Senin, 09 Maret 2015

pengertian tasawuf


BAB 1
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Islam sebagai agama yang bersifat universal dan mencakup berbagai jawaban atas sebagai kebutuhan manusia. Selain menghadapi kebersihan lahiriyah juga menghendaki kebersihan batiniyah. Lantaran penelitian yang sesungguhnya dalam Islam diberikan pada aspek batinnya.
Tasawuf merupakan bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutanya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini. Selanjutnya, dikenal sebagai dimensi esoteric dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fiqih, khususnya pada bab thoharoh yang memusatkan perhatian pada pembersih aspek jasmani atau lahiriyah yang selanjutnya di sebut sebagai dimensi eksotrik.
Dari suasana demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang mengambil bentuk seperti manipulasi, koropsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan, dan sebagainya. Untuk mengatasi masalah ini tasawuf di bina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.
B.     Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian tasawuf secara istilah  ?
2.         Apa yang maksud maqamat dan ahwal dalam tasawuf ?
3.         Siapa ahli tasawuf beserta  sejarah tasawuf ?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian tasawuf secara istilah
2.      Mengetahui maksud maqamat dan ahwal dalam tasawuf
3.      Mengetahui ahli dalam tasawuf beserta sejarahnya

BAB II
LANDASAN TEORI

A.     Pengertian Tasawuf
            Ditinjau dari segi bahasa (Etimologi) terdapat sejumlah kata atau istilah yang di hubungkan oleh para ahli untuk menjelaskan kata tasawuf. Menurut bahasa tasawuf memilik makna yang beragam menurut pendapat dari beberapa ulama diantaranya adalah :
a)        Berasal dari kata Shafaa, berarti suci bersih. Karena orang orang yang mengamalkan tasawufItu selalu suci dan bersih suci lahir dan selalu meninggalkan perbuatan perbuatan yang kotor yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah SWT.
b)        Berasal dari kata Suufah, berarti bulu binatang. Karena orang orang yang menyelami dunia tasawuf itu dengan memakai pakaian yang terbuat dari bulu bintang dan tidak senang memekai pakaian yang indah indah sebagaimana yang di pakai kebanyakan orang.
c)        Berasal dari kata Suffah, berarti segolongan sahabat Nabi SAW yang menyisihkan dirinya di serambi masjid nabawi karena di serambi masjid nabawi itulah para sahabat duduk duduk bersama Rasullah SAW untuk mendengarkan fatwah-fatwah beliau.
d)       Berasal dari suufatu Al- Qhodaa, berarti  bulu yang lembut. Karena seorang sufi itu mempunyai sifat dan akhlaq yang lembut.
e)        Berasal dari kata Ahlu As-Suffah, yang oleh arti bahasa dewasa ini dianggap bahwa kata shufi itu bukan berasal dari bahasa arab melainkan dari bahasa yunani kuno yang di arabkan yaitu berasal dari kata “THEOSOFIE” yang artinya ILMU KETUHANAN “ yang kemudia di arabkan dan diucapkan dengan lidah arab sehingga berubah menjadi “ TASAWUF”
Dengan adanya berbagai macam asal kata yang diambil itulah sehingga para ahli menerjemahkannya sebagai berikut :
Menurut Abdul Qasim Qusyairi, bahwa yang di maksud dengan tasawuf itu adalah menerapkan segala makna yang terkandung dalam al-Quran dan Al-Hadist Nabi secara konsekwen, memerangi hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah dan mengikuti syahadat dan dari menganggap remeh ibadah.
Sedangkan menurut Sahal Abdullah At-Tustury, bahwa yang di maksud dengan shufi itu adalah orang yang membersihkan dirinya dari kerusakan moral selalu dalam renungan yang mendalam dan menilai akhlaqul karimah itu lebih berharga dari tumpukan emas dan permata.
Imam Al-Ghazali telah berkata pula, bahwa yang dimaksud dengan tasawuf itu adalah memakai yang halal, mengikui akhlaq perbuatan, dan perintah rasulullah yang termasuk dalam sunahnya. Barang siapa yang tidak hafal akan isi Al-Quran dan Al-Hadist Nabi SAW, maka janganlah diikuti karna ajaran tasawuf itu adalah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah Saw.[1]

B.        Secara Istilah
Pengertian tasawuf secara istilah telah banyak di formulasikan pula ahli yang satu dan lainnya berbeda, sesuai dengan seleranya masing-masing :
Menurtut Amir bin Usman Al-Maliki ia berkata : tasawuf adalah melakukan sesuatu yang terbaik di setiap saat. Sedangkan, menurut Zakaria al-Anshari berkata,”Tasawuf adalah ilmu yang dengannya diketahui tentang pembersihan jiwa, perbaikan budi pekerti serta pembangunan lahir dan batin, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi.”[2]
Ahmad Zaruq berkata, ”Tasawuf adlah ilmu yang bertujuan untuk mempernbaiki hati dan memfokuskannya hanya untuk Allah semata. Fikih adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara aturan dan menampakkan hikmah dari setiap hukum. Sedangkan ilmu tauhid adalha ilmu yang bertujuan untuk mewujudkan dalil-dalil dan menghiasi iman dengan keyakinan, sebagaimana ilmu kedokteran untuk memelihara badan dan ilmu nahwu untuk memelihara islam.”[3]
Menurut Al-Junaidi. Ia mendefinisikan, “Tasawuf adalah membersihkan hati dari apa saja yang menggangu perasaan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal [instink] kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, bergantung pada ilmu ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada semua orang, memegang teguh janji dengan dalam hal hakikat dan mengikuti contoh Rasullah dalam hal syariat.”

C.   Ruang Lingkup Tasawuf
Tasawuf merupakan visi langsung terhadap sesuatu bukan melalui dalil. Orang yang mendapatkan penngeahuan ini dianggap berada dalam cahaya Allah di jalan yang benar karena mereka mampu melihat sesuatu langsung dari hakikatnya itu sebabnya tasawuf sukar untuk diungkapkan dengan kata kata yang mudah dipahami masyarakat awam. Ia merupakan puncak pengalaman perjalanan rohani menuju yang  mutlak. Apalagi pengalaman tasawuf ini juga merupakan karunia dari tuhan setelah seseorang menempuh penyucian rohani itu melalui latihan latihan fisik psikis yang berat. Akal sama sekali tidak mempunyai peranan disini.
Dalam konteks inilah seperti sering dikatakan Ibnu Arabi, tasawuf hanya dikaruniakan Allah kepada para Nabi dan Wali. Karena merekalah yang telah mencapai puncak tertinggi proses penyucian rohaninya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan.
Berdasrkan obyek dan sasarannya diklasifikasikan menjadi tiga macam yaitu :
1.        Tasawuf Akhlaqi yaitu tasawuf yang sangat menekan nilai nilai etis (moral)
2.        Tasawuf Amali yaitu tasawuf yang lebih mengutamakan kebiasaan beribadah, tujuannya agar  diperoleh penghayatan spiritual dalam setiap melakukan ibadah.
3.        Tasawuf Falsafi yaitu yang menekankan pada masalah-masalah yang metafisik.

D.       Maqomat Dalam Tasawuf
Ditinjau dari segi bahasa kata maqamat berasal dari bahasa arab yaitu isim makan yang berarti tempat orang yang berdiri atau pangkal mulia. Selanjutnya, istilah ini dipakai untuk arti jalan panjang secara berjenjang yang harus ditempuh oleh seseorang sufi untuk berada dekat dengan Allah. Dalam bahasa inggris kata maqamat dikenal dengan istilah stages yang berarti tangga.Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk sampai kepada tuhan dikalangan para sufi tidak sama pendapatnya. Muhammad Al-Kalabazy dalam kitabnya Al-Taarruf limadzhab Al-Tasawuf, sebagai dikutip sebagai Harun Nasution misalnya  mengatakan bahwa maqamat itu berjumlah 10 yaitu: al-taubah, al-zuhud, al-sabar, al-faqir, al-tawadlu, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah dan al-ma’rifah.
Sementara itu,Abu Nasr Al-Sarraj Al-Tusi, dalam kitab al-luma menyebutkan jumlah maqamat hanya 7 yaitu al-taubah, al-zuhud, al-sabar, al-faqir, al-tawadlu, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla,
Dalam pada itu imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Al-Ulumuddin mengatakan bahwa maqamat itu ada 8 yaitu : al-taubah, al-sabar, al-zuhud, al-faqir, al-tawakkal, al-mahabbah, al-ma’rifah al-ridla. Kutipan tersebut memperlihatkan keadaan variasi  penyebutan maqamat yang berbeda-beda namun ada maqamat yang oleh mereka  disepakati yaitu al-taubah, al-zuhud, al-sabar, al-faqir, al-tawadlu, al-taqwa, al-tawakkal, al-ridla, Sedangkan al-tawadhu al-mahabbah dan al-ma’rifah oleh mereka disepakati  sebagai maqamat. Terhadap tiga istilah yang disebut terakhir itu (al-tawadhu al-mahabbah dan al-ma’rifah)terkadang para ahli tasawuf menyebutnya sebagai maqamat, dan terkadang menyebutnya sebagai hal dan ittihad (tercapainya kesatuan wujud rohaniyah dengan tuhan). Untuk itu dalam uraian ini, maqamat yang akan dijelaskan lebih  lanjut adalah maqamat yang disepakati oleh mereka, yaitu : al-taubah, al-zuhud, al-sabar, al-faqir, al-wara’, al-tawakkal, al-ridla. Penjelasan atas massing-masing istilah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
Sebenarnya banyak pendapat yang memaparkan tentang maqamat tasawuf, namun dalam bahsa ini kami kutip maqamat tasawuf menurut Abu Nasr AS Sarraj dengan berurutan sebagai berikut : tobat, wara’, zuhud, fakir, sabar, tawakal, ridha.
1.        Taubat
Kata taubah adalah bentuk mashdar dan berasal dari bahasa arab yaitu taba, yatubu, taubatan yang artinya kembali. Sedangkan, tobat yang dimaksud oleh kelompok sufi yaitu memohon ampun kepada Allah atas segala dosa atas kesalahan dan berjanji denga sungguh-sungguh  dan tidak akan mengulangi perbuatan dosa tersebut lagi kemudian diikuti dengan  melakukan amal kebajikan.
Harun Nation, mengatakan taubat yang dimaksud sufi ialah taubat yang sebenarnya, taubat yang tidak akan membawa kepada dosa lagi. untuk   mencapai taubat yang sesungguhnya dan dirasakan diterima oleh Allah terkadang tidak dapat dicapai satu kali saja. Ada kisah yang mengatakan bahwa seorang sufi sampai tujuh puluh kali taubat, baru ia mencapai tingkat taubat yang sesungguhnya. Taubat yang sesungguhnya dalam sufisme ialah lupa pada segala hal kecuali Tuhan. Orang yang bertaubat adalah orang yang cinta pada Allah dan orang yang senantiasa mengadakan kontemplasi tentang Allah. Di dalam Al-Qur’an banyak dijumpai ayat-ayat yang menganjurkan manusia agar bertaubat. Diantaranya ayat dalam surat al-imran : 135 yang artinya : “Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” ( QS. Ali ‘imran, 3: 135 )
Didalam surat yang lain juga diterangkan yang artinya:“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”( QS. An-Nur, 24: 31 )
2.        Wara’
Kata wara’ berati saleh  yaitu menghindari diri dari perbuatan dosa atau menjauhi hal hal yang tidak baik dan subhat. Dalam pengertian sufi wara’ adalah menghindari jauh jauh segala yang di dalamnya terdapat keragu raguan antara halal dan haram.
 Sikap menjauhi diri dari yang syubhat ini sejalan dengan hadist Nabi yang artinya.“Barang siapa yang dirinya terbebas dari syubhat maka sesungguhnya ia telah terbebas dari yang haram.”( HR. Bukhori)
Dari hadist tersebut menunjukkan bahwa syubhatlebih dekat pada yang haram. Kaum sufi menyadari benar bahwa setiap makanan, minuman, pakaian dan sebagainya yang haram dapat memberi pengaruh bagi orang yang memakan, meminum atau memakannya. Orang yang demikian akan keras hatinya, sulit mendapatkan hidayah dan ilham dari Tuhan. Hal ini dipahami dari hadist Nabi menyatakan bahwa setiap makanan yang haram yang dimakan oleh manusia akan menyebabkan nona hitam pada hati yang lama-kelamaan hati menjadi keras. Hal ini sangat ditakuti oleh para sufi yang senantiasa mengharapkan nur ilahi yang dipancarkan lewat hatinya yang bersih.
3.        Zuhud
Dari segi bahasa kata zuhud biasa diartikan tidak ingin terhadap sesuatu yang bersifat keduniawian. Sedangkan menurut Harun Nation zuhud artinya keadaan meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Selanjutnya, Al-Qusyairi mengatakan bahwa diantara para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan zuhud. Sebagian ada yang mengatakan bahwa Zuhud adalah orang yang zuhud didalam masalah yang haram, karena yang halal adalah sesuatu yang mubah dalam pandangan Allah, yaitu orang yang diberikan nikmat berupa harta yang halal, kemudian ia bersyukur dan meninggalkan dunia itu dengan kesadarannya sendiri. Sebagian ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah zuhud dalam yang haram sebagai suatu kewajiban.
Zuhud termasuk salah satu ajaran agama yang sangat penting dalam rangka mengendalikan diri dari pengaruh kehidupan dunia. Orang yang zuhud lebih mengutamakan atau mengejar kebahagiaan hidup di akhirat yang kekal dan abadi, dari pada mengejar kehidupan dunia yang fana dan sepintas lalu. Hal ini dapat dipahami dari isyarat ayat al-Qur’an yang artinya “ Katakanlah kesenangan didunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun”(QS. Al- Nisa, 4: 78) sedangkan dalam ayat yang laiin diterangkan yang atrinya “Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidak kamu memahaminya” (QS. Al-An’am, 6: 32)
4.        Fakir
Kata fakir dari segi bahasa artinya adalah orang yang orang yang berhajat, butuh, atau orang miskin sedangkan dalam pandangan kaum sufi. Fakir adalah tidak meminta lebih dari pada yang menjadi haknya tidak banyak mengharap dan memohon rezeki kecuali hanya untuk menjalankan kewajiban kewajiban dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
5.        Sabar
Secara harfiah sabar berarti tabah hati. Menurut Zun Al-Nun Al-Mishry, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapat cobaan dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya, Ibnu Atha mengatakan sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan sikap yang baik. Dan pendapat lain mengatakan sabar berarti menghilangkan rasa mendapatkan cobaan tanpa menunjukkan rasa kesal. Ibn Usman Al-Hairi mengatakan sabar adalah orang yang mampu memasung dirinya atas segala sesuatu yang kurang menyenangkan.dikalangan para sufi sabar diartikan sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala larangannya dan menerima segala percobaan-percobaan yang ditimpakannya pada diri kita. Sabar dalam menunggu datangnya pertolongan tuhan. Sabar dalam menjalani cobaan dan tidak menunggu-nunggu datangnya pertolongan. Kata sabar dapat dimaknai menghindari diri dari hal-hal yang bertentangan dengan apa yang dilarangi Allah, ia tengang ketika mendapatkan cobaan dan menampakkan sikap perwira walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Di kalangan para sufi sabar terdiri atas sabar dalam menjalankan perintah perintah Allah sabar dalam menjauhi larangannya dan sabar dalam menerima segala cobaan cobaan yang ditinpakannya kepadanya.
Sikap sabar sangat dianjurkan dalam ajaran al-Qur’an. Allah berfirman dalam al-Qur’an yang artinya “ maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta kesegerakan ( azab ) bagi mereka(QS. Al-Ahqaf, 46: 35)
6.        Tawakal
Secara harfiah tawakkal berarti menyerahkan diri. Tawakal adalah penyerahan diri seseorang hamba kepada allah setelah ada usaha maksimal. Menurut Sahal bin Abdullah bahwa tawakkal awalnya adalah apabila seorang hamba dihadapan allah seperti bangkai dihadapan orang yang memandikannya, ia mengikuti semaunya yang memandikan, tidak dapat bergerak dan bertindak. Hamdun al-Qashshar mengatakan tawakkal adalah berpegang teguh pada Allah. Al-Qusyairi lebih lanjut mengatakan bahwa tawakkal tempat didalam hati dan timbulnya gerak dalam perbuatan tidak mengubah tawakkal yang terdapat dalam hati itu. Hal itu terjadi setelah hamba meyakini bahwa segala ketentuan hanya didasarkan pada ketentuan Allah. Mereka menggap jika menghadapi kesulitan maka yang demikian itu sebenernya takdir Allah. Sayyid berkata,” Tawakal adalah percaya sepenuh hati terhadap apa-apa yang ada pada Allah, dan putus asa terhadap apa-apa yang ada pada manusia”.[4]
Ibnu Ujaibah mengatakan,”Tawakal adalah kepercayaan hati terhadap Allah, sampai dia tidak bergantung kepada sesuatu selainnya. Dengan kata lain, tawakal adalah bergantung dan bertumpu kepada Allah dalam segala sesuatu, berdasarkan pengetahuan bahwa Dia Maha Mengetahui segala ssesuatu. Selain itu, tawakal juga menuntut subjek untuk melebihkan semua yang ada dalam kekuasaan Allah lebih dipercaya dari pada yang ditangan subjek.”[5]
Bertawakkal termasuk perbuatan yang diperintah oleh Allah. Dalam firmannya, Allah menyatakan yang artinya “Dan hanya kepada allah orang-orang yang beriman bertawakal.”(QS. At-Taubah, 9: 51 )
Jadi, Tawakal kepada Allah adalah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, bergantung dalam semua keadaan kepada-Nya dan yakin bahwa segala kekuatan dan kekuasaan hanya milik-Nya. Tawakal merupakan sikap hati, sebagaimana tampak dalam definisi-definisi diatas. Oleh karena itu, tidak ada pertentangan antara tawakal kepada Allah dan antara bekerja serta berusaha. Tempat tawakal adalah hati, sedangkan tempat berusaha dan bekerja adalah badan. Bagaimana seorang mukmin meninggalkan usaha setelah Allah memerintahkannya dalam ayat-ayat yang mulia dan Rassul s.a.w. menganjurkannya dalam banyak hadist.
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah s.a.w.dengan mengendarai unta, lalu berkata,
يارسول الله اارسل ناقتي واتوكل فقال اعقلها وتوكل
“wahai Rasulullah, apakah aku boleh melepaskan untaku, lalu aku bertawakal ?” Rasulullah s.a.w.menjawab,”Ikatlah dia (terlebih dahulu), lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Oleh karena itu, para ulam beranggapan bahwa tidak bekerja atau tidak berusaha adalah kemalasan yang tidak sesuai dengan jiwa islam. Para sufi juga menekankan hal ini, sebagai bentuk pelurusan pemikiran, jawaban atas berbagai keraguan dan penjelasan kepada masyarakat bahwa tasawuf adalah pemahaman hakiki terhadap islam.




7.             Ridha
Kata ridha dalam segi bahasa dapat diartikan rela suka senang. Harun Nasution mengatakan bahwa ridha berarti tidak berusaha, tidak menentang qadha dan qadar allah, menerima qadha dan qadhar dengan hati senang, mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal didalamnya hanya perasaan senang dan gembira.
 Merasa senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat.Tidak meminta surga dari Allah dan tidak tidak meminta dijauhkan dari neraka.Tidak berusaha sebelum turunnya qada dan qadar,tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya kada dan kadar,malahan perasaan cinta bergelora di waktu turunnya bala’(cobaan yang berat).
Manusia biasanya merasa sungkar menerima keadaan keadaan yang biasa menimpa dirinya, seperti kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat dan kedudukan, kematian dan lain-lain yang dapat mengurangi kesenangannya yang dapat bertahan dari berbagai cobaan itu hanyalah orang-orang yang telah memiliki ridho. Selain itu, ia juga rela berjuang atas jalan allah, rela menghadapi segala kesukaran, rela membela kebenaran, rela berkorban harta, jiwa dan lainnya. Semua itu bagi sufi di pandang sebagai sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang bernilai tinggi bahkan di anggap sebagai ibadah semata mata karna mengharapkan keridhan Allah.

Dalam hadis kudsi nabi menegaskan yang artinya ;
“Sesunnguhnya Aku ini Allah, tiada Tuhan selain Aku. Barang siapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas segala nikmat Ku serta tidak rela terhadaap keputusan-Ku maka hendaknya ia keluar dari kolong langit dan cari Tuhan selain Aku.”

E.       Pengertian Ahwal
Ahwal adalah bentuk jama’ dari kata hal, yang berarti kondisi mental atau situasi kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia Allah, bukan hasil dari usahanya.Hal bersifat sementara, datang dan pergi datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalananya mendekati Tuhan
Menurut Harun Nasution, hal merupakan keadaan mental, seprti perasaan senang, perasaan sedih, takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut sebagai hal adalah takut (al-khauf), rendah hati (al-tawadlu), patuh (al-taqwa), ikhlas (al-ikhlas), rasa berteman (al-uns), gembira hati (al-wajd), berterima kasih (al-syukr).
Imam Al – Ghazali mengatakan “Hal adalah satu waktu di mana seorang hamba berubah karena ada sesuatu dalam hatinya.Seorang hamba pada saat tertentu hatinya dan pada saat yang lain hatinya berubah. Inilah yang disebut dengan hal”.
            Hal berlainan dengan maqam, bukan diperoleh atas usahamanusia, tetapi diperdapat sebagai anugrah dan rahmat dari tuhan. Berlainan pula dengan maqam, hal besifat sementara, datang dan pergi, datang dan pergi seorang sufi dalam perjalannya mendekati tuhan.
Selain melaksanakan kegiatan dan usaha sebagaimana disebutkan di atas, seorang sufi juga harus melakukan rangkaian kegiatan mental yang berat. Kegiatan mental tersebut seperti riyadah, mujahadah, khalawat, uzlah, muraqabah, suluk dan sebagainya. Riyadah berati latihan mental dengan melaksanakan dzikir dan tafakur yang sebayank-banyaknya serat melatih diri dengan berbagai sifat yang terdapat dalam maqam. Selanjutnya, mujahadah berarti berlatih diri dengan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah.Selanjutnya, khalwat berarti menyepi atau bersemi dan uzlah berarti mengasingkan diri dari sifat keduniaan. Dan muraqabah berarti mendekatkan diri kepada Allah dan suluk berarti menjalankan cara hidup sebagai sufi dengan dzikir.
Berdasarkan uraian tersebut diatas, tampak jelas, jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi yang untuk mencapai tujuan memperoleh hubugan batin dan bersatu secara rohaniah dengan tuhan bukanlah jalan yang mudah. Jalan yang harus dilalui seorang sufi tidaklah licin dan dapat ditempuh dengan mudah. Jalan itu sulitdan untuk pindah dari satu stasiun ke stasiun lain menhendaki usaha yang berat dan waktu yang bukan singkat.
Ahwal yang dijumpai dalam perjalanan sufi
Ahwal yang sering dijumpai dalam perjalanan kaum sufi antara lain :
1.        Waspada dan Mawas Diri (Muhasabah dan muraqabah)
Waspada dan mawas diri merupakan dua hal yang saling berkaitan erat .Oleh karena itu , ada sufi yang mengupasnya secara bersamaan. Waspada (Muhasabah) dapat diartikan meyakini bahwa Allah mengetahui segala pikiran, perbuatan, dan rahasia dalam hati, yang membuat seseorang menjadi hormat, takut, dan tunduk kepada Allah. Adapun mawas diri (Muraqabah) adalah meneliti dengan cermat apakah segala perbuatan sehari–hari telah sesuai atau malah menyimpang dari kehendak-Nya.
2.        Cinta (Mahabbah)
Cinta atau mahabbah merupakan salah satu pilar utama islam dan inti dari ajarannya.Mahabbah adalah kecenderungan hati untuk memerhatikan keindahan atau kecantikan.
Dalam pandangan Al-Junaidi, cinta didefinisikan sebagai “kecenderungan hati pada Allah Ta’ala, kecenderungan hati pada sesuatu karena mengharap ridha Allah tanpa merasa diri terbebani, atau menaati Allah dalam segala hal yang diperintahkan atau dilarang, dan rela menerima apa yang telah ditetapkan dan ditakdirkan Allah.
3.                  Raja (pengharapan)
            Menurut Ahmad Zaruq, definisi raja’ adalah kepercayaan atas karunia Allah yang dibuktikan dengan amal. Kalau bukan demikian, maka itu adalah keterperdayaan diri.[6]
 Allah telah menganjurkan kita semua untuk mengharapkan karunianya dan melarang kita untuk berputus asa dari rahmatnya. Allah berfirman, “ Katakanlah ,’Hai hamba-hambaku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS.Az.Zumar: 53)
      Raja’(pengharapan) berbeda dengan tamanni (angan-angan). Sebab, orang yang berharap adalah orang yang mengerjakan sebab, yakni ketaatan, seraya mengharapkan ridho dan pengabulan dari Allah. Sedangkan, orang yang beragan- angan meninggalkan sebab dan usaha, lalu dia menunggu datangnya ganjara dan pahala dari Allah. Orang semacam inilah yang terekam dalam sabda Nabi, “Dan orang yang lemah adalah orang yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan angan terhadap Allah.” (HR.Tirmidi)
       Orang yang mengharap dan mencari rahmat Allah harus berusaha dengan sungguh-sungguh dan berijtihad dengan penuh ketulusan dan keikhlasan sampai dia memproleh apa yang dicita-citakannya.Allah berfirman, “Barang siapa berharap berjumpa dengan tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amalan saleh dan tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Jika pada masa mudanya seorang hamba selalu berbuat maksiat dan menurutkan hawa nafsunya, maka sebaiknya, khaufnya mengalahkan raja’nya. Sedangkan, jika hal itu terjadi diakhir hayatnya, maka sebaiknya raja’nya mengalahkan raja’nya sebagaimana terekan dalam sebuah hadist qudsi,
انا عندى ظن عبدى بى
“Aku sesuai keyakinan hamba-Ku tentang Aku.” (HR. Bukhori)
Sementara, jika seorang hamba sedang mengahadap kepada tuhannya dan berjalan untuk mencapai kedekatan di sisi-Nya, maka sebaiknya dia menggabungkan antara maqam khauf dan maqam raja’. Jangan sampai khaufnya mengalahkan raja’nya, sehingga dia berputus asa dan ampunan Allah. Dan jangan pula raja’nya mengalahkan khaufnya, sehingga dia terjerumus ke jurang maksiat dan kejahatan. Dia harus terbang kedua sayap itu (khauf dan raja’) di udara yang jernih, sehingga dia dapat mencapai kedekatan di hadirat Allah. Dengan demikian, dia dapat mewujudkan sifat orang-orang yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya, “Lambung mereka jauh dari tidur mereka, sedangkan mereka berdoa kepada tuhan mereka denga rasa takut dan harap.”(QS. As-Sajdah: 18)
Sememtara, menurut Ibnu Ujaibah, orang-orang yang mengharap rahmat Allah tidak berada dalam satu tingkatan, tapi mereka berada dalam tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan pertama, pengharapan orang awam, yakni tempat kembali yang baik dengan diperolehnya pahala. Tingkat kedua. Pengharapan orang khawwash, yakni riha dan kedekatan di sisinya. Dan tingkat ketiga, pengharapan orang khawwahulkhawwash, yakni kemampuan untuk melakukan musyahadah dan bertambahnya tingkat derajat dalam rahasia-rahasia tuhan yang disembah.[7]
4.                  Khauf ( perasaan takut)
        Imam Al-Ghazali berkata, “Ketahuilah bahwa hakikat dari khauf adalah kepedihan dan terbakarnya hati karna memperkirakan akan tertimpa suatu yang tidak menyenangkan di masa yang akan datang.khauf kepada Allah kadang timbul dari perbuatan dosa. Dan kadang dia timbul karna seseorang mengetaui sifat-sifat-Nya yang mengharuskannya untuk takut kepadanya. Ini lah tingkatan khauf yang paling sempurna. Sebab, barang sipaa mengetauhi Allah, maka dia akan takut kepadanya. Oleh karna itu, Allah berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah orang –orang yang berilmu.”(QS. Al-Fathir.28)
        khauf terwujud dalam tangisan tersedu-sedu dari orang yang dapat mengukur bahaya akibat dari suatu pebuatan, sehingga dia termotivasi untuk melakukan kewajiban-kewajibanya. Dia tidak menjerumuskan dirinya ke dalam perbuatan menyimpang dan dosa. Bahkan dia tidak berdiam di tempat yang diduga dapat menjerumuskannya ke dalam kejahatan dan kerusakan. Kemudian khauf-nya meningkatkan, sehingga dia menghijasi dirinya dengan sifat-sifat mulia ynag di miliki oleh orang orang yang selalu dekat dengan Allah. Ketika itu, khauf-nya akan berpindah dari alam jasmani menuju alam rohani, sehingga dia memiliki kesedihan-kesedihan yang tidak dapat diketahui oleh orang-orang yang suci.
Abdul Wahhab Asy-Sya’rani pernah mengatakan tentang Rabi’ah Al-Adawiah dengan derajat spiritual diatas. Beliau mengatakan bahwa Rabiah Al-Adawiah adalah seorang sufi yang sering menangis dan bersedih. Jika dia mendengar tentang neraka, maka dia akan jatuh pingsan dalam waktu yang cukup lama. Tempat sujudnyya adalah ibarat kolam kecil berisi air matanya seolah neraka tidak diciptakan kecuali untuk dirinya. Rahasia dari khauf tersebut adalah keyakinan bahwa setiap bala selain neraka adalah perkara mudah dan setiap bencana selain kejauhan dari Allah adalah perkara yang gampang.
Kalangan sufi berasumsi bahwa seorang muhibb (orang yang mencintai) tidak akan dapat minum dari gelas sang kekasih kecuali setelah rasa takut meresap dalam hatinya. Barang siapa memiliki takwa seperrti yang dimiliki seorang muhibb, maka dia mengetahui apa yang sedang ditangisinya. Dan barang siapa tidak menyaksikan ketampanan Nabi Yusuf, maka dia tidak akan pernah mengetahui kepedihan hati Nabi Yakub.
Abu Sulaiman ad-Darani menyatakan,” khauf tidak hilang dari hati melainkan hati akan binasa.”[8]
Orang-orang yang takut kepada Allah tidak berada dalam satu tingkatan, tapi mereka berada pada tingkatan yang berbeda-beda. Ibnu Ujaibah telah mengkelompokkan mereka ke dalam tiga kategori. Pertama, Takutnya orang awam dari siksaan dan hilangnya pahala. Kedua, Takutnya orang khawwash dari celaan dan hilangnya kedekatan dari sisi-Nya. Ketiga, takutnya orang khawwashulkhawwash akan tertutupnya pandangan dari akhlak yang buruk.[9]
5.      Rindu (Syauq)
Selama masih ada cinta, syauq tetap diperlukan. Dalam lubuk jiwa, rasa rindu hidup dengan subur, yakni rindu ingin segera bertemu dengan Tuhan. Ada yang mengatakan bahwa maut merupakan bukti cinta yang benar.Lupa kepada Allah lebih berbahaya dari pada maut.Bagi sufi yang rindu kepada Tuhan,kematian dapat berarti bertemu dengan Tuhan.
Abu Ali Daqaq mengatakan “Syauq adalah dorongan hati untuk bertemu dengan yang dicintai dan kuatnya dorongan sesuai dengan kuatnya cinta dan cinta baru berakhir  setelah melihat  dan bertemu.
6.      Intim (Uns)
Uns adalah keadaan jiwa dan seluruh ekspresi rohani terpusat penuh kepada satu titik sentrum, yaitu Allah.Dalam pandangan sufi, sifat uns adalah sifat merasa selalu berteman, tak pernah merasa sepi. Ungkapan berikut:
“Ada orang yang merasa sepi dalam keramaian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan kekasihnya sebab sedang dimabuk cinta, seperti halnya sepasang muda mudi.Ada pula orang yang merasa bising dalam kesepian. Ia adalah orang yang selalu memikirkan atau merencanakan tugas pekerjaannya semata – mata. Adapun engkau, selalu merasa berteman di mana pun berada. Akangkah mulianya engkau berteman dengan Allah, artinya engkau selalu berada dalam pemeliharan Allah.
Sikap keintiman ini banyak dialami oleh kaum sufi.
F.            Tokoh-tokoh Ahli Sufi Dalam Pengalaman Rohani
Beberapa tokoh sufi yang  menonjol dalam pengalaman rohani beserta penerangannya :


1.        Zuhud
 Orang yang zuhud  lebih mengutamakan dan sangat merinduka kebahagiaan hidup diakhirat dan kekal serta abadi dari pada mengejar kehidupan dunia yang fana
Beberapa tokoh zuhud yang terkenal adalah
a.         Sa’id bin musayyab ( 91 H ) murid dari abu hurairah ra.
b.         Hasan Basri ( 21 H ) ia lahir di madinah dan dibesarkan oleh keluarga yang sholeh dan memiliki pengetahuan agam yang dalam
c.         Sufya ats-tsaury, lahir di kuffah 97 H.
d.        Ibrahim bin adham (w. 165 H )  lahir di balkh, persia. Ia merupakan seorang pangeran muda yang meninggalkan baju kebesarannya, lalu ia terjun ke dunia zuhud
2.        Mahabbah
Tokoh mahabbah yang paling mashur yaitu rabi’ah al-adawiya (w. 185 H ) ia dilahirkan di basrah,  hidupnya bermula seorang budak belian yang kemudain mengabdikan hidupnya dengan shalat dan dzikir setiap malam. Bagi rabi’ah, zuhud harus dilandasi dengan mahabbah ( rasa cinta ) yang mendalam, kepatuhan kepada allah bukanlah tujuannya karena ia mengharapkan nikmat surga dan tidak takut azab neraka, tetapi ia mematuhinya karena rindu dan cinta kepadanya.
3.        Fana’ dan baqa’
Dari segi bahasa (etimologi) kata fana artinya sirna, lembur atau hilang. Sedangkan baqa artinya kekal, abadi dan senantiasa ada. Jadi ketika sufi mencapai maqam ini ia merasa fana yaitu hilangnya sifat sifat yang tercela dan munculnya sifat sifat yang terpuji.  Pendapat kaum orientalis, salah satu maqamat sufi al fana dianggap ada sama persamaan dengan ajaran agama hindu tentang nirwana.
4.         Ittihad
Yang dimaksud dengan ittihad yaitu pengalaman batin akan kesatuan seorang sufi. Seorang sufi akan mabuk dalam kenikmatan bersatu dengan allah. Dalam keadaan seperti ini tidak akan muncul ucapan ucapan yang sebagian orang dianggap aneh seperti kata kata: ana al haq = (aku adalah al haq ), aku adalah satu. Kata kata ini terlontar hanya seketika, karena merasa begitu menyatunya dengan yang haq yaitu allah SWT. Tokoh yang sangat popular dalam maqamat ittihad ini adalah abu yazid al-bustami
5.         Hulul
Sentra tokohnya adalah mashur dalam hulul yaitu abu manshur al hajj. menurut padangannya tingkat fana yang di capai oleh orang sufi bukan hanya membawanya kepada ittihad, tetapi lebih jauh lagi yaitu hulul. Hulul yaitu bertempatnya sifat ketuhanan kepada sifat kemanusiaan. Dalam hal ini al hajj di pangdang sebagai sufi controversial sehingga harus berakhir di tiang gantung.
6.         Wahdatul wujud
Teori ini berpijak dari pandangan bahwa semua wujud hanya memiliki satu realitas, realitas tunggal itu ialah allah SWT. Adapun alam semesta yang serba ganda dan berbilang ini hanyalah wadah penanpakandiri dari nama dan sifat sifat allah dalam wujud terbatas. Tokoh ini termuka dalam wahdatul wujud adalah ibnu ‘Arabi.
Dari beberapa maqamat dan pengalaman sufi di atas dapat kita teladani dalam hari keseharian dalam kapasitas kemampuan kita, dengan sendrinya akan bermunculan akhlaq terpuji yang bisa membangun kehidupan bermasyarakat.

G.           Sejarah akhlak tasawuf
Pemahaman tasawuf dalam lintas sejarah diantaranya dapat dilacak dari sejarah Rasul SAW yang berada di gua Hira untuk bertafakur  dan beribadah sebagai orang yang rindu akan Tuhannya dengan menghindarkan diri dari kehidupan duniawi dan bermewah- mewah.Tahanuts yang dilakukan Nabi Muhammad Saw di Gua Hira merupakan cahaya pertama dan utama bagi nur tasawuf, karena itulah benih pertama bagi kehidupan rohaniah.Di dalam mengingat Allah serta memuja-Nya di Gua Hira, putuslah ingatan dan tali rasa beliau dengan segala makhluk lainnya.Di situ pula berawalnya Nabi Muhammad mendapat hidayah, membersihkan diri dan mensucikan jiwa dari noda-noda penyakit yang menghinggapi sukma, bahkan sewaktu itu pulalah berpuncaknya kebesaran, kesempurnaan, dan kemuliaan jiwa Muhammad Saw.dan membedakan beliau dari kebiasaan hidup manusia biasa.
Dr. Ahmad Alwasy berkata, “Banyak kalangan bertanya-tanya mengapa dakwah kepada tasawuf tidak berkembang di awal era islam dan beru muncul setelah era sahabat dan tabiin. Jawabannya, pada awal islam dakwah kepada tasawuf belum diperlukan. Sebab, pada era itu semua orang adalah ahli taqwa, ahli wara’ dan ahli ibadah,  berdasarkan panggilan fitrah mereka dan kedekatan mereka dengan Rasulluh s.a.w. mereka berlomba untuk mengikuti dan meneladani dengan Rasul dalam setiap aspek. Oleh karena itu, mereka tidak membutuhkan ilmu yang membutuhkan mereka kepada sesuatu yyang benar-benar telah mereka kerjakan. Kondisi mereka ibarat seorang arab murni yang mengetahui bahasa arab melalui warisan dari generasi pendahulu. Dia dapat menciptakan syair yang fasih tanpa sedikitpun memiliki pengetahuan tentang gramatika bahasa arab dan ilmu pencipta syair. Orang seperti ini tidak harus mempelajari nahwu dan balaghah. Nahwu, balaghah dan ilmu tentang syair diperlukan dan harus dipelajari oleh orang yang banyak melakukan kesalahan berbahsa dan lemah dalam menyusun kalimat, atau bagi orang non-arab yang hendak memahami dan mengetahui bahasa arab, atau pada saat ilmu-ilmu tersebut menjadi kebutuhan masyarakat, sebagaimana kebutuhan mereka terhadap ilmu-ilmu lainnya.
Meskipun para sahabat dan tabiin tidak menggunakan kata tasawuf, akan tetapi secara praktis mereka adalah para sufi yang sesungguhnya. Yang dimaksud dengan tasawuf tidak lain adalah bahwa seseorang hidup hanya untuk tuhannya, bukan untuk dirinya. Dia menghiasi dirinya dengan zuhud, tekun melaksanakan ibadah, berkomunikasi dengan Allah dengan roh dan jiwanya disetiap waktu den berusaha mencapai berbagai kesempurnaan, sebagaimana telah dicapai oleh para sahabat dan tabiin yang telah sampai ketingkat spiritualitasyang paling tinggi. Para sahabat tidak hanya sekedar mengikrarkan iman dan menjalakan kewajiban-kewajiban. Akan tetapi mereka mnyertai ikrar iman tersebut dengan perasaan, menambah kewajiban-kewajiban dengan amal-amal sunnah dan menghindari yang makruh disamping yang haram, sehingga mata hati mereka bersinar, butiran-butiran hikmah terpancar dari nurani mereka dan bersinar dan rahasia-rahasia ketuhanan melimpah dalam jiwa mereka. Begitu pua kondisi para tabiin dan pengikut tabiin. Ketiga masa tersebut adalah masa keemasan dan sebaik-baiknya masa dalam islam. Nabi s.a.w. bersabda yang atrinya “ sebaik-baik masa adalah masa ku ini, lalu masa sesudahnya, lalu massa sesudahnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)













BAB III
PENUTUP
A.    kesimpulan
Tasawuf adalah membersihkan hati dari apa saja yang menggangu perasaan makhluk, berjuang menanggalkan pengaruh budi yang asal [instink] kita, memadamkan sifat-sifat kelemahan kita sebagai manusia, menjauhi segala seruan hawa nafsu, mendekati sifat-sifat suci kerohanian, bergantung pada ilmu ilmu hakikat, memakai barang yang penting dan terlebih kekal, menaburkan nasihat kepada semua orang, memegang teguh janji dengan dalam hal hakikat dan mengikuti contoh Rasullah dalam hal syariat. Serta bertujuan untuk mempernbaiki hati dan memfokuskannya hanya untuk Allah semata. Fikih adalah ilmu yang bertujuan untuk memperbaiki amal, memelihara aturan dan menampakkan hikmah dari setiap hukum. Sedangkan ilmu tauhid adalha ilmu yang bertujuan untuk mewujudkan dalil-dalil dan menghiasi iman dengan keyakinan, sebagaimana ilmu kedokteran untuk memelihara badan dan ilmu nahwu untuk memelihara islam.








DAFTAR PUSTAKA
Labib Mz.2001, Nasehat Orang orang Sufi, Surabaya : Bintang Usaha Jaya.
Kumaidi.2008,Al-Hikmah, Surabaya : Akik Pusaka.
Alwi shihab. 2009, Akar Tasawuf di Indonesia, Depok: Pustaka Iman.
Solihin. M. 2008, Ilmu Tasawuf, Bandung : Pustaka Setia.
Nata abudin. 2012, Akhlaq Tasawuf, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Qadir isa abdul. 2010, Hakikat Tasawuf, Jakarta Timur : Qistha Press.
http://chikafikrotul.blogspot.com/2013/06/tasawuf-ahwal-dan-maqamat.html












1.       Mz Labib, Nasehat Orang orang Sufi,2008 hal. 1
2.       Zakaria al-Anshari (wafat 929 H), Ta’liqat ‘ala ar-Risalah al-Qusyairiyyah.
3.       Musthafa Ismail al-Madani, An-Nabawiyyah
[4] Sayyid, Ta’riffat as-sayyid, hlm. 48.
[5]. Ahamad ibn Ujaibah, Mi’raj at-tasyawwuf ila Haqa’iq at-Tashawwuf, hlm. 8.
[6] Abu Abbas Ahmad Zaruq al-fasi, Qawa’id at-Tashawwuf,hlm. 74.
[7] Ahmad Ibn Ujaibah, Mi’raj at-Tasyawwuf ila Haqa’iq at-Tashawwuf,hlm. 6.
[8] Abu Qasim al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, hlm. 60
[9] Ahmad ibn Ujaibah, Miraj at-Tasyawwuf ila haqa’iq at-Tasyawwuf,hlm. 6.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar