Kamis, 06 Oktober 2016

pendidikan anak




A.  Tafsir Qur’an Surat Al – Isra ayat 23 – 28

* 4Ó|Ós%ur y7/u žwr& (#ÿrßç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4 $¨BÎ) £`tóè=ö7tƒ x8yYÏã uŽy9Å6ø9$# !$yJèdßtnr& ÷rr& $yJèdŸxÏ. Ÿxsù @à)s? !$yJçl°; 7e$é& Ÿwur $yJèdöpk÷]s? @è%ur $yJßg©9 Zwöqs% $VJƒÌŸ2 ÇËÌÈ   ôÙÏÿ÷z$#ur $yJßgs9 yy$uZy_ ÉeA%!$# z`ÏB ÏpyJôm§9$# @è%ur Éb>§ $yJßg÷Hxqö$# $yJx. ÎT$u­/u #ZŽÉó|¹ ÇËÍÈ   ö/ä3š/§ ÞOn=÷ær& $yJÎ/ Îû ö/ä3ÅqàÿçR 4 bÎ) (#qçRqä3s? tûüÅsÎ=»|¹ ¼çm¯RÎ*sù tb%Ÿ2 šúüÎ/º¨rF|Ï9 #Yqàÿxî ÇËÎÈ   ÏN#uäur #sŒ 4n1öà)ø9$# ¼çm¤)ym tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# Ÿwur öÉjt7è? #·ƒÉö7s? ÇËÏÈ   ¨bÎ) tûïÍÉjt6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Yqàÿx. ÇËÐÈ   $¨BÎ)ur £`|Ê̍÷èè? ãNåk÷]tã uä!$tóÏGö/$# 7puH÷qu `ÏiB y7Îi/¢ $ydqã_ös? @à)sù öNçl°; Zwöqs% #YqÝ¡øŠ¨B ÇËÑÈ     
Artinya : “dan tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua – duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali – kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataa “ah” dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (23). Dan rendahlakanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah “wahai tuhanku ! sayangilah keduanya sebagimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil (24). Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang yang baik, maka sungguh Dia Maha Pengampun kepada orang yang bertaubat (25). Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat juga kepada orang miskin dan orang yang dlam perjalanan dan janganlah kamu menghambur – hamburkan hartamu secara boros (26). Sesungguhnya orang – orang yang pemcorors itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhanya (27). Dan jika engkau berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu Yang engkau harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang lemah lembut (28).




Diambil dari Tafsir Kementrian Agama
Ayat 23
            Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada seluruh manusia agar mereka memperhatikan beberapa faktor yang terkait dengan keimanan. Faktor – faktor itu adalah :
·         Agar manusia tidak menyembah tuhan selain Allah. Termasuk pada pengertian menyembah tuhan selain Allah ialah mempercayai adanya kekuatan lain yang dapat memperngaruhi jiwa dan raga selain yang datang dari Allah. Semua benda yang ada , yang terlihat ataupun tidak, adalah mahluk Allah. Oleh sebab itu, yang berhak mendapat penghormatan tertinggi hanyalah Zat yang menciptakan kepada seluruh makhluk – Nya. Maka apabila ada manusia yang memuja benda ataupun kekuatan ghaib selain Allah, berarti ia telah sesat, karena semua benda – benda itu adalah makhluk Allah yang tak berkuasa memberikan manfaat dan tak berdaya untuk menolak kemudharatan, sehingga tak berhak disembah.
·         Kedua, agar manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapak mereka. Penyebutan perintah ini sesudah perintah beribadah hanya kepada Allah, mempunyai maksud agar manusia memahami betapa pentingnya berbuat baik kepada ibu bapak. Juga bermaksud agar mereka mensyukuri kebaikan kedua ibu bapak, betapa beratnya penderitaan yang telah mereka rasakan, baik pada saat ibu melahirkan maupun ketika kesulitan dalam mencari nafkah, mengasuh dan mendidik anak – anak dengan penuh kasih sayang. Maka pantaslah apabila berbuat baik kepada ibu bapak dijadikan sebagai kewajiban yang paling penting diantara kewajiban – kewajiban yang lain dan diletakan Allah dalam urutan kedua setelah kewajiban manusia beribadah kepada – Nya.
            Allah memerintahkan berbuat baik kepada orang tua dengan alasan berikut :
a.       Kasih sayang dan usaha ibu bapak telah dicurahkan anak – anaknya, agar mereka menjadi anak – anak yang sholeh dan terhindar dari jalan yang sesat. Maka sepantasnyalah apabila kasih sayang yang tiada tiada taranya itu, dan usaha yang tak mengenal susah payah itu mendapat balasan dari anak – anak mereka dengan memperlakukan mereka dengan baik dan mensyukuri jasa baik mereka.
b.      Anak – anak adalah belahan jiwa dari kedua ibu dan bapak.
c.       Sejak masih bayi hingga dewasa, pertumbuhan dan pendidikan anak – anak menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya. Maka seharusnya anak – anak menghormati dan berbuat baik kepada orang – tuanya.
            Secara singkat dapat dikatakan bahwa nikmat yang paling diterima oleh manusia adalah nikmat Allah, sesudah itu nikmat yang diterima dari kedua orang tua. Mereka juga penyebab kedua adanya anak, sedangkan Allah adalah penyebab utama (hakiki), itulah sebabnya Allah meletakan kewajiban berbuat baik kepada ibu dan bapak pada urutan kedua setelah kewajiban menusia beribadah hanya kepada Allah.
            Sesudah itu, Allah menetapkan bahwa apabila salah seorang diantara kedua ibu baoak atau keduanya telah berusia lanjut, sehingga mengalami kelemahan jasmani dan tak mungkin lagi berusaha mencari nafkah, mereka harus hidup bersama anak – anaknya agar mendapatkan nafkah dan perlindungan. Menjadi kewajiban bagi anak – anak untuk memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, serta menghormati mereka sebagai rasa syukur terhadap nikmat yang pernah diterima dari keduanya.
            Dalam ayat ini terdapat beberapa ketentuan dan sopan santun yang harus diperhatikan anak terhadap ibu bapaknya, antara lain :
a.       seorang anak tidak boleh mengucapkan kata kotor dan kasar meskipun hanya berupa kata “ah” kepada kedua ibu bapaknya, krena sikap atau perbuatan mereka yang kurang disenangi. Keadaan seperti itu harusnya disikapi dengan sabar, sebagimana perlakuan ibu dan bapak ketika merawat dan mendidiknya diwaktu masih kecil.
b.      Seorang anak tidak boleh menghardik atau membentak kedua ibu bapaknya, sebab bentakan itu akan melukai perasaan keduanya. Menghardik keduanya adalah mengeluarkan kata – kata kasar pada saat si anak menolak atau menyalahkan pendapat mereka sebab tidak sesuai dengan pendapatnya. Larangan menghardik pada ayat ini adalah sebagai penguat dari larangan mengatakan “ah”yang biasanya diucapkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya, karena pada saat itu ia tidak menyetujui pendapat mereka.
c.       Hendaklah anak mengucapkan kata – kata yang mulia kepada ibu dan bapak. Kata – kata yang mulia adalah kata – kata yang baik dan diucapkan dengan penuh hormat yang menggambarkan adab dan sopan santun dan penghargaan penuh terhapadap orang lain. Oleh karena itu, jika seorang anak berbeda pendapat dengan kedua ibu bapaknya, hendaklah ia tetap menunjukan sikap yang sopan dan penuh rasa hormat.
Ayat 24
            Kemudian Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar bersikap rendak hati dan penuh kasih sayang kepada kedua orang tua. Yang dimaksud dengan sikap rendah hati dalam ayat ini adalah menaati apa yang mereka perintahkan, selama perintah itu tidak bertentangan dengan ketentuan – ketentuan agama. Taan anak kepada orang tua merupakan tanda kasih sayang dan hormatnya kepada mereka, terutama pada saat keduanya sangat memerlukan pertolongan anaknya.
            Ditegaskan bahwa sikap rendah hati itu haruslah dilakukan dengan penuh kasih sayang, tidak dibuat – buat untuk sekedar menutupi celaan atau menghindari rasa malu pada orang lain.sikap rendah hati itu hendaknya betul – betul dilakukan karena kesadaran yang timbul dari hati nurani.
            Diakhir ayat Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk mendoakan kedua ibu bapak mereka agar diberi limpahan kasih sayang Allah sebagai imbalan dari kasih sayang dalam mendidik mereka ketika masih kanak – kanak. Berbakti kepada kedua orang tua tidak cukup dilakukan pada saat mereka masih hidup, akan tetapi terus tetap berlanjut meskipun keduanya telah meninggal dunia.
Ayat 25
            Allah memperingatkan kaum muslimin agar benar – benar memperhatikan urusan berbakti kepada kedua ibu bapak dan tidak menganggapnya sebagai urusan yang remeh. Dijelaskan bahwa Allah Maha Mengetahua apa yang tergerak dalam hati mereka, apakah benar – benar berbakti kepada ibu dan bapak dengan rasa kasih sayang dan penuh kesadaran, ataukah hanya pernyataan lahiriyah saja, sedangkan didalam hati mereka sebenarnya durhaka dan membangkang. Itulah sebabnya Allah menjanjikan bahwa apabila mereka benar – benar berbuat baik yaitu benar, benar mentaati tuntutan Allah dan berbakti kepada kedua ibu bapak, maka Allah akan memberikan ampunan kepada mereka atas perbuatan yang melampaui batas – batas ketentuan – Nya. Allah Maha Pengampun kepada siapa saja yang mau bertaubat dan kembali menaati perintah – Nya.
            Dalam ayat ini terdapat janji baik yang ditujukan kepada orang – orang yang hatinya terbuka untuk berbakti kepada ibu dan bapaknya. Sebaliknya terdapat ancaman keras yang ditunjukan kepada orang – orang yang meremehkanya, apalagi yang sengaja mendurhakai kedua ibu bapaknya.
Ayat 26
            Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslimin agar memenuhi hak keluarga dekat, orang – orang miskin dan orang – orang yang dalam perjalanan. Hak yang harus dipenuhi adalah mempererat tali persaudaraan dan hubungan kasih sayang, mengunjungi rumahnya dan bersikap sopan santun, serta membantu meringankan penderitaan yang mereka alami. Sekiranya ada diantara keluarga dekat, ataupun orang – orang miskin dan orang – orang yang dalam perjalanan itu memerlukan biaya untuk keperluan hidupnya maka hendaklah diberi bantuan secukupnya untu memenuhi kebutuhan mereka. Orang – orang yang dalam perjalanan yang patut diringankan penderitaanya ialah orang yang melakukan perjalanan karena tujuan – tujuan yang dibenarkan oleh agama. Orang yang demikian keadaanya perlu dibantu dan ditolong agar bisa mencapai tujuanya.
            Di akhir ayat ini Allah melarang kaum muslimin bersikap boros, yaitu membelanjakan harta tanpa perhitungan yang cermat sehingga menjadi mubadzir. Larangan ini bertujuan agar kaum muslimin mengatur pengeluaranya dengan perhitungan yang secermat – cermatnya agar apa yang dibelanjakan sesuai dengan keperluan dan pendapatan mereka. Kaum muslimin juga tidak boleh menginfakan harta kepada orang – orang yang tidak berhak menerimanya, atau memberikan harta melebihi dari yang seharusnya.
Ayat 27
            Kemudia Allah menyatakan bahwa para pemboros adalah saudara setan. Ungkapan serupa ini biasa dipergunakan oleh orang – orang arab. Orang yang membiasakan diri mengikuti peraturan suatu kaum atau mengikuti jejak langkahnya, disebut saudara kaum itu. jadi orang – orang yang memboroskan hartanya berarti orang – orang yang mengikuti langkah setan . sedangkan yang dimaksud pemboros dalam ayat ini adalah orang – orang yang menghambur – hamburkan harta bendanya dalam perbuatan maksiat yang tentunya diluar perintah Allah. Orang – orang yang serupa inilah yang disebut kawan – kawan setan. Di dunia mereka tergoda oleh setan dan di akhirat mereka akan dimasukan kedalam neraka Jahanam.
            Di akhir ayat dijelaskan bahwa setan sangat ingkar kepada Tuhanya. Maksudnya sangat ingkar kepada nikmat Allah yang diberikan kepadanya, dan tidak mau mensyukurinya, bahkan setan membangkang tidak mau menaati perintah Allah dan menggoda manusia agar berbuat maksiat.
            Al – Karkhi menjelaskan keadaan orang yang diberi kemuliaan dan harta berlimpah. Apabila orang itu memanfaatkan harta dari kemuliaan itu diluar batas – batas yang diridlai Allah, maka dia telah mengingkari nikmat Allah. Orang yang berbuat seperti itu, baik sifat ataupun perbuatanya dapat disamakan dengan perbuatan setan.
            Ayat ini diturunkan Allah dalam rangka menjelaskan perbuatan orang – orang jahiliah. Telah menjadi kebiasaan orang – orang arab menumpuk harta yang mereka peroleh dari rampasan perang, perampokan dan penyamunan. Harta itu kemudian mereka gunakan untuk berfoya – foya supaya mendapatkan kemasyhuran. Orang – orang musyrik Quraisy pun menggunakan harta mereka untuk menghalangi penyebaran agama islam. Ayat itu turun untuk menyatakan betapa jeleknya usaha mereka.
Ayat 28
            Dalam ayat ini dijelaskan bagaimana sikap yang baik terhadap orang – orang yang sangat memerlukan pertolongan, sedangkan orang yang dimintai pertolongan itu tidak mempunyai kemampuan untuk menolong. Apabila hal itu terjadi pada seseorang, maka hendaklah ia mengatakan kepada orang itu dengan perkataan yang sopan dan lemah lembut. Jika ia mempunyai kesanggupan di waktu yang lain maka hendaklah berjanji dengan janji yang bisa dilaksanakan dan memuaskan hati mereka.






B.     Tafsir Qur’an Surat Al – Luqman ayat 12 – 19
ôs)s9ur $oY÷s?#uä z`»yJø)ä9 spyJõ3Ïtø:$# Èbr& öä3ô©$# ¬! 4 `tBur öà6ô±tƒ $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù ©!$# ;ÓÍ_xî ÓÏJym ÇÊËÈ   øŒÎ)ur tA$s% ß`»yJø)ä9 ¾ÏmÏZö/ew uqèdur ¼çmÝàÏètƒ ¢Óo_ç6»tƒ Ÿw õ8ÎŽô³è@ «!$$Î/ ( žcÎ) x8÷ŽÅe³9$# íOù=Ýàs9 ÒOŠÏàtã ÇÊÌÈ   $uZøŠ¢¹urur z`»|¡SM}$# Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/ çm÷Fn=uHxq ¼çmBé& $·Z÷dur 4n?tã 9`÷dur ¼çmè=»|ÁÏùur Îû
 Èû÷ütB%tæ Èbr& öà6ô©$# Í< y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur ¥n<Î) 玍ÅÁyJø9$# ÇÊÍÈ   bÎ)ur š#yyg»y_ #n?tã br& šÍô±è@ Î1 $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ ÖNù=Ïæ Ÿxsù $yJßg÷èÏÜè? ( $yJßgö6Ïm$|¹ur Îû $u÷R9$# $]ùrã÷ètB ( ôìÎ7¨?$#ur Ÿ@Î6y ô`tB z>$tRr& ¥n<Î) 4 ¢OèO ¥n<Î) öNä3ãèÅ_ötB Nà6ã¥Îm;tRé'sù $yJÎ/ óOçFZä. tbqè=yJ÷ès? ÇÊÎÈ   ¢Óo_ç6»tƒ !$pk¨XÎ) bÎ) à7s? tA$s)÷WÏB 7p¬6ym ô`ÏiB 5AyŠöyz `ä3tFsù Îû >ot÷|¹ ÷rr& Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÷rr& Îû ÇÚöF{$# ÏNù'tƒ $pkÍ5 ª!$# 4 ¨bÎ) ©!$# ì#ÏÜs9 ׎Î7yz ÇÊÏÈ   ¢Óo_ç6»tƒ ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# öãBù&ur Å$rã÷èyJø9$$Î/ tm÷R$#ur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# ÷ŽÉ9ô¹$#ur 4n?tã !$tB y7t/$|¹r& ( ¨bÎ) y7Ï9ºsŒ ô`ÏB ÇP÷tã ÍqãBW{$# ÇÊÐÈ   Ÿwur öÏiè|Áè? š£s{ Ĩ$¨Z=Ï9 Ÿwur Ä·ôJs? Îû ÇÚöF{$# $·mttB ( ¨bÎ) ©!$# Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC 9qãsù ÇÊÑÈ   ôÅÁø%$#ur Îû šÍô±tB ôÙàÒøî$#ur `ÏB y7Ï?öq|¹ 4 ¨bÎ) ts3Rr& ÏNºuqô¹F{$# ßNöq|Ás9 ÎŽÏJptø:$# ÇÊÒÈ  
Artinya : “dan orang yang telah kami berikan hikmah kepada luqman, yaitu :’bersyukurlah kepaada Allah”. Maka seseungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri. Dan barang siapa tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah maha Kaya Maha Terpuji (12). Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia menberi pelajaran kepadanya, wahai anaku, janganlah engkau mempersekutukann Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar –benar kedzaliman yang besar (13). Dan kami perintahkan kepada manusia (agar beruat baik) kepada kedua orag tuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukutlah kepadaku dan kepada kedua orang tualmu hanya padamu aku kembali (14). Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak engkau mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik. Dan ikutilah jala orang yang kembali kepad – Ku. Kemudian hanya kepdaku tempat kamu kembali, maka akan aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (15).(Luqman berkata) “wahai anaku ! sungguh jika ada (suatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Teliti (16). Wahai anaku laksanakanlah salat dan suruhlah (menusia)berbuat yang ma’ruf dan cegahlah mereka dari yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting (17). Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh Allah tidak menyukai orang – orang yang sombong dan membanggakan diri (18). Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakanlah suaramu, sesungguhnya seburuk – buruk suara adalah suara keledai (19).

Diambil dari Tafsir jalalain
Ayat 12
            (Dan sesungguhnya telah kami berikan kepada Luqman hikmah) antara lain ilmu agama dan tepat pembicaraanya, dan kata – kata mutiara yang diucapkanya cukup banyak serta diriwayatkan secara turun temurun. Sebelum Nabi Daud diangkat menjadi Rosul, dia selalu memberikan fatwa dan dia sempat mengalami zaman kenabian Nabi Daud. Sehubungan dengan hal ini Luqman pernah mengatakan “aku tidak pernah merasa cukup apabila aku telah dicukupkan”. Pada suatu hari pernah ditanyakan oleh orang kepadanya, “siapakan manusia yang paling buruk itu ?”Luqman menjawab “dia adalah orang yang tidak memperdulikan orang lain yang melihatnya suatu dia mengerjakan kejahatan”. (yaitu) dan kami katakan (kepadanya, hendaklah (bersyukurlah kamu kepada Allah) atas hikmah yang telah dilimpahkan – Nya kepadamu. (dan barang siapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri) karena pahala bersyukurnya itu kembali kepada dirinya sendiri (dan barang siapa yang tidak bersyukur) atas nikmat yang telah dilimpahkan – Nya kepadanya (maka sesungguhnya Allah maha Kaya) tidak membutuhkan makhluknya (lagi Maha Terpuji) Maha Terpuji di dalam ciptaan – Nya.
Ayat 13
            (Dan) ingatlah (ketika Luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia menasehatinya, “hai anaku”) lafal bunayya adalah bentuk tashghir yang dimaksud adalah memanggil anak dengan nama kesayanganya (janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan) Allah itu (adalah benar – benar kelaliman yang besar) maka anaknya itu bertaubat kepada Allah dan masuk Islam.
Ayat 14
            (Dan kami wasiatkan kepada manusia terhadap kedua orang ibu bapaknya) maksudnya kami perintahkan manusia untu berbakti kepada kedua orang ibu bapaknya (ibunya telah mengandungnya) dengan susah payah (dalam keadaan lemah yang bertambah – tambah) ia lemah karena mengandung, lemah sewaktu mengeluarkan bayinya, dan lemah sewaktu mengurus anaknya kala bayi (dan menyapihnya)tidak menyusuinya lagi (dalam dua tahun. Hendaknya) kamu katakan kepadanya (bersyukurlah kepadaku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Akulah kembalimu) yakni kamu akan kembali.
Ayat 15
            (Dan jika keduanya meaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu) yakni pengetahuan yang sesuai dengan kenyataanya (maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan cara yang ma’ruf) yaitu dengan berbakti kepada keduanya dan menghubungkan silaturahmi dengan keduanya (dan ikutilah jalan) tuntunan (orang yang kembali) orang yang bertaubat (kepad – Ku) dengan melakukan ketaatan (kemudian hanya kepadakulah kembali kalian, maka kuberitakan pada kalian apa yang telah kalian kerjakan) aku akan membalasnya kepada kalian. Jumlah kalimat dari ayat 14 sampai dengan akhir 15 yaitu mulai dari lafal wa washshainal insaana dan seterusnya merupakan jumlah i’tiradh atau kalimat sisipan.
Ayat 16
            (Hai anakku, sesungguhnya) perbuatan yang buruk – buruk itu (jika ada sekalipun hanya sebesar biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi) atau di suatu tempat yang paling tersembunyi pada tempat – tempat tersebut (niscaya Allah akan mrnghisabnya. (sesungguhnya Allah Maha Halus) untuk mengeluarkanya (lagi Maha Waspada) tentang tempat – Nya.

Ayat 17
            (Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah dari perbuatan yang munkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu) disebabkan amar ma’ruf dan nahi munkarmu itu. (sesungguhnya yang demikian itu) hal yang telah disebutkan itu (termasuk hal – hal yang ditekankan untuk diamalkan) karena mengingat hal – hal tersebut merupakan  hal – hal yang wajib.
Ayat 18
            (Dan janganlah kamu memalingkan) menurut qiraat yang lain dibaca wa laa tushaa’ir (mukamu dari manusia) janganlah kamu memalingkan dari mereka dengan rasa takabur (dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh) dengan rasa sombong. (sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang sombong) yakni orang – orang yang sombong di dalam berjalan (lagi membanggakan diri) atas manusia.
Ayat 19
            (Dan sederhanalah kamu dalam berjalan) ambilah sikap pertengahan dalam berjalan, yaitu antara pelan – pelan dan berjalan cepat, kamu harus tenang dan anggun (dan lunakanlah) rendahkanlah (suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruk suara) suara yang paling jelek itu (ialah suara keledai) yakni pada permulaanya adalah ringkikan kemudian disusul oleh lengkingan – lengkingan yang sangat tidak enak didengar.

C.     Tafsir Qur’an Surat An – Nisa ayat 9

|·÷uø9ur šúïÏ%©!$# öqs9 (#qä.ts? ô`ÏB óOÎgÏÿù=yz Zp­ƒÍhèŒ $¸ÿ»yèÅÊ (#qèù%s{ öNÎgøŠn=tæ (#qà)­Guù=sù ©!$# (#qä9qà)uø9ur Zwöqs% #´ƒÏy ÇÒÈ  
Artinya : “dan hendaklah takut (kepada Allah) orang – orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya, oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah merekabertkwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”
Diambil dari Tafsir Ibnu Katsir
Ayat 9
            Kita hendaknya takut apabila meninggalkan keturunan yang lemah yang tak memiliki apa – apa, sehingga mereka tak bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri dan terlunta – lunta.sebagian pendapat mengatakan bahwa ayat ini turun atas orang yang  berada di samping orang yang akan meningggal, ketika orang yang akan meninggal tadi menulis wasiat untuk keluarganya. Hendajnya dia bertakwa kepada Allah dengan menuntun orang yang akan meninggal agar benar dalam memberi wasiat. Jangan sampai dia menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan harta yang seharusnya milik keturunan orang yang akan meningggal. Sebagaimana dia tidak ingin anak turun nya terlunta-lunta, dia harus menjaga agar anak turun orang yang meninggal tadi tidak terlunta-lunta.
            Adapula yang mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan orang yang mengurus harta – harta anak yatim. Jadi sebagaimana orang yang mengurus harta anak yatim itu tk ingin anak turunanya lemah dan terlunta – lunta, maka dia juga hendaknya memperlakukan anak – anak yatim yang dia urusi dengan baik, sehingga kehidupan masa depan mereka lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar