A.
Tafsir Qur’an Surat Al – Isra ayat 23 – 28
*
4Ó|Ós%ur y7/u wr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$Î) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7t x8yYÏã uy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdxÏ. xsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& wur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJÌ2 ÇËÌÈ ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u/u #ZÉó|¹ ÇËÍÈ ö/ä3/§ ÞOn=÷ær& $yJÎ/ Îû ö/ä3ÅqàÿçR 4 bÎ) (#qçRqä3s? tûüÅsÎ=»|¹ ¼çm¯RÎ*sù tb%2 úüÎ/º¨rF|Ï9 #Yqàÿxî ÇËÎÈ ÏN#uäur #s 4n1öà)ø9$# ¼çm¤)ym tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# wur öÉjt7è? #·Éö7s? ÇËÏÈ ¨bÎ) tûïÍÉjt6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Yqàÿx. ÇËÐÈ $¨BÎ)ur £`|ÊÌ÷èè? ãNåk÷]tã uä!$tóÏGö/$# 7puH÷qu `ÏiB y7Îi/¢ $ydqã_ös? @à)sù öNçl°; Zwöqs% #YqÝ¡ø¨B ÇËÑÈ
Artinya : “dan
tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah
berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua
– duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali – kali
janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataa “ah” dan ucapkanlah kepada
keduanya perkataan yang baik (23). Dan rendahlakanlah dirimu terhadap keduanya
dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “wahai tuhanku ! sayangilah keduanya
sebagimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (24). Tuhanmu
lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang yang baik, maka sungguh
Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertaubat (25). Dan berikanlah haknya
kepada kerabat dekat juga kepada orang miskin dan orang yang dlam perjalanan
dan janganlah kamu menghambur – hamburkan hartamu secara boros (26).
Sesungguhnya orang – orang yang pemcorors itu adalah saudara setan dan setan
itu sangat ingkar kepada Tuhanya (27). Dan jika engkau berpaling dari mereka
untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu Yang engkau harapkan, maka katakanlah
kepada mereka ucapan yang lemah lembut (28).
Diambil dari Tafsir Kementrian Agama
Ayat 23
Dalam
ayat ini Allah memerintahkan kepada seluruh manusia agar mereka memperhatikan
beberapa faktor yang terkait dengan keimanan. Faktor – faktor itu adalah :
·
Agar manusia tidak menyembah tuhan selain
Allah. Termasuk pada pengertian menyembah tuhan selain Allah ialah mempercayai
adanya kekuatan lain yang dapat memperngaruhi jiwa dan raga selain yang datang
dari Allah. Semua benda yang ada , yang terlihat ataupun tidak, adalah mahluk
Allah. Oleh sebab itu, yang berhak mendapat penghormatan tertinggi hanyalah Zat
yang menciptakan kepada seluruh makhluk – Nya. Maka apabila ada manusia yang
memuja benda ataupun kekuatan ghaib selain Allah, berarti ia telah sesat,
karena semua benda – benda itu adalah makhluk Allah yang tak berkuasa
memberikan manfaat dan tak berdaya untuk menolak kemudharatan, sehingga tak
berhak disembah.
·
Kedua, agar manusia berbuat baik kepada kedua
ibu bapak mereka. Penyebutan perintah ini sesudah perintah beribadah hanya
kepada Allah, mempunyai maksud agar manusia memahami betapa pentingnya berbuat
baik kepada ibu bapak. Juga bermaksud agar mereka mensyukuri kebaikan kedua ibu
bapak, betapa beratnya penderitaan yang telah mereka rasakan, baik pada saat
ibu melahirkan maupun ketika kesulitan dalam mencari nafkah, mengasuh dan
mendidik anak – anak dengan penuh kasih sayang. Maka pantaslah apabila berbuat
baik kepada ibu bapak dijadikan sebagai kewajiban yang paling penting diantara
kewajiban – kewajiban yang lain dan diletakan Allah dalam urutan kedua setelah
kewajiban manusia beribadah kepada – Nya.
Allah memerintahkan berbuat baik kepada orang
tua dengan alasan berikut :
a. Kasih sayang dan usaha ibu bapak telah dicurahkan anak – anaknya, agar
mereka menjadi anak – anak yang sholeh dan terhindar dari jalan yang sesat.
Maka sepantasnyalah apabila kasih sayang yang tiada tiada taranya itu, dan
usaha yang tak mengenal susah payah itu mendapat balasan dari anak – anak
mereka dengan memperlakukan mereka dengan baik dan mensyukuri jasa baik mereka.
b. Anak – anak adalah belahan jiwa dari kedua ibu dan bapak.
c. Sejak masih bayi hingga dewasa, pertumbuhan dan pendidikan anak – anak
menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka seharusnya anak – anak
menghormati dan berbuat baik kepada orang – tuanya.
Secara
singkat dapat dikatakan bahwa nikmat yang paling diterima oleh manusia adalah
nikmat Allah, sesudah itu nikmat yang diterima dari kedua orang tua. Mereka
juga penyebab kedua adanya anak, sedangkan Allah adalah penyebab utama
(hakiki), itulah sebabnya Allah meletakan kewajiban berbuat baik kepada ibu dan
bapak pada urutan kedua setelah kewajiban menusia beribadah hanya kepada Allah.
Sesudah
itu, Allah menetapkan bahwa apabila salah seorang diantara kedua ibu baoak atau
keduanya telah berusia lanjut, sehingga mengalami kelemahan jasmani dan tak
mungkin lagi berusaha mencari nafkah, mereka harus hidup bersama anak – anaknya
agar mendapatkan nafkah dan perlindungan. Menjadi kewajiban bagi anak – anak
untuk memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, serta
menghormati mereka sebagai rasa syukur terhadap nikmat yang pernah diterima
dari keduanya.
Dalam
ayat ini terdapat beberapa ketentuan dan sopan santun yang harus diperhatikan
anak terhadap ibu bapaknya, antara lain :
a. seorang anak tidak boleh mengucapkan kata kotor dan kasar meskipun hanya
berupa kata “ah” kepada kedua ibu bapaknya, krena sikap atau perbuatan mereka
yang kurang disenangi. Keadaan seperti itu harusnya disikapi dengan sabar,
sebagimana perlakuan ibu dan bapak ketika merawat dan mendidiknya diwaktu masih
kecil.
b. Seorang anak tidak boleh menghardik atau membentak kedua ibu bapaknya,
sebab bentakan itu akan melukai perasaan keduanya. Menghardik keduanya adalah
mengeluarkan kata – kata kasar pada saat si anak menolak atau menyalahkan
pendapat mereka sebab tidak sesuai dengan pendapatnya. Larangan menghardik pada
ayat ini adalah sebagai penguat dari larangan mengatakan “ah”yang biasanya
diucapkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya, karena pada saat itu ia
tidak menyetujui pendapat mereka.
c. Hendaklah anak mengucapkan kata – kata yang mulia kepada ibu dan bapak.
Kata – kata yang mulia adalah kata – kata yang baik dan diucapkan dengan penuh
hormat yang menggambarkan adab dan sopan santun dan penghargaan penuh
terhapadap orang lain. Oleh karena itu, jika seorang anak berbeda pendapat
dengan kedua ibu bapaknya, hendaklah ia tetap menunjukan sikap yang sopan dan
penuh rasa hormat.
Ayat 24
Kemudian
Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar bersikap rendak hati dan penuh
kasih sayang kepada kedua orang tua. Yang dimaksud dengan sikap rendah hati
dalam ayat ini adalah menaati apa yang mereka perintahkan, selama perintah itu
tidak bertentangan dengan ketentuan – ketentuan agama. Taan anak kepada orang
tua merupakan tanda kasih sayang dan hormatnya kepada mereka, terutama pada
saat keduanya sangat memerlukan pertolongan anaknya.
Ditegaskan
bahwa sikap rendah hati itu haruslah dilakukan dengan penuh kasih sayang, tidak
dibuat – buat untuk sekedar menutupi celaan atau menghindari rasa malu pada
orang lain.sikap rendah hati itu hendaknya betul – betul dilakukan karena
kesadaran yang timbul dari hati nurani.
Diakhir
ayat Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk mendoakan kedua ibu bapak
mereka agar diberi limpahan kasih sayang Allah sebagai imbalan dari kasih
sayang dalam mendidik mereka ketika masih kanak – kanak. Berbakti kepada kedua
orang tua tidak cukup dilakukan pada saat mereka masih hidup, akan tetapi terus
tetap berlanjut meskipun keduanya telah meninggal dunia.
Ayat 25
Allah
memperingatkan kaum muslimin agar benar – benar memperhatikan urusan berbakti
kepada kedua ibu bapak dan tidak menganggapnya sebagai urusan yang remeh.
Dijelaskan bahwa Allah Maha Mengetahua apa yang tergerak dalam hati mereka,
apakah benar – benar berbakti kepada ibu dan bapak dengan rasa kasih sayang dan
penuh kesadaran, ataukah hanya pernyataan lahiriyah saja, sedangkan didalam
hati mereka sebenarnya durhaka dan membangkang. Itulah sebabnya Allah
menjanjikan bahwa apabila mereka benar – benar berbuat baik yaitu benar, benar
mentaati tuntutan Allah dan berbakti kepada kedua ibu bapak, maka Allah akan memberikan
ampunan kepada mereka atas perbuatan yang melampaui batas – batas ketentuan –
Nya. Allah Maha Pengampun kepada siapa saja yang mau bertaubat dan kembali
menaati perintah – Nya.
Dalam
ayat ini terdapat janji baik yang ditujukan kepada orang – orang yang hatinya
terbuka untuk berbakti kepada ibu dan bapaknya. Sebaliknya terdapat ancaman
keras yang ditunjukan kepada orang – orang yang meremehkanya, apalagi yang
sengaja mendurhakai kedua ibu bapaknya.
Ayat 26
Pada
ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar memenuhi hak keluarga
dekat, orang – orang miskin dan orang – orang yang dalam perjalanan. Hak yang
harus dipenuhi adalah mempererat tali persaudaraan dan hubungan kasih sayang,
mengunjungi rumahnya dan bersikap sopan santun, serta membantu meringankan
penderitaan yang mereka alami. Sekiranya ada diantara keluarga dekat, ataupun
orang – orang miskin dan orang – orang yang dalam perjalanan itu memerlukan
biaya untuk keperluan hidupnya maka hendaklah diberi bantuan secukupnya untu
memenuhi kebutuhan mereka. Orang – orang yang dalam perjalanan yang patut
diringankan penderitaanya ialah orang yang melakukan perjalanan karena tujuan –
tujuan yang dibenarkan oleh agama. Orang yang demikian keadaanya perlu dibantu
dan ditolong agar bisa mencapai tujuanya.
Di akhir
ayat ini Allah melarang kaum muslimin bersikap boros, yaitu membelanjakan harta
tanpa perhitungan yang cermat sehingga menjadi mubadzir. Larangan ini bertujuan
agar kaum muslimin mengatur pengeluaranya dengan perhitungan yang secermat – cermatnya
agar apa yang dibelanjakan sesuai dengan keperluan dan pendapatan mereka. Kaum
muslimin juga tidak boleh menginfakan harta kepada orang – orang yang tidak
berhak menerimanya, atau memberikan harta melebihi dari yang seharusnya.
Ayat 27
Kemudia
Allah menyatakan bahwa para pemboros adalah saudara setan. Ungkapan serupa ini
biasa dipergunakan oleh orang – orang arab. Orang yang membiasakan diri
mengikuti peraturan suatu kaum atau mengikuti jejak langkahnya, disebut saudara
kaum itu. jadi orang – orang yang memboroskan hartanya berarti orang – orang
yang mengikuti langkah setan . sedangkan yang dimaksud pemboros dalam ayat ini
adalah orang – orang yang menghambur – hamburkan harta bendanya dalam perbuatan
maksiat yang tentunya diluar perintah Allah. Orang – orang yang serupa inilah
yang disebut kawan – kawan setan. Di dunia mereka tergoda oleh setan dan di
akhirat mereka akan dimasukan kedalam neraka Jahanam.
Di
akhir ayat dijelaskan bahwa setan sangat ingkar kepada Tuhanya. Maksudnya
sangat ingkar kepada nikmat Allah yang diberikan kepadanya, dan tidak mau
mensyukurinya, bahkan setan membangkang tidak mau menaati perintah Allah dan
menggoda manusia agar berbuat maksiat.
Al
– Karkhi menjelaskan keadaan orang yang diberi kemuliaan dan harta berlimpah.
Apabila orang itu memanfaatkan harta dari kemuliaan itu diluar batas – batas
yang diridlai Allah, maka dia telah mengingkari nikmat Allah. Orang yang
berbuat seperti itu, baik sifat ataupun perbuatanya dapat disamakan dengan
perbuatan setan.
Ayat
ini diturunkan Allah dalam rangka menjelaskan perbuatan orang – orang jahiliah.
Telah menjadi kebiasaan orang – orang arab menumpuk harta yang mereka peroleh
dari rampasan perang, perampokan dan penyamunan. Harta itu kemudian mereka
gunakan untuk berfoya – foya supaya mendapatkan kemasyhuran. Orang – orang
musyrik Quraisy pun menggunakan harta mereka untuk menghalangi penyebaran agama
islam. Ayat itu turun untuk menyatakan betapa jeleknya usaha mereka.
Ayat 28
Dalam
ayat ini dijelaskan bagaimana sikap yang baik terhadap orang – orang yang
sangat memerlukan pertolongan, sedangkan orang yang dimintai pertolongan itu
tidak mempunyai kemampuan untuk menolong. Apabila hal itu terjadi pada
seseorang, maka hendaklah ia mengatakan kepada orang itu dengan perkataan yang
sopan dan lemah lembut. Jika ia mempunyai kesanggupan di waktu yang lain maka
hendaklah berjanji dengan janji yang bisa dilaksanakan dan memuaskan hati
mereka.
B.
Tafsir Qur’an Surat Al – Luqman ayat 12 – 19
ôs)s9ur $oY÷s?#uä z`»yJø)ä9 spyJõ3Ïtø:$# Èbr& öä3ô©$# ¬! 4 `tBur öà6ô±t $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî ÓÏJym ÇÊËÈ øÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏèt ¢Óo_ç6»t w õ8Îô³è@ «!$$Î/ ( cÎ) x8÷Åe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOÏàtã ÇÊÌÈ $uZø¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷yÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû
Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷yÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) çÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ bÎ)ur #yyg»y_ #n?tã br& Íô±è@ Î1 $tB }§øs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ xsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur @Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ ¢Óo_ç6»t !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5Ayöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù't $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ×Î7yz ÇÊÏÈ ¢Óo_ç6»t ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã Ìs3ZßJø9$# ÷É9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºs ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ wur öÏiè|Áè? £s{ Ĩ$¨Z=Ï9 wur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# w =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøèC 9qãsù ÇÊÑÈ ôÅÁø%$#ur Îû Íô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎÏJptø:$# ÇÊÒÈ
Artinya : “dan orang yang telah kami
berikan hikmah kepada luqman, yaitu :’bersyukurlah kepaada Allah”. Maka
seseungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa tidak
bersyukur, maka sesungguhnya Allah maha Kaya Maha Terpuji (12). Dan ingatlah
ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia menberi pelajaran kepadanya,
wahai anaku, janganlah engkau mempersekutukann Allah. Sesungguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar –benar kedzaliman yang besar (13). Dan kami
perintahkan kepada manusia (agar beruat baik) kepada kedua orag tuanya, ibunya
telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah dan menyapihnya
dalam usia dua tahun. Bersyukutlah kepadaku dan kepada kedua orang tualmu hanya
padamu aku kembali (14). Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku
dengan sesuatu yang tidak engkau mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah
engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Dan
ikutilah jala orang yang kembali kepad – Ku. Kemudian hanya kepdaku tempat kamu
kembali, maka akan aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan
(15).(Luqman berkata) “wahai anaku ! sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat
biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi niscaya Allah akan
memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Teliti (16). Wahai
anaku laksanakanlah salat dan suruhlah (menusia)berbuat yang ma’ruf dan
cegahlah mereka dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu,
sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (17). Dan
janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah
berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang – orang yang
sombong dan membanggakan diri (18). Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan
lunakanlah suaramu, sesungguhnya seburuk – buruk suara adalah suara keledai
(19).
Diambil dari Tafsir jalalain
Ayat 12
(Dan
sesungguhnya telah kami berikan kepada Luqman hikmah) antara lain ilmu agama
dan tepat pembicaraanya, dan kata – kata mutiara yang diucapkanya cukup banyak
serta diriwayatkan secara turun temurun. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi
Rosul, dia selalu memberikan fatwa dan dia sempat mengalami zaman kenabian Nabi
Daud. Sehubungan dengan hal ini Luqman pernah mengatakan “aku tidak pernah
merasa cukup apabila aku telah dicukupkan”. Pada suatu hari pernah ditanyakan
oleh orang kepadanya, “siapakan manusia yang paling buruk itu ?”Luqman menjawab
“dia adalah orang yang tidak memperdulikan orang lain yang melihatnya suatu dia
mengerjakan kejahatan”. (yaitu) dan kami katakan (kepadanya, hendaklah
(bersyukurlah kamu kepada Allah) atas hikmah yang telah dilimpahkan – Nya
kepadamu. (dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia
bersyukur untuk dirinya sendiri) karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada
dirinya sendiri (dan barang siapa yang tidak bersyukur) atas nikmat yang telah
dilimpahkan – Nya kepadanya (maka sesungguhnya Allah maha Kaya) tidak
membutuhkan makhluknya (lagi Maha Terpuji) Maha Terpuji di dalam ciptaan – Nya.
Ayat 13
(Dan)
ingatlah (ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia menasehatinya, “hai
anaku”) lafal bunayya adalah bentuk tashghir yang dimaksud adalah memanggil
anak dengan nama kesayanganya (janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan) Allah itu (adalah benar – benar kelaliman yang besar)
maka anaknya itu bertaubat kepada Allah dan masuk Islam.
Ayat 14
(Dan
kami wasiatkan kepada manusia terhadap kedua orang ibu bapaknya) maksudnya kami
perintahkan manusia untu berbakti kepada kedua orang ibu bapaknya (ibunya telah
mengandungnya) dengan susah payah (dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah)
ia lemah karena mengandung, lemah sewaktu mengeluarkan bayinya, dan lemah
sewaktu mengurus anaknya kala bayi (dan menyapihnya)tidak menyusuinya lagi
(dalam dua tahun. Hendaknya) kamu katakan kepadanya (bersyukurlah kepadaku dan
kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kembalimu) yakni kamu akan
kembali.
Ayat 15
(Dan
jika keduanya meaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu) yakni pengetahuan yang sesuai dengan kenyataanya
(maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia
dengan cara yang ma’ruf) yaitu dengan berbakti kepada keduanya dan
menghubungkan silaturahmi dengan keduanya (dan ikutilah jalan) tuntunan (orang
yang kembali) orang yang bertaubat (kepad – Ku) dengan melakukan ketaatan
(kemudian hanya kepadakulah kembali kalian, maka kuberitakan pada kalian apa
yang telah kalian kerjakan) aku akan membalasnya kepada kalian. Jumlah kalimat
dari ayat 14 sampai dengan akhir 15 yaitu mulai dari lafal wa washshainal
insaana dan seterusnya merupakan jumlah i’tiradh atau kalimat sisipan.
Ayat 16
(Hai
anakku, sesungguhnya) perbuatan yang buruk – buruk itu (jika ada sekalipun
hanya sebesar biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi)
atau di suatu tempat yang paling tersembunyi pada tempat – tempat tersebut
(niscaya Allah akan mrnghisabnya. (sesungguhnya Allah Maha Halus) untuk
mengeluarkanya (lagi Maha Waspada) tentang tempat – Nya.
Ayat 17
(Hai
anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan
cegahlah dari perbuatan yang munkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa
kamu) disebabkan amar ma’ruf dan nahi munkarmu itu. (sesungguhnya yang demikian
itu) hal yang telah disebutkan itu (termasuk hal – hal yang ditekankan untuk
diamalkan) karena mengingat hal – hal tersebut merupakan hal – hal yang wajib.
Ayat 18
(Dan
janganlah kamu memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa’ir
(mukamu dari manusia) janganlah kamu memalingkan dari mereka dengan rasa
takabur (dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh) dengan rasa
sombong. (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang sombong) yakni
orang – orang yang sombong di dalam berjalan (lagi membanggakan diri) atas manusia.
Ayat 19
(Dan
sederhanalah kamu dalam berjalan) ambilah sikap pertengahan dalam berjalan,
yaitu antara pelan – pelan dan berjalan cepat, kamu harus tenang dan anggun
(dan lunakanlah) rendahkanlah (suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruk suara)
suara yang paling jelek itu (ialah suara keledai) yakni pada permulaanya adalah
ringkikan kemudian disusul oleh lengkingan – lengkingan yang sangat tidak enak
didengar.
C.
Tafsir Qur’an Surat An – Nisa ayat 9
|·÷uø9ur úïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz ZpÍhè $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøn=tæ (#qà)Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´Ïy ÇÒÈ
Artinya : “dan hendaklah takut (kepada Allah) orang – orang yang
sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang
mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya, oleh sebab itu, hendaklah mereka
bertakwa kepada Allah dan hendaklah merekabertkwa kepada Allah dan hendaklah
mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”
Diambil dari Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 9
Kita hendaknya takut
apabila meninggalkan keturunan yang lemah yang tak memiliki apa – apa, sehingga
mereka tak bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan terlunta – lunta.sebagian
pendapat mengatakan bahwa ayat ini turun atas orang yang berada di samping orang yang akan meningggal,
ketika orang yang akan meninggal tadi menulis wasiat untuk keluarganya.
Hendajnya dia bertakwa kepada Allah dengan menuntun orang yang akan meninggal
agar benar dalam memberi wasiat. Jangan sampai dia menggunakan kesempatan ini
untuk mendapatkan harta yang seharusnya milik keturunan orang yang akan
meningggal. Sebagaimana dia tidak ingin anak turun nya terlunta-lunta, dia
harus menjaga agar anak turun orang yang meninggal tadi tidak terlunta-lunta.
Adapula yang mengatakan
bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang yang mengurus harta – harta anak
yatim. Jadi sebagaimana orang yang mengurus harta anak yatim itu tk ingin anak
turunanya lemah dan terlunta – lunta, maka dia juga hendaknya memperlakukan
anak – anak yatim yang dia urusi dengan baik, sehingga kehidupan masa depan
mereka lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar