Bagian terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh huunga langsung
dengan tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di “hadirat” tuhan. Keberadaan
di “hadirat” tuhan otu dirasakan sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang
hakiki. Bagi kaum sufi, pengalaman nabi dalam isro’ mi’raj misalnya, merupakan
sebuah contoh puncak pengalaman rohani.
Ia adalah pengalaman rohani tertinggi yang hanya di punyai oleh seorang nabi.
Kaum sufi berusaha meniru dan mengulangi pengalaman rohani nabi itu dalam
dimensi, skala dan format yang sepadan dengan kemampuannya. “pertemuan” dengan
tuhan merupakan puncak kebahagiaan yang di lukiskan dalam sebuah hadis sebagai
“sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata.”
Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat
menghantarkanseseorang ke hadirat Allah
hanyalah dengan kesucian jiwa. Karena jiwa manusia merupakan refleksi
atau pancaran dari pada dzat Allahyang suci, segala sesuatu itu harus sempurna
dan suci, sekalipun tingkat kesuciaan dan kesempurnaan itu berfariasi menurut
dekat dan jauhnya dari sumber aslinya.
Untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian memerlukan
pendidikan dan latihan mental yang panjang. Sejalan dengan tujuan hidup
tasawuf, para sufi berkeyakinan bahwa kebahagiaan yang paripurna dan langgeng
bersifat spiritual. Kaum sufi berpendapat bahwa kenikmatan hidup duniawi bukanlah
tujuan, tetapi sekedar jembatan.
Oleh karena itu, dalam
rangka pendidikan mental, yang pertama dan utama di lakukan adalah menguasai
atau menghilangkan penyebab utamanya, yaitu hawa nafsu. Sebab, menurut
Al-ghozali tak terkontrolnya hawa nafsu yang ingin mengecap kenikmatan hidup
duniawi adalah sumber utama dari kerusakan akhlak.
Oleh karena itu, dalam rangka pendidikan mental-spiritual, metode
yang di tempuh para sufi adalah menanamkan rasa benci kepada kehidupan duniawi.
Ini berarti melepaskan kesenangan duniawi untuk mencintai tuhan. Esensi cinta
kepada tuhan adalah melawan hawa nafsu. Bagi sufi, keunggulan seseorang
bukanlah di ukur dari tumpukan harta yang di milikinya, bukan pula di lihat
dari pangkat yang di jabatnya, dan bukan pula dari otoritas yang dimilikinya.
Nilai seseorang tidak dilihat dari bentuk tubuh yang dimilikinya, tetapi
terletak pada akhlak pribadi yang di terapkannya.
Para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang
tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Itulah
sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang di
haruskan melakukakan amalan dan latihan kerohaniaan, yang cukup berat.
Tujuannya adalah menguasai hawanafsu; menekan hawa nafsu sampai ke titik
terendah dan bila mungkin mematikan hawa
nafsu sama sekali. Untuk itu, dalamtasawuf akhlaki,sistem pembinaan akhlak di
susun sebagai berikut :
1.
Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di jalani seorang
sufi.
Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku atau akhlak
tercela. Salah satu akhlak tercela yang
paling banyak membawa pengaruh terhadap timbulnya akhlak jelek lainnya adalah
ketergantungan pada kelezatan duniawi.hal ini dapat dicapai dengan jalan
menjauhkan diri dari kemaksiatan dalamsegala bentuknya dan berusaha melenyapkan
dorongan hawa nafsu.
Dalam menanamkan rasa benci terhadap kehidupan duniawiserta
mematikan hawa nafsu, para sufi berbeda pendapat. Sekelompok sufi yang moderat
berpendapat bahwa rasa kebencian terhadap kehidupan duniawi cukuo sekadar tidak
melupakantujuan hidupnya dan tidak meninggalkan duniawi sama sekali.
Demikan pula dengan pematian hawa nafsu itu, cukup dengan sekedar
“dikuasai” melalui pengaturan disiplin kehidupan. Aliran initidak meminta agar
manusia secara total melarikan siri dari problema dunia dan tidak pula menyuruh menghilangkan hawa nafsu.
Golongan ii tetap memanfaatkan dunia sekadar kebutuhannya dengan menekan dan
mengontrol dorongan nafsu yang dapat mengganggu stabilitas akal dan perasaan.
Sementara itu, kelompoka sufi yang ekstrim berkeyakinan bahwa
kehidupa duniawi benar-benar sebagai “racun pembunuh” kelagsungancita-cita
sufi. Persoalan duniawi adalah penghalang perjalanan, karenanya nafsu yang
bertendensi duniawi harus “dimatikan” agar manusia bebas berjalan menuju
tujuan,y aitu memperoleh kebahagaiaan
spritual yang hakiki. Bagi mereka, cara memperoleh keridoaan tuhan tidak sama
dengan cara memperoleh kenikmatan material. Pengingkaran ego dengan cara meresapkan
diri pada kemauan tuhan adalah perbuatan utama.
Sikap mental yang tidak sehat sebenarnya diakibatkan oleh
keterikatan kepada kehidupan duniawi. Bentuk keterikatan itu, menurut pandangan
sufi, bermacam-macam, antara lain yang di pandang sangat berbahaya adalah sikap
mental “riya”. Sifat ingin di sanjung dan ingin diagungkan, menurut Alghozali, sulit untuk menerima kebesaran
orang lain, termasuk untuk menerima keagungan Allah. Sebab hasrat ingin
disanjung itu sebenarnya tidak lepas dari adanya perasaan paling unggul, rasa
superioritas, dan ingin menang sendiri. Kesombongan dianggap sebagai diosa
besar kepda Allah. Oleh karena itu, Al-Ghozali menyatakan bahwa kesombongan
sama dengan penyembahan diri, satu macam dari
politeisme.
2.
Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi atau menghiasi diri dengan jalan
membiasakan diri dengan sikap, perilaku dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli di
lakukan kaum sufi setelah jiwa di kosongkan dari akhlak-akhlak jelek. Pada
tahap tahalli, kaum sufi berusaha agar setiap gerak prilaku selalu berjalan
diatas ketentuan agama, bai kewajiban yang besifat “luar” maupun yang bersifat
“dalam”. Aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti:
salat, puasa, dan haji, sedangkan aspek dalam seperti iman, ketaatan, dan
kecintaan kepada tuhan.
Dengan demikian, tahap tahalli merupakan tahap pengisian jiwa yang
telah dikosongkan. Sebab,apabila satu kebiasaan telah di lepaskan, tetapi tidak
segera ada penggantinya, kekosongan itu dapat menimbulkan frustasi. Oleh karena
itu, ketika kebiasaan lama ditinggalkan, harus segera diisidengan satu
kebiasaan baru yang baik. Jiwa manusia, seperti kata Al-Ghozalli, dapat diubah,
di latih, dikuasai, dan dibentuk sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri. Sikap
mental dan perbuatan baik yang sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia dan
dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna,
diantaranya :
1.
tobat
2.
khauf dan raja’
3.
zuhud
4.
al-faqr
5.
as-shabru
6.
rida,dan
7.
muraqobah.
3.
Tajalli
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui padafaseTahalli,
rangkaian pendidikan akhlak, disempurnakan pada fase tajalli. Kata tajalli
bermakna terungkapnya nur ghaib.Agar dimilki, sehingga tidak meminta
sesuatu yang lain. Sikap mental faqr merupakan benteng pertahanan yang kuat dalam menghadapi
pengaruh kehidupan materi. Sebab, sikap mental ini akan menghindarkan seseorang
dari keserakahan.
Dengan
demikian,pada prinsipnya,sikap mental faqrmerupakan rentetan sikap zuhud. Hanya
saja, zuhud lebih keras menghadapi kehidupanduniawi,sedangkan faqr sekedar
pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas hidup.
Sikap faqr
selanjutnya akan memunculkan sikap wara’. Wara’ menurut sufi adalah sikap
behati-hati dalam menghadapi segala sesuatu yang kurang jelas masalahnya.
Apabila bertemu dengan satu persoalan, baik yang bersifat materi maupun
nonmateri yang tidak pasti hukumnya atau tidak
jelas asal-usulnya lebih baik menghindari atau meninggalkannya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
materi di atas dapat di simpulkan
tasawuf akhlaki adalah hubungan langsung dengan tuhan, sehingga merasa
dan sadar berada di “hadirat” Tuhan. Adapun dalam sistem pembinaan akhlak nya
yaitu: Takholli,Tahalli,dan Tajalli.
Tahkolli adalah
usaha mengosongkan diri dari prilaku atau akhlaktercela.Tahalli adalah upaya mengisi atau menghiasi diri
dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, prilaku, dan akhlak terpuji.
Sedangkan Tajalli adalah penyempurnaan rangkaian pendidikan Akhlak.
DAFTAR PUSTAKA
Solihin
Muhammad, Anwar Rosihin 2011. Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar