METODE PENDIDIKAN
1.
Qur’an Surat Al – Maidah ; 67
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ
بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ
رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (67)
Artinya : “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang
diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara
kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang kafir”.
Tafsir Ibnu katsir
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ
بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ
Allah Swt.
berfirman seraya ber-khitab kepada hamba dan Rasul-Nya —yaitu Nabi Muhammad Saw.— dengan menyebut
kedudukannya sebagai seorang rasul. Allah memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan
semua yang diutuskan oleh Allah melaluinya, dan Rasulullah Saw. telah
menjalankan perintah tersebut serta menunaikannya dengan sempurna.
{وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ}
jika tidak
kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. (Al-Maidah:
67)
Yakni jika
engkau tidak menyampaikannya kepada manusia apa yang telah Aku perintahkan
untuk menyampaikannya, berarti engkau tidak menyampaikan risalah yang
dipercayakan Allah kepadamu. Dengan kata lain dapat disebutkan bahwa telah
diketahui konsekuensi hal tersebut seandainya terjadi.
{وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ}
Allah
memelihara kamu dari (gangguan) manusia. (Al-Maidah: 67)
Yakni
sampaikanlah olehmu risalah-Ku, dan Aku akan memeliharamu, menolongmu, dan
mendukungmu serta memenangkanmu atas mereka. Karena itu kalian jangan takut dan
jangan pula bersedih hati, karena tiada seorang pun dari mereka dapat
menyentuhmu dengan keburukan yang menyakitkanmu.
{إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ}
Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Al-Maidah: 67)
Yakni
sampaikanlah (risalah ini) olehmu, dan Allah-lah yang akan memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia akan menyesatkan siapa yang
dikehendaki-Nya.
2.
Qur’an Surat An – Nahl ; 125
ادْعُ
إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (125)
Artinya : “Serulah (manusia) kepada
jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu. Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesal dari jalan-Nya. dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Allah Swt.
memerintahkan kepada Rasul-Nya—Nabi Muhammad Saw. agar menyeru manusia untuk
menyembah Allah dengan cara yang bijaksana.
Ibnu Jarir
mengatakan bahwa yang diserukan kepada manusia ialah wahyu yang diturunkan
kepadanya berupa Al-Qur'an, Sunnah, dan pelajaran yang baik; yakni semua yang
terkandung di dalamnya berupa larangan-larangan dan kejadian-kejadian yang
menimpa manusia (di masa lalu). Pelajaran yang baik itu agar dijadikan
peringatan buat mereka akan pembalasan Allah Swt. (terhadap mereka yang
durhaka).
Firman Allah Swt.
{وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}
dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. (An-Nahl: 125)
Yakni terhadap
orang-orang yang dalam rangka menyeru mereka diperlukan perdebatan dan
bantahan. Maka hendaklah hal ini dilakukan dengan cara yang baik. yaitu dengan
lemah lembut, tutur kata yang baik, serta cara yang bijak. Ayat ini sama
pengertiannya dengan ayat lain yang disebutkan oleh firman-Nya:
3.
Qur’an Surat Ibrohim ; 24 – 27
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ
وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25)
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ
مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ (26) يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ
الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ
الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)
Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah
membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh
dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan
buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan
perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut
dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit
pun. Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman
dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah
menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
Tafsir Jalalain
Ayat 24
(tidak kah kamu memperhatikan)
memperhatikan (bagaimana Allah telah membuat perumpamaan) lafal matsalan ini
dijelaskan oleh badalnya, yaitu (kalimat yang baik) yakni kalimat laa ilaaha
illallah / tiada tuhan selain Allah (seperti pohon yang baik) yaitu pohon kurma
(akarnya teguh) menancap didalam bumi (dan cabangnya) ranting – rantingnya
(menjulang kelangit).
Ayat25
(pohon itu memberikan) membuahkan
(buahnya) buah – buahanya (pada setiap
muslim dengan seizin Rabbnya) dengan kehendak – Nyademikian pulakalimat iman
tertanam di dalam kalbu orang mukmin sedangkan amalnya naik ke langit kemudian
memperoleh berkah dan pahala amalanya itu setiap saat (dibuatkan) dijelaskan
(oleh Allah perumpamaan – perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu
ingat) mau mengambil pelajaran dari padanya kemudian mereka mau beriman
karenanya.
Ayat 26
(dan perumpamaan kalimat yang
buruk) yaitu kalimat kekafiran (seperti pohon yang buruk) yaitu pohon hanzal
yang buahnya sangat pahit (yang telah dicabut) telah dibongkar sampai ke akar –
akarnya (dari permukaan bumi, ia tidak dapat tetap sedikitpun) artinya tidak
mempunyai tempat untuk berpijak lagi, maka demikian pula keadaan kalimat
kekafiran tidak mempunyai tempat berpijak, tidak mempunyai ranting dan tidak
pula ada keberkahanya.
Ayat 27
(Allah meneguhkan iman orang –
orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu) yaitu kalimat tauhid itu (di dunia
dan akhirat) yaitu di alam kubur, ketika dua orang malaikat menanyakan
kepadanya tentang Rabb mereka. Maka orang – orang yang beriman dapat
menjawabnya dengan benar ; demikianlah menurut keterangan yang telah disebutkan
di dalam hadist Imam Bukhari dan Muslim (dan Allah menyesatkan orang – orang
lalim) yaitu orang – orang kafir; oleh sebab itu mereka tidak mendapat petunjuk
untuk memberikan jawaban yang benar. Bahkan mereka hanya mengatakan, “kami
tidak tahu”, demikian menurut keterangan dalam hadist (dan memperbuat apa yang
Dia Kehendaki).
4.
Qur’an Surat Al – A’raf ; 175 – 177
وَاتْلُ
عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ
الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا
وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ
الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ
مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ
لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176) سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا
بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)
Artinya : “Dan bacakanlah kepada
mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu
dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk
orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan
(derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan
menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing, jika
kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia
mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah
itu agar mereka berpikir. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami, dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat
zalim.
Tafsir Ibnu Kastir
Abdur Razzaq
telah meriwayatkan dari Sufyan As-Sauri, dari Al-A'masy dan Mansur, dari Abud
Duha, dari Masruq, dari Abdullah ibnu Mas'ud r .a. sehubungan dengan makna
firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami
berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi AlKitab), kemudian
dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A’raf: 175), hingga akhir ayat.
Dia adalah seorang lelaki dari kalangan Bani Israil, dikenal dengan nama
panggilan Bal'am ibnu Ba'ura.
Hal yang sama
telah diriwayatkan oleh Syu'bah dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang, dari
Mansur, dengan sanad yang sama.
Sa'id ibnu Abu
Arubah mengatakan dari Qatadah, dari Ibnu Abbas, bahwa telaki tersebut bernama
Saifi ibnur Rahib.
Qatadah
mengatakan, Ka'b pernah menceritakan bahwa dia adalah seorang telaki dari
kalangan penduduk Al-Balqa, mengetahui tentang Ismul Akbar, dan tinggal di
Baitul Maqdis dengan orang-orang yang angkara murka.
Al-Aufi telah
meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa dia adalah seorang lelaki dari kalangan
penduduk negeri Yaman, dikenal dengan nama Bal'am; ia dianugerahi pengetahuan
tentang isi Al-Kitab, tetapi ia meninggalkannya.
Malik ibnu
Dinar mengatakan bahwa orang itu adalah salah seorang ulama Bani Israil,
terkenal sebagai orang yang mustajab doanya; mereka datang kepadanya di
saat-saat kesulitan. Kemudian Nabi Musa a.s. mengutusnya ke raja negeri Madyan
untuk menyerukan agar menyembah Allah. Tetapi Raja Madyan memberinya sebagian
dari wilayah kekuasaannya dan memberinya banyak hadiah. Akhirnya ia mengikuti
agama raja dan meninggalkan agama Nabi Musa a.s.
Sufyan ibnu
Uyaynah telah meriwayatkan dari Husain, dari Imran ibnul Haris, dari Ibnu
Abbas, bahwa orang tersebut adalah Bal'am ibnu Ba'ura. Hal yang sama telah
dikatakan oleh Mujahid dan Ikrimah.
Ibnu Jarir
mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Haris, telah menceritakan kepada
kami Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Mugirah, dari
Mujahid, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang tersebut bernama Bal'am.
Sedangkan menurut Saqif, dia adalah Umayyah ibnu Abu Silt.
Syu'bah telah
meriwayatkan dari Ya'la ibnu Ata, dari Nafi’ ibnu Asim, dari Abdullah ibnu Amr
sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi Al-Kitab). (Al-A'raf: 175), hingga akhir ayat. Bahwa dia adalah
teman kalian sendiri, yaitu Umayyah ibnu Abu Silt.
Hal ini telah
diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Abdullah ibnu Amr, dan predikat
sanadnya sahih sampai kepadanya. Seakan-akan ia hanya bermaksud bahwa
Umayyah ibnu Abus Silt mirip dengan orang yang disebutkan dalam ayat ini,
karena sesungguhnya ia telah banyak menerima ilmu syariat-syariat terdahulu,
tetapi tidak dimanfaatkannya. Dia sempat menjumpai masa Nabi Saw. dan telah
sampai kepadanya tanda-tanda, alamat-alamat, dan mukjizat-mukjizatnya, sehingga
tampak jelas bagi semua orang yang mempunyai pandangan mata hati. Tetapi
sekalipun menjumpainya, ia tidak juga mau mengikuti agamanya, bahkan dia berpihak
dengan orang-orang musyrik dan membantu serta memuji mereka. Bahkan dia
mengungkapkan rasa (bela sungkawa dalam bentuk syair)nya atas kematian
kaum musyrik yang gugur dalam Perang Badar, hal ini ia ungkapkan dengan bahasa
yang berparamasastra; semoga Allah melaknatnya.
Di dalam
sebagian hadis disebutkan bahwa dia termasuk orang yang lisannya beriman,
tetapi hatinya tidak beriman alias munafik; karena sesungguhnya dia mempunyai
banyak syair yang mengandung makna ketuhanan, kata-kata bijak, dan fasih,
tetapi Allah; tidak melapangkan dadanya untuk masuk Islam.
