Kamis, 06 Oktober 2016

PENDIDIKAN INTELEKTUAL (tafsir tarbawi)



PENDIDIKAN INTELEKTUAL
A.     QS. Al – Isra’ : 36
Ÿwur ß#ø)s? $tB }§øŠs9 y7s9 ¾ÏmÎ/ íOù=Ïæ 4 ¨bÎ) yìôJ¡¡9$# uŽ|Çt7ø9$#ur yŠ#xsàÿø9$#ur @ä. y7Í´¯»s9'ré& tb%x. çm÷Ytã Zwqä«ó¡tB ÇÌÏÈ 
Artinya: ”dan janganlah kamu ikuti sesuatu yang kamu tidak ketahui. Karena pendengaran,penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabany”.
Tafsir Ibnu Katsir
                Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengata­kan bahwa makna la taqfu ialah la taqfu (janganlah kamu mengatakan).
Menurut Al-Aufi, janganlah kamu menuduh seseorang dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuan bagimu tentangnya.
            Muhammad ibnul Hanafiyah mengatakan, makna yang dimaksud ialah kesaksian palsu. Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah janganlah kamu mengatakan bahwa kamu melihatnya, padahal kamu tidak melihatnya; atau kamu katakan bahwa kamu mendengarnya, padahal kamu tidak mendengarnya; atau kamu katakan bahwa kamu mengetahuinya, padahal kamu tidak mengetahui. Karena sesungguhnya Allah kelak akan meminta pertanggungjawaban darimu tentang hal tersebut secara keseluruhan.
            Kesimpulan pendapat mereka dapat dikatakan bahwa Allah Swt. melarang mengatakan sesuatu tanpa pengetahuan, bahkan melarang pula mengatakan sesuatu berdasarkan zan (dugaan) yang bersumber dari sangkaan dan ilusi.
Dalam ayat lain disebutkan oleh firman-Nya:
{اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ}
jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. (Al-Hujurat: 12)
            Di dalam hadis disebutkan seperti berikut:
"إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ؛ فَإِنَّ الظَّنَّ أكذبُ الْحَدِيثِ"
Jauhilah oleh kalian prasangka. Karena sesungguhnya pra­sangka itu adalah pembicaraan yang paling dusta.
            Di dalam kitab Sunnah Imam Abu Daud di sebutkan hadis berikut:
"بِئْسَ مطيةُ الرَّجُلِ: زَعَمُوا"
Seburuk-buruk sumber yang dijadikan pegangan oleh sesorang ialah yang berdasarkan prasangka.

            Di dalam hadis yang lain disebutkan:
"إِنَّ أَفَرَى الفِرَى أَنْ يُرِي عَيْنَيْهِ مَا لَمْ تَرَيَا"
Sesungguhnya kedustaan yang paling berat ialah bila sese­orang mengemukakan kesaksian terhadap hal yang tidak di­saksikannya.
            Di dalam hadis sahih disebutkan:
"مَنْ تَحَلَّمَ حُلْمًا كُلف يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعيرتين، وَلَيْسَ بِعَاقِدٍ
Barang siapa yang berpura-pura melihat sesuatu dalam mimpi­nya, maka kelak di hari kiamat ia akan dibebani untuk memintal dua biji buah gandum, padahal dia tidak dapat melakukannya.

*******************

Firman Allah Swt.:
{كُلُّ أُولَئِكَ}
semuanya itu. (Al-Isra: 36)
            Maksudnya semua anggota tubuh, antara lain pendengaran, penglihatan, dan hati,
{كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا}
akan dimintai pertanggungjawabannya. (Al-Isra: 36)
            Seseorang hamba akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dilakukan oleh anggota-anggota tubuhnya itu pada hari kiamat, dan semua anggota tubuhnya akan ditanyai tentang apa yang dilakukan oleh pemilik­nya. Pemakaian kata ula-ika yang di tujukan kepada pendengaran, pengli­hatan, dan hali diperbolehkan dalam bahasa Arab.

B.     QS. Yunus : 35 – 36
ö@è% ö@yd `ÏB /ä3ͬ!%x.uŽà° `¨B üÏöku n<Î) Èd,ysø9$# 4 È@è% ª!$# Ïöku Èd,ysù=Ï9 3 `yJsùr& üÏöku n<Î) Èd,ysø9$# ,ymr& cr& yìt6­Gム`¨Br& žw üÏdÍku HwÎ) br& 3yökç ( $yJsù ö/ä3s9 y#øx. šcqßJä3øtrB ÇÌÎÈ   $tBur ßìÎ7­Gtƒ óOèdçŽsYø.r& žwÎ) $Zsß 4 ¨bÎ) £`©à9$# Ÿw ÓÍ_øóムz`ÏB Èd,ptø:$# $º«øx© 4 ¨bÎ) ©!$# 7LìÎ=tæ $yJÎ/ tbqè=yèøÿtƒ ÇÌÏÈ
Artinya: ” Katakanlah, "Apakah di antara sekutu-sekutu kalian ada yang menunjukkan kepada kebenaran?” Katakanlah, "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran." Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali (bila) diberi petunjuk? Mengapa kalian (berbuat demikian)? Bagaimanakah kalian mengambil keputusan? Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali prasangka saja. Sesungguhnya per­sangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan

                                                            Tafsir Jalalain
Ayat 35
              (Katakanlah, "Apakah di antara sekutu-sekutu kalian ada yang menunjukkan kepada kebenaran?) dengan menegakan hujah – hujah dan memberikan petunjuk. ( Katakanlah, "Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran". Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu) yang dimaksud adalah Allah ( lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk )lafal yahiddiy asalnya yahtadi;artinya mendapat petunjuk.( kecuali (bila) diberi petunjuk?) lebih berhak untuk diikuti? Kata tanya disini mengandung makna mengukuhkan dan sekaligus sebagai celaan, makna yang dimaksud ialah bahwa yang pertamalah yang lebih berhak untuk diikuti. (Mengapa kalian berbuat demikian? Bagaimanakah kalian mengambil keputusan? ) dengan keputusan yang rusak ini, yaitu mengikuti orang – orang yang tidak berhak diikuti.
Ayat 36
              (Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti) didalam penyembahan mereka terhadap berhala – berhala (kecuali prasangka saja) dalam hal ini mereka hanya menirukan apa yang telah diperbuat oleh nenek moyang mereka.(Sesungguhnya per­sangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk mencapai kebenaran) yang membutuhkan ilmu pengetahuan tentangnya . (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan) oleh sebab itu maka Dia membalas semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan itu.

C.     QS. Yusuf : 22
$£Js9ur x÷n=t/ ÿ¼çn£ä©r& çm»oY÷s?#uä $VJõ3ãm $VJù=Ïãur 4 y7Ï9ºxx.ur ÌøgwU tûüÏZÅ¡ósßJø9$# ÇËËÈ  
Artinya: “dan ketika Dia telah cukup dewasa Kami berikan kepadanya kekuasaan dan ilmu. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang – orang yang berbuat baik”.

Tafsir Kementrian Agama
            Dikala yusuf mulai dewasa, Allah memberikan pula kepadanya kecerdasan dan kebijaksanaan sehingga ia mampu memberikan pendapat dan pikiranya dalam berbagai macam masalah yang dihadapi. Allah juga memberikan kepadanya ilmu, meskipun ia tidak belajar. Ilmu yang didapat tanpa belajar ini dinamai ilmu ‘ladunni’ karena ia semata – mata ilham dan karunia dari Allah.
            Demikianlah Allah memberi balasan pada Yusuf yang tidak pernah mengotori dirinya dengan perbuatan kejidan jahat, selalu menjaga kebersihan hati nuraninya, selalu bersifat sabar dan tawakal atas musibah dan bahaya yang menimpanya. Demikianlah Allah membalas setia insan yang berbuat baik.
*****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar