BAB
1
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Islam
sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas
sebagai kebutuhan manusia. Selain menghadapi kebersihan lahiriyah juga menghendaki
kebersihan batiniyah. Lantaran penelitian yang sesungguhnya dalam Islam
diberikan pada aspek batinnya.
Tasawuf
merupakan bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek
rohani manusia yang selanjutanya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan
aspek rohani atau batin ini. Selanjutnya, dikenal sebagai dimensi esoteric dari
diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fiqih, khususnya pada bab thoharoh
yang memusatkan perhatian pada pembersih aspek jasmani atau lahiriyah yang selanjutnya
di sebut sebagai dimensi eksotrik.
Dari suasana
demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral
yang mengambil bentuk seperti manipulasi, koropsi, kolusi, penyalahgunaan
kekuasaan dan kesempatan, penindasan, dan sebagainya. Untuk mengatasi masalah
ini tasawuf di bina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu
merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian tasawuf secara istilah ?
2.
Apa
yang maksud maqamat dan ahwal dalam tasawuf ?
3.
Siapa
ahli tasawuf beserta sejarah tasawuf ?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui pengertian tasawuf secara
istilah
2. Mengetahui maksud maqamat dan ahwal
dalam tasawuf
3. Mengetahui ahli dalam tasawuf beserta
sejarahnya
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian
Tasawuf
Ditinjau dari segi bahasa (Etimologi) terdapat sejumlah kata atau
istilah yang di hubungkan oleh para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Menurut
bahasa tasawuf memilik makna yang beragam menurut pendapat dari beberapa ulama diantaranya
adalah :
a)
Berasal dari kata Shafaa, berarti suci bersih. Karena orang orang
yang mengamalkan tasawufItu selalu suci dan bersih suci lahir dan selalu
meninggalkan perbuatan perbuatan yang kotor yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah
SWT.
b)
Berasal dari kata Suufah, berarti bulu binatang. Karena orang orang
yang menyelami dunia tasawuf itu dengan memakai pakaian yang terbuat dari bulu
bintang dan tidak senang memekai pakaian yang indah indah sebagaimana yang di
pakai kebanyakan orang.
c)
Berasal dari kata Suffah, berarti segolongan sahabat Nabi SAW yang
menyisihkan dirinya di serambi masjid nabawi karena di serambi masjid nabawi
itulah para sahabat duduk duduk bersama Rasullah SAW untuk mendengarkan fatwah-fatwah
beliau.
d)
Berasal dari suufatu Al- Qhodaa, berarti bulu yang lembut. Karena seorang sufi itu
mempunyai sifat dan akhlaq yang lembut.
e)
Berasal dari kata Ahlu As-Suffah, yang oleh arti bahasa dewasa ini
dianggap bahwa kata shufi itu bukan berasal dari bahasa arab melainkan dari
bahasa yunani kuno yang di arabkan yaitu berasal dari kata “THEOSOFIE” yang
artinya ILMU KETUHANAN “ yang kemudia di arabkan dan diucapkan dengan lidah
arab sehingga berubah menjadi “ TASAWUF”
Dengan adanya berbagai macam asal kata yang diambil itulah sehingga
para ahli menerjemahkannya sebagai berikut :
Menurut Abdul Qasim Qusyairi, bahwa yang di maksud dengan tasawuf
itu adalah menerapkan segala makna yang terkandung dalam al-Quran dan Al-Hadist
Nabi secara konsekwen, memerangi hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah dan
mengikuti syahadat dan dari menganggap remeh ibadah.
Sedangkan menurut Sahal Abdullah At-Tustury, bahwa yang di maksud
dengan shufi itu adalah orang yang membersihkan dirinya dari kerusakan moral
selalu dalam renungan yang mendalam dan menilai akhlaqul karimah itu lebih
berharga dari tumpukan emas dan permata.
Imam Al-Ghazali telah berkata pula, bahwa yang dimaksud dengan
tasawuf itu adalah memakai yang halal, mengikui akhlaq perbuatan, dan perintah
rasulullah yang termasuk dalam sunahnya. Barang siapa yang tidak hafal akan isi
Al-Quran dan Al-Hadist Nabi SAW, maka janganlah diikuti karna ajaran tasawuf
itu adalah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.[1]
B.
Secara Istilah
Pengertian tasawuf secara istilah telah banyak di
formulasikan pula ahli yang satu dan lainnya berbeda, sesuai dengan seleranya
masing-masing :
Menurtut Amir bin Usman Al-Maliki ia berkata : tasawuf adalah
melakukan sesuatu yang terbaik di setiap saat. Sedangkan, menurut Zakaria
al-Anshari berkata,”Tasawuf adalah ilmu yang dengannya diketahui tentang
pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin,
untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.”[2]
Ahmad Zaruq berkata, ”Tasawuf adlah ilmu yang bertujuan untuk
mempernbaiki hati dan memfokuskannya hanya untuk Allah semata. Fikih adalah
ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara aturan dan menampakkan
hikmah dari setiap hukum. Sedangkan ilmu tauhid adalha ilmu yang bertujuan
untuk mewujudkan dalil-dalil dan menghiasi iman dengan keyakinan, sebagaimana
ilmu kedokteran untuk memelihara badan dan ilmu nahwu untuk memelihara islam.”[3]
Menurut Al-Junaidi. Ia mendefinisikan, “Tasawuf adalah membersihkan
hati dari apa saja yang menggangu perasaan makhluk, berjuang menanggalkan
pengaruh budi yang asal [instink] kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita
sebagai manusia, menjauhi segala seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci
kerohanian, bergantung pada ilmu ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan
terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada semua orang, memegang teguh janji
dengan dalam hal hakikat dan mengikuti contoh Rasullah dalam hal syariat.”
C. Ruang
Lingkup Tasawuf
Tasawuf merupakan visi langsung terhadap sesuatu bukan melalui
dalil. Orang yang mendapatkan penngeahuan ini dianggap berada dalam cahaya Allah
di jalan yang benar karena mereka mampu melihat sesuatu langsung dari
hakikatnya itu sebabnya tasawuf sukar untuk diungkapkan dengan kata kata yang
mudah dipahami masyarakat awam. Ia merupakan puncak pengalaman perjalanan
rohani menuju yang mutlak. Apalagi
pengalaman tasawuf ini juga merupakan karunia dari tuhan setelah seseorang
menempuh penyucian rohani itu melalui latihan latihan fisik psikis yang berat.
Akal sama sekali tidak mempunyai peranan disini.
Dalam konteks inilah seperti sering dikatakan Ibnu Arabi, tasawuf
hanya dikaruniakan Allah kepada para Nabi dan Wali. Karena merekalah yang telah
mencapai puncak tertinggi proses penyucian rohaninya dalam mendekatkan diri
kepada Tuhan.
Berdasrkan obyek dan sasarannya diklasifikasikan menjadi tiga macam
yaitu :
1.
Tasawuf Akhlaqi yaitu tasawuf yang sangat menekan nilai nilai etis
(moral)
2.
Tasawuf Amali yaitu tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan
beribadah, tujuannya agar diperoleh
penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
3.
Tasawuf Falsafi yaitu yang menekankan pada masalah-masalah yang
metafisik.
D.
Maqomat Dalam Tasawuf
Ditinjau dari segi bahasa kata maqamat berasal dari bahasa arab
yaitu isim makan yang berarti tempat orang yang berdiri atau pangkal
mulia. Selanjutnya, istilah ini dipakai untuk arti jalan panjang secara
berjenjang yang harus ditempuh oleh seseorang sufi untuk berada dekat dengan Allah.
Dalam bahasa inggris kata maqamat dikenal dengan istilah stages yang
berarti tangga.Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh
oleh seorang sufi untuk sampai kepada tuhan dikalangan para sufi tidak sama
pendapatnya. Muhammad Al-Kalabazy dalam kitabnya Al-Taarruf limadzhab Al-Tasawuf,
sebagai dikutip sebagai Harun Nasution misalnya
mengatakan bahwa maqamat itu berjumlah 10 yaitu: al-taubah, al-zuhud,
al-sabar, al-faqir, al-tawadlu, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah
dan al-ma’rifah.
Sementara itu,Abu Nasr Al-Sarraj Al-Tusi, dalam kitab al-luma
menyebutkan jumlah maqamat hanya 7 yaitu al-taubah, al-zuhud, al-sabar,
al-faqir, al-tawadlu, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla,
Dalam pada itu imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Al-Ulumuddin
mengatakan bahwa maqamat itu ada 8 yaitu : al-taubah, al-sabar, al-zuhud,
al-faqir, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah al-ridla. Kutipan tersebut
memperlihatkan keadaan variasi
penyebutan maqamat yang berbeda-beda namun ada maqamat yang oleh
mereka disepakati yaitu al-taubah,
al-zuhud, al-sabar, al-faqir, al-tawadlu, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla,
Sedangkan al-tawadhu al-mahabbah dan al-ma’rifah oleh mereka
disepakati sebagai maqamat. Terhadap
tiga istilah yang disebut terakhir itu (al-tawadhu al-mahabbah dan
al-ma’rifah)terkadang para ahli tasawuf menyebutnya sebagai maqamat, dan
terkadang menyebutnya sebagai hal dan ittihad (tercapainya kesatuan wujud
rohaniyah dengan tuhan). Untuk itu dalam uraian ini, maqamat yang akan
dijelaskan lebih lanjut adalah maqamat
yang disepakati oleh mereka, yaitu : al-taubah, al-zuhud, al-sabar,
al-faqir, al-wara’, al-tawakkal, al-ridla. Penjelasan atas massing-masing
istilah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
Sebenarnya
banyak pendapat yang memaparkan tentang maqamat tasawuf, namun dalam bahsa ini
kami kutip maqamat tasawuf menurut Abu Nasr AS Sarraj dengan berurutan sebagai
berikut : tobat, wara’, zuhud, fakir, sabar, tawakal, ridha.
1.
Taubat
Kata
taubah adalah bentuk mashdar dan berasal dari bahasa arab yaitu taba,
yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkan, tobat yang dimaksud oleh
kelompok sufi yaitu memohon ampun kepada Allah atas segala dosa atas kesalahan
dan berjanji denga sungguh-sungguh dan
tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut lagi kemudian diikuti dengan melakukan amal kebajikan.
Harun Nation, mengatakan taubat yang dimaksud sufi ialah taubat
yang sebenarnya, taubat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi. untuk mencapai taubat yang sesungguhnya dan
dirasakan diterima oleh Allah terkadang tidak dapat dicapai satu kali saja. Ada
kisah yang mengatakan bahwa seorang sufi sampai tujuh puluh kali taubat, baru
ia mencapai tingkat taubat yang sesungguhnya. Taubat yang sesungguhnya dalam
sufisme ialah lupa pada segala hal kecuali Tuhan. Orang yang bertaubat adalah
orang yang cinta pada Allah dan orang yang senantiasa mengadakan kontemplasi
tentang Allah. Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menganjurkan
manusia agar bertaubat. Diantaranya ayat dalam surat al-imran : 135 yang
artinya : “Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau
menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap
dosa-dosa mereka.” ( QS. Ali ‘imran, 3: 135 )
Didalam surat yang lain juga diterangkan yang artinya:“Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung.”( QS. An-Nur, 24: 31 )
2.
Wara’
Kata
wara’ berati saleh yaitu menghindari
diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal hal yang tidak baik dan subhat.
Dalam pengertian sufi wara’ adalah menghindari jauh jauh segala yang di
dalamnya terdapat keragu raguan antara halal dan haram.
Sikap menjauhi diri dari
yang syubhat ini sejalan dengan hadist Nabi yang artinya.“Barang siapa yang
dirinya terbebas dari syubhat maka sesungguhnya ia telah terbebas dari yang
haram.”( HR. Bukhori)
Dari hadist tersebut menunjukkan bahwa syubhatlebih dekat pada yang
haram. Kaum sufi menyadari benar bahwa setiap makanan, minuman, pakaian dan
sebagainya yang haram dapat memberi pengaruh bagi orang yang memakan, meminum
atau memakannya. Orang yang demikian akan keras hatinya, sulit mendapatkan
hidayah dan ilham dari Tuhan. Hal ini dipahami dari hadist Nabi menyatakan
bahwa setiap makanan yang haram yang dimakan oleh manusia akan menyebabkan nona
hitam pada hati yang lama-kelamaan hati menjadi keras. Hal ini sangat ditakuti
oleh para sufi yang senantiasa mengharapkan nur ilahi yang dipancarkan lewat
hatinya yang bersih.
3.
Zuhud
Dari
segi bahasa kata zuhud biasa diartikan tidak ingin terhadap sesuatu yang
bersifat keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nation zuhud artinya keadaan
meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Selanjutnya, Al-Qusyairi mengatakan
bahwa diantara para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan zuhud. Sebagian
ada yang mengatakan bahwa Zuhud adalah orang yang zuhud didalam masalah yang
haram, karena yang halal adalah sesuatu yang mubah dalam pandangan Allah, yaitu
orang yang diberikan nikmat berupa harta yang halal, kemudian ia bersyukur dan
meninggalkan dunia itu dengan kesadarannya sendiri. Sebagian ada pula yang
mengatakan bahwa zuhud adalah zuhud dalam yang haram sebagai suatu kewajiban.
Zuhud
termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan
diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau
mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, dari pada mengejar
kehidupan dunia yang fana dan sepintas lalu. Hal ini dapat dipahami dari
isyarat ayat al-Qur’an yang artinya “ Katakanlah kesenangan didunia ini
hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan
kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”(QS. Al- Nisa, 4: 78) sedangkan
dalam ayat yang laiin diterangkan yang atrinya “Dan tiadalah kehidupan dunia
ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat
itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidak kamu memahaminya” (QS.
Al-An’am, 6: 32)
4.
Fakir
Kata
fakir dari segi bahasa artinya adalah orang yang orang yang berhajat, butuh,
atau orang miskin sedangkan dalam pandangan kaum sufi. Fakir adalah tidak
meminta lebih dari pada yang menjadi haknya tidak banyak mengharap dan memohon
rezeki kecuali hanya untuk menjalankan kewajiban kewajiban dalam rangka
mendekatkan diri kepada Allah.
5.
Sabar
Secara
harfiah sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishry, sabar artinya
menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang
ketika mendapat cobaan dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada
dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya, Ibnu Atha mengatakan sabar
artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik. Dan
pendapat lain mengatakan sabar berarti menghilangkan rasa mendapatkan cobaan
tanpa menunjukkan rasa kesal. Ibn Usman Al-Hairi mengatakan sabar adalah orang
yang mampu memasung dirinya atas segala sesuatu yang kurang
menyenangkan.dikalangan para sufi sabar diartikan sabar dalam menjalankan
perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala larangannya dan menerima segala
percobaan-percobaan yang ditimpakannya pada diri kita. Sabar dalam menunggu
datangnya pertolongan tuhan. Sabar dalam menjalani cobaan dan tidak
menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Kata sabar dapat dimaknai menghindari
diri dari hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dilarangi Allah, ia tengang
ketika mendapatkan cobaan dan menampakkan sikap perwira walaupun sebenarnya
berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Di kalangan para sufi sabar
terdiri atas sabar dalam menjalankan perintah perintah Allah sabar dalam
menjauhi larangannya dan sabar dalam menerima segala cobaan cobaan yang
ditinpakannya kepadanya.
Sikap
sabar sangat dianjurkan dalam ajaran al-Qur’an. Allah berfirman dalam al-Qur’an
yang artinya “ maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai
keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta kesegerakan ( azab )
bagi mereka” (QS. Al-Ahqaf, 46: 35)
6.
Tawakal
Secara harfiah
tawakkal berarti menyerahkan diri. Tawakal adalah penyerahan diri seseorang
hamba kepada allah setelah ada usaha maksimal. Menurut Sahal bin Abdullah bahwa
tawakkal awalnya adalah apabila seorang hamba dihadapan allah seperti bangkai
dihadapan orang yang memandikannya, ia mengikuti semaunya yang memandikan,
tidak dapat bergerak dan bertindak. Hamdun al-Qashshar mengatakan tawakkal
adalah berpegang teguh pada Allah. Al-Qusyairi lebih lanjut mengatakan bahwa
tawakkal tempat didalam hati dan timbulnya gerak dalam perbuatan tidak mengubah
tawakkal yang terdapat dalam hati itu. Hal itu terjadi setelah hamba meyakini
bahwa segala ketentuan hanya didasarkan pada ketentuan Allah. Mereka menggap
jika menghadapi kesulitan maka yang demikian itu sebenernya takdir Allah. Sayyid
berkata,” Tawakal adalah percaya sepenuh hati terhadap apa-apa yang ada pada
Allah, dan putus asa terhadap apa-apa yang ada pada manusia”.[4]
Ibnu
Ujaibah mengatakan,”Tawakal adalah kepercayaan hati terhadap Allah, sampai
dia tidak bergantung kepada sesuatu selainnya. Dengan kata lain, tawakal adalah
bergantung dan bertumpu kepada Allah dalam segala sesuatu, berdasarkan
pengetahuan bahwa Dia Maha Mengetahui segala ssesuatu. Selain itu, tawakal juga
menuntut subjek untuk melebihkan semua yang ada dalam kekuasaan Allah lebih
dipercaya dari pada yang ditangan subjek.”[5]
Bertawakkal
termasuk perbuatan yang diperintah oleh Allah. Dalam firmannya, Allah
menyatakan yang artinya “Dan hanya kepada allah orang-orang yang beriman
bertawakal.”(QS. At-Taubah, 9: 51 )
Jadi,
Tawakal kepada Allah adalah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, bergantung
dalam semua keadaan kepada-Nya dan yakin bahwa segala kekuatan dan kekuasaan
hanya milik-Nya. Tawakal merupakan sikap hati, sebagaimana tampak dalam
definisi-definisi diatas. Oleh karena itu, tidak ada pertentangan antara
tawakal kepada Allah dan antara bekerja serta berusaha. Tempat tawakal adalah
hati, sedangkan tempat berusaha dan bekerja adalah badan. Bagaimana seorang
mukmin meninggalkan usaha setelah Allah memerintahkannya dalam ayat-ayat yang
mulia dan Rassul s.a.w. menganjurkannya dalam banyak hadist.
Seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah s.a.w.dengan mengendarai unta, lalu berkata,
يارسول الله
اارسل ناقتي واتوكل فقال اعقلها وتوكل
“wahai Rasulullah, apakah aku boleh melepaskan untaku, lalu aku
bertawakal ?” Rasulullah s.a.w.menjawab,”Ikatlah dia (terlebih dahulu), lalu
bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Oleh karena itu, para ulam beranggapan bahwa tidak bekerja atau
tidak berusaha adalah kemalasan yang tidak sesuai dengan jiwa islam. Para sufi
juga menekankan hal ini, sebagai bentuk pelurusan pemikiran, jawaban atas
berbagai keraguan dan penjelasan kepada masyarakat bahwa tasawuf adalah
pemahaman hakiki terhadap islam.
7.
Ridha
Kata
ridha dalam segi bahasa dapat diartikan rela suka senang. Harun Nasution
mengatakan bahwa ridha berarti tidak berusaha, tidak menentang qadha dan qadar
allah, menerima qadha dan qadhar dengan hati senang, mengeluarkan perasaan
benci dari hati sehingga yang tinggal didalamnya hanya perasaan senang dan
gembira.
Merasa senang menerima
malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat.Tidak meminta surga dari
Allah dan tidak tidak meminta dijauhkan dari neraka.Tidak berusaha sebelum turunnya
qada dan qadar,tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya kada dan kadar,malahan
perasaan cinta bergelora di waktu turunnya bala’(cobaan yang berat).
Manusia
biasanya merasa sungkar menerima keadaan keadaan yang biasa menimpa dirinya,
seperti kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat dan kedudukan,
kematian dan lain-lain yang dapat mengurangi kesenangannya yang dapat bertahan
dari berbagai cobaan itu hanyalah orang-orang yang telah memiliki ridho. Selain
itu, ia juga rela berjuang atas jalan allah, rela menghadapi segala kesukaran,
rela membela kebenaran, rela berkorban harta, jiwa dan lainnya. Semua itu bagi
sufi di pandang sebagai sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang bernilai
tinggi bahkan di anggap sebagai ibadah semata mata karna mengharapkan keridhan
Allah.
Dalam hadis kudsi nabi menegaskan yang artinya ;
“Sesunnguhnya Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku. Barang siapa
yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas segala nikmat Ku serta
tidak rela terhadaap keputusan-Ku maka hendaknya ia keluar dari kolong langit
dan cari Tuhan selain Aku.”
E.
Pengertian
Ahwal
Ahwal
adalah bentuk jama’ dari kata hal, yang berarti kondisi mental atau situasi
kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia Allah, bukan hasil dari
usahanya.Hal bersifat sementara, datang dan pergi datang dan pergi bagi seorang
sufi dalam perjalananya mendekati Tuhan
Menurut Harun Nasution, hal merupakan keadaan mental, seprti
perasaan senang, perasaan sedih, takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut
sebagai hal adalah takut (al-khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh
(al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd),
berterima kasih (al-syukr).
Imam
Al – Ghazali mengatakan “Hal adalah satu waktu di mana seorang hamba berubah
karena ada sesuatu dalam hatinya.Seorang hamba pada saat tertentu hatinya dan
pada saat yang lain hatinya berubah. Inilah yang disebut dengan hal”.
Hal berlainan
dengan maqam, bukan diperoleh atas usahamanusia, tetapi diperdapat sebagai
anugrah dan rahmat dari tuhan. Berlainan pula dengan maqam, hal besifat
sementara, datang dan pergi, datang dan pergi seorang sufi dalam perjalannya
mendekati tuhan.
Selain melaksanakan kegiatan dan usaha sebagaimana disebutkan di
atas, seorang sufi juga harus melakukan rangkaian kegiatan mental yang berat.
Kegiatan mental tersebut seperti riyadah, mujahadah, khalawat, uzlah,
muraqabah, suluk dan sebagainya. Riyadah berati latihan mental dengan
melaksanakan dzikir dan tafakur yang sebayank-banyaknya serat melatih diri
dengan berbagai sifat yang terdapat dalam maqam. Selanjutnya, mujahadah berarti
berlatih diri dengan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah.Selanjutnya,
khalwat berarti menyepi atau bersemi dan uzlah berarti mengasingkan diri dari
sifat keduniaan. Dan muraqabah berarti mendekatkan diri kepada Allah dan suluk
berarti menjalankan cara hidup sebagai sufi dengan dzikir.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, tampak jelas, jalan yang harus
ditempuh oleh seorang sufi yang untuk mencapai tujuan memperoleh hubugan batin
dan bersatu secara rohaniah dengan tuhan bukanlah jalan yang mudah. Jalan yang
harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah.
Jalan itu sulitdan untuk pindah dari satu stasiun ke stasiun lain menhendaki
usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat.
Ahwal
yang dijumpai dalam perjalanan sufi
Ahwal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi
antara lain :
1.
Waspada dan Mawas Diri
(Muhasabah dan muraqabah)
Waspada
dan mawas diri merupakan dua hal yang saling berkaitan erat .Oleh karena itu ,
ada sufi yang mengupasnya secara bersamaan. Waspada (Muhasabah) dapat diartikan
meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam
hati, yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada Allah.
Adapun mawas diri (Muraqabah) adalah meneliti dengan cermat apakah segala perbuatan
sehari–hari telah sesuai atau malah menyimpang dari kehendak-Nya.
2.
Cinta (Mahabbah)
Cinta
atau mahabbah merupakan salah satu pilar utama islam dan inti dari
ajarannya.Mahabbah adalah kecenderungan hati untuk memerhatikan keindahan atau
kecantikan.
Dalam
pandangan Al-Junaidi, cinta didefinisikan sebagai “kecenderungan hati pada
Allah Ta’ala, kecenderungan hati pada sesuatu karena mengharap ridha Allah
tanpa merasa diri terbebani, atau menaati Allah dalam segala hal yang
diperintahkan atau dilarang, dan rela menerima apa yang telah ditetapkan dan
ditakdirkan Allah.
3.
Raja (pengharapan)
Menurut Ahmad Zaruq, definisi raja’
adalah kepercayaan atas karunia Allah yang dibuktikan dengan amal. Kalau bukan
demikian, maka itu adalah keterperdayaan diri.[6]
Allah telah menganjurkan
kita semua untuk mengharapkan karunianya dan melarang kita untuk berputus asa
dari rahmatnya. Allah berfirman, “ Katakanlah ,’Hai hamba-hambaku yang
melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS.Az.Zumar:
53)
Raja’(pengharapan)
berbeda dengan tamanni (angan-angan). Sebab, orang yang berharap adalah
orang yang mengerjakan sebab, yakni ketaatan, seraya mengharapkan ridho dan
pengabulan dari Allah. Sedangkan, orang yang beragan- angan meninggalkan sebab
dan usaha, lalu dia menunggu datangnya ganjara dan pahala dari Allah. Orang
semacam inilah yang terekam dalam sabda Nabi, “Dan orang yang lemah adalah
orang yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan angan terhadap Allah.” (HR.Tirmidi)
Orang yang mengharap
dan mencari rahmat Allah harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan berijtihad
dengan penuh ketulusan dan keikhlasan sampai dia memproleh apa yang
dicita-citakannya.Allah berfirman, “Barang siapa berharap berjumpa dengan
tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amalan saleh dan tidak mempersekutukan
seorangpun dalam beribadah kepada tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Jika pada masa mudanya seorang hamba selalu berbuat maksiat dan
menurutkan hawa nafsunya, maka sebaiknya, khaufnya mengalahkan raja’nya.
Sedangkan, jika hal itu terjadi diakhir hayatnya, maka sebaiknya raja’nya
mengalahkan raja’nya sebagaimana terekan dalam sebuah hadist qudsi,
انا عندى ظن عبدى بى
“Aku
sesuai keyakinan hamba-Ku tentang Aku.” (HR. Bukhori)
Sementara, jika seorang hamba sedang mengahadap kepada tuhannya dan
berjalan untuk mencapai kedekatan di sisi-Nya, maka sebaiknya dia menggabungkan
antara maqam khauf dan maqam raja’. Jangan sampai khaufnya mengalahkan
raja’nya, sehingga dia berputus asa dan ampunan Allah. Dan jangan pula raja’nya
mengalahkan khaufnya, sehingga dia terjerumus ke jurang maksiat dan kejahatan.
Dia harus terbang kedua sayap itu (khauf dan raja’) di udara yang jernih,
sehingga dia dapat mencapai kedekatan di hadirat Allah. Dengan demikian, dia
dapat mewujudkan sifat orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,
“Lambung mereka jauh dari tidur mereka, sedangkan mereka berdoa kepada tuhan
mereka denga rasa takut dan harap.”(QS. As-Sajdah: 18)
Sememtara, menurut Ibnu Ujaibah, orang-orang yang mengharap rahmat
Allah tidak berada dalam satu tingkatan, tapi mereka berada dalam tingkatan
yang berbeda-beda. Tingkatan pertama, pengharapan orang awam, yakni tempat
kembali yang baik dengan diperolehnya pahala. Tingkat kedua. Pengharapan orang khawwash,
yakni riha dan kedekatan di sisinya. Dan tingkat ketiga, pengharapan orang khawwahulkhawwash,
yakni kemampuan untuk melakukan musyahadah dan bertambahnya tingkat
derajat dalam rahasia-rahasia tuhan yang disembah.[7]
4.
Khauf ( perasaan takut)
Imam Al-Ghazali
berkata, “Ketahuilah bahwa hakikat dari khauf adalah kepedihan dan terbakarnya
hati karna memperkirakan akan tertimpa suatu yang tidak menyenangkan di masa
yang akan datang.khauf kepada Allah kadang timbul dari perbuatan dosa. Dan
kadang dia timbul karna seseorang mengetaui sifat-sifat-Nya yang
mengharuskannya untuk takut kepadanya. Ini lah tingkatan khauf yang paling
sempurna. Sebab, barang sipaa mengetauhi Allah, maka dia akan takut kepadanya.
Oleh karna itu, Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara
hamba-hamba-Nya hanyalah orang –orang yang berilmu.”(QS. Al-Fathir.28)
khauf terwujud dalam
tangisan tersedu-sedu dari orang yang dapat mengukur bahaya akibat dari suatu
pebuatan, sehingga dia termotivasi untuk melakukan kewajiban-kewajibanya. Dia
tidak menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan menyimpang dan dosa. Bahkan dia tidak
berdiam di tempat yang diduga dapat menjerumuskannya ke dalam kejahatan dan kerusakan. Kemudian khauf-nya
meningkatkan, sehingga dia menghijasi dirinya dengan sifat-sifat mulia ynag di
miliki oleh orang orang yang selalu dekat dengan Allah. Ketika itu, khauf-nya
akan berpindah dari alam jasmani menuju alam rohani, sehingga dia memiliki
kesedihan-kesedihan yang tidak dapat diketahui oleh orang-orang yang suci.
Abdul Wahhab Asy-Sya’rani pernah
mengatakan tentang Rabi’ah Al-Adawiah dengan derajat spiritual diatas. Beliau
mengatakan bahwa Rabiah Al-Adawiah adalah seorang sufi yang sering menangis dan
bersedih. Jika dia mendengar tentang neraka, maka dia akan jatuh pingsan dalam
waktu yang cukup lama. Tempat sujudnyya adalah ibarat kolam kecil berisi air
matanya seolah neraka tidak diciptakan kecuali untuk dirinya. Rahasia dari
khauf tersebut adalah keyakinan bahwa setiap bala selain neraka adalah perkara
mudah dan setiap bencana selain kejauhan dari Allah adalah perkara yang
gampang.
Kalangan sufi berasumsi bahwa
seorang muhibb (orang yang mencintai) tidak akan dapat minum dari gelas
sang kekasih kecuali setelah rasa takut meresap dalam hatinya. Barang siapa
memiliki takwa seperrti yang dimiliki seorang muhibb, maka dia
mengetahui apa yang sedang ditangisinya. Dan barang siapa tidak menyaksikan
ketampanan Nabi Yusuf, maka dia tidak akan pernah mengetahui kepedihan hati
Nabi Yakub.
Abu Sulaiman ad-Darani
menyatakan,” khauf tidak hilang dari hati melainkan hati akan binasa.”[8]
Orang-orang yang takut kepada
Allah tidak berada dalam satu tingkatan, tapi mereka berada pada tingkatan yang
berbeda-beda. Ibnu Ujaibah telah mengkelompokkan mereka ke dalam tiga kategori. Pertama, Takutnya orang awam dari
siksaan dan hilangnya pahala. Kedua, Takutnya orang khawwash dari
celaan dan hilangnya kedekatan dari sisi-Nya. Ketiga, takutnya orang khawwashulkhawwash
akan tertutupnya pandangan dari akhlak yang buruk.[9]
5. Rindu (Syauq)
Selama masih ada cinta, syauq tetap diperlukan. Dalam
lubuk jiwa, rasa rindu hidup dengan subur, yakni rindu ingin segera bertemu
dengan Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa maut merupakan bukti cinta yang
benar.Lupa kepada Allah lebih berbahaya dari pada maut.Bagi sufi yang rindu
kepada Tuhan,kematian dapat berarti bertemu dengan Tuhan.
Abu Ali Daqaq mengatakan “Syauq adalah dorongan hati
untuk bertemu dengan yang dicintai dan kuatnya dorongan sesuai dengan kuatnya
cinta dan cinta baru berakhir setelah
melihat dan bertemu.
6. Intim (Uns)
Uns adalah keadaan jiwa dan seluruh ekspresi rohani
terpusat penuh kepada satu titik sentrum, yaitu Allah.Dalam pandangan sufi,
sifat uns adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Ungkapan
berikut:
“Ada orang yang merasa sepi dalam
keramaian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan kekasihnya sebab sedang
dimabuk cinta, seperti halnya sepasang muda mudi.Ada pula orang yang merasa
bising dalam kesepian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan atau merencanakan
tugas pekerjaannya semata – mata. Adapun engkau, selalu merasa berteman di mana
pun berada. Akangkah mulianya engkau berteman dengan Allah, artinya engkau
selalu berada dalam pemeliharan Allah.
Sikap keintiman ini banyak dialami oleh kaum sufi.
F.
Tokoh-tokoh Ahli Sufi Dalam Pengalaman Rohani
Beberapa tokoh sufi yang
menonjol dalam pengalaman rohani beserta penerangannya :
1.
Zuhud
Orang yang zuhud lebih mengutamakan dan sangat merinduka
kebahagiaan hidup diakhirat dan kekal serta abadi dari pada mengejar kehidupan
dunia yang fana
Beberapa tokoh
zuhud yang terkenal adalah
a.
Sa’id bin musayyab ( 91 H ) murid dari abu hurairah ra.
b.
Hasan Basri ( 21 H ) ia lahir di madinah dan dibesarkan oleh
keluarga yang sholeh dan memiliki pengetahuan agam yang dalam
c.
Sufya ats-tsaury, lahir di kuffah 97 H.
d.
Ibrahim bin adham (w. 165 H )
lahir di balkh, persia. Ia merupakan seorang pangeran muda yang meninggalkan
baju kebesarannya, lalu ia terjun ke dunia zuhud
2.
Mahabbah
Tokoh mahabbah
yang paling mashur yaitu rabi’ah al-adawiya (w. 185 H ) ia dilahirkan di
basrah, hidupnya bermula seorang budak
belian yang kemudain mengabdikan hidupnya dengan shalat dan dzikir setiap
malam. Bagi rabi’ah, zuhud harus dilandasi dengan mahabbah ( rasa cinta ) yang
mendalam, kepatuhan kepada allah bukanlah tujuannya karena ia mengharapkan
nikmat surga dan tidak takut azab neraka, tetapi ia mematuhinya karena rindu
dan cinta kepadanya.
3.
Fana’ dan baqa’
Dari
segi bahasa (etimologi) kata fana artinya sirna, lembur atau hilang. Sedangkan
baqa artinya kekal, abadi dan senantiasa ada. Jadi ketika sufi mencapai maqam
ini ia merasa fana yaitu hilangnya sifat sifat yang tercela dan munculnya sifat
sifat yang terpuji. Pendapat kaum
orientalis, salah satu maqamat sufi al fana dianggap ada sama persamaan dengan
ajaran agama hindu tentang nirwana.
4.
Ittihad
Yang
dimaksud dengan ittihad yaitu pengalaman batin akan kesatuan seorang sufi. Seorang
sufi akan mabuk dalam kenikmatan bersatu dengan allah. Dalam keadaan seperti
ini tidak akan muncul ucapan ucapan yang sebagian orang dianggap aneh seperti
kata kata: ana al haq = (aku adalah al haq ), aku adalah satu. Kata kata ini
terlontar hanya seketika, karena merasa begitu menyatunya dengan yang haq yaitu
allah SWT. Tokoh yang sangat popular dalam maqamat ittihad ini adalah abu yazid
al-bustami
5.
Hulul
Sentra
tokohnya adalah mashur dalam hulul yaitu abu manshur al hajj. menurut
padangannya tingkat fana yang di capai oleh orang sufi bukan hanya membawanya
kepada ittihad, tetapi lebih jauh lagi yaitu hulul. Hulul yaitu bertempatnya
sifat ketuhanan kepada sifat kemanusiaan. Dalam hal ini al hajj di pangdang
sebagai sufi controversial sehingga harus berakhir di tiang gantung.
6.
Wahdatul wujud
Teori
ini berpijak dari pandangan bahwa semua wujud hanya memiliki satu realitas,
realitas tunggal itu ialah allah SWT. Adapun alam semesta yang serba ganda dan
berbilang ini hanyalah wadah penanpakandiri dari nama dan sifat sifat allah
dalam wujud terbatas. Tokoh ini termuka dalam wahdatul wujud adalah ibnu
‘Arabi.
Dari
beberapa maqamat dan pengalaman sufi di atas dapat kita teladani dalam hari
keseharian dalam kapasitas kemampuan kita, dengan sendrinya akan bermunculan
akhlaq terpuji yang bisa membangun kehidupan bermasyarakat.
G.
Sejarah akhlak tasawuf
Pemahaman
tasawuf dalam lintas sejarah diantaranya dapat dilacak dari sejarah Rasul SAW
yang berada di gua Hira untuk bertafakur
dan beribadah sebagai orang yang rindu akan Tuhannya dengan
menghindarkan diri dari kehidupan duniawi dan bermewah- mewah.Tahanuts yang
dilakukan Nabi Muhammad Saw di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama bagi
nur tasawuf, karena itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniah.Di dalam mengingat
Allah serta memuja-Nya di Gua Hira, putuslah ingatan dan tali rasa beliau
dengan segala makhluk lainnya.Di situ pula berawalnya Nabi Muhammad mendapat
hidayah, membersihkan diri dan mensucikan jiwa dari noda-noda penyakit yang
menghinggapi sukma, bahkan sewaktu itu pulalah berpuncaknya kebesaran,
kesempurnaan, dan kemuliaan jiwa Muhammad Saw.dan membedakan beliau dari
kebiasaan hidup manusia biasa.
Dr. Ahmad
Alwasy berkata, “Banyak kalangan bertanya-tanya mengapa dakwah kepada tasawuf
tidak berkembang di awal era islam dan beru muncul setelah era sahabat dan
tabiin. Jawabannya, pada awal islam dakwah kepada tasawuf belum diperlukan.
Sebab, pada era itu semua orang adalah ahli taqwa, ahli wara’ dan ahli
ibadah, berdasarkan panggilan fitrah
mereka dan kedekatan mereka dengan Rasulluh s.a.w. mereka berlomba untuk
mengikuti dan meneladani dengan Rasul dalam setiap aspek. Oleh karena itu, mereka
tidak membutuhkan ilmu yang membutuhkan mereka kepada sesuatu yyang benar-benar
telah mereka kerjakan. Kondisi mereka ibarat seorang arab murni yang mengetahui
bahasa arab melalui warisan dari generasi pendahulu. Dia dapat menciptakan
syair yang fasih tanpa sedikitpun memiliki pengetahuan tentang gramatika bahasa
arab dan ilmu pencipta syair. Orang seperti ini tidak harus mempelajari nahwu
dan balaghah. Nahwu, balaghah dan ilmu tentang syair diperlukan dan harus
dipelajari oleh orang yang banyak melakukan kesalahan berbahsa dan lemah dalam
menyusun kalimat, atau bagi orang non-arab yang hendak memahami dan mengetahui
bahasa arab, atau pada saat ilmu-ilmu tersebut menjadi kebutuhan masyarakat,
sebagaimana kebutuhan mereka terhadap ilmu-ilmu lainnya.
Meskipun para
sahabat dan tabiin tidak menggunakan kata tasawuf, akan tetapi secara praktis
mereka adalah para sufi yang sesungguhnya. Yang dimaksud dengan tasawuf tidak
lain adalah bahwa seseorang hidup hanya untuk tuhannya, bukan untuk dirinya.
Dia menghiasi dirinya dengan zuhud, tekun melaksanakan ibadah, berkomunikasi
dengan Allah dengan roh dan jiwanya disetiap waktu den berusaha mencapai
berbagai kesempurnaan, sebagaimana telah dicapai oleh para sahabat dan tabiin
yang telah sampai ketingkat spiritualitasyang paling tinggi. Para sahabat tidak
hanya sekedar mengikrarkan iman dan menjalakan kewajiban-kewajiban. Akan tetapi
mereka mnyertai ikrar iman tersebut dengan perasaan, menambah
kewajiban-kewajiban dengan amal-amal sunnah dan menghindari yang makruh
disamping yang haram, sehingga mata hati mereka bersinar, butiran-butiran
hikmah terpancar dari nurani mereka dan bersinar dan rahasia-rahasia ketuhanan
melimpah dalam jiwa mereka. Begitu pua kondisi para tabiin dan pengikut tabiin.
Ketiga masa tersebut adalah masa keemasan dan sebaik-baiknya masa dalam islam.
Nabi s.a.w. bersabda yang atrinya “ sebaik-baik masa adalah masa ku ini,
lalu masa sesudahnya, lalu massa sesudahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
BAB III
PENUTUP
A.
kesimpulan
Tasawuf adalah
membersihkan hati dari apa saja yang menggangu perasaan makhluk, berjuang
menanggalkan pengaruh budi yang asal [instink] kita, memadamkan sifat-sifat
kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan hawa nafsu, mendekati
sifat-sifat suci kerohanian, bergantung pada ilmu ilmu hakikat, memakai barang
yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada semua orang,
memegang teguh janji dengan dalam hal hakikat dan mengikuti contoh Rasullah
dalam hal syariat. Serta bertujuan untuk mempernbaiki hati dan memfokuskannya
hanya untuk Allah semata. Fikih adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki
amal, memelihara aturan dan menampakkan hikmah dari setiap hukum. Sedangkan
ilmu tauhid adalha ilmu yang bertujuan untuk mewujudkan dalil-dalil dan
menghiasi iman dengan keyakinan, sebagaimana ilmu kedokteran untuk memelihara
badan dan ilmu nahwu untuk memelihara islam.
DAFTAR PUSTAKA
Labib Mz.2001, Nasehat Orang orang Sufi, Surabaya : Bintang
Usaha Jaya.
Kumaidi.2008,Al-Hikmah, Surabaya : Akik Pusaka.
Alwi shihab. 2009, Akar Tasawuf di Indonesia, Depok: Pustaka
Iman.
Solihin. M. 2008, Ilmu Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia.
Nata abudin. 2012, Akhlaq Tasawuf, Jakarta : PT. Raja
Grafindo Persada.
Qadir isa abdul. 2010, Hakikat Tasawuf, Jakarta Timur :
Qistha Press.
http://chikafikrotul.blogspot.com/2013/06/tasawuf-ahwal-dan-maqamat.html
[4] Sayyid, Ta’riffat as-sayyid, hlm. 48.
[5]. Ahamad ibn Ujaibah, Mi’raj at-tasyawwuf ila Haqa’iq at-Tashawwuf,
hlm. 8.
[6] Abu Abbas Ahmad Zaruq al-fasi, Qawa’id at-Tashawwuf,hlm. 74.
[7] Ahmad Ibn Ujaibah, Mi’raj at-Tasyawwuf ila Haqa’iq at-Tashawwuf,hlm.
6.
[8] Abu Qasim al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 60
[9] Ahmad ibn Ujaibah, Miraj at-Tasyawwuf ila haqa’iq at-Tasyawwuf,hlm. 6.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar