Selasa, 12 Mei 2015

sistematika pembagian filsafat



BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
            Filsaafat adalah pencarian kebenaranan alur berfikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti system yang berlaku sehingga tahapan-tahapannya mudah diikuti. Berfikir sistematis tentu tidak loncat-loncat, melainkan mengikuti peraturan main yang benar, filsafat juga merupakan seni kritik yang bukan semaata-mata membatasi diri pada destruksi atau seakan-akan takut untuk membawa pandaangan fositfnya sendiri.
            Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, sedangkan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Berfilsafat mendorong untuk mengetahui apa yang telah kita tahu dan apa yang belum kita tahu. Karena itu mempelajari ilmu filsafat sangatlah penting untuk menjadikan kita lebih kritis dan radikal.

B.Rumusan Masalah
            1.Apa yang dimaksud dengan Epistemologi
            2.Apa yang dimaksud dengan Rasionalisme
            3.Apa yang dimaksud denagn Empirisme
            4.Apa yang dimaksud dengan Intusionisme
            5.Apa yang dimaksud dengan Skeptisme
            6.Apa yang dimaksud dengan Kritisisme

C.Tujuan Makalah
Kita ingin mengetahui beberapa sistematika pembagian filsafat
1.      mengetahui Apa yang dimaksud dengan epistemologi
2.      mengetahui apa yang dimaksud dengan Rasionalisme
3.      mengetahui pa yang dmaksud dengan Empirisme
4.      mengetahui apa yang dimamsud dengan Intusionisme
5.      mengetahui apa yang dimaksud dengan Skeptisme
6.      mengetahui apa yang dimaksud dengan Kritisme
                                                       
                                                        BAB II
PEMBAHASAN

Sistematika Pembagian Filsafat
A.    Epistemologi
            Epistemologi adalah cabang utama filsafat yang membicarakan tentang pengetahan manusia beberap permasalahan dalam epitemologi adalah bagaimana memperoleh pengetahuan yang bisa menjamin kebenaran kenyataan, metode dan sara serta sumber apa yang dapat dipercaya untuk mendapatkan pengetahuan. Apapun aliran dan permasalahan yang dibicarakan dalam epistemology tidak bisa dilepaskan dari peran akal. Yang berhasrat ingin tahu adalah manusia yang berakal apa yang diketahui, diolah, dan tersimpan diakal.
            Disinilah Nietzsche mengajukan pandangan kontroversialnya.Pandangan epistemologinya diawali dengan suatu asumsi dasar bahwa kita harus menggunakan skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercayadari akal. Terlalu naif jika akal dipercaya mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orang beranggapan dengan akal di peroleh pengetahuanatau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber kekeliruan.
            Secara implisit, pernyataan ini sudah merupakan penghalang bagi oranglain untuk melirik pandangan epistemologinya, karena apa yang diungkapkan dan di pikirkan Nietzschepun dengan sendirinya juga dianggap salah. Kesalahan atau kekeliruan adalah momok bagi mereka yang ingin mendapatkan kebenaran. Inilah gambaran sekilas tentang epistemologi Nietzsche, namun jika dipahami secara mendalam banyak sekali aspek-aspek yang belum tergali inilah yang menyebabkan kesalahpahaman terhadap pemikiran-pemikiran Nietzsche.
            Hal ini bisa dianalogikan dengan seorang mahasiswa kedokteran yang mempelajari ilmu kedokteran dengan asumsi dasar bahwa nyawa manusia ada ditangan Tuhan. Sehingga pada hakiktnya tidak ada yang diharapkan bisa dilakukan oleh seorang dokter.
            Wacana epistemologi, sejak zaman plato sampai dengan zaman Descartes, bahkan sampai pada zaman kontemporer sekarang ini adalah berupaya untuk mencari kebenaran. Namun tidak bagi Nietzsche. Pengetahuan itu tidak untuk mencari kebenaran. Pengetahuan itu untuk mengukuhkan kekuasaa. Pengetahuan itu untuk berkuasa. Pengetahuan itu selalu terkait dengan kehendak untuk berkuasa ( the will of power ).
            Epistemologi Nietzsche ditengah zaman modern yang ditandai dengan dominasi akal ini tampak aneh dan sulit untuk diterima. Pendobrakan dogmatisme ( kemapanan ) akal dengan konsep the will to power, membuat Nitzsche seperti dalang yang keluar dari pakem. Perbedaan itu sangat tampak sekali dan bahkan berkontradiksi 180 derajat antara filsafat Nietzsche dengan pemikir-pemikir besar yang menjadi kekuatan mainstream saat itu, baik dalam penggunaan bahasa epistemologi maupun materi yang disajikan.
            Terlepas dari semua itu, epistemologi Nietzsche layak untuk dikaji dan diperbincangkan. Pemikirannya yang tidak bisa diterima oleh zamannya telah mulai menunjukan pengaruh dan kekuatannya pada masa sekarang ini. Hal ini dapat dirasakan pada epistemologi Karl Popper dengan falsifikasinya dan juga pada pemikiran kaum eksistensialis. Nuansa Nietzschean dalam epistemologi postmodernisme ( pluralisme , dekontruksi, relativitas ) sangat terasa sekali. Dalam rangka memahami epistemologinya, tulisan ini sebisa mungkin disajikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana, yang enak direncana sebagaimana bahasa yang digunakan Nietzsche.
B. Karakteristik Epistemologi Nietzsche
            Mempelajari epistemologi Nietzsche tanpa menelaah keseluruhan filsafatnya seperti mengambil mozaik terpisah dari keseluruhannya, sehingga akan tampak aneh dan tidak bermakna. Ia tudak membahas epistemologi sebagai cabang filsafat tersendiri sebagaimana filsuf-filsuf lain. Epistemolognya merupakan sebagian kecil dari konsep the will to power. Dalam tulisan ini tidak mungkin di ungkapkan keseluruhan.
C. Rasionalisme
            Descartes di anggap sebagai bapak aliran filsafat modern. Di samping seorang tokoh rasionalisme, ia pun sebagai filosof yang ajaran filsafatnya sangat popular, karena pandangannya yang tidak pernah goyah, tentang kebenaran tertinggi berada pada akal rasio manusia. Rene Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholstik yang pandangan-pandangannya saling bertentangan, dan tidak ada kepastian di sebabkan oleh miskinnya metode berfikir yang tepat. Descartes mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu-ragu terhadap sesuatu, dalam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berfikir. Sebab, yang sedang berfikir itu tentu ada dan jelas terang benderang.
            Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada kebenaran. Yang benar hanyalah tindakan akal yang terang benderang yang disebutnya ideas claires el distinctes (fikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang ini pemberian tuhan sebelum orang dilahirkan(idea innatae=ide bawaan). Sebagai pemberian tuhan maka yang mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliaran ini disebut rasionalisme. Adapun pengetahuan indra dianggap sering menyesatkan.
            Rasionalisme adalah paham filsafat yang menytakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliaran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir.
            Para tokoh rasionalisme, diantaranya adalah Descartes(1596-1650 M), Spinoza (1632-1677 M) dan Leibniz (1646-1716 M). aliran rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama,aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan brgunakan dalam menyusun teori pengetahuan. Hanya saja, empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, sedangkan rasionalisme diperpleh dengan cara berfikir, pengetahuan dari empirisme dianggapa sering menyesatkan. Adapun alat berfikir adalah kaidah-kaidah yang logis.
            Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak didalam idea dan bukan didalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makana ide yang sesuai dengan atau yang menunjuk pada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada didalam pikiran seseorang dan hanya bisa dipeoleh dengan akal budi saja.
            Decorates,salah seorang pelopor rasionalisme berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan lagi. Kebenaran itu, menurutnya adalah dia tidak ragu bahwa dia ragu. Pernyataan tersebut terkenal dengan semboyannyacogito ergo sum(saya ragu maka saya ada). Ia yakin bahwa kebenaran-kebenaran semacam itu, ada dan kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi. Dengan demikian, kebenaran itu bisa dipahami lewat sejenis perantara khusus, yang dengan perantara itu dapat dikenal kebenaran dan dengan suatu teknik deduktif yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan keenaran.
D.Empirisme
Empirisme adalah sesuatu yang cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan caramemperoleh penegetahuan dengan melalui pengalaman. Menurut empirisme, pengetahuan diperoleh dengan perantara panca indra. Panca indra mendapatkan kesan-kesan dari apa yang ada didalam nyata dan kesan-kesan itu berkumpul dalam diri manusia. Pengetahuan tersususun dari pengaturan kesan-kesan semacam ini.
            Seorang empirisme berpendirian bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan melelui pengalaman. Ciri yang menonjol dari jawaban ini dapat dilihat bila diperhatikan pertanyaan seperti, “ bagaimana orang mengetahui es dingin ?” jawaban seorang empiris akan berbunyi, “krena saya merasakan hal itu atau krena seorang ilmuan telah merasakan seperti itu.”dalam pernyataan tersebut ada tiga unsur yang perlu, yaitu yang mengetahui (subjek), yang di ketahui (objek), dan cara dia mengetahui bahwa e situ dingin? Dengan menyentuh langsung lewat alat peraba. Dengan kata lain, seorang empiris akan mengatakan bahwa pengetahuan itu di peroleh lewat pengalaman-pengalaman indrawi yang sesuai.[1]
            John lock, bapak empirisme britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan kosong (tabula rasa),[2] dan di dalam buku catatan itulah di tulis pengalaman-pengalaman indrawi. Menurutnya, seluruh sisa pengetahuan kita di proleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang di peroleh dari pengindraan serta refleksi yang pertama dan sederhana tersebut.
            Dia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil pengindraan.ini berarti semua pengetahuan kita,betapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai pada pengalaman-pengalaman indrawi yag pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali maka yang demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukan pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
            Empirisme radikal yaitu mereka yang berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu dianggap bukan pengetahuan, dinamakan penganut empirisme radikal.[3]
            Seorang empirisme berpendirian bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman.
            David Hume menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian sebab-akibat. Sebab dan akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan terjadi seperti, api membuat air mendidih. Padahal dalam api tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air. Jadi daya aktif yang disebut hukum kausalitas itu bukanlah hal yang dapat diamati, bukan hal yang dapat dilihat dengan mata sebagai berada dala air yang direbus. Dengan demikian kausalitas tidak bisa digunakan untuk menetapkan peristiwa yang akan datang berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terdahulu.

E.Intusionisme
            Menurut Henry Bergson intuisi adalah sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis,menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh peggambaran secara simbolis. Karena itu, intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh lewat pelukisan tidak dapat menggantikan hasil pengenalan intuisi.
            Dalam tasawuf,intuisi ini disebut dengan makrifah, yaitu pengetahuan yang datang dari tuhan melalui pencerahan dan penyinaran. Istilah inijuga sering disebut dengan illuminasi. Intuisi dalam filsafat barat diperoleh lewat usaha perenungan dan pemikiran yang konsisten, sedangkan dalam islam makrifah diperoleh lewat perenugan dan penyinaran dari tuhan. Jalaluddin arrumi pernah mengatakan, “ berjalanlah kamu kesebuah tempat dan tunggulah disana penyinaran dari tuhan “ al rumi juga menggambarkan bahwa penyinaran atau anugrah itu bagaikan seorang penyelam mencari mutiara. Untuk sampai kedasar laut seseorang, demikian al rumi, harus memiliki keterampilan berenang dan menyelam. Jika memiliki keterampilan berenang dan menyelam, dia harus memakai alat khusus. Dan ketika sampai didasar lautan dia mulai memilih kerang. Ada kerang yang berisi mutiara da nada yang tidak. Anugrah atau keberuntunganlah yang menentukan seseorang memperoleh mutiara, bukan lagi keterampilan dan alat. Jadi, menurut al rumi untuk memperoleh makrifat atau penyinaran, seseorang disamping berusaha juga meyakini anugerah Tuhan.
            Salah satu diantara unsur-unsur yang berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu bentuk pemgalaman, disamping pengalaman yang dihayati oleh indera.Hendaknya diingat, intuisionisme tidak mengingkari pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan darinya.


E.Skeptisme
Skepitisme adalah paham yang memandang  sesuatu selalu tidak pasti, atau bisa disebut dengan paham yang penuh keragu-raguan, kecurigaan. Contohnya: kesulitan itu telah banyak menimbulkan skeptic-isme terhadap kesanggupan dalam menghadapi gejolak hubungan internasional, menurut kamus besar bahasa Indonesia skeptic yaitu kurang percaya, ragu-ragu terhadap keberhasilan ajaran. Contohnya: penderitaan dan pengalaman menjadikan orang bersifat sinis dan skeptic. Jadi secara umum skeptisme adalah ketidak percayaan atau keraguan seseorang tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya, Skeptisme menurut filsapat sikap skeptic adalah sebuah pendirian didalam epistemologi (filsafat penegtahuan ) yang menyangsikan dengan kenyataan yang diketahui baik cirri-cirinya maupun eksistensinya. Para skeptikus sudah ada sejak zaman yunani kuno tetapi didalam filsafat modern rene Descartes adalah perintis sikap ini dalam metode ilmiah.
            Sudah tentu, mungkin juga kita mengatakan tidak menegetahui apapun mengenai pohon bila saya mengatakan bahwasanya melihat suatu pohon maka saya hanya berbicara tentang penginderaan dengan mata yang saya alami. Dan bagi saya adalah mungkin untuk mengalami penginderaan meskipun seandainnya tidak terdapat pohon, sebagaimana ditunjukan oleh banyak sekali hayalan yang dipunyai orang. Atas dasar penginderaan-penginderaan ini, saya mungkin mengharapkan bahwa ada suatu pohon. Saya mungkin berbuat seolah-olah ada sesuatu pohon. Pendirian semacam itu dikenal dengan “skeptisme”
            Seorang penganut skeptismemengingkari adanya apa yang dinamkan pengetahuan atau jika ia kurang extream dia mungkin mengatakan, sesungguhnya tidak ada cara untuk mengetahui bahwa kita mempunyai pengetahuan. Pendirian ini biasanya didasarkan atas dua unsur 1.kenisbian penginderaan dan 2.adanya kesepakatan yang sesungguhnya mengenai apa yang merupakan halnya dan yang bukan merupakan halnya.
F.Kritisisme
Kritisme adalah  filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Filsafat keritisme adalah faham yang mengkritik terhadap faham rasionalisme dan faham emprisme, yang mana kedua faham tersebut berawalan.
Kritisme adalah gagasan tentang pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada pikiran. Adapun ciri-ciri kritisme adalah sebagai berikut :
1. menganggap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek
2. penegasan tentang keterbatasan kemampuan  manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejalanya;
3. menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu diperoleh atas perpaduan antara peranan unsur a priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dari peranan unsur oposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.

Kritisisme dan ciri-cirinya:
            Imanuel kant memulai falsafatinya dengan menyelidiki batas-batas kemampu rasio sebagai sumber pengetahuan manusia. Isi utama dari krisisme adalah gagasan imanuel kant tentang teori pengetahuan, etika, dan estetika. Gagasan ini muncul krena adanya pertanayaan-pertanyaan mendasar yang timbul pada pikiran imanuel kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dapat saya ketahui ?
2.      Apa yang harus saya lakukan ?
3.      Apa yang boleh saya harapkan ?
Kant dengan filsafatnya bermaksud memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan agar maksud itu terlaksana, orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak empirisme. Kritisme kant dapat dianggap sebagai suatu usaha raksaksa untuk mendamaikan rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur a priori dalam pengenalan, berarti unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman seperti misalnya: “ ide-ide bawaan” ala Descartes. Empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti unsur-unsur yang berasal dari pengalaman(seperti: locke yang mengganggap rasio sebagai” lembaran”) (as a white fafer)  menurut kant, baik rasionalisme maupun empirirsme, kedua-duanya berat sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa penegnalan manusia merupakan paduan anatara sistesis unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur aposteriori.
Kritisisme imanuel sebenarnya telah memadukan dua pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substansial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat mendapatkan kebenaran, karena asio tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan melulu tolak ukur karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasionl, sebagaimana mimmpi yang nyata, tetapi” tidak real” yang demikian sukar untuk dinyatakan kebenaran.


                                        








BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
v  Epistemologi adalah cabang utama filsafat yang membicarakan tentang pengetahan manusia beberap permasalahan dalam epitemologi adalah bagaimana memperoleh pengetahuan yang bisa menjamin kebenaran kenyataan, metode dan sara serta sumber apa yang dapat dipercaya untuk mendapatkan pengetahuan. Apapun aliran dan permasalahan yang dibicarakan dalam epistemology tidak bisa dilepaskan dari peran akal. Yang berhasrat ingin tahu adalah manusia yang berakal apa yang diketahui, diolah, dan tersimpan diakal
v  Rasionalisme adalah paham filsafat yang menytakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliaran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir.
v  Empirisme adalah sesuatu yang cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan caramemperoleh penegetahuan dengan melalui pengalaman.
v  Menurut Henry Bergson intuisi adalah sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis,menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh peggambaran secara simbolis. 
v  Skepitisme adalah paham yang memandang  sesuatu selalu tidak pasti, atau bisa disebut dengan paham yang penuh keragu-raguan, kecurigaan
v  Filsafat keritisme adalah faham yang mengkritik terhadap faham rasionalisme dan faham emprisme, yang mana kedua faham tersebut berawalan.







[1] Louis 0. Kattsof, op. cit., hlm. 137
[2] Amsar bakhtiar,Filsafat Agama,Jakarta:Logos wacana ilmu, 1997 hlm 42
[3] Louis o. kattsof,pengantar filsafat,Jakarta:Tiara wacana yogya,2003 hlm 132

Tidak ada komentar:

Posting Komentar