BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Perilaku Menyimpang
Mendefinisikan prilaku menyimpang adalah hal yang
cukup sulit dilakukan. Problem nya adalah menyimpang terhadap apa? Penyimpangan
terhadap peraturan orang tua, seperti pulang terlalu malam atau merokok bisa
dikatakan penyimpangan juga dan karena itu dinamakan kenalakan. Penyimpangan
terhadap tatarama masyarakat, seperti duduk mengangkat duduk kaki dihadapan
yang lebih tinggi derajatnya bisa juga digolongkan penyimpangan yang dalam hal
dianamakan kekurangajaran. Dan tentu saja tingkah laku yang melanggar hukum
seperti membawa ganja ke sekolah atau mencuri uang orang tua adalah
penyimpangan juga
Apakah
perlilaku menyimpang itu ? Secara
umum, siswa-siswa yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang pada pokoknya,
menganggu atau merugikan orang lain maupun dirinya sendiri sering
dideskripsikan sebagai manifestasi dari
penyimpangan perilaku. Istilah penyimpangan perilaku sering di gunakan secara
bergantian merujuk pada istilah gangguan emosional (emotional disturbance) dan
ketidakmampuan penyesuaian diri (maladjusment) dengan berbagai bentuk
variasiya. Hal ini dapat dicermati melalui gejala perilaku atau partisipasi
siswa di kelas, situasi bermain, kemampuan berkomunikasi, dan interaksi sosial;
agresi sosial, ancaman, perilaku destruktif, tindakan yang tidak sesuai dengan
norma-norma; kelambatan dalam prestasidan keterampilan akademik; perasaan
takut, rasa bersalah dan ekspresi verbal lainnya. Anak dan remaja yang
mangalami penyimpangan perilaku mungkin
akan menunjukan sebagian saja dari gejala penyimpangan perilaku-perilaku itu
atau bersifat lebih kompleks.
Perilaku
menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat.
Sedangkan pelaku yang melakukan penyimpangan itu disebut devian (deviant).
Adapun perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku dalam
masyarakat disebut konformitas.
Ada beberapa definisi perilaku
menyimpang menurut sosiologi, antara lain sebagai berikut:
1. James Vender Zender. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
1. James Vender Zender. Perilaku menyimpang adalah perilaku yang dianggap sebagai hal tercela dan di luar batas-batas toleransi oleh sejumlah besar orang.
2. Bruce J Cohen. Perilaku
menyimpang adalah setiap perilaku yang tidak berhasil menyesuaikan diri dengan
kehendak-kehendak masyarakat atau kelompok tertentu dalam masyarakat.
3. Robert M.Z. Lawang . Perilaku
menyimpang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku
dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang
dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut.
Berdasarkan orientasi kebutuhan pendidikan khusus, maka
penyimpangan perilaku didefinisikan sebagai perilaku yang menunjukan
karakteristik :
a.
Membutuhkan guru yang mempunyai kemampuan khusus atau berada dengan
standar normalitas,
b.
Gangguan fungsional terhadap diri sendiri maupun terhadap orang
lain. Karakterisik perilaku tersebut dimanifestasikan sebagai konflik
lingkungan dan atau gangguan perilaku.
1.
Orientasi Pendidikan Khusus
Aspek-aspek penyimapangan perilaku berhubungan dengan kemampuan
pendidik d sekolah khusus. Faktor-faktor yang berhubungan dengan orientasi
pendidikan khusus mancakup karakteristik pribadi, kemampuan guru dan prevalensi
penyimpangan perilaku. Para pendidik kiranya perlu memerhatikan karakteristik
perilaku siswa yang mangalami penyimpangan perilaku, termasuk gerakan fisik,
kemampuan bicara / bahasa, respons-respons fisiologis (air mata, muka merah)
dan efek-efek perilakunya terhadap objek dan orang-orang sekitarnya.
Pada kondisi tertentu, batas pemisah
antara perilaku normal dan tidak normal sering kali tidak jelas. Pada umumnya,
guru mempuyai harapan-harapan mengenai situasi khas sekolah, harapan yang
berhubungan dengan usia, peran jenis, dan karakteristik lainnya. Penyimpangan
perilaku kadang-kadang bersifat unik, lazim terjadi dengan frekuensi dan
intensitas yang relatip mungkin tidak sesuai dengan harapan guru.
2.
Perkembangan Pendidikan Khusus
a.
Pendidikan khusus bagi anak yang berprilaku menyimpang.
Para pemerhati anak dan peraturan tentang kewajiban memperoleh
pendidikan pada abad ke-19 sangat mendukung upaya di wujudkannya lembaga
pendidikan anak dan remaja yang mengalami kelainan baik fisik, mental, dan
sosial.
b.
Aliran psikologi psikodinamik
Sigmund Freud, seorang neurologist (ahli saraf) berkebangsaan erofa
semula merasa tidak puas dengan terapi yang telah tersedia untuk
fasien-fasiennya, kemudian ia menciptakan psikoanalisis antara 1890 – 1930.
Psikoanalisis adalah suatu teori yang kompleks sebagai perkembangan psikologi
normal, sumber-sumber perilaku meyimpang, dan bagaimana penyimpangan itu
memperoleh perawatan.
Secara singkat,
psikologi psikodinamik di uraikan sebagai perkembangan dan interaksi antara
proses intrapsikis (mental). Interaksi intrapsikis tersebut di yakini sebagai
faktor penentu emosi dan perilaku seseorang, normal atau abnormal. Psikologi
psikodinamik telah di gunakan sebagai terapi bagi anak dan remaja dengan dua
cara. Pertama, terapi psikoanalisis dan psikodinamik yang lain di gunakan
sebagai terapi secara individual atau kelompok pada klinik kesehatan, dan
lembaga pendidikan / sekolah. Kedua, prinsip-prinsip psikologi psikodinamik
telah di adaptasi terutama untuk keperluan situasi pendidikan yang menghasilkan
model-model psiko-edukasional untuk siswa-siswa berprilaku menyimpang.
c.
Psikologi Behaviorisme
Pada permulaan abad ke-20, penelitian mengenai perilaku sangat
tergantung pada psikologi prilaku modern. Eksperimen B.F. Skinner (1930-an )
telah mengidentifikasikan pentingnya hubungan antara perilaku dengan stimulus
lingkungan berdasarkan perinsip-perinsip operant conditioning. Sejumlah besar
hasil penelitian menunjukan bahwa tsimulus yang tepat dapat memprediksi dan
memodifikasi perilaku secara tepat.[3]
3.
Faktor-faktor Penyebab Penyimpangan Perilaku
Secara
garis besar, faktor-faktor penyebab penyimpangan perilaku dapat di klasifikasikan atas dua kategori,
yaitu:
a.
Kondisi biologis
Ø Faktor
hereditas, hasil-hasil penelitian mengungkapkan bahwa karakteristik anak dapat
di pengaruhi oleh faktor genetik yang bersifat bawaan dari orang tua.
Ø Kerusakan otak
(brain disorder), kerusakan otak dapat terjadi sebelum kelahiran, pada saat
kelahiran, maupun setelah kelahiran. Kerusakan otak meliputi kerusakan
struktural, disfungsi otak.
Ø Diet atau
keadaan nutrisi, hasil penelitian Lahey & Ciminero (1980), menunjukan bahwa
kekurangan nutrisi tidak hanya menyebabkan terjadinya retardasi fisik dan
mental, tetapi juga menjadi penyebab terjadi perilaku meyimpang. Pauling (1968)
menjelaskan bahwa kekurangan vitamin dan makanan bergizi dapat menyebabkan
hiperaktivitas.
b.
Kondisi psikologis
Kondisi psikologis dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan
perilaku. Kondisi-kondisi tersebut dapat bersumber dari lingkungan keluarga,
lingkungan masyarakat atau faktor yang bersumber dari individu sendiri seperti
stres. Beberapa faktor penyebab perilaku menyimpang yang bersumber dari
lingkungan keluarga seperti perceraian orang tua, ketidak hadiran orang tua,
konflik orang tua, penyimpangan perilaku orang tua.
Stres merujuk pada situasi di mana seseorang mengalami kesenjangan
antara kebutuhan dan tuntutan lingkungan, faktor fisiologis, sosial maupun
psikologis merupakan stres yang berdampak negatif seperti frustasi, kehilangan
sesuatu yang di cintai, di sebut stressor. Stressor dapat mengakibatkan
terjadinya gangguan fisiologis (sirkulasi dan tekanan darah), gangguan
perhatian, pemecahan masalah, unjuk kerja, takut, marah, dan emosi yang
berlebihan.[4]
4.
Bentuk-bentuk
Perilaku Menyimpang
1.
Penyalahgunaan
Narkoba
Merupakan
bentuk penyelewengan terhadap nilai, norma sosial dan agama. Dampak negatif
yang ditimbulkan akan menyebabkan berkurangnya produktivitas seseorang selama
pemakaian bahan-bahan tersebut bahkan dapat menyebabkan kematian.
Menurut Graham Baliane, ada beberapa penyebab seseorang remaja memakai narkoba, antara lain sebagai berikut: 1) Mencari dan menemukan arti hidup. 2) Mempermudah penyaluran dan perbuatan seksual. 3) Menunjukkan tindakan menentang otoritas orang tua, guru, dan norma-norma sosial. 4) Membuktikan keberanianya dalam melakukan tindakan berbahaya seperti kebut-kebutan dan berkelahi. 5) Melepaskan diri dari kesepian. 6) Sekedar iseng dan didorong rasa ingin tahu. 7) Mengikuti teman-teman untuk menunjukkan rasa solidaritas. 8) Menghilangkan frustasi dan kegelisahan hidup.
9) Mengisi kekosongan, kesepian, dan kebosanan.
Menurut Graham Baliane, ada beberapa penyebab seseorang remaja memakai narkoba, antara lain sebagai berikut: 1) Mencari dan menemukan arti hidup. 2) Mempermudah penyaluran dan perbuatan seksual. 3) Menunjukkan tindakan menentang otoritas orang tua, guru, dan norma-norma sosial. 4) Membuktikan keberanianya dalam melakukan tindakan berbahaya seperti kebut-kebutan dan berkelahi. 5) Melepaskan diri dari kesepian. 6) Sekedar iseng dan didorong rasa ingin tahu. 7) Mengikuti teman-teman untuk menunjukkan rasa solidaritas. 8) Menghilangkan frustasi dan kegelisahan hidup.
9) Mengisi kekosongan, kesepian, dan kebosanan.
2.
Penyimpangan
seksual
Penyimpangan
seksual adalah perilaku seksual yang tidak lazim dilakukan. Penyebab
penyimpangan seksual antara lain adalah pengaruh film-film porno, buku dan
majalah porno. Contoh penyimpangan seksual antara lain sebagai berikut: 1)
Perzinahan yaitu hubungan seksual di luar nikah. 2) Lesbian yaitu hubungan
seksual yang dilakukan sesama wanita. 3) Homoseksual adalah hubungan seksual
yang dilakukan sesama laki-laki. 4) Pedophilia adalah memuaskan kenginan
seksual dengan menggunakan kontak seksual dengan anak-anak. 5) Gerontophilia adalah memuaskan keinginan
seksual dengan orang tua seperti kakek dan nenek. 6) Kumpul kebo adalah hidup
seperti suami istri tanpa nikah.
3.
Alkoholisme
Alkohol
disebut juga racun protoplasmik yang mempunyai efek depresan pada sistem
syaraf. Orang yang mengkonsumsinya akan kehilangan kemampuan mengendalikan
diri, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Sehingga seringkali pemabuk
melakukan keonaran, perkelahian, hingga pembunuhan.
4.
Kenakalan
Remaja
Gejala
kenakalan remaja tampak dalam masa pubertas (14 – 18 tahun), karena pada masa
ini jiwanya masih dalam keadan labil sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan
yang negatif. Penyebab kenakalan remaja antara lain sebagai berikut.
a. Lingkungan
keluargayang tidak harmonis.
b. Situasi
yang menjemukan dan membosankan.
c.
Lingkungan masyarakat yang tidak menentu bagi prospek kehidupan masa mendatang,
seperti lingkungan kumuh dan penuh kejahatan. Contoh perbuatan kenakalan
seperti pengrusakan tempat/fasilitas umum, penggunaan obat terlarang,
pencurian, perkelahian atau tawuran dan lain sebagainya. Salah satu bentuk
tawuran tersebut adalah tawuran pelajar. Tawuran pelajar berbeda dengan
perkelahian biasa. Tawuran pelajar dapat digolongkan sebagai patologi
(penyakit) karena sifatnya yang kompleks dengan penyebab dan akibat yang
berbeda-beda.
5. Gangguan
Mental
a.
Peristiwa traumatis
Pada
suatu saat dalam kehidupannya manusia tentu pernah mengalami kejadian yang
begitu membekas dalam seluruh struktur keperibadiannya. Peristiwa semacam ini
dapat saja berlangsung sekejap (peristiwa tarumatis).
b.
Psikopatologi
Salah
satu cabang psikologi yang mempelajari gangguan-gangguan psikis, emosional, dan
prilaku menyimpang pada umumnya adalah psikopatologi. Pembahasan terhadap
perubahan-perubahan prilaku karena gangguan-gangguan tersebut menimbulkan
berbagai masalah.
c.
Pola prilaku
Pendekatan
ini dianggap mewakili pandangan psikologi. Prilaku yang menyimpang dianggap
sebagai suatu pola prilaku yang dipelajari waktu individu menghadapi setres,
seperti yang dijelaskan didepan sehubungan dengan reaksi terhadap frustasi.
Pendekatan ini juga menyatakan bahwa untuk mengatasi suatu prilaku menyimpang
individu harus mengalami proses belajar kembali.
d.
Eklektis
Setiap
pendekatan diatas mempunyai kelemahan sendiri-sendiri, tetapi juga selalu ada
gunanya dalam suatu tertentu. Oleh karena itu, para ahli cenderung, memandang prilaku
abnormal secara eklektis, yaitu memandang konsep-konsep kriteria yang dipakai
dalam tiap pendekatan bersifat komplementer.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar