Selasa, 12 Mei 2015

sejarah kodifikasi prakodifikasi



BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar belakang
            Keberadaan hadis sebagai salah satu sumber hukumdalam islam memiliki sejarah perkembangan yang kompleks, sejak dari masa pra-kodifikasi, zaman rasul, sahabat dan tabi’in hinga setelah masa pembukuan pada abad ke-2 H. Perkembagan hadis pada awal lebih banyak menggunakan lisan karena ada larangan nabi untuk menulis hadis. Larangan ersebut berdasarkan kekhawatiran nabi akan tercampurnya nash al-quran dan hadis. Selain itu juga disebabkan fokus nabi pada para sahabat yang pandai menulis untuk menuli al-quran. Larangan tersebut berlangsung sampai masa tabi’in besar, bahkan khalifah umar bin khatab sangat menentang penulisan hadis, begitu pula khalifah yang lain.Periodesasi penulisan dan pembukuan hadis secara resmi dimulai pada masa pemerinthan khalifah umar bin abdul aziz (abad ke-2 H). Terlepas dari naik turunnya perkembangan hadis, tak dapat dipungkiri bahwa hadis memberikan pengaruh yang besar dalam sejarah peradaban islam.
B . Rumusan Masalah
1. Bagaimana  sejarah hadis pada masa rasul saw?
2. Bagaimana sejarah hadis pada masa sahabat?
3. Bagaimana sejarah hadis pada masa tabi’in?
C. Tujuan Masalah
1. Dapat mengetahui sejarah hadis pada masa rasul saw
2. dapat mengetahui sejarah hadis pada masa sahabat
3. dapat mengetahui sejarah hadis pada masa tabi’in

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist Pada Masa Rasul Saw
Periode rasul saw merupakan periode pertama sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis. Periode ini terhitung cukup singkat bila dibandingkan dengan masa-masa berikutnya. Masa ini berlangsung selama 23 tahun, mulai tahun 13 sebelum hijrah, bertepatan dengan tahun 610 masehi sampai dengan 11 hijriyah, bertepatan dengan tahun 632 masehi. Masa ini merupakan kurun waktu turun wahyu (asr al-wahyi ) dan sekaligus sebagai masa pertumbuhan hadis.
Keadaan tersebut sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat, sebagai pewaris pertama ajaran islam dalam menerima dua sumber ajaran di atas, karena pada tangan mereka kedua-keduanya harus terpelihara dan disampaikan pada pewaris berikutnya secara berkesinambungan.
Wahyu yang diturunkan allah swt kepada raul dijelaskan melalui perkataan (aqwal), perbuatan (af’al), dan ketetapannya (taqrir) di hadapan para sahabat. Apa yang didengar, dilihat, dan disaksikan oleh mereka, merupakan pedoman bagi maliahdan ‘ubudiyah mereka sehari-hari. Dalam hal ini, rasul saw merupakan contoh satu-satunya bagi sahabat, karena ia memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan selaku Rasul Allah yang berbeda dengan manusia lainnya.
1. Beberapa petunjuk Rasullullah Saw
Dalam satu majlis ilmu, Rasullallah saw adalah guru atau pembimbing bagi para sahabatnya. Beliau mengajarkan segala aspek ajaran Allah Swt. Sesuai dengan firmannya dalam beberapa ayat, antara lain adalah Surat Al-Qalam ayat 4, An-Nisa ayat 113, dan Al-jum,ah ayat 2. Terjalin hubungan yang sangat harmonis antara kedua belah pihak.
Rasul saw. Juga sering menyampaikan doa-doanya kepada siapa saja yang menyampaikan ajarannya, agar di bukakan  pintu hatinya serta mendapat imbalan dari pada-Nya (H.R. Ahmad dari ibnu Mas’ud. Dalam beberapa sabdanya beliau juga menyampaikan wasiat-wasiatnya untuk selalu menyampaikan hadits kepada orang lain. Selain itu, rasul juga menyatakan ketinggian kedudukan siapa yang belajar dan mengajarkan ajaran-ajarannya, sehingga di nilai sebagai orang mujahid fi sabililah (pejuang Allah ).
2. Cara Menyampaikan Hadis
Menurut riwayat al-Bukhari, Ibn Mas’ud pernah bercerita bahwa untuk tidak melahirkan rasa jenuh di kalangan sahabat, Rasul Saw. Menyampaikan hadisnya dengan bernbagai cara, sehingga membuat sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya. Ada beberapa teknik atau cara Rasul Saw menyampaikan hadis kepada para sahabat, yang di sesuaikan dengan kondisi mereka. Pertama melalui para jamaah pada pusat pembinaannya yang di sebut  majlis al-ilmi. Melalui majlis ini, para sahabat memperoleh banyak peliang untuk menerima hadis sehingga mereka berusaha untuk selalu mengonsentrasikan diri untuk mengikuti kegiatannya
Menurut Ibnu Hajar Al-asqalani para sahabat begitu antusiasi untuk tetap bisa mengikutii kegiatan di majlis ini. Ini di tunjukan oleh umar bin khatab, ia sewaktu-waktu bergantian dengan ibnu zaid, dari bani umayah untuk menghadiri masjid ini ketika ia berhalangan hadir. Ia berkata, kalau hari ini aku yang turun atau pergi, pada hari lainnya ia yang pergi, demikian aku melakukannya. Terkadang kepala-kepala suku yang jauh dari madinah mengirim utusannya ke majlis ini, untuk kemudian mengajarkannya pada suku mereka sekembalinya dari sini.
Kedua, dalam banyak kesempatan, Rasul saw juga menyampaikan hadisnya melalui para sahabat  tertentu, yang kemudian oleh para sahabat tersebut di sampaikannya kepada orang lain. Hal ini karena terkadang ketika ia me-wurud-kan suatu hadis, para sahabat yang hadir hanya beberapa orang saja, baik karena di sengaja oleh Rasul saw. Sendiri atau secara kebetulan para sahabat yang hanya beberapa orang saja, seperti hadis-hadis yang ditulis oleh Abullah bin Amar bin al-Ash. Untuk hal-hal yang sensitif, seperti yang berkaitan dengan soal keluarga, dan kebutuhan biologis, (terutama yang menyangkut hubungan suami istri), ia sampaikan melalui istri-istrinya. Begitu juga sikap para sahabat, jika yang berkaitan dengan soal di atas, melalui istri-istrinya.
Ketiga, melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada’ dan futuh Makkah.
Keempat, melalui perbuatan langsung yang di saksikan oleh para sahabat (jalan musyahadah), seperti yang berkaitan dengan praktik. Praktik ibadah muamalah. Praktik ibadah muamalah.ada keistimewaan pada masa ini yaitu umat islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh hadis dari Rasul saw. Dan tempat-tempat yang di gunakan untuk pertemuan dan pendapatan pengajaran dari Rasul saw.
Salah satu tujuan rasul menyampaikan hadis kepada para sahabat yaitu karena ia bermaksud menjelaskan kandungan ayat- ayat yang yang di turunkan Allah Swt.
3. Keadaan  Para Sahabat dalam Menerima dan Menguasai  Hadis
Dalam perolehan dan pengusahaan hadis, antara satu sahabat dengan sahabat lainnya tidak sama. Ada yang memiliki lebih banyak, ada yang sedang, dan ada yang sedikit. Hal itu terjadi, di samping karena berkaitan dengan berfariasinya teknik dan tempat-tempat yang di gunakan, juga tergantung kepada beberapa hal,  salah satunya adalah perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama rasul saw, ada juga dalam soal hafalan dan kesanggupan bertanya kepada sahabat lain.
Ada beberapa orang sahabat banyak menerima hadis dari Rasul saw. Dengan beberapa penyebabnya. Di antara mereka ialah sebagai berikut: pertama, para sahabat yang termasuk kelompok as-sabiqunalawalun (yang mula-mula masuk islam), seperti abu bakar bin ash-shidiq, Umar bin al-Khathab, Usman bin affan, Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Mas’ud. Mereka banyak menerima hadis dari Rasul saw. Karena lebigh awal masuk islam dari sahabat-sahabat lainnya.
Kedua, Ummahat al-mukminin (istri-istri Rasul saw), seperti siti aisyah, umu salamah dan umu salamah. Mereka secara pribadi lebih dekat dengan Rasul saw. Dari pada para sahabat lainnya. Hadis yang di terimanya, seperti telah di katakana, banyak yang berkaitan dengan soal pribadi, keluarga, dan tata cara pergaulan suami istri.
Ketiga, para sahabat, yang di samping selalu dekat dengan Rasul saw. Juga menulis hadis-hadis yang di terimanya, seperti Abdullan Amr bin al-ash.
Keempat, para sahabat yang meskipun tidak lama bersama Rasul saw., akan tetapi sangat efisien memanfaatkan setiap peluang atau kesempatan, di samping banyak bertanya kepada para sahabat lainnya. Secara sungguh-sungguh, seperti Abu Hurairah.
Kelima, para sahabat yang secara sungguh-sungguh mengikuti majlis Rasul saw. Yang banyak bertanya kepada sahabat lain, dan dari sudut usia, tergolong yang hidup lebih lama dari wafat Rasul saw. Seperti anas bin Malik, dan Abdullah bin Abas. Hadis-hadis yang di perolehnya mereka simpan dengan dalam hafalan masing-masing.
4.Pemeliharaan Hadis dalam Hafalan dan Tulisan
A.Aktif Menghafal
Untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan alqur’an dan hadis, sebagai dua sumber ajaran islam, Rasulullah saw.  Mengamal kebijaksanaan yang berbeda. Terhadap al-qur’an, beliau secara resmi memberi intruksi kepada sahabat tertentu supaya menulis, di samping menghafalnya, sedangkan terhadap hadis, perintah resmi itu hanya untuk menghafal dan menyampaikan kepada orang lain. Resmi, seperti halnya alqur’an, tidak di perkenankan rasul.
Dengan demikian maka hadis-hadis yang diterima dari Rasul saw. Oleh para sahabat di hafal secara sungguh-sungguh dan hanya untuk tidak terjadi kekeliruan, baik dalam lafal maupun maknanya supaya tidak tercampur dengan ayat-ayat alqur’an. Mereka sangat menjaga. Pesan Rasul dan ancamannya untuk tidak melakukan kesalahan terjadi apa-apa yang di terimanya.
B.Aktifitas Mencatat atau Menulis Hadis
Banyak para sahabat yang memiliki catatan dan melakukan penulisan hadis, baik untuk di simpan sebagai catatan pribadi maupun memberikan pesan-pesan kepada orang lain dalam bentuk surat menyurat dengan membubuhkan hadis. Kegiatan ini di ketahui dan dibiarkan oleh Rasulullah saw., bahkan di benarkannya.
            Ada di antara para sahabat yang melakukan penulisan hadis dan catatan hadis yang menurut pengakunya di benarkan oleh rasul saw., sehingga di berinya nama ash-shashifa as-shadiqah. Menurut suatu riwayat di ceritakan bahwa orang-orang Quraisy mengritik sikap Abdullah bin Amr, karena sikapanya yang selalu menulis apa yang datang dari Rasul Saw. Mereka berkata, “Engkau tuliskan apa saja yang dating dari Rasul, padahal Rasul itu manusia.” Di sampaikannya kepada Rasul saw. Dan seraya beliau menjawab dengan tegas:
Tulislah! Demi dzat yang diriku berada pada kekuasaannya, tidak ada yangkeluar dari padanya, kecuali yang benar?
            Demikian penegasan Rasulullah saw. Yang menunjukan bahwa menulis hadis yang sifatnya perorangan dapat di berikan. Di sisi lain menunjukan pula bahwa apapun yang di sampaikannya adalah benar dan kebenarannya al-hadis adalah jaminan oleh Allah melalui al-qur’an.
            Hadis-hadis yang terhimpun dalam catatan Abdullah bin Amr ini sekitar seribu hadis, yang juga menurut pengakuannya di terima langsung dari Rasulullah saw. Ketika mereka berdua tanpa ada orang lain yang menerimanya. Mengenai latar belakang ia menulis hadis, di ceritakan bahwa ketika ia berada bersama para sahabat lain di kediaman Rasulullah saw., ia mendengar hadis tentang ancaman bagi yang mendustakan hadis. Maka ketika selesai acara ini ia bertanya kepada para sahabat agar terhindar dari ancaman itu? Mereka menjawab,” semua yang kami dengar dari Rasul sudah ditulis dalam catatan kami. “ jawaban para sahabat ini memberikan motivasi baginya untuk melakukan penulisan hadis yang di terimanya.
B. Periode Pada Masa Sahabat
Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat khususnya masa khulafa ar rasyidin ( abu bakar shidik, umar bin al-khatab, utsman bin affan, dan ali bin abi thalib). Masa ini terhitung sejak tahun 11 H sampa dengan 40, yang di sebut juga dengan masa sahabat besar (kibarus shababah).
Pada masa sahabat besar ini perhatian mereka masih terfokus kepada pemilihan dan penyebaran al quran. dengan demikian maka periwayatan hadis belum begitu berkembang, bahkan mereka berusaha membatasi periwayatan hadis tersebut. Oleh karena itu, masa ini oleh para ulama di anggap sebagai masa yang menunjukan adanya pembatasan atau memperketat ( at tsabut wa al iqlal ar riwayah )
1. Memelihara Amanah Rasul  Saw
             Para sahabat, sebagai generasi pertama yang menerima amanah terbesar bagi kelangsungan syariat islam, adalah menerima dan melaksanakan segala amanah Rasul lallah. Amanah iu esensinya tertuang ada al quran dan hadis sebagaimana sabdanya ketika menjelang akhir kerasulannya yang berbunyi  :
تر كت فيكم شيئين لن تضلوا أبدا ما إن تمسكتم بهما كتاب الله و سنة رسول الله (رواه الحاكم عن أبى هريرة)
Aku tingalkan untuk kalian dua macam yang tidak akan sesat setelah berpegang kepada kedunya yaitu kitab allah ( alquran ) dan sunahku ( H.R. al hakim dari abu hurairah)
Pada hadis lain Rasul  juga berpesan:
Dari abdullah bin amr bin ash berkata, bahwa Rasul lallah Saw. Bersabda “ sampaikan dariku walau satu ayat dan ceritakanlah hadis kepada bani israil tidak mengapa, dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempat duduknya yang layak adalah neraka “ (H.R. Bukhari)”
            Siapa saja yang berpegang pada keduanya (alquran dan hadis) secara erat bersama sama, maka ia mendapatkan jaminan Rasul Saw. Tidak akan hidup tersesat, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya, siapa an melepaskan diri dari keduanya atau hanya berpegang kepada allah satunya, merupakan penyimpangan pada salah satu dari amanah yang berarti ia akan tersesat di jalan.
2. Kehati-hatian Para Sahabat dalam Menerima dan Meriwayatkan Hadis
Setelah Rasul wafat, perhatian para sahabat terfokus menyebarkan dan memlihara al quran. Alquran yang telah di hafal oleh ribuan penghafalnya dengan teratur dan telah di tulis dalam berbagai suhuf oleh para penulisnya (baik nabi Saw. Sendiri maupun untuk kepentingan masing masing) mendapat utama untuk terus di sebar luaskan ke berbagai peloksok wilayah islam dan seluruh lapisan masyarakat. Mushaf mushaf al imam. Sedangkan, yang empat lagi masing masing disimpan di makkah, basrah, syiria, dan kuffah.
Meskipun perhatian mereka tepusat kepada upaya pemelihara dan penyebaran al quran, tetapi tidak berarti mereka melalaikan sebagaimana halnya yang di terimanya secara utuh ketika beliau masih hidup. Akan tetapi, dalam meriwayatkannya, mereka sangat berhati hati dan membatasi diri.
Perlu pula menjelaskan di sini, bahwa pada masa ini belum ada usaha secara resmi untu menghimpun hadis dalam suatu kitab seperti halnya al quran hal ini di sebabkan antara lain:  pertama, agar tidak melingkar perhatian umat islam dalam mempelajari al quran : kedua, bahwa para sahabat yang banyak menerima hadis dan Rasul Saw. Sudah tersebar ke berbagai daerah masing masing sebagai pembina masyarakat sehingga dengan kondisi seperti ini, ada kesulitan mengumpulkan mereka secara lengkap : ketiga bahwa soal membukukan hadis, di kalangan para sahabat sendiri terjadi perselisihan pendapat, belum lagi terjadinya perselisihan soal lafal dan sahilnya.
3. Upaya Para Ulama Mentaufikkan Hadis Tentang Larangan Menulis Hadis
Perselisihan para ulama dala soal pembukuan hadis berpangkan pada adanya dua kelompok hadis, yang dari sudut zahir nya tanpa adanya kontradiksi. Kelompok hadis yang pertama menunjukan adanya larangan Rasul Saw. Menuliskan hadis, yang di antaranya berbunyi:
Janganlah kamu sekalian menulis apa saja dariku selain al quran. Siapa yang telah menulis dariku selain al quran, hendaklah di hapus. Ceritakanlah saja apa yang di terima dariku, itu tidak mengapa. Siapa yang dengan sengaja berdusta atas namaku ia niscaya menempati tempat duduknya dari api neraka.
Hadis di atasdi riwayatkan oleh muslim melalui silsilah sanad umam, dari zaid bin aslam, dari atha dari abu said al khuduri sanad sanad hadis ini oleh para ulama di nilai sahih, hanya saja bersoalkan apakah hadis itu marfu atau manqul. Selain hadis di atas, ada beberapa hadis lainnya yang di riwayatkan dari abu hurairah dan said bin abi tsabit. Namun, pada kedua hadis tersebut terdaat nama abd ar rahman bin zaid, yang oleh para ulama seperti ibnu maina al bukhari, an nasai, ad darimi, dan ahmad bin utsman adz dzahabi. Dengan demikian dua hadis lainnya tidak dapat di jadikan hujjah sedangkan hadis kelompok kedua ialah beberapa hadis seperti riwayat abdullah bin ash dan hadis abu syam seperti telah di sebut di atas.
Menurut an nawawi dan assuyuti larangan tersebut di maksudkan bagi orang yang kuat hafalannya sehingga tidak ada kehawatiran terjadinya lupa akan tetapi, bagi orang khawatir lupa atau kurang kuat ingatannya membolehkan mencatatnya.
Menurut ibnu hajar al asqalani, larangan Rasul  sauq menuliskan hadis menuliskan hadis adalah ketika al quran di turunkan. Ini karna, ada khawatiran tercampurnya ayat al quran dengan hadis kemudian Menurutnya, larangan itu di maksudkan juga untuk tidak menulis al quran dan hadis dalam satu shuhuf untuk mencatat wahyu, penulisan hadis adalah di bolehkan.
C. Hadis Pada Masa Tabi’in
1. Sikap dan Perhatian Para Tabi’in Terhadap Hadis
        Sebagaimana para sahabat, para tabiin juga cukup berhati – hati dalam meriwayatkan hadis. Hanya saja beban mereka tidak terlalu berat jika dibandingkan dengan yang dihadapi para sahabat. Pada masa ini, Al- qur’an telah di kumpulkan dalam mushaf, sehingga tidak lagi mengkhawatirkan mereka. Selain itu, pada masa akhir periode khilafa’ ar-rosyiddin (Masa khalifah Usman bin Affan) para sahabat ahli hadis telah menyebar kebeberapa wilayah kekuasaan islam. Ini merupakan kemudahan bagi para tabiin untuk mempelajari hadis – hadis dari mereka.
        Ketika pemerintahan di pegang oleh Bani Umayah, wilayah kekuasaan islam sudah meliputi mekkah, Madinah, Basrah, Syam, khurasan, Mesir, Persia, Irak, Afrika Selatan, Samarkand, dan Sepayol. Sejalan dengan pesatnya perluasan wilayah kekuasaan islam itu yang berarti juga meningkatkan penyebaran periwayatan hadis ( intisyar ar- riwayah ).
         Hadis – hadis yang diterima oleh para tabiin ini, seperti telah disebutkan ada yang dalam bentuk catatan atau tulisan ada yang harus di hafal, disamping dalam bentuk yang sudah berpolakan dalam ibadah dan amaliyah para sahabat yang mereka saksikan dan mereka ikuti. Kedua bentuk ini saling melengkapi, sehingga tidak ada satu hadispun  yang tercecer atau terlupakan.
2. Pusat – Pusat  Kegiatan Pembinaan Hadis
        Sesuai dengan tersebarnya para sahabat diwilayah – wilayah kekuasaan islam, maka tercatatlah beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan hadis, sebagai tempat tujuan para tabiin dalam mencari hadis, dan pada gilirannya menjadi kegiatan para tabiin dalam meriwayatkan hadis – hadis tersebut kepada muridnya ( tabiin ). Kota – kota tersebut adalah Madinah Al- Munawwarah, Mekkah Al- Mukarramah, Kuffah, Basrah, Syam, Mesir, Magrib, Andalus, Yaman, dan Khurasan. Dari sejumlah sahabat pembina hadis pada kota – kota tersebut, ada beberapa orang yang Meriwayatkan hadist cukup banyak, antaranya lain Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, A’isyah, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah, dan Sa’id al-Khudri.
          Para sahabat yang membina hadist di makkah tercatat nama-nama, seperti Mu’adz bin Jabal, Atab bin Asid, Harits bin Hisyam, Utsman bin Thalhah, dan salim bin Abdillah bin Umar.
 Para sahabat yang sering membina hadist di kuffah, diantaranya ialah Ali bin Abi Thalib, Sa’id bin Abi Waqas, dan Abdullah bin Ma’ud. Diantaranya para tabiin yang muncul disini ialah Ar-Rabi’ bin Qaim, Kamal bin Zaid, an-Nikha’I bin Abi Rabbah, Thawus bin Kasiman, dan Irimah Maula ibn Abbas.
Para sahabat yang membina hadist di Syiam diantaranya ialah Abu Ubaidah al-Jarh, Bilal Bin Rabbah, Ubadah bin Shamit, Mu;adz bin Jabal, sa’ad bin Ubadah, Abu Darda Surahbil bin Hasanah, Khalid bin Walid, dan Iyadh bin Ganam. Para tabiin yang muncul disini antaranya ialah Salim bin Abdillah al-Muharibi, Abu Idris al-Khaulani, Abu Sulaiman ad-Darani, dan umar bin Hana’i.
 Para sahabat yang membina dimesir diantaranya ialah Amr bin Ash, Uqbah bin Anir, Kharizah, bin Hudzafah, dan Abdullah bin al-Harist, sedang para tabiin yang muncul disini diantaranya ialah Amr bin Al-Harist, Khair bin  Nu’aimi al-Hadrami, Yazid bin Abi Habib Abdullah bin Abi Ja’ar, dan Abdullah bin Sulaiman ath-Thawil.
 Para sahabat yang membina hadist di Yaman, antara lai Mu;adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy’ari. Kedua orang sahabat ini telah dikirik kedaerah ini sejak rasulullah saw. Masih hidup, para tabiin yang muncul disini, diantaranya ialah Hamam bin Munabbih, Wahab bin Munabbih, Thawus, dan Ma’mar bin Rasyid.
Para sahabat yang membina hadist di khurasan diantaranya ialah Buraidah bin Husain al-Ashlami, al-Hakam bin Amir al-Gifari, Abdullah bin Qasim bin al-Abbas. Sedangkan diantara para tabiin-nya ialah Muhamad bin Ziyad Muhamad bin Tsabit al-Anshari dan Yahya bin Shabih al-Mugri.
3. Para penulis Hadis  dikalangan Tabiin
melakukan dua hal, yaitu menghafal dan menulis hadist. Banyak riwayat yang menunyjukan, mereka memperhatikan kedua hal ini.
            Tentang menghafal hadist, para ulama tabiin Abi Laila, Aliyah, Ibn Syihab az-Zuhuri, Urwah bin az-Zubair menekankan pentingnya menghafal hadist-hadist secara terus menerus. Kata Zuhri, sebagaimana dikatakan az-Auzai, Hilangnya ilmu itu karena lupa dan tidak mau mengingatnya atau menghafalnya. Kata alkamal sebagaimana dikatakan Ibrahim, bahwa dengan menghafal hadist, hadist akan terpelihara. Tentang  menulis hadist, disamping melakukan hapal secara teratur, diantara mereka juga menulis sebagian hadist-hadist yang diterimanya, selain itu mereka, mereka juga melmiliki catatan atau surat yang mereka terima langsung dari pada sahabat sebagai gurunya. Sedangkan diantara tabiin muda (shighar at-tabiin) yang memiliki catatan dan menuliskannya, ialah Ibrahim bin Abdullah, Ismail bin Abi khaifah Al-Ahmasi, Ayyub  bin Abi Tamimah as-Sakhtyani, Bakirbin sulaiman at-Tamimi, Hammad bin Abi Sulaiman, Zaid bin Rafi, Nafi, dan Yazid.
4. Perpecahan Politik dan Pemalsuan Hadis
            Peristiwa yang cukup mengkhawatirkan dalam sejarah perjalanan hadist ialah terjadinya pemalsuan hadist, yang salah satu penyebabnya ialah terjadinya perpecahan politik dalam pemerintahan. Dipandang mengkhawatirkan karena merupakan tindakan yang mencemarkan dan menodai kemurnian hadist dari dalam dan ini, oleh para pengingkar dan orientalis, dijadiakan sala satu alasan kuat untuk melemahkan kedudukan hadist.
            Perpecahan politik ini sebenarnya terjadi sejak masa sahabat, setelah terjadinya perang  Jamal dan perang Shifin, yaitu ketika kekuasaan di pegang oleh Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi, akibatnya cukup panjang dan berlarut-larut, dengan pecahnya umat islam kedalam beberapa.  Kelompok , yaitu Khawarij, Syi’ah, Muawiyah, dan golongan mayori  barang tidak masuk ke dalam ketiga kelompok tersebut.
 dari persoalan politik tersebut, langsung atau tidak langsung cukup memberikan pengaruh, positif maupun negative terhadap perkembangan hadist berikutnya. Pengaruh yang langsung ialah munculnya hadist-hadist palsu (maudlu’) untuk mendukung kepentingan politiknya maing-masing kelompok dan akan menjatuhkan posisi lawannya. Adapun pengaruh yang berakibat positif adalah lahirnya rencana dan usha yang mendorong diadakannya kodifikasi atau tadwin hadist, sebagai upaya  penyelamat dari kemusnahaan dan pemasluan, yang muncul sebagai akibat perpecahan politik tersebut.


BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
1.      Perkembangan hadis pada masa rasul saw bercorak antar lisan dan mengalami pelarangan penulisan hadis dengan alasan diantaranya khawatir tercampur dengan nash al-qur’an.
2.      Pada masa sahabat, hadis mengalami pasang surut degan adanya pembatasan periwayatan pada masa khalifah abu bakar as-shidiq sampai masa khalifah umar ra. Dan perluasan periwayatan pada masa khalifah ustman sampai khalifahali ra.
3.      Pada masa tabi’in hadis lebih banyak diriwayatkan oleh perawi, namun pada masa itu banyak bermunculan hadis-hadis palsu yang bernuansa kepentingan politik golongan.

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar