Senin, 09 Maret 2015

tokoh tasauf sunni


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Mempelajari ilmu sejarah sangatlah penting karena di dalam Al-Qur’an banyak  yang  menerangkan tentang sejarah mulai dari zaman Nabi Adam As sampai Nabi Muhammad Saw. Dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw pada manusia banyak mengalami perubahan .mengingat hadits Nabi yang berbunyi “ sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”  sehingga mencentuskan para sahabat Nabi, Tabi’in dan para Ulama yang berakhlak mulia,  tidak cenderung terhadap angan dunia dan selalu bertaqorrub kepada Allah. Di antara tokoh-tokoh tasawuf yang sangat berpengaruh di dunia adalah Hasan Al-Bashri, Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Ibnu Hajar al-Asqolani dan lain-lain. Yang  mana mereka selalu mendekati Allah, takut akan siksaan Allah, dan sebagainya.
1.2.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1.      Bagaimana perjalanan hidup Hasan Al-Bashri dan Ajaran-ajarannya ?
2.      Bagaimana perjalanan hidup Ibrahim bin Adham dan Ajaran-ajarannya ?
3.      Bagaimana perjalanan hidup Sufyan ats-Tsauri dan Ajaran-ajarannya ?

1.3.      Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah adalah :
1.      Agar mengetahui perjalanan hidup tokoh-tokoh tasawuf dan gerakan ajaran-ajarannya
2.      Agar selalu bertaqorub kepada Allah SWT, takut kepada Allah, dan tidak cenderung terhadap kemewahan dunia.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1.   Hasan al-Bashri
A.    Biografi Hasan al-Bashri
Nama asli Hasan al-Basri adalah Abu Said Al-Hasan Bin Yasar ayahnya adalah mantan sahaya Zaid Bin Tsabit ada juga yang mengatakan sahaya Jamil bin Quthbah bin Amir bin Hadidah, Jabir bin Abdullah. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan yang bernama Khoiroh, ibunya juga mantan sahaya terbaik Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad SAW, beliau sering disusui oleh Ummu Salamah, Ummu Salamah terkenal dengan seorang putri arab yang mempunyai ahlak mulia. Beliau lahir di Madinah keluarga beliau dari Misan (suatu desa yang terletak antara Basrah dan Wasit) pada tahun 21 H yaitu pada zaman khalifah Ummar Bin Khotob, yang kemudian keluarga beliau pindah ke Madinah.
Ketika menginjak umur 14 tahun bertepatan dengan setahun setelah perang Siffin yaitu peperangan antara pro Ali dan kontra Ali, beliau pindah ke Basrah (Iraq) dan disinilah beliau disebut Haan Al-Basri karena di nisbatkan kepada Basrah. Kota Basrah sangat terkenal dengan kota ilmu didalam daulah Islamiyyah. Beliau menimba berbagai ilmu ditempat ini dan banyak dari kalangan sahabat dan Tabi’in yang singgah dikota ini untuk menimba ilmu.
Banyak orang berdatangan dikota itu untuk menimba ilmu kepada beliau perkataan serta nasihat beliau dapat menggugah sang pendengar.
Kemudian pada tahun 110 H tepatnya pada hari kamis sore diawal bulan Rajab, Allah memanggil beliau ke Rahmatullah pada usia 88 tahun. Jenazahnya disaksikan banyak orang, penduduk Basrah mensalatkannya setelah salat jum’at dan penduduk Basrah mengantarkannya sampai kepemakaman. Mereka merasa sedih serta kehilangan ulama Tabi’in yang besar lagi berbudi tinggi, shaleh, pasih llidahnya.
B.     Gerakan dan ajaran-ajarannya
Hasan Al-Basri adalah seorang ulama Suffi Tabi’in, seorang yang sangat takwa, juhud, dan wara. Beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari berbagai ulama salah satunya Huzifah bin Al-Yaman sehingga ajaran itu melekat pada diri Hasan Al-Basri. Ajaran itu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-harinya dalam sikap dan prilaku. Memang banyak pengakuan yang menyebutkan kelebihan dan keutamaan Hasan Al-Bashri  dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama, seperti yang dikatakan oleh Abu Qatadah, “ bergurulah kepada syekh ini! Saya sudah menyaksikan sendiri, tidaklah ada orang tabi’in yang menyerupai sahabat Nabi Muhammad SAW kecuali beliau.
Dasar pendirian Hasan Al-Bashri adalah zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahannya, hanya menuju kepada Allah SWT, tawakal, khauf, dan raja’. Janganlah semata-mata takut takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkanya, tetapi mengharap rahmatnya. Kemudian kita harus meninggalkan kenikmatan dunia kareana hal itu merupakan hijab (pengalang) dari keridhoan Allah. (Rosihon Anwar.2010: 172).
Kebanyakan dari kalangan ahli ibadah datang kepada Hasan al- Basyri untuk mendengarkan perkataan-perkataannya dan belajar ilmu fikih, tasawuf. Beliau mempunyai halaqah di masjid untuk mengkaji ilnu hadits, fikih, ilmu qur’an serta bayannya, bahasa, tasawuf ilmu lainnya. Bahkan beliau mempunyai majlis khusus dirumahnya yang nyaris didalamnya tidak berbicara kecuali makna zuhud, ibadah dan ilmu batin. Bahkan jika ada yang menanyakan selain itu, beliau mencela seraya berkata “kita hanyalah menyepi bersama saudara-saudara kami untuk bermudzakaroh”.
Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk mengendalikan nafsu. Tetapi dia bukanlah seorang sufi. Khutbah-khutbah beliau dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Bashri).
Dan adapun ajaran-ajaran tasawuf yang terkenal adalah zuhud, Khauf, dan Raja’.
Adapun makna (1). Zuhud adalah menghindar dari kehendak terhadap hal-hal yang bersifat duniawi, berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah, melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangan dunia dan selalu bertaqarrub kepada Allah. (2). Khauf adalah takut, pengetahuan yang dimiliki seorang hamba didalam hatinya rentang kesabaran dan keagungan Allah serta kepedihan siksanya. Rasa khauf ini akan muncul dengan sebab beberapa hal, diantanya: pengetahuan seorang hamba akan pelanggaran-pelanggaran dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya, pembenarannya akan ancaman Allah bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala kemaksiatan. Mengetahui akan adanya penghalang antar dirinya dan taubatnya. (3). Raja’ adalah harapan atau cita-cita bergantungnya hati dalam meraih suatu dikemudian hari. Raja’ merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan kepada Allah. Raja’ juga bisa dimaknai dengan  berprasangka baik kepada Allah karena mengetahui keluasan rahmat dan kasih sayangnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah membagi raja’ dalam tiga bagian. Dua bagian termasuk raja’ yang terpuji pelakunya sedangkan satu lainnya adalah raja’ yang tercela, maksudnya yaitu:
1.         Seorang mengharap, disertai dengan amalan taat kepada Allah diatas cahaya ilahi, ia senantiasa mengharap pahalanya.
2.         Seseorang yang berbuat dosa lalu dirinya bertaubat nasuha dan dia senantiasa mengharap ampunan Allah, kebaikannya dan kemurahannya.
3.         Adapu yang menjadikan pelakunya tercela, ialah seseorang yang terus menerus dalam kesalahan-kesalahannya lalu ia mengharap rahmat Allah tanpa disertai dengan amal kebaikan. Raja’ seperti ini hanyalah angan-angan sebuah harapan yang dusta.
2.2                 Sufyan Ats-Tsaury
A.    Biografi Sufyan Ats-Tsaury
Alhamdulillah, kita masih dalam perjalanan yang penuh barokah dengan kehadiran ulama beserta karya-karyanya. Dia seorang yang alim dan zuhud, dialah Sufyan ats-tsaury.
Nama asli Sufyan ats-tsaury adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin rafi’ bin Abdullah bin Mauhibah bin Abu Abdillah bin Munqid bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Malkan bin Tsaur bin Abdi Manah bin Add bin Thabikhak bin Ilyas. Beliau dilahirkan pada tahun 97 H di Kuffah, beliau dilahirkan pada jaman pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik.
Ibnu Sa’ad berkata, “Sufyan menulis sepucuk surat kepada Al-Mahdi atau kepada Ya’qub bin Dawud. Dalam surat itu Sufyan mengeluhkan tindakan sebagian orang yang marah terhadap hadits-hadits yang disampaikannya.
Setelah beberapa hari, badan Sufyan menjadi panas dan diapun akhirnya meninggal, sehingga Al-Mahdi menjadi bersedih.
Marhum bin Abdil Al-Aziz berkata kepada Al-Mahdi, “Wahai Abu Abdillah, apa yang membuatmu bersedih? Kamu telah menyerahkannya kepada Tuhan yang kamu sembah.” Maka Al-Mahdi pun menjadi tenang.
Orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Sufyan di antaranya adalah Abdurrahman bin Abdil Malik bin Abhar, Al-Hasan bin Iyyasy, saudara Abu Bakar bin Iyyasy.
Sufyan memberikan wasiat kepada Abdurrahman bin Abdil Malik agar menyalatinya. Dan ketika Sufyan meninggal dia pun memenuhi wasiat tersebut dengan menyalatinya bersama penduduk Bashrah.
Dari Abdurrahman bin Mahdi dia berkata ,”Ketika Sufyan meninggal kami membawa jasadnya kepada penguasa, kami tidak menghiraukan dengan malam dan siang. Aku mendengar penguasa itu berkata, “Pelindung telah pergi, pelindung telah pergi.” (Hiliyah Al-Auliya’, 6/371)
Sufyan meninggal pada awal tahun 161 H (Siyar A’lam An Nuba’, 7/279)
Adz Dzahabi berkata, “Menurut pendapat yang benar, Sufyan meninggal pada bulan Sya’ban tahun 161H, Al-Waqidi juga mengatakan demikian. Sedangkan khalifah meragukannya dan dia berkata bahwa meninggalnya Sufyan adalah pada tahun 162 H.
Dari Dhamrah berkata, “Hammad bin Zaid memandangi jasad Sufyan yang ditutupi kain yang berada di atas ranjang, dia berkata ,”Wahai Sufyan, aku tidak merasa iri dengan banyaknya hadits yang telah kamu hafal, namun aku iri dengan amal shaleh yang telah kamu perbuat.”
Ayahnya adalah Sa’id bin Masruq, seorang ahli hadits dan ulama yang tsiohh Kuffah.Ats-Tsauriberasaldarikeluarga yang baik-baik, berilmudanmempunyaikemuliaan.
Ayahnyaadalahseorangulamabesar yang ada di Kufahyangriwayatnya  dapatdipercaya, dansaudara-saudaranyajugatermasukulama-ulama yang periwayatannyadianggapshahih.


B.     GerakandanAjaran-ajarannya
Sufyan Ats-Tsauri adalah seorang ulama yang banyak mempunyai ilmu dan mengamalkannya serta lantang dalam membela kebenaran.
Al-Hafidz Abu Bakar al-Khatib berkata, “Sufyan Ats-Tsauri adalah pimpinan ulama-ulama Islam dan gurunya. Sufyan adalah seorang yang mempunyai kemuliaan, sehingga dia tidak butuh dengan pujian. Selain itu Ats-Tsauri juga seorang yang bisa dipercaya, mempunyai hafalan yang kuat, berimu luas, wira’i dan zuhud.” (Tahdzib A-Kamal,11/168-167)
Ibnu Mahdi berkata , “Aku tidak berani menatap Sufyan Ats –Tsauri karena merasa malu dan hormat padanya.” (Siyar A’lam An-Nubala’, 7/267)
Sebagian ulama salaf berkata , “Sebagaimana rasa cintamu(Sufyan) kepada Allah Azza wa Jalla maka demikian juga cinta orang-orang kepadamu. Sebagaimana rasa takutmu kepada Allah maka demikian juga orang-orang menaruh hormat kepadamu, dan sebagaimana kesibukanmu karena Allah, maka demikian juga orang-orang menjadi berarti dalam hidupnya karena keberadaanmu.”
ü    Kezuhudannya
Pengertian zuhud adalah kosongnya hati dari hal-hal duniawi dan tidak berusaha mempertahankannya. Tidak dikatakan seorang yang zuhud bagi orang yang tangannya menghindar dari kenikmatan duniawi, namun hatinya sangat menginginkan dan senang kepadanya.
Dari Syu’aib bin Harb, dia berkata,” Sufyan telah berkata, “Wahai Abu Shaleh, ingatlah 3 perkara dariku, yaitu meski kamu membutuhkan orang untuk mengantarkan jenazah, namun janganlah kamu memintanya; meski kamu membutuhkan garam, namun janganlah kamu meminta kepada seseorang, karena roti yang kamu makan telah diberi garam pada saat diadoni; dan jika kamu membutuhkan air maka gunakanlah air secukupnya dengan mengucurkannya semestinya.”
Dari Abu as-Sirri, dia berkata, “Konon Fudhail bin Iyadh-tidak ada orang yang lebih wira’I darinya-ditanya oleh seseorang  ,”Siapa imam kamu?” Dia menjawab ,”Sufyan Ats-Tsauri.”
Dari Abdul Aziz Al-Qursyi, dia berkata, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Hendaknya kamu berbuat zuhud, niscaya Allah akan menjagamu dari kejelekan dunia. Hendaknya kamu berbuat wara’, niscaya Allah akan meringankan hitunganmu kelak di hari perhitungan amal. Tinggalkan sesuatu yang meragukan dan kerjakanlah sesuatu yang sudah pasti. Gantilah keraguanmu dengan keyakinan, niscaya kamu akan selamat dalam agamamu.”
Dari Qabishah, dia berkata, “Aku mendengar Sufyan telah memberikan nasehat, “ Tidak akan mendapat kebaikan dalam menuntut ilmu kecuali disertai zuhud; menurunnya rasa malu akan membawa kematian; cintailah seseorang sesuai kadar amalnya; merendahlah ketika beribadah; dan akuilah kesalahanmu jika kamu melakukan maksiat.”
ü   Ketekunannya Dalam Beribadah Dan Rasa Takutnya Kepada Allah  
         Dari Ibnu Wahab, dia berkata, “Aku melihat Ats-Tsauri sedang berada di Masjidil Haram selesai melakukan shalat Mahgrib, kemudian dia bersujud dan tidak mengangkat kepalanya hingga kami mengajaknya untuk shalat Isya.”
         Seseorang berkata kepada Sufyan, “Berilah aku wasiat.” Maka Ats-Tsauri berkata ,”Bekerjalah untuk duniamu seperti kamu hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seperti kamu akan berada disana selamanya.”
Dari Abdurrahman bin Rustah, dia berkata, “Aku mendengar Ibnu Mahdi berkata, “Suatu malam Ats-Tsauri berada di rumahku, dia tidak bisa tidur dan selalu menangis, sehingga seseorang bertanya kepadanya tentang apa gerangan yang menyebabkan dia selalu menangis. Ats-Tsauri menjawab, “Jika dosaku lebih ringan dari-dia mengangkat sebongkah tanah-ini, maka aku khawatir kalau imanku hilang sebelum aku mati.”
ü  Beberapa Mutiara Perkataanya       
Dari Yusuf Bin Asbath, dia berkata, “Sufyan berkata, “Barangsiapa mendoakan kebaikan bagi orang yang berbuat zhalim, maka dia berarti senang berbuat durhaka kepada Allah.”
Orang-orang bertanya, “Dengan siapa kami harus bergaul, wahai Sufyan?” Sufyan menjawab, “Dengan orang-orang yang mengingatkanmu untuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuat kamu gemar beramal untuk akhirat, dan dengan orang-orang yang akan menambah ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya.”
Dari Zaid bin Abi Az-Zarqa’ dia berkata, “Ketika kami membahas suatu masalah, kami saling berdebat dalam mencari jalan keluar, maka Sufyan keluar berkata, “Wahai segolongan pemuda, kalian telah tergesa-gesa untuk mendapatkan berkah dalam ilmu itu, dan kalian tidak menyadari hal itu, mungkin saja kalian belum sampai terhadap apa yang kalian inginkan, sehingga mengeraskan suara di hadapan teman kalian yang lain.”
Dari Hafsh bin Amr dia berkata, “Sufyan menulis surat kepada ‘Ubbad bin ‘Ubbad dia berkata, “Amma Ba’du, sesungguhnnya kamu telah hidup pada zaman dimana para shahabat terlindungi dengan keberadaan Rasulullah, mereka mempunyai ilmu yang tidak kita miliki, mereka mempunyai keberaniian yang tidak kita miliki.
Lalu, bagaimana dengan kita yang mempunyai sedikit ilmu, mempunyai sedikit kesabaran, mempunyai sedikit perasaan tolong-menolong dalam kebaikan dan manusia telah hancur serta dunia telah kotor?
Maka, hendaknya kamu mengambil suri tauladan pada generasi pertama, yaitu generasi para sahabat. Hendaknya kamu jangan menjadi generasi yang bodoh, karena sekarang telah tiba zaman kebodohan.
Juga, hendaknya kamu menyendiri dan sedikit bergaul dengan orang-orang. Jika seseorang bertemu dengan orang lain maka seharusnya mereka mengambil manfaat, dan keadaan seperti ini tlah hilang, maka akan lebih baik jika kamu meninggalkan mereka.”
Hendaknya kamu mengambil perkataan orang-orang yang benar, yaitu orang-orang yang mengatakan, “Takutlah fitnah dari orang yang taat beribadah namun dia seorang yang bodoh, dan fitnah dari orang yang punya banyak ilmu namundia seorang yang tidak mempunyai akhlak terpuji.”
Sesungguhnya fitnah yang ditimbulkan dari mereka berdua adalah sebesar-besar fitnah, tidak ada suatu perkara kecuali mereka berdua akan membuat fitnah dan mengambil kesempatan, janganlah kamu berdebat dengan mereka.”
Hendaknya kamu jangan mencintai kekuasaan, barangsiapa mencintai kekuasaan melebihi cintanya dengan emas dan perak, maka dia menjadi orang yang rendah. Seorang ulama tidak akan menghiraukan kekuasaan kecuali ulama yang telah menjadi makelar, dan jika kamu senang dengan kekuasaan maka akan hilang jati dirimu. Berbuatlah sesuai dengan niatmu, ketahuilah sesungguhnya ada orang yang diharapkan orang-orang di sekitarnya agar cepat mati.” Wassalam.(Hilyah Al-Auliya, 6/376-377)

(http://faedahilmu.wordpress.com/2012/05/20/sufyan-ats-tsauri/).

2.3  Ibrahim bin Adham
A.    Biografi Ibrahim bin Adham
Nama lengkapnya Ibrahim Adham Bin Mansur bin Yazid Al-Balakhi, biasa di panggil Abu Ishak dilahirkan dikota Balakh. Bapaknya keturunan raja Khurasan dan berasal dari keluarga kaya, namun dia kesampingkan harta dan bergelut mencari ilmu. Pergi ke Baghdad, Irak, Syam dan Hijaz untuk menimba ilmu dari para ulama, dan setiap kali berguru kepada Sufyan Tsauri dia meminta ijazah agar tidak lupa. Pencriannya di topang dari hasil buruan dan memelihara kebun. Kemudian terpanggil untuk jihad berperang melawan penjajah romawi. Kata-katanya: “Zuhud yang wajib adalah dari perkara haram dan subhat, sedangkan zuhud yang utama adalah dari perkara yang halal”.
Ibrahim bin Adham adalah Raja Balkh dan memiliki daerah kekuasaannya yang sangat luas. Kemanapun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buat tongkat kebesaran emas diusing didepan dan dibelakangnya.

B.     GerakandanAjaran-ajaranya
Ibrahim bin adham beriman setelah mendengar bisikan Tuhan ketika sedang berburu di hutan. Semenjak itu, ia hidup dalam kemiskinan dan aksetisme (zuhud) hidup dari hasil kedua tangannya. Dia adalah seorang guru sufi yang ajarnnya terutama berkisar tentang asketisme, mistisisme, dan dia lebih menyuntukan diri terutama dengan kontrol diri (muraqabah) dan gnosis (ma’rifat). Ajaran Ibrahim bin Adham dapat dilihat dari ujaran-ujarannya.
Yang di maksud dengan aksetisme adalah khusus, aksetisme bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka , serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Karena itu dalam islam aksetisme tidak bersyaratkan kemiskinan.
Asketisisme dalam islam ada 4 faktor yang mengembakan asketisisme dalam islam yaitu :
1.         Ajaran-ajaran islam itu sendiri. Kitab suci Al-Qur’an sendiri telah mendorong manusia agar hidup shaleh, takwa kepada Allah, menghindari dunia beserta hiasannya, memandang rendah hal-hal yang duniawi, dan memandang tinggi kehidupan diakhirat.
2.         Revolusi rohaniyah kaum Muslimin terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.
3.         Dampak asketisisme Masehi. Di zaman pra islam menurutnya, bangsa Arab terkena dampak para pendeta Masehi. Dampaknya itu terhadap para asketis Muslim, setelah timbulnya Islampun langsung begrabung. Namun dampak asketisisme Masehi itu lebih banyak terhahadap aspek organisasionalnya timbang terhadap aspek prinsip-prinsip umumnya. Sehingga diriwayatkan adanya perkunjungan para sufi kepada para pendeta, ketempat-tempat peribadatannya, yang kemudian meminta sebagian dari ajaran mereka.
4.         Penentangan terhadap fiqih dan kalam. Faktor ini muncul menurut Abu al-‘Ala ‘Afifi, karena kondisi-kondisi yang murni Islam, sama halnya dengan faktor-faktor yang pertama dan kedua.

BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Nama asli Hasan al-Basri adalah Abu Said Al-Hasan Bin Yasar ayahnya adalah mantan sahaya Zaid Bin Tsabit ada juga yang mengatakan sahaya Jamil bin Quthbah bin Amir bin Hadidah, Jabir bin Abdullah.Beliaulahir di madinahtahun 21 H, dankeluarganyaberasaldariMisan. Beliau wafat pada umur 88 tahun 110 H di Bashrah.Dasar pendiriann Hasan Al-Bashri adalah Zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahannya hanya menuju kepada Allah SWT, tawakal, khouf, dan Raja’.
Nama asli Sufyan ats-tsaury adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin rafi’ bin Abdullah bin Mauhibah bin Abu Abdillah bin Munqid bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Malkan bin Tsaur bin Abdi Manah bin Add bin Thabikhak bin Ilyas. Beliau dilahirkan pada tahun 97 H di Kuffah, beliau dilahirkan pada jaman pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik. Ayahnya adalah Sa’id bin Masruq, seorang ahli hadits dan ulama yang tsiohh Kuffah. Ayahnya adalah seorang ulama besar yang ada di Kufah yang riwayatnya  dapat dipercaya, dan saudara-saudaranya juga termasuk ulama-ulama yang periwayatannya dianggap shahih. Ats-Tsauriberasaldarikeluarga yang baik-baik, berilmudanmempunyaikemuliaan.
Nama lengkapnya Ibrahim Adham Bin Mansur bin Yazid Al-Balakhi, biasa di panggil Abu Ishak dilahirkan dikota Balakh. Ibrahim bin Adham adalah Raja Balkh dan memiliki daerah kekuasaannya yang sangat luas. Kemanapun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buat tongkat kebesaran emas diusing didepan dan dibelakangnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon, M,Ag dan Muhktar Solihin, M.Ag, 2004, Ilmu Tasawuf, Bandung;Pustaka Setia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar