Senin, 09 Maret 2015

tasawuf sunni


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Tasawwuf merupakan suatu pengembangan ilmu akhlak (ihsan), yang bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan harapan umat islam khususnya bisa lebih mengenal tuhannya dengan baik sehigga timbul rasa kecintaan terhadapnya, setelah seseorang dapat mencapai tingkatan  itu, maka semua yang akan dilakukannya tidak ada yang menyimpang dan selamatlah ia.
Tetapi ada yang berpendapat bahwasanya tasawwuf itu sendiri Bid’ah, dikatakan bid’ah karena tidak sedikit ahli suffi yang mana pemikirannya itu mengedepankan rasionalitas, sehingga timbulah istilah Tasawwuf Falsafi yang salah satu tokohnya ialah Abu Yazid al-Bushtomi dengan ajarannya yaitu al-ittihad, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh yang lainnya.
Dari dasar inilah timbul pengelompokkan antara Tokoh-tokoh Tasawwuf , yang mana biasa kita kenal dengan Sunni dan Falsafi.
Semoga makalah ini bisa menyingkap sedikit ulasan tentang Tasawwuf Sunni itu sendiri. Makalah ini kami sajikan dengan sederhana agar dapat dipahami oleh kita semua.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian Tasawwuf Sunni?
2.      Siapakah tokoh-tokoh Tasawwuf Sunni dan apakah ajarannya?
C.    Tujuan
Setelah selesai pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1.      Memahami ajaran tasawwuf Sunni
2.      Mengetahui Tokoh-tokoh Tasawwuf Sunni dan ajarannya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pengertian Tasawwuf Sunni
Tasawwuf sunni ialah bentuk tasawwuf yang memagari dirinya dengan al-quran dan hadist secara ketat, serta mengkaitkan ahwal atau keadaan dan maqamat( tingkatan Ruhaniah) mereka kepada dua sumber tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untruk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian,  jabatan dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusuan ibadah mereka.
Pada mulanya tasawwuf merupakan perkembangan dari pemahaman makna institusi-institusi Islam, sejak zaman sahabat dan tabi’in, kecenderungan orang terhadap ajaran islam secara lebih analitis mulai muncul. Ajaran islam mereka dapat dipandang dari dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan aspek bathiniyah atau aspek luar dan dalam. Pendalaman dan pengamalan aspek didalamnya mulai terlihat sebagai hal yang paling utama, tentunya tanpa mengabaikan aspek luarnya yang dimotivasikan untuk membersihkan jiwa. Tanggapan perenungan mereka lebih berorientasi pada aspek dalam, yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan keagungan tuhan dan bebas dari egoisme. Sejarah dan perkembangan Tasawwuf Sunni mengalami beberapa tahap:
ü  Tahap pertama yaitu disebut dengan tahap asketisme (zuhud),  fase ini tumbuh pada abad ke-1 dan ke-2. Pada fase ini terdapat individu-individu dari kalangan kaum muslimin yang lebih memusatkan perhatian dan memprioritaskan dirinya pada ibadah.
ü  Tahap kedua yaitu sejak abad ke -3 hijriyah, para sufi mulai menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwadan tingkah laku sufi yang ditandai dengan upaya menegakkan moral ditengah terjadinya dekadensi moral yang berkembang saat itu.
ü  Tahap ketiga yaitu pada abad ke-4 Hijriyah, pada fase ini ilmu tasawwuf mengalami perkembangan yang lebih maju dibandingkan pada abad ke-3, karena usaha maksimal para ulama tasawwuf  untuk mengembangkan ajaran tasawwufnya masing-masing. Akibatnya kota Baghdad yang menjadi pusat kegiatan Tasawwuf yang paling besar tersaingi oleh kota-kota lainnya.
ü  Tahap ke-4 yaitu pada abad ke-5 Hijriyah, pada abad ini muncullah Imam Al-Ghazali yang sepenuhnya hanya menerima tasawwufyang berdasarkan al-quran dan hadist serta bertujuan asketisme, kehidupan sederhana.
ü  Tahap ke-5 yaitu abad ke-6 Hijriyah, pada abad ini tasawwuf sunni semakin meluas dan menyebar ke seluruh pelosok duniaislam. Hal ini merupakan akibat dari pengaruh Imam Al-Ghazali yang begitu besar pada dunia Tasawwuf.
B.     Tokoh-tokoh Tasawwuf Sunni dan Ajarannya
a.      Hasan al-Basri
Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh (umu salamah), dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak Zaid bin Tsabit. tepatnya pada tahun 21 H di kota Madinah setahun setelah perang shiffin, ada sumber lain yang menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab.
Beliau adalah salah seorang tokoh sufi yang semasa hidupnya bersamaan dengan tokoh sufi perempuan yang bernama Rabi’ah al-Adawiyah, ajaran yang dikemukakkan oleh Hasan al-Basri ini adalah Khauf dan Raja’ yaitu takut kepada Allah dan mengharap ridho Allah. Imam Ghazali berkata “hakikat khauf adalah penderitaan hari yang disebabkan karena mewaspadai kemungkinan terjadinya keburukan di masa depan, kadang-kadang terjadi karena mengalirnya dosa-dosa, kadang-kadang karena takut kepada Allah swt. Dengan mengetahui sifat-sifatnya yang tentu saja akan menimbulkan rasa takut , inilah yang paling sempurna (yang paling baik), sebab barang siapa yangmengetahui Allah, niscaya dia akan takut pada-Nya.[1]
Sedangkan Raja’ menurut Syeikh ahmad Zaruq mendefinisikan Raja’ sebagai kesenangan terhadap keutamaan Allah swt. Dengan melakukan perbuatan nyata terhadap semua, kalau tidak maka itu adalah tipuan.
Al-Raja’(permohonan atau pengharapan) tidak sama dengan al-Tamanni (berandai-andai), sebab orang yang berharap adalah orang yang melakukan ketaatan dengan memohon ridha dari Allah, sedangkan orang yang berandai-andai malah meninggalkan usaha, kemudian dia menantikan balasan dan pahala dari Allah, orang seperti inilah yang digambarkan oleh Nabi SAW:” Dan orang yang lemah adalah orang yang jiwanya tunduk pada nafsunya, dan memohon harapan kepada Allah.”
Jika seorang hamba ingin datang kepada tuhannya, berjalan menuju ke dekatnya, maka dia menggabungkan antara maqom khauf dan raja’,tidak melebihkan khauf di atas raja’ sehingga dia berputus asa dari rahmat Allah SWT, dan ampunannya, tidak melebihkan khauf diatas raja’ sehingga dia berputus asa dari rahmat Allah dan ampunannya, tidak melebihkan raja’diatas khauf sehingga ia terjerumus ke dalam jurang-jurang kemaksiatan dan keburukan, bahkan dia harus berusaha terbang mengikuti hembusan-hembusan angina yang bersih, sehingga ia senantiasa berdekatan dengan kehadirat illahi.
b.      Rabi’ah al-Adawiyah
Menurut Ibnu Khalikan nama lengkapnya ialah Ummul Khair Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah al-qisiyah. Dia dilahirkan sekitar awal abad keduadikota Bashrah, Iraq. Para ahli sejarah mengatakan bahwa dia dilahirkan pada tahun dimana Hasan Bashri memulai mengadakan majlis ta’limnya . peristiwa itu terjadi pada tahun 95 H atau 96 H.
Rabi’ah al-adawiyah adalalah perempuan sufi yang dianggap sebagai perintis aliran tasawwuf hubbul illahiyah. Beliau mengajak manusia berbagi rasa dalam bertaqwa. Mencintai Allah melebihi segala yang ada.mengesampingkan urusan dunia yang bersifat sementara dan fana. Setiap langkah perjalanan waktu diprioritaskan kepada ibadah serta mencintai Allah swt.
Semakin hari murid beliau semakin banyak, dalam suatu buku tentang mahhabbah illahiyah dikatakan “Mahabatullah adalah makna dari Hanafiyah (Kelurusan Beragama). Jadi Mahabbah/Cinta maknanya adalah condong sebagaimana Hanif. Dan makna Hanif adalah condong kepada Allah dan menjauh dari selain-Nya. Nabiyullah Ibrahim as. Adalah pemimpin orang orang yang Hanif. Mahabbah beliau sampai ke tingkat Mahabbah yang paling tinggi yang disebut sebagai Khullah.[2] Allah berfirman :
وَاتّخذ اللّه اِبْرَهِيْمَ خَلِيْلاَ  (النّساء :125)
            “Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (kekasih).” (an-nisa125)
Allah SWT telah memerintahkan kita agar menetapi millah atauagama yang lurus. Allah berfirman:
            قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرَهِيْمَ حَنِيْفَا (البقرة:135)
          “katakanlah, tidak, melainkan (kami mengikuti) millah, agama Ibrahim yang lurus” (al-baqarah:135).
c.       Imam al-Ghazali
Nama lengkap adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin ta’us Ath-thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali. Ia dipanggil Al-Ghazali karena ia lahir di Ghazalah suatu kota di Kurasan, Iran, tahun 450 H/1058 M, ayahnya seorang pemintal kain wol miskin yang taat, pada saat ayahnya menjelang wafat Al Ghazali dan adiknya yang bernama Ahmad dititipkan kepada seorang sufi. Setelah lama tinggal bersama sufi itu, Al-Ghazali dan adiknya disarankan untuk belajar pada pengelola sebuah madrasah, sekaligus untuk menyambung hidup mereka, di sana ia mempelajari ilmu fiqih kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani,
Setelah Imam Haramani Wafat (478 H/1068 M) Al-Ghazali pergi ke Baghdad, yaitu tempat berkuasanya Perdana Menteri Nizham Al-Muluk (wafat 485 H/1091 M). Pada tahun 483 H/1090 M ia diangkat oleh Nizam Al-Muluk menjadi guru besar di Universitas. Selama di Baghdad Al-Ghazali menderita keguncangan batin sebagai akibat sikap keragu-raguan akan pencarian kebenaran yang hakiki, kemudian ia pun memutuskan untuk melepaskan jabatannya dan meninggalkan Baghdad menuju Syiria, Palestina dan kemudian ke Mekah untuk mencari kebenaran yang hakiki yang selama ini dicarinya, setelah ia memperolehnya maka tidak lama kemudian ia menghembuskan nafas terakhirnya di Thus pada tanggal 19 Desember 1111 M/14 Jumadil Akhir tahun 505H.
Ajaran beliau dalam Tasawwuf sunni yang terkenal adalah Ma’rifat. Ma’rifah secara etimologi adalah pengetahuna tanpa keraguan sedikitpun. Dalam terminology kaum sufi, ma’rifah disebut pengetahuan yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya ketika pengetahuan itu terkait dengan persolana zat Allah SWT dan sifat-sifatnya. Jika ditanya, “apa yang dimaksud dengan ma’rifat Zat dan ma’rifah sifat?. Maka jawabnya “ma’rifat zat mengetahui bahwa sesungguhnya Allah SWT itu wujud dalam keesaan, Tunggal, dengan segala keagungan yang bersemayam dalam dirinya, dan tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Adapun ma’rifah sifat, adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt Maha hidup, maha mengetahui, maha berkuasa, dan dengan segala sifat kemaha-sempurnaan lainnya.”
Seseorang tidak akan menggapai apapun dari dunia melainkan Allah swt akan membutakan hatinya, dan semua amalannya akan sia-sia. Sesungguhnya allah awt menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai cahayanya. Dan Allah swt juga menjadikan hati dalam kegelapan, cahaya ma’rifat lah yang akan menyinarinya. Tatkala mendung menjelang, naka sirnalah cahaya matahari dari bumi. Dan ketika cinta dunia hadir dalam hati seorang hamba maka cahaya ma’rifat pun akan menyingkir darinya.[3]
Ada pula yang mengatakan hakikat ma’rifat adalah cahaya yang menyeruak dari kalbu seorang mukmin, dan tiada sesuatu yang lebih mulia dalam hati seorang hamba kecuali ke-ma’rifatan.[4]
d.      Al-Qusyairi
Nama lengkap Al-Qusyairi adalah ‘Abdul karim bin Hawazin al-Qusyairi, lahir tahun 376 H. di Istiwa, kawasan Nishafur, salah satu pusat ilmu pengetahuan  pada masanya. Disini lah ia bertemu dengan gurunya, abu Ali Ad-Daqqaq, seorang sufi terkenal. Al-Qurairi selalu menghadiri majelis gurunya dan dari gurunya itulah ia menempuh jalan tasawuf. Sang guru menyarankannya untuk pertama-tama mempelajari syariat. Oleh karena itu, dia selalu mempelajari fiqih dari seorang  faqih, Abu Bakr Muhammad  bin Abu Bakr Ath-Thusi (wafat tahun 405 H), dan mempelajari ilmu kalam serta ushul fiqih Abu Bakr bi Farauk (wafat tahun 406 H).[6]
Selain itu,  ia pun menjadi  murid Abu Ishak al-Isfarayini (wafat tahun 418 H) dan menelaah banyak karya  al-Baqillani. Dari situlah Al-qusyairi berhasil menguasai doktrin  Ahlussunnah Wal Jama’ah yang dikembangkan al-Asyi’ari dan muridnya. Al-Qusyairi adalah pembela paling tangguh dalam menentang doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyyah, mujassamah dan Syi’ah. Karena tindakannya itu, ia mendapat serangan keras dan dipenjara selama sebulan lebih atas perintah Thugrul Bek  karena hasutan seorang menterinya yang menganut aliran Mu’tazilah Rfidhah. Bencana yang menimpa dirinya itu, yang bermula pada tahun 445 H, diuraikannya  dalam karyanya, Syikayah Ahl As-Sunnah. Menurut ibnu Khallikan, Al-Qusyairi adalah seorang yang mampu mengompromikan syari’at dengan hakikat. Dia wafat  tahun 465 H.[7] 
Ajaran al-Quraisy yaitu mengembalikan  tasawuf ke atas  landasan  doktrin Ahlus Sunnah , sebagaimana pernyataannya: “ketauhilah! Para tokoh aliran ini (maksudnya para sufi) membina prinsip-prinsip tasawuf atas landasan tauhidyang benar, sehingga terpeliharah doktrin mereka dari penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat dengan tauhid  kaum salaf maupun Ahlus Sunnah, yang tidak tertandingi serta mengenal macet. Mereka pun tahu hak yang lama, dan  bias mewujudkan sifat sesuatu yang diadakan dari ketiadaannya. Karena itu, tokoh aliran ini, Al-Junaid mengatakan bahwa tauhid adalah pemisah hal yang lama dengan hal yang baru. Landasan doktrin-doktrin mereka  pun di dasarkan pada dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Dan seperti dikatakan Abu Muhammad Al-Jariri bahwa barang siapa yang tidak mendasarkan ilmu tauhid pada salah satu pengokohnya, niscaya membuat tergelincir kaki yang tertipu kedalam jurang kehancurannya.”.







BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tasawwuf sunni ialah bentuk tasawwuf yang memagari dirinya dengan al-quran dan hadist secara ketat, serta mengkaitkan ahwal atau keadaan dan maqamat( tingkatan Ruhaniah) mereka kepada dua sumber tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untruk menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat keduniawian,  jabatan dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusuan ibadah mereka.
Tokoh tasawwuf sunni yaitu Hasan al-Bashri dengan ajarannya yang terkenal yaitu Khauf (takut kepada Allah swt), dan raja’(mengharapkan ridha Allah swt). Kemudian Rabi’ah al-Adawiyah yaitu seorang tokoh sufi wanita dengan ajarannya yang terkenal yaitu Mahabbah Illahiyah (Cinta kepada Allah swt dengan sepenuh hati). Kemudian ada Imam al-Ghazali yang merupakan tokoh tasawwuf sunni sekaligus ahli fiqh yang terkenal dengan ajarannya yaitu Ma’rifat (esensi taqarrub, pendekatan pada Allah swt), dan yang terakhir Al-Qusyairi yang ingin mengembalikan  tasawuf ke atas  landasan  doktrin Ahlus Sunnah wal jama’ah.






Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Rasa’il al-Ghazali, 26 Karya Monumental, penerbit : Diadit Media, Jakarta, 2008.
Ash-Shawi Syahhat bin Mahmud, Mahabbah Illahiyah, penerbit : Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur, 2001.
Isa Abdul Qodir, Cetak Biru Tasawwuf, Spiritualitas ideal dalam islam, penerbit : Ciputat Press, Jakarta, 2005.
http//damaiq.blogspot.com/2010
http//ubaidillahbekasi.blogspot.com/2012, tasawwuf sunni dan falsafi
http//delsajoesafira.blogspot.com/2010, ajaran tasawwuf al-Qusyairi


           





[1] Syekh Abdul Qadir Isa, cetak biru tasawwuf (Jakarta: Ciputat Press, 2007) hal 184
[2] Syaikh sahal bin Mahmud Ash-shawi, Mahabbah Illahiyah,(Jakarta Timur: Al-Kautsar 2001) hal: 3-4.
[3] Imam Ghazali, Rasa’il al-Ghazali ( Jakarta:Diadit Media, 2008),hal:217
[4] Ibid, hal: 217

Tidak ada komentar:

Posting Komentar