Ibnu Abu Hatim
mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada
kami Ibnu Abu Namir, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Sa'id
Al-A'war, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Dan
bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya
ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi AlKitab), kemudian dia
melepaskan diri dari ayat-ayat itu (Al-A'raf: 175) Bahwa dia adalah seorang
lelaki yang dianugerahi tiga doa mustajab, dan ia mempunyai seorang istri yang
memberinya seorang anak laki-laki. Lalu istrinya berkata, "Berikanlah
sebuah doa darinya untukku." Ia menjawab, "Saya berikan satu doa
kepadamu, apakah yang kamu kehendaki?" Si istri menjawab, "Berdoalah
kepada Allah semoga Dia menjadikan diriku wanita yang tercantik di kalangan
Bani Israil." Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu Allah menjadikan
istrinya seorang wanita yang tercantik di kalangan kaum Bani Israil. Setelah si
istri mengetahui bahwa dirinyalah yang paling cantik di kalangan mereka tanpa
tandingan, maka ia membenci suaminya dan menghendaki hal yang lain. Akhirnya si
lelaki berdoa kepada Allah agar menjadikan istrinya seekor anjing betina,
akhirnya jadilah istrinya seekor anjing betina. Dua doanya telah hilang.
Kemudian datanglah anak-anaknya, lalu mereka mengatakan, "Kami tidak dapat
hidup tenang lagi, karena ibu kami telah menjadi anjing betina sehingga menjadi
cercaan orang-orang. Maka doakanlah kepada Allah semoga Dia mengembalikan ibu
kami seperti sediakala." Maka lelaki itu berdoa kepada Allah, lalu
kembalilah ujud istrinya seperti keadaan semula. Dengan demikian, ketiga doa
yang mustajab itu telah lenyap darinya, kemudian wanita itu diberi nama Al Basus.
Asar ini gharib
Adapun asar
yang termasyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat yang mulia ini hanyalah
menceritakan perihal seorang lelaki di masa dahulu, yaitu di zaman kaum Bani
Israil, seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Mas'ud dan lain-lainnya dari
kalangan ulama Salaf.
Ali ibnu Abu
Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia adalah seorang lelaki dari
kota orang-orang yang gagah perkasa, dikenal dengan nama Bal'am. Dia
mengetahui Asma Allah Yang Mahabesar.
Abdur Rahman
ibnu Zaid ibnu Aslam dan lain-lainnya dari kalangan ulama Salaf mengatakan
bahwa doa lelaki tersebut mustajab; tidak sekali-kali ia memohon sesuatu kepada
Allah, melainkan Allah memberikan kepadanya apa yang dimintanya itu.
Tetapi
pendapat yang sangat jauh dari kebenaran —bahkan sangat keliru— ialah yang
mengatakan bahwa lelaki itu telah diberi kenabian, lalu ia melepaskan kenabian
itu. Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir, dari sebagian di antara mereka
(ulama), tetapi tidak sahih.
Ali ibnu Abu
Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi Musa dan
orang-orang yang bersamanya turun istirahat di tempat mereka (yakni negeri
orang-orang yang gagah perkasa), maka Bal'am (yang bertempat tinggal di negeri
itu) kedatangan anak-anak pamannya dan kaumnya. Lalu mereka berkata,
"Sesungguhnya Musa adalah seorang lelaki yang sangat perkasa dan mempunyai
bala tentara yang banyak. Sesungguhnya dia jika menang atas kita, niscaya dia
akan membinasakan kita. Maka berdoalah kepada Allah, semoga Dia mengusir Musa
dan bala tentaranya dari kita. Bal'am menjawab, "Sesungguhnya jika aku
berdoa kepada Allah memohon agar Musa dan orang-orang yang bersamanya
dikembalikan, niscaya akan lenyaplah dunia dan akhiratku." Mereka terus
mendesaknya hingga akhirnya Bal'am mau berdoa. Maka Allah melucuti apa yang ada
pada dirinya. Yang demikian itu disebutkan oleh firman-Nya: kemudian dia
melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai ia
tergoda). (Al-A'raf: 175), hingga akhir ayat.
As-Saddi
mengatakan bahwa setelah selesai masa empat puluh tahun, seperti apa yang
disebutkan di dalam firman Nya : maka sesungguhnya negeri ini diharamkan
atas mereka selama empat puluh tahun. (Al-Maidah: 26) Maka Allah mengutus
Yusya' ibnu Nun sebagai seorang nabi, lalu Yusya' menyeru kaum Bani Israil
(untuk menyembah Allah) dan memberitahukan kepada mereka bahwa dirinya adalah
seorang nabi, dan Allah telah memerintahkannya agar memerangi orang-orang yang
gagah perkasa. Lalu mereka berbaiat kepadanya dan mempercayainya Kemudian ada
seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang dikenal dengan nama Bal'am
berangkat dan menemui orang-orang yang gagah perkasa. Dia adalah orang yang
mengetahui tentang Ismul A'zam yang rahasia (apabila dibaca, maka semua
permintaannya dikabulkan seketika). Tetapi ia kafir dan berkata kepada
orang-orang yang gagah perkasa, "Janganlah kalian takut kepada Bani
Israil. Karena sesungguhnya jika kalian berangkat untuk memerangi mereka, maka
saya akan mendoakan untuk kehancuran mereka, dan akhirnya mereka pasti
hancur." Bal'am hidup di kalangan mereka dengan mendapatkan semua perkara
duniawi yang dikehendakinya, hanya saja dia tidak dapat berhubungan dengan
wanita karena wanita orang-orang yang gagah perkasa itu terlalu besar baginya.
Maka Bal'am hanya dapat menggauli keledainya. Kisah inilah yang disebutkan oleh
Allah Swt. dalam firman-Nya: kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu
(Al-A'raf: I75)
Firman Allah
Swt.:
{فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ}
lalu dia
diikuti oleh setan (sampai dia tergoda). (Al-A'raf: 175)
Artinya, setan
telah menguasai dirinya dan urusannya; sehingga apabila setan menganjurkan
sesuatu kepadanya, ia langsung mengerjakan dan menaatinya. Karena itulah dalam
firman selanjutnya disebutkan :
{فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ}
makajadilah
dia termasuk orang-orang yang sesat. (Al-A'raf: 175)
Ia termasuk
orang-orang yang binasa, bingung, dan sesat.
Sehubungan
dengan makna ayat ini terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu
Ya'la Al-Mausuli di dalam kitab Musnad-nya. Disebutkan bahwa:
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ، عَنِ الصَّلْتِ بْنِ
بَهْرام، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ، حَدَّثَنَا جُنْدُب الْبَجَلِيُّ في هذا المسجد؛
أن حذيفة -يعني بن الْيَمَانِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -حَدَّثَهُ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم: "أن مِمَّا أَتَخَوَّفُ
عَلَيْكُمْ رجُل قَرَأَ الْقُرْآنَ، حَتَّى إِذَا رُؤِيَتْ بَهْجَتُهُ عَلَيْهِ
وَكَانَ رِدْء الْإِسْلَامِ اعْتَرَاهُ إِلَى مَا شَاءَ اللَّهُ، انْسَلَخَ
مِنْهُ، وَنَبَذَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ، وَسَعَى عَلَى جَارِهِ بِالسَّيْفِ،
وَرَمَاهُ بِالشِّرْكِ". قَالَ: قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيُّهُمَا
أَوْلَى بِالشِّرْكِ: الْمَرْمِيُّ أَوِ الرَّامِي؟ قَالَ: "بَلِ
الرَّامِي".
telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnu Bakar, dari As-Silt ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami
Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Jundub Al-Jabali di masjid ini;
Huzaifah ibnul Yaman r.a. pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah Saw.
telah bersabda: Sesungguhnya di antara hal yang saya takutkan terhadap
kalian ialah seorang lelaki yang pandai membaca Al-Qur’an, hingga manakala
keindahan Al-Qur’an telah dapat diresapinya dan Islam adalah sikap dan
perbuatannya, lalu ia tertimpa sesuatu yang dikehendaki oleh Allah, maka ia
melepaskan diri dari Al-Qur’an. Dan Al-Qur'an ia lemparkan di belakang
punggungnya (tidak diamalkannya), lalu ia menyerang tetangganya dengan
senjata dan menuduhnya telah musyrik. Huzaifah ibnul Yaman bertanya,
"Wahai Nabi Allah, manakah di antara keduanya yang lebih musyrik, orang
yang dituduhnya ataukah si penuduhnya?" Rasulullah Saw. menjawab, "Tidak,
bahkan si penuduhlah (yang lebih utama untuk dikatakan musyrik)."
Sanad hadis
ini berpredikat jayyid. As-Silt ibnu Bahram termasuk ulama siqah dari
kalangan penduduk Kufah, dia tidak pernah dituduh melakukan sesuatu hal yang
membuatnya cela selain dari Irja (salah satu aliran dalam mazhab
tauhid). Imam Ahmad ibnu Hambal menilainya siqah, demikian pula Yahya
ibnu Mu'in dan lain-lainnya.
Firman Allah
Swt.:
{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى
الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ}
Dan kalau
Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan
ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya
yang rendah. (Al-A'raf: 176)
Sedangkan
firman Allah Swt.:
{وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا}
Dan kalau
Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan
ayat-ayat itu. (Al-A'raf: 176)
Maksudnya,
niscaya Kami mengangkatnya dari pencemaran kekotoran duniawi dengan ayat-ayat
yang telah Kami berikan kepadanya.
{وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ}
tetapi dia
cenderung kepada dunia. (Al-A'raf: 176)
Yakni
cenderung kepada perhiasan kehidupan dunia dan kegemerlapannya. Dia lebih
menyukai kelezatan, kenikmatan, dan bujuk rayunya. Dia teperdaya oleh
kesenangan duniawi sebagaimana teperdaya orang-orang yang tidak mempunyai
pandangan hati dan akal.
Abu Rahawaih
telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: tetapi dia cenderung
kepada dunia (Al-A'raf: 176) Bahwa setan menampakkan dirinya kepada dia di
atas ketinggian sebuah jembatan di Banias, lalu keledai yang dinaikinya
bersujud kepada Allah, tetapi dia sendiri (yakni Bal'am) sujud kepada
setan itu. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abdur Rahman ibnu Jubair ibnu
Mafir dan ulama lainnya yang bukan hanya seorang.
Imam Abu
Ja'far ibnu Jarir mengatakan bahwa, kisah yang menyangkut lelaki ini antara
lain ialah apa yang telah diceritakan kepada kami oleh Muhammad ibnu Abdul
A'la. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir, dari ayahnya
yang ditanya mengenai makna ayat ini, yaitu firman-Nya: Dan bacakanlah
kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi AlKitab). (Al-A'raf: 175) Maka ayahnya menceritakan kisah yang
pernah ia terima dari Sayyar, bahwa dahulu kala ada seorang lelaki yang dikenal
dengan nama Bal'am. Bal'am adalah orang yang doanya dikabulkan. Kemudian Nabi
Musa berangkat dengan pasukan kaum Bani Israil menuju negeri tempat Bal'am
berada, atau negeri Syam. Lalu penduduk negeri tersebut merasa sangat takut dan
gentar terhadap Musa a.s. Maka mereka mendatangi Bal'am dan mengatakan
kepadanya, "Doakanlah kepada Allah untuk kehancuran lelaki ini (yakni Nabi
Musa a.s.) dan bala tentaranya." Bal'am menjawab, "Tunggulah sampai
aku meminta saran dari Tuhanku, atau aku diberi izin oleh-Nya." Bal'am
meminta saran dari Tuhannya dalam doanya yang memohon untuk kehancuran Musa dan
pasukannya. Maka dijawab, "Janganlah kamu mendoakan buat kehancuran
mereka, karena sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Ku, dan di antara mereka
terdapat nabi mereka." Maka Bal'am melapor kepada kaumnya,
"Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku dalam doaku yang
memohon untuk kehancuran mereka, tetapi aku dilarang melakukannya. Maka mereka
memberikan suatu hadiah kepada Bal'am dan Bal'am menerimanya. Kemudian mereka
kembali kepada Bal'am dan mengatakan kepadanya, "Doakanlah untuk
kehancuran mereka," Bal'am menjawab, 'Tunggulah, aku akan meminta saran kepada
Tuhanku." Lalu Bal’am meminta saran Kepada Nya, ternyata Dia tidak
memerintahkan sesuatu pun kepadanya. Maka Bal'am berkata (kepada
kaumnya), "Sesungguhnya aku telah meminta saran kepada Tuhanku, tetapi Dia
tidak memerintahkan sesuatu pun kepadaku." Kaumnya berkata,
"Sekiranya Tuhanmu tidak suka engkau mendoakan untuk kehancuran mereka,
niscaya Dia akan melarangmu pula sebagaimana Dia melarangmu pada pertama
kalinya.” Bal'am terpaksa berdoa untuk kebinasaan mereka. Tetapi apabila ia
mendoakan untuk kehancuran mereka (Musa dan pasukannya), maka yang terucapkan
oleh lisannya justru mendoakan untuk kehancuran kaumnya. Dan apabila ia
mendoakan untuk kemenangan kaumnya, justru lisannya mendoakan untuk kemenangan
Musa dan pasukannya atau hal yang semacam itu, seperti apa yang dikehendaki
oleh Allah. Maka kaumnya berkata, "Kami tidak melihatmu berdoa melainkan
hanya untuk kehancuran kami." Bal'am menjawab, "Tiada yang terucapkan
oleh lisanku melainkan hanya itu. Sekiranya aku tetap mendoakan untuk kehancurannya,
niscaya aku tidak diperkenankan. Tetapi aku akan menunjukkan kepada kalian
suatu perkara yang mudah-mudahan dapat menghancurkan mereka. Sesungguhnya Allah
murka terhadap perbuatan zina, dan sesungguhnya jika mereka terjerumus ke dalam
perbuatan zina, niscaya mereka akan binasa; dan aku berharap semoga Allah
membinasakan mereka melalui jalan ini." Bal'am melanjutkan ucapannya,
"Karena itu, keluarkanlah kaum wanita kalian untuk menyambut mereka.
Sesungguhnya mereka adalah kaum yang sedang musafir, mudah-mudahan saja mereka
mau berzina sehingga binasalah mereka." Kemudian mereka melakukan hal itu
dan mengeluarkan kaum wanita mereka menyambut pasukan Nabi Musa a.s.
Tersebutlah bahwa raja mereka mempunyai seorang anak perempuan, perawi
menyebutkan perihal kebesaran tubuhnya yang kenyataannya hanya Allah yang
mengetahuinya. Lalu ayahnya atau Bal'am berpesan kepadanya, "Janganlah
engkau serahkan dirimu selain kepada Musa." Akhirnya pasukan Bani Israil
terjerumus ke dalam perbuatan zina. Kemudian datanglah kepada wanita tadi
seorang pemimpin dari salah satu kabilah Bani Israil yang menginginkan dirinya.
Maka wanita itu berkata, "Saya tidak mau menyerahkan diri saya selain
kepada Musa." Pemimpin suatu Kabilah menjawab “Sesungguhnya kedudukanmu
adalah anu dan anu, dan keadaanku anu dan anu." Akhirnya si wanita
mengirim utusan kepada ayahnya meminta saran darinya. Maka ayahnya berkata
kepadanya, "Serahkanlah dirimu kepadanya." Lalu pemimpin kabilah itu
menzinainya. Ketika mereka berdua sedang berzina, datanglah seorang lelaki dari
Bani Harun seraya membawa tombak, lalu menusuk keduanya. Allah memberinya
kekuatan yang dahsyat sehingga keduanya menjadi satu tersatekan oleh tombaknya,
kemudian ia mengangkat keduanya dengan tombaknya itu, sehingga semua orang
melihatnya. Maka Allah menimpakan penyakit ta'un kepada mereka, sehingga
matilah tujuh puluh ribu orang dari kalangan pasukan Bani Israil.
Abul Mu'tamir
mengatakan, Sayyar telah menceritakan kepadanya bahwa Bal'am mengendarai
keledainya hingga sampai di suatu tempat yang dikenal dengan nama Al-Ma'luli
atau suatu jalan yang menuju Al-Ma'luli. Lalu Bal'am memukuli keledainya,
tetapi keledainya itu tidak mau maju, bahkan hanya berdiri saja di tempat. Lalu
keledai itu berkata kepadanya, "Mengapa engkau terus memukuliku? Tidakkah
engkau melihat apa yang ada di hadapanmu ini?" Tiba-tiba setan menampakkan
diri di hadapan Bal'am. Lalu Bal'am turun dan bersujud kepada setan itu. Inilah
yang disebutkan oleh firman Allah Swt.: Dan bacakanlah kepada mereka berita
orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang
isi AlKitab) kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (Al-A'raf:
175) sampai dengan firman-Nya: agar mereka berpikir. (Al-A'raf: 176)
Demikianlah
yang diceritakan oleh Sayyar kepadaku, tetapi aku tidak tahu barangkali di
dalamnya kemasukan sesuatu dari kisah lainnya.
Menurut kami
dia adalah Bal'am. Menurut suatu pendapat yaitu Bal'am Ibnu Ba'ura, menurut
pendapat lainnya Ibnu Ibr, dan menurut pendapat yang lainnya dia adalah Ibnu
Ba'ur ibnu Syahtum ibnu Qusytum ibnu Maab ibnu Lut ibnu Haran, sedangkan
menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Ibnu Haran ibnu Azar. Dia tinggal di
suatu kampung yang berada di wilayah Al-Balqa.
Ibnu Asakir
mengatakan bahwa dialah orang yang mengetahui Ismul A'zam, lalu ia
murtad dari agamanya; kisahnya disebutkan di dalam Al-Qur'an. Kemudian sebagian
dari kisahnya adalah seperti yang telah disebutkan di atas, bersumberkan dari
Wahb dan lain-lainnya.
Muhammad ibnu
lshaq ibnu Yasar telah meriwayatkan dari Salim Abun Nadr; ia pernah
menceritakan bahwa Musa a.s. ketika turun di negeri Kan'an—bagian dari wilayah
Syam—maka kaum Bal'am datang menghadap kepada Bal'am dan mengatakan kepadanya,
"Musa ibnu Imran telah datang bersama dengan pasukan Bani Israil. Dia
datang untuk mengusir kita dari negeri kita dan akan membunuh kita, lalu
membiarkan tanah ini dikuasai oleh Bani Israil. Dan sesungguhnya kami adalah
kaummu yang dalam waktu yang dekat tidak akan mempunyai tempat tinggal lagi,
sedangkan engkau adalah seorang lelaki yang doanya diperkenankan Tuhan. Maka
keluarlah engkau dan berdoalah untuk kehancuran mereka." Bal'am menjawab,
"Celakalah kalian! Nabi Allah ditemani oleh para malaikat dan orang-orang
mukmin, maka mana mungkin saya pergi mendoakan untuk kehancuran mereka,
sedangkan saya mengetahui Allah tidak akan menyukai hal itu?" Mereka
mengatakan kepada Bal'am, "Kami tidak akan memiliki tempat tinggal
lagi." Mereka terus-menerus meminta dengan memohon belas kasihan dan
berendah diri kepada Bal'am untuk membujuknya. Akhirnya Bal'am terbujuk. Lalu
Bal'am menaiki keledai kendaraannya menuju ke arah sebuah bukit sehingga ia
dapat melihat perkemahan pasukan kaum Bani Israil, yaitu Bukit Hasban. Setelah
berjalan tidak begitu jauh, keledainya mogok, tidak mau jalan. Maka Bal'am
turun dari keledainya dan memukulinya hingga keledainya mau bangkit dan
berjalan, lalu Bal'am menaikinya. Tetapi setelah berjalan tidak jauh,
keledainya itu mogok lagi, dan Bal'am memukulinya kembali, lalu menjewer
telinganya. Maka secara aneh keledainya dapat berbicara —memprotes
tindakannya—seraya mengatakan, "Celakalah kamu. hai Bal’am, ke manakah
kamu akan pergi. Tidakkah engkau melihat para malaikat berada di hadapanku
menghalang-halangi jalanku? Apakah engkau akan pergi untuk mendoakan buat
kehancuran Nabi Allah dan kaum mukminin?" Bal'am tidak menggubris
protesnya dan terus memukulinya, maka Allah memberikan jalan kepada keledai itu
setelah Bal'am memukulinya. Lalu keledai itu berjalan membawa Bal'am hingga
sampailah di atas puncak Bukit Hasban, di atas perkemahan pasukan Nabi Musa dan
kaum Bani Israil. Setelah ia sampai di tempat itu, maka ia berdoa untuk
kehancuran mereka. Tidak sekali-kali Bal'am mendoakan keburukan untuk Musa dan
pasukannya, melainkan Allah memalingkan lisannya hingga berbalik mendoakan
keburukan bagi kaumnya. Dan tidak sekali-kali Bal'am mendoakan kebaikan buat
kaumnya, melainkan Allah memalingkan lisannya hingga mendoakan kebaikan buat
Bani Israil. Maka kaumnya berkata kepadanya, "Tahukah engkau, hai Bal'am,
apakah yang telah kamu lakukan? Sesungguhnya yang kamu doakan hanyalah untuk
kemenangan mereka dan kekalahan kami." Bal'am menjawab, "Ini adalah suatu
hal yang tidak saya kuasai, hal ini merupakan sesuatu yang telah ditakdirkan
oleh Allah." Maka ketika itu lidah Bal'am menjulur keluar sampai sebatas
dadanya, lalu ia berkata kepada kaumnya, "Kini telah lenyaplah dariku
dunia dan akhiratku, dan sekarang tiada jalan lain bagiku kecuali harus
melancarkan tipu muslihat dan kilah yang jahat. Maka aku akan melancarkan tipu
muslihat buat kepentingan kalian. Sekarang percantiklah wanita-wanita kalian
dan berikanlah kepada mereka berbagai macam barang dagangan. Setelah itu
lepaskanlah mereka pergi menuju tempat perkemahan pasukan Bani Israil untuk
melakukan jual beli di tempat mereka, dan perintahkanlah kepada kaum wanita
kalian agar jangan sekali-kali ada seorang wanita yang menolak bila dirinya
diajak berbuat mesum dengan lelaki dari kalangan mereka. Karena sesungguhnya
jika ada seseorang dari mereka berbuat zina, maka kalian akan dapat mengalahkan
mereka." Lalu kaum Bal'am melakukan apa yang telah diperintahkan. Ketika
kaum wanita itu memasuki perkemahan pasukan Bani Israil seorang wanita dari
Kan'an (kaum Bal'am) yang dikenal dengan nama Kusbati, anak perempuan pemimpin
kaumnya bersua dengan seorang lelaki dari kalangan pembesar kaum Bani Israil.
Lelaki tersebut bernama Zumri ibnu Syalum, pemimpin kabilah Syam'un ibnu Ya'qub
ibnu Ishaq ibnu Ibrahim. Ketika Zumri melihat Kusbati, ia terpesona oleh
kecantikannya. Lalu ia bangkit dan memegang tangan Kusbati, kemudian membawanya
menghadap kepada Nabi Musa. Zumri berkata, "Sesungguhnya aku menduga
engkau akan mengatakan bahwa ini diharamkan atas dirimu, janganlah kamu
mendekatinya." Musa a.s. berkata, "Dia haram bagimu!" Zumri
menjawab, "Demi Allah, saya tidak mau tunduk kepada perintahmu dalam hal
ini." Lalu Zumri membawa Kusbati masuk ke dalam kemahnya dan menyetubuhinya.
Maka Allah Swt. mengirimkan penyakit ta'un kepada kaum Bani Israil di
perkemahan mereka. Pada saat Zumri ibnu Syalum melakukan perbuatan mesum itu
Fanhas ibnul Aizar ibnu Harun —pengawal pribadi Musa— sedang tidak ada di
tempat. Penyakit ta'un datang melanda mereka, dan tersiarlah berita itu. Lalu
Fanhas mengambil tombaknya yang seluruhnya terbuat dari besi, kemudian ia
memasuki kemah Zumri yang saat itu sedang berbuat zina, lalu Fanhas menyate
keduanya dengan tombaknya. Ia keluar seraya mengangkat keduanya
setinggi-tingginya dengan tombaknya. Tombaknya itu ia jepitkan ke lengannya
dengan bertumpu ke bagian pinggangnya, sedangkan batangnya ia sandarkan ke
janggutnya. Dia (Fanhas) adalah anak pertama Al-Aizar. Kemudian ia berdoa,
"Ya Allah, demikianlah pembalasan yang kami lakukan terhadap orang yang
berbuat durhaka kepada Engkau." Maka ketika itu juga penyakit ta'un
lenyap. Lalu dihitunglah orang-orang Bani Israil yang mati karena penyakit
ta'un sejak Zumri berbuat zina dengan wanita itu hingga Fanhas membunuhnya,
ternyata seluruhnya berjumlah tujuh puluh ribu orang. Sedangkan menurut
perhitungan orang yang meminimkan jumlahnya dari kalangan mereka, dua puluh
ribu jiwa telah melayang dalam jarak waktu satu jam di siang hari. Sejak saat
itulah kaum Bani Israil memberikan kepada anak-anak Fanhas dari setiap korban
yang mereka sembelih, yaitu bagian leher, kaki depan, dan janggut korbannya,
serta anak yang pertama dari ternak mereka dan yang paling disayangi, karena
Fanhas adalah anak pertama dari ayahnya yang bernama Al-Aizura. Sehubungan dengan Bal'am
ibnu Ba'ura ini, kisahnya disebutkan oleh Allah Swt.: dan bacakanlah
kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan
tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu. (
Al-A' raf: 175) sampai dengan firman-Nya: agar mereka berpikir. (Al-A'raf:
176)
Adapun firman
Allah Swt.:
{فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ
أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ}
maka perumpamaannya
seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu
membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga)- (Al-A'raf: 176)
Para ahli
tafsir berbeda pendapat mengenai maknanya. Menurut teks Ibnu Ishaq, dari Salim,
dari Abun Nadr, lidah Bal'am terjulur sampai dadanya. Lalu dia diserupakan
dengan anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut,
yakni jika dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan
lidahnya.
Menurut
pendapat lain, makna yang dimaksud ialah 'Bal'am menjadi seperti anjing dalam
hal kesesatannya dan keberlangsungannya di dalam kesesatan serta tidak adanya
kemauan memanfaatkan doanya untuk keimanan. Perihalnya diumpamakan dengan
anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dalam kedua keadaan tersebut, jika
dihardik menjulurkan lidahnya, dan jika dibiarkan tetap menjulurkan lidahnya
tanpa ada perubahan. Demikian pula keadaan Bal'am, dia tidak memanfaatkan
pelajaran dan doanya buat keimanan; perihalnya sama dengan orang yang tidak
memilikinya. Sama halnya dengan pengertian Yang terkandung di dalam Firman-Nya
:
{سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا
يُؤْمِنُونَ}
Sama saja
bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak
memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. (Al Baqarah:
6, Yasin: 10)
{اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ
لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ
يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ}
Kamu
memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah
sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali,
namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. (At-Taubah:
80)
dan ayat-ayat
lainnya yang semakna.
Menurut
pendapat lainnya, makna yang dimaksud ialah 'kalbu orang kafir dan orang
munafik serta orang yang sesat kosong dari hidayah, hatinya penuh dengan
penyakit yang tak terobatkan’. Kemudian pengertian ini diungkapkan ke dalam
ungkapan itu. Hal yang semisal telah dinukil dari Al-Hasan Al-Basri dan
lain-lainnya.
Firman Allah
Swt.:
{فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}
Maka
ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah agar mereka berpikir. (Al-A'raf:
176)
Allah Swt.
berfirman kepada Nabi-Nya, yaitu Nabi Muhammad Saw.: Maka ceritakanlah (kepada
mereka) kisah-kisah agar mereka (Al-A'raf: 176) yakni agar Bani Israil
mengetahui kisah Bal'am dan apa yang telah menimpanyanya yaitu disesatkan oleh
Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya, karena dia telah salah menggunakan nikmat
Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, nikmat itu ialah Ismul A'zam yang
diajarkan Allah kepadanya. Ismul A'zam adalah suatu doa yang apabila
dipanjatkan untuk memohon sesuatu, niscaya dikabulkan dengan seketika. Ternyata
Bal'am menggunakan doa mustajab ini untuk selain ketaatan kepada Tuhannya,
bahkan menggunakannya untuk memohon kehancuran bagi bala tentara- Tuhan Yang
Maha Pemurah, yaitu orang-orang yang beriman, pengikut hamba dan rasul-Nya di
masa itu, yakni Nabi Musa ibnu Imran a.s. yang dijuluki sebagai Kalimullah (orang
yang pernah diajak berbicara secara langsung oleh Allah). Karena itulah dalam
firman selanjutnya disebutkan:
{لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ}
agar mereka
berpikir. (Al-A'raf: 176)
Maksudnya,
mereka harus bersikap waspada supaya jangan terjerumus ke dalam perbuatan yang
semisal, karena sesungguhnya Allah telah memberikan ilmu kepada kaum Bani
Israil (di masa Nabi Saw.) dan membedakan mereka di atas selain mereka dari
kalangan orang-orang Arab. Allah telah menjadikan mereka memiliki pengetahuan
tentang sifat Nabi Muhammad melalui kitab yang ada di tangan mereka; mereka
mengenalnya sebagaimana mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Mereka adalah
orang-orang yang paling berhak dan paling utama untuk mengikuti Nabi Saw.,
membantu, dan menolongnya, seperti yang telah diberitakan kepada mereka oleh
nabi-nabi mereka yang memerintahkan kepada mereka untuk mengikutinya. Karena
itulah orang-orang yang menentang dari kalangan mereka (Bani Israil) terhadap
apa yang ada di dalam kitab mereka, lalu menyembunyikannya, sehingga
hamba-hamba Allah yang lain tidak mengetahuinya, maka Allah menimpakan kepada
mereka kehinaan di dunia yang terus berlangsung sampai kehinaan di akhirat.
Firman Allah
Swt.:
{سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا}
Amat
buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami., Al-
A'raf: 177) .
Allah Swt.
berfirman bahwa seburuk-buruknya perumpamaan adalah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami. Dengan kata lain, seburuk-buruk perumpamaan
adalah perumpamaan mereka yang diserupakan dengan anj ing, karena anj ing tidak
ada yang dikejarnya selain mencari makanan dan menyalurkan nafsu syahwat.
Barang siapa yang menyimpang dari jalur ilmu dan jalan petunjuk, lalu mengejar
kemauan hawa nafsu dan berahinya, maka keadaannya mirip dengan anjing; dan
seburuk-buruk perumpamaan ialah yang diserupakan dengan anjing. Karena itulah
di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Nabi Saw. telah bersabda:
"لَيْسَ لَنَا
مَثَلُ السَّوْءِ، الْعَائِدُ فِي هِبَتِهِ كَالْكَلْبِ يَعُودُ فِي
قَيْئِهِ"
Tiada pada
kami suatu perumpamaan yang lebih buruk daripada perumpamaan seseorang yang
mencabut kembali hibahnya, perumpamaannya sama dengan anjing, yang memakan
kembali muntahnya.
Firman Allah
Swt.:
{وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ}
dan kepada
diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. (Al-A'raf: 177)
Maksudnya.
Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka sendirilah yang menganiaya dirinya
sendiri karena berpaling dari mengikuti jalan hidayah dan taat kepada Tuhan,
lalu cenderung kepada keduniawian yang fana dan mengejar kelezatan serta
kemauan hawa nafsu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar