Kamis, 05 Maret 2015

makalah MSI "berbagai pendekatan dalam MSI"


BAB II
PEMBAHASAN
Berbagai PendekatanDi Dalam Memahami  Agama
Dewasa ini kehadiran agama semakin di tuntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang di hadapi umat manusia.Tuntunan terhadap agama yang demikian itu dapat di jawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif di lengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.
Berkenaan dengan pemikiran di atas, hal demikian perlu di lakukan, karena melalui pendekatan tersebut kehadiran agama dapat di rasakan oleh penganutnya.
A.         PENDEKATAN TEOLOGIS NORMATIF
Pendekatan teologis normatif dalam  memahami agama secara harfiah dapat di artikan sebagai upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu yang bertolak dari suatu keyakinan bahwa wujud empirik dari suatu keagamaan di anggap sebagai yang paling benar di bandingkan dengan yang lainnya. Menurut informasi yang di berikan The Encyclopaedia of American Religion,di amerika serikat saja terdapat 1200 sekte keagamaan. Satu di antaranya adalah sekte Davidian yang pada bulan April 1993 pemimpin sekteDavidian bersama 80 orang pengikut fanatiknya melakukan bunuh diri masal setelah berselisih dengan kekuasan pemerintah amerika serikat. Dalam islam sendiri, secara tradisional, dapat di jumpai teologi  Mu’tazilah, teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah. Dan sebelumnya terdapat pula teologi yang bernama khawarij dan murji’ah.Menurut  pengamatan Sayyed Hosein Nasr, dalam era konteporer ini ada empat prototype pemikiran keagamaan islam, yaitu pemikiran keagamaan Fundamentalis, modernis, mesianis, dan tradisionalis. Ke empat prototisme pemikiran keagamaan tersebut sudah barang tentu tidak mudah di satukan begitu saja.
Dalam pemikiran tersebut, dapat di ketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau symbol–symbol keagamaan yang masing–masing bentuk forma atau symbol–symbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah.
B.         PENDEKATAN ANTROPOLOGIS
            Pendekatan antropologis dalam memahaminagama dapat di artikan sebagai salah satu upaya memahami agma dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah – masalah yang di hadapi manusia.
Sejalan dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat di temukan adanya hubungan fositif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin pada umumnya, lebih tertarik kepada gerakan – gerakan  keagamaan yang bersifat mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan. Sedangkan golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakatyang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan.
Melalui pendekatan antropologis di atas, kita melihat bahwa agama ternyata berkorelasi  dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, jika kita ingin mengubah  pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat di lakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya.
Melalui pendekatan antropologis sebagaimana tersebut di atas terlihat dengan jelas hubungan agama dengan berbagai masalah kehidupan manusia, dan dengan itu pula agama terlihat akrab dan fungsional dengan berbagai fenomena kehidupan manusia.
C.         PENDEKATAN SOSIOLOGIS
            Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyaraakat dan menyelidiki ikatan – ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu.Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup berama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan – perserikatan hidup itu serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup itu dalam tiap persekutuan hidup manusia.Sementara itu, soerjono soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri dari persoalan penilaian. Sosiologi tidak menetapkan kea rah mana sesuatu seharusnya berkembang dalam arti memberi petunjuk – petunjuk  yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut.
Dari definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.
Selanjutnya, sosiologi dapat di gunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama.Hal demikian dapat di mengeri, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat di pahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi.Di sinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami agama.
Jalaludin rahmat telah menunjukan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut :
Pertama, dalam alqur’an atau hadis – hadis, hukum islam itu berkenaan dengan urusan muamalah.
Kedua , bahwa di tekankannya masalah muamalah ( sosial ) dalam islam adalah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah  bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh di perpendek(tentu bukan di tinggalkan), melainkan tetap di kerjakan sebagai mestinya
Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakatan di beri ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan.Seperti halnya shalat berjamaah lebih tinggi nilainya daripada shalat sendirian.
Keempat, dalam islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah di lakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kifaratnya ( tebusannya ) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Apabila tidak mampu membayarnya dengan puasa Bila suami istri bercampur siang atau istrinya haid di bulan ramadhan maka harus membayarnya dengan memberi makan  orang miskin.
Kelima, dalam islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar daripada ibadah sunah. Misalnya dalam hadits sebagai berikut.
Orang yang bekerja keras untuk menyantuni janda dan orang miskin adalah seperti pejuang di jalan Allah ( seperti orang yang terus menerus salat malam dan terus menerus berpuasa
Dalam hadits yang lain Rasulullah berkata : “Maukah kamu aku beritahukan derajat apa yang lebih utama daripada shalat, puasa, sadaqah ( sahabat menjawab ), tentu. Yaitu mendamaikan dua pihak yang bertengkar.”( HR Abu Daud, Turmudzi, dan ibnu hiban).
D.         PENDEKATAN FILOSOFIS
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kebenaran, ilmu, dan hikmah.Selain itu filsafat dapa pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman – pengalaman manusia. DALAM Kamus Umum  Bahasa Indonesia, poerwadarminata mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab – sebab, asas – asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta . Adapun pengertian filsafat secara umum adalah pendapat yang di temukan sidi gazalba.Menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Berfikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat di ggunakan dalam memahami  ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat di mengerti dan di pahami secara seksama.
E.         PENDEKATAN HISTORIS
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya di bahas berbagai peristiwa denan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat di acak denan melihat kapan peistiwa itu terjadi, di mana, apa sebabnya, siapa yan terlibat dalam peristiwa tersebut.
Pendekatan kesejarahan ini amat di butuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situs yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, kuntowijoyo telah melakkan study yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari alqur’an, ia sampai pada suatu kesimpulan  bahwa pada dasarnya kandungan alqur’an itu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi kkonsep – konsep dan bagian kedua, berisi kisah – kisah sejarah dan perumpamaaan.
Dalam bagian pertama, yang berisi konsep–konsep, kita mendapati banyak sekali istilah alqur’an yang merujuk kepada pengertian–pengertian normative yang khusus, doktrin–doktrin etik, aturan–aturan legal, dan ajaran–ajaran keagamaan pada umumnya.
Dalam bagian pertama ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik bersifat abstrak maupun  konkret. Konsep entang Allah, konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, dan sebagainya adalah konsep–konsep yang abstrak.Sementara itu juga di tunjukan konsep–konsep yang lebih menunjuk kepada fenomena konkradalah konsep – konsep yang abstrak. Sementara itu juga di tunjukan konsep – konsep yang lebih menunjuk kepada fenomena konkret dand dan dapat di amati ( obser – vable ), dapat di amati ( obser – vable ), misalnya konsep tentang duqara (orang – orang kafir ), dbu’afa ( orang lmah ), mutadl’afin ( kelas tertindas ),zhalimun( para tira ), aghniya (orang kaya ),mustakbirun ( penguasa ), mufasidun ( koruptor – koruptor ) dan sebagainya.
Pada bagian yang kedua berisi kisah – kisah dan per-umpamaan, alqur’an ingin mengajak di lakukannya perenungan untuk memperoleh hikmah.Melalui kontemplasi terhadap kejadian – kejadian atau peristiwa – peristiwa historis dan juga melalui kiasan – kiasan yang berisi hikmah tersembunyi, manusia di ajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang di ajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya  berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini,maka seseorang  tidak akan memahami agama kelluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyeatkan orang yang memahaminya. Seseorang yang ingin memahami alqur’an secara benar misalny, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya alqur’an atau kejadian – kejadian yang mengiringi turunnya alquran yang selanjutnya di sebut sebagai ilmu asbab al-nuzul ( ilmu tentang sebab – sebab turunnya ayat Alqur’an ) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat alqur’an. Dengan ilmu asbabu nuzul ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenan dengan hokum tertentu dan di tunjuk untuk memelihara syariat dari kekeliruan memahaminya.
F.         PENDEKATAN KEBUDAYAAN
Dalam amus umum bahasa Indonesia, kebudayaan di artikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin ( akal budi ) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat; dan berarti pula kegiatan ( usaha ) batin ( akal dan sebagainnya )untuk mencptakan sesuatu yang termasuk hasil  kebudayaan. Sementara itu, sutan takdir Alisjahbana mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks, yang terjadi dari unsur – unsur yang berbeda seperti pengetahuan, kepercayaan,  seni, hukkum, moral, adat istiadat dan segala kecakapan lain yang di peroleh manusia sebagai masyarakat.
Dengan demikian,  kebudayaan adalah hasil daya cipta manusia dengaggunakan dan menggerahkan segenap potensi batin yang di milikinya.
G.         PENDEKATAN PSIKOLOGI
Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari  jiwa seseorang melalui gejala prilaku yang dapat di amatinya. Menurut Zakiah Dardjat prilaku seseorang yang Nampak lahiriah terjadi karena di pengaruhi oleh keyakinan yang di annutnya. Seseorang ketika berjumpa saling mengucapkan salam, hormat kepada kedua  orang tua, kepadda guru, menutup aurat, rela berkorban untuk kebenaran, dan sebagainnya merupakan gejala – gejala keagamaan yang dapat di jelaskan melalui jiwa agama. Ilmu jiwa agama, sebagaimana di kemukakan Zakiah Daradjat, tidak akan mempersoalkan benar tidaknya suatu agama yang di anut seseorang, melainkan yang di pentingkan adalah bagaimana keyakinan agama  tersebut terlihat pengaruhnya dalam perlaku penganutnya.
Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain mengetahui tingkat keagamaannya, di pahami dan di amalkan seseorang juga dapat di gunakan sebagai alat untuk memasukan agama kedalm jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usiannya. Dengan ilmu ini agama akan menemmukan cara yang tepat danb cocok untuk menanamkannya.
Kita dapat mengetahuI pengaruh dari salat, puasa, zakat, haji, dan ibadah lainnya dengan melalui ilmu jiwa.
Dari uraian tersebut kita melihat ternyata agama dapat di pahami melalui berbagai pendekataan.Dengan pendekatan itu semua orang akan sampai pada agama. Dari keadaan demikian seseorang akan memiiki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnnya mendapat bimbingan dari agama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar