Senin, 09 Maret 2015

tasawuf falsafi


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Di dalam Tasawuf ada beberapa aliran, seperti tasawuf akhlaqi, tasawuf irfani dan tasawuf falsafi. Namun ada pulayang membagi tasawuf  ke dalam tasawuf amali, tasawuf falsafi dan tasawuf  ilmi. Namun di dalam makalah ini hanya akan di bahas secara lebih fokus tentang  tokoh-tokoh sufifalsafidan ajarannya.
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi dan mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafiMenggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafitersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.Tokoh-tokoh sufi falsafi banyak menoreh kontrofersi dengan ajaran-ajaran yang dibawanya. karena masyarakat awam tidak mengerti dan menganggap sesat ajaran tersebut.
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi tasawuf  falsafi?
2. Siapa saja tokoh-tokoh sufi yang termasuk dalam tasawuffalsafi?
3. Apa ajaran yang di kembangkan oleh tokoh-tokoh sufifalsafi?
4. siapa tokoh sufi falsafi di Indonesia?
C. Tujuan Masalah
1. Dapat memahami definisi tasawuf falsafi
2. Dapat mengetahui para tokoh sufi falsafi
3. Dapat memahami ajaran-ajaran yang di kembangkan oleh para sufi falsafi
4. dapat mengetahui tokoh sufi falsafi di Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tasawuf Falsafi
Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannyamemadukan antara visi dan mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi filosofis dalam pengungkapannya. Terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah mempengaruhi para tokohnya.[1]
Karakteristik umum dari tasawuf  falsafi sebagaimana yang dikemukakan oleh taftazani adalah bahwa tasawuf jenis ini tidak dapat dikategorikan sebagai tasawuf dalam artiannya yang sesungguhnya karena teori-teorinya selalu ditemukan dalam bahasa filsafat dan lebih berorientasi pada pantheisme. Juga tidak dapat dikatakan sebagai filsafat dalam artian yang sebenarnya karena teori-teorinya juga didasarkan kepada rasa atau dzauq.  Hal yang sama juga ditegaskan oleh Hamka, bahwa tasawuf jenis ini tidak sepenuhnya dikatakan filsafat.
Para sufi aliran ini yang mengenal dengan baik filsafat-filsafat yunani dan berbagai aliran-alirannya, seperti Socrates, Plato, Aristatoles, aliran Stoa, aliran Neo-platonisme dengan filsafat-filsafatnya tentang emanasi. Bahkan lebih dari itu merekapun cukup akrab dengan filsafat yang disebut Hermenetisme. Yang karya-karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa arab, dan filsafat Timur Kuno, baik dari Persia maupun India, serta filsafat islam seperti filsafat Al-Farabi dan Ibnu Sina. Tokoh-tokoh aliran ini juga dipengaruhi oleh aliran bathiniyah  sekte isma’iliyyah aliran syi’ah dan risalah-risalah khwan As-Shafa.
Di samping itu, tasawuf falsafi secara umum mengandung kesamaran-kesamaran dikarenakan banyaknya istilah khusus yang hanya dapat dipahami oleh mereka yang memahami aliran tasawuf ini.
Ini tentunya berbeda dengan tasawuf sunny yang lebih cenderung mendasarkan ajaran-ajarannya kepadaa Al-Qur’an dan As-Sunnah, tidak menggunakan ungkapan –ungkapan ganjil (syathahat), lebih mengajarkan berbedanya hakikat khaliq dengan makhluq, menekankan kesinambungan syari’at dan hakikat dan lebih berkonsentrasi pada pembentukan akhlak lewat metode takhalli, tahalli, dan tajalli.
Jika dalam taswuf sunni mengenal ma’rifah sebagai maqam tertinggi yang dapat dicapai oleh manusia, dimana manusia dapat mengenal Allah dengan hati, dalam tasawuf falsafi dikatakan bahwa manusia dapat melewati maqam tersebut, manusia dapat naik ke jenjang yang lebih tinggi, yakni persatuan dengan tuhan yang dikenal dengan ittihad, hulul,wahdatul wujud maupun isyraq.[2]
B. Tokoh-tokoh tasawuf falsafi
Di antara tokoh-tokoh tasawuf falsafi adalah Ibn Arabi, Al-Jilli, dan Ibn Sab’in
1. Ibn Arabi
a.  Biografi singkat Ibn Arabi
Nama lengkap Ibnu Arabi adalah Muhammad bin Ali bin Ahmad bin Abdulloh Ath-Tha’i Al-Haitami. Ia lahir di murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol, tahun 560 H dan berasal  dari keluarga berpangkat, hartawan dan ilmuwan. Namanya biasa disebut tanpa “Al” untuk membedakan dengan Abu Bakar Ibn Al-Arabi, seorang qadhi dari Seville (spanyol). Ia mempelajari Al-Qur’an, Al-Hadist dan fiqih pada sejumlah murid faqih andalusia terkenal, yakni Ibn Hamz Al-Zhahiri.
            Setelah berusia 30 tahun, ia mulai berkelana ke berbagai kawasan Andalusia dan kawasan Islam bagian barat. Di antara deretan gurunya, tercatat nama-nama, seperti Abu Madyan Al-Gaust At-Talimsari dan Yasmin Musyaniyah (seorang wali dari kalangan wanita). Keduanya banyak memengaruhi ajaran-ajaran Ibn Arabi. Dikabarkan ia pun pernah berjumpa dengan Ibn Rusyd, filosof muslim dan tabib istana dinasti Barbar dari Alomohad di Kordova.
            Di antara karya monumentalnya adalah Al-Futuhat Al-Makiyyahyang ditulis pada tahun 1201 tatkala ia sedang menunaikan ibadah haji. karya-karya lainnya, sebagaimana dilaporkan oleh Maolavi, adalah Masayhid Al-Asrar, Mathali’ Al-Anwar Al-Ilahiyyah, Hilyat Al-Abdal, Kimiya As-Sa’adat, Muhadharat Al-Albar, Kitab Al-Akhlak, Majmu’ Ar-Rasail Al-Ilahiyyah, Mawaqi An-Nujum, Dan Al-Isra’ila Maqam Al-Atsna.[3]
b. Ajaran tasawuf Ibn Arabi
            Di antara ajaran terpenting dari Ibn Arabi adalah wahdatal-wujud, yaitu paham bahwa manusia dan Tuhan pada hakikatnya adalah satu kesatuan wujud. Kata wahdah selanjutnya digunakan untuk arti yang bermacam-macam. Menurut paham ini bahwa setiap sesuatu yang ada memiliki dua aspek, yaitu aspek luar dan aspek dalam. Aspek luar disebut makhluk (al-khalk). Aspek dalam disebut Tuhan (al-haqq). Menurut paham ini, aspek yang sebenarnya ada hanyalah aspek dalam (tuhan) sedangkan aspek luar hanyalah bayangan dari aspek dalam tersebut. Allah adalah hakikat alam sedangkan alam ini hanyalah bayangan dari wujud Tuhan. Karena itu menurut faham ini tidak ada perbedaan antara makhluk dengan Tuhan. Perbedaan hanya pada rupa dan ragam, sedangkan hakikatnya sama. Faham wahdat al-wujud Ibn Arabi, misalnya dapat dilihat dari perkataanya berikut:
سُبْحَانَ مَنْ اَظْهَرَ الْأَشِيَاءَ وَهُو عَيْنُهَا.
“mahasuci Tuhan yang  telah menzahirkan segala sesuatu dan dia adalah hakikat (ain) dari segala sesuatu itu.”
            Ungkapan Ibn Arabi ini, di samping menunjukkan bahwa segal sesuatu bukan tercipta dari sesuatu yang tidak ada, juga berarti bahwa semua yang ada ini adalah wujudnya adalah satu dan pada hakikatnya tidak ada perbedaan antara khaliq dan makhluq jika terlihat perbedaan antara khaliq dan makhluq maka itu karena dilihat dengan pandangan pancaindera lahir dan karena keterbatasan akal dalam menangkap hakikat yang ada pada Dzatnya dari kesatuan dzatiyah yang semua yang ada terhimpun pada-Nya.
            Dengan demikian, menurut Ibn Arabi wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah. Allah adalah hakikat alam. Karena itulah, Ahmad Amin menyimpulkan bahwa faham Ibn Arabi sebagai berikut “dan tidaklah alam yang beraneka ragam ini, melainkan manifestasi wujud Allah Ta’ala”. Menurut muhammad yusuf musa bahwa kesimpulan ajaran aliran ini adalah sesungguhnya tidak ada wujud selain wujud yang satu (Tuhan). Karena itu Tuhan berwujud dalam berbagai bentuk, tetapi hal ini tidak mengharuskan berbilangnya wujud yang sebenarnya.
            Pandangan-pandangan Ibnu Arabi terutama wahdat al-wujud  telah menimbulkan kontraversi. Berbagai analisis dikemukakan oleh para ulama-ulama Islam tentang konsep wahdat al-wujud  Ibn Arabi ini. Ibn Taimiyah misalnya berpandangan bahwa wahdat al-wujud adalah penyamaan (tasyabuh) antara Tuhan dan alam. Sedangkan Allah seperti yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an berbeda dengan segala sesuatu.[4]
            Menurut Hamka,Ibn Arabi dapat disebut sebagai orang telah sampai pada puncak wahdat al-wujuddia telah menegakkan pahamnya dengan berdasarkan renungan pikir, falsafat, dan dzauqtasawuf. Ia menyajikan ajaran tasawufnya dengan bahasa yang berbelit-belit dengan tujuan untuk menghindari tuduhan, fitnah dan ancaman kaum awam sebagaiman dialami al-hallaj.[5]
2. Al-Jilli        
a. Biografi singkat Al-Jilli
            Nama lengkapnya adalah Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jilli. Ia lahir pada tahun 1365 M di Jilan (Gilan), sebuah Provinsi di sebelah Selatan Kasfia dan wafat pada tahun 1417 M. Nama Al-Jilli di ambil dari tempat kelahirannya di Gilan. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari Baghdad. Riwayat hidupnya tidak diketahui oleh para ahli sejarah, tetapi sebuah sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke India pada tahun 1387 M. Kemudian belajar tasawuf di bawah bimbingan Abdul Qadir Al-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadiriyah yang sangat terkenal. Di samping itu, ia berguru pada Syekh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim Al-Jabarti di Zabid (Yaman) pada tahun 1393-1404 M.
b. Ajaran tasawuf Al-Jilli
            Ajaran tasawuf Al-Jilli yang terpenting adalah paham insan kamil (manusia sempurna). Menurut Al-Jilli, insan kamil adalah nuskhah  ataucoppyTuhan. Seperti disebutkan.
خَلَقَ اللهُ ادَمَ عَلَى صُوْرَةِ الرَّحْمَنِ.
Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang maha rahman.
Sebagaimana diketahui Tuhan memiliki sifat-sifat seperti hidup, pandai, mampu berkehendak, dan mendengar. Manusia (Adam) pun memiliki sifat-sifat seperti itu. Proses yang terjadi setelah ini adalah setelah Tuhan menciptakan substansi, huwiyah tuhan dihadapkan pada huwiyah Adam, aniyah-nya disandingkan dengan aniyah Adam, dan zat-Nya dihadapkan pada zat Adam, dan akhirnya Adam berhadapan dengan Tuhan dalam segala hakikat-Nya. Melalui konsep ini, kita memahami bahwa Adam, dilihat dari sisi penciptaannya, merupakan salah seorang insan kamil dengan segala kesempurnaannya sebab pada dirinya terdapat sifat dan nama Ilahiyah.
            Al-Jilli berpendapat bahwa nama-nama dan sifat-sifat ilahiyah itu pada dasarnya merupakan milik insan kamil sebagai suatu kemestian yang inheren dengan esensinya sebab, sifat-sifat dan nama-nama tersebut  tidak memiliki tempat berwujud, melainkan insan kamil.
Lebih lanjut Al-Jilli mengemukakan bahwa perumpamaan hubungan Tuhan dengan insan kamil  adalah bagaikan cermin yang seseorang tidak akan dapat melihat bentuk dirinya, kecuali dengan menggunakan cermin itu. Demikian pula halnya dengan insan kamil ia tidak dapat melihat dirinya, kecuali dengan cermin nama Tuhan, sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat dirinya, kecuali dengan cermin insan kamil.
            Sebagai seorang sufi, Al-Jilli dengan membawa filsafat insan kamil merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut istilahnya disebut al-martabah atau jenjang atau tingkat.
Tingkat-tingkat itu adalah:
1. Islam
2. Iman
3. Shalah
4. Ihsan
5. Syahadah
6. Shiddiqiyyah
7. Qurbah
            Inilah maqam-maqam yang dirumuskan oleh Al-Jilli dalam upaya mendekati Tuhan. Namun, satu hal yang kita ketahui bahwa Al-Jilli mengatakan, “mengetahui zat yang maha tinggi itu secara kasyaf ilahi kamu di hadapanku dan Dia di hadapanmutanpa hulul  dan ittihad. Sebab, hamba adalah hamba. Tuhan adalah Tuhan. Oleh karena itu, tidaklah mungkin hamba menjadi Tuhan atau sebaliknya. Dengan pernyataan ini, dapat kita pahami bahwa sungguh pun mnusia mampu berhias dengan nama Tuhan dan sifat Tuhan, ia tetap tidak bisa menyamai sifat dan nama-nama Tuhan.[6]
3.  Ibn Sab’in
a.  Biografi singkat Ibn Sab’in
Nama lengkap Ibn Sab’in adalah Abdul Haqq bin Ibrahim Muhammad bin Nashr. Ibn Sab’in lahir di Mercial (Spanyol) tahun 613 H/1215 M dan wafat di Mekkah pada tahun 667/1215 M. Semula beliau dikenal sebagi Ulama Fiqh, tetapi kemudia ia mengalihkan perhatiannya untuk memperdalam ilmu tasawuf, sampai ia berhasil menduduki posisi Imam (Syekh Tasawuf) di masa itu. Ia sering mengeluarkan pemikiran yang terlalu bebas dan di anggap ganjil oleh Ulama Syari’at.[7]
            Ibn Sab’in dikatakan telah menulis sebanyak 41 buku, tetapi kebanyakan darinya tidak diketahui keberadaannya. Di antara kitab-kitabnya yang dapat ditemukan adalah: 1. Budd Al-‘Arif. 2. Al-Kalam ‘Ala Al-Masail Al-Syaqliyah. 3. Risalah Al-Nashihah. 4. Abd Ibn Sab’in. 5.Al-Risalah Al-Faqiriyah. 6.Rasa’il Ibn Sab’in. 7. Jawab Shohih Shiqiliyyah.
b. Ajaran Tasawuf Ibn Sab’in
            Ibn Sab’in adalah seorang penggagas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis, yang dikenal dengan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensial pahamnya sederhana saja, yaitu wujud adalah satu aliaswujud Allah semata, sedangkan wujud lainnya hanyalah wujud yang satuitu sendiri. Jelasnya wujud-wujud yang lain itu hakikatnya tidak lebih dari wujud yang satu semata. Dengan demikian, wujud dalam kenyataannya, hanya satu persoalan yang tetap.
            Paham ini lebih dikenal dengan sebutan paham kesatuan mutlak. Hal ini karena ia berbeda dari paham-paham tasawuf yang memberi ruang lingkup pada pendapat-pendapat tentang hal yang mungkin di dalam suatu bentuk. Dalam paham ini Ibn Sab’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. Sebab wujud Allah, menurutnya, adalah asal yang ada pada masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Sementara wujud materi yang tampak justru dia rujukkan pada wujud mutlak yang rohaniyah. Dengan demikian, berarti paham ini dalam menafsirkan wujud bercorak spiritual, dan bukan materiil.
            Pendapat Ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak tersebut merupakan dasar dari paham khususnya tentang para pencapai kesatuan mutlak ataupun pengakraban Allah. Paham ini mirip dengan paham hakikat Muhammad ataupu Quthb dari sebagian para sufi yang juga filosofis, seperti Ibn Arabi, atau paham manusia sempurna dari Abdul Karim Al-Jilli. Pencapaian kesatuan mutlak, menurut Ibn Sab’in, adalah individu yang paling sempurna yang dimiliki seorang faqih, teolog, filosof, maupun sufi.  Inilah pribadi yang melebihi mereka semua dengan pengetahuannya yang khusus, yaitu ilmu pencapaian yang menjadi pintu gerbang kenabian. Sesosok pribadi yang dari segi hakikat alamiyahnya  justru bersatu dengan nabi, yang mengendalikan semesta , dan segala sesuatu pun didasarkan padanya. Mengenai hal ini, seorang murid Ibn Sab’in, yang mensyarahkan Risalah Al-Ahdberkata, “sampai kepada Allah itu mustahil terjadi, kecuali dengan nabi, nabi tidak mengenal Allah kecuali dengan warist,  sementara warist adalah pencapaian kesatuan mutlak. Orang-orang yang berakal budi justru mencari si pencapai kesatuan mutlak serta benar-benar membutuhkannya. Inilah makna ucapannya (maksudnya Ibn Sab’in) ke semua itu dari sahabat-sahabat kita, dan ucapannya, “waktu maupun jihad adalah bercorak sab’iniyyah tanpa lain. Karena dia melihat cakupannya, dan alam membutuhkannya dengan sangat.”
            Paham Ibnu Sab’in tentang kesatuan mutlak telah membuatnya menolak logika aristotelian. Oleh karena itu, dalam Budd Al-Arif,  ia berusaha yang menyusun suatu logika baru yang bercorak iluminatif, sebagai pengganti logika yang berdasarkan pada konsepsi konsepsi jamak. Ibnu Sab’in berpendapat bahwa logika barunya tersebut, yang ia sebut dengan logika pencapaian kesatuan mutlak, tidak termasuk kategori logika yang bisa dicapai dengan penalaran, akan tetapi, termasuk embusan ilahi, yang membuat manusia bisa melihat yang belum pernah dilihatnya maupun mendengar yang belum pernah didengarnya. Dengan demikian, logika tersebut tercorak intuitif.
            Ibn Sab’in juga mengembangkan pahamnya tentang kesatuan mutlak ke berbagai bidang bhasan filosofis. Misalnya, menurutnya, jiwa dan akal budi tidak mempunyai wujud sendiri, tetapi wujud  keduanya berasal dari yang satu, dan yang satu tersebut justru tidak terbilang. Jelasnya, keduanya tidak keluar dari masalah wujud yang satu. Dan moral pun menurutnya, ditandai corak kesatuan mutlak. Bahkan kebajikan, kelezatan, dan kebahagiaan terletak terletak pada realisais dari kesatuan ini. Dari segi hakikat wujudnya, tidak ada perbedaan kebajikan dengan kejahatan sebab wujud itu masalah yang satu. Jadi, dari manakah timbul kejahatan dari wujud?, di samping itu, Ibn Sab’in berpendapat bahwa para pencapai kesatuan mutlak adalah kebahagiaan itu sendiri, kebajikan itu sendiri, kedermawanan itu sendiri. Yang menarik perhatian dari pendapat Ibn Sab’in adalah bahwa latihan-latihan rohaniyah praktis, yang bisa mengantar pada moral luhur, tunduk di bawah konsepsiya tentang wujud. Misalnya saja tentang zikir seorang mencapai kesatuan mutlak adalah ungkapan, “tidak ada yang wujud selain Allah” sebagai ganti dari “tidak ada Tuhan selain Allah”. Si penzikir dalam zikir ini sendiri adalah yang zikir. Sementara tingkatan dan keadaan, yang merupakan buah dari zikir, juga tidak keluar dari lingkup kesatuan mutlak tersebut. Begitupun dengan hidup menyendiri maupun isolasi, puasa dan do’a, bahkan juga mendengar, semua itu mengantar seorang penempuh jalan ataupun musafir musi ke suatu keadaan sirna, dan tambahan lagi merealisasikan  mutlak baginya.[8]
C. Tokoh Sufi Falsafi Di Indonesia
1. Aliran Tasawuf Falsafi (Hamzah Al-Fansuri)
            Dikatakan bahwa ajaran Siti Jenar tentang kesatuankhaliq dengan makhluq merupakan tahap pertama tasawuf falsafi di Indonesia. Ajarannya kemudian meredup karena ditentang oleh wali-wali yang lain. Keadaan  redup tasawuf falsafi di Indonesia terus berlangsung sampai munculnya Hamzah Fansuri.
            “Hamzah Fansuri adalah orang pertama yang memunculkan tasawuf falsafi di indonesia, yang bersih dan murni dari penyimpangan, bahkan seakan sempurna dalam rujutkannya terhadap sumber-sumber Arab yang islami. Sementara tasawuf falsafi sendiri pada masa sebelum itu hanya terbatas pada aktifitas individual yang belum terorganisir, yang diambil dari ajaran-ajaran kebatilan tasawuf Syiah Imamiah. Masa fansuri dipandang sebagai tahap kedua dalam sejarah tasawuf falsfi di Indonesia, yaitu tahap perkembangan”.
Riwayat hidup Hamzah Fansuri, di mulai tahun dan tempat kelahiran, demikian pula tahun dan tempat meninggal, di mana di makamkan, apa saja karya-karya yang telah ia tulis, masih di persoalkan oleh  para peneliti dan sangat sulit ditemukan. Hanya saja berdasarkan beberapa fakta yang terbatas para pengkaji menyimpulkan bahwa hamzah Fansuri hidup antara pertengahan abad ke 16 hingga awal abad ke 17
Berkenaan dengan tempat kelahiran Hamzah Fansuri berikut keterangan beberapa peneliti seperti yang di kutip oleh Abdul Hadi W. M:
“karena nama Barus atu nama Fansuri amat sering muncul di dlam syir-syair Hamzah Fansuri maka tidak mengherankan apabila Barus dipercayai merupakan tempat kelahirannya tetapi persoalan muncul sesudah Syed M. Naquib al-Attas mengemukakan pendapatnya bahwa keluarga Syaikh Hamzah Fansuri mungkin berasal dari Barus, namun Hamzah Fansuri lahir di Syahr Nawi. Ali Hasymi sekalipntidak megemukakan alasan yang memadai seperti Syed M. Naquib al-Attas, memberian pendapat baru.
Menurutya, nenek moyang Hamzah Fansuri berasal dari Barus tetapi dia sendiri dilahirkan di Singkel. Sedangkan Syahr Nawi yang disebut-sebut didalam syairnya merupakan nama kota baru dan letaknya tidak jauh dari ibu kota kerajaan Aceh. Kota trsebut diberi nama Syahr Nawi sebagai peringata terhadap urusan raja Siam yang berkunjung ke Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Nama Syahr Nawi di ambil dari nama ibu negeri Siam pada masa itu, yaiyu sebutan orang-orang Parsi untuk bandar Ayutthaya di Siam. Hikayat Aceh juga membicarakan kunjungan raja Syahr Nawi dari Siam tersebut.
Nama hamzah Fansuri tidak dimuat dalam hikayat aceh dan Bustha al-salathin, dua buah kitab yag dipercayai paling lengkap memuat rekaman sejarah Kesultanan Aceh pada abad ke-16 dan ke-17. Kraemer (1921) mengatakan bahwa nama Hamzah Fansuri tidak disebut dalam Hikayat Aceh karena tokoh ini sering mengembara dan jarang sekali ada di Aceh.
Ada tiga tasawuf Hamzah Fansuri yang telah ditemukan dan diterjemahkan:
1.      Syarab al-Asyiqin (minuman orang birahi)
2.      Asrar al-Arifin (Rahasia ahlimakrifat)
3.      Al-muntahi
Kandungan syarab al-asyiqin adalah ringkasan ajaran wahdah al-wujud Ibn Arabi , Sadr al-din al-Qunawi dan Abd Karim al-jilli. Kitab ini terdiri dari tujuh bab dan uraiannya tentang tasawuf sangat ringkas. Bab 1,2,3 dan 4 menguraikan tahap-tahap ilmu suluk yang terdiri dari syariat, hakekat dan makrifat. Bab 5 menguraiakan tajalli zat Tuhan Yang Maha Tinggi. Di sini diuraikan asas-asas ontologi wujudiyah. Bab 6 menguraikan sifat-sifat Allah swt. Bab 7 menguraikan isyq dan sukr (kemabukan Mistik).
Di dalam asrar al-Arifin. “Hamzah Fansuri menurunkan lima belas syair karangannya dan ditafsirkannya sendiri serta ditelaah baris demi baris. Telaah-telaah tersebut ternyata merupakan uraian panjang mengenai doktrin metafisika atau ontologi wujudiyah. Delapan bait pertama syairnya mengemukakan sifat-sifat Tuhan yang kekal. Salam sifat-sifat Nya itu terkandung potensi (isti’dat) dari tindakan-tindakan Nya yang dengan tidak berkesudahan memperlihatkan diri di dalam segala ciptaan Nya.
Al-Munthi secara ringkas membicarakan tiga masalah penting:
“(1) Tentang kejadian atau penciptaan alam semesta sebagai panggung manifestasi Tuhan dan kemahakuasaan Nya. (2) Tentang bagaimana Tuhan memanifestasikan Diri Nya dan bagaimana alam semesta di pandang dari sudut pemikiran ahli-ahli makrifat, serta sebab pertama (causa prima) segala kejadian. (3) Tentang bagimana seseorang itu dapat kembali lagi keasalnya, yaitu kepada keadaan kanz makhfi (perbendaharaan tersenbunyi), yakni ketika Tuhan – menurut sebuah Hadis qudsi-berfirman “kuntu kanzan makhfiyan wa ahbabtu an u’rafa ...(Aku perbendaharaan tersembunyi, aku cinta untuk dikenal maka aku mencipta ...)
Semua buku-buku ini berbicarara tentang tauhid, makrifat, dan suluk, sama dengan faham Ibn Arabi.
Sebagai gambaran umum tentang tasawuf Hamzah Fansuri mungkin perlu di kemukakan pandangan Naquib al-Attas yang mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran Hamzah Fansuri tentang Tasawuf banyak di pengaruhi oleh Ibn Arabi seperti yang telah dijelaskan diatas menganut paham wahdat alwujud di mana ditegaskan bahwa antara Tuhan dan alam hakikat nya adalah satu yaitu Tuhanku sendiri. Tuhan hakikat alam, alam sebagai pancaran darinya.


BAB III
PENUTUP
A . Kesimpulan
1.      Tasawuf falsafi adalah tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi mistis dan visi rasional pengasasnya. Berbeda dengan tasawuf akhlaqi, tasawuf falsafi menggunakan terminologi falsafi tersebut berasal dari bermacam-macam ajaran filsafat yang telah memengaruhi para tokohnya
2.      Di antara tokoh-tokoh sufi falsafi adalah sebagai berikut
a.       Ibn Arabi yang membawa ajaran wahdat al-wujud
b.      Al-Jilli yang membawa ajaran insan kamil
c.       Ibn Sab’in yang membawa ajaran kesatuan mutlak
3.      Tokoh sufi falsafidi Indonesia adalah Hamzah Al-Fansuri mempunyai tiga risalah
a.      Syarab al-asyiqin
b.      Asrar al-arifin
c.       Al-muntahi

           









Daftar Pustaka
Al-Wafa,  Abu.1985.  Sufi Dari Zaman Ke Zaman. Terj. Ahmad Rafi’i Ustmani. Bandung: Pustaka.
Anwar, Rosihon. 2009.Akhlak Tasawuf.  Bandung: Pustaka Setia.
Jamil, M. 2013. AKHLAK TASAWUF.Ciputat: Referensi.
Musthofa, A. 1997. AkhlakTasawuf.  Bandung:Pustaka Setia.
Nata, Abuddin. 2013. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta: Rajawali Pers.




















[1] Abu Al-Wafa Al-Ghanimi At Taftazani. Sufi Dari Zaman Ke Zaman. Terj. Ahmad Rafi’i Ustmani. (Bandung: Pustaka. 1985) Hlm. 187

[2]Jamil, M. AKHLAK TASAWUF.(Ciputat: Referensi. 2013). Hlm. 71
[3] Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia. 2009). Hlm. 169
[4]Jamil, M. AKHLAK TASAWUF.(Ciputat: Referensi. 2013). Hlm.134
[5] Nata, Abuddin. Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia (Jakarta: Rajawali Pers 2013). Hlm.220
[6]Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia. 2009). Hlm.178
[7] Musthofa, A. AkhlakTasawuf. (Bandung:Pustaka Setia. 1997). Hlm.235
[8]Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf. (Bandung: Pustaka Setia. 2009). Hlm.190

Tidak ada komentar:

Posting Komentar