MATERI PENDIDIKAN
1.
Qur’an Surat Al – Ghasiyah ; 17 – 20
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى
السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى
الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
Artinya : “Maka
apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana diciptakan, dan langit
bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi
bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu
hanyalah orang yang memberi peringatan.
Tafsir Ibnu Katsir
{أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإبِلِ كَيْفَ
خُلِقَتْ}
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia
diciptakan? (Al-Ghasyiyah: 17)
Karena sesungguhnya unta itu hewan
yang menakjubkan dan bentuknya aneh. Ia sangat kuat dan keras, tetapi sekalipun
demikian ia jinak untuk angkutan yang berat dan tunduk pada penuntun
(pengendali) yang lemah. Dagingnya dapat dimakan, bulunya dapat dimanfaatkan,
dan air susunya dapat diminum. Disebutkan unta secara khusus karena kebanyakan
orang-orang Arab memakai unta sebagai hewan kendaraan.
Disebutkan bahwa Syuraih
Al-Qadi pernah mengatakan, "Marilah kita keluar untuk melihat unta
bagaimana ia diciptakan, dan bagaimana langit ditinggikan. Yakni bagaimana
Allah Swt. meninggikannya dari bumi dengan ketinggian yang tak terperikan
ini," sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى
السَّماءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْناها وَزَيَّنَّاها وَما لَها مِنْ فُرُوجٍ
Maka apakah mereka tidak
melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan
menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun? (Qaf:
6)
Adapun firman Allah Swt:
{وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ}
Dan gunung-gunung bagaimana
ia ditegakkan? (Al-Ghasyiyah: 19)
Yakni dijadikan tegak dan
berdiri kokoh untuk menjadi penyeimbang agar bumi diam dan tidak mengguncangkan
para penduduknya, kemudian Allah Swt. menjadikan padanya banyak manfaat dan
bahan-bahan mineral yang terkandung di dalamnya.
{وَإِلَى الأرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ}
Dan bumi bagaimana ia
dihamparkan? (Al-Ghasyiyah: 20)
Yaitu dihamparkan, digelarkan,
dan dijadikan sebagai tempat yang layak untuk dihuni. Dan seorang Badui
(kampung) dengan kecerdikan akalnya dapat menyimpulkan melalui pemandangan yang
disaksikan oleh mata kepalanya sendiri, yaitu unta kendaraannya, langit yang
ada di atasnya, gunung-gunung yang terpampang di hadapannya, dan bumi yang
menjadi tempat berpijaknya, bahwa terciptanya semuanya itu berkat kekuasaan
Penciptanya. Dia tiada lain adalah Tuhan Yang Mahabesar, Yang Maha Pencipta,
Yang Menguasai, dan Yang mengatur semuanya. Dan bahwa tiada Tuhan yang berhak
disembah selain Dia.
2.
Qur’an Surat An – Nisa ; 36 – 37
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا
تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ
وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ
اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا (36) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ
وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتاهُمُ اللَّهُ مِنْ
فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنا لِلْكافِرِينَ عَذاباً مُهِيناً (37)
Artinya : “Sembahlah Allah dan janganlah kalian
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang
ibu bapak, karib kerabat. anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang
kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri. (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang
lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya
kepada mereka.
Tafsir Jalalain
Ayat 36
(sembahlah olehmu Allah) dengan
mengesakan – Nya (dan janganlah kamu mempersekutukan – Nya dengan sesuatu
apapun juga). (dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak) dengan berbakti dan
bersikap lemah lembut (kepada karib kerabat) atau kaum keluarga (anak – anak
yatim, orang – orang miskin, tetangga yang karib) artinya yang dekat kepadamu
dalam bertetangga atau dalam pertalian darah (dan kepada tetangga yang jauh)
artinya yang jauh dari padamu dalam kehidupan bertetangga atau dalam pertalian
darah (dan teman sejawat) teman seperjalanan atau satu profesi bahkan ada pula
yang mengatakan istri (ibnu sabil) yaitu yang kehabisan biaya dalam
perjalananya (dan apa – apa yang kamu memiliki) diantara hamba sahaya.
(sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang sombong) atau takabur (membanggakan
diri) terhadap manusia dengan kekayaanya.
Ayat 37
(orang – orang yang) menjadi
mubtada (kikir) mengeluarkan apa yang wajib mereka keluarkan (dan menyusurh
manusia supaya kikir pula) denganya (serta menyembunyikan karunia yang telah
diberikan Allah kepada mereka) berupa ilmu maupun harta, dan mereka ini ialah
orang –orang yahudi sedangkan yang menjadi khabar mubtadanya ialah : bagi
mereka ancaman dahsyat (dan kami sediakan bagi orang – orang yang kafir)
terhadap hal itu dan hal – hal lainya (siksa yang menghinakan).
3.
Qur’an Surat Ar – Ra’d ; 2 – 3
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي
لأجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الأمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ
رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ (2) وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الأرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا
وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ
النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (3)
Artinya : “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana)
yang kalian lihat, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arasy, dan menundukkan
matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah
mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya),
supaya kalian meyakini pertemuan (kalian) dengan Tuhan kalian. Dan
Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan
sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan,
Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Tafsir
al-quranulkariim
اَللهُ
الَّذِى رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيرِ عمد تَرَونَهَا ثُم استَوَى عَلى العَرشِ
وسَخرَ الشَّمسَ وَالقَمرَ كل يَجرِى لِاَجَل مُسَمى يُدبِّر الاَمرَ يُفَصلُ
الاَيَات لَعلَكم بِلِقَاءِ رَبكم تُوقِنونَ2
وَهو
اَّلذِى مدالارضَ وَجعَلَ فِيهَا رَوَاسِىَ وَانهَارَا وَمن كُل الثَّمَرَات
جَعَلَ فِيهَا زَوجَينِ اثنَينِ يغشِ الَّيلَ النهَار ان فِى ذَلِكَ لايَاِت
لقَومِ يتَفَكرُون3
Allah
yang meniggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian dia
bersemayam di atas arsy. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing
beredar menurut waktu yang telah ditentukan. Dia mengatur urusan (makhluk-nya)
dan menjelaskan tanda-tanda (kebesarannya) agar kamu yakin akan pertemuan
dengan tuhanmu.
Dan
dia yang menghamparkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai di
atasnya. Dan padanya dia menjadikan semua buah-buahan berpasangan; dia
menutupkan malam kepada siang. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitakan
tentang keesaan-Nya dalam mencipta dan mengatur, dan keesaan-Nya dalam hal kebesaran
dan kekuasaan-Nya, di mana hal itu menunjukkan bahwa hanya Dia yang berhak
disembah satu-satunya.
Dia bersemayam di atas ‘Arsy sesuai dengan
kebesaran dan kesempurnaan-Nya. ‘Arsy adalah makhluk paling besar yang menjadi
atap seluruh makhluk.
Untuk maslahat manusia, hewan ternak mereka dan
pohon-pohon yang mereka tanam.
Yakni sampai hari kiamat, hari di mana Allah
melipat alam ini dan memindahkan penghuninya ke negeri akhirat. Ketika itu,
Allah Subhaanahu wa Ta'aala melipat langit dan menggantinya, merubah bumi dan
menggantinya, matahari dan bulan digulung dan dilipat, lalu disatukan kemudian
dijatuhkan ke dalam neraka agar manusia yang pernah menyembahnya menyaksikan
langsung bahwa matahari dan bulan tidak pantas disembah sehingga mereka pun menyesal
dan agar orang-orang kafir mengetahui bahwa mereka berdusta.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengatur semua
urusan di alam atas maupun bawah, Dia mencipta dan memberi rezeki, mengkayakan
seseorang dan menjadikannya miskin, meninggikan sebagian orang dan merendahkan
yang lain, memuliakan dan menghinakan, memaafkan ketergelinciran hamba,
menghilangkan derita yang menimpa hamba, menjalankan taqdir-Nya pada
waktu-waktu yang telah diketahui-Nya dan mengutus para malaikat untuk mengurus
apa yang ditugaskan bagi mereka untuk mengurusnya. Dia pula yang menurunkan
kitab kepada rasul-rasul-Nya, menerangkan apa yang dibutuhkan hamba berupa
syari’at, perintah dan larangan serta menerangkannya secara rinci.
Dengan sebab ayat-ayat-Nya yang ada di ufuk
maupun yang ada dalam Al Qur’an.
Karena dengan banyaknya dalil, jelas dan
rincinya termasuk sebab untuk memperoleh keyakinan dalam semua perkara ilahi,
khususnya dalam masalah ‘Aqidah, seperti kebangkitan dan keluarnya manusia dari
alam kubur. Di samping itu, sudah maklum bahwa Allah Ta’ala Mahabijaksana, Dia
tidak menciptakan makhluk begitu saja dan tidak membiarkan mereka, Dia juga
telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab, maka tidak dapat tidak mereka
harus dipindahkan ke negeri di mana mereka menerima balasan, lalu orang-orang
yang berbuat baik dibalas dengan balasan terbaik, sedangkan orang-orang yang
berdosa dibalas dengan dosa mereka.
Meluaskannya, memberkahinya, menyiapkannya
untuk manusia dan menyimpan di dalamnya hal-hal yang bermaslahat bagi manusia.
Jika gunung tidak ada tentu terjadi
kegoncangan, karena tempat yang mereka tempati berada di atas air, tidak bisa
kokoh dan diam kecuali dengan adanya gunung-gunung kokoh yang menancap bagai
pasak.
Yang dapat diminum oleh manusia, hewan dan
diserap oleh pepohonan. Dengan sungai-sungai keluar pepohonan, tanaman, dan
buah-buahan yang banyak.
Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan
dan betina, pahit dan manis, putih dan hitam, besar-kecil dan sebagainya.
Ufuk langit pun menjadi gelap, semua makhluk
hidup kembali ke tempatnya dan beristirahat setelah dibuat lelah di siang hari.
Setelah mereka memenuhi kebutuhan mereka beristirahat, Allah menutup malam
dengan siang, dan manusia pun bertebaran mencari maslahat mereka.
Di mana pada semua itu terdapat dalil yang
menunjukkan bahwa yang menciptakan, mengatur dan mengolahnya adalah Allah yang
tidak ada tuhan yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang, Yang berkuasa terhadap segala sesuatu, Yang Mahabijaksana lagi Maha
terpuji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar