Selasa, 12 Mei 2015

idealisme plato



Pendahuluan
Idealisme adalah suatu aliran  yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini telah dimiliki oleh Plato dan pada filsafat modern dipelopori oleh J.G Fichte Schelling, dan Hegel.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tooh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung pada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Mereka menggunakan argumen yang mengatakan bahwa objek-objek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan; argumen orang-orang idealis mengatakan bahwa objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari spirit.
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme adalah epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh malalui rasio (akal), melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empiris amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung kepada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.
Istilah realisme berasal dari kata latin realis yang berarti ‘sungguh-sungguh, nyata benar’. Sepanjang sejarah panjang bervariasi, realisme telah memiliki tema umum, yang disebut prinsip atau tesis kemerdekaan. Tema ini menyatakan bahwa realitas, pengetahuan dan nilai yang ada secara independen dari pikiran manusia. Ini berarti bahwa realisme menolak pandangan idealis bahwa ide-ide hanya nyata. Realisme Aristoteles didasarkan pada prinsip bahwa ide-ide (atau bentuk) bisa ada tanpa masalah, tapi tidak peduli bisa eksis tanpa bentuk. Aristoteles menyatakan bahwa setiap bagian materi memiliki sifat universal dan khusus. Sebagai contoh, semua orang berbeda dalam sifat-sifat mereka. Kita semua memiliki berbagai bentuk dan ukuran dan tidak ada dua yang sama. Kami melakukan semua berbagi sesuatu yang universal yang disebut “kemanusiaan.”Kualitas universal ini tentunya nyata karena itu ada secara mandiri dan terlepas dari satu orang. Aristoteles menyebut kualitas bentuk universal (gagasan atau esensi), yang merupakan aspek nonmaterial dari setiap objek materi tunggal yang berhubungan dengan semua benda lain dari grup tersebut.
BAB II
Pembahasan
1.      IDEALISME PLATO
Plato adalah salah seorang murid dan teman Socrates,memperkuat pendapat gurunya itu. ia dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal disana pada tahun 347 SM. Ia berasal dari keluarga Aristokrasi yang turun temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Sebagaimana anak orang baik – baik pada masa itu,plato mendapat didikan dari guru – guru filsafatnya. Pelajaran filsafat mula – mula didapatkanya dari Kratylos yaitu murid Herakleitos yang mengajarkan ‘semuanya berlalu’ seperti air. Rupanya ajaran semacam itu tidak hinggap didalam hati anak Aristokrat yang terpengaruh oleh tradisi keluarganya.[1]
a.       Teori ajaran Plato
Tokoh utama idealisme objektif adalah Plato yang membagi dunia menjai dua bagian,yaitu dunia persepsi dan alam di atas  alam benda,yaitu alam konsep,ide, universal atau esensi yang abadi. Termasuk di dalamnya adalah tema filsafat Hegel dengan idealisme mutlak atau idealisme monistik.[2]
Plato dengan ajaran idea yang lepas dari objek yang berada di alam idea,bukan hasil abstraksi seperti pada Socrates,jelas memperkuat posisi Socrates dalam menghadapi sofisme. Idea out umum berarti berlaku umun. Sama dengan gurunya itu,Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran yang umum itu ada kebenaran yang khusus,yaitu “kongkretisasi” idea di alam ini. “kucing” di alam idea berlaku umum,kebenaran umum,“kucing hitam di rumah saya” adalah kucing yang khusus.[3]
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme adalah epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh malalui rasio (akal),melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empiris amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung kepada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.[4]
b.      Analogi Plato
Plato menganalogikan manusia dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dengan para tahanan yang selama hidupnya terkurung  dalam gua. Kepala mereka enggan menengok ke belakang (ke lubang gua) dan hanya terarah pada dinding gua belakang. Oleh sebab itu mereka tidak dapat melihat sumber cahaya diluar gua. Mereka hanya dapat melihat bayangan dirinya saja yang sumber cahayanya berasal dari lubang gua dibelakang badan mereka.
Melalui perumpamaan itu,Plato hendak menyampaikan dua hal,yaitu :
Pertama,kebanyakan manusia terpaku pada kehidupan duniawi,yang cepat berubah dan fana itu. Seolah-olah kehidupan yang fana itu adalah kehidupan yang sejati. Padahal kehidupan yang sesungguhnya adalah berupa dunia ide,yakni dunia yang menjadi sumber  yang memancarkan kehidupan di alam fana ini. Dunia ide yang dimaksudkan oleh Plato bukanlah ide-ide yang ada dalam pikiran manusia,melainkan dunia objektif yang ada “diluar sana” (diluar gua) yang mengatasi dunia kehidupan sehari-hari kita.
Kedua,Plato mengkritik pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan yang sejati adalah pengetahuan inderawi,yang sumbernya adalah pengamatan atau pengetahuan indera. Padahal pengetahuan sebenarnya bersumber dari rasio dan berobjekan dunia ide. Dunia panca indera hanya merupakan cermin dari dunia ide. Dalam dunia ide hanya terdapat hal-hal yang umum,seperti “kesegitigaan” dan “kekudaan”. Segitiga atau kuda yang kita lihat di dunia ini sesungguhnya adalah pantulan dari ide segitiga dan kuda yang bersifat umum yang ada dalam dunia ide. Pengamatan inderawi tidak dapat mengetahui dunia ide. Dunia ide hanya dapat diketahui melaluli rasio. Plato menganjurkan agar  manusia menggunakan rasionya untuk menemukan kebenaran.[5]
c.       Manusia bersifat dualistik
Selanjutnya Plato menyusun filsafat manusia yang bersifat dualistik. Manusia terdiri dari dua unsur yang berbeda, yakni tubuh (benda) dan jiwa (ide-ide). Jiwa merupakan bagian dari dunia ide, sedangkan tubuh dari dunia yang bersifat fana. Fungsi jiwa adalah untuk mengendalikan nafsu yang bersumber dari tubuh. Fungsi jiwa seperti kusir pedati yang harus mengendalikan jalannya kuda (tubuh) yang menarik pedati itu. Selanjutnya,karena jiwa berasal dari dunia ide maka ia tidak akan musnah meski tubuh (yang berasal dari dunia fana) sudah hancur (mati).
Keyakinannya pada keberadaan jiwa dan ide membawa Plato pada penyusunan metode dalam mendapatkan pengetahuan (epistemolgi). Dia mengembangkan metode deduktif,yakni satu cara berfikir yang dimulai dari premis-premis umum atau mayor untuk kemudian diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang lebih khusus atau kesimpulan-kesimpulan yang tidak melampaui premis-premis mayornya.[6]
Menurut Plato,tempat idea itu di dalam dunia yang lain. Segala pengetahuan adalah tiruan dari yang sebenarnya yang timbul dalam jiwa sebagai ingatan kepada dunia yang asal. Di sini jiwa muncul sebagai “ penghubung” antara dunia idea dan dunia  yang bertubuh. Karena melihat sesuatunya,teringat oleh jiwa gambaran yang asal,yang di ketahuinya sebelum ia turun ke dunia. Pandangan hanya alasan untuk ingat kepada idea. Segala pengetahuan dengan pengertian adalah ingatan.
Menurut Plato juga,sebanyak pengertian sebanyak itu pula  jenis idea terhadap tiap pengertian yang bersangkutan dengan barang,sifat,hubungan,ada idea yang bertepatan. Akan tetapi,seluruh dunia idea itu merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat tingkatan derajat. Idea yang tertinggi ialah idea kebaikan,sebagai tuhan yang membentuk dunia. Plato yang menyamakannya dengan matahari yang menyinari semuanya. Idea kebaikan tidak saja sebab  timbulnya tujuan pengetahuan dalam dunia yang lahir,tetapi juga sebab tumbuh dan berkembang segala galanya. idea kebaikan adalah pokok. Oleh karna itu,dunia idea tersusun menurut sistem teologi. Suatu susunan yang teratur tepat menurut tujuan yang sudah tertentu. karena sinar  yang memancar dari idea kebaikan. Semuanya tertarik padanya dan karena itu ia jadi sebab tujuan dari segalanya dalam dunia yang asal,ia sebab dari adanya dan pengetahuan. akan tetapi,sebab itu pada hakikatnya tidak lain dari pada tujuan.
d.      Etika Plato
Gagasan Plato tentang alam idea telah membuka filsafat berikutnya tentang etika Plato. Etika Plato bersifat rasional dan mencerminkan intelektualitas yang tinggi. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Budi ialah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik . Oleh sebab itu,sempurnakanlah pengetahuan dengan pengertian.
Pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi pada ajarannya tentang idea. Dualisme dunia dalam teori pengetahuan diteruskannya ke dalam praktik hidup. Oleh karena itu,kemauan seseorang bergantung pada pendapatnya,nilai kemauannya di tentukan pula oleh pendapat itu. Dari pengetahuan sebenarnya yang di capai dengan dialektik,timbul budi yang lebih tinggi dari pada yang di bawakan oleh pengetahuan dari pandangan jadi menurut Plato ada dua macam budi,yaitu :
1.      Budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian.
2.      Budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orang banyak,sikap hidup yang dipakai tidak terbit dari keyakinan,melainkan di sesuaikan  kepada moral orang banyak dalam hidup sehari - hari.
Plato berpendapat bahwa dalam tiap-tiap negara,segala golongan dan segala orang  seorang adalah alat semata - mata untuk kesehjahteran semuanya. Kesejahteraan semua itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya. Itu pulalah yang mementukan nilai  pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal itu,golongan pengusaha menghasilkan. Golongan penjaga memperlindungi tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi dan mereka memerintah.
Filsafat idea yang di kemukakan Plato pada hakikatnya menetapkan suatu filosofika tentang keberadaan yang ada. Tidak lain bahwa yang ada hanyalah alam idea,karena ia awal dari segala sesuatu,sebagaimana ia mampu mencetak gambaran-gambaran tentang berbagai bentuk. Gambaran yang dibuktikan dalam sebuah karya nyata akan ditiru oleh manusia sepanjang zaman,tetapi semuanya bukan bentuk yang sesungguhnya karena yang paling nyata adalah alam idea sendiri.
Hubungan anatara dunia yang nyata dan dunia yang tidak bertubuh,pada Plato serupa dengan hubungan menjadi pada Herakleitos dan adanya pada Perminides. Idea menjadi dasar bagi yang ada.[7]
Herman berpendapat bahwa dari tulisan-tulisan Plato dapat diikuti perkembangan pikirannya sendiri. Ia bermula dari yang kecil dan maju sampai pada yang besar. Akan tetapi,betapapun berbeda pendirian tentang menangkap buah pikiran Plato dan tentang menentukan urutan tulisan dialognya,segala yang ditulisnya itu dapat ditempatkan dalam empat masa dan tiap-tiap masa mempunyai karakteristik sendiri.
e.       Pokok filosofi Plato
Pokok filosofi Plato adalah mencari pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya Socrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan anatara fikiran dan pandangan ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung pengetahuan dan yang yang dicarinya bersama-sama dengan Socrates. Pengetahuan bukan dari pengalaman,karena pengalaman hanya alasan untuk menuju pengertian  yang diperoleh atas usaha akal sendiri. Demikian pula dengan penglihatan itu semua merupakan jebakan atas keberadaan hakikat sesuatu.
Jika kita melihat seekor kuda yang gagah atau seorang perempuan yang cantik,penglihatan itu hanya mengingatkan dalam kesadaran kita bahwa pengertian gagah yang sebenarnya yang tidak seluruhnya tergambar pada kuda yang gagah itu atau wanita yang cantik. Pengertian gagah yang ssebenarnya bukan kumpulan segala yang gagah yang kelihatan pada benda - benda . terhadap segala yang dipandang itu ideal merupakan suatu idea,cita - cita. Bangunan yang tampak dengan pandangan itu tidak lain hanya gambaran yang tidak sempurna dari banguanan yang sebenarnya dalam pengertian . ia serupa,tetapi tidak sama. Pengertian gagah dari gambaran idea sebenarnya gambaran itu tidak  ada, yang ada hanyalah ideanya.
Idea menurut Plato tidak saja pengertian jenis,tetapi juga bentuk dari keadaan yang sebenarnya. Idea bukanlah suatu pikiran,melainkan suatu realita. Pendapat Plato tentang dunia yang tidak bertubuh serupa dengan pendapat Permindes tentang adanya yang satu,kekal dan tidak berubah - ubah. Akan tetapi yang baru dalam ajaran Plato adalah pendapatnya tentang suatu dunia yang immaterial,dunia yang tidak bertubuh.
Dalam konsepsi Plato,dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh terpisah satu sama lain. Ini kelanjutan dari pendapatnya tentang perbedaan antara pikiran dan pandangan. Pengetahuan dengan pengertian hanya mengenal dunia yang ada dan tidak menjadi.  Pandangan dan pengalaman mengenal dunia yang selalu menjadi. Akan tetapi, dunia yang bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Ada hubungannnya dimana-mana dengan dunia yang tidak bertubuh,dunia idea,yang memberikan makna dan tujuan kepada dunia yang lahir.
Suatu contoh hubungan itu dapat dilihat dalam konsep matematika. Matematika bekerja dengan segitiga,lingkaran dan bulat yang tidak terdapat dalam dunia yang lahir. Semua itu adalah gambaran dari idea yang hidup dalam dunia yang tidak kelihatan,dunia atas. Symbol dari realitas sebenarnya. Bangunan-bangunan yang digambarkan dan dibuat itu adalah tiruan yang tidak sempurna dari bentuk matematika yang sebenarnya. Ia menyerupai idea dari dunia atas,tetapi tidaklah sama.[8]
2.      REALISME ARISTOTELES
Aristoteles merupakan murid dan juga teman serta guru Plato. Ia adalah orang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof. Keluarganya adalah orang – orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Sifat berfikir saintifik ini besar pengaruhnya terhadap Aristoteles. Aristoteles lahir pada tahun 348 SM di Stagira,sebuah kota di Thrace. Ayahnya meninggal tatkala ia masih muda. Kemudian ia diambil oleh Proxenus dan orang inilah yang memberikan pendidikan yang istimewa padanya. Tatkala Aristoteles berusia 18 tahun,ia dikirim ke Athena dan dimasukan ke Akademia Plato.[9]
a.       Ajaran Aristoteles
Aristoteles menentang ajaran gurunya Plato tentang keberadaan dunia ide,dia mengaku bahwa dia sangat menyayangi gurunya,tetapi kecintaanya pada kebenaran membuat dia berbeda pandangan dari gurunya itu. Menurutnya,tidak ada dunia ide itu tidak ada kesegitigaan atau kekudaan yang sumbernya dari dunia ide. Yang ada adalah segitiga atau kuda ini dan itu saja,jadi segitiga dan kuda yang konkret. Tetapi ia setuju dengan pendapat Plato,bahwa pengatahuan yang sejati harus berkenaan dengan yang umum dan universal,bukan hal-hal individual.  Pelajaran penting yang dapat dipetik dari ajaran Plato tentang ide-ide adalah menjamin kemungkinan adanya pengetahuan yang bersifat umum dan kebenarannya tidak nerubah-ubah. Namun,pengatahuan itu bukan dari dunia ide,tetapi dari benda-benda yang dapat di amati.
Oleh karena itu,selain mengemban cara berfikir deduktif,dia pun mengemban cara berfikir atau metode berfikir induktif. Kebalikan dari deduksi atau metode deduktif, metode induktif dimulai dari pengamatan-pengamatan empris dan kemudian ditarik kesimpilan yang isinya melampaui objek-objek yang diamati. Dengan demikian,dalam metode induktif ada proses generalisasi,yakni menarik kesimpulan yang lebih umum dari pada objek-objek yang diamatinya.
b.      Teori Hylemorphism
filsafat Aristoteles mengajarkan sebuah teori tentang hylemorphism yaitu teori “bentuk-materi”. Setiap benda memiliki bentuk sekaligus materi. Misal sebuah patung. Patung terdiri dari bahan tertentu dan bentuk tertentu. Bahan misalnya kayu atau batu, bentuk misalnya kuda atau raja. Bentuk tidak dapat lepas dari materi dan demikian juga sebaliknya bahkan sebelum menjadi bentuk patung,materi yang sama memiliki bentuk yang lain. Misalnya kayu bundar dan panjang atau batu yang lonjong.
Namun Aristoteles tidak mengajarkan materi dan bentuk yang dapat dilihat atau yang bersifat individual,melainkan sebagai prinsip-prinsip metafisis saja. Materi dan bentuk harus di andaikan,bukan harus dilihat dan bersifat individual. Bentuk-bentuk yang dimaksud oleh Aristoteles dianggap sebagi ide-ide (yang sudah ada dalam fikiran manusia) yang sudah pindah kedalam benda-benda konkrit.
Teori ini menjadi dasar bagi filsafat Aristoteles tentang manusia. Berbeda dari pandangan Plato,ia sangat menekankan kesatuan manusia. Manusia merepakan satu kesatuan substansi bentuk dan materi. Bentuk adalah jiwa dan tubuh adalah materi. Karena bentuk melekat pada materi,maka jiwa akan hancur begitu tubuh mati, tidak mungkin ada keabadian jiwa.[10]
c.       Teori Methaphisic
Bila orang-orang sofis banyak yang menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh kebenaran,Aristoteles dalam Methaphysic menyatakan bahwa manusia dapat mencapai kebenaran. Salah satu teori metafisika Aristoteles yang penting adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa matter dan form itu bersatu. Matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan pembungkusnya. Setiap objek terdiri atas matter dan form. Jadi ia telah mengatasi dualisme Plato yang memisahkan matter dan form. Bagi Plato matter dan form berarti sendiri - sendiri. Ia juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan form itu aktualitas.
Terdapat substansi yang murni form,tanpa potentiality,jadi tanpa matter yaitu Tuhan. Aristoteles percaya pada adanya Tuhan.  Bukti adanya tuhan menurutnya ialah Tuhan sebagai penyebab gerak.
d.      Paham Aristoteles
Bagi Aristoteles etika adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan dan sebagai barang yang tertinggi dalam kehidupan. Etika dapat mendidik manusia supaya memiliki sikap yang pantas dalam segala perbuatan. Lebih lanjutnya ia menjelaskan bahwa kebaikan terletak ditengah-tengah antara dua ujung yang paling jauh. Contohnya pemberani adalah sifat baik yang terletak diantara pengecut dan nekad,dermawan terletak diantara kikir dan pemboros,rendah hati terletak diantara berjiwa budi dan sombong.
Menurut Aristoteles,alam idea bukan sekedar bayangan,seperti yang diajarkan oleh Plato. Ia mengakui bahwa hakikat segala sesuatu tidak terletak pada keadaan bendanya, melainkan pada pengertian keberadaannya yakni pada idea. Bagi Aristoteles,idea dan pandangan manusia merupakan sumber segala yang ada.
Pandangannya lebih realistis dari pada pandangan Plato,yang didasarkan pada yang abstrak. Ini akibat dari didikan pada waktu kecil,yang menghadapkannya senantiasa pada kenyataan. Ia terlebih dahulu memandang pada yang konkret,yang nyata. Ia bermula dari mengumpulkan fakta - fakta. Fakta - fakta itu disusunnya  menurut ragam dan jenis atau sifatnya dalam suatu sistem. Kemudian ditinjaunya persangkut pautan satu sama lain. Ia ingin menyelidiki sebab-sebab yang bekerja dalam keadaan yang nyata dan menjadi keterangannya.
Menurut Aristoteles,realitas yang objektif tidak saja tertangkap dengan pengertian, tetapi juga bertepatan dengan dasar - dasar metafisika dan logika yang tertinggi. Dasar itu ada tiga,yaitu :
1.      Semua yang benar harus sesuai dengan adanya sendiri. Tidak mungkin ada kebenaran kalau didalamnya ada pertentangan. Ini terkenal dengan hukum identika.
2.      Dari dua pernyataan tentang sesuatu, jika yang satu membenarkan dan yang lain menyalahkan,hanya satu yang benar. Ini disebut hukum penyangkalan (kontradikta). Inilah menurut Aristoteles yang terpenting dari segala prinsip.
3.      Antara dua pernyataan yang bertentangan mengiyakan dan meniadakan,tidak mungkin ada pernyataan yang ketiga. Dasar ini disebut hukum penyingkiran yang ketiga.
Idea adalah keberadaan yang “ada” sebagai sebab dari segala kejadian. Dari itu dan sebab itu,segala sesuatu ada dan menjadikan keberadaan yang lain “nyata”. Kenyataan harus didefinisikan secara logika,pengertian akan memberikan pemahaman akan pengatahuan yang sesungguhnya. Akan tetapi,untuk mengacu pada pengertian tersebut, dunia idea harus terus dirangsang perkembangannya melalui berbagai pengalaman serta dibantu oleh ilmu lain yang bersiat fisikal dan matematis.
e.       Theologi Aristoteles
Teologi Aristoteles ada dua wajah. Wajah pertama menyerupai kepercayaan agama. Aristoteles berpendapat segala yang terjadi di dunia ini adalah suatu perbuatan yang terwujud oleh Tuhan pembangun alam,yang mengatur segalanya. Selain itu,ia berpendapat bahwa alam ini dan setiap yang hidup didalamnya merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang masing-masing menurut suatu gerak tujuan. “alam tidak berbuat dengan tidak bertujuan”.
Menurut Aristoteles,pelaksanaan etika baru sempurna jika direalisasikan dalam bernegara. Manusia tidak dapat melaksanakannya secara sendiri - sendiri,tetapi senantiasa perlu bantuan dari luar. Pada dasarnya,manusia mempunyai bakat moral, tetapi itu hanya dapat dikembangkannya dalam berhubungan dengan manusia lain. Ia melakukan itu dengan jalan perkawinan,dengan mendirikan keluarga dan akhirnya dalam negara.  Manusia adalah zoon politicon,makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Aristoteles menentang keras konsepsi Plato tentang negara ideal,hal itu dianggapnya bertentangan dengan hukum alam. Ilmu politik tidak membentuk manusia,tetapi menerima manusia sebagaimana alam melahirkannya.
Menurut Aristoteles,manusia terdiri atas benda dan hakikat yang tidak berbenda. Akal adalah abadi dan bersifat ketuhanan serta merupakan wujud yang ketiga. Pikiran ini dipertemukan oleh filosof - filosof islam dengan pengertian-pengertian yang dibentangkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Banyak penulis islam yang menulis bebagai sanggahan terhadap Aristoteles,diantara mereka ialah Abu Zakaria Ar-Razi dan Ibnu Hazm keduanya menentang logika Aristoteles. Aristoteles sebagai “Bapak Logika” telah membuktikan salah satu metode filsafat dalam menggali kebenaran melalui rangkaian premis - premis dan penyimpulan. Namun metode silogisme Aristoteles mengalami masa surut,sebab metode itu hanya mampu meyakinkan kebenaran suatu pernyataan,tetapi tidak menyusun atau menimbulkan kebenaran baru. Metode itu hanya digunakan untuk membuktikan bahwa sesuatu itu benar,namun tidak menetapkan bahwa pernyataan itu benar.[11] Dalam pembahasannya,ia mengatakan bahwa setiap hal atau benda itu tersusun dari “hule” dan “morfe” yang kemudian dikenal dengan “teori hulemorfistik”. Hule adalah dasar permacam-macam. Karena hule-nya,maka suatu benda adalah benda itu sendiri,benda tertentu. Sedangkan morfe adalah dasar kesatuan,yang menjadi inti dari segala sesuatu. Karena morfe-nya,maka segala sesuatu itu sama dengan yang lain (satu inti) termasuk kedalam satu jenis yang sama. Morfe ini berbeda dengan hule. Dan dapat dikenal dengan akal budi saja. Baik hule maupun morfe,merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan hule-nya,segala sesuatu itu maujud di dalam realitas dan karena morfe-nya segala sesuatu itu mengandung arti hakikat sebagai sesuatu.
Pandangan hulemorfismenya itu sejalan dengan pandangan atau teori aktus dan potensia-nya. Aktus adalah dasar kesungguhan,sedangkan potensi adalah dasar kemungkinan. Segala sesuatu itu sungguh - sungguh karena aktusnya,dan segala sesuatu itu mungkin (mengalami perubahan dinamis) karena potensianya. Jadi,jika dipakai untuk memahami sesuatu yang konkret,maka hule merupakan potensianya sedangkan morfe adalah aktusnya. Segala macam perubahan dan perkembangan. (permacam-macam) ini terjadi karena hule yang mengandung potensi dinamis yang bergerak menuju kebentuk-bentuk aktus yang murni. Sedangkan aktus murni itu tidak mengandung potensi apa - apa,jadi bersifat berubah-ubah dan abadi.
Untuk mengetahui makna hakiki setiap sesuatu,maka Aristoteles mengembangkan teori pengetahuan dengan menempuh jalan atau “metode abstraksi”. Menurutnya pengetahuan itu ada dua jenis yaitu  pegetahuan indra dan pengetahuan budi. Pengetahuan indra bertujuan untuk pengenalan tentang hal-hal konkret yang bermacam-macam dan serba berubah. Dan sedangkan pengetahuan budi bertujuan untuk mencapai pengetahuan abstrak,umum dan tetap.  Pengetahuan budi inilah yang kemudian disebut sebagai ilmu pengetahuan.
Antara kedua jenis pengetahuan ini,ada satu kesatuan struktural. Obyek pengetahuan itu bermacam-macam dan bersifat konkret. Karena itu selalu berada di dalam perubahan-perubahan dan perbedaan - perbedaan. Obyek demikian ini dikenal oleh indra,untuk kemudian diolah oleh budi. Budi bertugas untuk mencari idea yang sama yang terkandung dalam permacam - macaman itu,sebagai pengetahuan yang macamnya hanya satu dan karena itu bersifat umum,tetap dan abstrak. Idea yang merupakan pengertian umum ada bersama - sama dengan macam - macam hal yang konkret. Jadi idea itu ada di dalam realitas konkret. Oleh sebab itu Aristoteles berbeda dengan Plato. Aristoteles menerima baik permacam - macaman maupun idea kesamaan itu sebagai hal yang realistis adanya. Sedangkan Plato menolak permacam - macaman itu sebagai kebenaran (yang bermacam - macam itu semu,bayangan) dan menerima dunia idea sebagai kebenaran satu-satunya.[12]






BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Tokoh utama idealisme objektif adalah Plato yang membagi dunia menjai dua bagian,  yaitu dunia persepsi dan alam di atas  alam benda, yaitu alam konsep, ide, universal,  atau esensi yang abadi. Termasuk di dalamnya adalah tema filsafat Hegel dengan idealisme mutlak atau idealisme monistik. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme adalah epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh malalui rasio (akal), melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empiris amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung kepada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik. Filsafat idea yang di kemukakan Plato pada hakikatnya menetapkan suatu filosofika tentang keberadaan yang ada. Tidak lain bahwa yang ada hanyalah alam idea,karena ia awal dari segala sesuatu,sebagaimana ia mampu mencetak gambaran-gambaran tentang berbagai bentuk.
filsafat Aristoteles mengajarkan sebuah teori tentang hylemorphism yaitu teori “bentuk-materi”. Setiap benda memiliki bentuk sekaligus materi. Berbeda dari pandangan Plato,ia sangat menekankan kesatuan manusia. Manusia merepakan satu kesatuan substansi bentuk dan materi. Bentuk adalah jiwa dan tubuh adalah materi. Karena bentuk melekat pada materi,maka jiwa akan hancur begitu tubuh mati, tidak mungkin ada keabadian jiwa. Menurut Aristoteles,alam idea bukan sekedar bayangan,seperti yang diajarkan oleh Plato. Ia mengakui bahwa hakikat segala sesuatu tidak terletak pada keadaan bendanya, melainkan pada pengertian keberadaannya yakni pada idea. Bagi Aristoteles,idea dan pandangan manusia merupakan sumber segala yang ada. Menurut Aristoteles,realitas yang objektif tidak saja tertangkap dengan pengertian, tetapi juga bertepatan dengan dasar - dasar metafisika dan logika yang tertinggi.
B.        Saran
Baik Plato maupun Aristoteles adalah dua orang yang sangat memiliki peran penting dalam dunia kefilsafatan. Keduanya tentu memiliki keunggulan juga kelemahan masing – masing. Untuk itu kita bisa mengambil pelajaran dari keunggulan dan kelemahan yang mereka miliki sebagai bekal kita dalam proses pembelajaran. Memilah mana teorinya yang mana yang memang dirasa pas dengan kita.


[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,Bandung: Remaja Rosdakarya,2013.hlm.57
[2]A.Susanto, Filsafat Ilmu,Jakarta: Bumi Aksara,2011,hlm.40
[3]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,Bandung: Remaja Rosdakarya,2013.hlm.59
[4] Atang Abdul Hakim,Filsafat Umum,Bandung: Pustaka Setia,2008.hlm.206
[5] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,Bandung: Remaja Rosdakarya,2013.hlm.57-58
[6]Zainal Abidin,Pengantar fisafat barat,Jakarta: Rajagrafindo Persada,2001,hlm.102-105  
[7]Atang Abdul Hakim,Filsafat Umum,Bandung: Pustaka Setia,2008.hlm.205
[8]Atang Abdul Hakim,Filsafat Umum,Bandung: Pustaka Setia,2008.hlm.207
[9] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,Bandung: Remaja Rosdakarya,2013.hlm 59

[10] Zainal Abidin,Pengantar fisafat barat,Jakarta: Rajagrafindo Persada,2001,hlm.104-105  
[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,Bandung: Remaja Rosdakarya,2013.hlm.60

Tidak ada komentar:

Posting Komentar