BAB I
PENDAHULUAN
A .
Latar belakang
Keberadaan hadis sebagai salah satu sumber hukumdalam islam
memiliki sejarah perkembangan yang kompleks, sejak dari masa pra-kodifikasi,
zaman rasul, sahabat dan tabi’in hinga setelah masa pembukuan pada abad ke-2 H.
Perkembagan hadis pada awal lebih banyak menggunakan lisan karena ada larangan
nabi untuk menulis hadis. Larangan ersebut berdasarkan kekhawatiran nabi akan
tercampurnya nash al-quran dan hadis. Selain itu juga disebabkan fokus nabi
pada para sahabat yang pandai menulis untuk menuli al-quran. Larangan tersebut
berlangsung sampai masa tabi’in besar, bahkan khalifah umar bin khatab sangat
menentang penulisan hadis, begitu pula khalifah yang lain.Periodesasi penulisan
dan pembukuan hadis secara resmi dimulai pada masa pemerinthan khalifah umar
bin abdul aziz (abad ke-2 H). Terlepas dari naik turunnya perkembangan hadis,
tak dapat dipungkiri bahwa hadis memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah
peradaban islam.
B .
Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah hadis pada masa rasul saw?
2. Bagaimana
sejarah hadis pada masa sahabat?
3. Bagaimana
sejarah hadis pada masa tabi’in?
C.
Tujuan Masalah
1.
Dapat mengetahui sejarah hadis pada masa rasul saw
2.
dapat mengetahui sejarah hadis pada masa sahabat
3.
dapat mengetahui sejarah hadis pada masa tabi’in
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist
Pada Masa Rasul Saw
Periode rasul saw merupakan periode pertama sejarah pertumbuhan dan
perkembangan hadis. Periode ini terhitung cukup singkat bila dibandingkan
dengan masa-masa berikutnya. Masa ini berlangsung selama 23 tahun, mulai tahun
13 sebelum hijrah, bertepatan dengan tahun 610 masehi sampai dengan 11
hijriyah, bertepatan dengan tahun 632 masehi. Masa ini merupakan kurun waktu
turun wahyu (asr al-wahyi ) dan sekaligus sebagai masa pertumbuhan
hadis.
Keadaan tersebut sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para
sahabat, sebagai pewaris pertama ajaran islam dalam menerima dua sumber ajaran
di atas, karena pada tangan mereka kedua-keduanya harus terpelihara dan
disampaikan pada pewaris berikutnya secara berkesinambungan.
Wahyu yang diturunkan allah swt kepada raul dijelaskan melalui
perkataan (aqwal), perbuatan (af’al), dan ketetapannya (taqrir)
di hadapan para sahabat. Apa yang didengar, dilihat, dan disaksikan oleh
mereka, merupakan pedoman bagi maliahdan ‘ubudiyah mereka
sehari-hari. Dalam hal ini, rasul saw merupakan contoh satu-satunya bagi
sahabat, karena ia memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan selaku Rasul Allah
yang berbeda dengan manusia lainnya.
1. Beberapa petunjuk Rasullullah Saw
Dalam satu majlis ilmu, Rasullallah saw adalah guru atau pembimbing
bagi para sahabatnya. Beliau mengajarkan segala aspek ajaran Allah Swt. Sesuai dengan
firmannya dalam beberapa ayat, antara lain adalah Surat Al-Qalam ayat 4,
An-Nisa ayat 113, dan Al-jum,ah ayat 2. Terjalin hubungan yang sangat harmonis
antara kedua belah pihak.
Rasul saw. Juga sering menyampaikan doa-doanya kepada siapa saja
yang menyampaikan ajarannya, agar di bukakan
pintu hatinya serta mendapat imbalan dari pada-Nya (H.R. Ahmad dari ibnu
Mas’ud. Dalam beberapa sabdanya beliau juga menyampaikan wasiat-wasiatnya untuk
selalu menyampaikan hadits kepada orang lain. Selain itu, rasul juga menyatakan
ketinggian kedudukan siapa yang belajar dan mengajarkan ajaran-ajarannya,
sehingga di nilai sebagai orang mujahid fi sabililah (pejuang Allah ).
2. Cara Menyampaikan Hadis
Menurut riwayat al-Bukhari, Ibn Mas’ud pernah bercerita bahwa untuk
tidak melahirkan rasa jenuh di kalangan sahabat, Rasul Saw. Menyampaikan
hadisnya dengan bernbagai cara, sehingga membuat sahabat selalu ingin mengikuti
pengajiannya. Ada beberapa teknik atau cara Rasul Saw menyampaikan hadis kepada
para sahabat, yang di sesuaikan dengan kondisi mereka. Pertama melalui para
jamaah pada pusat pembinaannya yang di sebut
majlis al-ilmi. Melalui majlis ini, para sahabat memperoleh banyak
peliang untuk menerima hadis sehingga mereka berusaha untuk selalu
mengonsentrasikan diri untuk mengikuti kegiatannya
Menurut Ibnu Hajar Al-asqalani para sahabat begitu antusiasi untuk
tetap bisa mengikutii kegiatan di majlis ini. Ini di tunjukan oleh umar bin
khatab, ia sewaktu-waktu bergantian dengan ibnu zaid, dari bani umayah untuk
menghadiri masjid ini ketika ia berhalangan hadir. Ia berkata, kalau hari ini
aku yang turun atau pergi, pada hari lainnya ia yang pergi, demikian aku
melakukannya. Terkadang kepala-kepala suku yang jauh dari madinah mengirim
utusannya ke majlis ini, untuk kemudian mengajarkannya pada suku mereka
sekembalinya dari sini.
Kedua, dalam banyak kesempatan, Rasul saw juga menyampaikan
hadisnya melalui para sahabat tertentu,
yang kemudian oleh para sahabat tersebut di sampaikannya kepada orang lain. Hal
ini karena terkadang ketika ia me-wurud-kan suatu hadis, para sahabat yang
hadir hanya beberapa orang saja, baik karena di sengaja oleh Rasul saw. Sendiri
atau secara kebetulan para sahabat yang hanya beberapa orang saja, seperti
hadis-hadis yang ditulis oleh Abullah bin Amar bin al-Ash. Untuk hal-hal yang
sensitif, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga, dan kebutuhan biologis,
(terutama yang menyangkut hubungan suami istri), ia sampaikan melalui
istri-istrinya. Begitu juga sikap para sahabat, jika yang berkaitan dengan soal
di atas, melalui istri-istrinya.
Ketiga, melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti
ketika haji wada’ dan futuh Makkah.
Keempat, melalui perbuatan langsung yang di saksikan oleh para
sahabat (jalan musyahadah), seperti yang berkaitan dengan praktik. Praktik
ibadah muamalah. Praktik ibadah muamalah.ada keistimewaan pada masa ini yaitu
umat islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh hadis dari Rasul saw.
Dan tempat-tempat yang di gunakan untuk pertemuan dan pendapatan pengajaran
dari Rasul saw.
Salah satu tujuan rasul menyampaikan hadis kepada para sahabat
yaitu karena ia bermaksud menjelaskan kandungan ayat- ayat yang yang di
turunkan Allah Swt.
3. Keadaan Para Sahabat
dalam Menerima dan Menguasai Hadis
Dalam perolehan dan pengusahaan hadis, antara satu sahabat dengan
sahabat lainnya tidak sama. Ada yang memiliki lebih banyak, ada yang sedang,
dan ada yang sedikit. Hal itu terjadi, di samping karena berkaitan dengan
berfariasinya teknik dan tempat-tempat yang di gunakan, juga tergantung kepada
beberapa hal, salah satunya adalah
perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama rasul saw, ada juga dalam soal
hafalan dan kesanggupan bertanya kepada sahabat lain.
Ada beberapa orang sahabat banyak menerima hadis dari Rasul saw.
Dengan beberapa penyebabnya. Di antara mereka ialah sebagai berikut: pertama,
para sahabat yang termasuk kelompok as-sabiqunalawalun (yang mula-mula masuk
islam), seperti abu bakar bin ash-shidiq, Umar bin al-Khathab, Usman bin affan,
Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Mas’ud. Mereka banyak menerima hadis dari
Rasul saw. Karena lebigh awal masuk islam dari sahabat-sahabat lainnya.
Kedua, Ummahat al-mukminin (istri-istri Rasul saw), seperti siti
aisyah, umu salamah dan umu salamah. Mereka secara pribadi lebih dekat dengan
Rasul saw. Dari pada para sahabat lainnya. Hadis yang di terimanya, seperti
telah di katakana, banyak yang berkaitan dengan soal pribadi, keluarga, dan
tata cara pergaulan suami istri.
Ketiga, para sahabat, yang di samping selalu dekat dengan Rasul
saw. Juga menulis hadis-hadis yang di terimanya, seperti Abdullan Amr bin
al-ash.
Keempat, para sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasul saw.,
akan tetapi sangat efisien memanfaatkan setiap peluang atau kesempatan, di
samping banyak bertanya kepada para sahabat lainnya. Secara sungguh-sungguh,
seperti Abu Hurairah.
Kelima, para sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti majlis
Rasul saw. Yang banyak bertanya kepada sahabat lain, dan dari sudut usia,
tergolong yang hidup lebih lama dari wafat Rasul saw. Seperti anas bin Malik,
dan Abdullah bin Abas. Hadis-hadis yang di perolehnya mereka simpan dengan
dalam hafalan masing-masing.
4.Pemeliharaan Hadis dalam Hafalan dan Tulisan
A.Aktif Menghafal
Untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan alqur’an dan
hadis, sebagai dua sumber ajaran islam, Rasulullah saw. Mengamal kebijaksanaan yang berbeda. Terhadap
al-qur’an, beliau secara resmi memberi intruksi kepada sahabat tertentu supaya
menulis, di samping menghafalnya, sedangkan terhadap hadis, perintah resmi itu
hanya untuk menghafal dan menyampaikan kepada orang lain. Resmi, seperti halnya
alqur’an, tidak di perkenankan rasul.
Dengan demikian maka hadis-hadis yang diterima dari Rasul saw. Oleh
para sahabat di hafal secara sungguh-sungguh dan hanya untuk tidak terjadi
kekeliruan, baik dalam lafal maupun maknanya supaya tidak tercampur dengan
ayat-ayat alqur’an. Mereka sangat menjaga. Pesan Rasul dan ancamannya untuk
tidak melakukan kesalahan terjadi apa-apa yang di terimanya.
B.Aktifitas Mencatat atau Menulis Hadis
Banyak para sahabat yang memiliki catatan dan melakukan penulisan
hadis, baik untuk di simpan sebagai catatan pribadi maupun memberikan
pesan-pesan kepada orang lain dalam bentuk surat menyurat dengan membubuhkan
hadis. Kegiatan ini di ketahui dan dibiarkan oleh Rasulullah saw., bahkan di
benarkannya.
Ada di antara para
sahabat yang melakukan penulisan hadis dan catatan hadis yang menurut
pengakunya di benarkan oleh rasul saw., sehingga di berinya nama ash-shashifa
as-shadiqah. Menurut suatu riwayat di ceritakan bahwa orang-orang Quraisy
mengritik sikap Abdullah bin Amr, karena sikapanya yang selalu menulis apa yang
datang dari Rasul Saw. Mereka berkata, “Engkau tuliskan apa saja yang dating
dari Rasul, padahal Rasul itu manusia.” Di sampaikannya kepada Rasul saw. Dan
seraya beliau menjawab dengan tegas:
Tulislah! Demi dzat yang diriku berada pada kekuasaannya, tidak ada
yangkeluar dari padanya, kecuali yang benar?
Demikian penegasan
Rasulullah saw. Yang menunjukan bahwa menulis hadis yang sifatnya perorangan
dapat di berikan. Di sisi lain menunjukan pula bahwa apapun yang di
sampaikannya adalah benar dan kebenarannya al-hadis adalah jaminan oleh Allah
melalui al-qur’an.
Hadis-hadis yang
terhimpun dalam catatan Abdullah bin Amr ini sekitar seribu hadis, yang juga
menurut pengakuannya di terima langsung dari Rasulullah saw. Ketika mereka
berdua tanpa ada orang lain yang menerimanya. Mengenai latar belakang ia
menulis hadis, di ceritakan bahwa ketika ia berada bersama para sahabat lain di
kediaman Rasulullah saw., ia mendengar hadis tentang ancaman bagi yang
mendustakan hadis. Maka ketika selesai acara ini ia bertanya kepada para
sahabat agar terhindar dari ancaman itu? Mereka menjawab,” semua yang kami
dengar dari Rasul sudah ditulis dalam catatan kami. “ jawaban para sahabat ini
memberikan motivasi baginya untuk melakukan penulisan hadis yang di terimanya.
B. Periode Pada Masa Sahabat
Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat
khususnya masa khulafa ar rasyidin ( abu bakar shidik, umar bin
al-khatab, utsman bin affan, dan ali bin abi thalib). Masa ini terhitung sejak
tahun 11 H sampa dengan 40, yang di sebut juga dengan masa sahabat besar (kibarus
shababah).
Pada masa sahabat besar ini perhatian mereka masih terfokus kepada
pemilihan dan penyebaran al quran. dengan demikian maka periwayatan hadis belum
begitu berkembang, bahkan mereka berusaha membatasi periwayatan hadis tersebut.
Oleh karena itu, masa ini oleh para ulama di anggap sebagai masa yang
menunjukan adanya pembatasan atau memperketat ( at tsabut wa al iqlal ar
riwayah )
1. Memelihara Amanah Rasul
Saw
Para sahabat, sebagai generasi pertama yang
menerima amanah terbesar bagi kelangsungan syariat islam, adalah menerima dan
melaksanakan segala amanah Rasul lallah. Amanah iu esensinya tertuang ada al
quran dan hadis sebagaimana sabdanya ketika menjelang akhir kerasulannya yang
berbunyi :
تر
كت فيكم شيئين لن تضلوا أبدا ما إن تمسكتم بهما كتاب الله و سنة رسول الله (رواه
الحاكم عن أبى هريرة)
Aku tingalkan untuk kalian dua macam yang tidak akan sesat setelah
berpegang kepada kedunya yaitu kitab allah ( alquran ) dan sunahku ( H.R. al
hakim dari abu hurairah)
Pada hadis lain Rasul juga
berpesan:
Dari abdullah bin amr bin ash berkata, bahwa Rasul lallah Saw.
Bersabda “ sampaikan dariku walau satu ayat dan ceritakanlah hadis kepada bani
israil tidak mengapa, dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan
sengaja, maka tempat duduknya yang layak adalah neraka “ (H.R. Bukhari)”
Siapa saja yang
berpegang pada keduanya (alquran dan hadis) secara erat bersama sama, maka ia
mendapatkan jaminan Rasul Saw. Tidak akan hidup tersesat, baik di dunia maupun
di akhirat. Sebaliknya, siapa an melepaskan diri dari keduanya atau hanya
berpegang kepada allah satunya, merupakan penyimpangan pada salah satu dari
amanah yang berarti ia akan tersesat di jalan.
2. Kehati-hatian Para Sahabat dalam Menerima dan Meriwayatkan Hadis
Setelah Rasul wafat, perhatian para sahabat terfokus menyebarkan
dan memlihara al quran. Alquran yang telah di hafal oleh ribuan penghafalnya
dengan teratur dan telah di tulis dalam berbagai suhuf oleh para penulisnya (baik
nabi Saw. Sendiri maupun untuk kepentingan masing masing) mendapat utama untuk
terus di sebar luaskan ke berbagai peloksok wilayah islam dan seluruh lapisan
masyarakat. Mushaf mushaf al imam. Sedangkan, yang empat lagi masing masing disimpan
di makkah, basrah, syiria, dan kuffah.
Meskipun perhatian mereka tepusat kepada upaya pemelihara dan
penyebaran al quran, tetapi tidak berarti mereka melalaikan sebagaimana halnya
yang di terimanya secara utuh ketika beliau masih hidup. Akan tetapi, dalam
meriwayatkannya, mereka sangat berhati hati dan membatasi diri.
Perlu pula menjelaskan di sini, bahwa pada masa ini belum ada usaha
secara resmi untu menghimpun hadis dalam suatu kitab seperti halnya al quran
hal ini di sebabkan antara lain:
pertama, agar tidak melingkar perhatian umat islam dalam mempelajari al quran
: kedua, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadis dan Rasul Saw. Sudah
tersebar ke berbagai daerah masing masing sebagai pembina masyarakat sehingga
dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mengumpulkan mereka secara lengkap :
ketiga bahwa soal membukukan hadis, di kalangan para sahabat sendiri terjadi
perselisihan pendapat, belum lagi terjadinya perselisihan soal lafal dan
sahilnya.
3. Upaya Para Ulama Mentaufikkan Hadis Tentang Larangan Menulis
Hadis
Perselisihan para ulama dala soal pembukuan hadis berpangkan pada
adanya dua kelompok hadis, yang dari sudut zahir nya tanpa adanya kontradiksi.
Kelompok hadis yang pertama menunjukan adanya larangan Rasul Saw. Menuliskan
hadis, yang di antaranya berbunyi:
Janganlah kamu sekalian menulis apa saja dariku selain al quran.
Siapa yang telah menulis dariku selain al quran, hendaklah di hapus.
Ceritakanlah saja apa yang di terima dariku, itu tidak mengapa. Siapa yang
dengan sengaja berdusta atas namaku ia niscaya menempati tempat duduknya dari
api neraka.
Hadis di atasdi riwayatkan oleh muslim melalui silsilah sanad umam,
dari zaid bin aslam, dari atha dari abu said al khuduri sanad sanad hadis ini
oleh para ulama di nilai sahih, hanya saja bersoalkan apakah hadis itu marfu
atau manqul. Selain hadis di atas, ada beberapa hadis lainnya yang di
riwayatkan dari abu hurairah dan said bin abi tsabit. Namun, pada kedua hadis
tersebut terdaat nama abd ar rahman bin zaid, yang oleh para ulama seperti ibnu
maina al bukhari, an nasai, ad darimi, dan ahmad bin utsman adz dzahabi. Dengan
demikian dua hadis lainnya tidak dapat di jadikan hujjah sedangkan hadis
kelompok kedua ialah beberapa hadis seperti riwayat abdullah bin ash dan hadis
abu syam seperti telah di sebut di atas.
Menurut an nawawi dan assuyuti larangan tersebut di maksudkan bagi
orang yang kuat hafalannya sehingga tidak ada kehawatiran terjadinya lupa akan
tetapi, bagi orang khawatir lupa atau kurang kuat ingatannya membolehkan
mencatatnya.
Menurut ibnu hajar al asqalani, larangan Rasul sauq menuliskan hadis menuliskan hadis adalah
ketika al quran di turunkan. Ini karna, ada khawatiran tercampurnya ayat al
quran dengan hadis kemudian Menurutnya, larangan itu di maksudkan juga untuk
tidak menulis al quran dan hadis dalam satu shuhuf untuk mencatat wahyu,
penulisan hadis adalah di bolehkan.
C.
Hadis Pada Masa Tabi’in
1.
Sikap dan Perhatian Para Tabi’in Terhadap Hadis
Sebagaimana para
sahabat, para tabiin juga cukup berhati – hati dalam meriwayatkan hadis. Hanya
saja beban mereka tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan yang dihadapi
para sahabat. Pada masa ini, Al- qur’an telah di kumpulkan dalam mushaf,
sehingga tidak lagi mengkhawatirkan mereka. Selain itu, pada masa akhir periode
khilafa’ ar-rosyiddin (Masa khalifah Usman bin Affan) para sahabat ahli hadis
telah menyebar kebeberapa wilayah kekuasaan islam. Ini merupakan kemudahan bagi
para tabiin untuk mempelajari hadis – hadis dari mereka.
Ketika pemerintahan
di pegang oleh Bani Umayah, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi mekkah,
Madinah, Basrah, Syam, khurasan, Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan,
Samarkand, dan Sepayol. Sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah kekuasaan
islam itu yang berarti juga meningkatkan penyebaran periwayatan hadis (
intisyar ar- riwayah ).
Hadis – hadis yang
diterima oleh para tabiin ini, seperti telah disebutkan ada yang dalam bentuk
catatan atau tulisan ada yang harus di hafal, disamping dalam bentuk yang sudah
berpolakan dalam ibadah dan amaliyah para sahabat yang mereka saksikan dan
mereka ikuti. Kedua bentuk ini saling melengkapi, sehingga tidak ada satu hadispun yang tercecer atau terlupakan.
2.
Pusat – Pusat Kegiatan Pembinaan Hadis
Sesuai dengan
tersebarnya para sahabat diwilayah – wilayah kekuasaan islam, maka tercatatlah
beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadis, sebagai tempat
tujuan para tabiin dalam mencari hadis, dan pada gilirannya menjadi kegiatan
para tabiin dalam meriwayatkan hadis – hadis tersebut kepada muridnya ( tabiin
). Kota – kota tersebut adalah Madinah Al- Munawwarah, Mekkah Al- Mukarramah,
Kuffah, Basrah, Syam, Mesir, Magrib, Andalus, Yaman, dan Khurasan. Dari
sejumlah sahabat pembina hadis pada kota – kota tersebut, ada beberapa orang
yang Meriwayatkan hadist cukup banyak, antaranya lain Abu Hurairah, Abdullah
bin Umar, Anas bin Malik, A’isyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dan
Sa’id al-Khudri.
Para sahabat yang
membina hadist di makkah tercatat nama-nama, seperti Mu’adz bin Jabal, Atab bin
Asid, Harits bin Hisyam, Utsman bin Thalhah, dan salim bin Abdillah bin Umar.
Para sahabat yang sering
membina hadist di kuffah, diantaranya ialah Ali bin Abi Thalib, Sa’id bin Abi
Waqas, dan Abdullah bin Ma’ud. Diantaranya para tabiin yang muncul disini ialah
Ar-Rabi’ bin Qaim, Kamal bin Zaid, an-Nikha’I bin Abi Rabbah, Thawus bin
Kasiman, dan Irimah Maula ibn Abbas.
Para sahabat yang membina hadist di Syiam diantaranya ialah Abu
Ubaidah al-Jarh, Bilal Bin Rabbah, Ubadah bin Shamit, Mu;adz bin Jabal, sa’ad
bin Ubadah, Abu Darda Surahbil bin Hasanah, Khalid bin Walid, dan Iyadh bin
Ganam. Para tabiin yang muncul disini antaranya ialah Salim bin Abdillah
al-Muharibi, Abu Idris al-Khaulani, Abu Sulaiman ad-Darani, dan umar bin
Hana’i.
Para sahabat yang membina
dimesir diantaranya ialah Amr bin Ash, Uqbah bin Anir, Kharizah, bin Hudzafah,
dan Abdullah bin al-Harist, sedang para tabiin yang muncul disini diantaranya
ialah Amr bin Al-Harist, Khair bin
Nu’aimi al-Hadrami, Yazid bin Abi Habib Abdullah bin Abi Ja’ar, dan
Abdullah bin Sulaiman ath-Thawil.
Para sahabat yang membina
hadist di Yaman, antara lai Mu;adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari. Kedua
orang sahabat ini telah dikirik kedaerah ini sejak rasulullah saw. Masih hidup,
para tabiin yang muncul disini,
diantaranya ialah Hamam bin Munabbih, Wahab bin Munabbih, Thawus, dan Ma’mar
bin Rasyid.
Para sahabat yang membina hadist di khurasan diantaranya ialah
Buraidah bin Husain al-Ashlami, al-Hakam bin Amir al-Gifari, Abdullah bin Qasim
bin al-Abbas. Sedangkan diantara para tabiin-nya
ialah Muhamad bin Ziyad Muhamad bin Tsabit al-Anshari dan Yahya bin Shabih
al-Mugri.
3.
Para penulis Hadis dikalangan Tabiin
melakukan dua hal, yaitu menghafal dan menulis hadist. Banyak
riwayat yang menunyjukan, mereka memperhatikan kedua hal ini.
Tentang menghafal
hadist, para ulama tabiin Abi Laila, Aliyah, Ibn Syihab az-Zuhuri, Urwah bin
az-Zubair menekankan pentingnya menghafal hadist-hadist secara terus menerus.
Kata Zuhri, sebagaimana dikatakan az-Auzai, Hilangnya ilmu itu karena lupa dan
tidak mau mengingatnya atau menghafalnya. Kata alkamal sebagaimana dikatakan
Ibrahim, bahwa dengan menghafal hadist, hadist akan terpelihara. Tentang menulis hadist, disamping melakukan hapal
secara teratur, diantara mereka juga menulis sebagian hadist-hadist yang
diterimanya, selain itu mereka, mereka juga melmiliki catatan atau surat yang
mereka terima langsung dari pada sahabat sebagai gurunya. Sedangkan diantara
tabiin muda (shighar at-tabiin) yang memiliki catatan dan menuliskannya, ialah
Ibrahim bin Abdullah, Ismail bin Abi khaifah Al-Ahmasi, Ayyub bin Abi Tamimah as-Sakhtyani, Bakirbin
sulaiman at-Tamimi, Hammad bin Abi Sulaiman, Zaid bin Rafi, Nafi, dan Yazid.
4.
Perpecahan Politik dan Pemalsuan Hadis
Peristiwa yang
cukup mengkhawatirkan dalam sejarah perjalanan hadist ialah terjadinya
pemalsuan hadist, yang salah satu penyebabnya ialah terjadinya perpecahan
politik dalam pemerintahan. Dipandang mengkhawatirkan karena merupakan tindakan
yang mencemarkan dan menodai kemurnian hadist dari dalam dan ini, oleh para
pengingkar dan orientalis, dijadiakan sala satu alasan kuat untuk melemahkan
kedudukan hadist.
Perpecahan politik
ini sebenarnya terjadi sejak masa sahabat, setelah terjadinya perang Jamal dan perang Shifin, yaitu ketika
kekuasaan di pegang oleh Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, akibatnya cukup
panjang dan berlarut-larut, dengan pecahnya umat islam kedalam beberapa. Kelompok , yaitu Khawarij, Syi’ah, Muawiyah,
dan golongan mayori barang tidak masuk
ke dalam ketiga kelompok tersebut.
dari persoalan politik
tersebut, langsung atau tidak langsung cukup memberikan pengaruh, positif
maupun negative terhadap perkembangan hadist berikutnya. Pengaruh yang langsung
ialah munculnya hadist-hadist palsu (maudlu’)
untuk mendukung kepentingan politiknya maing-masing kelompok dan akan
menjatuhkan posisi lawannya. Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah lahirnya
rencana dan usha yang mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadist, sebagai upaya penyelamat dari kemusnahaan dan pemasluan,
yang muncul sebagai akibat perpecahan politik tersebut.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.
Perkembangan hadis pada masa rasul saw bercorak antar lisan dan
mengalami pelarangan penulisan hadis dengan alasan diantaranya khawatir
tercampur dengan nash al-qur’an.
2.
Pada masa sahabat, hadis mengalami pasang surut degan adanya
pembatasan periwayatan pada masa khalifah abu bakar as-shidiq sampai masa
khalifah umar ra. Dan perluasan periwayatan pada masa khalifah ustman sampai
khalifahali ra.
3.
Pada masa tabi’in hadis lebih banyak diriwayatkan oleh perawi,
namun pada masa itu banyak bermunculan hadis-hadis palsu yang bernuansa
kepentingan politik golongan.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar