas menunaikan shalat dzuhur, ia meminta kepada istrinya untuk tidak membangunkanya makan siang. Ia minta diingatkan bila selepas ashar nanti akanmempersiapkan segala keperluan takziah untuk sahabatnya... beberapa jam kemudian. Istrinya mendapatinya sedang terbaringbertumpu pada lengan kananya dalam keadaan tak bernafas. Ia meninggal karena kesedihan yang mendalam atas kepergian sahabatnya”.
“setelah jenazahnya diselenggarakan,ia pun dimakamkan di syarsurah no. 7 makam no. 11. Tepat disamping sahabatnya. Hanya dinding yang memisahkan mereka. – maa syaa Allah – mereka hidup bersama dan mati pun bersama. Semoga mereka dikumpulkan bersama dalam surga”.

CATATAN...!!!
Dalam sebuah hadist, Jibril pernah berwasiat pada Rosulullah – shalallahu ‘alihi wasallam –
“cintailah siapa yang engkau cintai, pasti engkau akan berpisah denganya”
Mungkin saja dua pemuda dalam kisah diatas pernah berdoa agar tidak dipisahkan didunia dan akhirat. Sehingga perpisahan mereka di dunia hanya beberapa jam saja – muhabbah fillah – cinta karena Allah telah menyatukan mereka di dunia dan semoga kelak mereka disatukan di akhirat.
Kita pun berharap semoga kita dikumpulkan dengan orang – orang yang kita cintai dan mencintai kita karena Allah.
“engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai”
Begitulah sabda Rosulullah.
Dalam munajatnya, Nabi Daud as. Pernah berdoa
“ya Allah sesungguhnya aku memohon cintamu dan cinta orang – orang yang mencintaimu
Aku pun memohon perbuatan yang dapat mendekatkanku kepada cintamu”
(HR. Tirmidzi)

Munajat yang sama ku panjatkan padamu ya Rabb... aamiin..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar