BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Filsaafat adalah pencarian
kebenaranan alur berfikir yang sistematis, artinya perbincangan mengenai segala
sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti system yang berlaku sehingga
tahapan-tahapannya mudah diikuti. Berfikir sistematis tentu tidak
loncat-loncat, melainkan mengikuti peraturan main yang benar, filsafat juga
merupakan seni kritik yang bukan semaata-mata membatasi diri pada destruksi
atau seakan-akan takut untuk membawa pandaangan fositfnya sendiri.
Pengetahuan dimulai dengan rasa
ingin tahu kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu, sedangkan filsafat dimulai
dengan kedua-duanya. Berfilsafat mendorong untuk mengetahui apa yang telah kita
tahu dan apa yang belum kita tahu. Karena itu mempelajari ilmu filsafat
sangatlah penting untuk menjadikan kita lebih kritis dan radikal.
B.Rumusan
Masalah
1.Apa yang dimaksud dengan
Epistemologi
2.Apa yang dimaksud dengan
Rasionalisme
3.Apa yang dimaksud denagn Empirisme
4.Apa yang dimaksud dengan
Intusionisme
5.Apa yang dimaksud dengan Skeptisme
6.Apa yang dimaksud dengan
Kritisisme
C.Tujuan
Makalah
Kita
ingin mengetahui beberapa sistematika pembagian filsafat
1.
mengetahui
Apa yang dimaksud dengan epistemologi
2.
mengetahui
apa yang dimaksud dengan Rasionalisme
3.
mengetahui
pa yang dmaksud dengan Empirisme
4.
mengetahui
apa yang dimamsud dengan Intusionisme
5.
mengetahui
apa yang dimaksud dengan Skeptisme
6.
mengetahui
apa yang dimaksud dengan Kritisme
BAB
II
PEMBAHASAN
Sistematika
Pembagian Filsafat
A.
Epistemologi
Epistemologi adalah cabang utama
filsafat yang membicarakan tentang pengetahan manusia beberap permasalahan
dalam epitemologi adalah bagaimana memperoleh pengetahuan yang bisa menjamin
kebenaran kenyataan, metode dan sara serta sumber apa yang dapat dipercaya
untuk mendapatkan pengetahuan. Apapun aliran dan permasalahan yang dibicarakan
dalam epistemology tidak bisa dilepaskan dari peran akal. Yang berhasrat ingin
tahu adalah manusia yang berakal apa yang diketahui, diolah, dan tersimpan
diakal.
Disinilah Nietzsche mengajukan
pandangan kontroversialnya.Pandangan epistemologinya diawali dengan suatu
asumsi dasar bahwa kita harus menggunakan skeptisme radikal terhadap kemampuan
akal. Tidak ada yang dapat dipercayadari akal. Terlalu naif jika akal dipercaya
mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orang
beranggapan dengan akal di peroleh pengetahuanatau kebenaran, maka akal
sekaligus merupakan sumber kekeliruan.
Secara implisit, pernyataan ini
sudah merupakan penghalang bagi oranglain untuk melirik pandangan
epistemologinya, karena apa yang diungkapkan dan di pikirkan Nietzschepun
dengan sendirinya juga dianggap salah. Kesalahan atau kekeliruan adalah momok
bagi mereka yang ingin mendapatkan kebenaran. Inilah gambaran sekilas tentang epistemologi
Nietzsche, namun jika dipahami secara mendalam banyak sekali aspek-aspek yang
belum tergali inilah yang menyebabkan kesalahpahaman terhadap
pemikiran-pemikiran Nietzsche.
Hal ini bisa dianalogikan dengan
seorang mahasiswa kedokteran yang mempelajari ilmu kedokteran dengan asumsi
dasar bahwa nyawa manusia ada ditangan Tuhan. Sehingga pada hakiktnya tidak ada
yang diharapkan bisa dilakukan oleh seorang dokter.
Wacana epistemologi, sejak zaman
plato sampai dengan zaman Descartes, bahkan sampai pada zaman kontemporer
sekarang ini adalah berupaya untuk mencari kebenaran. Namun tidak bagi
Nietzsche. Pengetahuan itu tidak untuk mencari kebenaran. Pengetahuan itu untuk
mengukuhkan kekuasaa. Pengetahuan itu untuk berkuasa. Pengetahuan itu selalu
terkait dengan kehendak untuk berkuasa ( the will of power ).
Epistemologi Nietzsche ditengah
zaman modern yang ditandai dengan dominasi akal ini tampak aneh dan sulit untuk
diterima. Pendobrakan dogmatisme ( kemapanan ) akal dengan konsep the will to
power, membuat Nitzsche seperti dalang yang keluar dari pakem. Perbedaan itu
sangat tampak sekali dan bahkan berkontradiksi 180 derajat antara filsafat
Nietzsche dengan pemikir-pemikir besar yang menjadi kekuatan mainstream saat
itu, baik dalam penggunaan bahasa epistemologi maupun materi yang disajikan.
Terlepas dari semua itu,
epistemologi Nietzsche layak untuk dikaji dan diperbincangkan. Pemikirannya
yang tidak bisa diterima oleh zamannya telah mulai menunjukan pengaruh dan
kekuatannya pada masa sekarang ini. Hal ini dapat dirasakan pada epistemologi
Karl Popper dengan falsifikasinya dan juga pada pemikiran kaum eksistensialis.
Nuansa Nietzschean dalam epistemologi postmodernisme ( pluralisme ,
dekontruksi, relativitas ) sangat terasa sekali. Dalam rangka memahami
epistemologinya, tulisan ini sebisa mungkin disajikan dengan menggunakan bahasa
yang sederhana, yang enak direncana sebagaimana bahasa yang digunakan
Nietzsche.
B. Karakteristik
Epistemologi Nietzsche
Mempelajari epistemologi Nietzsche
tanpa menelaah keseluruhan filsafatnya seperti mengambil mozaik terpisah dari
keseluruhannya, sehingga akan tampak aneh dan tidak bermakna. Ia tudak membahas
epistemologi sebagai cabang filsafat tersendiri sebagaimana filsuf-filsuf lain.
Epistemolognya merupakan sebagian kecil dari konsep the will to power. Dalam
tulisan ini tidak mungkin di ungkapkan keseluruhan.
C. Rasionalisme
Descartes di anggap sebagai bapak
aliran filsafat modern. Di samping seorang tokoh rasionalisme, ia pun sebagai
filosof yang ajaran filsafatnya sangat popular, karena pandangannya yang tidak
pernah goyah, tentang kebenaran tertinggi berada pada akal rasio manusia. Rene
Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholstik yang
pandangan-pandangannya saling bertentangan, dan tidak ada kepastian di sebabkan
oleh miskinnya metode berfikir yang tepat. Descartes mengemukakan metode baru,
yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu-ragu terhadap sesuatu, dalam
keragu-raguan itu, jelas ia sedang berfikir. Sebab, yang sedang berfikir itu tentu
ada dan jelas terang benderang.
Rasio merupakan sumber kebenaran.
Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang pada kebenaran. Yang benar
hanyalah tindakan akal yang terang benderang yang disebutnya ideas claires
el distinctes (fikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea
terang benderang ini pemberian tuhan sebelum orang dilahirkan(idea innatae=ide
bawaan). Sebagai pemberian tuhan maka yang mungkin tak benar. Karena rasio saja
yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliaran ini disebut rasionalisme.
Adapun pengetahuan indra dianggap sering menyesatkan.
Rasionalisme adalah paham filsafat
yang menytakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh
pengetahuan. Menurut aliaran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara
berfikir.
Para tokoh rasionalisme, diantaranya
adalah Descartes(1596-1650 M), Spinoza (1632-1677 M) dan Leibniz (1646-1716 M).
aliran rasionalisme ada dua macam yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang
filsafat. Dalam bidang agama,aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan
biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Adapun dalam bidang filsafat,
rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan brgunakan dalam menyusun teori
pengetahuan. Hanya saja, empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh
dengan jalan mengetahui objek empirisme, sedangkan rasionalisme diperpleh
dengan cara berfikir, pengetahuan dari empirisme dianggapa sering menyesatkan.
Adapun alat berfikir adalah kaidah-kaidah yang logis.
Para penganut rasionalisme yakin
bahwa kebenaran dan kesesatan terletak didalam idea dan bukan didalam diri
barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makana ide yang sesuai dengan atau
yang menunjuk pada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada didalam pikiran
seseorang dan hanya bisa dipeoleh dengan akal budi saja.
Decorates,salah seorang pelopor
rasionalisme berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diragukan
lagi. Kebenaran itu, menurutnya adalah dia tidak ragu bahwa dia ragu.
Pernyataan tersebut terkenal dengan semboyannyacogito ergo sum(saya ragu
maka saya ada). Ia yakin bahwa kebenaran-kebenaran semacam itu, ada dan
kebenaran-kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi.
Dengan demikian, kebenaran itu bisa dipahami lewat sejenis perantara khusus,
yang dengan perantara itu dapat dikenal kebenaran dan dengan suatu teknik
deduktif yang dengan memakai teknik tersebut dapat ditemukan keenaran.
D.Empirisme
Empirisme
adalah sesuatu yang cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan
caramemperoleh penegetahuan dengan melalui pengalaman. Menurut empirisme,
pengetahuan diperoleh dengan perantara panca indra. Panca indra mendapatkan
kesan-kesan dari apa yang ada didalam nyata dan kesan-kesan itu berkumpul dalam
diri manusia. Pengetahuan tersususun dari pengaturan kesan-kesan semacam ini.
Seorang empirisme berpendirian bahwa
kita dapat memperoleh pengetahuan melelui pengalaman. Ciri yang menonjol dari
jawaban ini dapat dilihat bila diperhatikan pertanyaan seperti, “ bagaimana
orang mengetahui es dingin ?” jawaban seorang empiris akan berbunyi, “krena
saya merasakan hal itu atau krena seorang ilmuan telah merasakan seperti
itu.”dalam pernyataan tersebut ada tiga unsur yang perlu, yaitu yang mengetahui
(subjek), yang di ketahui (objek), dan cara dia mengetahui bahwa e situ dingin?
Dengan menyentuh langsung lewat alat peraba. Dengan kata lain, seorang empiris
akan mengatakan bahwa pengetahuan itu di peroleh lewat pengalaman-pengalaman
indrawi yang sesuai.[1]
John lock, bapak empirisme britania,
mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan sejenis buku
catatan kosong (tabula rasa),[2]
dan di dalam buku catatan itulah di tulis pengalaman-pengalaman indrawi.
Menurutnya, seluruh sisa pengetahuan kita di proleh dengan jalan menggunakan
serta membandingkan ide-ide yang di peroleh dari pengindraan serta refleksi
yang pertama dan sederhana tersebut.
Dia memandang akal sebagai sejenis
tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil pengindraan.ini
berarti semua pengetahuan kita,betapun rumitnya, dapat dilacak kembali sampai
pada pengalaman-pengalaman indrawi yag pertama-tama, yang dapat diibaratkan
sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau
tidak perlu dilacak kembali maka yang demikian itu bukanlah pengetahuan, atau
setidak-tidaknya bukan pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
Empirisme radikal yaitu mereka yang
berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman
inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak secara demikian itu dianggap bukan
pengetahuan, dinamakan penganut empirisme radikal.[3]
Seorang empirisme berpendirian bahwa
kita dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman.
David Hume menegaskan bahwa pengalaman
lebih memberi keyakinan dibanding kesimpulan logika atau kemestian
sebab-akibat. Sebab dan akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan
secara konstan terjadi seperti, api membuat air mendidih. Padahal dalam api
tidak dapat diamati adanya daya aktif yang mendidihkan air. Jadi daya aktif
yang disebut hukum kausalitas itu bukanlah hal yang dapat diamati, bukan hal
yang dapat dilihat dengan mata sebagai berada dala air yang direbus. Dengan
demikian kausalitas tidak bisa digunakan untuk menetapkan peristiwa yang akan
datang berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terdahulu.
E.Intusionisme
Menurut Henry Bergson intuisi adalah
sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat
analitis,menyeluruh, mutlak, dan tanpa dibantu oleh peggambaran secara
simbolis. Karena itu, intuisi adalah sarana untuk mengetahui secara langsung
dan seketika. Analisis, atau pengetahuan yang diperoleh lewat pelukisan tidak
dapat menggantikan hasil pengenalan intuisi.
Dalam tasawuf,intuisi ini disebut
dengan makrifah, yaitu pengetahuan yang datang dari tuhan melalui pencerahan dan
penyinaran. Istilah inijuga sering disebut dengan illuminasi. Intuisi dalam
filsafat barat diperoleh lewat usaha perenungan dan pemikiran yang konsisten,
sedangkan dalam islam makrifah diperoleh lewat perenugan dan penyinaran dari
tuhan. Jalaluddin arrumi pernah mengatakan, “ berjalanlah kamu kesebuah tempat
dan tunggulah disana penyinaran dari tuhan “ al rumi juga menggambarkan bahwa
penyinaran atau anugrah itu bagaikan seorang penyelam mencari mutiara. Untuk
sampai kedasar laut seseorang, demikian al rumi, harus memiliki keterampilan
berenang dan menyelam. Jika memiliki keterampilan berenang dan menyelam, dia
harus memakai alat khusus. Dan ketika sampai didasar lautan dia mulai memilih
kerang. Ada kerang yang berisi mutiara da nada yang tidak. Anugrah atau
keberuntunganlah yang menentukan seseorang memperoleh mutiara, bukan lagi
keterampilan dan alat. Jadi, menurut al rumi untuk memperoleh makrifat atau
penyinaran, seseorang disamping berusaha juga meyakini anugerah Tuhan.
Salah satu diantara unsur-unsur yang
berharga dalam intuisionisme Bergson ialah, paham ini memungkinkan adanya suatu
bentuk pemgalaman, disamping pengalaman yang dihayati oleh indera.Hendaknya
diingat, intuisionisme tidak mengingkari pengalaman inderawi yang biasa dan
pengetahuan yang disimpulkan darinya.
E.Skeptisme
Skepitisme
adalah paham yang memandang sesuatu
selalu tidak pasti, atau bisa disebut dengan paham yang penuh keragu-raguan,
kecurigaan. Contohnya: kesulitan itu telah banyak menimbulkan skeptic-isme
terhadap kesanggupan dalam menghadapi gejolak hubungan internasional, menurut
kamus besar bahasa Indonesia skeptic yaitu kurang percaya, ragu-ragu terhadap
keberhasilan ajaran. Contohnya: penderitaan dan pengalaman menjadikan orang
bersifat sinis dan skeptic. Jadi secara umum skeptisme adalah ketidak percayaan
atau keraguan seseorang tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya,
Skeptisme menurut filsapat sikap skeptic adalah sebuah pendirian didalam
epistemologi (filsafat penegtahuan ) yang menyangsikan dengan kenyataan yang
diketahui baik cirri-cirinya maupun eksistensinya. Para skeptikus sudah ada
sejak zaman yunani kuno tetapi didalam filsafat modern rene Descartes adalah
perintis sikap ini dalam metode ilmiah.
Sudah tentu, mungkin juga kita
mengatakan tidak menegetahui apapun mengenai pohon bila saya mengatakan
bahwasanya melihat suatu pohon maka saya hanya berbicara tentang penginderaan
dengan mata yang saya alami. Dan bagi saya adalah mungkin untuk mengalami
penginderaan meskipun seandainnya tidak terdapat pohon, sebagaimana ditunjukan
oleh banyak sekali hayalan yang dipunyai orang. Atas dasar
penginderaan-penginderaan ini, saya mungkin mengharapkan bahwa ada suatu pohon.
Saya mungkin berbuat seolah-olah ada sesuatu pohon. Pendirian semacam itu
dikenal dengan “skeptisme”
Seorang penganut
skeptismemengingkari adanya apa yang dinamkan pengetahuan atau jika ia kurang
extream dia mungkin mengatakan, sesungguhnya tidak ada cara untuk mengetahui
bahwa kita mempunyai pengetahuan. Pendirian ini biasanya didasarkan atas dua
unsur 1.kenisbian penginderaan dan 2.adanya kesepakatan yang sesungguhnya
mengenai apa yang merupakan halnya dan yang bukan merupakan halnya.
F.Kritisisme
Kritisme
adalah filsafat yang memulai
perjalanannya dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan rasio dan
batas-batasnya. Filsafat keritisme adalah faham yang mengkritik terhadap faham
rasionalisme dan faham emprisme, yang mana kedua faham tersebut berawalan.
Kritisme
adalah gagasan tentang pertanyaan-pertanyaan yang timbul pada pikiran. Adapun
ciri-ciri kritisme adalah sebagai berikut :
1. menganggap
bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek
2. penegasan tentang
keterbatasan kemampuan manusia untuk
mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau
gejalanya;
3. menjelaskan
bahwa pengenalan manusia atas sesuatu diperoleh atas perpaduan antara peranan
unsur a priori yang berasal dari rasio serta berupa ruang dan waktu dari
peranan unsur oposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.
Kritisisme dan
ciri-cirinya:
Imanuel kant memulai falsafatinya
dengan menyelidiki batas-batas kemampu rasio sebagai sumber pengetahuan manusia.
Isi utama dari krisisme adalah gagasan imanuel kant tentang teori pengetahuan,
etika, dan estetika. Gagasan ini muncul krena adanya pertanayaan-pertanyaan
mendasar yang timbul pada pikiran imanuel kant. Pertanyaan-pertanyaan tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
Apa
yang dapat saya ketahui ?
2.
Apa
yang harus saya lakukan ?
3.
Apa
yang boleh saya harapkan ?
Kant dengan filsafatnya bermaksud
memugar sifat objektivitas dunia ilmu pengetahuan agar maksud itu terlaksana,
orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak empirisme. Kritisme kant
dapat dianggap sebagai suatu usaha raksaksa untuk mendamaikan rasionalisme dan
empirisme. Rasionalisme mementingkan unsur a priori dalam pengenalan, berarti
unsur-unsur yang terlepas dari segala pengalaman seperti misalnya: “ ide-ide
bawaan” ala Descartes. Empirisme menekankan unsur-unsur aposteriori, berarti
unsur-unsur yang berasal dari pengalaman(seperti: locke yang mengganggap rasio
sebagai” lembaran”) (as a white fafer)
menurut kant, baik rasionalisme maupun empirirsme, kedua-duanya berat
sebelah. Ia berusaha menjelaskan bahwa penegnalan manusia merupakan paduan
anatara sistesis unsur-unsur a priori dengan unsur-unsur aposteriori.
Kritisisme imanuel sebenarnya telah
memadukan dua pendekatan dalam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang
kebenaran substansial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa
rasio tidak mutlak dapat mendapatkan kebenaran, karena asio tidak membuktikan,
demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan melulu tolak ukur karena tidak
semua pengalaman benar-benar nyata dan rasionl, sebagaimana mimmpi yang nyata,
tetapi” tidak real” yang demikian sukar untuk dinyatakan kebenaran.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
v Epistemologi adalah cabang utama filsafat yang membicarakan tentang
pengetahan manusia beberap permasalahan dalam epitemologi
adalah bagaimana memperoleh pengetahuan yang bisa menjamin kebenaran kenyataan,
metode dan sara serta sumber apa yang dapat dipercaya untuk mendapatkan
pengetahuan. Apapun aliran dan permasalahan yang dibicarakan dalam epistemology
tidak bisa dilepaskan dari peran akal. Yang berhasrat ingin tahu adalah manusia
yang berakal apa yang diketahui, diolah, dan tersimpan diakal
v Rasionalisme adalah paham filsafat yang menytakan bahwa akal
(reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliaran
rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir.
v Empirisme adalah sesuatu yang cara atau metode dalam filsafat yang
mendasarkan caramemperoleh penegetahuan dengan melalui pengalaman.
v Menurut Henry Bergson intuisi adalah sifat lahiriah pengetahuan
simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis,menyeluruh, mutlak, dan tanpa
dibantu oleh peggambaran secara simbolis.
v Skepitisme adalah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti, atau bisa disebut
dengan paham yang penuh keragu-raguan, kecurigaan
v Filsafat keritisme adalah faham yang mengkritik terhadap faham
rasionalisme dan faham emprisme, yang mana kedua faham tersebut berawalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar