BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
merupakan sesuatu yang sangat vital bagi pembentukan karakter sebuah peradaban
dan kemajuan yang mengiringinya. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa atau
masyarakat tidak akan pernah mendapatkan kemajuannya sehingga menjadi bangsa
atau masyarakat yang kurang atau bahkan tidak beradab. Dengan demikian sebuah
peradaban yang memberdayakan akan lahir dari suatu pola pendidikan dalam skala
luas yang tepat guna dan efektif bagi konteks dan mampu menjawab segala
tantangan zaman.
Pendidikan disekolah
bukan hanya ditentukan oleh usaha murid secara individual atau berkat interaksi
murid dan guru dalam proses belajar mengajar, melainkan juga oleh interaksi
murid dengan lingkungan sosialnya dalam berbagai situasi sosial yang
dihadapinya di dalam maupun diluar sekolah. Pendidikan sendiri dapat dipandang
sebagai sosialisasi yang terjadi dalam interaksi sosial.
Kebudayaan dan
pendidikan mempunyai timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau
dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi
penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal. Kebudayaan
juga merupakan unsur penting dalam pendidikan, karena seperti yang kita ketahui
Indonesia merupakan Negara yang mempunyai beragam budaya, dan budaya itu
mempengaruhi pada segala aspek, termasuk pada aspek pendidikan.
Anggota
masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai dengan
perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nilai-nilai, dan
norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Tetapi jika dalam
lingkungan masyarakat tersebut tidak terdapat nilai dan norma, maka pendidikan
yang dihasilkan akan jauh dari kesempurnaan.
B.
Rumusan masalah.
1.
Apakah
pengertian dan tujuan sosiologi dalam pendidikan?
2.
Apakah
pengertian dan tujuan budaya dalam pendidikan?
3.
Apakah
implikasi sosial budaya terhadap pendidikan?
4.
Mengapa
sosial budaya menjadi salah satu landasan dalam pendidikan?
C.
Tujuan.
Setelah
mempelajari bab ini, diharapkan mampu untuk :
1.
Memahami
definisi dari Sosiologi.
2.
Memahami
pengertian dari kebudayaan
3.
Mengaplikasikan
pengaruh sosial budaya pada pendidikan dengan baik
4.
Memahami
alasan adanya sosial budaya dalam pendidikan.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pengertian Sosiologi
Istilah
sosiologi pertama kali dicetuskan oleh seorang filsuf asal Perancis bernama
Auguste Comte dalam bukunya Cours de la
philosophy positive, orang yang dikenal dengan bapak sosiologi tersebut
menyebut ilmu sosiologi adalah ilmu pengetahuna tentang masyarakat. Kata
sosiologi sebenarnya berasal dari bahasa latin yaitu socius yang berarti teman
atau kawan dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Disebutkan oleh beliau diatas
yang menyatakan sosiologi merupakan ilmu pengetahuan. Sebuah pengetahuan
dikatakan sebagai ilmu apabila mengembangkan suatu kerangka pengetahuan yang
tersusun dan teruji yang didasarkan pada penelitian yang ilmiah, sosiologi
dapat dikatakan sebagai ilmu sejauh sosiologi mendasarkan penelaahannya pada
bukti-bukti ilmiah dan metode-metoede ilmiah. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari jaringan hubungan antara manusia dalam bermasyarakat.
Sedangkan secara luas sosiologi merupakan ilmu pengetahuan tentang masyarakat
dimana sosiologi mempelajari masyarakat sebagai kompleks kekuatan, hubungan,
jaringan interaksi, serta sebagai kompleks lembaga atau penata.
Dalam sumber
lain, Sosiologi adalah pengetahuan tentang ilmu atau sifat, prilaku, dan
perkembangan masyarakat. Ilmu tentang struktur sosial, proses sosial, dan
perubahannya. Sosiologi juga diartikan sebagai sebuah ilmu kemasyarakatan atau
ilmu masyarakat. Yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara
manusia bersama dengan sesamanya dalam masyarakat.
Sosiologi
sebagai ilmu pengetahuan yang otonom mempunyaisifat-sifat yaitu:
·
Sifat
umum, membahas prinsip hubungan antar manusia pada umumnya dan bukanlah orang
perorangan atau daerah perdaerah. Jadi, sosiologi adalah ilmu masyarakat pada
umumnya dan bukanlah masyarakat tertentu saja.
·
Sifat
kategoris, bahwa sosiologis menyatakan apa adanya hubungan antar manusia di
dalam masyarakat dan bukan bersifat normatif. Sosiologi hanya mengungkap
masalah hubungan antar manusia sebagaimana adanya.
·
Sosiologi
adalah ilmu yang menggeneralisasi dan bukan mengidividualisasi, pengaruh
keumuman dan bukan kekhususan, juga bersifat mengabstrak dan tidak mengkonkrit.[1]
B.
Pengertian dan tujuan sosiologi pendidikan
Sosiologi
pendidikan terdiri dari dua kata, sosiologi dan pendidikan. Kedua istilah ini
dari segi etimologi tentu saja berbeda maksudnya, namun dalam sejarah hidup dan
kehidupan serta budaya manusia, kedua istilah ini menjadi satu kesatuan yang
terpisahkan. Terutama dalam sistem pemberdayaan manusia, dimana sampai saat ini
memanfaatkan pendidikan sebagai instrumen pemberdayaan tersebut.
Beberapa
pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi
(1991). Menurut E. George Payne yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi
pendidikan, mengemukakan secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiologi
pendidikan adalah “ By educational sociology we mean the science which
describes and explains the institution, social groups, and social processes, that is the social relationshipin which
although which the individual gains and organized experience.” Payne menegaskan
bahwa, didalam lembaga-lembaga kelompok-kelompok sosial, proses sosial,
terdapatlah apa yang dinamakan sosial relationship, dimana didalam dan dengan
interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisir
pengalaman-pengalamannya.[2]
ü Tujuan sosiologi pendidikan
a.
Sosiologi pendidikan sebagai analisis proses sosialisasi
Francis Brown
mengemukakan bahwa “sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh keseluruhan
lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memperoleh dan
mengorganisasi dan memperoleh pengalamannya.” Sosiologi pendidikan adalah ilmu
yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan
untukmemperolehperkembangan kepribadian individu yang lebih baik.
b.
Sosiologi pendidikan sebagai analisis kedudukan pendidikan dalam
masyarakat.
Penganut konsep
ini misalnya menyelidiki hubungan antara masyarakat pedesaan atau lingkungan
tertentu dikota dengan sekolah rendah dan menengah. Dalam kelompok ini termasuk
juga mereka yang meneliti fungsi sekolah berhubung dengan struktur status
sosial dalam lingkungan masyarakat tertentu, seperti misalnya Warner Holling
shield dan Stan Dler.
c.
Sosiologi pendidikan sebagai analisis interaksi sosial di sekolah
dan antara sekolah dengan masyarakat
Disini
diusahakan menganalisi pola-pola interaksi sosial dan peranan sosial dalam
masyarakat sekolah dan hubungan orang-orang di dalam sekolah dengan kelompok-kelompok
diluar sekolah.
d.
Sosiologi pendidikan sebagai alat kemajuan dan perkembangan sosial
Pendidikan
dianggap sebagai badan yang sanggup memperbaiki masyarakat. Pendidikan
merupakan alat untuk mencapai kemajuan sosial. Sekolah dapat dijadikan alat kontrol
sosial yang membawa kebudayaan ke puncak yang setinggi-tingginya.
e.
Sosiologi pendidikan sebagai dasar untuk menentukan tujuan
pendidikan
Sejumlah ahli
memandang sosiologi pendidikan sebagai alat untuk menganalisis tujuan
pendidikan secara objektif. Mereka mencoba mencapai suatu filsafat pendidikan
berdasarkan analisis masyarakat dan kebutuhan masyarakat.
f.
Sosiologi pendidikan sebagai sosiologi terapan
Sejumlah ahli
meluruskan sosiologi pendidikan sebagai aplikasi sosiologi terdapat masalah-masalah
pendidikan, misalnya mengenai kurikulum. Para ahli sosiologi pendidikan
menggunakan segala sesuatu yang diketahui dalam bidang sosiologi dan pendidikan
lalu memadukannya dalam suatu ilmu baru dengan menerapkan prinsip-prinsip
sosiologi kepada seluruh proses pendidikan.
g.
Sosiologi pendidikan sebagai
latihan bagi petugas pendidikan
Adakalanya
sosiologi diajarkan oleh sejumlah ahli sosiologi dengan tujuan agar calon
pendidik memahami masyarakat dan seluruh latar belakang sosial tempat anak disosialisasi.
Sosiologi
pendidikan adalah analisis ilmiah atas
proses sosial dan pola-pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan. [3]
Tujuan
sosiologi pendidikan pada dasarnya adalah untuk mempercepat dan meningkatkan
pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.secara universal, tujuan dan
fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah
memanusia. Itulah sebabnya sistem pendidikan Nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun
1989 pasal 3 adalah “untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu
kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan
Nasional.”[4]
Upaya pencapain
tujuan nasional tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat madani, yaitu
suatu masyarakat yang berperadaban yang menjunjung tunggi nilai-nilai
kemanusiaan, yang sadar akan hak dan kewajibannya, demokratis, bertanggung
jawab, berdisiplin, menguasai sumber informasi dalam bidang iptek dan seni,
budaya dan agama.
ü Perlu dan pentingnya sosiologi pendidikan
Kenyataan
menunjukkan bahwa masyarakat mengalami perubahan sosial yang sangat cepat, maju
dan memperlihatkan gejala desintegratif. Perubahan sosial yang cepat itu
meliputi berbagai bidang kehidupan, dan merupakan masalah bagi semua institusi
sosial seperti industri, agama, perekonomian, pemerintahan, keluarga,
perkumpulan-perkumpulan pendidikan, masalah sosial dan masyarakat itu juga
dirasakan oleh dunia pendidikan.
Perubahan
sosial yangterjadi di masyarakat tentu saja mempengaruhi pendidikan,baik
sebagai ilmu maupun sebagai aktivitas. Itulah sebabnya John Dewey menganggap
bahwa begitu esensialnya hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat.
Dewey
beranggapan bahwa pendidikan tumbuh di masyarakat dan masyarakat tumbuh karena
adanya pendidikan. Antara keduanya terdapat hubungan yang bersifat mutual
benefit, artinya saling menguntungkan bahkan merupakan suatu ikatan yang secara
aksiomatik sulit dan mustahil dipisahkan.
Dalam sistem
hidup dan kehidupan masyarakat, pendidikan menjadi faktor penentu terhadap
keberhasilan masyarakat memenuhi kebutuhannya. Kesadaran ini muncul karena memang
perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, mau tidak mau lembaga pendidikan
harus menjadikan pendidikan sebagai
salah satu elemen penting dalam pengembangan ilmu sosial.[5]
C.
Pengertian kebudayaan (kultural)
Menurut
Koentjaraningrat, kebudayaan dalam arti sempit yaitu kesenian, sedangkan dalam
arti luas, kebudayaan adalah keseluruhan gagasan dan karya yang dihasilkan
manusia melalui proses pembiasaan dengan belajar serta seluruh hasil budi dan
karyanya.
Menurut Ki
Hajar Dewantara kebudayaan merupakan hasil
budi manusia dan merupakan hasil perjuangan manusia dalam menghadapi dua
pengaruh kuat yaittu alam dan zaman.
Ø Pengertian landasan kultural
Kebudayaan dan
pendidikan mempunyai timbal balik, sebab kebudayaan dapat dilestarikan atau
dikembangkan dengan jalur mewariskan kebudayaan dari generasi ke generasi
penerus dengan jalan pendidikan, baik secara formal maupun informal.
Anggota
masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai dengan
perkembangan zaman sehingga terbentuklah pada tingkah laku, nilai-nilai,
norma-norma baru sesuai dengan tuntunan masyarakat.
Usaha-usaha
menuju pola ini disebut transformasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim
digunakan sebagai alat transmisi dan transformasi kebudayaan adalah lembaga
pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.[6]
Ø Pendidikan multikultural
Hal mendasar yang seharusnya disadari
bersama adalah bahwa pendidikan yang seragam dan tidak menghargai terhadap pluralitas
justru membawa implikasi negatif. Penyeragaman bukan saja mematikan
kreativitas, tetapi lebih jauh juga dapat melahirkan sikap dan cara pandang
yang tidak toleran. Oleh karena itu, membangun pendidikan yang berparadigma
pluralis-multikultural merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi. Dengan
paradigma semacam ini, pendidikan diharapkan akan melahirkan anak didik yang
memiliki cakrawala pandang luas, menghargai perbedaan, penuh toleransi, dan
penghargaan terhadap segala bentuk perbedaan.[7]
Ø Pendidikan dalam proses pembudayaan
Pentingnya
peranan pendidikan dalam kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara dapat kita lihat
dalam “system among” yang berisi mengajar dan mendidik.
Tugas lembaga
pendidikan bukan hanya mengajar untuk menjadikan orang pintar dan pandai
berpengetahuan dan cerdas, tetapi mendidik berarti menuntun tumbuhnya budi
pekerti dalam kehidupan agar kelak manusia berpribadi yang beradab dan
bersusila.
Kemudian, Ki
Hajar Dewantara juga mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang beradab dan
berbudaya. Sebagai manusia yang berbudaya, ia sanggup dan mampu mencipta segala
sesuatu yang bercorak luhur dan indah, yakni disebut kebudayaan.[8]
Perkembangan
manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yakni faktor biologis lingkungan
alamiah, dan lingkungan sosial budaya.
Lingkungan
alamiah seperti iklim dan faktor-faktor geografi lainnya memberikan bahan dan
tempat yang perlu bagi kehidupan seperti oksigen, bahan untuk produksi bahan makan, hujan,
matahari, dan sebagainya.
Faktor lain
dalam perkembangan manusia adalah lingkungan sosial budaya,. Semua orang hidup
dalam kelompok dan saling berhubungan melalui lambang-lambang, khususnya
bahasa. Manusia mempelajari kelakuan dari orang lain di lingkungan sosialnya.
Hampir segala sesuatu yang dilakukannya, bahkan apa yang dipikirkan dan
dirasakannya bertalian dengan orang lain.
Bahasa,
kebiasaan makan, pakaian, kepercayaan, peranan dalam kelompok, dan sebagainya
dipelajari dari lingkungan sosial budaya. Karena lingkungan ini berbeda-beda
maka terdapat pula perbedaan dalam pola kelakuan manusia.
Lingkungan
sosial budaya mengandung dua unsur yakni (a) unsur sosial yakni interaksi
diantara manusia, (b) dan unsur budaya yakni bentuk kelakuan yang sama yang
terdapat dikalangan kelompok manusia.[9]
D.
Implikasi sosiologi dan budaya (kultural) dalam pendidikan
Dapat
dituliskan hubungan sosiologi dengan pendidikan sebagai berikut :
·
Konsep-konsep
sosiologi tentang manusia menjadi dasar
·
Masyarakat
sebagai ekologi pendidikan atau sebagai lingkungan tempat berlangsungnya
pendidikan
·
Pendidikan
merupakan sosialisasi atau proses menjadi anggota masyarakat yang diharapkan.[10]
Kemudian,
hubungan kebudayaan dan pendidikan antara lain :
1.
Pendidikan
membentuk atau menciptakan kebudayaan
2.
Pendidikan
melestarikan kebudayaan
3.
Pendidikan
menggunakan dan berdasarkan kebudayaan.
Sedangkan,
implikasi konsep kebudayaan pada pendidikan
1.
Materi
pelajaran banyak dikaitkan dengan keadaan dan masalah masyarakat setempat
2.
Metode
belajar ditekankan pada kegiatan siswa baik individual maupun kelompok.
Antara
pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti
keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan
membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan. Pendidikan
adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga
berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pendidikan
adalah suatu usaha yang sangat berpengaruh pada bangsa, karena dalam pendidikan
itu sendiri mencakup beberapa aspek dalam kehidupan, mulai dari etika, ilmu pengetahuan
dan yang lainnya. Sekarang ini, Indonesia sedang menggemporkan pendidikan
berbasis karakter yang menjadi identitas Negara ini.
Pendekatan
sosiologi pada pendidikan merupakan unsur penting, karena pendidikan bukan saja
di lingkungan sekolah, melainkan juga di lingkungan masyarakat, bukti
menunjukkan jika pendidikan dalam lingkungan masyarakatnya baik, maka
lingkungan itu akan menghasilkan pendidikan yang baik pada penduduk sekitarnya.
Tapi jika sebaliknya, maka lingkungan masyarakat itu akan menghasilkan penduduk
yang tidak baik.
Pendekatan
kebudayaan juga salah satu unsur penting dalam pendidikan. Karena Antara
pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti
keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai. Pendidikan
membuat orang berbudaya, pendidikan dan budaya bersama dan memajukan.
pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka
pendidikan juga berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah
kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
Batubara Muhyi, Sosiologi
Pendidikan, Jakarta: Ciputat press, 2004.
Naim,
Ngainun, Pendidikan Multikultural Konsep dan Aplikasi, Yogyakarta: Ar-Ruzz
Media, 2011
Nasution, Sosiologi Pendidikan,
Jakarta: Bumi Aksara, 1995
http//:anan-nur.blogspot.in
www.slideshare.net
https://pentingbelajar.wordpress.com
[1]
http//:anan-nur.blogspot.in
[2] Muhyi Batubara,
Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Ciputat Press, 2004), hlm. 9
[3] Nasution, Sosiologi
Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 12
[4] Muhyi
Batubara, Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Ciputat Press, 2004), hlm. 3
[5]
Muhyi Batubara, Sosiologi Pendidikan,(Jakarta: Ciputat Press, 2004),
hlm. 32
[6]
https://pentingbelajar.wordpress.com
[7] Ngainun Naim,Pendidikan
Multikultural,Jakarta: Ar-Ruzz Media,2008,hlm. 49
[8]
www.slideshare.net
[9] Nasution,
Soiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994), hlm. 41
[10]http//:anan-nur.blogspot.in
Tidak ada komentar:
Posting Komentar