Pendahuluan
Idealisme adalah suatu aliran
yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam
kaitannya dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea,
yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini telah dimiliki oleh Plato
dan pada filsafat modern dipelopori oleh J.G Fichte Schelling, dan Hegel.
Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena
itu, tokoh-tooh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung pada spirit
tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang
digunakan oleh idealisme. Mereka menggunakan argumen yang mengatakan bahwa
objek-objek fisik pada akhirnya adalah ciptaan Tuhan; argumen orang-orang
idealis mengatakan bahwa objek-objek fisik tidak dapat dipahami terlepas dari
spirit.
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini
adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau
deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme adalah
epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh
malalui rasio (akal), melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empiris
amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung
kepada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.
Istilah
realisme berasal dari kata latin realis yang berarti ‘sungguh-sungguh, nyata
benar’. Sepanjang sejarah panjang bervariasi, realisme telah memiliki tema
umum, yang disebut prinsip atau tesis kemerdekaan. Tema ini menyatakan bahwa
realitas, pengetahuan dan nilai yang ada secara independen dari pikiran
manusia. Ini berarti bahwa realisme menolak pandangan idealis bahwa ide-ide
hanya nyata. Realisme Aristoteles didasarkan pada prinsip bahwa ide-ide (atau
bentuk) bisa ada tanpa masalah, tapi tidak peduli bisa eksis tanpa bentuk.
Aristoteles menyatakan bahwa setiap bagian materi memiliki sifat universal dan
khusus. Sebagai contoh, semua orang berbeda dalam sifat-sifat mereka. Kita
semua memiliki berbagai bentuk dan ukuran dan tidak ada dua yang sama. Kami
melakukan semua berbagi sesuatu yang universal yang disebut
“kemanusiaan.”Kualitas universal ini tentunya nyata karena itu ada secara
mandiri dan terlepas dari satu orang. Aristoteles menyebut kualitas bentuk
universal (gagasan atau esensi), yang merupakan aspek nonmaterial dari setiap
objek materi tunggal yang berhubungan dengan semua benda lain dari grup
tersebut.
BAB II
Pembahasan
1.
IDEALISME PLATO
Plato adalah salah seorang murid dan teman Socrates,memperkuat
pendapat gurunya itu. ia dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal
disana pada tahun 347 SM. Ia berasal dari keluarga Aristokrasi yang turun
temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Sebagaimana anak orang
baik – baik pada masa itu,plato mendapat didikan dari guru – guru filsafatnya.
Pelajaran filsafat mula – mula didapatkanya dari Kratylos yaitu murid
Herakleitos yang mengajarkan ‘semuanya berlalu’ seperti air. Rupanya ajaran
semacam itu tidak hinggap didalam hati anak Aristokrat yang terpengaruh oleh
tradisi keluarganya.[1]
a.
Teori ajaran Plato
Tokoh utama idealisme objektif adalah Plato yang membagi dunia
menjai dua bagian,yaitu dunia persepsi dan alam di
atas alam benda,yaitu alam konsep,ide,
universal atau esensi yang abadi. Termasuk di dalamnya adalah tema filsafat
Hegel dengan idealisme mutlak atau idealisme monistik.[2]
Plato dengan ajaran idea yang lepas dari objek yang berada di alam
idea,bukan hasil abstraksi seperti pada Socrates,jelas memperkuat posisi
Socrates dalam menghadapi sofisme. Idea out umum berarti berlaku umun. Sama
dengan gurunya itu,Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran yang umum itu
ada kebenaran yang khusus,yaitu “kongkretisasi” idea di alam ini. “kucing” di
alam idea berlaku umum,kebenaran umum,“kucing hitam di rumah saya” adalah
kucing yang khusus.[3]
Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan rasionalisme. Ini
adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau
deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan rasionalisme adalah
epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa pengetahuan bukan diperoleh
malalui rasio (akal),melainkan melalui pengalaman empiris. Orang-orang empiris
amat sulit menerima paham bahwa semua realitas adalah mental atau bergantung
kepada jiwa atau roh karena pandangan itu melibatkan dogma metafisik.[4]
b.
Analogi Plato
Plato menganalogikan manusia dalam menjalankan kehidupan
sehari-hari dengan para tahanan yang selama hidupnya terkurung dalam gua. Kepala mereka enggan menengok ke
belakang (ke lubang gua) dan hanya terarah pada dinding gua belakang. Oleh
sebab itu mereka tidak dapat melihat sumber cahaya diluar gua. Mereka hanya
dapat melihat bayangan dirinya saja yang sumber cahayanya berasal dari lubang
gua dibelakang badan mereka.
Melalui perumpamaan itu,Plato hendak menyampaikan dua hal,yaitu :
Pertama,kebanyakan manusia terpaku pada kehidupan duniawi,yang
cepat berubah dan fana itu. Seolah-olah kehidupan yang fana itu adalah
kehidupan yang sejati. Padahal kehidupan yang sesungguhnya adalah berupa dunia
ide,yakni dunia yang menjadi sumber yang
memancarkan kehidupan di alam fana ini. Dunia ide yang dimaksudkan oleh Plato
bukanlah ide-ide yang ada dalam pikiran manusia,melainkan dunia objektif yang
ada “diluar sana” (diluar gua) yang mengatasi dunia kehidupan sehari-hari kita.
Kedua,Plato mengkritik pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan
yang sejati adalah pengetahuan inderawi,yang sumbernya adalah pengamatan atau
pengetahuan indera. Padahal pengetahuan sebenarnya bersumber dari rasio dan
berobjekan dunia ide. Dunia panca indera hanya merupakan cermin dari dunia ide.
Dalam dunia ide hanya terdapat hal-hal yang umum,seperti “kesegitigaan” dan
“kekudaan”. Segitiga atau kuda yang kita lihat di dunia ini sesungguhnya adalah
pantulan dari ide segitiga dan kuda yang bersifat umum yang ada dalam dunia
ide. Pengamatan inderawi tidak dapat mengetahui dunia ide. Dunia ide hanya
dapat diketahui melaluli rasio. Plato menganjurkan agar manusia menggunakan rasionya untuk menemukan
kebenaran.[5]
c.
Manusia bersifat dualistik
Selanjutnya Plato menyusun filsafat manusia yang bersifat
dualistik. Manusia terdiri dari dua unsur yang berbeda, yakni tubuh (benda) dan
jiwa (ide-ide). Jiwa merupakan bagian dari dunia ide, sedangkan tubuh dari
dunia yang bersifat fana. Fungsi jiwa adalah untuk mengendalikan nafsu yang
bersumber dari tubuh. Fungsi jiwa seperti kusir pedati yang harus mengendalikan
jalannya kuda (tubuh) yang menarik pedati itu. Selanjutnya,karena jiwa berasal
dari dunia ide maka ia tidak akan musnah meski tubuh (yang berasal dari dunia
fana) sudah hancur (mati).
Keyakinannya pada keberadaan jiwa dan ide membawa Plato pada penyusunan
metode dalam mendapatkan pengetahuan (epistemolgi). Dia mengembangkan metode
deduktif,yakni satu cara berfikir yang dimulai dari premis-premis umum atau
mayor untuk kemudian diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang lebih khusus atau
kesimpulan-kesimpulan yang tidak melampaui premis-premis mayornya.[6]
Menurut Plato,tempat idea itu di dalam dunia yang lain. Segala
pengetahuan adalah tiruan dari yang sebenarnya yang timbul dalam jiwa sebagai ingatan
kepada dunia yang asal. Di sini jiwa muncul sebagai “ penghubung” antara dunia
idea dan dunia yang bertubuh. Karena
melihat sesuatunya,teringat oleh jiwa gambaran yang asal,yang di ketahuinya
sebelum ia turun ke dunia. Pandangan hanya alasan untuk ingat kepada idea.
Segala pengetahuan dengan pengertian adalah ingatan.
Menurut Plato juga,sebanyak pengertian sebanyak itu pula jenis idea terhadap tiap pengertian yang bersangkutan
dengan barang,sifat,hubungan,ada idea yang bertepatan. Akan tetapi,seluruh
dunia idea itu merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat tingkatan
derajat. Idea yang tertinggi ialah idea kebaikan,sebagai tuhan yang membentuk
dunia. Plato yang menyamakannya dengan matahari yang menyinari semuanya. Idea
kebaikan tidak saja sebab timbulnya
tujuan pengetahuan dalam dunia yang lahir,tetapi juga sebab tumbuh dan
berkembang segala galanya. idea kebaikan adalah pokok. Oleh karna itu,dunia
idea tersusun menurut sistem teologi. Suatu susunan yang teratur tepat menurut
tujuan yang sudah tertentu. karena sinar
yang memancar dari idea kebaikan. Semuanya tertarik padanya dan karena
itu ia jadi sebab tujuan dari segalanya dalam dunia yang asal,ia sebab dari
adanya dan pengetahuan. akan tetapi,sebab itu pada hakikatnya tidak lain dari pada
tujuan.
d.
Etika Plato
Gagasan Plato tentang alam idea telah membuka filsafat berikutnya
tentang etika Plato. Etika Plato bersifat rasional dan mencerminkan
intelektualitas yang tinggi. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Budi
ialah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik . Oleh
sebab itu,sempurnakanlah pengetahuan dengan pengertian.
Pendapat Plato seterusnya tentang etik bersendi pada ajarannya
tentang idea. Dualisme dunia dalam teori pengetahuan diteruskannya ke dalam
praktik hidup. Oleh karena itu,kemauan seseorang bergantung pada pendapatnya,nilai
kemauannya di tentukan pula oleh pendapat itu. Dari pengetahuan sebenarnya yang
di capai dengan dialektik,timbul budi yang lebih tinggi dari pada yang di
bawakan oleh pengetahuan dari pandangan jadi menurut Plato ada dua macam
budi,yaitu :
1.
Budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian.
2.
Budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orang banyak,sikap hidup
yang dipakai tidak terbit dari keyakinan,melainkan di sesuaikan kepada moral orang banyak dalam hidup sehari -
hari.
Plato berpendapat bahwa dalam tiap-tiap negara,segala golongan dan
segala orang seorang adalah alat semata -
mata untuk kesehjahteran semuanya. Kesejahteraan semua itulah yang menjadi
tujuan yang sebenarnya. Itu pulalah yang mementukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam negara yang ideal
itu,golongan pengusaha menghasilkan. Golongan penjaga memperlindungi tetapi
tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi dan mereka
memerintah.
Filsafat idea yang di kemukakan Plato pada hakikatnya menetapkan
suatu filosofika tentang keberadaan yang ada. Tidak lain bahwa yang ada
hanyalah alam idea,karena ia awal dari segala sesuatu,sebagaimana ia mampu
mencetak gambaran-gambaran tentang berbagai bentuk. Gambaran yang dibuktikan
dalam sebuah karya nyata akan ditiru oleh manusia sepanjang zaman,tetapi
semuanya bukan bentuk yang sesungguhnya karena yang paling nyata adalah alam
idea sendiri.
Hubungan anatara dunia yang nyata dan dunia yang tidak bertubuh,pada
Plato serupa dengan hubungan menjadi pada Herakleitos dan adanya pada Perminides. Idea menjadi dasar bagi yang ada.[7]
Herman berpendapat bahwa dari tulisan-tulisan Plato dapat diikuti
perkembangan pikirannya sendiri. Ia bermula dari yang kecil dan maju sampai
pada yang besar. Akan tetapi,betapapun berbeda pendirian tentang menangkap buah
pikiran Plato dan tentang menentukan urutan tulisan dialognya,segala yang
ditulisnya itu dapat ditempatkan dalam empat masa dan tiap-tiap masa mempunyai
karakteristik sendiri.
e.
Pokok filosofi Plato
Pokok filosofi Plato adalah mencari pengetahuan tentang
pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya Socrates yang mengatakan “budi
ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang
pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan anatara fikiran dan pandangan
ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung pengetahuan dan yang yang
dicarinya bersama-sama dengan Socrates. Pengetahuan bukan dari pengalaman,karena
pengalaman hanya alasan untuk menuju pengertian
yang diperoleh atas usaha akal sendiri. Demikian pula dengan penglihatan
itu semua merupakan jebakan atas keberadaan hakikat sesuatu.
Jika kita melihat seekor kuda yang gagah atau seorang perempuan
yang cantik,penglihatan itu hanya mengingatkan dalam kesadaran kita bahwa
pengertian gagah yang sebenarnya yang tidak seluruhnya tergambar pada kuda yang
gagah itu atau wanita yang cantik. Pengertian gagah yang ssebenarnya bukan
kumpulan segala yang gagah yang kelihatan pada benda - benda . terhadap segala
yang dipandang itu ideal merupakan suatu idea,cita - cita. Bangunan yang tampak
dengan pandangan itu tidak lain hanya gambaran yang tidak sempurna dari
banguanan yang sebenarnya dalam pengertian . ia serupa,tetapi tidak sama.
Pengertian gagah dari gambaran idea sebenarnya gambaran itu tidak ada, yang ada hanyalah ideanya.
Idea menurut Plato tidak saja pengertian jenis,tetapi juga bentuk
dari keadaan yang sebenarnya. Idea bukanlah suatu pikiran,melainkan suatu
realita. Pendapat Plato tentang dunia yang tidak bertubuh serupa dengan
pendapat Permindes tentang adanya yang
satu,kekal dan tidak berubah - ubah. Akan tetapi yang baru dalam ajaran
Plato adalah pendapatnya tentang suatu dunia yang immaterial,dunia yang tidak
bertubuh.
Dalam konsepsi Plato,dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bertubuh
terpisah satu sama lain. Ini kelanjutan dari pendapatnya tentang perbedaan
antara pikiran dan pandangan. Pengetahuan dengan pengertian hanya mengenal
dunia yang ada dan tidak menjadi.
Pandangan dan pengalaman mengenal dunia yang selalu menjadi. Akan
tetapi, dunia yang bertubuh tidaklah semata-mata berdiri sendiri. Ada
hubungannnya dimana-mana dengan dunia yang tidak bertubuh,dunia idea,yang
memberikan makna dan tujuan kepada dunia yang lahir.
Suatu contoh hubungan itu dapat dilihat dalam konsep matematika.
Matematika bekerja dengan segitiga,lingkaran dan bulat yang tidak terdapat
dalam dunia yang lahir. Semua itu adalah gambaran dari idea yang hidup dalam
dunia yang tidak kelihatan,dunia atas. Symbol dari realitas sebenarnya.
Bangunan-bangunan yang digambarkan dan dibuat itu adalah tiruan yang tidak
sempurna dari bentuk matematika yang sebenarnya. Ia menyerupai idea dari dunia
atas,tetapi tidaklah sama.[8]
2.
REALISME ARISTOTELES
Aristoteles merupakan murid dan juga teman serta guru Plato. Ia
adalah orang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof.
Keluarganya adalah orang – orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Sifat
berfikir saintifik ini besar pengaruhnya terhadap Aristoteles. Aristoteles
lahir pada tahun 348 SM di Stagira,sebuah kota di Thrace. Ayahnya meninggal
tatkala ia masih muda. Kemudian ia diambil oleh Proxenus dan orang inilah yang
memberikan pendidikan yang istimewa padanya. Tatkala Aristoteles berusia 18
tahun,ia dikirim ke Athena dan dimasukan ke Akademia Plato.[9]
a.
Ajaran Aristoteles
Aristoteles menentang ajaran gurunya Plato tentang keberadaan dunia
ide,dia mengaku bahwa dia sangat menyayangi gurunya,tetapi kecintaanya pada
kebenaran membuat dia berbeda pandangan dari gurunya itu. Menurutnya,tidak ada
dunia ide itu tidak ada kesegitigaan atau kekudaan yang sumbernya dari dunia
ide. Yang ada adalah segitiga atau kuda ini dan itu saja,jadi segitiga dan kuda
yang konkret. Tetapi ia setuju dengan pendapat Plato,bahwa pengatahuan yang
sejati harus berkenaan dengan yang umum dan universal,bukan hal-hal individual. Pelajaran penting yang dapat dipetik dari
ajaran Plato tentang ide-ide adalah menjamin kemungkinan adanya pengetahuan
yang bersifat umum dan kebenarannya tidak nerubah-ubah. Namun,pengatahuan itu
bukan dari dunia ide,tetapi dari benda-benda yang dapat di amati.
Oleh karena itu,selain mengemban cara berfikir deduktif,dia pun
mengemban cara berfikir atau metode berfikir induktif. Kebalikan dari deduksi
atau metode deduktif, metode induktif dimulai dari pengamatan-pengamatan empris
dan kemudian ditarik kesimpilan yang isinya melampaui objek-objek yang diamati.
Dengan demikian,dalam metode induktif ada proses generalisasi,yakni menarik
kesimpulan yang lebih umum dari pada objek-objek yang diamatinya.
b.
Teori Hylemorphism
filsafat Aristoteles mengajarkan sebuah teori tentang hylemorphism
yaitu teori “bentuk-materi”. Setiap benda memiliki bentuk sekaligus materi.
Misal sebuah patung. Patung terdiri dari bahan tertentu dan bentuk tertentu.
Bahan misalnya kayu atau batu, bentuk misalnya kuda atau raja. Bentuk tidak
dapat lepas dari materi dan demikian juga sebaliknya bahkan sebelum menjadi
bentuk patung,materi yang sama memiliki bentuk yang lain. Misalnya kayu bundar
dan panjang atau batu yang lonjong.
Namun Aristoteles tidak mengajarkan materi dan bentuk yang dapat
dilihat atau yang bersifat individual,melainkan sebagai prinsip-prinsip metafisis
saja. Materi dan bentuk harus di andaikan,bukan harus dilihat dan bersifat
individual. Bentuk-bentuk yang dimaksud oleh Aristoteles dianggap sebagi
ide-ide (yang sudah ada dalam fikiran manusia) yang sudah pindah kedalam
benda-benda konkrit.
Teori ini menjadi dasar bagi filsafat Aristoteles tentang manusia.
Berbeda dari pandangan Plato,ia sangat menekankan kesatuan manusia. Manusia merepakan
satu kesatuan substansi bentuk dan materi. Bentuk adalah jiwa dan tubuh adalah
materi. Karena bentuk melekat pada materi,maka jiwa akan hancur begitu tubuh
mati, tidak mungkin ada keabadian jiwa.[10]
c.
Teori Methaphisic
Bila orang-orang sofis banyak yang menganggap manusia tidak akan
mampu memperoleh kebenaran,Aristoteles dalam Methaphysic menyatakan bahwa
manusia dapat mencapai kebenaran. Salah satu teori metafisika Aristoteles yang
penting adalah pendapatnya yang mengatakan bahwa matter dan form
itu bersatu. Matter memberikan substansi sesuatu, form memberikan
pembungkusnya. Setiap objek terdiri atas matter dan form. Jadi ia
telah mengatasi dualisme Plato yang memisahkan matter dan form.
Bagi Plato matter dan form berarti sendiri - sendiri. Ia juga
berpendapat bahwa matter itu potensial dan form itu aktualitas.
Terdapat substansi yang murni form,tanpa potentiality,jadi tanpa
matter yaitu Tuhan. Aristoteles percaya pada adanya Tuhan. Bukti adanya tuhan menurutnya ialah Tuhan
sebagai penyebab gerak.
d.
Paham Aristoteles
Bagi Aristoteles etika adalah sarana untuk mencapai kebahagiaan dan
sebagai barang yang tertinggi dalam kehidupan. Etika dapat mendidik manusia
supaya memiliki sikap yang pantas dalam segala perbuatan. Lebih lanjutnya ia menjelaskan
bahwa kebaikan terletak ditengah-tengah antara dua ujung yang paling jauh.
Contohnya pemberani adalah sifat baik yang terletak diantara pengecut dan
nekad,dermawan terletak diantara kikir dan pemboros,rendah hati terletak
diantara berjiwa budi dan sombong.
Menurut Aristoteles,alam idea bukan sekedar bayangan,seperti yang
diajarkan oleh Plato. Ia mengakui bahwa hakikat segala sesuatu tidak terletak
pada keadaan bendanya, melainkan pada pengertian keberadaannya yakni pada idea.
Bagi Aristoteles,idea dan pandangan manusia merupakan sumber segala yang ada.
Pandangannya lebih realistis dari pada pandangan Plato,yang
didasarkan pada yang abstrak. Ini akibat dari didikan pada waktu kecil,yang
menghadapkannya senantiasa pada kenyataan. Ia terlebih dahulu memandang pada
yang konkret,yang nyata. Ia bermula dari mengumpulkan fakta - fakta. Fakta - fakta
itu disusunnya menurut ragam dan jenis
atau sifatnya dalam suatu sistem. Kemudian ditinjaunya persangkut pautan satu
sama lain. Ia ingin menyelidiki sebab-sebab yang bekerja dalam keadaan yang
nyata dan menjadi keterangannya.
Menurut Aristoteles,realitas yang objektif tidak saja tertangkap
dengan pengertian, tetapi juga bertepatan dengan dasar - dasar metafisika dan
logika yang tertinggi. Dasar itu ada tiga,yaitu :
1.
Semua yang benar harus sesuai dengan adanya sendiri. Tidak mungkin
ada kebenaran kalau didalamnya ada pertentangan. Ini terkenal dengan hukum
identika.
2.
Dari dua pernyataan tentang sesuatu, jika yang satu membenarkan dan
yang lain menyalahkan,hanya satu yang benar. Ini disebut hukum penyangkalan
(kontradikta). Inilah menurut Aristoteles yang terpenting dari segala prinsip.
3.
Antara dua pernyataan yang bertentangan mengiyakan dan meniadakan,tidak
mungkin ada pernyataan yang ketiga. Dasar ini disebut hukum penyingkiran yang
ketiga.
Idea adalah keberadaan yang “ada” sebagai sebab dari segala kejadian.
Dari itu dan sebab itu,segala sesuatu ada dan menjadikan keberadaan yang lain
“nyata”. Kenyataan harus didefinisikan secara logika,pengertian akan memberikan
pemahaman akan pengatahuan yang sesungguhnya. Akan tetapi,untuk mengacu pada
pengertian tersebut, dunia idea harus terus dirangsang perkembangannya melalui
berbagai pengalaman serta dibantu oleh ilmu lain yang bersiat fisikal dan
matematis.
e.
Theologi Aristoteles
Teologi Aristoteles ada dua wajah. Wajah pertama menyerupai
kepercayaan agama. Aristoteles berpendapat segala yang terjadi di dunia ini
adalah suatu perbuatan yang terwujud oleh Tuhan pembangun alam,yang mengatur
segalanya. Selain itu,ia berpendapat bahwa alam ini dan setiap yang hidup
didalamnya merupakan berbagai jenis organisme yang berkembang masing-masing
menurut suatu gerak tujuan. “alam tidak berbuat dengan tidak bertujuan”.
Menurut Aristoteles,pelaksanaan etika baru sempurna jika direalisasikan
dalam bernegara. Manusia tidak dapat melaksanakannya secara sendiri - sendiri,tetapi
senantiasa perlu bantuan dari luar. Pada dasarnya,manusia mempunyai bakat
moral, tetapi itu hanya dapat dikembangkannya dalam berhubungan dengan manusia
lain. Ia melakukan itu dengan jalan perkawinan,dengan mendirikan keluarga dan
akhirnya dalam negara. Manusia adalah zoon
politicon,makhluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri. Aristoteles
menentang keras konsepsi Plato tentang negara ideal,hal itu dianggapnya bertentangan
dengan hukum alam. Ilmu politik tidak membentuk manusia,tetapi menerima manusia
sebagaimana alam melahirkannya.
Menurut Aristoteles,manusia terdiri atas benda dan hakikat yang
tidak berbenda. Akal adalah abadi dan bersifat ketuhanan serta merupakan wujud
yang ketiga. Pikiran ini dipertemukan oleh filosof - filosof islam dengan
pengertian-pengertian yang dibentangkan dalam berbagai ayat Al-Qur’an. Banyak
penulis islam yang menulis bebagai sanggahan terhadap Aristoteles,diantara mereka
ialah Abu Zakaria Ar-Razi dan Ibnu Hazm keduanya menentang logika Aristoteles. Aristoteles
sebagai “Bapak Logika” telah membuktikan salah satu metode filsafat dalam
menggali kebenaran melalui rangkaian premis - premis dan penyimpulan. Namun
metode silogisme Aristoteles mengalami masa surut,sebab metode itu hanya mampu
meyakinkan kebenaran suatu pernyataan,tetapi tidak menyusun atau menimbulkan
kebenaran baru. Metode itu hanya digunakan untuk membuktikan bahwa sesuatu itu
benar,namun tidak menetapkan bahwa pernyataan itu benar.[11] Dalam
pembahasannya,ia mengatakan bahwa setiap hal atau benda itu tersusun dari “hule”
dan “morfe” yang kemudian dikenal dengan “teori hulemorfistik”. Hule
adalah dasar permacam-macam. Karena hule-nya,maka suatu benda adalah benda itu
sendiri,benda tertentu. Sedangkan morfe adalah dasar kesatuan,yang menjadi inti
dari segala sesuatu. Karena morfe-nya,maka segala sesuatu itu sama
dengan yang lain (satu inti) termasuk kedalam satu jenis yang sama. Morfe
ini berbeda dengan hule. Dan dapat dikenal dengan akal budi saja. Baik hule
maupun morfe,merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan hule-nya,segala
sesuatu itu maujud di dalam realitas dan karena morfe-nya segala sesuatu itu
mengandung arti hakikat sebagai sesuatu.
Pandangan
hulemorfismenya itu sejalan dengan pandangan atau teori aktus dan potensia-nya.
Aktus adalah dasar kesungguhan,sedangkan potensi adalah dasar kemungkinan.
Segala sesuatu itu sungguh - sungguh karena aktusnya,dan segala sesuatu itu
mungkin (mengalami perubahan dinamis) karena potensianya. Jadi,jika dipakai untuk
memahami sesuatu yang konkret,maka hule merupakan potensianya sedangkan morfe
adalah aktusnya. Segala macam perubahan dan perkembangan. (permacam-macam) ini
terjadi karena hule yang mengandung potensi dinamis yang bergerak menuju
kebentuk-bentuk aktus yang murni. Sedangkan aktus murni itu tidak mengandung
potensi apa - apa,jadi bersifat berubah-ubah dan abadi.
Untuk mengetahui
makna hakiki setiap sesuatu,maka Aristoteles mengembangkan teori pengetahuan
dengan menempuh jalan atau “metode abstraksi”. Menurutnya pengetahuan itu ada
dua jenis yaitu pegetahuan indra dan
pengetahuan budi. Pengetahuan
indra bertujuan untuk pengenalan tentang hal-hal konkret yang bermacam-macam
dan serba berubah. Dan sedangkan pengetahuan budi bertujuan untuk mencapai
pengetahuan abstrak,umum dan tetap. Pengetahuan budi inilah yang kemudian
disebut sebagai ilmu pengetahuan.
Antara kedua
jenis pengetahuan ini,ada satu kesatuan struktural. Obyek pengetahuan itu
bermacam-macam dan bersifat konkret. Karena itu selalu berada di dalam
perubahan-perubahan dan perbedaan - perbedaan. Obyek demikian ini dikenal oleh
indra,untuk kemudian diolah oleh budi. Budi bertugas untuk mencari idea yang
sama yang terkandung dalam permacam - macaman itu,sebagai pengetahuan yang
macamnya hanya satu dan karena itu bersifat umum,tetap dan abstrak. Idea yang
merupakan pengertian umum ada bersama - sama dengan macam - macam hal yang
konkret. Jadi idea itu ada di dalam realitas konkret. Oleh sebab itu Aristoteles
berbeda dengan Plato. Aristoteles menerima baik permacam - macaman maupun idea
kesamaan itu sebagai hal yang realistis adanya. Sedangkan Plato menolak
permacam - macaman itu sebagai kebenaran (yang bermacam - macam itu semu,bayangan)
dan menerima dunia idea sebagai kebenaran satu-satunya.[12]
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Tokoh
utama idealisme objektif adalah Plato yang membagi dunia menjai dua
bagian, yaitu dunia persepsi dan alam di
atas alam benda, yaitu alam konsep, ide,
universal, atau esensi yang abadi.
Termasuk di dalamnya adalah tema filsafat Hegel dengan idealisme mutlak atau
idealisme monistik. Idealisme secara umum selalu berhubungan dengan
rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan
apriori atau deduktif dapat diperoleh manusia dengan akalnya. Lawan
rasionalisme adalah epistemologi adalah empiris yang mengatakan bahwa
pengetahuan bukan diperoleh malalui rasio (akal), melainkan melalui pengalaman
empiris. Orang-orang empiris amat sulit menerima paham bahwa semua realitas
adalah mental atau bergantung kepada jiwa atau roh karena pandangan itu
melibatkan dogma metafisik. Filsafat idea yang di kemukakan Plato pada
hakikatnya menetapkan suatu filosofika tentang keberadaan yang ada. Tidak lain
bahwa yang ada hanyalah alam idea,karena ia awal dari segala
sesuatu,sebagaimana ia mampu mencetak gambaran-gambaran tentang berbagai
bentuk.
filsafat Aristoteles mengajarkan sebuah teori tentang hylemorphism
yaitu teori “bentuk-materi”. Setiap benda memiliki bentuk sekaligus materi.
Berbeda dari pandangan Plato,ia sangat menekankan kesatuan manusia. Manusia
merepakan satu kesatuan substansi bentuk dan materi. Bentuk adalah jiwa dan
tubuh adalah materi. Karena bentuk melekat pada materi,maka jiwa akan hancur
begitu tubuh mati, tidak mungkin ada keabadian jiwa. Menurut Aristoteles,alam
idea bukan sekedar bayangan,seperti yang diajarkan oleh Plato. Ia mengakui
bahwa hakikat segala sesuatu tidak terletak pada keadaan bendanya, melainkan
pada pengertian keberadaannya yakni pada idea. Bagi Aristoteles,idea dan
pandangan manusia merupakan sumber segala yang ada. Menurut
Aristoteles,realitas yang objektif tidak saja tertangkap dengan pengertian,
tetapi juga bertepatan dengan dasar - dasar metafisika dan logika yang
tertinggi.
B.
Saran
Baik Plato maupun Aristoteles adalah dua orang yang sangat memiliki
peran penting dalam dunia kefilsafatan. Keduanya tentu memiliki keunggulan juga
kelemahan masing – masing. Untuk itu kita bisa mengambil pelajaran dari
keunggulan dan kelemahan yang mereka miliki sebagai bekal kita dalam proses
pembelajaran. Memilah mana teorinya yang mana yang memang dirasa pas dengan
kita.
[2]A.Susanto, Filsafat Ilmu,Jakarta:
Bumi Aksara,2011,hlm.40
[3]Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,Bandung:
Remaja Rosdakarya,2013.hlm.59
[4] Atang Abdul Hakim,Filsafat Umum,Bandung: Pustaka
Setia,2008.hlm.206
[6]Zainal Abidin,Pengantar fisafat barat,Jakarta: Rajagrafindo
Persada,2001,hlm.102-105
[7]Atang Abdul Hakim,Filsafat Umum,Bandung: Pustaka
Setia,2008.hlm.205
[8]Atang Abdul Hakim,Filsafat Umum,Bandung: Pustaka
Setia,2008.hlm.207
Tidak ada komentar:
Posting Komentar