BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa modern menjadi identitas
didalam filsafat modern. Pada masa ini rasionalisme semakin kuat. Tidak gampang
untuk menentukan mulai dari kapan abad pertengahan berhenti. Namun, dapat
dikatakan bahwa abad pertengahan itu berkahir pada abad ke-15 dan ke-16 atau
pada akhir masa renaissance. Usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik
yunani-romawi kebudayaan ini pulalah yang diresapi oleh suasana kristiani.
Satuhal yang menjadi perhatian pada
masa renaissance ini adalah perkembangannya. Perkembangan pada masa ini
menimbulkan sebuah masa yang amat berperan
di dalam dunia filsafat. Inilah yang menjadi awal dari masa modern
timbulnya ilmu pengetahuan yang modern khususnya di dalam bidang ilmu
pengetahuan mengutamakan logika dan empirisme.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan Reneissance ?
2. Bagaimana
pemikiran dari Descartes ?
3. Apa
pengertian Rasionalisme ?
4. Bagaimana
Empirisme di inggris ?
C.
Tujuan Masalah
1. Agar
bisa mengetahui makna Reneissance
2. Agar
bisa mengetahui Pemikiran dari Descartes
3. Agar
bisa mengetahui pengartian Rasionalisme
4. Agar
bisa mengetahui Empirisme di Inggris
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
ZAMAN RENAISANCE
Kata renaissance berasal dari bahasa prancis. Dalam
bahasa latinnya re + nasci berarti lahir kembali ( rebirth ). Istilah ini
biasanya digunakan oleh sejarahwan untuk menunjuj berbagai periode kebangkitan
intelektual, khususnya yang terjadi di eropa dan lebih khusus lagi di italia,
sepanjang abad ke- 15 dan ke- 16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh seorang
sejarahwan terkenal, Michelet, dan dikembangkan oleh j. Burckhardt (1860)Untuk
konsep sejarah yang menunjuk kepada periode yang bersifat individualisme,
kebangkitan, kebudayaan antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang
dilawankan dengan periode abad pertengahan ( Runes ; 270 ).
Zaman renaissance rupanya dianggap juga sebagai
suatu babak penting dalam sejarah peradaban. Voltaire, orang yang membagi babak
sejarah peradaban menjadi empat, menganggap renaissance merupakan babak ketiga.
Dari keempat babak itu. Pada abad ke-19,renaissance terutama dipandang sebagai
masa yang penting dalam seni dan sastra. Menurut Jules Michelet, sejarahwan
prancis terkenal yang telah disebut di atas. Renaissance ialah periode penemuan
manusia dan dunia. Dialah yang mula-mula menyatakan bahwa Renaissance lebih
dari sekedar kebangkitan peradaban yang merupakan yang merupakan permulaan
kebangkitan dunia modern. [1]
B.
RASIONALISME
(DESCARTES)
Rasionalisme adalah paham filsafatyang mengatakan
bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan
mengetes pengetahuan.jika empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh
dengan alam mengalami obje empiris, maka rasionalisme mengajarkan bahwa
pengetahuan diperoleh dengan cara berfikir. Alat dalam berfikir itu ialah
kaiidah-kaidah logis atau kaidah-kaidah logika.[2]
Rasionalisme ada dua macam: dalam bidang agama dan
dalam bidang filafat. Dalam bidang agama rasionalisme adalah lawan autoritas,
dalam dalam bidang filsafat rasionalisme adalah lawan empirisme.
Rasionalisme dalam bidang agama biasanya digunakan untuk
mengkritik ajaran agama, rasionalisme dalam bidang filsafat terutama berguna
sebagai teori pengetahuan. Sebagai lawan empirisme, rasionalisme berpendapat
bahwa sebagian dan bagian penting pengetahuan datang dari penemuan akal.
Sejarah rasionalisme sangat tua sekali. Thales telah menerapkan rasionalisme
dalam filsafatnya. Ini dilanjutkan dengan jelas seali pada orang-orang sofis
dan tokoh-tokoh penentangannya (Socrates, plato, aristoteles), dan juga
beberapa tokoh sesudahitu ( Runes, 1971:75). Pada zaman modern filsafat, tokoh
pertama rasionalisme ialah Descartes.
Zaman modern dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh
filsafat Descartes. Tentu saja pernyataan ini bermaksud menyederhanakan
permasalahan. Kata modern disini hanya digunakan untuk menunjukkan suatu
filsafat yang mempunyai corak yang amat berbeda, bahkan berlawanan, dengan
corak filsafat pada abad pertengahan Kristen. Corak utama filsafat modern yang
dimaksud disini ialah dianutnya kembali rasionalisme seperti pada masa yunani
kuno.
Descartes dianggap sebagai bapak filsafat
modern. Menurut Bertrand Russel, anggapan itu memang benar. Kata “Bapak”
diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern. Itu
yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang
dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dialah orang pertama di akhir abad
pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang
menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal,bukan perasaan, bukan iman, bukan
ayat suci, bukan yang lainnya. Descartes adalah orang inggris. Ayahnya anggota
parlemen inggris. Pada tahun 1612 Descartes pergi ke prancis. Ia taat
mengerjakan ibadah menurut ajaran agama katholik, tetapi ia juga menganut
Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Dan tahun
1629 sampai tahun 1649 ia menetap di belanda.
Descartes telah lama merasa tidak puas terhadap perkembangan
filsafat yang amat lamban dan banyak memakan korban itu. Amat lamban terutama
bila dibandingkan dengan perkembangan filsafat pada zaman sebelumnya. Ia
melihat tokoh-tokoh gereja yang mengatasnamakan agama dilepaskan dari dominasi
agama Kristen. Ia ingin filsafat dikembalikan kepada semangat filsafat yunani,
yaitu filsafat yang berbasis pada akal. Ia ingin menghidupkan kembali
rasionalisme yunani.[3]
C.
Descartes
(1596-1650)
Descartes
lahir pada tahun 1596 dan meninggal pada tahun 1650. Ia mengetahui bahwa tidak
mudah meyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa dasar filsafat haruslah rasio (akal).
Tokoh-tokoh gereja waktu itu tetap yakin bahwa dasar filsafat haruslah iman
sebagaimana tersirat di dalam jargon credo ut intelligam dari anselmus itu.
Untuk meyakinkan orang bahwa dasar filsafat haruslah akal, ia menyusun
argumentasi yang amat terkenal. Argumentasi itu tertuang didalam metode cogita
tersebut. Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan
(lebih dahulu) segala sesuatu yang dapat di ragukan.mula-mula ia meragukan
semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diraguan. Inilah
langkah pertama metode cogita tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri.
Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi,
dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas.
Pada keempat keaadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seoalah-olah dalam
keadaan yang sesungguhnya. Di dalam
mimpi seolah-olah seseorang mengalami sesuatu yang sungguh-sungguh
terjadi, persis seperti tidak mimpi (jaga). Begitu pula pada pengalaman
halusinasi, ilusi, dan kenyataan ghaib. Tidak ada batas yang tegas antara mimpi
dan jaga. Benda-benda dalam mimpi, halusinasi, ilusi, dan kejadian dengan roh
halus itu, bila dilihat dari posisi kita sedang jaga, itu tidak ada. Akan
tetapi benda-benda itu sungguh-sungguh ada bila dilihat dari posisi kita dalam
mimpi, halusinasi, ilusi, dan roh halus. Menurut Descartes dalam keempat
keadaan itu ( mimpi, halusinasi, ilusi, roh halus), juga dalam jaga ada sesuatu
yang selalu muncul. Ada sesuatu yang muncul, baik dalam jaga maupun dalam
mimpi. Yang selalu muncul itu ialah gerak, jumlah, dan besaran ( volume).[4]
D.
Empirisme
Empirisme
adalah salah satu aliran dalam filosof yang menekankan peranan pengalaman dalam
memperoleh pengetahuan serta pengetahuan itu sendiri, dan mengecilkan peranan akal. Istilah
empirisme diambil dari bahasa Yunani empeiria yang berarti coba-coba atau pengalaman.
Sebagai doktrin, empirisme adalah lawan rasionalisme. Filsafat empirisme
tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical
positivisme) dan filsafat Ludwig wittegenstein. Akan tetapi, teor
makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Tanpa
pengalaman, rasio tidak memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran tertentu.
Kalaupun menggambarkan sedemikian rupa. Tanpa pengalaman hanyalah khayalan
belaka.
Pada
abaad ke-20 kaum empirisis cendrung menggunakan teori makna mereka pada pentuan
apakah satu konsep diterapkan dengan benar dan tidak, bukn pada asal-usul
pengetahuan. Salah satu contoh penggunaan empirisme secara pragmatis ini ialah
pada Charles Sanders Peirce “ tentukanlah apa pengaruh konsep itu pada praktek
yang dapat dipahami kemudian tentang konsep pengaruh itu, itulah tentang konsep
objek tertentu.”[5]
Jhon
Locke (1632 – 1704) ia adalah filosof di Inggris yang banyak mempelajari
agama Kristen. Filsafat Jhon Locke dapat dikatakan anti metafsika.ia
menerima keraguan sementara yng diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak
intuisi yang digunakan Descartes. Ia juga meolak metode deduktif Descartes dan
menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengaalaman atau disebut dengan
induksi. Jhon Locke termasuk orang yang menggumi Descartes, tetapi ia tidak
menyetujui ajarannya, bagi Jhon Locke, mula-mula rasio manusia harus dianggap
sebagai “lembaran kertas putih” (as a white paper) dan seluruh isinya
berasal dari pengalaman. Dan bagi Locke pengalaman ada dua: pengalaman lahirian
(sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Kedua sumber
pengalaman ini menghasilkan ide-ide tunggal. Roh manusia bersifat pasif dalam
menerima ide-ide tersebut.
Pandangan Locke mengenai lembaran
putih manusia mirip sekali dengan
teori fitrah dalam filsaafat Islam, fitrah adalah bawaan manusia sejak lahir
yang didalemnya terkandung tiga potensi dengan fungsinya masing-masing. Pertama
potensi ‘aql yang berfungsi untuk mengenai Tuhan dan mengesakan Tuhan. kedua,
potensi syahwat yang berfungsi untuk menginduksi objek-objek yang menyenangkan. Ketiga, potensi qodhab
yang berfungsi untuk menghindari segala yang membahayakan. Buku Locke, Essay
Concering Human Understanding (1689 M), ditulis berdasarkan premis, yaitu
semua pengetahuan datang dari semua pengalaman. Ini berarati tidak ada yang
dapat dijadikan idea untuk konsep tentang sesuatu yang berada dibelakang pengalaman,
tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata
lain, Locke menolak adanya innate ideatermasuk yang diajarkan oleh
Descartes, Clear and Distinct idea. Adequate idea dari Spinoza, truth
of reason dari Leibniz, semuanya ditolaknya. Yang innate (bawaan)
itu tidak ada. Adapun alasan-alasannya
bahwa:
1.
Dari
jalan masuknya pengetahuan, kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang
agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti ditempelkan
pada jiwa manusia dan jiwa membawanya kedunia ini.
2.
Persetujuan
umum adalah argument yang terkuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh
umum tentang adanya innateidea justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia
tidak ada.
3.
Persetujuan
umum membuktikan tidak adanya innate idea.
4.
Innate
idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui
ada.
5.
Tidak
juga dicetak kan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, ide yang
innate itu tidak ada padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berfikir.[6]
BAB III
KESIMPULAN
Pada zaman renaissance,renedecrates,
rasionalime dan empirisme ini sangatlah berpengaruh di dalam filsafat dunia
karena pemikiran-pemikiran filosof-filosofnya sangat luarbiasa. Berbagai
periode kebangkitan intelektual khususnya yang terjadi di eropa dan lebih
khusus lagi di italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16. Selama abad ini munculah
keinginan kuat akan penemuan-penemuan baru dalam seni dan sastra. Di
masing-masing zaman mempunyai sejarah dan pemikiran tersendiri misalnya filsafat
decorates yang ada di zaman modern. Decorates dianggap sebagai bapak filsafat
modern, kata “ bapak” diberikan karena dia adalah orang pertama pada zaman
modern itu yang membangun filsafat yang terdiri atas keyakinan diri sendiri
yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah.
SARAN
Banyak-banayaklah
membaca, karena dengan membacalah kita bisa tahu segala macam ilmu yang kita
pelajari. Misalnya filsafat ini banyak sekali pemikiran-pemikiran yang
berbeda-beda karena factor perbedaan zaman, orang yang suka membaca banyak
tahu, tapi orang yang tidak suka membaca sok tahu.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. dr. ahmad tafsir/ filsafat
umum. PT ROSDA KARYANO. 40 Bandung 2012
Prof. I.R Poedjawijatna/pembimbing
kea rah alam filsafat.PT RINEKA CIPTA.jakarta
Cetakan kedelapan, November 1990
cetakan ke Sembilan, oktober 1994
Filsafat umum Jakarta 2005, PT
RAJA GRAFIND PERSADA
Filsafat umum dari metodologi sampai
teofilosofi/ drs. Atang Abdul Hakim, M.A. PT PUSTAKA SETIA. Bandung 2008.
[1]Ahmad Tafsir.
Filsafat Umum. ,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya1990) Hal. 124 – 131
[2]
Atang Abdul Hakim. Filsafat Umum.(Bandung: Pustaka Setia, 2008), Hal. 247 - 248
[3]
Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat,(Jakarta:PT Rineka
Cipta, 1994), Hal. 98-101
[4]Ahmad Tafsir.
Filsafat Umum. ,(Bandung:PT Remaja Rosdakarya1990), Hal. 130-133
[5]
Asmoro Achmadi.Filsafat Umum, (Jakarta: PT RajaGrafindo,2005), Hal. 116
-118
Tidak ada komentar:
Posting Komentar