PENDIDIKAN SOSIAL
A.
QS. Al – A’raf : 199
Éè{ uqøÿyèø9$# óßDù&ur Å$óãèø9$$Î/ óÚÌôãr&ur Ç`tã úüÎ=Îg»pgø:$# ÇÊÒÒÈ
Artinya: ”jadilah pemaaf dan suruhlah orang
mengerjakan yang ma’ruf serta jangan pedulikan orang – orang yang bodoh”.
Tafsir Jalalain
(jadilah engkau pemaaf)
mudah memaafkan didalam menghadapi perlakuan orang – orang, dan jangan
membalas. (dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf) perkara kebaikan (serta
berpalinglah dari orang – orang yang bodoh) jangan engkau layani kebodohan
mereka.
*****
B. QS. Al – Furqon : 63 – 68
ß$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# úïÏ%©!$# tbqà±ôJt n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ cqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y ÇÏÌÈ z`Ï%©!$#ur cqçGÎ6t óOÎgÎn/tÏ9 #Y¤fß $VJ»uÏ%ur ÇÏÍÈ úïÏ%©!$#ur tbqä9qà)t $uZ/u ô$ÎñÀ$# $¨Ytã z>#xtã tL©èygy_ ( cÎ) $ygt/#xtã tb%x. $·B#txî ÇÏÎÈ $yg¯RÎ) ôNuä!$y #vs)tGó¡ãB $YB$s)ãBur ÇÏÏÈ tûïÏ%©!$#ur !#sÎ) (#qà)xÿRr& öNs9 (#qèùÌó¡ç öNs9ur (#rçäIø)t tb%2ur ú÷üt/ Ï9ºs $YB#uqs% ÇÏÐÈ tûïÏ%©!$#ur w cqããôt yìtB «!$# $·g»s9Î) tyz#uä wur tbqè=çFø)t }§øÿ¨Z9$# ÓÉL©9$# tP§ym ª!$# wÎ) Èd,ysø9$$Î/ wur cqçR÷t 4 `tBur ö@yèøÿt y7Ï9ºs t,ù=t $YB$rOr& ÇÏÑÈ
Artinya : “adapun hamba hamba tuhan yang Maha Pengasih
itu adalah orang – orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila
orang – orang bodoh menyapa mereka (dengan kata – kata yang menghina), mereka
mengucapkan ‘salam’”. Dan orang – orang yang menghabiskan waktu malam untuk
beribadah kepada tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri. Dan orang – orang
yang berkata ‘ya Tuhan kami,jauhkanlah azab jahanam dari kamu, karena
sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal. Sungguh jahanam itu
seburuk – buruknya tempat menetap dan tempat kediaman. Dan (termasuk hamba –
hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang – orang yang apabila menginfakan (harta),
mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir,diantara keduanya secara wajar.
Dan orang – orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan yang lain
tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar
dan tidak berzina, dan barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya ia
mendapat hukuman yang berat”.
Tafsir Ibnu Katsir
Berikut ini
adalah sifat-sifat hamba-hamba Allah Yang beriman, yaitu:
{الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا}
orang-orang
yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati. (Al-Furqan:
63)
Yaitu
dengan langkah yang tenang dan anggun, tidak sombong, dan tidak angkuh.
Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا}
Dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. (Al-Isra:
37), hingga
akhir ayat.
Cara
jalan mereka tidak sombong, tidak angkuh, tidak jahat, dan tidak takabur.
Tetapi makna yang dimaksud bukanlah orang-orang mukmin itu berjalan dengan
langkah seperti orang sakit, karena dibuat-buat dan pamer. Karena sesungguhnya
penghulu anak Adam (yakni Nabi Saw.) apabila berjalan seakan-akan sedang turun
dari tempat yang tinggi (yakni dengan langkah yang tepat) seakan-akan bumi
melipatkan diri untuknya.
Sebagian
ulama Salaf memakruhkan berjalan dengan langkah yang lemah dan dibuat-buat,
sehingga diriwayatkan dari Umar bahwa ia melihat seorang pemuda berjalan
pelan-pelan. Maka ia bertanya, "Mengapa kamu berjalan pelan? Apakah kamu
sedang sakit?" Pemuda itu menjawab, "Tidak, wahai Amirul
Mu-minin." Maka Umar memukulnya dengan cambuk dan memerintahkan kepadanya
agar berjalan dengan langkah yang kuat.
Abdullah
ibnul Mubarak telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Umar ibnul Mukhtar, dari
Al-Hasan Al-Basri sehubungan dengan makna finnan-Nya: Dan hamba-hamba Tuhan
Yang Maha Pemurah. (Al-Furqan: 63), hingga akhir ayat. Bahwa orang-orang
mukmin adalah orang-orang yang rendah hati demi Allah, pendengaran dan
penglihatan serta semua anggota tubuh mereka menampilkan sikap yang rendah
hati; sehingga orang yang jahil menduga mereka sebagai orang yang sakit,
padahal mereka sama sekali tidak sakit. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang
yang sehat, tetapi hati mereka dipenuhi oleh rasa takut kepada Allah, tidak
seperti selain mereka; dan mereka tidak menyukai dunia karena pengetahuan
mereka tentang akhirat. Maka mereka mengatakan dalam doanya, "Segala puji
bagi Allah yang telah menghilangkan kesedihan dari kami." Ingatlah, demi
Allah, kesusahan mereka tidaklah seperti kesusahan manusia. Tiada sesuatu pun
yang menjadi dambaan mereka selain dari memohon surga. Sesungguhnya mereka
menangis karena takut terhadap neraka. Sesungguhnya barang siapa yang tidak berbelasungkawa
dengan belasungkawa Allah, maka jiwanya akan dicabut meninggalkan dunia dalam
keadaan kecewa. Dan barang siapa yang tidak melihat nikmat Allah selain hanya
pada makanan atau minuman, maka sesungguhnya amalnya akan sedikit dan azabnya
akan datang menimpanya.
{وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا}
dan
apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang
baik. (Al-Furqan: 63)
Yaitu apabila orang-orang jahil menilai mereka
sebagai orang-orang yang kurang akalnya yang diungkapkannya kepada mereka
dengan kata-kata yang buruk, maka mereka tidak membalasnya dengan hal yang
semisal, melainkan memaafkan, dan tidaklah mereka mengatakan perkataan kecuali
yang baik-baik. Seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Saw.; semakin orang
jahil bersikap keras, maka semakin pemaaf dan penyantun pula sikap beliau.
{وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا}
Dan
orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan
mereka. (Al-Furqan: 64)
Yakni
mengerjakan ketaatan dan beribadah kepada-Nya.
{وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ
جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا}
Dan
orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahanam dari kami.
Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” (Al-Furqan:
65)
Yaitu tetap dan abadi. Seperti yang dikatakan
oleh seorang penyair sehubungan dengan makna garaman ini, melalui salah
satu bait syairnya:
إنْ يُعَذّب يَكُنْ غَرَامًا، وَإِنْ
يُعْـ ... طِ جَزِيلَا فَإِنَّهُ لَا يُبَالي ...
Jika dia
(orang
yang disanjung penyair) menyiksa, maka siksaannya terus-menerus lagi tetap;
dan jika dia memberi dengan pemberian yang banyak, ia tidak peduli (berapa
pun banyaknya).
Al-Hasan
telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya azab
Jahanam itu adalah kebinasaan yang kekal. (Al-Furqan: 65) Segala sesuatu
yang menimpa anak Adam, lalu lenyap darinya, tidak dapat dikatakan garam. Sesungguhnya
pengertian garam itu tiada lain bagi sesuatu yang kekal selagi ada bumi
dan langit.
Hal yang
sama dikatakan oleh Sulaiman At-Taimi. Muhammad ibnu Ka'b telah mengatakan
sehubungan dengan makna firman-Nya: sesungguhnya azab Jahanam itu adalah
kebinasaan yang kekal. (Al-Furqan: 65) Yakni mereka tidak merasakan nikmat
hidup di dunia ini. Sesungguhnya Allah Swt. menanyakan kepada orang-orang kafir
tentang nikmat (yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka). Mereka tidak dapat
mempertanggungjawabkannya kepada Allah. Maka Allah menghukum mereka, lalu
memasukkan mereka ke dalam neraka.
{إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا}
Sesungguhnya
Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (Al-Furqan:
66)
Ibnu Abu
Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan
kepada kami Al-Hasan ibnur Rabi', telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas,
dari Al-A'masy, dari Malik ibnul Haris yang mengatakan bahwa apabila seseorang
dilemparkan ke dalam neraka, maka ia terjatuh ke dalamnya. Dan apabila sampai
pada salah satu pintunya, dikatakan kepadanya, "Tetaplah di tempatmu, kamu
akan diberi jamuan terlebih dahulu." Maka ia diberi minum racun ular hitam
dan kalajengking. Perawi mengatakan bahwa lalu kulit, rambut, urat, dan
otot-ototnya pecah.
Ibnu Abu
Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnur Rabi', telah menceritakan kepada kami
Abul Ahwas, dari Al-A'masy, dari Mujahid, dari Ubaid ibnu Umair yang
mengatakan, "Sesungguhnya di dalam neraka benar-benar terdapat sumur-sumur
yang di dalamnya terdapat ular-ular yang besarnya seperti unta, dan
kalajengking-kalajengking yang besarnya seperti begal yang besar. Apabila ahli
neraka dilemparkan ke dalam neraka, maka ular-ular dan
kalajengking-kalajengking itu keluar dari tempat persembunyiannya menuju kepada
mereka, lalu menggigit dan mematuki kulit dan rambut mereka sehingga daging
mereka sampai ke telapak kaki tersayat. Dan apabila ular-ular dan
kalajengking-kalajengking itu merasakan panasnya neraka, maka mereka kembali ke
tempatnya.
{وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا}
Dan
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta),
mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir. (Al-Furqan:
67)
Yakni
mereka tidak menghambur-hamburkan hartanya dalam berinfak lebih dari apa yang
diperlukan, tidak pula kikir terhadap keluarganya yang berakibat mengurangi hak
keluarga dan kebutuhan keluarga tidak tercukupi. Tetapi mereka membelanjakan
hartanya dengan pembelanjaan yang seimbang dan selektif serta pertengahan.
Sebaik-baik perkara ialah yang dilakukan secara pertengahan, yakni tidak
berlebih-lebihan dan tidak pula kikir.
{وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا}
dan
adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara
yang demikian. (Al-Furqan: 67)
Al-Hasan
Al-Basri mengatakan bahwa membelanjakan harta dijalan Allah tidak ada batas
berlebih-lebihan. Iyas ibnu Mu'awiyah mengatakan bahwa hal yang melampaui
perintah Allah adalah perbuatan berlebih-lebihan. Selain dia mengatakan bahwa
berlebih-lebihan dalam membelanjakan harta itu bila digunakan untuk berbuat durhaka
kepada Allah Swt.
*****