Selasa, 12 Mei 2015

i'jaz Al- Qur'an



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
            Salah satu objek penting lainnya dalam kajian ulum Al-Qur’an adalah perbincangan mengenai mu’jizat, terutama mu’jizat Al-Qur’an. Karena dengan perantara mu’jizat Allah mengingatkan manusia, bahwa para rasul itu merupakan utusan yang mendapat dukungan dan bantuan dari langit. Mu’jizat yang telah di berikan kepada para Nabi mempunyai fungsi sama yaitu untuk memainkan peranannya dan mengatasi kepandaian kaum disamping membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu berada di atas segala-galanya.
Setiap rasul mempunyai mu’jizat sebagai tanda kenabian dan kerasulannya. Tanpa mu’jizat itu niscaya manusia tidak akan beriman pada mereka. Meskipun tingginya akhlak rasul maupun pentingnya pesan yang dibawanya, atau tingginya intelektualitasnya, atau kedudukannya, masih belum cukup untuk menyatakan kerasulannya kepada manusia. Akal manusia belum bisa menerima kedudukannya sebagai rasul tanpa membawa bukti kerasulannya dari Allah yang berupa mu’jizat suatu perkara yang berada diluar kemampuan manusia biasa, yang tergolong luar biasa dari sunnah-sunnah Allah, nature of law, dari hukum-hukum kausalitas.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi I’jaz Al-Qur’an?
2. Apa Perbedaan Mu’jizat dan Keramat?
3. Apa Saja Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an?
4. Bagaimana Cara-Cara Ke-I’jazan Al-Qur’an?
5. Bagaimana Kadar Yang Mengi’jazkan Al-Qur’an?

C. Tujuan Masalah
1. Dapat Mengetahui Definisi I’jaz Al-Qur’an
2. Dapat Membedakan antara Mu’jizat dan Keramat
3.Dapat Mengetahui Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an
4. Dapat Mengetahui Cara-Cara Ke-I’jazan Al-Qur’an
5. Dapat Mengetahui Kadar Ke-i’jazan Al-Qur’an


BAB II
PEMBAHASAN
A . Definisi I’jaz
            I’jaz ialah: membuktikan kelemahan.
i’jaz ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari kekuasan atau kesanggupan. Apabila i’jaz telah terbukti, nampaklah kekuasaan mu’jiz. Dikehendaki dengan i’jaz dalam pembahasan ini ialah :
إِظْهاَرُ صِدْقِ النَّبِيّ في دَعْوَى الرِّسَالَةِ بِإِظْهَارِ عَجْزِ العَرَبِ عَنْ مُعَارَضَتِهِ في مُعْجِزَتِهِ الخَالِدَةِ وَهِيَ القُرْأنُ وَعَجْزِ الاَجْيَالِ بَعْدَهُمْ.
“Memperlihatkan kebenaran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang rasul, dengan memperlihatkan kelemahan orang Arab dalam menentangnya terhadap mu’jizatnya yang kekal yaitu Al-Qur’an dan kelemahan orang-orang yang sesudah mereka.”
Dan mu’jizat ialah:
اَمْرٌ خَارِقٌ لِلعَادَةِ مَقْرُوْنٌ بِالتَّحَدِى سَالِمٌ عَنِ المُعَارَضَةِ
“suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddi dan terlepas dari tantangan”.
Nabi telah meminta orang untuk menandingi Al-Qur’an, mereka tidak mampu menantangnya, padahal mereka mempunyai kecakapan  dalam bidang fashahahdan balaghahhal ini karena Al-Qur’an itu mu’jiz.
            Nabi menentang mereka dengan sepuluh surat saja dari Al-Qur’an
أَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرَىهُ قُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُوْنِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِيْنَ

“ ataukah mereka berkata, dia (muhammad) telah membuat-buatnya. Katakanlah: datangkanlah sepuluh surat yang sepertinya, yaitu surat-surat yang kamu buat-buat, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup memanggilnya selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. QS. Hud :13
Orang-orang Arab yang pantang ditantang itu tidak sanggup mengalahkannya mereka menyerah kalah. Dengan demikian terbuktilah kemu’jizatan Al-Qur’an. Kei’jazan Al-Qur’an tidak saja terhadap bangsa Arab bahkan terhadap segala bangsa yang lain, terus menerus sepanjang masa.[1]
I’jaz (kemu’jizatan) adalah menetapkan kelemahan. Kelemahan menurut pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari qudrah (potensi, power, kemampuan) Apabila kemu’jizatan muncul, maka nampaklah kemampuan mu’jiz (sesuatu yang melemahkan). Yang dimaksud dengan I’jaz dalam pembahasan ini ialah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul, dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mu’jizatnya yang abadi, yaitu Al-Qur’an, dan kelemahan generasi-generasi sesudah mereka. Dan mu’jizat (mu’jizat) adalah sesuatu hal luar biasa yang disertai tantangan dan selamat dari perlawanan.[2]
B. Perbedaan Mu’jizat dan Keramat
            Mu’jizat berfungsi sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka terhadap kaumnya sehingga dengan mudah memberikan hidayah bagi yang sadar dan memecahkan sifat kepala batu orang yang menolaknya dan mengingkarinya. Hal itu ditegaskan dalam QS. Ibrohim 14 : 11 “ rasul-rasul berkata kepada mereka :  kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang dia kehendaki di antara hamba-hambanya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang  mukmin bertawakal.
            Al-Qurtuby memberikan lima syarat untuk kategori mu’jizat. 1. Tidak ada yang mampu kecuali Allah. 2. Kejadian ini diluar kebiasaan yang ada. 3. Pembawa mu’jizat adalah utusan Allah. 4. Bukti kerasulan dengan membawa mu’jizat tersebut. 5. Tidak ada yang dapat menandinginya atau menentangnya.
            Sedangkan keramat pada mulanya ialah yang tersembunyi dan dirahasiakan. Pemunculan keramat seringkali menjadi fitnah, cobaan bagi manusia. Orang-orang yang mempunyai keramat tidak menampakkan suatu keuntungan yang mereka dapatkan dari   boleh ada niscaya akan serupa dengan mu’jizat, maka mu’jizat pun tidak lagi menunjukkan nubuwwah artinya mu’jizat dan keramat tidak bisa sama. Kalaulah keramat bisa dilakukan oleh orang soleh niscaya keluar kebiasaan tersebut tidak mungkin untuk dijadikan kebenaran nubuwwah.      
            Kemudian keramat terjadi berulang-ulang sehingga apabila tidak bisa disebut kebiasaan luar biasa maka tidak bisa pula disebut dengan kejadian biasa. Ulama kalam, tasawuf dan kaum rasionalis sepakat bahwa keramat tidak terjadi secara berulang-ulang, apabila terjadi juga, maka terjadinya secara rahasia. [3]
C. Segi-Segi Kemu’jizatan Al-Qur’an
            Para ulama sangat kesulitan dalam memberitakan keseluruhan mu’jizat yang ada di dalamnya. Oleh karenanya, mereka membagi-bagi dalm beberapa bidang :
1.      Pemberitaan ghaib Al-Qur’an
2.      Bidang bahasa dan kesustraan
3.      Bidang keilmuwan
4.      Bidang hukum

1.      Mu’jizat Tentang Berita Ghaib
Al-Qur’an mengungkap sekian banyak ragam hal gaib. Al-Qur’an mengungkap kejadian masa lampau yang tidak diketahui oleh manusia, karena masanya telah demikian lama, dan mengungkap juga peristiwa masa datang atau masa kini yang belum diketahui manusia.
Peristiwa gaib pada masa lampau yang diungkapkan oleh Al-Qur’an, misalnya adalah peristiwa tenggelamnya Fir’aun dan diselamatkannya badannya, atau peristiwa ashhab al-kahfi(sekelompok pemuda yang berlindung ke gua selama tiga ratus tahun lebih). Peristiwa yang akan datang dapat dibagi dua bagian pokok.
Pertama,  telah terjadi kini setelah sebelumnya Al-Qur’an menguraikan akan terjadinya. Misalnya, kemenangan bangsa Romawi atas Persia pada masa sekitar sembilan ratus tahun sebelum kejadiannya. Kedua, peristiwa masa datang yang belum terjadi, seperti peristiwa seekor binatang yang bercakap menjelang hari kiamat.
              Berikut ini contoh dari informasi kisah-kisahnya yang telah terbukti;
1. Kaum ’Ad dan Tsamud dan Kehancuran Kota Iram
              Al-Quran berbicara tentang kaum Tsamud dan ’Ad kepada mereka di utus Nabi Sholeh dan Nabi Hud. Mereka dihancurkan Allah dengan gempa dan angin ribut yang sangat dingin lagi kencang. Hal ini dilukiskan oleh Surat Al-Haqqoh (69):4-7
2. Berita Tentang Tenggelam dan Selamatnya Badan Fir’aun
              Dalam Al-Quran ditemukan sekitar 30 kali Allah Swt. Mengisahkan Musa dan Fir’aun, suatu kisah yang tidak dikenal masyarakat ketika itu, kecuali melalui kitab Perjanjian Lama, tetapi satu hal yang menakjubkan adalah bahwa Nabi Muhammad melalui Al-Quran, telah mengungkapkan suatu perincian yang sama sekali tidak diungkap oleh satu kitabpun sebelumnya, peristiwa tersebut terjadi pada abad ke 12 SM sekitar 3.200 tahun yang lalu. Hal ini dilukiskan oleh Surat Yunus (10): 90-92
3. Ashhab Al-Kahfi
              Keraguan masyarakat Arab Makkah tentang kenabian Muhammad Saw dan Al-Quran terus berlanjut. Mereka mengutus tiga orang untuk menemui tokoh agama Najran guna meminta tanggapan mereka tentang Muhammad. Maka tokoh yahudi mengusulkan agar kaum musyrikin makkah bertanya kepada Nabi tentang tiga hal. Jika menjawabnya baik, dia seorang Nabi dan jika menduga tahu, dia berbohong. Ketiga hal tersebutadalah :
1.      Kisah kelompok muda yang masuk berlindung dan tertidur sekian lama, berapa jumlah mereka dan siapa atau apa yang bersama mereka?
2.      Kisah Musa ketika di perintahkan untuk belajar
3.      Kisah seorang penjelajah ke timur dan ke barat
4.      adapun yang keempat ini jika dia mengetahuinya berarti bohong. Adalah kapan hari kiamat akan terjadi.
                        Keempat pertanyaan mereka itu terjawab melalui wahyu Al-Quran surat ke 18 (Al-Kahfi)
              Informasi yang disampaikan Al-Quran memang sulit di lacak tapi para ilmuan, sejarawan dengan informasi ini yakin apabila para pemuda yang berlindung itu menghindar dari ketetapan penguasa  yang dikeluarkan pada 112 M itu, dan mereka tidur selama 300 tahun, ini berarti mereka terbangun dari tidur sekitar tahun  412, yakni pada masa pemerintah Theodusius (408-451)  yang membebaskan orang-orang kristen dari penindasan.

      Informasi Ghaib pada masadatang yang terbukti :
1. Kemenangan Romawi atas Persia setelah kekalahannya
              Kemenangan tersebut diceritakan Al-Qur’an surah ar-Rum : 1-5, pada abad kelima dan keenam masehi terdapat dua adikuasa, Romawi dan Persia. Persaingan keduanya guna merebut wilayah dan pengaruh amat keras. Pada tahun 614 M terjadi peperangan antara keduanya dan berakhir dengan kekalahan romawi. Ketika itu kaum musyrik di mekkah mengejek kaum muslim di mekkah yang cendrung mengharapkan kemenangan Romawi yang beragama samawi atas Persia yang menyembah api. Maka turunlah ayat di atas untuk menghibur kaum muslim dengan dua hal:
              Pertama,  Romawi akan menang atas Persia pada tenggang waktu yang diistilahkan pada Al-Qur’an dengan bidh’ siniin pada ayat ke empat. kedua, saat kemenangan itu tiba, kaum muslim akan gembira bukan saja dengan kemenangan Romawi, tapi juga dengan kemenangan yang allah anugerahkan pada mereka.[4]

2.      Mu’jizat Bidang Bahasa
Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, bahasa Arab Quraisy yang diturunkan dalam masa ketinggian sastra Arab. Yang disebut oleh deboer segi bahasa yang tepat untuk memimpin bahasa-bahasa di dunia. Bila dikomparasikan dengan bahasa latin atau bahasa persia, akan kita temukan perbedaan istimewa dengan keangunan format pendek ia memiliki ekspresi keilmuwan yang tinggi. Di samping itu menurutnya bahasa ini elegant, ekspresive, sulit ditiru dan selalu mengundang banyak kajian, dimana bahasa ini menjadi bahasa bijak orang syiria dan persia.
            Dr. Sulaiman Al-Qorowie dalam bukunya menjelaskan tentang mu’jizatAl-Qur’an dari segi ushlubnya bahwa Al-Qur’an diakui keluarbiasaannya tidak saja oleh manusia tapi juga oleh bangsa jin. Tidak seorang manusia pun dapat menirunya secara naratif atau deskriptif (nadzam dan bayannya). Kemu’jizatan Al-Qur’an di seluruh jazirah Arab ialah lafad Al-Qur’an dan nadzamnya, maupun kejelasannya. Bidang ini merupakan keutamaan sentralAl-Qur’an yang telah disadari oleh orang-orang Arab sejak dulu hingga sekarang.
            Keutamaan Al-Qur’an dalam segi ini ialah : susunan kalimatnya, karena nadzam Al-Qur’an dalam beberapa segi pengungkapannya, penjelasan pemikirannya, keluar dari susunan peraturan bait, qafiyah, sajak, syair dan sebagainya, atau tat bahasa mereka (Arab), serta menjadi penjelas bagi kaidah khutbah mereka. Ia memiliki ushlub tersendiri. Dan ia memiliki mu’jizat dari ushlub-uslub pengungkapan ahli sastra manapun.
Demikianlah Al-Qur’an keberadaannya menuntut pemahaman yang benar dan tepat, pemahaman makna-maknanya yang berbeda dengan kesastraan, susunan yang halus, mesti tidak mengikuti wazannya. Jadi Al-Qur’an merupakan kalamullah yang tidak dapat dibuat-buat dan tidak dikatakan oleh seorangpun.[5]
kemu’jizatan al- quran dari segi bahasanya bisa kita lihat dari tiga hal yaitu :
1. Nada dan langgamnya
Ayat- ayat Al-Qur’an bukanlah syair atau puisi tetapi kalau kita dengar akan nampak keunikan dalam irama dan ritmenya. Hal ini disebabkan oleh huruf dari kata-kata yang dipilih melahirkan keserasian bunyi dan kemudian kumpulan kata-kata itu melahirkan pula keserasian irama dalam rangkaian kalimat ayat- ayatnya . misalnya surat an-nazi’at 1-14
2. Singkat dan padat
Dalam Al-Qur’an banyak kita jumpai ayat- ayat nya singkat tetapi padat artinya , sehingga menyababkan berbagai macam pemahaman dari setiap mereka yang membacanya .
3. Memuaskan para pemikir kebanyakan orang
Bagi orang awam, ayat Al-Qur’an mungkin terasa biasa, tetapi bagi para filosof dengan ayat yang sama akan melahirkan pemahaman yang luar biasa .
3.      Kemu’jizatan Bidang Ilmiah
            Banyak orang terjebak dalam kesalahan ketika mereka bersikeras membuktikan bahwa Al-Qur’an mengandung segala teori Ilmiah. Setiap muncul teori baru mereka mencarikan kemungkinan legitimasinya dalam ayat, lalu ayat ini mereka ta’wilkan sesuai dengan teori ilmiah tersebut.
            Sumber kesalahan tersebut ialah bahwa teori-teori ilmu pengetahuan itu selalu baru, sejalan dengan tabi’at kemajuan zaman. Posisi ilmu pengetahuan selalu berada dalam kekurangsempurnaan. Itulah yang akan terjadi selamanya, terkadang diliputi kekaburan dan disaat lain kesalahan. Demikian seterusnya sampai ia mendekati kebenaran dan mencapai tingkat keyakinan. Semua teori ilmu pengetahuan bertolak dari hipotesis-hipotesis atau asumsi-asumsi, tunduk pada eksperimen sampai membuktikan adanya hasil yang meyakinkan atau sebaliknya, yaitu kepalsuan dan kesalahannya. Oleh karena itu ilmu pengetahuan selalu terancam perubahan. Cukup banyak kaidah-kaidah ilmiah yang disangka orang sebagai hal yangditerima sebagai kebenaran menjadi goncang setelah mapan dan runtuh setelah mantap. Kemudian para peneliti memulai kembali percobaan ulang mereka.
            Isyarat-isyarat ilmiah Al-Qur’an
Berbicara tentang isyarat ilmiyah dalam Al-Qur’an, perlu digaris bawahi bahwa Al-Qur’an bukanlah suatu kitab ilmiyah sebagaimana halnya kitab kitab ilmiyah yang dikenal selama ini.salah satu hal yang membuktikan kebenaran pernyataan diatas adalah sikap Al-Qur’an terhadap pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat Nabi tentang keadaan bulan :
يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الاَهِلَّةِ
“mereka bertanya kepadamu tentang bulan (QS Al-Baqarah : 189)
Menurut ayat itu, mereka bertanya mengapa bulan sabit terlihat dari malam ke malam membesar hingga purnama, kemudian sedikit demi sedikit mengecil hingga menghilang dari pandangan mata.  Pertanyaan di atas tidak dijawab  Al-Qur’an dengan jawaban ilmiah, tetapi jawabannya justru diarahkan kepada upaya memahami hikmah di balik kenyataan itu.
قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالحَجِّ
”katakanlah, yang demikian itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) hajji.
Perlu dicatat bahwa hakikat hakikat ilmiah yang disinggung Al-Qur’an dikemukakannya dalam redaksi yang singkat dan sarat makna, sekaligus tidak terlepas dari ciri umum redaksinya yang memuaskan orang kebanyakan dan para pemikir.
Beberapa isyarat-isyarat ilmiah dalam Al-Qur’an
Ø  Ihwal reproduksi manusia : surah Al-Qiyamah : 36-39, An-Najm : 45-46,Al-Waqi’ah 85-86
Ø  Ihwal kejadian alam semesta : surah Al-Anbiya : 30, Adz-Dzariyat : 47, Al-Ghasyiah : 17-18,
Ø  Ihwal pemisah dua laut : Al-Furqon : 53
Ø  Ihwal gunung : An-Naml : 88
Ø  Ihwal kalendersyamsiyah dan qomariyah : Al-Kahfi : 25
Ø  Ihwal pohon hijau : Yasin : 80[6]

4.      Kemu’jizatan Bidang Hukum
            Undang-undang ilahi yang sempurna
            Al-Qur’an adalah mu’jizat. Salah satu dari kemu’jizatannya ialah mengandung undang-undang yang sempurna. Allah adalah pencipta manusia, dan yang berhak yang mengaturnya adalah penciptanya sendiri yang lebih mengetahui tentang keadaannya. Oleh karena itu, maka undang-undang yang dibuatnya meliputi segala aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia untuk kepentingan di dunia maupun di akhirat.
            Allah berfirman :
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الكِتَابَ تِبْيَاناً لِكُلِّ شَيْئٍ
“dan kami turunkan kepadamu alkitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu....” QS.An-Nahl : 89
            Al-Qur’an mengandung hukum-hukum:
1)      Hukum i’tiqodiyah (keyakinan) yang berkaitan erat dengan masalah-masalah yang harus diyakini oleh orang mkallaf, yaitu Allah, para malaikat, kitab-kitab, para rasul, dan hari akhir.
2)      Hukum khuluqiyah (akhlak) yang berhubungan dengan masalah-masalah keutamaan yang harus dijadikan hiasan oleh orang mukallaf dan kehinaan yang haru dihindari.
3)      Hukum ‘Amaliyah (amal perbuatan) berkaitan dengan perkataan, perbuatan, perjanjian dan masalah jual beli. Hukum jenis ketiga ini disebut fiqih Al-Qur’an.[7]
4.Cara-cara kei’jazan Al-Qur’an
Ulama kalam beraneka pendapat dalam menetapkan kei’jazan Al-Qur’an. An-Nadhdam dan Al-Murtadha berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an adalah dengan jalan shirfah, yakni Allah memalingkan orang Arab dari menantang Al-Qur’an, padahal mereka sanggup melakukannya. Allah memalingkan mereka, itulah yang menyalahi adat (kebiasaan).
            Demikianlah menurut An-Nadhdam dan makna shirfah menurut Al-Murtadha ialah Allah mencabut ilmu-ilmu yang diperlukan untuk menantang Al-Qur’an. Maka kelemahan orang-orang Arab bukanlah karena mereka tidak mempunyai kesanggupan untuk menantang Al-Qur’an. Tetapi kadar yang Allah tetapkan, itulah yang melemahkan mereka.
            Kita berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an tetap berlaku sepanjang masa bukan karena Allah mencabut kemampuan orang Arab melakukannya. Segolongan ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an mu’jizat yang balagahnya belum ada tandingannya. Demikianlah pendapat ahli-ahli sastra. Sebagian mereka mengatakan bahwa kei’jazan  Al-Qur’an ialah karena mengandung badai’ yang sangat ganjil yang menyalahi apa yang dibiasakan oleh orang-orang Arab.
            Golongan yang lain mengataka bahwa kei’jazan Al-Qur’an ialah dalam mengkhabarkan hal-hal yang gaib yang hanya di peroleh dengan jalan wahyu dan dalam mengkhabarkan urusan-urusan yang telah lalu yang tidak diterangkan oleh seseorang ummi yang tidak mempelajari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada umat-umat yang telah lalu dan tidak pula bergaul dengan ahli kitab.
            Segolongan ulama menyatakan bahwa Al-Qur’an mu”jiz karena mengandung berbagai macam ilmu dan hikmah-hikmah yang sangat mendalam. Sebenarnya Al-Qur’an mu’jiz  dengan setiap makna yang dapat dipikul oleh lafal. Dia mu’jiz pada lafalnya, pada uslubnya, pada penempatan huruf di dalam Kosakata, pada penempatan Kosakata dalam kalimat dan penempatan kalimat dalam hubungan ayat dengan ayat.
            Al-Qur’an mu’jiz di dalam lafalnya dan nadhamnya. Dia mu’jiz di dalam makna-maknanya yang telah mengungkap tirai hakikat kemanusiaan dan risalah kemanusiaan dalam wujud ini. Dia mu’jiz dalam perundang-undangannya, dalam memelihara hak-hak asasi manusia dan membentuk masyarakat yang ideal.
5. kadar yang mengi’jazkan dari Al-Qur’an
            Golongan mu’tazilah berpendapat bahwa Al-Qur’an berhubungan dengan keseluruhannya, bukan dengan bagian-bagiannya. Segolongan ulama berpendapat bahwa Al-Qur’an mu’jiz, dengan sedikitnya dan dengan banyaknya, tanpa dikaitkan dengan surat, mengingat firman Allah yang artinya:
 “maka hendaklah mereka mendatangkan kata yang sepertinya, jika mereka orang-orang yang benar”.
            Segolongan yang lain berpendapat bahwa Al-Qur’an mu’jiz dengan sutu surat yang sempurna walaupun pendek, atau ukuran satu surat, baik satu ayat ataupun beberapa ayat.
            Sesungguhnya Al-Qur’an telah meminta ditantang keseluruhannya, sepuluh surat daripadanya, satu surat saja dan dengan kata yang sepertinya . kita berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an terdapat pada suara-suara harafnya, pada tekanan-tekanan kalimatnya, sebagaimana terdapat pada surat-surat dan ayat-ayatnya.[8]



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.      i’jaz ialah : Memperlihatkan kebenaran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang rasul, dengan memperlihatkan kelemahan orang Arab dalam menentangnya terhadap mu’jizatnya yang kekal yaitu Al-Qur’an dan kelemahan orang-orang yang sesudah mereka. mu’jizat ialah: suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddi dan terlepas dari tantangan.
2.      Perbedaan mu’jizat dan keramat : Mu’jizat berfungsi sebagai bukti kebenaran kerasulan mereka terhadap kaumnya sehingga dengan mudah memberikan hidayah bagi yang sadar dan memecahkan sifat kepala batu orang yang menolaknya dan mengingkarinya.Sedangkan keramat pada mulanya ialah yang tersembunyi dan dirahasiakan. Pemunculan keramat seringkali menjadi fitnah, cobaan bagi manusia.
3.      Segi-segi kemu’jizatan Al-Qur’an
Ø  Pemberitaan ghaib Al-Qur’an
Ø  Bidang bahasa dan kesustraan
Ø  Bidang keilmuwan
Ø  Bidang hukum
4.      Cara kei’jazan Al-Qur’an: Ulama kalam beraneka pendapat dalam menetapkan kei’jazan Al-Qur’an. An-Nadhdam dan Al-Murtadha berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an adalah dengan jalan shirfah, yakni Allah memalingkan orang Arab dari menantang Al-Qur’an, padahal mereka sanggup melakukannya Allah memalingkan mereka, itulah yang menyalahi adat (kebiasaan).
5.      Kadar kei’jazan Al-Qur’an : Sesungguhnya Al-Qur’an telah meminta ditantang keseluruhannya, sepuluh surat dari padanya, satu surat saja dan dengan kata yang sepertinya . kita berpendapat bahwa kei’jazan Al-Qur’an terdapat pada suara-suara harafnya, pada tekanan-tekanan kalimatnya, sebagaimana terdapat pada surat-surat dan ayat-ayatnya.



DAFTAR PUSTAKA
Hasbi Ash Shiddieqy,Tengku Muhammad. 2002. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra
Hasbi Ash Shiddieqy, Tengku Muhammad. 2013.‘Ulum Al-Qur’an. Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra
El mazni, Aunur Rafiq. 2004. Pengantar Studi Al-Qur’an. Jakarta, Al-Kaustar
Hamid, Shalahuddin.  2002.  Study Ulumul Qur’an.Jakarta : Pt Intimedia Ciptanusantara
Shihab, M.Quraish. 1997. MukjizatAl-Qur’an. Bandung, Pt Mizan
Chalik, Chaerudji Abd. 2006. Ulum Al-Qur’an, Jakarta : Diadit Media

















[1] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra 2002)  Hal,317
[2] Aunur Rafiq El mazni, pengantar studi Al-Qur’an, (jakarta, al-kaustar 2004) hal321
[3]Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an, (Jakarta : Pt Intimedia Ciptanusantara, 2002) Hal,170
[4]M.Quraish Shihab, Mu’jizatAl-Qur’an, (Bandung, Pt Mizan, 1997) Hal,212
[5] Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an, (Jakarta : Pt Intimedia Ciptanusantara, 2002) Hal,172
[6]M.Quraish Shihab,Mu’jizatAl-Qur’an, (Bandung, Pt Mizan, 1997) Hal, 165-190
[7] Chaerudji Abd Chalik, Ulum Al-Qur’an, (Jakarta : Diadit Media, 2006) Hal,189
[8]Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy,  Ulum Al-Qur’an.( Semarang : Pt Pustaka Rizki Putra, 2013) 295-297

Tidak ada komentar:

Posting Komentar