Jumat, 13 Maret 2015

masyarakat madani


masyarakat madani
menurut M. Hasyim, pengertian masyarakat madani adalahmasyarakat yang selalu memelihara perilaku yang beradab, sopan santun berbudaya tinggi, baik dalam menghadapi sesama manusia, atau alam lainnya, misalnya dalam menyembelih binatang untuk dikonsumsi, dalam berburu. Masyarakat madani adalah masyarakat yang selalu memelihara perilaku yang beradab, sopan santun berbudaya tinggi, dan ramah dalam menghadapi lingkungannya, masyarakat yang hubungan antara warganya sangat harmoni, saling menghargai kepentingan masing-masing. Menyadari bahwa walaupun masing-masing mempunyai hak bahkan hak asasi, tetapi haknya itu dibatasi oleh hak yang dimiliki orang lain dalam kapasitas yang sama.

Ada tiga karateristik dasar dalam masyarakat madani, yaitu:
  1. Diakuinya semangat plularisme. Artinya plularis telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan, sehingga mau tidak mau plularitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi.
  2. Tingginya sika toleransi, baik terhadap saudara sesama agama maupun terhadap umat agama lain. Secaara sederhana toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar, dan menghargai pendapat dan pendirian orang lain.
  3. Tegaknya prinsip demokrasi. Demokrasi bukan sekedar kebebasan dan persaingan, demokrasi ada pula suatu pilihan untuk bersama-sama membangun, dan memperjuangkan perikehidupan warga dan masyarakat yang semaki sejahtera.
Sedangkan, menurut Nurcholis Madjid mengungkapkan beberapa ciri mendasar dari masyarakat madani yang acuannya tetap kepada masyarakat yang dibangun Nabi Muhammad Saw di Madinah, yaitu:
  • Egalitarianisme (kesepadanan)
  • Penghargaan kepada orang berdasarkan prestasi,
  • Keterbukaan dan partisipasi aktif seluruh masyarakat,
  • Penegakan hukum dan keadilan,
  • Toleransi dan Pluralisme
  • Musyarawarah.

Senin, 09 Maret 2015

pengertian akhlak tasawuf



Kata Pengantar
Puji dan syukur dengan sepenuh hati selalu di panjatkan kehadirat Allah Swt. Karena dengan rahmat dan limpahan kasih sayang nya, alhamdulillah kami dapat menyelesaikan tugas makalah “islam dan kehidupan peribadahan”dengan baik. Sholawat serta salam tak lupa kami limpahkan kepada nabi kita, nabi Muhammad saw. Beserta keluarga, shohabat, para tabiin dan tabi’at nya sampai akhir zaman.

             Selanjutnya kami mengucapkan banyak trimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam menyelesaikan makalah ini.kepada orang tua kami yang senantiasa mendoakan kami, teman-teman yang telah mengeluarkan pemikiran serta sarannya sehingga terbentuklah makalah ini walaupun sederhana.

            Kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat yang baik untuk kita semua, terutama dalam memberi pemahaman mengenai studi islam tentang akhlak dan kemanusiaan. Atas perhatiannya kami mengucapkan banyak trimakasih.













DAFTAR ISI



  KATA PENGANTAR..............................................................................................................1
     DAFTAR ISI.........................................................................................................................2
     BAB I
  1. PENDAHULUAN
a.       Latar belakang..........................................................................................................4
b.      Rumusan Masalah....................................................................................................4
c.       Tujuan.......................................................................................................................4
     BAB II
  1. LANDASAN THEORY
a.       Pengertian Akhlak…………………………………………………………………
b.      Pengaruh Akhlak dalam kehidupan peribadahan........................................................6
     BAB III
  1. PENUTUP
a.       Kesimpulan..............................................................................................................13

     DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................14






BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
                Islam adalah Agama yang dibawa olehNabi Muhammad saw yang ajaran pokoknya yaitu: mengenal tuhan, cara beribadah, dan membersihkan hati dalam diri. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan pembinaan akhlak dan karakter mulia secara kompheresif, baik dari segi materi, metode, pendekatan, dan pelaksanaan. Ajaran islam tentang Iman, Islam dan Ihsan  belum dinilai sempurna jika tidak menimbulkan dampak pembinaan akhlak dan karakter  yang mulia. Sebagai contoh, seseorang yang merasa beriman belum sempurna imannya bila perutnya kenyang sendiri, sementara tetangga dan orang-orang disekitar menderita kelaparan. Juga seseorang yang mengaku telah melaksanakan ibadah, misalnya sholat, dianggap sebagai pendusta agama jika shalatnya itu tidak menghasilkan dampak positif bagi kehidupan sosial.
              Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diminta agar Akhlak dan budi luhur Nabi Muhammad saw dijadikan sebagai contoh dalam kehidupan diberbagai bidang. Mereka yang mencontoh akhlak Nabi Muhammad Saw. Dijamin keselamatan hidupnya didunia dan diakhirat. Seseorang yang ahli ibadah belum tentu dikatakan seseorang yang berakhlak baik,  Karena sebenarnya seseorang yang beribadah itu bukan hanya menyembah saja tapi dia taqorub kepada Allah agar roh manusiadiingatkan kepada hal-hal yang bersih dan suci.Dengan demikian rasa kesucian mereka menjadi tajam. Karena seseorang yang beribadah itu bukan hanya latihan hal-hal spiritual tapi juga latihan moral. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila sesuai dengan muammalah. Muammalah bisa dinilai dengan baik apabila seseorang berakhlak yang baik.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah definisi Akhlak?
2.      Berapa besarkah pengaruh akhlak dalam kehidupan, Terutama dalam hal ibadah?

C.     Tujuan
Setelah selesai pembahasan ini, mahasiswa diharapkan agar :
1.      Mengetahui pengertian akhlak dengan baik
2.      Memahami hubungan akhlak dengan ibadah dalam kehidupan dan bisa mengaplikasikan secara maksimal.





















BAB II
LANDASAN THEORI

A.   Pengertian Akhlak
Kata akhlak berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlak. Menurut bahasa, akhlak adalah perangai, tabiat, dan agama. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalq yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan kata khaliq yang berarti pencipta dan makhluq yang berarti “yang diciptakan”
Ibn Al-jauzi menjelaskan (w. 597 H) bahwa al-khuluq adalah etika yang dipilih seseorang. dinamakan khuluq karena etika bagaikan khalqah (karakter) pada dirinya. Dengan demikian, khuluq adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan seseorang. Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaannya dinamakan al-khaym
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti, watak, dan tabiat.
Berkaitan dengan pengertian khuluq yang berarti agama, Al-Fairuzzabadi berkata, “Ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak. Barang siapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas empat landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian, dan keadilan.”
Secara sempit, pengertian akhlak dapat diartikan dengan:
a)      Kumpulan kaidah untuk menempuh jalan yang baik
b)      Jalan yang sesuai untuk menuju akhlak
c)      Pandangan akal tentang kebaikan dan keburukan.
Kata akhlak lebih luas artinya dari pada moral atau etika yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia sebab akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku lahiriah dan batiniah seseorang. Ada pula yang menyamakannya karena keduanya membahas masalah baik dan buruk tingkah laku manusia.

             Akhlak adalah sesuatu yang praktis yang harus di terapkan dalam kehidupan sehari-hari, tenggelam dan munculnya suatu bangsa tergantung kepada akhlaknya. Setiap tingkah laku dan kehidupan manusia tak terlepas dari norma-norma akhlak, baik itu yang  menyangkut manusia secara individu ataupun sebagai anggota masyarakat dan bahkan sebagai penduduk dalam suatu negara.
 Sebagaimana kita maklumi bahwa ilmu akhlak itu adalah ilmu yang membicarakan tentang perbuatan manusia di tinjau dari segi baik dan buruknya, apa yang harus di lakukan dan bagaimana caranya untuk diri sendiri dan orang lain dalam mencapai tujuan, maka sudah barang tentu ruang lingkup yang akan di bicarakan oleh ilmu akhlak adalah sekitar materi yang ada dalam pengertian yang kita dapati tersebut dia atas. 
Sebagai di ketahui oleh masyarakat bahwa nabi muhammad Saw. Di utus menjadi nabi dan rosul untuk menyempurnakan akhlak,


Artinya: sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak
Secara teoretik, akhlak dapat di bedakan menjadi dua:
1.      Akhlak mulia (al-akhlaq al-karimah)
2.      Akhlak tercela (al-akhlaq al-madzmumah)
Akhlak mulia adalah akhlak yang sejalan dengan al Quran dan sunnah; sedangkan akhlak tercela adalah sebaliknya, yaitu akhlak yang tidak sejalan dengan al Quran dan sunnah, atau yang lebih tepatnya adalah perbuatan yang melanggar aturan yang di tentukan dalam al quran dan sunnah.      



B.   Hubungan Akhlak dan Ibadah
             Islam telah menghubungkan secara erat antara akidah dan akhlak. Dalam islam, akhlak bertolak dari tujuan-tujuan akidah. Akidah merupakan barometer bagi perbuatan, ucapan, dengan segala bentuk interaksi sesama manusia. Berdasarkan keterangan al Quran dan as Sunnah, iman kepada Allah Swt. Menuntut seseorang mempunyai akhlak yang terpuji. Sebaliknya, akhlak tercela membuktikan ketidak-adaan iman tersebut. Berikut ini akan dikemukakan salah satu contoh tentang pengukuran kadar iman seseorang dengan akhlak terpujinya.
Keterkaitan antara akhlak dan aqidah dapat dilihat ketika Allah SWT mengkaitkan keimanan dengan akhlak mulia. Ketika al-Quran menyuruh berlaku adil, sebelumnya ia menyebut tentang iman. Allah SWT berfirman:



Artinya: “wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
Al-Quran juga menghubungkan antara amal saleh dan perbuatan baik. Allah SWT berfirman:


Artinya: “dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dizhalimi sedikitpun. Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangannya”

Demikian pula, Rasulullah SAW ditanya, “siapa diantara kaum mu’min yang paling utama keimanannya?’ Beliau menjawab. Yang paling baik akhlaknya”
Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda :


Artinya: Iman itu memiliki 70 cabang (riwayat lain 77 cabang)dan yang paling utama ialah Laa ilaaha Illa Allah, dan yang terendah ialah membuang duri dari jalan. Malu juga merupakan salah satu cabang iman.”
Iman tidak cukup sekadar disimpan dalam hati, tetapi harus direalisasikan dalam perbuatan nyata dan amal shaleh. Hanya iman yang melahirkan amal shalehah yang dinamakan iman yang sempurna.
Akhlak mulia merupakan mata rantai keimanan. Contoh, rasa malu berbuat jahat merupakan salah satu akhlak yang mulia. Nabi Muhammad SAW. Dalam salah satu haditsnya menegaskan:

Artinya: “Malu adalah cabang iman”
Sebaliknya, akhlak buruk adalah yang menyalahi prinsip-prinsip keimanan. Sekalipun suatu perbuatan pada lahirnya baik, tetapi jika titik tolaknya bukan keimanan, perbuatan tersebut tidak mendapatkan penilaian di sisi Allah SWT.
Adapun  kaitan ilmu akhlak dan ibadah dapat dijelaskan bahwa tujuan akhir ibadah adalah keluhuran akhlak. Ibadah terpenting yang disyariatkan Islam dan yang paling pertama dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Shalat juga merupakan barometer kepribadian seseorang. Hikmah disyariatkannya shalat adalah menjauhi keji dan mungkar

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Islam telah menghubungkan secara erat antara kaidah dan akhlak. Dalam Islam, akhlak bertolak dari tujuan-tujuan aqidah. Aqidah merupakan barometer bagi perbuatan, ucapan, dengan segala bentuk interaksi sesame manusia. Berdasarkan keterangan Al-Quran dan As-Sunah, iman kepada Allah SWT. Menuntut seseorang mempunyai akhlak yang terpuji.
Adapun  kaitan ilmu akhlak dan ibadah dapat dijelaskan bahwa tujuan akhir ibadah adalah keluhuran akhlak. Ibadah terpenting yang disyariatkan Islam dan yang paling pertama dihisab pada hari Kiamat adalah shalat. Shalat juga merupakan barometer kepribadian seseorang. Hikmah disyariatkannya shalat adalah menjauhi keji dan mungkar.










DAFTAR PUSTAKA






hubungan iman,islam dan ihsan


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Kita sebagai manusia menginginkan kehidupan yang tenang, tentram dan bahagia. Dalam mencapai keinginan tersebut kita pasti memerlukan tuntunan dalam menjalankan kehidupan yang tentram lagi bahagia yaitu adalah agama yang lurus yang mengajarkan kebaikan serta yang menghargai,menghormati dan menyayangi  kepada sesamanya. Dengan agama yang lurus kita akan lebih terarah dan lebih menjadi baik karna kita senantiasa di tuntut untuk menjadi suatu sebuah kepribadian yang lebih baik. Dalam mempelajari agama yang lurus agar kita dapat memahaminya dengan baik serta dapat  melakuakannya dengan perbuatan di keseharian maka kita  membutuhkan suatu keyakinankarna kita meyakini sesuatu hal yang ghoib. Dalam hal tersebut mendorong kita untuk selalu berbuat baik kepada setiap orang.
Dalam sebuah agama islam kita patut untuk  mengenal konsep iman dan ihsan. Kedudukan ihsan dalam menjalani kehidupan ini sangatlah penting. Karna kadang kala kita sebagai seorang muslim sudah diberikan tuntunan masih saja melakukan hal hal yang kurang baik (jelek). Ini karna tingkat keimanan seorang muslim masih kurang stabil walaupun sebenarnya kita sudah mengetahui dengan baik bahwasannya ihsan merupakan realisasi dari iman .
Oleh karna itu, kita sebagai umat islam kita harus mengtahui bagaimana kaitan  antara iman, islam dan ihsan. Karna dari ketiga  konsep tersebutlah merupkan sebuah kunciuntuk mencapai suatu kehidupan yang tenang, tentram serta bagia.



Ø  Rumusan Masalah
1.       Apakah pengertian dari Iman, islamdan ihsan ?
2.        Sebutkan rukun iman dan islam dan menjelaskannya ?
3.       Bagaimanakah hubungan antara  Iman, islam dan Ihsan?

Ø  Tujuan
1.        Untuk  dapat menjelaskan pengertian Iman, islam dan Ihsan
2.        Untuk dapat menyebutkan menjelaskan rukun iman dan islam
3.        Dapat mengetahui hubungan iman, islam dan ihsan
















BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pengertian iman.
Iman secara etimologis berarti 'percaya'. Perkataan iman diambil dari kata kerja 'aamana'-- yukminu' yang berarti 'percaya' atau 'membenarkan'. Secara terminologis iman adalah mempercayai dengan hati, mengikrarkan, dan mengamalkan dengan perbuatan, segala apa yang dibawa Nabi Muhammad SAW  Dalam HR. Muslim iman ialah hendaknya kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, utusan-utusanNya,  hari kemudian, dan hendaknya kamu beriman dengan qada dan qadarNya ketentuan baik dan buruknya dari Allah ta’ala.
Menusia yang hidup ini senantiasa ingin tahu, dan lagi harus tahu, bagaimana kepercayaan yang harus diyakininya dan bagaimana pula kewajiban kewajiban yang harus di kerjakan. Untuk itu orang harus mengetahui dan mempercayai pokok-pokok sebagai orang islam.
Kepercayaan itu harus kuat dan benar sehingga dapat mendiring jiwa raga kearah perbuatan-perbuatan yang diwajibkan dan dapat menjauhkan diri dari segala yang terlarang . kepercayaan yang teguh itu, IMAN namanya. orang yang percaya  di sebut MU’MIN; dan kalau banyak di sebut MU’MININ. Pokok-pokok kepercayaan itu di sebut ‘rukun iman’ dan pokok kewajiban itu disebut‘ rukun Islam’.
Perkataan rukun itu berasal dari bahasa Arab, yang artinya: Tiang atau sendi.
Rukun Iman Yang Enam. Yaitu :
1.        Iman Kepada Allah
Iman adalah keyakinan adapun iman kepada Allah adalah yang paling pokok dan mendasari seluruh  ajaran islam, dan ia harus di yakinkan dengan ilmu yang pasti seperti ilmu yang terdapat dalam kalimat syahadat “laa ilaaha illallah” . ialah yang menjadi awal, inti dan akhir dari seluruh seruan islam sebagaimana  wasiat Rasulullah Saw kepada sahabat Mu’ad. Ketika beliau mengutus sahabat  tersebut ke negri  Yaman: “Sesungguhnya engkau akan mendatangi  suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaklah engkau mengawali da’wahmukepada mereka penyaksian bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah.” Kemudian jika mereka telah taat kepadamu, mak ajarkan lagi kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atasnya shalat lima waktu. Surat al ikhlas 1-2.
2.         Iman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat adalah masalah aqidah yang kedua sesudah iman kepada Allah SWT. Pengetahuan kita tentang malaikat hanya semata-mata berdasarkan quran dan keterangan ketarangan Nabi. Para malaikat termasuk persoalan alam ghaib tidak bersifat materill. Kita wajib beriman kepada para malaikat oleh karena alquran dan Nabi memerintahkannya sebagaimana wajibnya beriman kepada Allah dan para Nabinya.
3.             Iman Kepada Para Rasul
Dalam analisa yang lalu telah di uraikan tentang iman kepada malaikat, mereka sebagai makhluk tertinggi menjadi jalan raya turunnya wahyu yang agung kepada para rasul dimana para rasul itulah sebagai duta-duta Allah untuk manusia. Para rasul berkewajiban menyampaikan risalah dan wahyu yang diterimanya itu kepada manusia. Karena itulah iman kepada para rasul berarti mempercayai bahwa Allah telah memilih diantara manusia menjadi utusan utusannya dengan tugas risalah kepada manusia sebagai hamba-hamba Allah dengan wahyu yang diterimanya dari Allah. Untuk memimpin manusia kejalan yang lurus.
4.        Iman Kepada Kitabullah
Tuhan Allah menurunkan wahyu berisi petunjuk-petunjuk suci kepada para utusannya. Petunjuk itu kemudian dihimpun menjadi kitab suci yang di anmakan kitab-kitab Allah.
Kitab kitab allah yang wajib kita percayai ada empat:
1)        Kitab Taurat : yang diturunkan kepada Nabi Musa as. Berisi hukum-hukum syariah dan kepercayan yang benar.
2)        Kitab Zabur : yang diturunkan kepaada Nabi Daud as. Berisi doa doa, dzikir, nasehat, dan hikmah.
3)        Kitab Injil : yang diturunkan kepada Nabi Isa as. Berisi seruan kepada manusia agar bertauhid kepada Allah  menghapus dari sebagian dari hukum hukum yang terdapat dalam kitb-kitab taurat yang sudah tidak sesuai dengan zamannya.
4)        Kitab al-Quran : yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW berisi syariat yang menghapus sebagian isi kitab-kitab yang terdahulu yang sudah tidak sesuai dengan zamannya dan juga melengkapinya dengan hal-hal yang sesuai dengan zamannya.
5.        Iman Kepada Hari Akhir
Kita wajib percaya kepada datangnya hari kemudian. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah didalam al-Quran. Diterangkan bahwa pada hari akhir zaman akan datang suatu hari yang semua makhluk yang ada akan menjadi rusak binasa itulah hari kiamat namanya.
Sesudah itu akan di bangkitkan semua manusia dari kuburnya dengan isyarat puput (sangka kala) yang ditiup oleh malaikat. Kemudian di periksalah semua amal masing-masing untuk dihitung atau ditimbang (dihisab) dan akhirnya diberi balasan bagi yang amal kebaikannya didunia lebih banyak dari pada amal kejahatannya dan diberi siksa yang amal jahatnya di dunia lebih banyak dari pada amal kebaikannya balasan itu berupa surga dan neraka.
6.        Iman Kepada Qodha dan qodhar
       Qadha’ artinya keputusan perbuatan (pelaksanaan) sedangkan qadhar artinya hinggaan. Sebagian ulama menamakan taqdir itu qadha’: dan qadha’ itu taqdir atau qadarjadi segala sesuatu terjadi dengan qudrat dan iradatnya yang sesuai dengan qadha dan qadarnya. Maka dalam hakekatnya kata “ kebetulan” itu tidak ada.
Dari pada itu Tuhan Allah telah memberi petunjuk kepada manusia sebagai mana caranya dan seharusnya manusia berbuat sesuatu untuk mencapai kemajuan, kemulyaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat atau untuk menuju sesuatu cita-cita yang baik. Qadha dan qadhar adalah hak Tuhan Allah sendiri sedang kita tidak mengetahuinya. Berusaha, beriktiar, dan berdoa adalah kewajiban kita dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak akan menyia-nyiakan atau menganiaya kita.
Macam-Macam Dalil
Untuk menentukan sesuatu itu benar boleh dipercaya,perlu ada bukti-bukti dan dalil-dalil yang sah,  yang dapat menegakkan keyakinan dan membarantas was-was atau keraguan. Menagingat akan bertingkat tingkatnya jalan fikiran manusia dari segala lapisan, maka dalil-dalil itu dapat bersusun bertingkat tingkat pula sesuai dengan kesediaan akal fikiran yag hendak menerimanya, maka dari pada itu, apa yang akan kita pakai sebagai dasar-dasar dalil tadi, dalil itu ada dua macam :
a.         Dalil naqly نقلى(dalil salinan) Artinya :
Dalil yang diambil/ disalin dari tulisan yang telah ada terlebih dahulu
b.        Dalil ‘Aqly  Ø¹Ù‚لي(dalil fikiran) Artinya :
Dalil yang diambil dari akal pertimbangan akal fikira manusia.
Dengan demikian pulalah dalil-dalil yang kita pakai dalm membahas atau membicarkan soal-soal dalam macam dalil ini. Ada dua macam :
a.         Dalil Naqly ialah tanda bukti yang telah tertera di dalam Al-Qur’an dan hadist yang mutawatir
b.        Dalil Aqly ialah dalil dari pertimbangan fikiran yang sehat ( objektif ) yang tidak ada hubungannya dan tidak dipengruhi oleh keinginan atau kebencian.
Cara Mempergunakan Dalil
Adapun cara mempergunakan kedua macam dalil itu,adalah sebai berkut :
dalil yang pertama (Naqly) itu sebagai pelita,obor,pedoman dan dalil yang kedua (‘Aqly) itu sebagai mata kepala yang hendak menimbang jalan yang telah ditunjukan oleh pelita atau obor tadi.  Apabila akal kita tidak berjalan   dengan tidak ada arah yag dituju dan tidak ada pedoman, tentu akan mudah tersesat dan mungkin pula akan menjadi bingung dalam mencari jalan yang masih belum tentu dan tidak mau bertanya tentang arah yang akan dituju.[1]
Oleh karna itu, dalil naqly harus diletakkan di muka kemudian daliil ‘Aqly menimbang nimbang dengan adil dan tenang, dimana akal kita dapat menerima dan sampai diamana pula akan menolak.
Kalau bertentangan
Apabila terasa oleh akal bahwa antara dua macam dalil itu itu belum atau kurang bertepatan,maka kita harus meninjau kembali pada dua soal :
1.        Sampai dimana kekuatan dan kesempurnaan petunjuk akal itu ?
2.        Sampai dimana pulakah kekuatan faham kita kepada dalil Naqly itu ? sudah tidak adakah kesalahan dalam memahaminya ?
Setelah kita meninjau kembali akan hal-hal tersebut tentu kita akan akan  yakin bahwa tidak akan ada lagi pertentangan yang meragukanantara keduanya.[2]
Dasar keyakinan dan pendapat akal    
Fanatik percaya dan fanatik tidak percaya.
Banyak diantara manusia yang telah tergila-gila,ta’assub atau fanatik percaya, sebelum mempergunakan akal atau fikiran dan ada juga yang tergila-gila atau fanatik tidak percaya sebelum mengetahui dan memikirkan alasan-alasan dan dalil-dalil atau bukti–buktinya. Kedua-duanya itu khususnya dalam soal kepercayaan. Karena yang demikian itu akan mematikan otak dan tidak akan membawa manusia kearah kemajuan dan kesempuranaan.
 Orang yang gil tidak percaya meskipun ada bukti yang terang. Padahal kalau ia mau memikirkannya mesti akan masuk di akalnya. Tetapi, juga ia tidak mau percaya. Bahkan bukti-buti itu masih diselidiki lagi,dengan maksud mencari apa yang tersembunyi dibalik-bukti yang sudah terang itu.
Agam islam amat mencela kedua-duanya
Dalam al-Quran surat ad-Dzariyat 20-21 disebutka yang artinya : “Dan di bumi dan juga apa dirimu sendiri itu terdapat tanda tanda kekuasaan nya bagi orang orang yang yakin. Maka apakah kamu tidak memperhatikan ?”(Ad-Dzariyat 20-21 )
Begitu juga di dalam surat al-Haji 47 yang artinya : tidakkah mereka orang orang yang tidak mau percaya itu berjalan jalan meluaskan  pandangan di atas dunia ini sehingga mempunyai akal untuk memikir dan telinga untuk mendengar ? sesungguhnya yang buta itu bukan mata kepalanya tetapi mata hatinya di dalam dada.
Dan masih banyak lagi ayat ayat yang tegas yang menyuruh manusia mempergunakan akal fikirannya khususnya dalam soal kepercayaan. Maka dari pada itu dalam soal ini kita harus mempergunakan akal untuk menerima dalil-dalil tadi seehingga dapat menjadiak kepercayaan yang kuat dan sehat.

B.       Pengertian Islam
 menurut terminologis, Islam adalahtunduk dan patuh lahir danbatin, kepada ajaran yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.Ada juga yang mengatakanbahwaIslam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada rasul-rasul-Nya sejak nabi pertamayaituAdam AS hingga nabi terakhir Muhammad SAW.
Pengertian islam secara etimologis berasal dari bahasa Arab yaitu salima artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Secara terminologis, islam adalah tunduk dan patuh lahir batin, kepada apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW (Jamaludin Kafie, 1981:15). Seperti yang terdapat dalam HR.Muslim, islam adalah bersaksi bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan sesungguhnya Nabi Muhammad itu utusan Allah.     Agama islam adalah agama yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW dan dipelihara serta dipahamkan dengan rapi dan teliti oleh para sahabat beliau dan orang-orang yang hidup pada zaman itu, yang mengajarkan manusia berserah diri dan tunduk sepenuhnya kepada Allah untuk menuju keselamatan di dunia dan di akhirat.

Rukun artinya: Tiang atau bagian yang pokok.Sesuatu tidak akan menjadi atau berdiri tegak, bila bagian-bagiannya yang pokok atau rukunnya tidak cukup.
Ruku Islam itu ada lima perkara :
1.         Mengucapkan dua kaliimat SYAHADAT.
2.         SHALAT
3.         PUASA bulan ramadhan
4.         Membayar ZAKAT.
5.         Mengerjakan haji.
Tiap-tiap  orang Islam harus mengerjakan rukun Islam yang lima itu dengan syarat dan rukunnya yang telah ditentukan.
Tiap-tiap orang yang mengerjakan rukun Islam itu disebut muslim, wanitanya muslimah. Dan kalau banyak disebut muslimiin atau muslimuun. Wanitanya disebut muslimat.
Semua lima perkara itulah yang akan kita pelajari selanjutnya.
Di dalam hadits disebutkan sebagai berikut yang artinya :
“Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan.”(Riwayat Turmuzi dan Muslim)
Selainitukitajugamengetahuiadanya 5 rukun Islam, yaitu :
1.        Mengucapkan Dua kalimat Syahadat
Syahadat artinya : pengakuan
Pertama    : pengakuan bahwa tidak ada tuhan yang sebenarnya selain Allah.
Kedua      : pengakuan bahwa Muahammad itu adalah utusan dan (pesuruh Allah)




Bunyi kedua kalimah syahadat itu sebagai berikut :
أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله
Artinya :
”Aku mengakui bahwa tidak ada tuhan Yang sebenarnya meliankan Allah. Dan mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allah.”.
Pengakuan pertama disebut syahadat tauhid, pengakuan kedua disebut syahadat rasul. Orrang yang baru masuk Islam harus mengucapkan dua kalimah syahadat. Kewajiabn mengucapkan syahadat cukuplah sekali dalam seumur hidup.
Syarat syarat mengucapkan kedua kalimah syahadat :
1.        Dibca dengan tertib ( berurutan )
2.        Mengerti maksud dan artinya
3.        Tidak ragu ragu mengucapkannya
4.        Tidak mengakui kabalikannya 
2.        Sholat
Menurut bahasa sholat berati do’a, sedang menurut syara menghadapkan jiwa dan raga kedapa allah. Karna taqwa hamba kepada tuhannya, mengangunggkan kebesarannya dengan khusyu dan ikhlass dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, menurut cara cara dan syarat syarat yang telah ditentukan. Dalam Al-quran disebutkan yang artinya
“Bacalah kitab (Al Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan dirikanlah olehmu sholat karna sholat mencegah kamu dari kejahatan dan dari munkar (pekerjaanyang buruk dan keji ).”( al-Ankabut 45 )


Waktu waktu sholat lima waktu :
1)        Waktu shubuh
mulai dari terbit fajar shodiq sampai terbit matahari
2)        waktu zhuhur
awal waktunya setelah cenderung matahari ke barat dari pertengahan langit dan akhir wktunya apabila bayang bayang telah sama oanjang dengan sesuatu.
3)        Waktu ashar
Waktunya mulai dari habis waktu dhuhur sampai terbenam matahari.
4)        Waktu magrib
Waktunya mulai terbenam matahari sampai terbenam syafaq yang merah ( cahaya merah di kaki langit sebalah barat )
Waktu isya
5)        Waktu isya mulai hilangnya waktu syafaq merah sampai terbit fajar. 
3.        Zakat
Asal arti kata zakat: pembersihan dari membersihkan atau pertumbuhan dari tumbuh. Arti zakat dalam syari’at islam: sebagian harta yang wajib diberikan kepada orang orang yang tertentu dengan syarat syarat yang tertentu pula. Umpamanya: seorang islam yang memiliki padi dari hasil sawahnya sebanyak sedikitnya 14 kwintal, wajiblah ia sepersepuluhnya kepada fakir miskin, musafir yang terlantar dan sebagainya. Padi yang dikeluarkan itulah zakat namanya. Dalam al-quran disebutkan yaitu :
ÙˆَØ£َÙ‚ِيمُوا الصَّÙ„َاةَ Ùˆَآتُوا الزَّÙƒَاةَ ÙˆَارْÙƒَعُوا Ù…َعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah sholah, tunaikannlah zakat dan ruku’lah beserta orang orang yang ruku’.”( Al-Baqarah 43 )
A.      Harta benda yang wajib dizakati
Adapun harta benda yang wajib di zakati itu ialah :
a.         Emas, perak dan uang.
b.        Harta perniagaan.
c.         Binatang ternak.
d.        Hasil bumi makanan pokok dan buah-buahan.
e.         Barang tambang dan barang temuan.
Adapun syarat-syarat wajib zakat adalah sebagai berikut :
a.         Orang islam.
b.        Orang merdeka (bukan hamba sahaya).
c.         Memiliki penuh (dimiliki dan men menjadi hak penuh).
d.        Sampai nisabnya.
e.         Sampai setahun.
Serta yang berhak menerima zakat itu adalah sebagai berikut :
a.         Fakir
b.        Miskin
c.         Amil
d.        Mu’allaf
e.         Hamba sahaya yang mempunyai perjanjian akan dimerdekakan oleh tuannya dengan jalan menebus dirinya.
f.         Gharim
g.        Ibnu Sabiel (Musafir)
h.         Fi Sabilillah.
Adapun pemberian zakat
Selain daripada zakat dan zakat fitrah, masih banyak macam-macam pemberian atau dana, yang wajib atau yang sunah. Diantaranya sebagai berikut :
a.              Sedakah
b.             Hadiah
c.              Hibah
d.             Walimah/Kenduri/Pesta
e.              Aqiqah
f.              Qurban
g.             Selain dari pada itu semua masih ada beberapa pemberian atau sedekah yang wajib atau yang sunnah seperti kifarat, fidiyah, maskawin dan nafkah, yang berhubungan dengan prkawinan dan kekeluargaan.
4.    Puasa
Asal arti kata itu ialah : menahan atau mencegah. Dlam baha arab di sebut “ صوم “ atau “صيام “ adapun artinya dalam agama islam: menahan diri dari makan dan minum dan dari segala apa yang membatlkannya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan syarat yang tertentu.puasa itu ada yang wajib dan ada yang sunah. Puasa wajib ialah puasa pada bulan ramadhan yang menjadi salah satu rukun islam yang lima. Dalam al-quran disebutkan yaitu:

ÙŠَاأَÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¡َامَÙ†ُوا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙŠْÙƒُÙ…ُ الصِّÙŠَامُ ÙƒَÙ…َا Ùƒُتِبَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِينَ Ù…ِÙ† Ù‚َبْÙ„ِÙƒُÙ…ْ Ù„َعَÙ„َّÙƒُÙ…ْ تَتَّÙ‚ُونَ

“Hai orang orang yang beriman, di wajibkan atas kamu berpuasa sebaimana yang di wajibakan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (yaitu) dalm beberap hari yang tertentu.”( Al-Baqarah 183-184 )
A.      Syarat wajib puasa
Syarat wajib berpuasa, yakni yang diwajibkan berpuasa ialah :
a.         Orang islam
b.         Orang yang telah dewasa/baligh.
c.         Orang yang berakal (bukan orang yang gila atau mabuk)
d.        Orang yang kuat berpuasa. Orang yang lemah karna sakit atau sangat tua. Boleh tidak berpuasa tetapi wajib membayar fidiyah.

B.       Sayrat sahya puasa
a.         Islam
b.         Tamyiz artinya dikerjakan oleh orang/anak yang telah dapat membedakan antara makan dan bukan antara yang menyakitkan dan tidak sebagai mana manusia biasa
c.         Suci. Ini khusus bagi wanita. Artinya suci dari nifas dan dari datang bulan
C.       Rukun puasa
a.         Berniat. Niat puasa wajib harus pada malamnya tidak pada paginya.
b.         Menahan dari makan dan minum.
5.        Haji
Haji menurut bahasa berartimenyengaja untuk mengunjungi. Menurut para ulama haji berarti mengujungi ka’bah untuk beribadah kepada allah dengan rukun rukun tertentu dan beberapa syarat tertentu serta beberapa kewajibannya dan mengerjakannya pada waktu tertentu. Jadi haji itu adalah rukun islam yang kelima yang wjib dikerjakan oleh setiap muslim, baik laki laki maupun permpuan apabila ia telah memenuhi syarat syaratnya dan kewajiban naik haji itu bagi setiap muslim hanya sekali seumur hidup. Dalam al-quran disebutkan yang artinya:
 “wajib karna allah atas semua manusia untuk menunaikan haji kerumah suci (kakbah)yakni yang mampu pergi kesana “( ali imran 97 )
A.           Syarat syarat wajib haji
Orang orang yang berkewajiban menjalankan haji itu hanyalah yang memenuhi syarat syarat yang tersebut di bawah ini :

a.         Islam
b.         Berakal
c.         Baligh
d.        Merdeka
e.         Mampu ( kuasa ) yang dimaksud dengan mampu :
1)        Mempunyai bekal yang cukup untuk pulang pergi dan cukup pula untuk nafkah yang ditinggalkan.
2)        Ada kendaraan yang sesuai dengan kendaraanya.
3)        Bagi perempuan bersama sama dengan muhrimnya Aman
4)        atau suaminya
B.       Rukun haji ada enam perkara :
a.         Ihram        : berpakaian ihram dan niat ihram haji
b.         Wukuf      : berdiam dipadang arafah  pada tanggal 9        dzulhijjah
c.         Thawaf     : thawaf haji yang disebut thawaf ifadlaah.
d.        Sa’yi         : berjalan atau lari kecil antara bukit shofa dan marwah
e.         Tahalul : membuka iharam dengan cara menggunting rambut sedikitnya tiga helai
f.          Tertib : berururtan
C. PengertianIhsan
Secara etimologis, Ihsan berasal dari kata hasana yuhsinu, yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya adalah ihsanan, yang artinya kebaikan.yang artinya baik. Ihsan secara terminologis mempunyai arti apabila kita beribadah seolah-olah kita melihat Allah dan bila tidak melihatnya, maka Allah pasti melihat kita. Allah Swt. Berfirman dalam Al-qur’an mengenai.
” Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri . . .”(Al-Isra’:7)
“Dan berbuat baiklah (kpd orang lain) seperti halnya Allah berbuat baik terhadapmu . . “(Qs AL-Qashash: 77).
 Menurut HR. Muslim ihsan ialah hendaknya kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatnya. Dan jika kamu tidak melihatnya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu.
            Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah swt. Sebab ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan darin-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat dimata Allah swt. Rasulullah Saw. Pun sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajaran-ajarannya mengarah kepada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. Oleh karenanya, seorang muslim hendaknya tidak memandang ihsan itu hanya sebatas akhlak yang utama saja, melainkan harus dipandang sebagai bagian dari aqidah dan bagian terbesar dari keislamannya karena, islam di bangun atas tiga landasan utama, yaitu iman, islam, dan ihsan, seperti yang telah diterangkan oleh Rasulullah Saw.dalam haditsnya yang sahih . Hadits ini menceritakan saat Rasulullah Saw. Menjawab pertanyaan malikat jibril – yang menyamar sebagai seorang manusia – mengenai islam, iman, dan ihsan. Setelah jibril pergi, Rasulullah Saw. Bersabda kepada sahabatnya, “ inilah jibril yang datang mengajarkan kepada kalian urusan agama kalian.” Beliau menyebut ketiga hal diatas sebagai agama, dan bahkan Allah Swt. Memerintahkan untuk berbuat ihsan pada banyak tempat dalam Al-qur’an
.” Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik. “ (Qs Al-Baqarah:195)
“ Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk berbuat adil dan kebaikan . . . .”(Qs. An-Nahl : 90 )
Ibnu katsir mengomentari ayat diatas dengan mengatakan bahwa kebaikan yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah kebaikan kepada seluruh mahluk Allah Swt.




Landasan syar’I ihsan
            Pertama Al- qur’anul karim
Dalam Al-qur’an, terdapat 166 ayat yang berbicara tentang ihsan dan implementasinya. Dari sini kita dapat menarik satu makna, betapa mulia dan agungnya perilaku dan sifat ini, hingga mendapat porsi yang sangat istimewa dalam Al-qur’an. Berikut ini adalah beberapa ayat yang menjadi landasan akan hal ini.
“Dan berbuat baiklah kalian karena sesungguhnyaAllah mencintai orang-orang yang berbuat baik.” (Qs. Al- Baqarah: 195)
“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan kebaikan.”(Qs. An-Nahl:90)
“. . . . .serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. . . .”(Qs. Al-Baqarah:83)
“Dan berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan para hamba sahayamu. . . . “ (Qs. An-Nisa’: 36)
            Kedua, As-sunnah
Rasulullah Saw. Pun sangat memberi perhatian terhadap masalah ihsan ini. Sebab,ini merupakan puncak harapan, perjuangan seorang hamba. Bahkan, diantara hadits-hadits mengenai ihsan tersebut, ada beberapa yang menjadi landasan utama dalam memahami agama ini. Rasulullah Saw. menerangkan mengenai ihsan –Ketika ia menjawab pertanyaan malaikat jibril tentang ihsan, dimana jawaban tersebut dibenarkan oleh jibril, dengan mengatakan, ”Engkua menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan apabila engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”
(HR. Muslim).





D.    Hubungan antara Islam Iman dan Ihsan
Telah di jelaskan sebelumnya pengertian islam, iman, dan ihsan . Nah, dalam ketiga hal ini terdapat hubungan antara ketiganya. Lebih jelasnya hubungan – hubungan atau keterkaitan antar ketiga hal tersebut :
Iman itu bisa dikatakan sebagai landasan awal.  Seperti sebagai pondasi dalam keberadaan suatu rumah. Sedangkan Islam merupakan entitas yang berdiri diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan condong, lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat akan tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah mungkin tidak terdirikan. Zakat tidak tersalurkan, puasa tak terlaksana, dan lain sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis, karena amal perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub, maka akan semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga pada tipisnya iman.
Ihsan bisa diumpamakan sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah tersebut bisa terlihat mewah, terlihat indah, dan megah. Sehingga padat menarik perhatian dari banyak pihak. Sama halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan perhatian dari sang kholiq, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah dan menjauhi larangannya saja, melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan-Nya. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas kedudukan kita hanyalah sebagai hamba, budak dari tuhan, sebisa mungkin kita bekerja, menjalankan perintah-Nya untuk mendapatkan perhatian dan ridhonya. Disinilah hakikat dari ihsan.
Lalu Iman berkaitan dengan aqidah islam , islam berkaitan dengan syariah, ihsan berkaitan dengan khuluqiya. Dari tiga hal tersebut dapat kita pahami dalam perkembangan ilmu keislaman , ilmu terkelompokan menjadi aqidah, fiqih, akhlaq.
Diantara pengelompokan kata dalam agama islam ialah iman, islam dan ihsan. Berdasarkan sebuah hadist yang terkenal, ketiga istilah itu memberikan umat ide tentang rukun iman, rukun islam dan penghayatan terhadap Tuhan yang maha Hadir dalam hidup. Setiap pemeluk islam mengetahui dengan pasti bahwa islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Dari pengertian tersebut memiliki arti masing-masing istilah terkait satu denga yang lain. Bahkan tumpang tindih sehingga satu dari ketiga istilah tersebut mengandung makna dua istilah yang lainnya. Dari pengertian inilah kita mengertibahwaislam, imandanihsanadalahTrilogiajaranIlahi.






















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
                        Islam, iman, dan ihsan merupakan suatu aspek yang membentuk sebuah rangkaian kesatuan yang saling mengait satu sama lain. Kita bisa menganalogikan islam, iman, dan ihsan sebagai sebuah rumah. Dimana iman sebagai pondasi, islam sebagai dinding dan ihsan sebagai atapnya. Jika diantara ketiganya ada yang hilang, maka maka rumah tersebut tidak akan sempurna. Dalam kehidupan, jika diantara ketiga aspek tersebut ada yang hilang dalam diri seseorang, maka orang tersebut tidak akan merasakan dalam hatinya, muslim yang menjaga rukun islam akan selalu dekat dengan Tuhannya dan muslim yang selalu berihsan akan selalu baik dalam hubungan dengan lingkungannya. Ihsan merupakan perbuatan atau wujud pengaplikasian dari iman dan islam itu sendiri. 













DAFTAR PUSTAKA
Hossen s. Nasr.2003,Islam Religi, History dan Civilizon,surabaya: Risalah Gusti
Zarkasyi,imam.1990,Fiqih 1,Ponorogo:Trimurti
Zarkasyi,imam.1990,Fiqih 2,Ponorogo:Trimurti
Zarkasyi, iman.1937,Usuludin,Ponorogo:Trimurti






[1]Japar,Ilmu Hadits,2014 Hal 12