Rabu, 13 Mei 2015

cerpen berhijab

JILBAB BESAR
"Kakak, kenapa kakak pakai jilbab besar?"
Soalan ini sudah banyak kali dilontarkan oleh remaja. Adik bungsuku yang sedang mekar meniti usia remaja, turut bertanya. Melihat wajahnya yang saling tidak tumpah dg wajahku, aku merasa bagaikan sedang melihat diriku sendiri. Aku pernah terpesona melihat akhwati berhijab besar. Ku fahami, remaja bertanya karena mereka sedang mencari identitas diri. Kali pertama aku memilihnya sebagai image ketika memasuki usia remaja. Saat itu, aku berjilbab besar karena keindahannya menghiasi wanita2 berakhlak mulia yg kukenal. Ibuku, sepupu2ku, kakakku, bibi2 kecilku, semuanya berhijab besar. Hingga aku mensinonimkan jilbab besar itu dg keindahan, kepribadian & kebaikan. Walaupun aku turut mengenali teman2 berjilbab besar yg akhlaqnya bermasalah namun aku masih menemui keindahan jiwa dan hatinya, ingin menjadi lebih baik. Hari ini aku memilih jilbab besar karena aku yakin lebih istimewa pd pandanganNya. Ketika beranjak remaja, aku hampir tak sadar banyak pertanyaan yg trpendam. Mungkin saat itu aku tak tau ap yg prlu aku tau. Hingga prsoalanku trjawab 1 dmi 1.
"YANG TERTUTUP ITU INDAH"
Ketika ku bertanya tentang jilbab besar, mudah jawaban yg prnah ku trima,"yg trtutup itu indah" jawaban yg membawaku mengkaji SURAT AL-AHZAB (59), yg tafsirannya,
"Wahai Nabi, katakan kpd istri2mu,anak2 perempuanmu,& istri2 org mukmin. Hendaklah mereka melabuhkan jilbab kesluruh tubuh mreka. Yg demikian it spaya mreka mudah dikenali sebagai wanita baik agar mereka tdk diganggu."
Sedangkan buku yg kita sayangi, kita sampulkan seindahnya. Inikah pula bntuk tubuh wanita, takkan tiada sampulnya?
Ku prhatikan kulit bukuku yg brsampul lebih trjaga dibanding kulit bukuku yg tak brsampul.
Ku prhatikan langsir yg cantik mnghias pintu dan jndela.
Ku prhatikan kain yg mengalaz meja dan perabot. Benar yg trtutup itu indah.
Begitu pula cara Allah menghargai keindahan wanita dg menggariskan prbatasan aurat. Agar keindahan itu hanya truntuk insan yg brhak.


by. ukhty wasilah

artikel berhijab

Bismillah...
Wahai Ukhty SaudariQ
Janganlah kamu katakan : Sesungguhnya saya percaya kepada diriku sendiri. Ketahuilah betapa luhur dan mulia akhlakmu serta budi pekertimu yg santun, km tidaklah bisa menyamai Fathimah Al-Zahra yg tetap diperintahkan oleh Nabi tuk berhizab.
Jangan kamu katakan : Hatiku bersih & niatku tetap terjaga. Skiranya hati itu tlah baik maka dg sendirinya seluruh anggota akan ikut baik pula.
Jangan km katakan : Saya akan mengenakannya ktika menikah. Sedang Allah menyuruhmu untuk mengenakannya skarang.
Sesungguhnya hizab itu tidaklah disyariatkan kpadamu agar km mrasa gerah & sempit. Justru ia datang membawa kemuliaan & kehormatan. Ketika kamu memakai hizab syar'i, maka dg sendirinya ia menjadi pelindung bagi diri & zasad kalian sekaligus temeng bagi masyarakat dari timbulnya kerusakan & tersebarnya berbagai jenis keburukan.
Jangan pernah menyangka bahwa HIZAB itu akan membatasi ruang & gerak kalian dalam kehidupan ini. Sebab Allah telah menjadikan kemudahan dalam setiap ketaatan kepadanya.

Firman Allah : "Dan Dia tidak sekali-kali menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan." (QS.AL-HAJJ 78).


by. ukhty wasilah

duduk yang terlarang

Bismillah
Repost
(*) Duduk yg terlarang
Syirid bin Suwaid radhiyalkahu'anhu brkt "Rosulullah SAW pernah mlintas dhadpanQ sdang aQ dduk sperti ini,yaitu brsandar pd tngan kriQ yg Q ltakan dblakang. Lalu Rosululullah brsabda "adakah engkau dduk sbgaimna dduknya orang2 yg dmurkai?"
(HR.Abu Daud No.4848. Syaikh Albani mengatkan bhwa hdits ini shohih)

‪#‎warning‬

obat demam berdasarkan al-Qur'an

Obat Demam
demam itu sering terjadi,pengobatan ini bisa dicoba teman
al-Mawarzi berkata,ketika ahmad mendengar kabar bhwa aq deman,ia pun menuliskan QS. Al-Anbiya : 70 sebagai pengobat untuku
sumber : pengnbatan ala Al-Qur'an

prilaku menyimpang



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Perilaku Menyimpang
Mendefinisikan prilaku menyimpang adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Problem nya adalah menyimpang terhadap apa? Penyimpangan terhadap peraturan orang tua, seperti pulang terlalu malam atau merokok bisa dikatakan penyimpangan juga dan karena itu dinamakan kenalakan. Penyimpangan terhadap tatarama masyarakat, seperti duduk mengangkat duduk kaki dihadapan yang lebih tinggi derajatnya bisa juga digolongkan penyimpangan yang dalam hal dianamakan kekurangajaran. Dan tentu saja tingkah laku yang melanggar hukum seperti membawa ganja ke sekolah atau mencuri uang orang tua adalah penyimpangan juga
Apakah perlilaku menyimpang itu ? Secara umum, siswa-siswa yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang pada pokoknya, menganggu atau merugikan orang lain maupun dirinya sendiri sering dideskripsikan sebagai manifestasi  dari penyimpangan perilaku. Istilah penyimpangan perilaku sering di gunakan secara bergantian merujuk pada istilah gangguan emosional (emotional disturbance) dan ketidakmampuan penyesuaian diri (maladjusment) dengan berbagai bentuk variasiya. Hal ini dapat dicermati melalui gejala perilaku atau partisipasi siswa di kelas, situasi bermain, kemampuan berkomunikasi, dan interaksi sosial; agresi sosial, ancaman, perilaku destruktif, tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma; kelambatan dalam prestasidan keterampilan akademik; perasaan takut, rasa bersalah dan ekspresi verbal lainnya. Anak dan remaja yang mangalami penyimpangan perilaku  mungkin akan menunjukan sebagian saja dari gejala penyimpangan perilaku-perilaku itu atau bersifat lebih kompleks.
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pelaku yang melakukan penyimpangan itu disebut devian (deviant). Adapun perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat disebut konformitas.
Ada beberapa definisi perilaku menyimpang menurut sosiologi, antara lain sebagai berikut:
1. James Vender Zender. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
2. Bruce J Cohen. Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
3. Robert M.Z. Lawang . Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
Berdasarkan orientasi kebutuhan pendidikan khusus, maka penyimpangan perilaku didefinisikan sebagai perilaku yang menunjukan karakteristik :
a.       Membutuhkan guru yang mempunyai kemampuan khusus atau berada dengan standar normalitas,
b.      Gangguan fungsional terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Karakterisik perilaku tersebut dimanifestasikan sebagai konflik lingkungan dan atau gangguan perilaku.

1.      Orientasi Pendidikan Khusus
Aspek-aspek penyimapangan perilaku berhubungan dengan kemampuan pendidik d sekolah khusus. Faktor-faktor yang berhubungan dengan orientasi pendidikan khusus mancakup karakteristik pribadi, kemampuan guru dan prevalensi penyimpangan perilaku. Para pendidik kiranya perlu memerhatikan karakteristik perilaku siswa yang mangalami penyimpangan perilaku, termasuk gerakan fisik, kemampuan bicara / bahasa, respons-respons fisiologis (air mata, muka merah) dan efek-efek perilakunya terhadap objek dan orang-orang sekitarnya.
      Pada kondisi tertentu, batas pemisah antara perilaku normal dan tidak normal sering kali tidak jelas. Pada umumnya, guru mempuyai harapan-harapan mengenai situasi khas sekolah, harapan yang berhubungan dengan usia, peran jenis, dan karakteristik lainnya. Penyimpangan perilaku kadang-kadang bersifat unik, lazim terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang relatip mungkin tidak sesuai dengan harapan guru.
2.      Perkembangan Pendidikan Khusus
a.       Pendidikan khusus bagi anak yang berprilaku menyimpang.
Para pemerhati anak dan peraturan tentang kewajiban memperoleh pendidikan pada abad ke-19 sangat mendukung upaya di wujudkannya lembaga pendidikan anak dan remaja yang mengalami kelainan baik fisik, mental, dan sosial.
b.      Aliran psikologi psikodinamik
Sigmund Freud, seorang neurologist (ahli saraf) berkebangsaan erofa semula merasa tidak puas dengan terapi yang telah tersedia untuk fasien-fasiennya, kemudian ia menciptakan psikoanalisis antara 1890 – 1930. Psikoanalisis adalah suatu teori yang kompleks sebagai perkembangan psikologi normal, sumber-sumber perilaku meyimpang, dan bagaimana penyimpangan itu memperoleh perawatan.
Secara singkat, psikologi psikodinamik di uraikan sebagai perkembangan dan interaksi antara proses intrapsikis (mental). Interaksi intrapsikis tersebut di yakini sebagai faktor penentu emosi dan perilaku seseorang, normal atau abnormal. Psikologi psikodinamik telah di gunakan sebagai terapi bagi anak dan remaja dengan dua cara. Pertama, terapi psikoanalisis dan psikodinamik yang lain di gunakan sebagai terapi secara individual atau kelompok pada klinik kesehatan, dan lembaga pendidikan / sekolah. Kedua, prinsip-prinsip psikologi psikodinamik telah di adaptasi terutama untuk keperluan situasi pendidikan yang menghasilkan model-model psiko-edukasional untuk siswa-siswa berprilaku menyimpang.
c.       Psikologi Behaviorisme
Pada permulaan abad ke-20, penelitian mengenai perilaku sangat tergantung pada psikologi prilaku modern. Eksperimen B.F. Skinner (1930-an ) telah mengidentifikasikan pentingnya hubungan antara perilaku dengan stimulus lingkungan berdasarkan perinsip-perinsip operant conditioning. Sejumlah besar hasil penelitian menunjukan bahwa tsimulus yang tepat dapat memprediksi dan memodifikasi perilaku secara tepat.[3]
3.      Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Perilaku
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab penyimpangan perilaku  dapat di klasifikasikan atas dua kategori, yaitu:
a.       Kondisi biologis
Ø  Faktor hereditas, hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa karakteristik anak dapat di pengaruhi oleh faktor genetik yang bersifat bawaan dari orang tua.
Ø  Kerusakan otak (brain disorder), kerusakan otak dapat terjadi sebelum kelahiran, pada saat kelahiran, maupun setelah kelahiran. Kerusakan otak meliputi kerusakan struktural, disfungsi otak.
Ø  Diet atau keadaan nutrisi, hasil penelitian Lahey & Ciminero (1980), menunjukan bahwa kekurangan nutrisi tidak hanya menyebabkan terjadinya retardasi fisik dan mental, tetapi juga menjadi penyebab terjadi perilaku meyimpang. Pauling (1968) menjelaskan bahwa kekurangan vitamin dan makanan bergizi dapat menyebabkan hiperaktivitas.
b.      Kondisi psikologis
Kondisi psikologis dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku. Kondisi-kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat atau faktor yang bersumber dari individu sendiri seperti stres. Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang yang bersumber dari lingkungan keluarga seperti perceraian orang tua, ketidak hadiran orang tua, konflik orang tua, penyimpangan perilaku orang tua.
Stres merujuk pada situasi di mana seseorang mengalami kesenjangan antara kebutuhan dan tuntutan lingkungan, faktor fisiologis, sosial maupun psikologis merupakan stres yang berdampak negatif seperti frustasi, kehilangan sesuatu yang di cintai, di sebut stressor. Stressor dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisiologis (sirkulasi dan tekanan darah), gangguan perhatian, pemecahan masalah, unjuk kerja, takut, marah, dan emosi yang berlebihan.[4]
4.      Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang
1.      Penyalahgunaan Narkoba
Merupakan bentuk penyelewengan terhadap nilai, norma sosial dan agama. Dampak negatif yang ditimbulkan akan menyebabkan berkurangnya produktivitas seseorang selama pemakaian bahan-bahan tersebut bahkan dapat menyebabkan kematian.
Menurut Graham Baliane, ada beberapa penyebab seseorang remaja memakai narkoba, antara lain sebagai berikut: 1) Mencari dan menemukan arti hidup. 2) Mempermudah penyaluran dan perbuatan seksual. 3) Menunjukkan tindakan menentang otoritas orang tua, guru, dan norma-norma sosial. 4) Membuktikan keberanianya dalam melakukan tindakan berbahaya seperti kebut-kebutan dan berkelahi. 5) Melepaskan diri dari kesepian. 6) Sekedar iseng dan didorong rasa ingin tahu. 7) Mengikuti teman-teman untuk menunjukkan rasa solidaritas. 8) Menghilangkan frustasi dan kegelisahan hidup.
9) Mengisi kekosongan, kesepian, dan kebosanan.
2.      Penyimpangan seksual
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan. Penyebab penyimpangan seksual antara lain adalah pengaruh film-film porno, buku dan majalah porno. Contoh penyimpangan seksual antara lain sebagai berikut: 1) Perzinahan yaitu hubungan seksual di luar nikah. 2) Lesbian yaitu hubungan seksual yang dilakukan sesama wanita. 3) Homoseksual adalah hubungan seksual yang dilakukan sesama laki-laki. 4) Pedophilia adalah memuaskan kenginan seksual dengan menggunakan kontak seksual dengan anak-anak.  5) Gerontophilia adalah memuaskan keinginan seksual dengan orang tua seperti kakek dan nenek. 6) Kumpul kebo adalah hidup seperti suami istri tanpa nikah.
3.      Alkoholisme
Alkohol disebut juga racun protoplasmik yang mempunyai efek depresan pada sistem syaraf. Orang yang mengkonsumsinya akan kehilangan kemampuan mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Sehingga seringkali pemabuk melakukan keonaran, perkelahian, hingga pembunuhan.
4.      Kenakalan Remaja
Gejala kenakalan remaja tampak dalam masa pubertas (14 – 18 tahun), karena pada masa ini jiwanya masih dalam keadan labil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Penyebab kenakalan remaja antara lain sebagai berikut.
a. Lingkungan keluargayang tidak harmonis.
b. Situasi yang menjemukan dan membosankan.
c. Lingkungan masyarakat yang tidak menentu bagi prospek kehidupan masa mendatang, seperti lingkungan kumuh dan penuh kejahatan. Contoh perbuatan kenakalan seperti pengrusakan tempat/fasilitas umum, penggunaan obat terlarang, pencurian, perkelahian atau tawuran dan lain sebagainya. Salah satu bentuk tawuran tersebut adalah tawuran pelajar. Tawuran pelajar berbeda dengan perkelahian biasa. Tawuran pelajar dapat digolongkan sebagai patologi (penyakit) karena sifatnya yang kompleks dengan penyebab dan akibat yang berbeda-beda.
5. Gangguan Mental
a.       Peristiwa traumatis
Pada suatu saat dalam kehidupannya manusia tentu pernah mengalami kejadian yang begitu membekas dalam seluruh struktur keperibadiannya. Peristiwa semacam ini dapat saja berlangsung sekejap (peristiwa tarumatis).
b.      Psikopatologi
Salah satu cabang psikologi yang mempelajari gangguan-gangguan psikis, emosional, dan prilaku menyimpang pada umumnya adalah psikopatologi. Pembahasan terhadap perubahan-perubahan prilaku karena gangguan-gangguan tersebut menimbulkan berbagai masalah.
c.       Pola prilaku
Pendekatan ini dianggap mewakili pandangan psikologi. Prilaku yang menyimpang dianggap sebagai suatu pola prilaku yang dipelajari waktu individu menghadapi setres, seperti yang dijelaskan didepan sehubungan dengan reaksi terhadap frustasi. Pendekatan ini juga menyatakan bahwa untuk mengatasi suatu prilaku menyimpang individu harus mengalami proses belajar kembali.
d.      Eklektis
Setiap pendekatan diatas mempunyai kelemahan sendiri-sendiri, tetapi juga selalu ada gunanya dalam suatu tertentu. Oleh karena itu, para ahli cenderung, memandang prilaku abnormal secara eklektis, yaitu memandang konsep-konsep kriteria yang dipakai dalam tiap pendekatan bersifat komplementer.









[1] Sarlito wirawan sarwono,psikologi remaja, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002. Hlm.203.
[2] Syamsul bachri thalib,psikologi pendidikan berbasis analisis empiris aplikatif, Jakarta: Kencana prenada media group, 2010. Hlm.251-251
[3]  Ibid, hlm. 252-258.
[4]  Ibid, hlm. 258-260.

Selasa, 12 Mei 2015

i'jaz Al- Qur'an



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Salah satu objek penting lainnya dalam kajian ulum Al-Qur’an adalah perbincangan mengenai mu’jizat, terutama mu’jizat Al-Qur’an. Karena dengan perantara mu’jizat Allah mengingatkan manusia, bahwa para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan bantuan dari langit. Mu’jizat yang telah di berikan kepada para Nabi mempunyai fungsi sama yaitu untuk memainkan peranannya dan mengatasi kepandaian kaum disamping membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu berada di atas segala-galanya.
Setiap rasul mempunyai mu’jizat sebagai tanda kenabian dan kerasulannya. Tanpa mu’jizat itu niscaya manusia tidak akan beriman pada mereka. Meskipun tingginya akhlak rasul maupun pentingnya pesan yang dibawanya, atau tingginya intelektualitasnya, atau kedudukannya, masih belum cukup untuk menyatakan kerasulannya kepada manusia. Akal manusia belum bisa menerima kedudukannya sebagai rasul tanpa membawa bukti kerasulannya dari Allah yang berupa mu’jizat suatu perkara yang berada diluar kemampuan manusia biasa, yang tergolong luar biasa dari sunnah-sunnah Allah, nature of law, dari hukum-hukum kausalitas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi I’jaz Al-Qur’an?
2. Apa Perbedaan Mu’jizat dan Keramat?
3. Apa Saja Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an?
4. Bagaimana Cara-Cara Ke-I’jazan Al-Qur’an?
5. Bagaimana Kadar Yang Mengi’jazkan Al-Qur’an?

C. Tujuan Masalah
1. Dapat Mengetahui Definisi I’jaz Al-Qur’an
2. Dapat Membedakan antara Mu’jizat dan Keramat
3.Dapat Mengetahui Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an
4. Dapat Mengetahui Cara-Cara Ke-I’jazan Al-Qur’an
5. Dapat Mengetahui Kadar Ke-i’jazan Al-Qur’an


BAB II
PEMBAHASAN
A . Definisi I’jaz
            I’jaz ialah: membuktikan kelemahan.
i’jaz ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasan atau kesanggupan. Apabila i’jaz telah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz. Dikehendaki dengan i’jaz dalam pembahasan ini ialah :
إِظْهاَرُ صِدْقِ النَّبِيّ في دَعْوَى الرِّسَالَةِ بِإِظْهَارِ عَجْزِ العَرَبِ عَنْ مُعَارَضَتِهِ في مُعْجِزَتِهِ الخَالِدَةِ وَهِيَ القُرْأنُ وَعَجْزِ الاَجْيَالِ بَعْدَهُمْ.
“Memperlihatkan kebenaran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang rasul, dengan memperlihatkan kelemahan orang Arab dalam menentangnya terhadap mu’jizatnya yang kekal yaitu Al-Qur’an dan kelemahan orang-orang yang sesudah mereka.”
Dan mu’jizat ialah:
اَمْرٌ خَارِقٌ لِلعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِى سَالِمٌ عَنِ المُعَارَضَةِ
“suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddi dan terlepas dari tantangan”.
Nabi telah meminta orang untuk menandingi Al-Qur’an, mereka tidak mampu menantangnya, padahal mereka mempunyai kecakapan  dalam bidang fashahahdan balaghahhal ini karena Al-Qur’an itu mu’jiz.
            Nabi menentang mereka dengan sepuluh surat saja dari Al-Qur’an
أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَىهُ قُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُوْنِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

“ ataukah mereka berkata, dia (muhammad) telah membuat-buatnya. Katakanlah: datangkanlah sepuluh surat yang sepertinya, yaitu surat-surat yang kamu buat-buat, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. QS. Hud :13
Orang-orang Arab yang pantang ditantang itu tidak sanggup mengalahkannya mereka menyerah kalah. Dengan demikian terbuktilah kemu’jizatan Al-Qur’an. Kei’jazan Al-Qur’an tidak saja terhadap bangsa Arab bahkan terhadap segala bangsa yang lain, terus menerus sepanjang masa.[1]
I’jaz (kemu’jizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari qudrah (potensi, power, kemampuan) Apabila kemu’jizatan muncul, maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud dengan I’jaz dalam pembahasan ini ialah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul, dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mu’jizatnya yang abadi, yaitu Al-Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. Dan mu’jizat (mu’jizat) adalah sesuatu hal luar biasa yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[2]
B. Perbedaan Mu’jizat dan Keramat
            Mu’jizat berfungsi sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka terhadap kaumnya sehingga dengan mudah memberikan hidayah bagi yang sadar dan memecahkan sifat kepala batu orang yang menolaknya dan mengingkarinya. Hal itu ditegaskan dalam QS. Ibrohim 14 : 11 “ rasul-rasul berkata kepada mereka :  kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hambanya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang  mukmin bertawakal.
            Al-Qurtuby memberikan lima syarat untuk kategori mu’jizat. 1. Tidak ada yang mampu kecuali Allah. 2. Kejadian ini diluar kebiasaan yang ada. 3. Pembawa mu’jizat adalah utusan Allah. 4. Bukti kerasulan dengan membawa mu’jizat tersebut. 5. Tidak ada yang dapat menandinginya atau menentangnya.
            Sedangkan keramat pada mulanya ialah yang tersembunyi dan dirahasiakan. Pemunculan keramat seringkali menjadi fitnah, cobaan bagi manusia. Orang-orang yang mempunyai keramat tidak menampakkan suatu keuntungan yang mereka dapatkan dari   boleh ada niscaya akan serupa dengan mu’jizat, maka mu’jizat pun tidak lagi menunjukkan nubuwwah artinya mu’jizat dan keramat tidak bisa sama. Kalaulah keramat bisa dilakukan oleh orang soleh niscaya keluar kebiasaan tersebut tidak mungkin untuk dijadikan kebenaran nubuwwah.      
            Kemudian keramat terjadi berulang-ulang sehingga apabila tidak bisa disebut kebiasaan luar biasa maka tidak bisa pula disebut dengan kejadian biasa. Ulama kalam, tasawuf dan kaum rasionalis sepakat bahwa keramat tidak terjadi secara berulang-ulang, apabila terjadi juga, maka terjadinya secara rahasia. [3]
C. Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an
            Para ulama sangat kesulitan dalam memberitakan keseluruhan mu’jizat yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, mereka membagi-bagi dalm beberapa bidang :
1.      Pemberitaan ghaib Al-Qur’an
2.      Bidang bahasa dan kesustraan
3.      Bidang keilmuwan
4.      Bidang hukum

1.      Mu’jizat Tentang Berita Ghaib
Al-Qur’an mengungkap sekian banyak ragam hal gaib. Al-Qur’an mengungkap kejadian masa lampau yang tidak diketahui oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, dan mengungkap juga peristiwa masa datang atau masa kini yang belum diketahui manusia.
Peristiwa gaib pada masa lampau yang diungkapkan oleh Al-Qur’an, misalnya adalah peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan diselamatkannya badannya, atau peristiwa ashhab al-kahfi(sekelompok pemuda yang berlindung ke gua selama tiga ratus tahun lebih). Peristiwa yang akan datang dapat dibagi dua bagian pokok.
Pertama,  telah terjadi kini setelah sebelumnya Al-Qur’an menguraikan akan terjadinya. Misalnya, kemenangan bangsa Romawi atas Persia pada masa sekitar sembilan ratus tahun sebelum kejadiannya. Kedua, peristiwa masa datang yang belum terjadi, seperti peristiwa seekor binatang yang bercakap menjelang hari kiamat.
              Berikut ini contoh dari informasi kisah-kisahnya yang telah terbukti;
1. Kaum ’Ad dan Tsamud dan Kehancuran Kota Iram
              Al-Quran berbicara tentang kaum Tsamud dan ’Ad kepada mereka di utus Nabi Sholeh dan Nabi Hud. Mereka dihancurkan Allah dengan gempa dan angin ribut yang sangat dingin lagi kencang. Hal ini dilukiskan oleh Surat Al-Haqqoh (69):4-7
2. Berita Tentang Tenggelam dan Selamatnya Badan Fir’aun
              Dalam Al-Quran ditemukan sekitar 30 kali Allah Swt. Mengisahkan Musa dan Fir’aun, suatu kisah yang tidak dikenal masyarakat ketika itu, kecuali melalui kitab Perjanjian Lama, tetapi satu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad melalui Al-Quran, telah mengungkapkan suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitabpun sebelumnya, peristiwa tersebut terjadi pada abad ke 12 SM sekitar 3.200 tahun yang lalu. Hal ini dilukiskan oleh Surat Yunus (10): 90-92
3. Ashhab Al-Kahfi
              Keraguan masyarakat Arab Makkah tentang kenabian Muhammad Saw dan Al-Quran terus berlanjut. Mereka mengutus tiga orang untuk menemui tokoh agama Najran guna meminta tanggapan mereka tentang Muhammad. Maka tokoh yahudi mengusulkan agar kaum musyrikin makkah bertanya kepada Nabi tentang tiga hal. Jika menjawabnya baik, dia seorang Nabi dan jika menduga tahu, dia berbohong. Ketiga hal tersebutadalah :
1.      Kisah kelompok muda yang masuk berlindung dan tertidur sekian lama, berapa jumlah mereka dan siapa atau apa yang bersama mereka?
2.      Kisah Musa ketika di perintahkan untuk belajar
3.      Kisah seorang penjelajah ke timur dan ke barat
4.      adapun yang keempat ini jika dia mengetahuinya berarti bohong. Adalah kapan hari kiamat akan terjadi.
                        Keempat pertanyaan mereka itu terjawab melalui wahyu Al-Quran surat ke 18 (Al-Kahfi)
              Informasi yang disampaikan Al-Quran memang sulit di lacak tapi para ilmuan, sejarawan dengan informasi ini yakin apabila para pemuda yang berlindung itu menghindar dari ketetapan penguasa  yang dikeluarkan pada 112 M itu, dan mereka tidur selama 300 tahun, ini berarti mereka terbangun dari tidur sekitar tahun  412, yakni pada masa pemerintah Theodusius (408-451)  yang membebaskan orang-orang kristen dari penindasan.

      Informasi Ghaib pada masadatang yang terbukti :
1. Kemenangan Romawi atas Persia setelah kekalahannya
              Kemenangan tersebut diceritakan Al-Qur’an surah ar-Rum : 1-5, pada abad kelima dan keenam masehi terdapat dua adikuasa, Romawi dan Persia. Persaingan keduanya guna merebut wilayah dan pengaruh amat keras. Pada tahun 614 M terjadi peperangan antara keduanya dan berakhir dengan kekalahan romawi. Ketika itu kaum musyrik di mekkah mengejek kaum muslim di mekkah yang cendrung mengharapkan kemenangan Romawi yang beragama samawi atas Persia yang menyembah api. Maka turunlah ayat di atas untuk menghibur kaum muslim dengan dua hal:
              Pertama,  Romawi akan menang atas Persia pada tenggang waktu yang diistilahkan pada Al-Qur’an dengan bidh’ siniin pada ayat ke empat. kedua, saat kemenangan itu tiba, kaum muslim akan gembira bukan saja dengan kemenangan Romawi, tapi juga dengan kemenangan yang allah anugerahkan pada mereka.[4]

2.      Mu’jizat Bidang Bahasa
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, bahasa Arab Quraisy yang diturunkan dalam masa ketinggian sastra Arab. Yang disebut oleh deboer segi bahasa yang tepat untuk memimpin bahasa-bahasa di dunia. Bila dikomparasikan dengan bahasa latin atau bahasa persia, akan kita temukan perbedaan istimewa dengan keangunan format pendek ia memiliki ekspresi keilmuwan yang tinggi. Di samping itu menurutnya bahasa ini elegant, ekspresive, sulit ditiru dan selalu mengundang banyak kajian, dimana bahasa ini menjadi bahasa bijak orang syiria dan persia.
            Dr. Sulaiman Al-Qorowie dalam bukunya menjelaskan tentang mu’jizatAl-Qur’an dari segi ushlubnya bahwa Al-Qur’an diakui keluarbiasaannya tidak saja oleh manusia tapi juga oleh bangsa jin. Tidak seorang manusia pun dapat menirunya secara naratif atau deskriptif (nadzam dan bayannya). Kemu’jizatan Al-Qur’an di seluruh jazirah Arab ialah lafad Al-Qur’an dan nadzamnya, maupun kejelasannya. Bidang ini merupakan keutamaan sentralAl-Qur’an yang telah disadari oleh orang-orang Arab sejak dulu hingga sekarang.
            Keutamaan Al-Qur’an dalam segi ini ialah : susunan kalimatnya, karena nadzam Al-Qur’an dalam beberapa segi pengungkapannya, penjelasan pemikirannya, keluar dari susunan peraturan bait, qafiyah, sajak, syair dan sebagainya, atau tat bahasa mereka (Arab), serta menjadi penjelas bagi kaidah khutbah mereka. Ia memiliki ushlub tersendiri. Dan ia memiliki mu’jizat dari ushlub-uslub pengungkapan ahli sastra manapun.
Demikianlah Al-Qur’an keberadaannya menuntut pemahaman yang benar dan tepat, pemahaman makna-maknanya yang berbeda dengan kesastraan, susunan yang halus, mesti tidak mengikuti wazannya. Jadi Al-Qur’an merupakan kalamullah yang tidak dapat dibuat-buat dan tidak dikatakan oleh seorangpun.[5]
kemu’jizatan al- quran dari segi bahasanya bisa kita lihat dari tiga hal yaitu :
1. Nada dan langgamnya
Ayat- ayat Al-Qur’an bukanlah syair atau puisi tetapi kalau kita dengar akan nampak keunikan dalam irama dan ritmenya. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata-kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat- ayatnya . misalnya surat an-nazi’at 1-14
2. Singkat dan padat
Dalam Al-Qur’an banyak kita jumpai ayat- ayat nya singkat tetapi padat artinya , sehingga menyababkan berbagai macam pemahaman dari setiap mereka yang membacanya .
3. Memuaskan para pemikir kebanyakan orang
Bagi orang awam, ayat Al-Qur’an mungkin terasa biasa, tetapi bagi para filosof dengan ayat yang sama akan melahirkan pemahaman yang luar biasa .
3.      Kemu’jizatan Bidang Ilmiah
            Banyak orang terjebak dalam kesalahan ketika mereka bersikeras membuktikan bahwa Al-Qur’an mengandung segala teori Ilmiah. Setiap muncul teori baru mereka mencarikan kemungkinan legitimasinya dalam ayat, lalu ayat ini mereka ta’wilkan sesuai dengan teori ilmiah tersebut.
            Sumber kesalahan tersebut ialah bahwa teori-teori ilmu pengetahuan itu selalu baru, sejalan dengan tabi’at kemajuan zaman. Posisi ilmu pengetahuan selalu berada dalam kekurangsempurnaan. Itulah yang akan terjadi selamanya, terkadang diliputi kekaburan dan disaat lain kesalahan. Demikian seterusnya sampai ia mendekati kebenaran dan mencapai tingkat keyakinan. Semua teori ilmu pengetahuan bertolak dari hipotesis-hipotesis atau asumsi-asumsi, tunduk pada eksperimen sampai membuktikan adanya hasil yang meyakinkan atau sebaliknya, yaitu kepalsuan dan kesalahannya. Oleh karena itu ilmu pengetahuan selalu terancam perubahan. Cukup banyak kaidah-kaidah ilmiah yang disangka orang sebagai hal yangditerima sebagai kebenaran menjadi goncang setelah mapan dan runtuh setelah mantap. Kemudian para peneliti memulai kembali percobaan ulang mereka.
            Isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur’an
Berbicara tentang isyarat ilmiyah dalam Al-Qur’an, perlu digaris bawahi bahwa Al-Qur’an bukanlah suatu kitab ilmiyah sebagaimana halnya kitab kitab ilmiyah yang dikenal selama ini.salah satu hal yang membuktikan kebenaran pernyataan diatas adalah sikap Al-Qur’an terhadap pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat Nabi tentang keadaan bulan :
يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الاَهِلَّةِ
“mereka bertanya kepadamu tentang bulan (QS Al-Baqarah : 189)
Menurut ayat itu, mereka bertanya mengapa bulan sabit terlihat dari malam ke malam membesar hingga purnama, kemudian sedikit demi sedikit mengecil hingga menghilang dari pandangan mata.  Pertanyaan di atas tidak dijawab  Al-Qur’an dengan jawaban ilmiah, tetapi jawabannya justru diarahkan kepada upaya memahami hikmah di balik kenyataan itu.
قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالحَجِّ
”katakanlah, yang demikian itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) hajji.
Perlu dicatat bahwa hakikat hakikat ilmiah yang disinggung Al-Qur’an dikemukakannya dalam redaksi yang singkat dan sarat makna, sekaligus tidak terlepas dari ciri umum redaksinya yang memuaskan orang kebanyakan dan para pemikir.
Beberapa isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an
Ø  Ihwal reproduksi manusia : surah Al-Qiyamah : 36-39, An-Najm : 45-46,Al-Waqi’ah 85-86
Ø  Ihwal kejadian alam semesta : surah Al-Anbiya : 30, Adz-Dzariyat : 47, Al-Ghasyiah : 17-18,
Ø  Ihwal pemisah dua laut : Al-Furqon : 53
Ø  Ihwal gunung : An-Naml : 88
Ø  Ihwal kalendersyamsiyah dan qomariyah : Al-Kahfi : 25
Ø  Ihwal pohon hijau : Yasin : 80[6]

4.      Kemu’jizatan Bidang Hukum
            Undang-undang ilahi yang sempurna
            Al-Qur’an adalah mu’jizat. Salah satu dari kemu’jizatannya ialah mengandung undang-undang yang sempurna. Allah adalah pencipta manusia, dan yang berhak yang mengaturnya adalah penciptanya sendiri yang lebih mengetahui tentang keadaannya. Oleh karena itu, maka undang-undang yang dibuatnya meliputi segala aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia untuk kepentingan di dunia maupun di akhirat.
            Allah berfirman :
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْئٍ
“dan kami turunkan kepadamu alkitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu....” QS.An-Nahl : 89
            Al-Qur’an mengandung hukum-hukum:
1)      Hukum i’tiqodiyah (keyakinan) yang berkaitan erat dengan masalah-masalah yang harus diyakini oleh orang mkallaf, yaitu Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhir.
2)      Hukum khuluqiyah (akhlak) yang berhubungan dengan masalah-masalah keutamaan yang harus dijadikan hiasan oleh orang mukallaf dan kehinaan yang haru dihindari.
3)      Hukum ‘Amaliyah (amal perbuatan) berkaitan dengan perkataan, perbuatan, perjanjian dan masalah jual beli. Hukum jenis ketiga ini disebut fiqih Al-Qur’an.[7]
4.Cara-cara kei’jazan Al-Qur’an
Ulama kalam beraneka pendapat dalam menetapkan kei’jazan Al-Qur’an. An-Nadhdam dan Al-Murtadha berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an adalah dengan jalan shirfah, yakni Allah memalingkan orang Arab dari menantang Al-Qur’an, padahal mereka sanggup melakukannya. Allah memalingkan mereka, itulah yang menyalahi adat (kebiasaan).
            Demikianlah menurut An-Nadhdam dan makna shirfah menurut Al-Murtadha ialah Allah mencabut ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menantang Al-Qur’an. Maka kelemahan orang-orang Arab bukanlah karena mereka tidak mempunyai kesanggupan untuk menantang Al-Qur’an. Tetapi kadar yang Allah tetapkan, itulah yang melemahkan mereka.
            Kita berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an tetap berlaku sepanjang masa bukan karena Allah mencabut kemampuan orang Arab melakukannya. Segolongan ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an mu’jizat yang balagahnya belum ada tandingannya. Demikianlah pendapat ahli-ahli sastra. Sebagian mereka mengatakan bahwa kei’jazan  Al-Qur’an ialah karena mengandung badai’ yang sangat ganjil yang menyalahi apa yang dibiasakan oleh orang-orang Arab.
            Golongan yang lain mengataka bahwa kei’jazan Al-Qur’an ialah dalam mengkhabarkan hal-hal yang gaib yang hanya di peroleh dengan jalan wahyu dan dalam mengkhabarkan urusan-urusan yang telah lalu yang tidak diterangkan oleh seseorang ummi yang tidak mempelajari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada umat-umat yang telah lalu dan tidak pula bergaul dengan ahli kitab.
            Segolongan ulama menyatakan bahwa Al-Qur’an mu”jiz karena mengandung berbagai macam ilmu dan hikmah-hikmah yang sangat mendalam. Sebenarnya Al-Qur’an mu’jiz  dengan setiap makna yang dapat dipikul oleh lafal. Dia mu’jiz pada lafalnya, pada uslubnya, pada penempatan huruf di dalam Kosakata, pada penempatan Kosakata dalam kalimat dan penempatan kalimat dalam hubungan ayat dengan ayat.
            Al-Qur’an mu’jiz di dalam lafalnya dan nadhamnya. Dia mu’jiz di dalam makna-maknanya yang telah mengungkap tirai hakikat kemanusiaan dan risalah kemanusiaan dalam wujud ini. Dia mu’jiz dalam perundang-undangannya, dalam memelihara hak-hak asasi manusia dan membentuk masyarakat yang ideal.
5. kadar yang mengi’jazkan dari Al-Qur’an
            Golongan mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur’an berhubungan dengan keseluruhannya, bukan dengan bagian-bagiannya. Segolongan ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an mu’jiz, dengan sedikitnya dan dengan banyaknya, tanpa dikaitkan dengan surat, mengingat firman Allah yang artinya:
 “maka hendaklah mereka mendatangkan kata yang sepertinya, jika mereka orang-orang yang benar”.
            Segolongan yang lain berpendapat bahwa Al-Qur’an mu’jiz dengan sutu surat yang sempurna walaupun pendek, atau ukuran satu surat, baik satu ayat ataupun beberapa ayat.
            Sesungguhnya Al-Qur’an telah meminta ditantang keseluruhannya, sepuluh surat daripadanya, satu surat saja dan dengan kata yang sepertinya . kita berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an terdapat pada suara-suara harafnya, pada tekanan-tekanan kalimatnya, sebagaimana terdapat pada surat-surat dan ayat-ayatnya.[8]



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.      i’jaz ialah : Memperlihatkan kebenaran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang rasul, dengan memperlihatkan kelemahan orang Arab dalam menentangnya terhadap mu’jizatnya yang kekal yaitu Al-Qur’an dan kelemahan orang-orang yang sesudah mereka. mu’jizat ialah: suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddi dan terlepas dari tantangan.
2.      Perbedaan mu’jizat dan keramat : Mu’jizat berfungsi sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka terhadap kaumnya sehingga dengan mudah memberikan hidayah bagi yang sadar dan memecahkan sifat kepala batu orang yang menolaknya dan mengingkarinya.Sedangkan keramat pada mulanya ialah yang tersembunyi dan dirahasiakan. Pemunculan keramat seringkali menjadi fitnah, cobaan bagi manusia.
3.      Segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’an
Ø  Pemberitaan ghaib Al-Qur’an
Ø  Bidang bahasa dan kesustraan
Ø  Bidang keilmuwan
Ø  Bidang hukum
4.      Cara kei’jazan Al-Qur’an: Ulama kalam beraneka pendapat dalam menetapkan kei’jazan Al-Qur’an. An-Nadhdam dan Al-Murtadha berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an adalah dengan jalan shirfah, yakni Allah memalingkan orang Arab dari menantang Al-Qur’an, padahal mereka sanggup melakukannya Allah memalingkan mereka, itulah yang menyalahi adat (kebiasaan).
5.      Kadar kei’jazan Al-Qur’an : Sesungguhnya Al-Qur’an telah meminta ditantang keseluruhannya, sepuluh surat dari padanya, satu surat saja dan dengan kata yang sepertinya . kita berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an terdapat pada suara-suara harafnya, pada tekanan-tekanan kalimatnya, sebagaimana terdapat pada surat-surat dan ayat-ayatnya.



DAFTAR PUSTAKA
Hasbi Ash Shiddieqy,Tengku Muhammad. 2002. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra
Hasbi Ash Shiddieqy, Tengku Muhammad. 2013.‘Ulum Al-Qur’an. Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra
El mazni, Aunur Rafiq. 2004. Pengantar Studi Al-Qur’an. Jakarta, Al-Kaustar
Hamid, Shalahuddin.  2002.  Study Ulumul Qur’an.Jakarta : Pt Intimedia Ciptanusantara
Shihab, M.Quraish. 1997. MukjizatAl-Qur’an. Bandung, Pt Mizan
Chalik, Chaerudji Abd. 2006. Ulum Al-Qur’an, Jakarta : Diadit Media

















[1] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra 2002)  Hal,317
[2] Aunur Rafiq El mazni, pengantar studi Al-Qur’an, (jakarta, al-kaustar 2004) hal321
[3]Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an, (Jakarta : Pt Intimedia Ciptanusantara, 2002) Hal,170
[4]M.Quraish Shihab, Mu’jizatAl-Qur’an, (Bandung, Pt Mizan, 1997) Hal,212
[5] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an, (Jakarta : Pt Intimedia Ciptanusantara, 2002) Hal,172
[6]M.Quraish Shihab,Mu’jizatAl-Qur’an, (Bandung, Pt Mizan, 1997) Hal, 165-190
[7] Chaerudji Abd Chalik, Ulum Al-Qur’an, (Jakarta : Diadit Media, 2006) Hal,189
[8]Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,  Ulum Al-Qur’an.( Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra, 2013) 295-297