BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Tasawwuf
merupakan suatu pengembangan ilmu akhlak (ihsan), yang bertujuan untuk lebih
mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan harapan umat islam khususnya bisa
lebih mengenal tuhannya dengan baik sehigga timbul rasa kecintaan terhadapnya,
setelah seseorang dapat mencapai tingkatan
itu, maka semua yang akan dilakukannya tidak ada yang menyimpang dan
selamatlah ia.
Tetapi ada yang
berpendapat bahwasanya tasawwuf itu sendiri Bid’ah, dikatakan bid’ah karena
tidak sedikit ahli suffi yang mana pemikirannya itu mengedepankan rasionalitas,
sehingga timbulah istilah Tasawwuf Falsafi yang salah satu tokohnya ialah Abu
Yazid al-Bushtomi dengan ajarannya yaitu al-ittihad, dan masih banyak lagi
tokoh-tokoh yang lainnya.
Dari dasar
inilah timbul pengelompokkan antara Tokoh-tokoh Tasawwuf , yang mana biasa kita
kenal dengan Sunni dan Falsafi.
Semoga makalah
ini bisa menyingkap sedikit ulasan tentang Tasawwuf Sunni itu sendiri. Makalah
ini kami sajikan dengan sederhana agar dapat dipahami oleh kita semua.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apakah
pengertian Tasawwuf Sunni?
2.
Siapakah
tokoh-tokoh Tasawwuf Sunni dan apakah ajarannya?
C.
Tujuan
Setelah selesai
pembahasan ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1.
Memahami
ajaran tasawwuf Sunni
2.
Mengetahui
Tokoh-tokoh Tasawwuf Sunni dan ajarannya.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Tasawwuf Sunni
Tasawwuf sunni
ialah bentuk tasawwuf yang memagari dirinya dengan al-quran dan hadist secara
ketat, serta mengkaitkan ahwal atau keadaan dan maqamat( tingkatan Ruhaniah)
mereka kepada dua sumber tersebut.
Dalam kehidupan
sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untruk menjauhkan diri dari
hal-hal yang bersifat keduniawian,
jabatan dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusuan ibadah mereka.
Pada mulanya
tasawwuf merupakan perkembangan dari pemahaman makna institusi-institusi Islam,
sejak zaman sahabat dan tabi’in, kecenderungan orang terhadap ajaran islam
secara lebih analitis mulai muncul. Ajaran islam mereka dapat dipandang dari
dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan aspek bathiniyah atau aspek luar dan
dalam. Pendalaman dan pengamalan aspek didalamnya mulai terlihat sebagai hal
yang paling utama, tentunya tanpa mengabaikan aspek luarnya yang dimotivasikan
untuk membersihkan jiwa. Tanggapan perenungan mereka lebih berorientasi pada
aspek dalam, yaitu cara hidup yang lebih mengutamakan rasa, lebih mementingkan
keagungan tuhan dan bebas dari egoisme. Sejarah dan perkembangan Tasawwuf Sunni
mengalami beberapa tahap:
ü Tahap pertama yaitu disebut dengan tahap asketisme (zuhud), fase ini tumbuh pada abad ke-1 dan ke-2. Pada
fase ini terdapat individu-individu dari kalangan kaum muslimin yang lebih
memusatkan perhatian dan memprioritaskan dirinya pada ibadah.
ü Tahap kedua yaitu sejak abad ke -3 hijriyah, para sufi mulai
menaruh perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan dengan jiwadan tingkah laku
sufi yang ditandai dengan upaya menegakkan moral ditengah terjadinya dekadensi
moral yang berkembang saat itu.
ü Tahap ketiga yaitu pada abad ke-4 Hijriyah, pada fase ini ilmu
tasawwuf mengalami perkembangan yang lebih maju dibandingkan pada abad ke-3,
karena usaha maksimal para ulama tasawwuf
untuk mengembangkan ajaran tasawwufnya masing-masing. Akibatnya kota Baghdad
yang menjadi pusat kegiatan Tasawwuf yang paling besar tersaingi oleh kota-kota
lainnya.
ü Tahap ke-4 yaitu pada abad ke-5 Hijriyah, pada abad ini muncullah
Imam Al-Ghazali yang sepenuhnya hanya menerima tasawwufyang berdasarkan
al-quran dan hadist serta bertujuan asketisme, kehidupan sederhana.
ü Tahap ke-5 yaitu abad ke-6 Hijriyah, pada abad ini tasawwuf sunni
semakin meluas dan menyebar ke seluruh pelosok duniaislam. Hal ini merupakan
akibat dari pengaruh Imam Al-Ghazali yang begitu besar pada dunia Tasawwuf.
B.
Tokoh-tokoh Tasawwuf Sunni dan Ajarannya
a.
Hasan al-Basri
Nama asli dari Hasan Al-Basri adalah Abu Sa’id
Al Hasan bin Yasar. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan
yang bernama Khoiroh (umu salamah), dan beliau adalah anak dari Yasaar, budak
Zaid bin Tsabit. tepatnya pada tahun 21 H di kota Madinah setahun setelah
perang shiffin, ada sumber lain yang menyatakan bahwa beliau lahir dua tahun
sebelum berakhirnya masa pemerintahan Khalifah Umar bin Al- Khattab.
Beliau adalah salah seorang tokoh sufi yang semasa hidupnya
bersamaan dengan tokoh sufi perempuan yang bernama Rabi’ah al-Adawiyah, ajaran
yang dikemukakkan oleh Hasan al-Basri ini adalah Khauf dan Raja’ yaitu takut
kepada Allah dan mengharap ridho Allah. Imam Ghazali berkata “hakikat khauf
adalah penderitaan hari yang disebabkan karena mewaspadai kemungkinan
terjadinya keburukan di masa depan, kadang-kadang terjadi karena mengalirnya
dosa-dosa, kadang-kadang karena takut kepada Allah swt. Dengan mengetahui
sifat-sifatnya yang tentu saja akan menimbulkan rasa takut , inilah yang paling
sempurna (yang paling baik), sebab barang siapa yangmengetahui Allah, niscaya
dia akan takut pada-Nya.[1]
Sedangkan Raja’ menurut Syeikh ahmad Zaruq mendefinisikan Raja’
sebagai kesenangan terhadap keutamaan Allah swt. Dengan melakukan perbuatan
nyata terhadap semua, kalau tidak maka itu adalah tipuan.
Al-Raja’(permohonan atau pengharapan) tidak sama dengan al-Tamanni
(berandai-andai), sebab orang yang berharap adalah orang yang melakukan
ketaatan dengan memohon ridha dari Allah, sedangkan orang yang berandai-andai
malah meninggalkan usaha, kemudian dia menantikan balasan dan pahala dari Allah,
orang seperti inilah yang digambarkan oleh Nabi SAW:” Dan orang yang lemah
adalah orang yang jiwanya tunduk pada nafsunya, dan memohon harapan kepada
Allah.”
Jika seorang hamba ingin datang kepada tuhannya, berjalan menuju ke
dekatnya, maka dia menggabungkan antara maqom khauf dan raja’,tidak melebihkan
khauf di atas raja’ sehingga dia berputus asa dari rahmat Allah SWT, dan
ampunannya, tidak melebihkan khauf diatas raja’ sehingga dia berputus asa dari
rahmat Allah dan ampunannya, tidak melebihkan raja’diatas khauf sehingga ia
terjerumus ke dalam jurang-jurang kemaksiatan dan keburukan, bahkan dia harus
berusaha terbang mengikuti hembusan-hembusan angina yang bersih, sehingga ia
senantiasa berdekatan dengan kehadirat illahi.
b.
Rabi’ah al-Adawiyah
Menurut Ibnu Khalikan nama lengkapnya ialah Ummul Khair Rabi’ah
binti Ismail al-Adawiyah al-qisiyah. Dia dilahirkan sekitar awal abad
keduadikota Bashrah, Iraq. Para ahli sejarah mengatakan bahwa dia dilahirkan
pada tahun dimana Hasan Bashri memulai mengadakan majlis ta’limnya . peristiwa
itu terjadi pada tahun 95 H atau 96 H.
Rabi’ah
al-adawiyah adalalah perempuan sufi yang dianggap sebagai perintis aliran
tasawwuf hubbul illahiyah. Beliau mengajak manusia berbagi rasa dalam bertaqwa.
Mencintai Allah melebihi segala yang ada.mengesampingkan urusan dunia yang
bersifat sementara dan fana. Setiap langkah perjalanan waktu diprioritaskan
kepada ibadah serta mencintai Allah swt.
Semakin hari
murid beliau semakin banyak, dalam suatu buku tentang mahhabbah illahiyah dikatakan
“Mahabatullah adalah makna dari Hanafiyah (Kelurusan Beragama). Jadi
Mahabbah/Cinta maknanya adalah condong sebagaimana Hanif. Dan makna Hanif
adalah condong kepada Allah dan menjauh dari selain-Nya. Nabiyullah Ibrahim as.
Adalah pemimpin orang orang yang Hanif. Mahabbah beliau sampai ke tingkat
Mahabbah yang paling tinggi yang disebut sebagai Khullah.[2]
Allah berfirman :
وَاتّخذ اللّه اِبْرَهِيْمَ خَلِيْلاَ (النّساء :125)
“Dan
Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (kekasih).” (an-nisa125)
Allah SWT telah memerintahkan kita
agar menetapi millah atauagama yang lurus. Allah berfirman:
قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرَهِيْمَ حَنِيْفَا
(البقرة:135)
“katakanlah, tidak, melainkan (kami mengikuti) millah,
agama Ibrahim yang lurus” (al-baqarah:135).
c. Imam
al-Ghazali
Nama lengkap adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin
ta’us Ath-thusi Asy-Syafi’i Al-Ghazali. Ia dipanggil Al-Ghazali karena ia lahir
di Ghazalah suatu kota di Kurasan, Iran, tahun 450 H/1058 M, ayahnya seorang
pemintal kain wol miskin yang taat, pada saat ayahnya menjelang wafat Al
Ghazali dan adiknya yang bernama Ahmad dititipkan kepada seorang sufi. Setelah
lama tinggal bersama sufi itu, Al-Ghazali dan adiknya disarankan untuk belajar
pada pengelola sebuah madrasah, sekaligus untuk menyambung hidup mereka, di
sana ia mempelajari ilmu fiqih kepada Ahmad bin Muhammad Ar-Rizkani,
Setelah Imam Haramani Wafat (478 H/1068 M) Al-Ghazali pergi ke Baghdad,
yaitu tempat berkuasanya Perdana Menteri Nizham Al-Muluk (wafat 485 H/1091 M).
Pada tahun 483 H/1090 M ia diangkat oleh Nizam Al-Muluk menjadi guru besar di
Universitas. Selama di Baghdad Al-Ghazali menderita keguncangan batin sebagai
akibat sikap keragu-raguan akan pencarian kebenaran yang hakiki, kemudian ia
pun memutuskan untuk melepaskan jabatannya dan meninggalkan Baghdad menuju
Syiria, Palestina dan kemudian ke Mekah untuk mencari kebenaran yang hakiki
yang selama ini dicarinya, setelah ia memperolehnya maka tidak lama kemudian ia
menghembuskan nafas terakhirnya di Thus pada tanggal 19 Desember 1111 M/14
Jumadil Akhir tahun 505H.
Ajaran beliau dalam Tasawwuf sunni yang terkenal adalah Ma’rifat.
Ma’rifah secara etimologi adalah pengetahuna tanpa keraguan sedikitpun. Dalam
terminology kaum sufi, ma’rifah disebut pengetahuan yang tidak ada keraguan
lagi di dalamnya ketika pengetahuan itu terkait dengan persolana zat Allah SWT
dan sifat-sifatnya. Jika ditanya, “apa yang dimaksud dengan ma’rifat Zat dan
ma’rifah sifat?. Maka jawabnya “ma’rifat zat mengetahui bahwa sesungguhnya
Allah SWT itu wujud dalam keesaan, Tunggal, dengan segala keagungan yang
bersemayam dalam dirinya, dan tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Adapun
ma’rifah sifat, adalah mengetahui bahwa sesungguhnya Allah swt Maha hidup, maha
mengetahui, maha berkuasa, dan dengan segala sifat kemaha-sempurnaan lainnya.”
Seseorang tidak akan menggapai apapun dari dunia melainkan Allah swt
akan membutakan hatinya, dan semua amalannya akan sia-sia. Sesungguhnya allah
awt menciptakan dunia sebagai kegelapan, dan menjadikan matahari sebagai
cahayanya. Dan Allah swt juga menjadikan hati dalam kegelapan, cahaya ma’rifat
lah yang akan menyinarinya. Tatkala mendung menjelang, naka sirnalah cahaya
matahari dari bumi. Dan ketika cinta dunia hadir dalam hati seorang hamba maka
cahaya ma’rifat pun akan menyingkir darinya.[3]
Ada pula yang mengatakan hakikat ma’rifat adalah cahaya yang menyeruak
dari kalbu seorang mukmin, dan tiada sesuatu yang lebih mulia dalam hati
seorang hamba kecuali ke-ma’rifatan.[4]
d. Al-Qusyairi
Nama lengkap Al-Qusyairi adalah ‘Abdul karim bin Hawazin al-Qusyairi,
lahir tahun 376 H. di Istiwa, kawasan Nishafur, salah satu pusat ilmu
pengetahuan pada masanya. Disini lah ia
bertemu dengan gurunya, abu Ali Ad-Daqqaq, seorang sufi terkenal. Al-Qurairi selalu
menghadiri majelis gurunya dan dari gurunya itulah ia menempuh jalan tasawuf.
Sang guru menyarankannya untuk pertama-tama mempelajari syariat. Oleh karena
itu, dia selalu mempelajari fiqih dari seorang
faqih, Abu Bakr Muhammad bin Abu
Bakr Ath-Thusi (wafat tahun 405 H), dan mempelajari ilmu kalam serta ushul
fiqih Abu Bakr bi Farauk (wafat tahun 406 H).[6]
Selain itu, ia pun menjadi murid Abu Ishak al-Isfarayini (wafat tahun
418 H) dan menelaah banyak karya
al-Baqillani. Dari situlah Al-qusyairi berhasil menguasai doktrin Ahlussunnah Wal Jama’ah yang dikembangkan
al-Asyi’ari dan muridnya. Al-Qusyairi adalah pembela paling tangguh dalam
menentang doktrin aliran-aliran Mu’tazilah, Karamiyyah, mujassamah dan Syi’ah.
Karena tindakannya itu, ia mendapat serangan keras dan dipenjara selama sebulan
lebih atas perintah Thugrul Bek karena
hasutan seorang menterinya yang menganut aliran Mu’tazilah Rfidhah. Bencana
yang menimpa dirinya itu, yang bermula pada tahun 445 H, diuraikannya dalam karyanya, Syikayah Ahl As-Sunnah.
Menurut ibnu Khallikan, Al-Qusyairi adalah seorang yang mampu mengompromikan
syari’at dengan hakikat. Dia wafat tahun
465 H.[7]
Ajaran al-Quraisy yaitu mengembalikan
tasawuf ke atas landasan doktrin Ahlus Sunnah , sebagaimana
pernyataannya: “ketauhilah! Para tokoh aliran ini (maksudnya para sufi)
membina prinsip-prinsip tasawuf atas landasan tauhidyang benar, sehingga
terpeliharah doktrin mereka dari penyimpangan. Selain itu, mereka lebih dekat
dengan tauhid kaum salaf maupun Ahlus
Sunnah, yang tidak tertandingi serta mengenal macet. Mereka pun tahu hak yang
lama, dan bias mewujudkan sifat sesuatu
yang diadakan dari ketiadaannya. Karena itu, tokoh aliran ini, Al-Junaid
mengatakan bahwa tauhid adalah pemisah hal yang lama dengan hal yang baru.
Landasan doktrin-doktrin mereka pun di
dasarkan pada dalil dan bukti yang kuat serta gamblang. Dan seperti dikatakan
Abu Muhammad Al-Jariri bahwa barang siapa yang tidak mendasarkan ilmu tauhid
pada salah satu pengokohnya, niscaya membuat tergelincir kaki yang tertipu kedalam
jurang kehancurannya.”.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Tasawwuf sunni
ialah bentuk tasawwuf yang memagari dirinya dengan al-quran dan hadist secara
ketat, serta mengkaitkan ahwal atau keadaan dan maqamat( tingkatan Ruhaniah)
mereka kepada dua sumber tersebut.
Dalam kehidupan
sehari-hari para pengamal tasawwuf ini berusaha untruk menjauhkan diri dari
hal-hal yang bersifat keduniawian,
jabatan dan menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu kekhusuan ibadah
mereka.
Tokoh tasawwuf
sunni yaitu Hasan al-Bashri dengan ajarannya yang terkenal yaitu Khauf (takut
kepada Allah swt), dan raja’(mengharapkan ridha Allah swt). Kemudian Rabi’ah
al-Adawiyah yaitu seorang tokoh sufi wanita dengan ajarannya yang terkenal
yaitu Mahabbah Illahiyah (Cinta kepada Allah swt dengan sepenuh hati). Kemudian
ada Imam al-Ghazali yang merupakan tokoh tasawwuf sunni sekaligus ahli fiqh
yang terkenal dengan ajarannya yaitu Ma’rifat (esensi taqarrub, pendekatan pada
Allah swt), dan yang terakhir Al-Qusyairi yang ingin mengembalikan tasawuf ke atas landasan
doktrin Ahlus Sunnah wal jama’ah.
Daftar Pustaka
Al-Ghazali, Rasa’il al-Ghazali, 26 Karya Monumental,
penerbit : Diadit Media, Jakarta, 2008.
Ash-Shawi
Syahhat bin Mahmud, Mahabbah Illahiyah, penerbit : Pustaka al-Kautsar,
Jakarta Timur, 2001.
Isa Abdul
Qodir, Cetak Biru Tasawwuf, Spiritualitas ideal dalam islam, penerbit :
Ciputat Press, Jakarta, 2005.
http//damaiq.blogspot.com/2010
http//ubaidillahbekasi.blogspot.com/2012,
tasawwuf sunni dan falsafi
http//delsajoesafira.blogspot.com/2010,
ajaran tasawwuf al-Qusyairi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar