BAB II
PEMBAHASAN
Berbagai PendekatanDi Dalam Memahami
Agama
Dewasa ini kehadiran agama semakin di tuntut agar ikut terlibat secara
aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi umat manusia.Tuntunan
terhadap agama yang demikian itu dapat di jawab manakala pemahaman agama yang
selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif di lengkapi dengan
pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional
konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Berkenaan
dengan pemikiran di atas, hal demikian perlu di lakukan, karena melalui
pendekatan tersebut kehadiran agama dapat di rasakan oleh penganutnya.
A. PENDEKATAN
TEOLOGIS NORMATIF
Pendekatan
teologis normatif dalam memahami agama
secara harfiah dapat di artikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan
kerangka ilmu yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu
keagamaan di anggap sebagai yang paling benar di bandingkan dengan yang
lainnya. Menurut informasi yang di berikan The Encyclopaedia of
American Religion,di amerika serikat saja terdapat 1200 sekte keagamaan. Satu
di antaranya adalah sekte Davidian yang pada bulan April 1993 pemimpin
sekteDavidian bersama 80 orang pengikut fanatiknya melakukan bunuh diri masal
setelah berselisih dengan kekuasan pemerintah amerika serikat. Dalam islam sendiri, secara tradisional, dapat di jumpai
teologi Mu’tazilah, teologi Asy’ariyah
dan Maturidiyah. Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang bernama khawarij dan
murji’ah.Menurut pengamatan
Sayyed Hosein Nasr, dalam era konteporer ini ada empat prototype pemikiran
keagamaan islam, yaitu pemikiran keagamaan Fundamentalis, modernis, mesianis,
dan tradisionalis. Ke empat prototisme pemikiran keagamaan tersebut sudah
barang tentu tidak mudah di satukan begitu saja.
Dalam
pemikiran tersebut, dapat di ketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman
keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau symbol–symbol
keagamaan yang masing–masing bentuk forma atau symbol–symbol keagamaan tersebut
mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai
salah.
B. PENDEKATAN
ANTROPOLOGIS
Pendekatan
antropologis dalam memahaminagama dapat di artikan sebagai salah satu upaya
memahami agma dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan
berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan
dekat dengan masalah – masalah yang di hadapi manusia.
Sejalan
dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama
dapat di temukan adanya hubungan fositif antara kepercayaan agama dengan
kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan
miskin pada umumnya, lebih tertarik kepada gerakan – gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang
menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang
kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakatyang sudah mapan
secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan.
Melalui
pendekatan antropologis di atas, kita melihat bahwa agama ternyata
berkorelasi dengan etos kerja dan
perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika kita ingin
mengubah pandangan dan sikap etos kerja
seseorang, maka dapat di lakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya.
Melalui
pendekatan antropologis sebagaimana tersebut di atas terlihat dengan jelas
hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula
agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
C. PENDEKATAN
SOSIOLOGIS
Sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyaraakat dan menyelidiki
ikatan – ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu.Sosiologi mencoba
mengerti sifat dan maksud hidup berama, cara terbentuk dan tumbuh serta
berubahnya perserikatan – perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya,
keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup itu dalam tiap
persekutuan hidup manusia.Sementara itu, soerjono soekanto mengartikan sosiologi
sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri dari persoalan penilaian.
Sosiologi tidak menetapkan kea rah mana sesuatu seharusnya berkembang dalam
arti memberi petunjuk – petunjuk yang
menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut.
Dari
definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan
tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai
gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya,
sosiologi dapat di gunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami
agama.Hal demikian dapat di mengeri, karena banyak bidang kajian agama yang
baru dapat di pahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa
bantuan dari ilmu sosiologi.Di sinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu
alat dalam memahami agama.
Jalaludin rahmat telah menunjukan
betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah
sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut :
Pertama,
dalam alqur’an atau hadis – hadis, hukum islam itu berkenaan dengan urusan
muamalah.
Kedua ,
bahwa di tekankannya masalah muamalah ( sosial ) dalam islam adalah adanya
kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan
waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh di
perpendek(tentu bukan di tinggalkan), melainkan tetap di kerjakan sebagai
mestinya
Ketiga,
bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan di beri ganjaran lebih besar
daripada ibadah yang bersifat perseorangan.Seperti halnya shalat berjamaah
lebih tinggi nilainya daripada shalat sendirian.
Keempat,
dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah di lakukan tidak sempurna
atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya ( tebusannya )
ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Apabila tidak
mampu membayarnya dengan puasa Bila suami istri bercampur siang atau istrinya
haid di bulan ramadhan maka harus membayarnya dengan memberi makan orang miskin.
Kelima,
dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan
mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunah. Misalnya dalam hadits
sebagai berikut.
Orang yang
bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di
jalan Allah ( seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus
berpuasa
Dalam
hadits yang lain Rasulullah berkata : “Maukah kamu aku beritahukan derajat apa
yang lebih utama daripada shalat, puasa, sadaqah ( sahabat menjawab ), tentu.
Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar.”( HR Abu Daud, Turmudzi, dan ibnu
hiban).
D. PENDEKATAN
FILOSOFIS
Secara
harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kebenaran,
ilmu, dan hikmah.Selain itu filsafat dapa pula berarti mencari hakikat sesuatu,
berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman –
pengalaman manusia. DALAM Kamus Umum
Bahasa Indonesia, poerwadarminata mengartikan filsafat sebagai
pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab – sebab, asas –
asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta . Adapun
pengertian filsafat secara umum adalah pendapat yang di temukan sidi
gazalba.Menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik,
radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, hikmah atau hakikat
mengenai segala sesuatu yang ada.
Berfikir
secara filosofis tersebut selanjutnya dapat di ggunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah,
hakikat atau inti dari ajaran agama dapat di mengerti dan di pahami secara
seksama.
E. PENDEKATAN
HISTORIS
Sejarah
atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya di bahas berbagai peristiwa
denan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari
peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat di acak denan
melihat kapan peistiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yan terlibat
dalam peristiwa tersebut.
Pendekatan
kesejarahan ini amat di butuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri
turun dalam situs yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial
kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, kuntowijoyo telah melakkan study yang
mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah.
Ketika ia mempelajari alqur’an, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan alqur’an itu
terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi kkonsep – konsep dan bagian
kedua, berisi kisah – kisah sejarah dan perumpamaaan.
Dalam bagian
pertama, yang berisi konsep–konsep, kita mendapati banyak sekali istilah
alqur’an yang merujuk kepada pengertian–pengertian normative yang khusus,
doktrin–doktrin etik, aturan–aturan legal, dan ajaran–ajaran keagamaan pada
umumnya.
Dalam
bagian pertama ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik bersifat abstrak
maupun konkret. Konsep entang Allah,
konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, dan sebagainya adalah
konsep–konsep yang abstrak.Sementara itu juga di tunjukan konsep–konsep yang
lebih menunjuk kepada fenomena konkradalah konsep – konsep yang abstrak.
Sementara itu juga di tunjukan konsep – konsep yang lebih menunjuk kepada
fenomena konkret dand dan dapat di amati ( obser – vable ), dapat di amati (
obser – vable ), misalnya konsep tentang duqara (orang – orang kafir ), dbu’afa
( orang lmah ), mutadl’afin ( kelas tertindas ),zhalimun( para tira ), aghniya
(orang kaya ),mustakbirun ( penguasa ), mufasidun ( koruptor – koruptor ) dan
sebagainya.
Pada bagian
yang kedua berisi kisah – kisah dan per-umpamaan, alqur’an ingin mengajak di
lakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah.Melalui kontemplasi terhadap
kejadian – kejadian atau peristiwa – peristiwa historis dan juga melalui kiasan
– kiasan yang berisi hikmah tersembunyi, manusia di ajak merenungkan hakikat
dan makna kehidupan.
Melalui
pendekatan sejarah ini seseorang di ajak untuk memasuki keadaan yang
sebenarnya berkenaan dengan penerapan
suatu peristiwa. Dari sini,maka seseorang
tidak akan memahami agama kelluar dari konteks historisnya, karena
pemahaman demikian itu akan menyeatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang
ingin memahami alqur’an secara benar misalny, yang bersangkutan harus
mempelajari sejarah turunnya alqur’an atau kejadian – kejadian yang mengiringi
turunnya alquran yang selanjutnya di sebut sebagai ilmu asbab al-nuzul ( ilmu
tentang sebab – sebab turunnya ayat Alqur’an ) yang pada intinya berisi sejarah
turunnya ayat alqur’an. Dengan ilmu asbabu nuzul ini seseorang akan dapat
mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hokum
tertentu dan di tunjuk untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.
F.
PENDEKATAN KEBUDAYAAN
Dalam amus
umum bahasa Indonesia, kebudayaan di artikan sebagai hasil kegiatan dan
penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat
istiadat; dan berarti pula kegiatan ( usaha ) batin ( akal dan sebagainnya
)untuk mencptakan sesuatu yang termasuk hasil
kebudayaan. Sementara itu, sutan takdir Alisjahbana mengatakan bahwa
kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur – unsur yang
berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan,
seni, hukkum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain yang di
peroleh manusia sebagai masyarakat.
Dengan
demikian, kebudayaan adalah hasil daya
cipta manusia dengaggunakan dan menggerahkan segenap potensi batin yang di
milikinya.
G. PENDEKATAN
PSIKOLOGI
Psikologi
atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari
jiwa seseorang melalui gejala prilaku yang dapat di amatinya. Menurut
Zakiah Dardjat prilaku seseorang yang Nampak lahiriah terjadi karena di
pengaruhi oleh keyakinan yang di annutnya. Seseorang ketika berjumpa saling
mengucapkan salam, hormat kepada kedua
orang tua, kepadda guru, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran,
dan sebagainnya merupakan gejala – gejala keagamaan yang dapat di jelaskan melalui
jiwa agama. Ilmu jiwa agama, sebagaimana di kemukakan Zakiah Daradjat, tidak
akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang di anut seseorang, melainkan
yang di pentingkan adalah bagaimana keyakinan agama tersebut terlihat pengaruhnya dalam perlaku
penganutnya.
Dengan ilmu
jiwa ini seseorang selain mengetahui tingkat keagamaannya, di pahami dan di
amalkan seseorang juga dapat di gunakan sebagai alat untuk memasukan agama
kedalm jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usiannya. Dengan ilmu ini agama
akan menemmukan cara yang tepat danb cocok untuk menanamkannya.
Kita dapat
mengetahuI pengaruh dari salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya dengan
melalui ilmu jiwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar