Selasa, 12 Mei 2015

al Qur'an dan Perkembanganya



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Dalam pembahasaan makalah ini, marilah kita mengenal lebih jauh mengenai ulumul qur’an dan faedah-faedahnya.
Al-qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat jibril sebagai mu’jizat. Al-qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal
ونزّلنا عليك الكتب تبياناً لكلّ شيءِ وهدى ورحمة وبشرى للمسلمين
Artinya: “kami turunkan kepadamu al-kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang – orang  yang berserah diri.”(Q.S. An – Nahl : 89 ).
Mempelajari isi Al – Qur’an akan menambah baru, memperluas pandangan dan pengetahuan , meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal – hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi , kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha besarnya Allah sebagai penciptanya.
Al – Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Oleh karena itu , ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi  Al – Qur’an . lebih dari itu , ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al – Qur’an dengan bantuan terjemahnya , sekalipun tidak mengerti bahasa Arab . Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al – Qur’an . Maka dari itu , untuk dapat mengetahui isi kandungan Al – Qur’an diperlukanlah ilmu yang mempelajari bagaimana tata cara menafsiri Al – Qur’an yaitu Ulumul Qur’an dan juga terdapat faedah – faedahnya . Dengan adanya pembahasan ini , kita sebagai generasi islam supaya lebih mengenal Al – Qur’an , karena tak kenal maka tak sayang .
B.     Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1.      Apa pengertian ‘ulumul Qur’an ?
2.      Apa saja ruang lingkup pembahasan ‘ulumul Qur’an?
3.      Apa saja yang termasuk cabang –cabang ‘ulumul Qur’an?
4.      Bagaimana berkembangnya ilmu – ilmu Al – Qur’an?
C.    Tujuan Masalah
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian ‘ulumul Qur’an dan perkembangannya
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup pembahasan  ‘ulumul Qur’an
3.      Mengetahui bagian dari cabang cabang ‘Ulumul Qur’an
4.      Untuk mengetahui perkembangan Al – Qur’an













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian  Ulumul Qur’an
Pembicaraan tentang Ulumul Qur’an , haruslah ditinjau makna idhafy-nya dan makna ishthilahy-nya .
Dari segi idhafatnya adalah segala yang ada hubungannya dengan Al – Qur’an . Maka segala ilmu yang bersandar kepada Al – Qur’an termasuk kedalam Ulumul Qur’an , seperti : ilmu Tafsir , ilmu Qira’at , ilmu Rasmil Qur’an , ilmu I’jazil Qur’an , ilmu  Asbabun Nuzul , ilmu Nasikh wal Mansukh , ilmu  I’rabil Qur’an , ilmu Gharibil Qur’an , Ulumuddin , ilmu lughah dan lain – lain , karena ilmu – ilmu itu merupakan sarana untuk memahami Al – Qur’an.
      Berdasarkan makna inilah Abu Bakar Ibnul Araby mengatakan bahwa ilmu – ilmu al – Qur’an berjumlah 77450 buah.  Ini apabila kita hitung menurut bilangan kosa kata Al – Qur’an yang di kalikan empat, karena tiap tiap kosakata mempunyai zhahir, batin, haq dan mathla. Dan apabila dipandang kepada urutannya dan hubungan – hubungan yang ada di antara tertib – tertib itu, maka ilmu – ilmu Al – Qur’an tidak dapat dihitung dan di hinggakan.
      Berdasarkan penelitian sebagai ahli ilmu, yang dapat kita katakan Ulmul Qur’an, ialah : “Ilmu – ilmu yang ada hubungannya dengan Al – Qur’an dari segi hidayah atau segi i’jaz.”
      Kalau demikian, maka yang kita golongkan ke daam istilah Ulumul Qur’an, hanyalah ilmu – ilmu Syaria’h dan Arabiyah saja. Adapun ilmu ilmu kauniyahyang terus menerus berekmbang dan tumbuh seperti ilmu falak, ekonomi, kimia dan sebagainya, tidaklah layak kita memasukannya ke dalam ulumul qur’an, karena Al qur’an tidaklah di turukan untuk memecahkan sesuatu teori – teori handasah, walaupun Al – qur’an menganjurkan kita mempelajarinya. Sebagian ahli bahasa mengatakan, bahwa istilah ulumul qur’an dengan arti yang lengkap, barulah lahir sesudah di susun kitab setebal 30 jilid, yang bernama Al – Burhan fi ‘ulumil qur’an, oleh Ali Bin Ibrahim Ibn said yang terkenal dengan nama Al hufiy, wafat tahun 430 H. Kitab ini, di samping merupakan sebuah tafsir, juga mengandug sebagaian dari ilmu ilmu al – Qur’an. Di dalamnya di terngkan tentang lafal lafal yang gharib, tentang i’rab dan tentang tafsir.
      Dalam pada itu kita dapat mengatakan, bahwa kitab yang membahas masalah masalah yang berhubungan dengan al – qur’an dengan judul Ulumul Qur’an, ialah Ibnu Marzuban dalam abad ke tiga H.
Kata Ulumul Qur’an juga berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata , yaitu “Ulum” dan “Al – Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jamak dari kata “ilmu” yang berarti ilmu – ilmu . Kata ulum yang disandarkan pada kata Al – Qur’an telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al – Qur’an , baik dari segi keberadaannya sebagai Al – Qur’an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya . Adapun definisi ‘ulum al – qur’an secara istilah , para ulama memberikan redaksi yang berbeda – beda , sebagaimana dijelaskan berikut ini :
·         Menurut Manna Al – Qaththan
Ilmu yang mencakup pembaasa – pembahasan yang berkaitan dengan Al  Qur’an dari sisi informasi tentang asbab an nuzul ( sebab sebab turunnya Al – Qur’an ), kodofikasi dan tertib penulisan Al – Qur’an, ayat – ayat yang di turunkan di mekkah dan ayat ayat yang diturunkan di madinah, dan hal – hal yang lain yang berkaitan dengan al – Qur’an.
·         Menurut Az – Zarqani
Beberapa pembahasan yang berkaitan dengan Al – Qur’an, dari sisi turun, urutan penulisan, kodifikasi, cara membaca, kemukzijatan, nasikh, mansukh, dan penolakan hal hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, serta hal hal lain.
·         Menurut Abu Syahbah
Sebuah ilmu yang memiliki banyak objek pembahsan yang berhubungan dengan Al – Qur’an, mulai proses penurunan, urutan penulisan, cara membaca, penafsiran, sampai pembahsan – pembahasan lain.
Walaupun dengan redaksi yang sedikit berbeda, tetapi definisi di atas memiliki maksud yang sama. Sehingga ketiga ulama tersebut sepakat bahwa ‘Ulumul Qur’an adalah sejumlah pembahsan yang berkaitan dengan Al – Qur’an.
B.     Ruang Lingkup Pembahasan ‘Ulumul Al- Qur’an
Berkenaan dengan persoalan ini, M. Hasbi Ash – siddieqy berpendapat bahwa ruang lingkup pembahasaan Ulumul Qur’an terdiri atas enam hal pokok berikut ini :
a.       Persoalan turunnya Al – Qur’an ( Nuzul Al – Qur’an )
Sebab – sebab turun nya Al – Qur’an, Sejarah Turun nya Al – Qur’an, Sejarah turunnya Al – Qur’an
b.      Persoalaan Sanad ( Rangkaian para Periwayat )
Riwayat mutawatir, Riwayat ahad, Riwayat syadz, Macam – macam qira’at Nabi, Para Perawi dan penghafal Al – Qur’an, Cara – cara penyebaraan riwayat
c.       Persoalaan Qira’at ( Cara pembacaan Al – Qur’an )
Cara berhenti ( waqaf ), Cara memulai ( ibtida ), Imalah, Bacaan yang dipanjangkan (madd), Meringankan bacaan hamzah, Memasukan bunyi huruf yang sukun kepada bunyi sesudahnya ( idgam )
d.      Persoalaan kata – kata Al – Qur’an
Kata – kata Al – Qur’an yang asing ( gharib ), kata – kata Al – Qur’an yang berubah- rubah harakat akhirnya ( mu’rab), kata – kata Al – Qur’an yang mempunyai makna serupa ( honomin ), padanan kata – kata Al – Qur’an (sinonim), istiarah, penyerupaan ( tasybih)
e.       Persoalaan makna – makna Al – Qur’an yang berkaitan dengan hukum
Makna umum yang tetap pada keumumannya, Makna umum yang dimaksudkan makna khusus, makna umum yang maknanya dikhususkkan sunnah, Nash, makna lahir, makna global, makna yang diperinci, makna yang ditunjukkan oleh konteks pembicaraan, Nash yang petunjuknya tidak melahirkan keraguan, Nash yang muskil ditafsirkan karena terdapat kesamaran didalamnya, Nash yang maknanya tersembunyi karena suatu sebab yang terdapat pada kata itu sendiri, Ayat yang “menghapus” dan “dihapus” (nasikh-mansukh), Yang didahulukan (muqaddam), yang akhirkan (mu’akhakhar)
f.       Persoalan makna Al – Qur’an yang berpautan dengan kata kata Al – Qur’an
Berpisah, Bersambung, uraian singkat, uraian seimbang, dan pendek.
C.    Cabang – cabang (Pokok Bahasan) ‘Ulumul Qur’an
a.       Ilmu Mawathin al – Nuzul ( ilmu ini menerangkan tempat – tempat turun ayat, masanya, awalnya, dan akhirnya)
b.      Ilmu Tawarikh al – Nuzul ( ilmu ini menjelasakan masa turun ayat dan turunnya satu persatu, dari permulaan sampai akhirnya serta urutan turun surah dengan sempurna)
c.       Ilmu Asbab an – nuzul ( ilmu yang menjelaskan sebab sebab turunnya al – qur’an)
d.      Ilmu Qiraat ( ilmu yang menerangkan bentuk bentuk bacaan al qur’an yang telah di terima oleh Rasulallah)
e.       Ilmu Tajwid ( ilmu yang menerangka cara membaca al – quran dengan baik, dan ilmu ini juga menerangkan di mana tempat memulai, berhenti, bacaan panjang, dan pendek, dsb.
f.       Ilmu Gharib Al – Qur’an ( Ilmu yang menerangkan makna kata kata yang ganjil dan tidak terdapat dalam kamus kamus bahasa arab yang  biasa atau tudak terdapat dalam percakapan sehai hari. Ilmu ini berarti menjelaskan makna kata kata yang pelik dan tinggi)
g.      Ilmu I’rab Al – Qur’an ( ilmu yang menerangkan baris kata kata al – qur’an dan kedudukannya dalam susunan kalimat)
h.      Ilmu Wujuh wa al – Nazair ( ilmu yang menerangkan kata kata al qur’an yang mengandung banyak arti da menerangkan makna yang di maksud pada tempat tertentu)
i.        Ilmu Ma’rifah al Muhkam wa al – Mutasyabih (ilmu yang menjelaskan ayat ayat yang di pandang muhkam “jelas maknanya” dan  Mutasyabih “samar maknannya da perlu di takwil”)
j.        Ilmu Nasikh wal Mansukh ( ilmu yang menerangkan ayat ayat yang di angga di hapuskan oleh sebagian musafir.)
k.      Ilmu Bada’i Al – Qur’an ( ilmu yang bertujuan menampilkan kenindahan – keindahan al – quran dari sudut kesustraan keanehan – anehan, dan ketinggian Balagahnya)
l.        Ilmu I’zaj Al qur’an ( ilmu yang menerangkan kekuatan susunan dan kandungan ayat ayat al qur’an sehingga dapat membungkam para sastrawan Arab)
m.    Ilmu Tanasub Ayat Al – Qur’an  ( ilmu yang menerangkan persesuaian dengan keserasian antara suatu ayat dan ayat di depan dan yang di belakangnya)
n.      Ilmu Aqsam Al – qur’am ( imu yang menerangkan arti dan maksud  - maksud sumpah tuhan yang terdapat dalam Al – Qur’an)
o.      Ilmu Amstal Al – Qura’n ( ilmu yang menerangkan maksud perumpamaan -  perumpamaan yang di kemukakan Al qur’an)
p.      Ilmu Jidal Al  qur’ an ( ilmu yang membahas bentuk bentuk dan cara cara debat dan bantahan al qur’an yang di hadapkan kepada kaum musyrik yang tidak bersdia menerima kebenaran dari tuhan)
q.      Ilmu Adab Tilawah Al – Qur’an ( ilmu yang memaparkan tata cara dan kesopanan yang harus diikuti ketika membaca Al – Qur’an)
D.    Perkembangan ‘Ulumul Al – Qur’an
a.       Fase Sebelum Kodifikasi
Pada Fase Sebelum Kodifikasi ulumul qur’an kurang lebih sudah merupakan benih yang kemunculanya sangat di rasakan semenjak Nabi masih ada. Hal itu di tandai dengan kegairahan para sahabat untuk mempelajari al qur;an dengan sungguh sungguh. Terlebih lagi, di antara mereka sebagimana yang di ceritakan oleh Abu Abdurrahman As – sulami, ada kebiasaan untuk tidak berpindah kepada ayat lain, sebelum benar benar dapat memahami dan mengamalkan ayat yang sedang di pelajarinya. Mereka mempelajari sekaligus memengamalkan ayat ayat yang sedang di pelajarinya. Dan itu lah sebabnya mengapa Ibnu Umar memerlukan waktu delapan tahun hanya untuk menghafal surat al – baqarah.
b.      Fase Kodifikasi
Pada Fase Sebelum Kodifikasi ulumul qur’an juga ilmu ilmu lainnya sebelum dikodifikasikan dalam bentuk kitab atau mushaf. Satu satunya yag sudah dikodifikasikan saat itu hanyalah al quran, fenomena itu terus berlangsung sampai ketika Ali Bin Abi Thalib memrintahkan Abu Al Aswad Ad – Duali untuk menulis ilmu Nahwu. Perintah Ali inilah yang membuka gerbang pengodifikasian ilmu ilmu agama dan bahasa arab. pengodifikasian itu semakin marak dan meluas ketika islam berada pada tangan pemerintahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiah pada periode – periode awal pemerintahannya.
E.     Pertumbuhan Ilmu- Ilmu Al – Qur’an dari Masa ke Masa
Para sahabat mengetahui serta merasakan betapa indahnya uslub – uslub bahasa arab yang tinggi dan memahami ayat ayat yang terang dan jelas pengertiannya yang di turunkan kepada Rasulullah SAW. Apabila timbul sesuatu kemuskilan mereka segera bertanya kepada Nabi SAW. Seperti yang dilakukan di waktu turun ayat 82 S.6 Al An’am di waktu ayat itu di sampaikan kepada mereka, mereka berkata satu sama lain : “ siapakah di antara kita yang tidak menzlimi dirinya?”. Maka Nabi saw pun menafsirkannya zhulumdalalm ayat itu berarti syirik. Beliau mendasarkan penafsiranya kepada firman Allah SWT dalam ayat 13 S. 31 Luqman.
Ilmu – ilmu al qur’an di masa Rasul, Abu Bakar ra dan Umar ra disampaikan dengan jalan talqin dan musyafahah dari mulut  ke mulut. Di dalam masa pemerintahan Ustman mulailah bangsa arab bergaul rapat dengan bangsa ajam. Utsman menyuruh para sahabat dan para umat supaya berpegang kepada mushaf Al – imam dan supaya dari mushaf itulah di salin mushaf mushaf yang dikirim ke kota kota besar serta membakar mushaf mushaf yang lain yang tidak bersumber dari mushaf al – Imam itu. Tindakan Utsman ini, merupakan awal berkembangnya ilmu yang kemudian di namakan ilmu Rasmil Qur’an atau Rasmil Utsmany.
§  Dari Golongan sahabat:
1.      Khulafa ‘ Rasyidin ( Khalifah Empat)
2.      Ibnu Abbas
3.      Ibnu Mas’ud
4.      Zaid ibn Tsabit
5.      Ubay bin Ka’ab
6.      Abu Musa Al Asy’ari
7.      Abdullah ibn Zubair
§  Dari Golongan tabi’in :
1.      Mujahid
2.      Atha ibn Yasar
3.      Ikrimah
4.      Qatadah
5.      Al Hasanul Bishri
6.      Said ibn Zubair
7.      Zaid ibn Aslam


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah disebutkan dapat disimpulkan bahwa Ulumul Qur’an adalah kumpulan sejumlah ilmu yang berhubungan dengan Al – Qur’an yang mempunyai ruang lingkup pembahasan yang luas. Pertumbuhan dan perkembangan ulumul qur’an menjelma  menjadi suatu disiplin ilmu melalui proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk membenahi Al – Qur’an dari segi keberadaan dan pemahamannya.  Jadi, Al – Qur’an adalah pedoman hidup bagi manusia yang disajikan dengan status sastra yang tinggi. Kitab suci ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia semenjak Al – Qur’an diturunkan, terutama terhadap  ilmu pengetahuan, peradaban, serta  akhlak manusia.
B.     Saran
Demikianlah tugas penyusunan karya tulis kami persembahkan. Harapan kami dengan adanya tulisan ini bisa menjadikan kita untuk lebih menyadari bahwa agama islam memiliki khazanah keilmuan yang sangat dalam untuk mengembangkan potensi yang kita punya, agar kelak kita menjadi seorang muslim dan muslimah yang bijak sekaligus intelek. Serta dengan harapan dapat bermanfaat dan bisa di pahami oleh para pembaca, khususnya dari dosen mata kulian Ulumul Qur’an yang telah membimbing kami. Apabila ada kekurangan dalam penyusunan karya tulis ini, kami mohon  maaf yang sebesar – besarnya.


DAFTAR PUSTAKA
Muhammad, Teungku Hasbi Ash Shiddieqy. 2002. Ilmu – ilmu Al – Qur’an. Semarang : Pustaka Rizki
Mutamam, Hadi. 2001. Hikmah dalam Al – Qur’an.Yogyakarta : Madani Pustaka Hikmah
Shams, Ahmad Madyan. 2008. Peta Pembelajaran Al – Qur’an. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar