Rabu, 13 Mei 2015

prilaku menyimpang



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Perilaku Menyimpang
Mendefinisikan prilaku menyimpang adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Problem nya adalah menyimpang terhadap apa? Penyimpangan terhadap peraturan orang tua, seperti pulang terlalu malam atau merokok bisa dikatakan penyimpangan juga dan karena itu dinamakan kenalakan. Penyimpangan terhadap tatarama masyarakat, seperti duduk mengangkat duduk kaki dihadapan yang lebih tinggi derajatnya bisa juga digolongkan penyimpangan yang dalam hal dianamakan kekurangajaran. Dan tentu saja tingkah laku yang melanggar hukum seperti membawa ganja ke sekolah atau mencuri uang orang tua adalah penyimpangan juga
Apakah perlilaku menyimpang itu ? Secara umum, siswa-siswa yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang pada pokoknya, menganggu atau merugikan orang lain maupun dirinya sendiri sering dideskripsikan sebagai manifestasi  dari penyimpangan perilaku. Istilah penyimpangan perilaku sering di gunakan secara bergantian merujuk pada istilah gangguan emosional (emotional disturbance) dan ketidakmampuan penyesuaian diri (maladjusment) dengan berbagai bentuk variasiya. Hal ini dapat dicermati melalui gejala perilaku atau partisipasi siswa di kelas, situasi bermain, kemampuan berkomunikasi, dan interaksi sosial; agresi sosial, ancaman, perilaku destruktif, tindakan yang tidak sesuai dengan norma-norma; kelambatan dalam prestasidan keterampilan akademik; perasaan takut, rasa bersalah dan ekspresi verbal lainnya. Anak dan remaja yang mangalami penyimpangan perilaku  mungkin akan menunjukan sebagian saja dari gejala penyimpangan perilaku-perilaku itu atau bersifat lebih kompleks.
Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat. Sedangkan pelaku yang melakukan penyimpangan itu disebut devian (deviant). Adapun perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat disebut konformitas.
Ada beberapa definisi perilaku menyimpang menurut sosiologi, antara lain sebagai berikut:
1. James Vender Zender. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
2. Bruce J Cohen. Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
3. Robert M.Z. Lawang . Perilaku menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
Berdasarkan orientasi kebutuhan pendidikan khusus, maka penyimpangan perilaku didefinisikan sebagai perilaku yang menunjukan karakteristik :
a.       Membutuhkan guru yang mempunyai kemampuan khusus atau berada dengan standar normalitas,
b.      Gangguan fungsional terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Karakterisik perilaku tersebut dimanifestasikan sebagai konflik lingkungan dan atau gangguan perilaku.

1.      Orientasi Pendidikan Khusus
Aspek-aspek penyimapangan perilaku berhubungan dengan kemampuan pendidik d sekolah khusus. Faktor-faktor yang berhubungan dengan orientasi pendidikan khusus mancakup karakteristik pribadi, kemampuan guru dan prevalensi penyimpangan perilaku. Para pendidik kiranya perlu memerhatikan karakteristik perilaku siswa yang mangalami penyimpangan perilaku, termasuk gerakan fisik, kemampuan bicara / bahasa, respons-respons fisiologis (air mata, muka merah) dan efek-efek perilakunya terhadap objek dan orang-orang sekitarnya.
      Pada kondisi tertentu, batas pemisah antara perilaku normal dan tidak normal sering kali tidak jelas. Pada umumnya, guru mempuyai harapan-harapan mengenai situasi khas sekolah, harapan yang berhubungan dengan usia, peran jenis, dan karakteristik lainnya. Penyimpangan perilaku kadang-kadang bersifat unik, lazim terjadi dengan frekuensi dan intensitas yang relatip mungkin tidak sesuai dengan harapan guru.
2.      Perkembangan Pendidikan Khusus
a.       Pendidikan khusus bagi anak yang berprilaku menyimpang.
Para pemerhati anak dan peraturan tentang kewajiban memperoleh pendidikan pada abad ke-19 sangat mendukung upaya di wujudkannya lembaga pendidikan anak dan remaja yang mengalami kelainan baik fisik, mental, dan sosial.
b.      Aliran psikologi psikodinamik
Sigmund Freud, seorang neurologist (ahli saraf) berkebangsaan erofa semula merasa tidak puas dengan terapi yang telah tersedia untuk fasien-fasiennya, kemudian ia menciptakan psikoanalisis antara 1890 – 1930. Psikoanalisis adalah suatu teori yang kompleks sebagai perkembangan psikologi normal, sumber-sumber perilaku meyimpang, dan bagaimana penyimpangan itu memperoleh perawatan.
Secara singkat, psikologi psikodinamik di uraikan sebagai perkembangan dan interaksi antara proses intrapsikis (mental). Interaksi intrapsikis tersebut di yakini sebagai faktor penentu emosi dan perilaku seseorang, normal atau abnormal. Psikologi psikodinamik telah di gunakan sebagai terapi bagi anak dan remaja dengan dua cara. Pertama, terapi psikoanalisis dan psikodinamik yang lain di gunakan sebagai terapi secara individual atau kelompok pada klinik kesehatan, dan lembaga pendidikan / sekolah. Kedua, prinsip-prinsip psikologi psikodinamik telah di adaptasi terutama untuk keperluan situasi pendidikan yang menghasilkan model-model psiko-edukasional untuk siswa-siswa berprilaku menyimpang.
c.       Psikologi Behaviorisme
Pada permulaan abad ke-20, penelitian mengenai perilaku sangat tergantung pada psikologi prilaku modern. Eksperimen B.F. Skinner (1930-an ) telah mengidentifikasikan pentingnya hubungan antara perilaku dengan stimulus lingkungan berdasarkan perinsip-perinsip operant conditioning. Sejumlah besar hasil penelitian menunjukan bahwa tsimulus yang tepat dapat memprediksi dan memodifikasi perilaku secara tepat.[3]
3.      Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Perilaku
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab penyimpangan perilaku  dapat di klasifikasikan atas dua kategori, yaitu:
a.       Kondisi biologis
Ø  Faktor hereditas, hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa karakteristik anak dapat di pengaruhi oleh faktor genetik yang bersifat bawaan dari orang tua.
Ø  Kerusakan otak (brain disorder), kerusakan otak dapat terjadi sebelum kelahiran, pada saat kelahiran, maupun setelah kelahiran. Kerusakan otak meliputi kerusakan struktural, disfungsi otak.
Ø  Diet atau keadaan nutrisi, hasil penelitian Lahey & Ciminero (1980), menunjukan bahwa kekurangan nutrisi tidak hanya menyebabkan terjadinya retardasi fisik dan mental, tetapi juga menjadi penyebab terjadi perilaku meyimpang. Pauling (1968) menjelaskan bahwa kekurangan vitamin dan makanan bergizi dapat menyebabkan hiperaktivitas.
b.      Kondisi psikologis
Kondisi psikologis dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku. Kondisi-kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat atau faktor yang bersumber dari individu sendiri seperti stres. Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang yang bersumber dari lingkungan keluarga seperti perceraian orang tua, ketidak hadiran orang tua, konflik orang tua, penyimpangan perilaku orang tua.
Stres merujuk pada situasi di mana seseorang mengalami kesenjangan antara kebutuhan dan tuntutan lingkungan, faktor fisiologis, sosial maupun psikologis merupakan stres yang berdampak negatif seperti frustasi, kehilangan sesuatu yang di cintai, di sebut stressor. Stressor dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisiologis (sirkulasi dan tekanan darah), gangguan perhatian, pemecahan masalah, unjuk kerja, takut, marah, dan emosi yang berlebihan.[4]
4.      Bentuk-bentuk Perilaku Menyimpang
1.      Penyalahgunaan Narkoba
Merupakan bentuk penyelewengan terhadap nilai, norma sosial dan agama. Dampak negatif yang ditimbulkan akan menyebabkan berkurangnya produktivitas seseorang selama pemakaian bahan-bahan tersebut bahkan dapat menyebabkan kematian.
Menurut Graham Baliane, ada beberapa penyebab seseorang remaja memakai narkoba, antara lain sebagai berikut: 1) Mencari dan menemukan arti hidup. 2) Mempermudah penyaluran dan perbuatan seksual. 3) Menunjukkan tindakan menentang otoritas orang tua, guru, dan norma-norma sosial. 4) Membuktikan keberanianya dalam melakukan tindakan berbahaya seperti kebut-kebutan dan berkelahi. 5) Melepaskan diri dari kesepian. 6) Sekedar iseng dan didorong rasa ingin tahu. 7) Mengikuti teman-teman untuk menunjukkan rasa solidaritas. 8) Menghilangkan frustasi dan kegelisahan hidup.
9) Mengisi kekosongan, kesepian, dan kebosanan.
2.      Penyimpangan seksual
Penyimpangan seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan. Penyebab penyimpangan seksual antara lain adalah pengaruh film-film porno, buku dan majalah porno. Contoh penyimpangan seksual antara lain sebagai berikut: 1) Perzinahan yaitu hubungan seksual di luar nikah. 2) Lesbian yaitu hubungan seksual yang dilakukan sesama wanita. 3) Homoseksual adalah hubungan seksual yang dilakukan sesama laki-laki. 4) Pedophilia adalah memuaskan kenginan seksual dengan menggunakan kontak seksual dengan anak-anak.  5) Gerontophilia adalah memuaskan keinginan seksual dengan orang tua seperti kakek dan nenek. 6) Kumpul kebo adalah hidup seperti suami istri tanpa nikah.
3.      Alkoholisme
Alkohol disebut juga racun protoplasmik yang mempunyai efek depresan pada sistem syaraf. Orang yang mengkonsumsinya akan kehilangan kemampuan mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Sehingga seringkali pemabuk melakukan keonaran, perkelahian, hingga pembunuhan.
4.      Kenakalan Remaja
Gejala kenakalan remaja tampak dalam masa pubertas (14 – 18 tahun), karena pada masa ini jiwanya masih dalam keadan labil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan yang negatif. Penyebab kenakalan remaja antara lain sebagai berikut.
a. Lingkungan keluargayang tidak harmonis.
b. Situasi yang menjemukan dan membosankan.
c. Lingkungan masyarakat yang tidak menentu bagi prospek kehidupan masa mendatang, seperti lingkungan kumuh dan penuh kejahatan. Contoh perbuatan kenakalan seperti pengrusakan tempat/fasilitas umum, penggunaan obat terlarang, pencurian, perkelahian atau tawuran dan lain sebagainya. Salah satu bentuk tawuran tersebut adalah tawuran pelajar. Tawuran pelajar berbeda dengan perkelahian biasa. Tawuran pelajar dapat digolongkan sebagai patologi (penyakit) karena sifatnya yang kompleks dengan penyebab dan akibat yang berbeda-beda.
5. Gangguan Mental
a.       Peristiwa traumatis
Pada suatu saat dalam kehidupannya manusia tentu pernah mengalami kejadian yang begitu membekas dalam seluruh struktur keperibadiannya. Peristiwa semacam ini dapat saja berlangsung sekejap (peristiwa tarumatis).
b.      Psikopatologi
Salah satu cabang psikologi yang mempelajari gangguan-gangguan psikis, emosional, dan prilaku menyimpang pada umumnya adalah psikopatologi. Pembahasan terhadap perubahan-perubahan prilaku karena gangguan-gangguan tersebut menimbulkan berbagai masalah.
c.       Pola prilaku
Pendekatan ini dianggap mewakili pandangan psikologi. Prilaku yang menyimpang dianggap sebagai suatu pola prilaku yang dipelajari waktu individu menghadapi setres, seperti yang dijelaskan didepan sehubungan dengan reaksi terhadap frustasi. Pendekatan ini juga menyatakan bahwa untuk mengatasi suatu prilaku menyimpang individu harus mengalami proses belajar kembali.
d.      Eklektis
Setiap pendekatan diatas mempunyai kelemahan sendiri-sendiri, tetapi juga selalu ada gunanya dalam suatu tertentu. Oleh karena itu, para ahli cenderung, memandang prilaku abnormal secara eklektis, yaitu memandang konsep-konsep kriteria yang dipakai dalam tiap pendekatan bersifat komplementer.









[1] Sarlito wirawan sarwono,psikologi remaja, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2002. Hlm.203.
[2] Syamsul bachri thalib,psikologi pendidikan berbasis analisis empiris aplikatif, Jakarta: Kencana prenada media group, 2010. Hlm.251-251
[3]  Ibid, hlm. 252-258.
[4]  Ibid, hlm. 258-260.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar