BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Mempelajari ilmu sejarah sangatlah penting karena di
dalam Al-Qur’an banyak yang menerangkan tentang sejarah mulai dari zaman Nabi
Adam As sampai Nabi Muhammad Saw. Dengan kehadiran Nabi Muhammad Saw pada manusia
banyak mengalami perubahan .mengingat hadits Nabi yang berbunyi “ sesungguhnya Aku
diutus untuk menyempurnakan akhlak” sehingga
mencentuskan para sahabat Nabi, Tabi’in dan para Ulama yang berakhlak mulia, tidak cenderung terhadap angan dunia dan selalu
bertaqorrub kepada Allah. Di antara tokoh-tokoh tasawuf yang sangat berpengaruh
di dunia adalah Hasan Al-Bashri, Ibrahim bin Adham, Sufyan ats-Tsauri, Ibnu Hajar
al-Asqolani dan lain-lain. Yang mana mereka
selalu mendekati Allah, takut akan siksaan Allah, dan sebagainya.
1.2.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1.
Bagaimana
perjalanan hidup Hasan Al-Bashri dan Ajaran-ajarannya ?
2.
Bagaimana
perjalanan hidup Ibrahim bin Adham dan Ajaran-ajarannya ?
3.
Bagaimana
perjalanan hidup Sufyan ats-Tsauri dan Ajaran-ajarannya ?
1.3.
Tujuan Penulisan Makalah
Adapun tujuan penulisan makalah adalah :
1. Agar mengetahui perjalanan
hidup tokoh-tokoh tasawuf dan gerakan ajaran-ajarannya
2. Agar selalu bertaqorub kepada
Allah SWT, takut kepada Allah, dan tidak cenderung terhadap kemewahan dunia.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Hasan al-Bashri
A.
Biografi Hasan al-Bashri
Nama
asli Hasan al-Basri adalah Abu Said Al-Hasan Bin Yasar ayahnya adalah mantan
sahaya Zaid Bin Tsabit ada juga yang mengatakan sahaya Jamil bin Quthbah bin
Amir bin Hadidah, Jabir bin Abdullah. Beliau dilahirkan oleh seorang perempuan
yang bernama Khoiroh, ibunya juga mantan sahaya terbaik Ummu Salamah, istri
Nabi Muhammad SAW, beliau sering disusui oleh Ummu Salamah, Ummu Salamah
terkenal dengan seorang putri arab yang mempunyai ahlak mulia. Beliau lahir di
Madinah keluarga beliau dari Misan (suatu desa yang terletak antara Basrah dan
Wasit) pada tahun 21 H yaitu pada zaman khalifah Ummar Bin Khotob, yang
kemudian keluarga beliau pindah ke Madinah.
Ketika
menginjak umur 14 tahun bertepatan dengan setahun setelah perang Siffin yaitu
peperangan antara pro Ali dan kontra Ali, beliau pindah ke Basrah (Iraq) dan
disinilah beliau disebut Haan Al-Basri karena di nisbatkan kepada Basrah. Kota
Basrah sangat terkenal dengan kota ilmu didalam daulah Islamiyyah. Beliau
menimba berbagai ilmu ditempat ini dan banyak dari kalangan sahabat dan Tabi’in
yang singgah dikota ini untuk menimba ilmu.
Banyak
orang berdatangan dikota itu untuk menimba ilmu kepada beliau perkataan serta
nasihat beliau dapat menggugah sang pendengar.
Kemudian
pada tahun 110 H tepatnya pada hari kamis sore diawal bulan Rajab, Allah
memanggil beliau ke Rahmatullah pada usia 88 tahun. Jenazahnya disaksikan
banyak orang, penduduk Basrah mensalatkannya setelah salat jum’at dan penduduk
Basrah mengantarkannya sampai kepemakaman. Mereka merasa sedih serta kehilangan
ulama Tabi’in yang besar lagi berbudi tinggi, shaleh, pasih llidahnya.
B.
Gerakan
dan ajaran-ajarannya
Hasan
Al-Basri adalah seorang ulama Suffi Tabi’in, seorang yang sangat takwa, juhud,
dan wara. Beliau mendapatkan ajaran tasawuf dari berbagai ulama salah satunya
Huzifah bin Al-Yaman sehingga ajaran itu melekat pada diri Hasan Al-Basri.
Ajaran itu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-harinya dalam sikap dan
prilaku. Memang banyak pengakuan yang menyebutkan kelebihan dan keutamaan Hasan
Al-Bashri dalam melaksanakan
ajaran-ajaran agama, seperti yang dikatakan oleh Abu Qatadah, “ bergurulah
kepada syekh ini! Saya sudah menyaksikan sendiri, tidaklah ada orang tabi’in
yang menyerupai sahabat Nabi Muhammad SAW kecuali beliau.
Dasar
pendirian Hasan Al-Bashri adalah zuhud terhadap dunia, menolak segala
kemegahannya, hanya menuju kepada Allah SWT, tawakal, khauf, dan raja’.
Janganlah semata-mata takut takut kepada Allah, tetapi ikutilah ketakutan
dengan pengharapan. Takut akan murkanya, tetapi mengharap rahmatnya. Kemudian
kita harus meninggalkan kenikmatan dunia kareana hal itu merupakan hijab
(pengalang) dari keridhoan Allah. (Rosihon Anwar.2010: 172).
Kebanyakan
dari kalangan ahli ibadah datang kepada Hasan al- Basyri untuk mendengarkan
perkataan-perkataannya dan belajar ilmu fikih, tasawuf. Beliau mempunyai
halaqah di masjid untuk mengkaji ilnu hadits, fikih, ilmu qur’an serta
bayannya, bahasa, tasawuf ilmu lainnya. Bahkan beliau mempunyai majlis khusus
dirumahnya yang nyaris didalamnya tidak berbicara kecuali makna zuhud, ibadah
dan ilmu batin. Bahkan jika ada yang menanyakan selain itu, beliau mencela
seraya berkata “kita hanyalah menyepi bersama saudara-saudara kami untuk
bermudzakaroh”.
Hasan
adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia
hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk
mengendalikan nafsu. Tetapi dia bukanlah seorang sufi. Khutbah-khutbah beliau
dianggap sebagi contoh terbaik dan terawal sastra Arab. (http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Bashri).
Dan adapun ajaran-ajaran tasawuf yang
terkenal adalah zuhud, Khauf, dan Raja’.
Adapun
makna (1). Zuhud adalah menghindar dari kehendak terhadap hal-hal yang bersifat
duniawi, berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah, melatih dan
mendidik jiwa, dan memerangi kesenangan dunia dan selalu bertaqarrub kepada
Allah. (2). Khauf adalah takut, pengetahuan yang dimiliki seorang hamba didalam
hatinya rentang kesabaran dan keagungan Allah serta kepedihan siksanya. Rasa
khauf ini akan muncul dengan sebab beberapa hal, diantanya: pengetahuan seorang
hamba akan pelanggaran-pelanggaran dosa-dosanya serta kejelekan-kejelekannya,
pembenarannya akan ancaman Allah bahwa Allah akan menyiapkan siksa atas segala
kemaksiatan. Mengetahui akan adanya penghalang antar dirinya dan taubatnya. (3).
Raja’ adalah harapan atau cita-cita bergantungnya hati dalam meraih suatu
dikemudian hari. Raja’ merupakan ibadah yang mencakup kerendahan dan ketundukan
kepada Allah. Raja’ juga bisa dimaknai dengan berprasangka baik kepada Allah karena
mengetahui keluasan rahmat dan kasih sayangnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
membagi raja’ dalam tiga bagian. Dua bagian termasuk raja’ yang terpuji
pelakunya sedangkan satu lainnya adalah raja’ yang tercela, maksudnya yaitu:
1.
Seorang
mengharap, disertai dengan amalan taat kepada Allah diatas cahaya ilahi, ia
senantiasa mengharap pahalanya.
2.
Seseorang
yang berbuat dosa lalu dirinya bertaubat nasuha dan dia senantiasa mengharap
ampunan Allah, kebaikannya dan kemurahannya.
3.
Adapu
yang menjadikan pelakunya tercela, ialah seseorang yang terus menerus dalam
kesalahan-kesalahannya lalu ia mengharap rahmat Allah tanpa disertai dengan
amal kebaikan. Raja’ seperti ini hanyalah angan-angan sebuah harapan yang
dusta.
2.2
Sufyan
Ats-Tsaury
A.
Biografi
Sufyan Ats-Tsaury
Alhamdulillah, kita masih dalam perjalanan yang
penuh barokah dengan kehadiran ulama beserta karya-karyanya. Dia seorang yang
alim dan zuhud, dialah Sufyan ats-tsaury.
Nama asli Sufyan ats-tsaury adalah Sufyan bin Sa’id
bin Masruq bin rafi’ bin Abdullah bin Mauhibah bin Abu Abdillah bin Munqid bin
Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin Amir bin Malkan bin Tsaur bin Abdi Manah
bin Add bin Thabikhak bin Ilyas. Beliau dilahirkan pada tahun 97 H di Kuffah,
beliau dilahirkan pada jaman pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik.
Ibnu Sa’ad berkata, “Sufyan menulis sepucuk surat kepada
Al-Mahdi atau kepada Ya’qub bin Dawud. Dalam surat itu Sufyan mengeluhkan
tindakan sebagian orang yang marah terhadap hadits-hadits yang disampaikannya.
Setelah beberapa hari, badan Sufyan menjadi panas dan
diapun akhirnya meninggal, sehingga Al-Mahdi menjadi bersedih.
Marhum bin Abdil Al-Aziz berkata kepada Al-Mahdi, “Wahai
Abu Abdillah, apa yang membuatmu bersedih? Kamu telah menyerahkannya kepada
Tuhan yang kamu sembah.” Maka Al-Mahdi pun menjadi tenang.
Orang-orang yang datang untuk memberikan penghormatan
terakhir kepada Sufyan di antaranya adalah Abdurrahman bin Abdil Malik bin
Abhar, Al-Hasan bin Iyyasy, saudara Abu Bakar bin Iyyasy.
Sufyan memberikan wasiat kepada Abdurrahman bin Abdil Malik
agar menyalatinya. Dan ketika Sufyan meninggal dia pun memenuhi wasiat tersebut
dengan menyalatinya bersama penduduk Bashrah.
Dari Abdurrahman bin Mahdi dia berkata ,”Ketika Sufyan
meninggal kami membawa jasadnya kepada penguasa, kami tidak menghiraukan dengan
malam dan siang. Aku mendengar penguasa itu berkata, “Pelindung telah pergi,
pelindung telah pergi.” (Hiliyah Al-Auliya’, 6/371)
Sufyan meninggal pada awal tahun 161 H (Siyar A’lam An
Nuba’, 7/279)
Adz Dzahabi berkata, “Menurut pendapat yang benar, Sufyan
meninggal pada bulan Sya’ban tahun 161H, Al-Waqidi juga mengatakan demikian.
Sedangkan khalifah meragukannya dan dia berkata bahwa meninggalnya Sufyan
adalah pada tahun 162 H.
Dari Dhamrah berkata, “Hammad bin Zaid memandangi jasad
Sufyan yang ditutupi kain yang berada di atas ranjang, dia berkata ,”Wahai
Sufyan, aku tidak merasa iri dengan banyaknya hadits yang telah kamu hafal,
namun aku iri dengan amal shaleh yang telah kamu perbuat.”
Ayahnya adalah Sa’id bin Masruq, seorang ahli hadits
dan ulama yang tsiohh Kuffah.Ats-Tsauriberasaldarikeluarga yang baik-baik,
berilmudanmempunyaikemuliaan.
Ayahnyaadalahseorangulamabesar yang ada di
Kufahyangriwayatnya dapatdipercaya,
dansaudara-saudaranyajugatermasukulama-ulama yang periwayatannyadianggapshahih.
B.
GerakandanAjaran-ajarannya
Sufyan Ats-Tsauri adalah seorang ulama yang banyak
mempunyai ilmu dan mengamalkannya serta lantang dalam membela kebenaran.
Al-Hafidz Abu
Bakar al-Khatib berkata, “Sufyan Ats-Tsauri adalah pimpinan ulama-ulama Islam
dan gurunya. Sufyan adalah seorang yang mempunyai kemuliaan, sehingga dia tidak
butuh dengan pujian. Selain itu Ats-Tsauri juga seorang yang bisa dipercaya,
mempunyai hafalan yang kuat, berimu luas, wira’i dan zuhud.” (Tahdzib
A-Kamal,11/168-167)
Ibnu Mahdi berkata , “Aku tidak berani menatap Sufyan Ats
–Tsauri karena merasa malu dan hormat padanya.” (Siyar A’lam An-Nubala’,
7/267)
Sebagian ulama salaf berkata , “Sebagaimana rasa
cintamu(Sufyan) kepada Allah Azza wa Jalla maka demikian juga cinta
orang-orang kepadamu. Sebagaimana rasa takutmu kepada Allah maka demikian juga
orang-orang menaruh hormat kepadamu, dan sebagaimana kesibukanmu karena Allah,
maka demikian juga orang-orang menjadi berarti dalam hidupnya karena
keberadaanmu.”
ü
Kezuhudannya
Pengertian
zuhud adalah kosongnya hati dari hal-hal duniawi dan tidak berusaha
mempertahankannya. Tidak dikatakan seorang yang zuhud bagi orang yang tangannya
menghindar dari kenikmatan duniawi, namun hatinya sangat menginginkan dan
senang kepadanya.
Dari
Syu’aib bin Harb, dia berkata,” Sufyan telah berkata, “Wahai Abu Shaleh,
ingatlah 3 perkara dariku, yaitu meski kamu membutuhkan orang untuk
mengantarkan jenazah, namun janganlah kamu memintanya; meski kamu membutuhkan
garam, namun janganlah kamu meminta kepada seseorang, karena roti yang kamu
makan telah diberi garam pada saat diadoni; dan jika kamu membutuhkan air maka
gunakanlah air secukupnya dengan mengucurkannya semestinya.”
Dari Abu
as-Sirri, dia berkata, “Konon Fudhail bin Iyadh-tidak ada orang yang lebih
wira’I darinya-ditanya oleh seseorang ,”Siapa imam kamu?” Dia menjawab
,”Sufyan Ats-Tsauri.”
Dari
Abdul Aziz Al-Qursyi, dia berkata, “Aku mendengar Sufyan berkata, ‘Hendaknya
kamu berbuat zuhud, niscaya Allah akan menjagamu dari kejelekan dunia.
Hendaknya kamu berbuat wara’, niscaya Allah akan meringankan hitunganmu kelak
di hari perhitungan amal. Tinggalkan sesuatu yang meragukan dan kerjakanlah
sesuatu yang sudah pasti. Gantilah keraguanmu dengan keyakinan, niscaya kamu
akan selamat dalam agamamu.”
Dari
Qabishah, dia berkata, “Aku mendengar Sufyan telah memberikan nasehat, “ Tidak
akan mendapat kebaikan dalam menuntut ilmu kecuali disertai zuhud; menurunnya
rasa malu akan membawa kematian; cintailah seseorang sesuai kadar amalnya;
merendahlah ketika beribadah; dan akuilah kesalahanmu jika kamu melakukan
maksiat.”
ü
Ketekunannya
Dalam Beribadah Dan Rasa Takutnya Kepada Allah
Dari
Ibnu Wahab, dia berkata, “Aku melihat Ats-Tsauri sedang berada di Masjidil
Haram selesai melakukan shalat Mahgrib, kemudian dia bersujud dan tidak
mengangkat kepalanya hingga kami mengajaknya untuk shalat Isya.”
Seseorang
berkata kepada Sufyan, “Berilah aku wasiat.” Maka Ats-Tsauri berkata
,”Bekerjalah untuk duniamu seperti kamu hidup selamanya dan beramallah untuk
akhiratmu seperti kamu akan berada disana selamanya.”
Dari
Abdurrahman bin Rustah, dia berkata, “Aku mendengar Ibnu Mahdi berkata, “Suatu
malam Ats-Tsauri berada di rumahku, dia tidak bisa tidur dan selalu menangis,
sehingga seseorang bertanya kepadanya tentang apa gerangan yang menyebabkan dia
selalu menangis. Ats-Tsauri menjawab, “Jika dosaku lebih ringan dari-dia mengangkat
sebongkah tanah-ini, maka aku khawatir kalau imanku hilang sebelum aku mati.”
ü
Beberapa
Mutiara Perkataanya
Dari Yusuf Bin Asbath, dia berkata, “Sufyan
berkata, “Barangsiapa mendoakan kebaikan bagi orang yang berbuat zhalim, maka
dia berarti senang berbuat durhaka kepada Allah.”
Orang-orang bertanya, “Dengan siapa kami harus
bergaul, wahai Sufyan?” Sufyan menjawab, “Dengan orang-orang yang
mengingatkanmu untuk berdzikir kepada Allah, dengan orang-orang yang membuat
kamu gemar beramal untuk akhirat, dan dengan orang-orang yang akan menambah
ilmumu ketika kamu berbicara kepadanya.”
Dari
Zaid bin Abi Az-Zarqa’ dia berkata, “Ketika kami membahas suatu masalah, kami
saling berdebat dalam mencari jalan keluar, maka Sufyan keluar berkata, “Wahai
segolongan pemuda, kalian telah tergesa-gesa untuk mendapatkan berkah dalam
ilmu itu, dan kalian tidak menyadari hal itu, mungkin saja kalian belum sampai
terhadap apa yang kalian inginkan, sehingga mengeraskan suara di hadapan teman
kalian yang lain.”
Dari
Hafsh bin Amr dia berkata, “Sufyan menulis surat kepada ‘Ubbad bin ‘Ubbad dia
berkata, “Amma Ba’du, sesungguhnnya kamu telah hidup pada zaman dimana
para shahabat terlindungi dengan keberadaan Rasulullah, mereka mempunyai ilmu
yang tidak kita miliki, mereka mempunyai keberaniian yang tidak kita miliki.
Lalu, bagaimana dengan kita yang mempunyai
sedikit ilmu, mempunyai sedikit kesabaran, mempunyai sedikit perasaan
tolong-menolong dalam kebaikan dan manusia telah hancur serta dunia telah
kotor?
Maka, hendaknya kamu mengambil suri tauladan
pada generasi pertama, yaitu generasi para sahabat. Hendaknya kamu jangan
menjadi generasi yang bodoh, karena sekarang telah tiba zaman kebodohan.
Juga,
hendaknya kamu menyendiri dan sedikit bergaul dengan orang-orang. Jika
seseorang bertemu dengan orang lain maka seharusnya mereka mengambil manfaat,
dan keadaan seperti ini tlah hilang, maka akan lebih baik jika kamu
meninggalkan mereka.”
Hendaknya
kamu mengambil perkataan orang-orang yang benar, yaitu orang-orang yang
mengatakan, “Takutlah fitnah dari orang yang taat beribadah
namun dia seorang yang bodoh, dan fitnah dari orang yang punya banyak ilmu
namundia seorang yang tidak mempunyai akhlak terpuji.”
Sesungguhnya
fitnah yang ditimbulkan dari mereka berdua adalah sebesar-besar fitnah, tidak
ada suatu perkara kecuali mereka berdua akan membuat fitnah dan mengambil
kesempatan, janganlah kamu berdebat dengan mereka.”
Hendaknya
kamu jangan mencintai kekuasaan, barangsiapa mencintai kekuasaan melebihi
cintanya dengan emas dan perak, maka dia menjadi orang yang rendah. Seorang
ulama tidak akan menghiraukan kekuasaan kecuali ulama yang telah menjadi
makelar, dan jika kamu senang dengan kekuasaan maka akan hilang jati dirimu.
Berbuatlah sesuai dengan niatmu, ketahuilah sesungguhnya ada orang yang
diharapkan orang-orang di sekitarnya agar cepat mati.” Wassalam.(Hilyah
Al-Auliya, 6/376-377)
(http://faedahilmu.wordpress.com/2012/05/20/sufyan-ats-tsauri/).
2.3
Ibrahim
bin Adham
A.
Biografi
Ibrahim bin Adham
Nama
lengkapnya Ibrahim Adham Bin Mansur bin Yazid Al-Balakhi, biasa di panggil Abu
Ishak dilahirkan dikota Balakh. Bapaknya keturunan raja Khurasan dan berasal
dari keluarga kaya, namun dia kesampingkan harta dan bergelut mencari ilmu.
Pergi ke Baghdad, Irak, Syam dan Hijaz untuk menimba ilmu dari para ulama, dan
setiap kali berguru kepada Sufyan Tsauri dia meminta ijazah agar tidak lupa.
Pencriannya di topang dari hasil buruan dan memelihara kebun. Kemudian
terpanggil untuk jihad berperang melawan penjajah romawi. Kata-katanya: “Zuhud
yang wajib adalah dari perkara haram dan subhat, sedangkan zuhud yang utama
adalah dari perkara yang halal”.
Ibrahim
bin Adham adalah Raja Balkh dan memiliki daerah kekuasaannya yang sangat luas.
Kemanapun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat puluh buat tongkat
kebesaran emas diusing didepan dan dibelakangnya.
B.
GerakandanAjaran-ajaranya
Ibrahim
bin adham beriman setelah mendengar bisikan Tuhan ketika sedang berburu di
hutan. Semenjak itu, ia hidup dalam kemiskinan dan aksetisme (zuhud) hidup dari
hasil kedua tangannya. Dia adalah seorang guru sufi yang ajarnnya terutama
berkisar tentang asketisme, mistisisme, dan dia lebih menyuntukan diri terutama
dengan kontrol diri (muraqabah) dan gnosis (ma’rifat). Ajaran Ibrahim bin Adham
dapat dilihat dari ujaran-ujarannya.
Yang
di maksud dengan aksetisme adalah khusus, aksetisme bukanlah kependetaan atau
terputusnya kehidupan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikmah pemahaman yang
membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi,
dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu
tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka , serta tidak membuat mereka
mengingkari Tuhannya. Karena itu dalam islam aksetisme tidak bersyaratkan
kemiskinan.
Asketisisme
dalam islam ada 4 faktor yang mengembakan asketisisme dalam islam yaitu :
1.
Ajaran-ajaran
islam itu sendiri. Kitab suci Al-Qur’an sendiri telah mendorong manusia agar
hidup shaleh, takwa kepada Allah, menghindari dunia beserta hiasannya,
memandang rendah hal-hal yang duniawi, dan memandang tinggi kehidupan
diakhirat.
2.
Revolusi
rohaniyah kaum Muslimin terhadap sistem sosio-politik yang berlaku.
3.
Dampak
asketisisme Masehi. Di zaman pra islam menurutnya, bangsa Arab terkena dampak
para pendeta Masehi. Dampaknya itu terhadap para asketis Muslim, setelah
timbulnya Islampun langsung begrabung. Namun dampak asketisisme Masehi itu
lebih banyak terhahadap aspek organisasionalnya timbang terhadap aspek
prinsip-prinsip umumnya. Sehingga diriwayatkan adanya perkunjungan para sufi
kepada para pendeta, ketempat-tempat peribadatannya, yang kemudian meminta
sebagian dari ajaran mereka.
4.
Penentangan
terhadap fiqih dan kalam. Faktor ini muncul menurut Abu al-‘Ala ‘Afifi, karena
kondisi-kondisi yang murni Islam, sama halnya dengan faktor-faktor yang pertama
dan kedua.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nama
asli Hasan al-Basri adalah Abu Said Al-Hasan Bin Yasar ayahnya adalah mantan
sahaya Zaid Bin Tsabit ada juga yang mengatakan sahaya Jamil bin Quthbah bin
Amir bin Hadidah, Jabir bin Abdullah.Beliaulahir di madinahtahun 21 H,
dankeluarganyaberasaldariMisan. Beliau wafat pada umur 88 tahun 110 H di Bashrah.Dasar
pendiriann Hasan Al-Bashri adalah Zuhud terhadap dunia, menolak segala
kemegahannya hanya menuju kepada Allah SWT, tawakal, khouf, dan Raja’.
Nama asli
Sufyan ats-tsaury adalah Sufyan bin Sa’id bin Masruq bin rafi’ bin Abdullah bin
Mauhibah bin Abu Abdillah bin Munqid bin Nashr bin Al-Harits bin Tsa’labah bin
Amir bin Malkan bin Tsaur bin Abdi Manah bin Add bin Thabikhak bin Ilyas.
Beliau dilahirkan pada tahun 97 H di Kuffah, beliau dilahirkan pada jaman
pemerintahan Sulaiman bin Abdul Malik. Ayahnya adalah Sa’id bin Masruq, seorang
ahli hadits dan ulama yang tsiohh Kuffah. Ayahnya adalah seorang ulama besar
yang ada di Kufah yang riwayatnya dapat dipercaya, dan saudara-saudaranya
juga termasuk ulama-ulama yang periwayatannya dianggap shahih. Ats-Tsauriberasaldarikeluarga
yang baik-baik, berilmudanmempunyaikemuliaan.
Nama lengkapnya Ibrahim Adham
Bin Mansur bin Yazid Al-Balakhi, biasa di panggil Abu Ishak dilahirkan dikota
Balakh. Ibrahim bin Adham adalah Raja Balkh dan memiliki daerah kekuasaannya
yang sangat luas. Kemanapun ia pergi, empat puluh buah pedang emas dan empat
puluh buat tongkat kebesaran emas diusing didepan dan dibelakangnya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon,
M,Ag dan Muhktar Solihin, M.Ag, 2004, Ilmu Tasawuf, Bandung;Pustaka
Setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar