Selasa, 12 Mei 2015

filsafat zaman modern



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Masa modern menjadi identitas didalam filsafat modern. Pada masa ini rasionalisme semakin kuat. Tidak gampang untuk menentukan mulai dari kapan abad pertengahan berhenti. Namun, dapat dikatakan bahwa abad pertengahan itu berkahir pada abad ke-15 dan ke-16 atau pada akhir masa renaissance. Usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik yunani-romawi kebudayaan ini pulalah yang diresapi oleh suasana kristiani.
            Satuhal yang menjadi perhatian pada masa renaissance ini adalah perkembangannya. Perkembangan pada masa ini menimbulkan sebuah masa yang amat berperan  di dalam dunia filsafat. Inilah yang menjadi awal dari masa modern timbulnya ilmu pengetahuan yang modern khususnya di dalam bidang ilmu pengetahuan mengutamakan logika dan empirisme.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Reneissance ?
2.      Bagaimana pemikiran dari Descartes ?
3.      Apa pengertian Rasionalisme ?
4.      Bagaimana Empirisme di inggris ?

C.     Tujuan Masalah
1.      Agar bisa mengetahui makna Reneissance
2.      Agar bisa mengetahui Pemikiran dari Descartes
3.      Agar bisa mengetahui pengartian Rasionalisme
4.      Agar bisa mengetahui Empirisme di Inggris


BAB II
PEMBAHASAN
A.    ZAMAN RENAISANCE
              Kata renaissance berasal dari bahasa prancis. Dalam bahasa latinnya re + nasci berarti lahir kembali ( rebirth ). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarahwan untuk menunjuj berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di eropa dan lebih khusus lagi di italia, sepanjang abad ke- 15 dan ke- 16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh seorang sejarahwan terkenal, Michelet, dan dikembangkan oleh j. Burckhardt (1860)Untuk konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme, kebangkitan, kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan ( Runes ; 270 ).
                 Zaman renaissance rupanya dianggap juga sebagai suatu babak penting dalam sejarah peradaban. Voltaire, orang yang membagi babak sejarah peradaban menjadi empat, menganggap renaissance merupakan babak ketiga. Dari keempat babak itu. Pada abad ke-19,renaissance terutama dipandang sebagai masa yang penting dalam seni dan sastra. Menurut Jules Michelet, sejarahwan prancis terkenal yang telah disebut di atas. Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia. Dialah yang mula-mula menyatakan bahwa Renaissance lebih dari sekedar kebangkitan peradaban yang merupakan yang merupakan permulaan kebangkitan dunia modern. [1]
B.     RASIONALISME (DESCARTES)
                 Rasionalisme adalah paham filsafatyang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan.jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan alam mengalami obje empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Alat dalam berfikir itu ialah kaiidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.[2]
                 Rasionalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan dalam bidang filafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas, dalam dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme.
     Rasionalisme dalam bidang agama biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama, rasionalisme dalam bidang filsafat terutama berguna sebagai teori pengetahuan. Sebagai lawan empirisme, rasionalisme berpendapat bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuan datang dari penemuan akal. Sejarah rasionalisme sangat tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas seali pada orang-orang sofis dan tokoh-tokoh penentangannya (Socrates, plato, aristoteles), dan juga beberapa tokoh sesudahitu ( Runes, 1971:75). Pada zaman modern filsafat, tokoh pertama rasionalisme ialah Descartes.
     Zaman modern dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh filsafat Descartes. Tentu saja pernyataan ini bermaksud menyederhanakan permasalahan. Kata modern disini hanya digunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amat berbeda, bahkan berlawanan, dengan corak filsafat pada abad pertengahan Kristen. Corak utama filsafat modern yang dimaksud disini ialah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa yunani kuno.
     Descartes dianggap sebagai bapak filsafat modern. Menurut Bertrand Russel, anggapan itu memang benar. Kata “Bapak” diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern. Itu yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dialah orang pertama di akhir abad pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal,bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya. Descartes adalah orang inggris. Ayahnya anggota parlemen inggris. Pada tahun 1612 Descartes pergi ke prancis. Ia taat mengerjakan ibadah menurut ajaran agama katholik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Dan tahun 1629 sampai tahun 1649 ia menetap di belanda.
     Descartes telah lama merasa tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban itu. Amat lamban terutama bila dibandingkan dengan perkembangan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia melihat tokoh-tokoh gereja yang mengatasnamakan agama dilepaskan dari dominasi agama Kristen. Ia ingin filsafat dikembalikan kepada semangat filsafat yunani, yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Ia ingin menghidupkan kembali rasionalisme yunani.[3]
C.     Descartes (1596-1650)
                         Descartes lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. Ia mengetahui bahwa tidak mudah meyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio (akal). Tokoh-tokoh gereja waktu itu tetap yakin bahwa dasar filsafat haruslah iman sebagaimana tersirat di dalam jargon credo ut intelligam dari anselmus itu. Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun argumentasi yang amat terkenal. Argumentasi itu tertuang didalam metode cogita tersebut. Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan (lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat di ragukan.mula-mula ia meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diraguan. Inilah langkah pertama metode cogita tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keaadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seoalah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya. Di dalam  mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula pada pengalaman halusinasi, ilusi, dan kenyataan ghaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi dan jaga. Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh halus itu, bila dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan tetapi benda-benda itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan roh halus. Menurut Descartes dalam keempat keadaan itu ( mimpi, halusinasi, ilusi, roh halus), juga dalam jaga ada sesuatu yang selalu muncul. Ada sesuatu yang muncul, baik dalam jaga maupun dalam mimpi. Yang selalu muncul itu ialah gerak, jumlah, dan besaran ( volume).[4]
                                                                




D.    Empirisme
            Empirisme adalah salah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri,  dan mengecilkan peranan akal. Istilah empirisme diambil dari bahasa Yunani empeiria  yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sebagai doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical positivisme) dan filsafat Ludwig wittegenstein. Akan tetapi, teor makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Tanpa pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu. Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa. Tanpa pengalaman hanyalah khayalan belaka.
            Pada abaad ke-20 kaum empirisis cendrung menggunakan teori makna mereka pada pentuan apakah satu konsep diterapkan dengan benar dan tidak, bukn pada asal-usul pengetahuan. Salah satu contoh penggunaan empirisme secara pragmatis ini ialah pada Charles Sanders Peirce “ tentukanlah apa pengaruh konsep itu pada praktek yang dapat dipahami kemudian tentang konsep pengaruh itu, itulah tentang konsep objek tertentu.”[5]
            Jhon  Locke (1632 – 1704) ia adalah filosof di Inggris yang banyak mempelajari agama Kristen. Filsafat Jhon Locke dapat dikatakan anti metafsika.ia menerima keraguan sementara yng diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan Descartes. Ia juga meolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengaalaman atau disebut dengan induksi. Jhon Locke termasuk orang yang menggumi Descartes, tetapi ia tidak menyetujui ajarannya, bagi Jhon Locke, mula-mula rasio manusia harus dianggap sebagai “lembaran kertas putih” (as a white paper) dan seluruh isinya berasal dari pengalaman. Dan bagi Locke pengalaman ada dua: pengalaman lahirian (sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Kedua sumber pengalaman ini menghasilkan ide-ide tunggal. Roh manusia bersifat pasif dalam menerima ide-ide tersebut.
            Pandangan Locke mengenai lembaran putih  manusia mirip sekali dengan teori fitrah dalam filsaafat Islam, fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir yang didalemnya terkandung tiga potensi dengan fungsinya masing-masing. Pertama potensi ‘aql yang berfungsi untuk mengenai Tuhan dan mengesakan Tuhan. kedua, potensi syahwat yang berfungsi untuk menginduksi objek-objek yang  menyenangkan. Ketiga, potensi qodhab yang berfungsi untuk menghindari segala yang membahayakan. Buku Locke, Essay Concering Human Understanding (1689 M), ditulis berdasarkan premis, yaitu semua pengetahuan datang dari semua pengalaman. Ini berarati tidak ada yang dapat dijadikan idea untuk konsep tentang sesuatu yang berada dibelakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate ideatermasuk yang diajarkan oleh Descartes, Clear and Distinct idea. Adequate idea dari Spinoza, truth of reason dari Leibniz, semuanya ditolaknya. Yang innate (bawaan) itu tidak ada.  Adapun alasan-alasannya bahwa:
1.      Dari jalan masuknya pengetahuan, kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti ditempelkan pada jiwa manusia dan jiwa membawanya kedunia ini.
2.      Persetujuan umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innateidea justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
3.      Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
4.      Innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui ada.
5.      Tidak juga dicetak kan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, ide yang
innate itu tidak ada padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berfikir.[6]


BAB III
KESIMPULAN
Pada zaman renaissance,renedecrates, rasionalime dan empirisme ini sangatlah berpengaruh di dalam filsafat dunia karena pemikiran-pemikiran filosof-filosofnya sangat luarbiasa. Berbagai periode kebangkitan intelektual khususnya yang terjadi di eropa dan lebih khusus lagi di italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Selama abad ini munculah keinginan kuat akan penemuan-penemuan baru dalam seni dan sastra. Di masing-masing zaman mempunyai sejarah dan pemikiran tersendiri misalnya filsafat decorates yang ada di zaman modern. Decorates dianggap sebagai bapak filsafat modern, kata “ bapak” diberikan karena dia adalah orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat yang terdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah.
SARAN
Banyak-banayaklah membaca, karena dengan membacalah kita bisa tahu segala macam ilmu yang kita pelajari. Misalnya filsafat ini banyak sekali pemikiran-pemikiran yang berbeda-beda karena factor perbedaan zaman, orang yang suka membaca banyak tahu, tapi orang yang tidak suka membaca sok tahu.








DAFTAR PUSTAKA
Prof. dr. ahmad tafsir/ filsafat umum. PT ROSDA KARYANO. 40 Bandung 2012
Prof. I.R Poedjawijatna/pembimbing kea rah alam filsafat.PT RINEKA CIPTA.jakarta
Cetakan kedelapan, November 1990 cetakan ke Sembilan, oktober 1994
Filsafat umum Jakarta 2005, PT RAJA GRAFIND PERSADA
Filsafat umum dari metodologi sampai teofilosofi/ drs. Atang Abdul Hakim, M.A. PT PUSTAKA SETIA. Bandung 2008.


                                                                                                           



[1]Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. ,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya1990) Hal. 124 – 131
[2] Atang Abdul Hakim. Filsafat Umum.(Bandung: Pustaka Setia, 2008), Hal. 247 - 248
[3] Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat,(Jakarta:PT Rineka Cipta, 1994), Hal. 98-101
[4]Ahmad Tafsir. Filsafat Umum. ,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya1990), Hal. 130-133
[5] Asmoro Achmadi.Filsafat Umum, (Jakarta: PT RajaGrafindo,2005), Hal. 116 -118
[6]Atang Abdul Hakim. Filsafat Umum.(Bandung: Pustaka Setia, 2008), Hal. 265 -273























Tidak ada komentar:

Posting Komentar