A. QS. Ar – Rahman : 1 – 4
الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ
(2) خَلَقَ الإنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)
Artinya : “(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang
telah mengajarkan Al-Qur’an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai
berbicara”.
Tafsir dari
Kementrian Agama
Ayat 1 – 2
Pada ayat ini Allah menyatakan bahwa
Dia telah mengajarkan Al – Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW yang selanjutnya
diajarkan pada ummatnya. Ayat ini turun sebagai bantahan bagi penduduk Mekkah
yang mengatakan “sesungguhnya Al – Qur’an itu hanya diajarkan oleh seorang
manusi kepadanya” (QS. An Nahl : 103)
Oleh karena itu, ayat ini
mengungkapkan beberapa nikmat Allah atas hamba – Nya, maka surat ini dimulai
dengan menyebut nikmat yang paling besar faedahnya dan paling banyak manfaatnya
bagi hamba – Nya yaitu nikmat
mengajarkan Al – Qur’an kepada manusia. Hal itu karena manusiadengan mengikuti
ajaran AL – Qur’an akan bahagia di dunia dan akhirat. Dan dengan berpegang
teguh pada petunjuk – petunjuk – Nyaakan tercapai tujuan dikedua tempat
tersebut. Al – Qur’an adalah induk dari kitab – kitab samawi yang diturunkan
melalui makhluk Allah yang terbaik di bumi ini yaitu Nabi Muhammad saw.
Ayat 3 – 4
Pada ayat ini Allah menyebutkan nikmat
– Nya yang lain yaitu penciptaan manusia. Nikmat itu merupakan landasan nikmat
– nikmat yang lain. Sesudan Allah menyatakan nikmat mengajarkan al – Qur’an
pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Dia menciptakan jenis makhluk – Nya
yang terbaik yaitu manusia dan diajari – Nya pandai mengutarakan apa yang
tergores dalam hatinya dan apa yang terpikir dalam otaknya, karena kemampuan
berpikir dan berbicara itulah Al – Qur’an bisa diajarkan kepada manusia.
Manusia adalah makhluk Allah yang
paling sempurna. Ia dijadikan – Nya tegak, sehingga tanganya lepas. Dengan
tangan yang lepas , otak bebas berpikir dan tangan dapat merealisasikan apayang
dipikirkan oleh otak. Otak menghasilkan ilmu pengetahuan dan tangan
menghasilkan tekhnologi. Ilmu dan tekhnologi dalah peradaban. Dengan demikian
hanya manusia yang memiliki oeradaban.
Lidah adalah organ yang terletak
pada rongga mulut. Organ ini yang merupakan struktur berotot yang terdiri atas
17 otot yang memiliki beberapa fungsi. Lidah dalam agama hampir selalu dikaitkan
dengan hati, dan adigunakan untuk mengukur baik buruknya prilaku seseorang.
Manusia akan menjadi baik apabila keduanya baik. Dan manudsia akan menjadi
buruk apabila keduanya buruk.
B. QS. An – Najm : 1 – 10
{وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى
(1) مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى (2) وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ
هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (4) {عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (5) ذُو مِرَّةٍ
فَاسْتَوَى (6) وَهُوَ بِالأفُقِ الأعْلَى (7) ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى (8) فَكَانَ
قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى (9) فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى (10) }
Artinya : Demi bintang
ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak
sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an)
menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang
sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan
diri dengan rupa yang asli, sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian
dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada
Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu
dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah
wahyukan.
Asy-Sya'bi dan
lain-lainnya menyebutkan bahwa Pencipta boleh saja bersumpah dengan menyebut
nama makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya, tetapi bagi makhluk tidak boleh
bersumpah dengan menyebut nama selain Tuhan Yang Maha Pencipta (Allah Swt.),
menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan
dengan makna firman-Nya:
{وَالنَّجْمِ
إِذَا هَوَى}
Demi bintang
ketika terbenam. (An-Najm: 1)
Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari
Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan bintang di sini adalah bintang
surayya, yakni apabila terbenam bersamaan dengan munculnya fajar. Hal yang sama
telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sufyan As-Sauri, lalu dipilih oleh Ibnu
Jarir.
As-Saddi
mengatakan bahwa bintang yang dimaksud adalah bintang zahrah (venus).
Lain pula
dengan Ad-Dahhak, ia mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Demi bintang
ketika terbenam. (An-Najm: 1) Yakni apabila dilemparkan ke arah
setan-setan; pendapat ini mempunyai alasannya yang tersendiri.
Al-A'masy
telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Demi bintang
ketika terbenam. (An-Najm: 1) Yaitu Al-Qur'an pada saat diturunkan. Ayat
ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{فَلا أُقْسِمُ
بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ. إِنَّهُ
لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ. فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ. لَا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ.
تَنزيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ}
Maka Aku
bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu
adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al-Qur’an ini
adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali
hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqi'ah:
75-80)
Adapun firman Allah Swt.:
{مَا
ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى}
kawanmu (Muhammad) tidak
sesat dan tidak pula keliru. (An-Najm: 2)
Inilah jawab
dari sumpah di atas, yaitu kesaksian terhadap Rasul Saw. bahwa beliau
adalah orang yang berada pada jalan yang lurus, mengikuti kebenaran dan
bukanlah orang yang sesat. Yang dimaksud dengan orang yang sesat ialah orang
yang menempuh jalan menyimpang tanpa pengetahuan. Dan orang yang keliru ialah
orang yang mengetahui kebenaran, tetapi dengan sengaja menyimpang darinya.
Maka Allah Swt. membersihkan Rasul-Nya dan
syariat-Nya dari kemiripan yang biasa dilakukan oleh ahli kesesatan seperti
kaum Nasrani dan golongan-golongan orang-orang Yahudi, yang mengetahui sesuatu,
tetapi menyembunyikannya dan mengerjakan hal yang bertentangan dengannya.
Bahkan salawat dan salam Allah terlimpahkan kepadanya, dan apa yang diamanatkan
oleh Allah Swt. kepadanya berupa syariat yang agung merupakan syariat yang
benar-benar lurus, pertengahan, dan tepat. Karena itulah maka disebutkan oleh
firman-Nya:
{وَمَا يَنْطِقُ عَنِ
الْهَوَى}
dan tiadalah
yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut
kemauan hawa nafsunya. (An-Najm: 3)
Yakni apa yang diucapkannya itu bukanlah
keluar dari hawa nafsunya dan bukan pula karena dilatarbelakangi tujuan.
