Senin, 09 Maret 2015

ajaran tasawuf ahklaqi


A.    AJARAN  TASAWUF AKJHLAQI

Bagian terpenting dari tujuan tasawuf adalah memperoleh huunga langsung dengan tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di “hadirat” tuhan. Keberadaan di “hadirat” tuhan otu dirasakan sebagai kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki. Bagi kaum sufi, pengalaman nabi dalam isro’ mi’raj misalnya, merupakan sebuah contoh puncak  pengalaman rohani. Ia adalah pengalaman rohani tertinggi yang hanya di punyai oleh seorang nabi. Kaum sufi berusaha meniru dan mengulangi pengalaman rohani nabi itu dalam dimensi, skala dan format yang sepadan dengan kemampuannya. “pertemuan” dengan tuhan merupakan puncak kebahagiaan yang di lukiskan dalam sebuah hadis sebagai “sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata.”
Semua sufi berpendapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat menghantarkanseseorang ke hadirat Allah  hanyalah dengan kesucian jiwa. Karena jiwa manusia merupakan refleksi atau pancaran dari pada dzat Allahyang suci, segala sesuatu itu harus sempurna dan suci, sekalipun tingkat kesuciaan dan kesempurnaan itu berfariasi menurut dekat dan jauhnya dari sumber aslinya.
Untuk mencapai tingkat kesempurnaan dan kesucian memerlukan pendidikan dan latihan mental yang panjang. Sejalan dengan tujuan hidup tasawuf, para sufi berkeyakinan bahwa kebahagiaan yang paripurna dan langgeng bersifat spiritual. Kaum sufi berpendapat bahwa kenikmatan hidup duniawi bukanlah tujuan, tetapi sekedar jembatan.
 Oleh karena itu, dalam rangka pendidikan mental, yang pertama dan utama di lakukan adalah menguasai atau menghilangkan penyebab utamanya, yaitu hawa nafsu. Sebab, menurut Al-ghozali tak terkontrolnya hawa nafsu yang ingin mengecap kenikmatan hidup duniawi adalah sumber utama dari kerusakan akhlak.
Oleh karena itu, dalam rangka pendidikan mental-spiritual, metode yang di tempuh para sufi adalah menanamkan rasa benci kepada kehidupan duniawi. Ini berarti melepaskan kesenangan duniawi untuk mencintai tuhan. Esensi cinta kepada tuhan adalah melawan hawa nafsu. Bagi sufi, keunggulan seseorang bukanlah di ukur dari tumpukan harta yang di milikinya, bukan pula di lihat dari pangkat yang di jabatnya, dan bukan pula dari otoritas yang dimilikinya. Nilai seseorang tidak dilihat dari bentuk tubuh yang dimilikinya, tetapi terletak pada akhlak pribadi yang di terapkannya.
Para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Itulah sebabnya, pada tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang di haruskan melakukakan amalan dan latihan kerohaniaan, yang cukup berat. Tujuannya adalah menguasai hawanafsu; menekan hawa nafsu sampai ke titik terendah dan bila mungkin mematikan  hawa nafsu sama sekali. Untuk itu, dalamtasawuf akhlaki,sistem pembinaan akhlak di susun sebagai berikut :
1.      Takhalli
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di jalani seorang sufi.
Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku atau akhlak tercela.  Salah satu akhlak tercela yang paling banyak membawa pengaruh terhadap timbulnya akhlak jelek lainnya adalah ketergantungan pada kelezatan duniawi.hal ini dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalamsegala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu.
Dalam menanamkan rasa benci terhadap kehidupan duniawiserta mematikan hawa nafsu, para sufi berbeda pendapat. Sekelompok sufi yang moderat berpendapat bahwa rasa kebencian terhadap kehidupan duniawi cukuo sekadar tidak melupakantujuan hidupnya dan tidak meninggalkan duniawi sama sekali.
Demikan pula dengan pematian hawa nafsu itu, cukup dengan sekedar “dikuasai” melalui pengaturan disiplin kehidupan. Aliran initidak meminta agar manusia secara total melarikan siri dari problema dunia dan tidak  pula menyuruh menghilangkan hawa nafsu. Golongan ii tetap memanfaatkan dunia sekadar kebutuhannya dengan menekan dan mengontrol dorongan nafsu yang dapat mengganggu stabilitas akal dan perasaan.
Sementara itu, kelompoka sufi yang ekstrim berkeyakinan bahwa kehidupa duniawi benar-benar sebagai “racun pembunuh” kelagsungancita-cita sufi. Persoalan duniawi adalah penghalang perjalanan, karenanya nafsu yang bertendensi duniawi harus “dimatikan” agar manusia bebas berjalan menuju tujuan,y aitu  memperoleh kebahagaiaan spritual yang hakiki. Bagi mereka, cara memperoleh keridoaan tuhan tidak sama dengan cara memperoleh kenikmatan material. Pengingkaran ego dengan cara meresapkan diri pada kemauan tuhan adalah perbuatan utama.
Sikap mental yang tidak sehat sebenarnya diakibatkan oleh keterikatan kepada kehidupan duniawi. Bentuk keterikatan itu, menurut pandangan sufi, bermacam-macam, antara lain yang di pandang sangat berbahaya adalah sikap mental “riya”. Sifat ingin di sanjung dan ingin diagungkan, menurut  Alghozali, sulit untuk menerima kebesaran orang lain, termasuk untuk menerima keagungan Allah. Sebab hasrat ingin disanjung itu sebenarnya tidak lepas dari adanya perasaan paling unggul, rasa superioritas, dan ingin menang sendiri. Kesombongan dianggap sebagai diosa besar kepda Allah. Oleh karena itu, Al-Ghozali menyatakan bahwa kesombongan sama dengan penyembahan diri, satu macam dari  politeisme.
2.      Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli di lakukan kaum sufi setelah jiwa di kosongkan dari akhlak-akhlak jelek. Pada tahap tahalli, kaum sufi berusaha agar setiap gerak prilaku selalu berjalan diatas ketentuan agama, bai kewajiban yang besifat “luar” maupun yang bersifat “dalam”. Aspek luar adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti: salat, puasa, dan haji, sedangkan aspek dalam seperti iman, ketaatan, dan kecintaan kepada tuhan.
Dengan demikian, tahap tahalli merupakan tahap pengisian jiwa yang telah dikosongkan. Sebab,apabila satu kebiasaan telah di lepaskan, tetapi tidak segera ada penggantinya, kekosongan itu dapat menimbulkan frustasi. Oleh karena itu, ketika kebiasaan lama ditinggalkan, harus segera diisidengan satu kebiasaan baru yang baik. Jiwa manusia, seperti kata Al-Ghozalli, dapat diubah, di latih, dikuasai, dan dibentuk sesuai dengan kehendak manusia itu sendiri. Sikap mental dan perbuatan baik yang sangat penting diisikan kedalam jiwa manusia dan dibiasakan dalam perbuatan dalam rangka pembentukan manusia paripurna, diantaranya :
1.      tobat
2.      khauf dan raja’
3.      zuhud
4.      al-faqr
5.      as-shabru
6.       rida,dan
7.      muraqobah.

3.      Tajalli
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui padafaseTahalli, rangkaian pendidikan akhlak, disempurnakan pada fase tajalli. Kata tajalli bermakna terungkapnya nur ghaib.Agar dimilki, sehingga tidak meminta sesuatu yang lain. Sikap mental faqr merupakan benteng  pertahanan yang kuat dalam menghadapi pengaruh kehidupan materi. Sebab, sikap mental ini akan menghindarkan seseorang dari keserakahan.
Dengan demikian,pada prinsipnya,sikap mental faqrmerupakan rentetan sikap zuhud. Hanya saja, zuhud lebih keras menghadapi kehidupanduniawi,sedangkan faqr sekedar pendisiplinan diri dalam mencari dan memanfaatkan fasilitas hidup.
Sikap faqr selanjutnya akan memunculkan sikap wara’. Wara’ menurut sufi adalah sikap behati-hati dalam menghadapi segala sesuatu yang kurang jelas masalahnya. Apabila bertemu dengan satu persoalan, baik yang bersifat materi maupun nonmateri yang tidak pasti hukumnya atau tidak  jelas asal-usulnya lebih baik menghindari atau meninggalkannya.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan materi di atas dapat di simpulkan  tasawuf akhlaki adalah hubungan langsung dengan tuhan, sehingga merasa dan sadar berada di “hadirat” Tuhan. Adapun dalam sistem pembinaan akhlak nya yaitu: Takholli,Tahalli,dan Tajalli.
Tahkolli adalah usaha mengosongkan diri dari prilaku atau akhlaktercela.Tahalli  adalah upaya mengisi atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, prilaku, dan akhlak terpuji. Sedangkan Tajalli adalah penyempurnaan rangkaian pendidikan Akhlak.



















DAFTAR  PUSTAKA
Solihin Muhammad, Anwar Rosihin 2011. Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar