Selasa, 12 Mei 2015

dasar - dasar kependidikan dalam aspek sosiologi



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital bagi pembentukan karakter sebuah peradaban dan kemajuan yang mengiringinya. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa atau masyarakat tidak akan pernah mendapatkan kemajuannya sehingga menjadi bangsa atau masyarakat yang kurang atau bahkan tidak beradab. Dengan demikian sebuah peradaban yang memberdayakan akan lahir dari suatu pola pendidikan dalam skala luas yang tepat guna dan efektif bagi konteks dan mampu menjawab segala tantangan zaman.
Pendidikan disekolah bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau berkat interaksi murid dan guru dalam proses belajar mengajar, melainkan juga oleh interaksi murid dengan lingkungan sosialnya dalam berbagai situasi sosial yang dihadapinya di dalam maupun diluar sekolah. Pendidikan sendiri dapat dipandang sebagai sosialisasi yang terjadi dalam interaksi sosial.
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal. Kebudayaan juga merupakan unsur penting dalam pendidikan, karena seperti yang kita ketahui Indonesia merupakan Negara yang mempunyai beragam budaya, dan budaya itu mempengaruhi pada segala aspek, termasuk pada aspek pendidikan.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nilai-nilai, dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Tetapi jika dalam lingkungan masyarakat tersebut tidak terdapat nilai dan norma, maka pendidikan yang dihasilkan akan jauh dari kesempurnaan.

B.     Rumusan masalah.
1.      Apakah pengertian dan tujuan sosiologi dalam pendidikan?
2.      Apakah pengertian dan tujuan budaya dalam pendidikan?
3.      Apakah implikasi sosial budaya terhadap pendidikan?
4.      Mengapa sosial budaya menjadi salah satu landasan dalam pendidikan?
C.    Tujuan.
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan mampu untuk :
1.      Memahami definisi dari Sosiologi.
2.      Memahami pengertian dari kebudayaan
3.      Mengaplikasikan pengaruh sosial budaya pada pendidikan dengan baik
4.      Memahami alasan adanya sosial budaya dalam pendidikan.













BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pengertian Sosiologi
Istilah sosiologi pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf asal Perancis bernama Auguste Comte dalam bukunya  Cours de la philosophy positive, orang yang dikenal dengan bapak sosiologi tersebut menyebut ilmu sosiologi adalah ilmu pengetahuna tentang masyarakat. Kata sosiologi sebenarnya berasal dari bahasa latin yaitu socius yang berarti teman atau kawan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Disebutkan oleh beliau diatas yang menyatakan sosiologi merupakan ilmu pengetahuan. Sebuah pengetahuan dikatakan sebagai ilmu apabila mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian yang ilmiah, sosiologi dapat dikatakan sebagai ilmu sejauh sosiologi mendasarkan penelaahannya pada bukti-bukti ilmiah dan metode-metoede ilmiah. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam bermasyarakat. Sedangkan secara luas sosiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang masyarakat dimana sosiologi mempelajari masyarakat sebagai kompleks kekuatan, hubungan, jaringan interaksi, serta sebagai kompleks lembaga atau penata.
Dalam sumber lain, Sosiologi adalah pengetahuan tentang ilmu atau sifat, prilaku, dan perkembangan masyarakat. Ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya. Sosiologi juga diartikan sebagai sebuah ilmu kemasyarakatan atau ilmu masyarakat. Yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara manusia bersama dengan sesamanya dalam masyarakat.
Sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang otonom mempunyaisifat-sifat yaitu:
·         Sifat umum, membahas prinsip hubungan antar manusia pada umumnya dan bukanlah orang perorangan atau daerah perdaerah. Jadi, sosiologi adalah ilmu masyarakat pada umumnya dan bukanlah masyarakat tertentu saja.
·         Sifat kategoris, bahwa sosiologis menyatakan apa adanya hubungan antar manusia di dalam masyarakat dan bukan bersifat normatif. Sosiologi hanya mengungkap masalah hubungan antar manusia sebagaimana adanya.
·         Sosiologi adalah ilmu yang menggeneralisasi dan bukan mengidividualisasi, pengaruh keumuman dan bukan kekhususan, juga bersifat mengabstrak dan tidak mengkonkrit.[1]
B.     Pengertian dan tujuan sosiologi pendidikan
Sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Kedua istilah ini dari segi etimologi tentu saja berbeda maksudnya, namun dalam sejarah hidup dan kehidupan serta budaya manusia, kedua istilah ini menjadi satu kesatuan yang terpisahkan. Terutama dalam sistem pemberdayaan manusia, dimana sampai saat ini memanfaatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.
Beberapa pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi (1991). Menurut E. George Payne yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi pendidikan, mengemukakan secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiologi pendidikan adalah “ By educational sociology we mean the science which describes and explains the institution, social groups, and social processes,  that is the social relationshipin which although which the individual gains and organized experience.” Payne menegaskan bahwa, didalam lembaga-lembaga kelompok-kelompok sosial, proses sosial, terdapatlah apa yang dinamakan sosial relationship, dimana didalam dan dengan interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisir pengalaman-pengalamannya.[2]
ü  Tujuan sosiologi pendidikan
a.      Sosiologi pendidikan sebagai analisis proses sosialisasi
Francis Brown mengemukakan bahwa “sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh keseluruhan lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memperoleh dan mengorganisasi dan memperoleh pengalamannya.” Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untukmemperolehperkembangan kepribadian individu yang lebih baik.
b.      Sosiologi pendidikan sebagai analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat.
Penganut konsep ini misalnya menyelidiki hubungan antara masyarakat pedesaan atau lingkungan tertentu dikota dengan sekolah rendah dan menengah. Dalam kelompok ini termasuk juga mereka yang meneliti fungsi sekolah berhubung dengan struktur status sosial dalam lingkungan masyarakat tertentu, seperti misalnya Warner Holling shield dan Stan Dler.
c.       Sosiologi pendidikan sebagai analisis interaksi sosial di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat
Disini diusahakan menganalisi pola-pola interaksi sosial dan peranan sosial dalam masyarakat sekolah dan hubungan orang-orang di dalam sekolah dengan kelompok-kelompok diluar sekolah.
d.      Sosiologi pendidikan sebagai alat kemajuan dan perkembangan sosial
Pendidikan dianggap sebagai badan yang sanggup memperbaiki masyarakat. Pendidikan merupakan alat untuk mencapai kemajuan sosial. Sekolah dapat dijadikan alat kontrol sosial yang membawa kebudayaan ke puncak yang setinggi-tingginya.
e.       Sosiologi pendidikan sebagai dasar untuk menentukan tujuan pendidikan
Sejumlah ahli memandang sosiologi pendidikan sebagai alat untuk menganalisis tujuan pendidikan secara objektif. Mereka mencoba mencapai suatu filsafat pendidikan berdasarkan analisis masyarakat dan kebutuhan masyarakat.
f.        Sosiologi pendidikan sebagai sosiologi terapan
Sejumlah ahli meluruskan sosiologi pendidikan sebagai aplikasi sosiologi terdapat masalah-masalah pendidikan, misalnya mengenai kurikulum. Para ahli sosiologi pendidikan menggunakan segala sesuatu yang diketahui dalam bidang sosiologi dan pendidikan lalu memadukannya dalam suatu ilmu baru dengan menerapkan prinsip-prinsip sosiologi kepada seluruh proses pendidikan.    
g.      Sosiologi pendidikan sebagai  latihan bagi petugas pendidikan
Adakalanya sosiologi diajarkan oleh sejumlah ahli sosiologi dengan tujuan agar calon pendidik memahami masyarakat dan seluruh latar belakang sosial tempat anak disosialisasi.
Sosiologi pendidikan adalah  analisis ilmiah atas proses sosial dan pola-pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan. [3]
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya adalah untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.secara universal, tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah memanusia. Itulah sebabnya sistem pendidikan Nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun 1989 pasal 3 adalah “untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan Nasional.”[4]
Upaya pencapain tujuan nasional tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat madani, yaitu suatu masyarakat yang berperadaban yang menjunjung tunggi nilai-nilai kemanusiaan, yang sadar akan hak dan kewajibannya, demokratis, bertanggung jawab, berdisiplin, menguasai sumber informasi dalam bidang iptek dan seni, budaya dan agama.
ü  Perlu dan pentingnya sosiologi pendidikan
Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif. Perubahan sosial yang cepat itu meliputi berbagai bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi sosial seperti industri, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga, perkumpulan-perkumpulan pendidikan, masalah sosial dan masyarakat itu juga dirasakan oleh dunia pendidikan.
Perubahan sosial yangterjadi di masyarakat tentu saja mempengaruhi pendidikan,baik sebagai ilmu maupun sebagai aktivitas. Itulah sebabnya John Dewey menganggap bahwa begitu esensialnya hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat.
Dewey beranggapan bahwa pendidikan tumbuh di masyarakat dan masyarakat tumbuh karena adanya pendidikan. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat mutual benefit, artinya saling menguntungkan bahkan merupakan suatu ikatan yang secara aksiomatik sulit dan mustahil dipisahkan.
Dalam sistem hidup dan kehidupan masyarakat, pendidikan menjadi faktor penentu terhadap keberhasilan masyarakat memenuhi kebutuhannya. Kesadaran ini muncul karena memang perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, mau tidak mau lembaga pendidikan harus  menjadikan pendidikan sebagai salah satu elemen penting dalam pengembangan ilmu sosial.[5]
C.    Pengertian kebudayaan (kultural)
Menurut Koentjaraningrat, kebudayaan dalam arti sempit yaitu kesenian, sedangkan dalam arti luas, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya yang dihasilkan manusia melalui proses pembiasaan dengan belajar serta seluruh hasil budi dan karyanya.
Menurut Ki Hajar Dewantara kebudayaan merupakan hasil  budi manusia dan merupakan hasil perjuangan manusia dalam menghadapi dua pengaruh kuat yaittu alam dan zaman.
Ø  Pengertian landasan kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman sehingga terbentuklah pada tingkah laku, nilai-nilai, norma-norma baru sesuai dengan tuntunan masyarakat.
Usaha-usaha menuju pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.[6]
Ø  Pendidikan multikultural
Hal mendasar yang seharusnya disadari bersama adalah bahwa pendidikan yang seragam dan tidak menghargai terhadap pluralitas justru membawa implikasi negatif. Penyeragaman bukan saja mematikan kreativitas, tetapi lebih jauh juga dapat melahirkan sikap dan cara pandang yang tidak toleran. Oleh karena itu, membangun pendidikan yang berparadigma pluralis-multikultural merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi. Dengan paradigma semacam ini, pendidikan diharapkan akan melahirkan anak didik yang memiliki cakrawala pandang luas, menghargai perbedaan, penuh toleransi, dan penghargaan terhadap segala bentuk perbedaan.[7]
Ø  Pendidikan dalam proses pembudayaan
Pentingnya peranan pendidikan dalam kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara dapat kita lihat dalam “system among” yang berisi mengajar dan mendidik.
Tugas lembaga pendidikan bukan hanya mengajar untuk menjadikan orang pintar dan pandai berpengetahuan dan cerdas, tetapi mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi pekerti dalam kehidupan agar kelak manusia berpribadi yang beradab dan bersusila.
Kemudian, Ki Hajar Dewantara juga mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang beradab dan berbudaya. Sebagai manusia yang berbudaya, ia sanggup dan mampu mencipta segala sesuatu yang bercorak luhur dan indah, yakni disebut kebudayaan.[8]
Perkembangan manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni faktor biologis lingkungan alamiah, dan lingkungan sosial budaya.
Lingkungan alamiah seperti iklim dan faktor-faktor geografi lainnya memberikan bahan dan tempat yang perlu bagi kehidupan seperti oksigen,  bahan untuk produksi bahan makan, hujan, matahari, dan sebagainya.
Faktor lain dalam perkembangan manusia adalah lingkungan sosial budaya,. Semua orang hidup dalam kelompok dan saling berhubungan melalui lambang-lambang, khususnya bahasa. Manusia mempelajari kelakuan dari orang lain di lingkungan sosialnya. Hampir segala sesuatu yang dilakukannya, bahkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya bertalian dengan orang lain.
Bahasa, kebiasaan makan, pakaian, kepercayaan, peranan dalam kelompok, dan sebagainya dipelajari dari lingkungan sosial budaya. Karena lingkungan ini berbeda-beda maka terdapat pula perbedaan dalam pola kelakuan manusia.
Lingkungan sosial budaya mengandung dua unsur yakni (a) unsur sosial yakni interaksi diantara manusia, (b) dan unsur budaya yakni bentuk kelakuan yang sama yang terdapat dikalangan kelompok manusia.[9]

D.    Implikasi sosiologi dan budaya (kultural) dalam pendidikan
Dapat dituliskan hubungan sosiologi dengan pendidikan sebagai berikut :
·         Konsep-konsep sosiologi tentang manusia menjadi dasar
·         Masyarakat sebagai ekologi pendidikan atau sebagai lingkungan tempat berlangsungnya pendidikan
·         Pendidikan merupakan sosialisasi atau proses menjadi anggota masyarakat yang diharapkan.[10]
Kemudian, hubungan kebudayaan dan pendidikan antara lain :
1.      Pendidikan membentuk atau menciptakan kebudayaan
2.      Pendidikan melestarikan kebudayaan
3.      Pendidikan menggunakan dan berdasarkan kebudayaan.
Sedangkan, implikasi konsep kebudayaan pada pendidikan
1.      Materi pelajaran banyak dikaitkan dengan keadaan dan masalah masyarakat setempat
2.      Metode belajar ditekankan pada kegiatan siswa baik individual maupun kelompok.
Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan. Pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pendidikan adalah suatu usaha yang sangat berpengaruh pada bangsa, karena dalam pendidikan itu sendiri mencakup beberapa aspek dalam kehidupan, mulai dari etika, ilmu pengetahuan dan yang lainnya. Sekarang ini, Indonesia sedang menggemporkan pendidikan berbasis karakter yang menjadi identitas Negara ini.
Pendekatan sosiologi pada pendidikan merupakan unsur penting, karena pendidikan bukan saja di lingkungan sekolah, melainkan juga di lingkungan masyarakat, bukti menunjukkan jika pendidikan dalam lingkungan masyarakatnya baik, maka lingkungan itu akan menghasilkan pendidikan yang baik pada penduduk sekitarnya. Tapi jika sebaliknya, maka lingkungan masyarakat itu akan menghasilkan penduduk yang tidak baik.
Pendekatan kebudayaan juga salah satu unsur penting dalam pendidikan. Karena Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan. pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan.





DAFTAR PUSTAKA
Batubara Muhyi, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Ciputat press, 2004.
Naim, Ngainun, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011
Nasution, Sosiologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 1995
http//:anan-nur.blogspot.in
www.slideshare.net
https://pentingbelajar.wordpress.com






[1] http//:anan-nur.blogspot.in
[2] Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Ciputat Press, 2004), hlm. 9
[3] Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 12
[4] Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Ciputat Press, 2004), hlm. 3
[5] Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Ciputat Press, 2004), hlm. 32
[6] https://pentingbelajar.wordpress.com
[7] Ngainun Naim,Pendidikan Multikultural,Jakarta: Ar-Ruzz Media,2008,hlm. 49
[8] www.slideshare.net
[9] Nasution, Soiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 41
[10]http//:anan-nur.blogspot.in

Tidak ada komentar:

Posting Komentar