{إِنْ
هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى}
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya).
(An-Najm: 4)
Yaitu sesungguhnya yang diucapkannya itu
hanyalah semata-mata berdasarkan wahyu yang diperintahkan kepadanya untuk ia
sampaikan kepada manusia dengan sempurna dan apa adanya tanpa penambahan atau
pengurangan.
Sehubungan dengan hal ini Imam Ahmad
mengatakan:
حَدَّثَنَا
يَزِيدُ، حَدَّثَنَا حَرِيز بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
مَيْسَرَة، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ؛ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ
لَيْسَ بِنَبِيٍّ مثلُ الْحَيَّيْنِ -أَوْ: مِثْلُ أَحَدِ الْحَيَّيْنِ-: رَبِيعة
ومُضَر". فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رسول الله، أو ما رَبِيعَةُ مِنْ مُضَرَ؟
قَالَ: "إِنَّمَا أَقُولُ مَا أَقُولُ"
telah
menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu
Us'man ibnu Abdur Rahman ibnu Maisarah, dari Abu Umamah, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya
dimasukkan ke dalam surga berkat syafaat seorang lelaki yang bukan nabi
sebanyak orang yang semisal dengan dua kabilah —atau salah satu dari dua
kabilah— yaitu Rabi'ah dan Mudar.” Maka ada seorang lelaki yang bertanya,
"Wahai Rasulullah, bukankah Rabi'ah itu berasal dari Mudar?” Rasulullah
Saw. menjawab, "Aku hanya mengatakan apa yang harus kukatakan.”
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيد اللَّهِ بْنِ
الْأَخْنَسِ، أَخْبَرَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ
مَاهَك، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ
أَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ
حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ
تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ، وَرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَشَرٌ، يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ. فأمسكتُ عَنِ الْكِتَابِ،
فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:
"اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا
حَقٌّ".
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan
kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Ubaidillah ibnul Akhnas, telah menceritakan
kepada kami Al-Walid ibnu Abdullah, dari Yusuf ibnu Mahik, dari Abdullah ibnu
Amr yang mengatakan bahwa ia mencatat semua yang pernah ia dengar dari
Rasulullah Saw. dengan maksud untuk menghafalkannya. Kemudian orang-orang
Quraisy melarangku berbuat demikian. Mereka mengatakan, "Sesungguhnya kamu
mencatat semua yang kamu dengar dari Rasulullah Saw., padahal Rasulullah Saw.
adalah seorang manusia yang juga berbicara di saat emosinya." Maka aku
menahan diri dari menulis, kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah
Saw. Beliau Saw. bersabda: Teruskanlah tulisanmu, maka demi Tuhan yang
jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tiadalah yang keluar dari lisanku
melainkan hanya hak (benar) belaka.
Imam Abu Daud
meriwayatkan hadis ini melalui Musaddad dan Abu Bakar ibnu Abu Syaibah,
keduanya dari Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan dengan sanad yang sama.
قَالَ
الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ،
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ
عَجْلان، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيرة،
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا
أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّهُ الَّذِي مِنْ عِنْدِ اللَّهِ، فَهُوَ الَّذِي لَا شَكّ
فِيهِ".
Al-Hafiz Abu
Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur. telah
menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kami
Al-Lais, dari Ibnu Ajian, dari Zaid ibnu Aslum, dari Abu Saleh, dari Abu
Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Apa yang kusampaikan kepada
kalian dari sisi Allah itulah hal yang tiada keraguan padanya.
Kemudian Al-Bazzar mengatakan, "Kami
tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan kecuali hanya melalui sanad ini."
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ،
عَنْ سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: "لَا أَقُولُ إِلَّا
حَقًّا". قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: فَإِنَّكَ تُدَاعِبُنَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: "إني لا أقول إلا حقا"
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada
kami Lais, dari Muhammad ibnu Sa'id ibnu Abu Sa'id, dari Abu Hurairah, dari
Rasulullah Saw. yang telah bersabda: "Tiadalah yang kuucapkan melainkan
benar belaka.” Sebagian sahabat bertanya.”Sesungguhnya engkau adakalanya
berseloroh dengan kami, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda,
"Sesungguhnya aku tidak pernah mengucapkan kecuali kebenaran belaka.”
yang diajarkan
kepadanya oleh (Jibril) yang
sangat kuat, yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan
diri dengan rupa yang asli, sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian
dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada
Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau l
ebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada
hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak
mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrik Mekah) hendak
membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah
melihat Jibril itu' (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu)
di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad
melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang
meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah
melihat sebagian tanda-tanda Tuhannya yang paling besar.
Allah Swt.
berfirman, menceritakan tentang hamba dan Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw.
Bahwa Jibril telah mengajarkan kepadanya apa yang harus ia sampaikan kepada
manusia.
{شَدِيدُ
الْقُوَى}
yang sangat kuat. (An-Najm: 5)
Yakni malaikat
yang sangat kuat, yaitu Malaikat Jibril a.s. Ayat ini semakna dengan apa yang
disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{إِنَّهُ
لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ. ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ. مُطَاعٍ
ثَمَّ أَمِينٍ}
Sesungguhnya
Al-Qur'an itu benar-benar firman (Allah yang
dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan,
yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Arasy yang ditaati
di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. (At-Takwir: 19-21)
Dan di dalam surat ini disebutkan melalui
firman-Nya:
{ذُو
مِرَّةٍ}
Yang mempunyai akal yang cerdas. (An-Najm: 6)
Yaitu yang mempunyai kekuatan, menurut
Mujahid, Al-Hasan, dan Ibnu Zaid.
Ibnu Abbas
r.a. mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah yang mempunyai penampilan yang
bagus.
Qatadah mengatakan yang mempunyai bentuk yang
tinggi lagi bagus.
Pada
hakikatnya tiada pertentangan di antara kedua pendapat di atas karena
sesungguhnya Jibril a.s. itu mempunyai penampilan yang baik, mempunyai kekuatan
yang hebat.
Di dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan melalui Ibnu Umar dan Abu Hurairah r.a. dengan
sanad yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
"لَا
تَحِلُّ الصَّدَقَةُ لغنيٍّ، وَلَا لِذِي مِرَّةٍ سَوِيّ"
Sedekah (zakat) itu tidak halal bagi orang yang
berkecukupan dan tidak halal (pula) bagi orang yang mempunyai kekuatan
yang sempurna.
Firman Allah Swt.:
{فَاسْتَوَى}
dan (Jibril itu) menampakkan
diri dengan rupa yang asli. (An-Najm: 6)
Yang dimaksud
ialah Jibril a.s. menurut Al-Hasan, Mujahid, Qatadah, dan Ar-Rabi' ibnu Anas.
{وَهُوَ بِالأفُقِ
الأعْلَى}
sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. (An-Najm: 7)
Yakni Jibril
bertengger di ufuk yang tinggi, menurut Ikrimah dan lain-lainnya yang bukan
hanya seorang.
Ikrimah
mengatakan bahwa ufuk atau cakrawala yang tertinggi adalah tempat yang datang
darinya cahaya subuh.
Mujahid mengatakan tempat terbitnya matahari.
Qatadah mengatakan
tempat yang darinya siang datang. Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Zaid dan
lain-lainnya
Ibnu Abu Hatim
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar'ah, telah menceritakan
kepada kami Masraf ibnu Amr Al-Yami Abul Qasim, telah menceritakan kepada kami
Abdur Rahman ibnu Muhammad ibnu Talhah ibnu Masraf, telah menceritakan kepadaku
ayahku, dari Al-Walid ibnu Qais, dari Ishaq ibnu Abul Kahtalah, yang tiada
diragukan lagi ia menerimanya dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah Saw. tidak
melihat rupa asli Malaikat Jibril kecuali sebanyak dua kali. Dan pertama
kalinya beliau Saw. meminta Jibril untuk memperlihatkan rupa aslinya kepada
beliau, maka ternyata rupa asli Jibril a.s. menutupi semua cakrawala. Dan yang
kedua kalinya di saat beliau Saw. naik bersamanya, hal inilah yang disebutkan
oleh firman-Nya: sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. (An-Najm: 7)
Ibnu Jarir
sehubungan dengan ayat ini mengemukakan suatu pendapat yang tidak pernah
dikatakan oleh seorang pun selain dia, yang kesimpulannya menyebutkan bahwa
malaikat yang sangat kuat lagi mempunyai akal yang cerdas ini, dia bersama-sama
dengan Nabi Muhammad Saw. bertengger di ufuk cakrawala bersama-sama, yaitu
dalam malam Isra. Demikianlah bunyi teks pendapat Ibnu Jarir, tetapi
tiada seorang ulama pun yang setuju dengan pendapatnya ini. Selanjutnya Ibnu
Jarir mengemukakan alasan pendapatnya ditinjau dari segi bahasa Arab. Dia
mengatakan bahwa ayat ini mempunyai makna yang sama dengan apa yang disebutkan
oleh firman-Nya:
{أَئِذَا كُنَّا تُرَابًا
وَآبَاؤُنَا}
Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita. (An-Naml:
67)
Lafaz al-aba
di-ataf-kan kepada damir yang terkandung di dalam kunna tanpa
menampakkan nahnu. Begitu pula halnya dengan ayat ini disebutkan oleh
firman-Nya, "Fastawa, wahuwa," maka Jibril dan dia bertengger
di cakrawala yang tertinggi.
Ibnu Jarir
mengatakan bahwa Imam Al-Farra telah meriwayatkan dari sebagian orang Arab
Badui yang telah mengatakan dalam suatu bait syairnya:
أَلَمْ تَرَ
أَنَّ النبعَ يَصْلُبُ عُودُه ... وَلَا يَسْتَوي والخرْوعُ المُتَقصِّفُ
Tidakkah kamu
lihat bahwa kayu naba' (untuk busur) kuat
lagi liat batangnya, tetapi tidak sama dengan kayu khuru' yang mudah patah.
Alasan yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir dari
segi bahasa cukup membantunya, tetapi tidak dapat membantunya bila ditinjau
dari segi konteksnya. Karena sesungguhnya penglihatan Nabi Saw. terhadap bentuk
asli Malaikat Jibril bukan terjadi di malam Isra, melainkan sebelumnya.
Yaitu saat Rasulullah Saw. sedang berada di bumi (bukan di langit), lalu Jibril
turun menemuinya, lalu mendekatinya hingga berada dekat sekali dengannya,
sedangkan ia dalam rupa aslinya seperti pada saat diciptakan oleh Allah Swt.,
yaitu mempunyai enam ratus sayap. Kemudian Nabi Saw. melihatnya lagi di lain
waktu di dekat Sidratil Muntaha, yaitu di malam Isra.
Penglihatan pertama terjadi, pada masa
permulaan beliau Saw. diangkat menjadi utusan, yaitu pada saat pertama kalinya
Malaikat Jibril datang menemuinya, lalu Allah Swt. mewahyukan kepadanya
permulaan surat Al-'Alaq, setelah itu wahyu mengalami fatrah (kesenjangan),
yang di masa-masa itu acapkali Nabi Saw. pergi ke puncak bukit untuk
menjatuhkan diri dari atas. Tetapi setiap kali beliau Saw. hendak menjatuhkan
dirinya, Jibril memanggilnya dari angkasa, "Hai Muhammad, engkau adalah
utusan Allah, dan aku Malaikat Jibril!"
Maka tenanglah
hati beliau Saw., tidak gelisah lagi. Tetapi ketika masa itu cukup lama, maka
Nabi Saw. kembali hendak melakukan tindakan tersebut, hingga pada akhirnya
Jibril a.s. menampakkan dirinya kepada beliau, yang saat itu beliau sedang berada
di Abtah. Jibril menampakkan rupa aslinya sejak ia diciptakan oleh Allah, yaitu
mempunyai enam ratus buah sayap. Rupa aslinya itu menutupi semua cakrawala
langit karena besarnya yang tak terperikan. Lalu Jibril mendekatinya dan
mewahyukan kepadanya apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. kepadanya. Maka
sejak saat itu Nabi Saw. mengetahui besarnya malaikat yang membawakan wahyu
kepadanya, juga mengetahui tentang keagungan dan ketinggian kedudukan malaikat
itu di sisi Penciptanya yang telah mengangkat dia sebagai rasul.
Adapun
mengenai hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar di dalam
kitab musnadnya yang menyebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا
سَلَمَةُ بْنُ شَبِيب، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا الْحَارِثُ
بْنُ عُبَيْدٍ، عَنْ أَبِي عِمْرَانَ الجَوْني، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "بَيْنَا أَنَا
قَاعِدٌ إِذْ جَاءَ جِبْرِيلُ، عَلَيْهِ السَّلَامُ، فوَكَز بَيْنَ كَتِفِي،
فَقُمْتُ إِلَى شَجَرَةٍ فِيهَا كَوَكْرَي الطَّيْرِ، فَقَعَدَ فِي أَحَدِهِمَا
وَقَعَدْتُ فِي الْآخَرِ. فَسَمَت وَارْتَفَعَتْ حَتَّى سَدّت الْخَافِقَيْنِ
وَأَنَا أُقَلِّبُ طَرْفِي، وَلَوْ شِئْتُ أَنَّ أَمَسَّ السَّمَاءَ لَمَسِسْتُ،
فَالْتَفَتَ إِلَيَّ جِبْرِيلُ كَأَنَّهُ حلْس لاطٍ، فعرفتُ فَضْلَ علْمه
بِاللَّهِ عَلَيَّ. وفُتِح لِي بابٌ مِنْ أَبْوَابِ السَّمَاءِ وَرَأَيْتُ
النُّورَ الْأَعْظَمَ، وَإِذَا دُونَ الْحِجَابِ رَفْرَفَةُ الدُّرِّ وَالْيَاقُوتِ.
وَأُوحِيَ إِلَيَّ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُوحِيَ".
telah
menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami
Sa'id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Al-Haris ibnu Ubaid, dari Abu
Imran Al-Juni, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw.
pernah bersabda: Ketika aku sedang duduk, tiba-tiba Jibril a.s. datang dan
mencolek punggungku, maka aku berdiri dan menuju ke sebuah pohon yang padanya
terdapat sesuatu seperti dua buah sarang burung. Maka Jibril duduk pada salah
satunya dan aku duduk pada yang lainnya. Lalu pohon itu meninggi dan menjulang
ke langit hingga menutupi kedua ufuk (timur dan barat), sedangkan aku
membolak-balikkan pandanganku (ke atas dan ke bawah). Dan seandainya aku
mau memegang langit, tentulah hal itu bisa kulakukan jika kuinginkan. Dan aku
menoleh ke arah Malaikat Jibril, ternyata dia menjadi seakan-akan seperti
selembar kain yang terjuntai, maka aku mengetahui keutamaan pengetahuannya
tentang Allah yang melebihiku. Lalu Jibril membukakan untukku salah satu dari
pintu langit, dan aku melihat nur yang terbesar. Tiba-tiba di balik hijab
terdapat atap mutiara dan yaqut. Dan Allah mewahyukan kepadaku apa yang
dikehendaki-Nya untuk diwahyukan kepadaku.
Kemudian
Al-Bazzar mengatakan bahwa tiada yang meriwayatkannya selain Al-Haris ibnu
Ubaid, dia adalah seorang lelaki yang terkenal dari kalangan ulama Basrah.
Menurut hemat
kami, nama julukan Al-Haris ibnu Ubaid adalah Abu Qudamah Al-Iyadi. Imam Muslim
telah mengetengahkan hadisnya di dalam kitab sahihnya, hanya saja Ibnu Mu'in
menilainya lemah; ia mengatakan bahwa Al-Haris ibnu Ubaid bukanlah seorang
perawi yang dapat dipakai (yakni lemah). Sedangkan Imam Ahmad mengatakan,
hadisnya berpredikat mudtarib. Abu Hatim Ar-Razi mengatakan, hadis ini
boleh dicatat tetapi tidak boleh dijadikan hujan. Ibnu Hibban mengatakan bahwa wahm-nya
(kelemahannya) terlalu banyak, karena itu hadisnya tidak boleh dipakai
sebagai hujah bila sendirian. Hadis ini merupakan salah satu dari hadis-hadis garib
yang diriwayatkannya; karena di dalamnya terdapat hal yang mungkar dan
lafaz yang garib serta konteks yang aneh. Barangkali hadis ini termasuk
hadis yang menceritakan mimpi Nabi Saw., hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada
kami Syarik, dari Asim, dari Abu Wa-il, dari Abdullah yang mengatakan bahwa
Rasulullah Saw. pernah melihat Malaikat Jibril dalam rupa aslinya, yang
memiliki enam ratus sayap. Tiap-tiap sayap darinya memenuhi ufuk; dari sayapnya
berjatuhan beraneka warna permata-permata dan yaqut yang hanya Allah sendirilah
Yang Mengetahui keindahan dan banyaknya. imam Ahmad meriwayatkan asar ini
secara tunggal.
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Adam, telah menceritakan
kepada kami Abu Bakar ibnu Iyasy, dari Idris ibnu Munabbih, dari Wahb ibnu
Munabbih, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Nabi Saw. pernah meminta kepada
Jibril agar menampakkan rupa aslinya kepada beliau. Maka Jibril berkata,
"Berdoalah kepada Allah." Maka Nabi Saw. berdoa memohon hal tersebut
kepada Allah, lalu kelihatan oleh Nabi Saw. bayangan hitam dari arah timur,
ternyata itu adalah ujud asli Malaikat Jibril yang kian lama kian menaik dan
menyebar (menutupi ufuk langit). Ketika Nabi Saw. melihat ujud aslinya secara
penuh, maka beliau Saw. pingsan, lalu Jibril mendatanginya dan menghapus busa
(air ludah) yang ada pada mulut beliau Saw. Imam Ahmad meriwayatkan hadis ini
secara munfarid.
Ibnu Asakir di
dalam biografi Atabah ibnu Abu Lahab telah menceritakan hadis ini melalui jalur
Muhammad ibnu Ishaq, dari Us'man ibnu Urwah ibriuz Zubair, dari ayahnya Hannad
ibnul Aswad yang mengatakan bahwa Abu Lahab dan anaknya telah bersiap-siap
untuk berangkat ke negeri Syam, aku pun (perawi) bersiap-siap pula untuk pergi
bersama keduanya. Anak Abu Lahab (yaitu Atabah) berkata, "Demi Allah, aku
benar-benar akan pergi menemui Muhammad dan aku akan membuat dia merasa sakit
hati karena aku akan menghina Tuhannya." Atabah pergi hingga sampai kepada
Nabi Saw., lalu berkata, "Hai Muhammad, dia kafir terhadap malaikat yang
mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad
sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)." Maka Nabi Saw.
berdoa: Ya Allah, serahkanlah dia kepada salah seekor dari anjing-anjing (singa-singa)-Mu.
Kemudian Atabah pergi meninggalkan Nabi Saw. dan menemui ayahnya (Abu Lahab).
Abu Lahab bertanya, "Hai anakku, apakah yang telah engkau katakan
kepadanya?" Atabah menceritakan apa yang telah dia katakan kepada Nabi
Saw. Abu Lahab bertanya, "Lalu apakah yang dia katakan kepadamu
(jawabannya kepadamu)?" Atabah menyitir doa Nabi Saw., "Ya Allah,
serahkanlah dia kepada salah seekor dari singa-singaMu." Abu Lahab
berkata, "Hai anakku, demi Allah, aku tidak dapat menjamin keamanan bagi
dirimu dari doanya." Maka kami berangkat. Ketika sampai di Abrah, kami
turun istirahat. Abrah terletak di sebuah bendungan, lalu kami turun (berkemah)
di dekat kuil seorang pendeta. Dan pendeta yang ada di kuil itu bertanya,
"Hai orang-orang Arab, apakah yang mendorong kalian berkemah di negeri
ini? Karena sesungguhnya di negeri ini banyak terdapat singa-singa yang hidup
bebas bagaikan ternak kambing." Lalu Abu Lahab berkata kepada kami,
"'Sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang yang sudah
lanjut usia, dan sesungguhnya lelaki ini (yakni Nabi Saw) telah mendoakan
terhadap anakku suatu doa yang, demi Allah, aku tidak dapat menjamin
keselamatannya dari doa yang ditujukan terhadapnya. Maka kumpulkanlah
barang-barang kalian di kuil ini, lalu gelarkanlah hamparan di atasnya buat
anakku, kemudian berkemahlah kalian di sekitar kuil ini." Maka kami
melakukan apa yang diperintahkan Abu Lahab, lalu datanglah seekor singa yang
langsung mengendus wajah kami. Ketika singa itu tidak menemukan apa yang
dikehendakinya, maka ia mundur mengambil ancang-ancang untuk melompat, kemudian
singa itu melompat ke atas barang-barang. Sesampainya di atas, singa mencium
wajah anak Abu Lahab, lalu menyerangnya dan mencabik-cabik mukanya. Setelah
peristiwa itu Abu Lahab berkata, "Sesungguhnya aku mengetahui bahwa dia
tidak dapat selamat dari doa Muhammad."
Firman Allah Swt.:
{فَكَانَ قَابَ
قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى}
maka jadilah
dia dekat (pada Muhammad
sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (An-Najm: 9)
Yakni maka
Jibril mendekat kepada Muhammad ketika turun menemuinya di bumi, hingga jarak
antara dia dan Muhammad Saw. sama dengan dua ujung busur panah bila
dibentangkan. Demikianlah menurut Mujahid dan Qatadah. Menurut pendapat lain,
makna yang dimaksud ialah jarak antara tali busur panah dengan busurnya.
Firman Allah
Swt.:
{أَوْ
أَدْنَى}
atau lebih
dekat (lagi).
(An-Najm: 9)
Dalam
pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa ungkapan ini menurut istilah bahasa
digunakan untuk menguatkan subjek berita, tetapi bukan menunjukkan hal yang
lebih daripadanya. Ayat ini semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat
lain melalui firman-Nya:
{ثُمَّ قَسَتْ
قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً}
Kemudian
setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (Al-Baqarah: 74)
Yakni hatinya
itu menjadi sekeras batu (tidak lunak), atau bahkan lebih keras lagi
daripadanya. Hal yang senada disebutkan dalam ayat lainnya lagi melalui firman-Nya:
{يَخْشَوْنَ النَّاسَ
كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً}
mereka takut
kepada manusia (musuh), seperti
takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat daripada itu takutnya. (An-Nisa:
77)
Dan firman
Allah Swt.:
{وَأَرْسَلْنَاهُ إِلَى
مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ}
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang
atau lebih. (Ash-Shaffat:
147)
Yakni jumlah
mereka tidak kurang dari seratus ribu orang, bahkan sesungguhnya jumlah mereka
adalah seratus ribu orang atau lebih. Ini merupakan pengukuhan dari jumlah
subjek berita, bukan menunjukkan pengertian ragu atau bimbang, karena hal
tersebut mustahil dalam masalah ini. Demikian pula pengertian surat ini, yaitu:
{فَكَانَ قَابَ
قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى}
maka jadilah
dia dekat (pada Muhammad
sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (An-Najm: 9)
Apa yang telah
kami katakan —bahwa orang yang mendekat kepada Nabi Saw. ini sedekat itu adalah
Jibril a.s.— berdasarkan pendapat Aisyah, Ibnu Mas'ud, Abu Zar, dan Abu
Hurairah, seperti yang akan kami kemukakan hadis-hadis mereka sesudah ini.
Imam Muslim
telah meriwayatkan di dalam kitab sahihnya dari Ibnu Abbas. Dia telah
mengatakan bahwa Muhammad Saw. melihat Tuhannya dengan pandangan hatinya
sebanyak dua kali, dan ia menganggap bahwa apa yang disebutkan dalam ayat ini
merupakan salah satunya.
Di dalam hadis
Syarik ibnu Abu Namir, dari Anas r.a. sehubungan dengan kisah Isra, disebutkan
bahwa kemudian mendekatlah Tuhan Yang Mahaperkasa, Tuhan Yang Mahaagung, dan
bertambah dekat lagi. Karena itu, banyak ulama yang membicarakan makna hadis
ini, dan mereka menyebutkan banyak hal yang garib mengenainya. Tetapi
jika memang benar, maka takwil kejadiannya adalah di lain waktu dan merupakan
kisah yang lain, bukan tafsir dari ayat ini. Karena sesungguhnya kejadian yang
disebutkan dalam ayat ini adalah ketika Rasulullah Saw. berada di bumi di malam
Isra. Untuk itulah maka disebutkan dalam firman berikutnya:
{وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً
أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى}
Dan
sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang
lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. (An-Najm: 13-14)
Kisah dalam ayat ini di malam Isra, sedangkan
yang pertama terjadi di bumi.
Ibnu Jarir
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Malik ibnu Abusy
Syawarib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah
menceritakan kepada kami Sulaiman Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami
Zurr ibnu Hubaisy yang mengatakan bahwa Abdullah ibnu Mas'ud telah meriwayatkan
sehubungan dengan firman-Nya: maka jadilah dia dekat (pada Muhammad
sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). (An-Najm: 9)
bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:
"رَأَيْتُ جِبْرِيلَ
لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ"
Aku telah melihat Malaikat Jibril yang
memiliki enam ratus sayap.
Ibnu Wahb
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Abul Aswad, dari
Urwah, dari Aisyah r.a. yang mengatakan bahwa awal kejadian yang dialami oleh
Rasulullah Saw. ialah beliau melihat Jibril dalam mimpinya di Ajyad. Kemudian
beliau Saw. keluar untuk suatu keperluan, maka Jibril menyerunya, "Hai
Muhammad, hai Muhammad!" Nabi Saw. menoleh ke arah kanan dan kiri sebanyak
tiga kali, ternyata ia tidak menjumpai seorang manusia pun. Lalu beliau
menengadahkan pandangannya ke langit, tiba-tiba ia melihat Jibril a.s. yang
melipat salah satu kakinya ke yang lainnya berada di ufuk langit. Jibril
berseru, "Hai Muhammad!" Nabi Saw. berkata, "Jibril,"
sedangkan Jibril berusaha menenangkannya, tetapi Nabi Saw. lari ketakutan dan
bergabung dengan banyak orang, setelah itu ia melihat ke atas lagi dan ternyata
tidak melihatnya lagi. Lalu keluar dari kumpulan orang-orang, dan kembali
memandang ke langit. Ternyata ia melihatnya kembali, maka Nabi Saw. bergabung
lagi dengan orang banyak dan tidak lagi ia melihat sesuatu pun. Tetapi bila ia
keluar dari kumpulan orang-orang, maka ia melihatnya kembali. Hal inilah yang
dimaksudkan oleh firman Allah Swt.: Demi bintang ketika terbenam. (An-Najm:
1) sampai dengan firman-Nya: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat
lagi. (An-Najm: 8) Yakni Jibril a.s. mendekat kepada Nabi Muhammad Saw. maka
jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau
lebih dekat lagi. (An-Najm: 9)
Mereka
mengatakan bahwa al-qab adalah separo jari, sebagian dari mereka
mengatakan bahwa al-qab adalah dua hasta alias sama dengan dua ujung
busur panah. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu
Abu Hatim melalui hadis Ibnu Wahb.
Dalam hadis
Az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Jabir disebutkan hal yang menguatkannya.
Imam Bukhari
telah meriwayatkan dari Talq ibnu Ganam, dari Zaidah, dari Asy-Syaibani yang
mengatakan bahwa aku pernah bertanya kepada Zurr tentang firman Allah Swt.: maka
jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau
lebih dekat (lagi). Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad)
apa yang telah Allah wahyukan. (An-Najm: 9-10) Lalu ia mengatakan, telah
menceritakan kepada kami Abdullah, bahwa Muhammad Saw. melihat Jibril dalam
rupa aslinya memiliki enam ratus buah sayap.
Ibnu Jarir
mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnu Bazr Al-Bagdadi, telah
menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami
Israil, dari Abu Ishaq, dari Abdur Rahman ibnu Yazid, dari Abdullah sehubungan
dengan makna firman-Nya: Hatinya tidak mendustakan apa yang telah
dilihatnya. (An-Najm: 11) Bahwa Rasulullah Saw. telah melihat rupa asli
Malaikat Jibril yang menyandang dua lapis pakaian rafraf, tubuhnya memenuhi
cakrawala yang ada antara langit dan bumi.
Berdasarkan pengertian di atas, berarti
firman Allah Swt.:
{فَأَوْحَى إِلَى
عَبْدِهِ مَا أَوْحَى}
Lalu dia
menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa
yang telah Allah wahyukan. (An-Najm: 10)
artinya 'lalu
Jibril menyampaikan wahyu kepada hamba Allah Muhammad Saw. apa yang telah
diwahyukan Allah kepadanya'. Atau 'lalu Allah mewahyukan kepada hamba-Nya
Muhammad apa yang Dia wahyukan kepadanya melalui Malaikat Jibril'. Kedua makna
ini dibenarkan.
Telah
diriwayatkan dari Sa'id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Lalu
dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah
wahyukan. (An-Najm: 10) bahwa Allah menurunkan wahyu kepadanya firman Allah
Swt.: Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim. (Adh-Dhuha: 6)
sampai dengan firman-Nya: Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)ww.
(Alam Nasyrah: 4)
Sedangkan
menurut lainnya, yang diwahyukan Allah kepadanya adalah bahwa surga itu
diharamkan atas para nabi sebelum kamu memasukinya, juga diharamkan atas semua
umat sebelum umatmu memasukinya.
Asy-Sya'bi dan
lain-lainnya menyebutkan bahwa Pencipta boleh saja bersumpah dengan menyebut
nama makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya, tetapi bagi makhluk tidak boleh
bersumpah dengan menyebut nama selain Tuhan Yang Maha Pencipta (Allah Swt.),
menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.
Ulama tafsir
berbeda pendapat sehubungan dengan makna firman-Nya:
{وَالنَّجْمِ
إِذَا هَوَى}
Demi bintang
ketika terbenam. (An-Najm: 1)
Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari
Mujahid, bahwa yang dimaksud dengan bintang di sini adalah bintang surayya,
yakni apabila terbenam bersamaan dengan munculnya fajar. Hal yang sama telah
diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sufyan As-Sauri, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.
As-Saddi
mengatakan bahwa bintang yang dimaksud adalah bintang zahrah (venus).
Lain pula
dengan Ad-Dahhak, ia mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Demi bintang
ketika terbenam. (An-Najm: 1) Yakni apabila dilemparkan ke arah
setan-setan; pendapat ini mempunyai alasannya yang tersendiri.
Al-A'masy
telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan firman-Nya: Demi bintang
ketika terbenam. (An-Najm: 1) Yaitu Al-Qur'an pada saat diturunkan. Ayat
ini semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
فَلا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ.
وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ. إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ. فِي
كِتَابٍ مَكْنُونٍ. لَا يَمَسُّهُ إِلا الْمُطَهَّرُونَ. تَنزيلٌ مِنْ رَبِّ
الْعَالَمِينَ}
Maka Aku
bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Sesungguhnya sumpah itu
adalah sumpah yang besar kalau kamu mengetahui, sesungguhnya Al-Qur’an ini
adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali
hamba-hamba yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan semesta alam. (Al-Waqi'ah:
75-80)
Adapun firman
Allah Swt.:
{مَا
ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى}
kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula
keliru. (An-Najm: 2)
Inilah jawab
dari sumpah di atas, yaitu kesaksian terhadap Rasul Saw. bahwa beliau
adalah orang yang berada pada jalan yang lurus, mengikuti kebenaran dan
bukanlah orang yang sesat. Yang dimaksud dengan orang yang sesat ialah orang
yang menempuh jalan menyimpang tanpa pengetahuan. Dan orang yang keliru ialah
orang yang mengetahui kebenaran, tetapi dengan sengaja menyimpang darinya.
Maka Allah
Swt. membersihkan Rasul-Nya dan syariat-Nya dari kemiripan yang biasa dilakukan
oleh ahli kesesatan seperti kaum Nasrani dan golongan-golongan orang-orang
Yahudi, yang mengetahui sesuatu, tetapi menyembunyikannya dan mengerjakan hal
yang bertentangan dengannya. Bahkan salawat dan salam Allah terlimpahkan
kepadanya, dan apa yang diamanatkan oleh Allah Swt. kepadanya berupa syariat
yang agung merupakan syariat yang benar-benar lurus, pertengahan, dan tepat.
Karena itulah maka disebutkan oleh firman-Nya:
{وَمَا
يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى}
dan tiadalah
yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) menurut
kemauan hawa nafsunya. (An-Najm: 3)
Yakni apa yang
diucapkannya itu bukanlah keluar dari hawa nafsunya dan bukan pula karena
dilatarbelakangi tujuan.
{إِنْ
هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى}
Ucapannya itu
tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
(An-Najm: 4)
Yaitu
sesungguhnya yang diucapkannya itu hanyalah semata-mata berdasarkan wahyu yang
diperintahkan kepadanya untuk ia sampaikan kepada manusia dengan sempurna dan
apa adanya tanpa penambahan atau pengurangan.
Sehubungan
dengan hal ini Imam Ahmad mengatakan:
حَدَّثَنَا
يَزِيدُ، حَدَّثَنَا حَرِيز بْنُ عُثْمَانَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
مَيْسَرَة، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ؛ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ بِشَفَاعَةِ رَجُلٍ
لَيْسَ بِنَبِيٍّ مثلُ الْحَيَّيْنِ -أَوْ: مِثْلُ أَحَدِ الْحَيَّيْنِ-: رَبِيعة
ومُضَر". فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رسول الله، أو ما رَبِيعَةُ مِنْ مُضَرَ؟
قَالَ: "إِنَّمَا أَقُولُ مَا أَقُولُ"
telah
menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Jarir ibnu
Us'man ibnu Abdur Rahman ibnu Maisarah, dari Abu Umamah, bahwa dia pernah
mendengar Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya dimasukkan ke dalam
surga berkat syafaat seorang lelaki yang bukan nabi sebanyak orang yang semisal
dengan dua kabilah —atau salah satu dari dua kabilah— yaitu Rabi'ah dan Mudar.”
Maka ada seorang lelaki yang bertanya, "Wahai Rasulullah, bukankah
Rabi'ah itu berasal dari Mudar?” Rasulullah Saw. menjawab, "Aku hanya
mengatakan apa yang harus kukatakan.”
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ عُبَيد اللَّهِ بْنِ
الْأَخْنَسِ، أَخْبَرَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ يُوسُفَ بْنِ
مَاهَك، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ
أَسْمَعْهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ
حِفْظَهُ، فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ فَقَالُوا: إِنَّكَ تَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ
تَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ، وَرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بَشَرٌ، يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ. فأمسكتُ عَنِ الْكِتَابِ،
فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:
"اكْتُبْ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، مَا خَرَجَ مِنِّي إِلَّا
حَقٌّ".
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa'id, dari Ubaidillah
ibnul Akhnas, telah menceritakan kepada kami Al-Walid ibnu Abdullah, dari Yusuf
ibnu Mahik, dari Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa ia mencatat semua yang
pernah ia dengar dari Rasulullah Saw. dengan maksud untuk menghafalkannya.
Kemudian orang-orang Quraisy melarangku berbuat demikian. Mereka mengatakan,
"Sesungguhnya kamu mencatat semua yang kamu dengar dari Rasulullah Saw.,
padahal Rasulullah Saw. adalah seorang manusia yang juga berbicara di saat
emosinya." Maka aku menahan diri dari menulis, kemudian aku ceritakan hal
itu kepada Rasulullah Saw. Beliau Saw. bersabda: Teruskanlah tulisanmu, maka
demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, tiadalah yang keluar dari
lisanku melainkan hanya hak (benar) belaka.
Imam Abu Daud
meriwayatkan hadis ini melalui Musaddad dan Abu Bakar ibnu Abu Syaibah,
keduanya dari Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan dengan sanad yang sama.
قَالَ
الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ صَالِحٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلان، عَنْ زَيْدِ بْنِ
أَسْلَمَ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيرة، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَا أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّهُ الَّذِي مِنْ
عِنْدِ اللَّهِ، فَهُوَ الَّذِي لَا شَكّ فِيهِ".
Al-Hafiz Abu
Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur.
telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Saleh, telah menceritakan kepada
kami Al-Lais, dari Ibnu Ajian, dari Zaid ibnu Aslum, dari Abu Saleh, dari Abu
Hurairah, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Apa yang kusampaikan kepada
kalian dari sisi Allah itulah hal yang tiada keraguan padanya.
Kemudian
Al-Bazzar mengatakan, "Kami tidak mengetahui hadis ini diriwayatkan
kecuali hanya melalui sanad ini."
قَالَ
الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا يُونُسُ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، عَنْ مُحَمَّدٍ،
عَنْ سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أنه قَالَ: "لَا أَقُولُ إِلَّا
حَقًّا". قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِهِ: فَإِنَّكَ تُدَاعِبُنَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ: "إني لا أقول إلا حقا"
Imam Ahmad
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada
kami Lais, dari Muhammad ibnu Sa'id ibnu Abu Sa'id, dari Abu Hurairah, dari
Rasulullah Saw. yang telah bersabda: "Tiadalah yang kuucapkan melainkan
benar belaka.” Sebagian sahabat bertanya.”Sesungguhnya engkau adakalanya
berseloroh dengan kami, wahai Rasulullah.” Rasulullah Saw. bersabda,
"Sesungguhnya aku tidak pernah mengucapkan kecuali kebenaran belaka.”
C. QS. An – Nahl : 43 – 44
وَمَا
أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ
الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ
وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ
وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (44)
Dan Kami tidak
mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada
mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu
tidak mengetahui, keterangan-keterangan (mukjizat) dan
kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada
umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka
memikirkan.
Tafsir dari Kementrian agama
Ayat 43
Allah menyatakan bahwa Dia tidak mengutus seorang Rosu pun sebelum nabi
Muhammad saw, sebelum manusia yang diberi – Nya wahyu. Ayat ini menggambarkan
bahwa Rosul Rosul yang diutus itu hanyalah laki – laki dari keturunan Adam as.,
sampai Nabi Muhammad saw yang bertamu membimbing agar ummatnya agar meereka
agar mereka beragama tauhid dan mengikuti bimbingan wahyu. Oleh karena itu,
yang pantas diutus untuk melakukan tugas itu adalah Rosul – rosul dari jenis
mereka dan berbahasa mereka.
D. QS. Al – Kahfi : 65 – 70
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ
رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا (65) قَالَ لَهُ
مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا (66)
قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا
لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68) قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا
وَلا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا (69) قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلا تَسْأَلْنِي عَنْ
شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا (70)
Artinya : “Lalu mereka
bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan
kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu
dari sisi Kami. Musa berkata kepada Khidir, "Bolehkah aku mengikutimu supaya
kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah
diajarkan kepadamu?” Dia menjawab, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak
akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang
kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” Musa berkata,
"Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku
tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.” Dia berkata, "Jika kamu
mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun,
sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”
Tafsir dari
Jalalain
Ayat 65
Maksudnya
yaitu Nabi Khidr yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami yakni
kenabian. Menurut suatu pendapat dan menurut pendapat yang lain kewalian,
pendapat yang kedua inilah yang banyak dianut oleh para ulama (dan yang telah
kami ajarkan kepadanya dari sisi kami) secara langsung yaitu ilmu. Lafal ilman
menjadi maf’ul tsani, yaitu ilmu – ilmu yang berkaitan dengan masalah – masalah
keghaiban. Imam bukharai telah meriwayatkan sebuah hadist bahwa pada suatu
ketika Nabi Musa berdiri berkhutbah di hadapan kaum bani israel. Lalu ada
pertanyaan, siapakan orang yang paling alim ?maka Nabi Musa menjawab “Aku”.
Lalu Allah menegur Nab Musa karena dia belum pernah belajar (ilmu gaib), maka
Allah menurunkan wahyu kepadanya “sesungguhnya aku mempunyai seorang hamba yang tinggal dipertemuan dua laut, dia
lebih alim daripadamu”. Musa berkata “wahai Robbku bagaimana caranya supaya aku
dapat bertemu dengan dia. Allah berfirman, “pergilah kamudengan membawa
seekor ikan besar, kemudian ikan itu kamu letakan pada keranjang. Maka manakala
kamu merasa kehilangan ikan itu, berarti dia ada di tempat tersebut”. Lalu
Nabi Musa mengambil ikan itu dan ditaruhnya pada sebuah keranjang, selanjutnya
ia berangkat disertai dengan muridnya yang bernama Yusya bin Nun, hingga keduanya
sampai pada sebuah batu yang besar. Ditempat itu keduanya berhenti untuk
istirahat seraya membaringan tubuh mereka, akhirnya mereka berdua tertidur.
Kemudian ikan yang ada dikeranjang berontak dan melompat keluar, lalu jatuh ke
laut. Lalu ikan itu melompat mengambil jalanya ke laut itu (QS. Al – Kahfi :
61) Allah menahan arus air untuk jalanya ikan itu, sehingga pada air itu tampak
seperti terowongan. Ketiha keduanya terbangun dari tidurnya, murid Nabi Musa
terlupa untuk memberitakan tentang ikan tersebut pada Nabi Musa. Lalu keduanya
berangkat melakukan perjalanan lagi selama sehari semalam. Pada keesokan
harinya Nabi Musa bertanya pada muidnya “bawalah kemari makan siang kita”,
sampai dengan perkataanya “lalu ikan itu melompat menambil jalanya ke laut
dengan cara yang aneh sekali” bekas ikan itu tampak seperti terowongan,dan Musa
beserta muridnya merasa aneh sekali dengan kejadian itu.
Ayat 66
Yakni ilmu
yang dapat membimbingku. Mwnurut suatu qira’at dibaca rasyadan. Nabi Musa
meminta hal tersebut kepada Khidir. Karena menambah ilmu adalah suatu hal yang
dianjurkan.
Ayat 67
(dia menjawab
: sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup sabar bersamaku”).
Ayat 68
Dalam hadist
yang telah disebutkan tadi sesudah penafsiran ayat ini disebutkan, bahwa Khidir
berkata kepada nabi Musa “hai Musa sesungguhnya aku telah menerima ilmu dari
Allah dan Dia ajarkan langsung kepadaku, ilmu itu tidak kamuketahui. Tetapi
kamu telah memperoleh ilmu juga dari Allah yang Dia ajarkan kepadamu, dan aku
tidak mengetahui ilmu itu”. lafal Khubran berbentuk mashdar maknanya kamu tidak
menguasainya atau kamu tidak mengetahui hakikatnya.
Ayat 69
(Musa Berkata
“in syaa Allah kamu akan mendapati aku sebagai seorang yang sabar, dan aku
tidak akan menentang) Yakni tidak akan mendurhakai (kamu dalam suatu urusan
pun) yang kamu perintahkan kepadaku. Nabi Musa mengungkapkan jawabanya dengan
menggantungkan kemampuanya kepada kehendak Allah, karena ia merasa kurang yakin
akan kemampuan dirinya didalam menghadapi apa yang harus ia lakukan. Hal ini
merupakan kebiasaan para nabi dan para wali Allah, yaitu mereka sama sekali
tidak pernah merasa percaya terhadap dirinya sendiri walau hanya sekejap,
sepenuhnya mereka serahkan kepada kehendak Allah.
Ayat 70
Dalam satu
qira’at dibaca dengan lam berbaris fathah dan nun bertasydid (tentang sesuatu)
yang kamu ingkari menurut pengetahuanmu dan bersabarlah kamu jangan
menanyakanya kepadamu) hingga aku menuturkan perihalnya kepadamu berikut sebab
musababnya. Lalu nabi Musa menerima syarat itu, yaitu memelihara etika dan
sopan santun murid terhadap gurunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar