Selasa, 12 Mei 2015

pramaterialistik



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pemikiran manusia bersifat dinamis yang artinya dapat berubah seiring waktu dan zaman yang akan dihadapinya, sebelum adanya ilmu filsafat. Pemikiran manusia masih sangat awam, terbatas dan tradisionalis sehingga dapat dikatakan sangat pasrah pada keadaan dan tidak ingin mencari atau menelaah sesuatu itu secara lebih dalam lagi.
Pada masa Pramaterialistik, pemkiran filsafat abad modern dalam versi barat dibagi menjadi 3 periode, yaitu zaman kuno yang mana manusia memiliki kecerdasan yang murni. Meskipun diawali oleh berbagai mitos tetapi filsafat dilahirkan dengan penuh kemurnian batin para filososof yang kemudian menjadi fondasi perkembangan filsafat pada abad-abad selanjutnya. Kemudian yang kedua zaman pertengahan yang mana alam pikiran dikungkung dan didominasi oleh kekuatan dan kekuasaan gereja. Dan yang ketiga yaitu zaman modern yang ditandai dengan kebebasan berfikir setiap orang bahkan menjadi ideologi kaum intelektual.
Jika kita mendengar kalimat “Filsafat Yunani” maka sudah tak asing lagi dengan kata-kata itu yang sering disebut-sebut oleh manusia. Filsafat yunani itu sendiri sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran filsafat pada zaman setelahnya. Bahkan, ajaran gerejapun telah dipengaruhi oleh filsafat yunani.
Filsafat bagi orang Yunani pada masa itu bukan merupakan ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu pengetahuan yang lainnya, melainkan meliputi segala pengetahuan. Keistimewaan orang-orang Yunani pada masa itu ialah karena mereka mencaripengetahuan
semata-mata untuk tahu saja, mereka mencintai pengetahuan semata-mata tanpa pengharapan keuntungan.
B.     Rumusan Masalah.
1.      Apa pengertian dari Pramaterialistik?
2.      Bagaimanakah pemikiran filsafat pramaterialistik?
3.      Bagaimana filsafat membuka cakrawala pemikiran hingga menumbuhkan sikap demitologi?
4.      Apa pengaruh filsafat Yunani terhadap ajaran gereja?
C.    Tujuan
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1.      Mengetahui tentang pramaterialistik.
2.      Mengenal filsafat pramaterialistik.
3.      Mengaplikasikan sikap demitologi dalam pemikiran filsafat.
4.      Mengetahui pengaruh filsafat Yunani terhadap ajaran Gereja.


















BAB II
LANDASAN TEORI
A.    Pramaterialistik.
Tahapan sejarah pemikiran filsafat abad modern menurut versi barat dibagi menjadi 3 periode, yaitu :
1.      Ancient atau zaman kuno, suatu zaman ketika manusia memiliki kecerdasan yang murni. Meskipun diawali oleh berbagai mitos, pada zaman ini filsafat dilahirkan dengan penuh kemurnian batin para filosof yang kemudian sebagai pondasi perkembangan filsafat pada abad-abad selanjutnya. Pada zaman inilah, kemajuan berfikir manusia mulai menampakkan diri, bahkan kemerdekaan berfikir tidak lagi terkekang. Tidak ada kekuatan dengan dan atas nama siapapun yang mampu melumpuhkan pencaharian kebenaran filosofis pada zaman ini.
2.      Medieval atau pertengahan, yakni zaman ketika alam pikiran dikungkung dan didominasi oleh kekuatan dan kekuasaan gereja. Pada zaman ini, kebebasan berfilsafat benar-benar dibatasi, yang mengakibatkan ilmu pengetahuan terkebiri dan filsafat pun jatuh bangun dari hasrat radikalisasi pemikirannya.
3.      Zaman modern, yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir hingga sekarang yang berbeda jauh dengan zaman-zaman sebelumnya. Kebebasan berfikir bukan hanya menjadi hak setiap orang, bahkan menjadi ideology kaum intelektual. Objek pemikiran telah melintasi batas kejumudan intelektual sebagai akibat kekuatan dan kekuasaan gereja. Agama yang “suci” pada zaman ini hanyalah objek pemikiran filsafat yang kebenarannya tidak henti-hentinya diperdebatkan.[1]
Zaman modern sebagai zaman yang datang setelah sekian lama sinantikan semua manusia yang memiliki peradaban yang tinggi. Setelah beberapa ilmuwan dan filosof terkekang oleh kekuatan politik yang bergerak dengan mengatasnamakan agama, Tuhan, atau para dewa. Pada zaman ini, perbudakan diuluhlantakan oleh kesadaran manusia terhadap jati dirinya. Harga diri manusia bangkit dengan menjulangnya komunikasi global dan perkembangan ilmu pengetahuan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Dunia telah benar-benar sebesar daun kelor. Zaman modern sebagai zaman yang tepat untuk menuangkan dengan bebas segala pemikirannya.[2]
Ciri-ciri pemikiran filsafat modern, antara lain menghidupkan kembali rasionalisme  keilmuan subjektisme (individualisme), humanisme dan lepas dari pengaruh  dan lepas dari ajaran gereja. Dari konsep sejarah pemikiran yang menunjuk pada periode yang bersifat individualism, kebangkitan kembali kebebasan berfikir merupakan masa yang benar-benar kontrovesional dengan masa pada abad pertengahan.
Ahmad Syadali dan Mudzakir menguraikan secara panjang lebar bahwa filsafat abad modern pada pokoknya dimulai dengan tiga aliran, yaitu :
a.       Aliran rasionalisme dengan tokohnya Rene Decrates (1596-1950 M)
b.      Aliran Empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292 M)
c.       Aliran kritisisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M)
Tiga aliran filsafat diatas, tergolong pada aliran pramaterialisme. Oleh karena itu, dapat diambil pemahaman bahwa perkembangan filsafat pada abad modern memperlihatkan idealism pemikiran yang luar biasa dilihat dari sisi perkembangan “cara berfikir” manusia. Pengaruh eksternal terhadap pemikiran filosofis manusia belum banyak tersentuh oleh kapitalisme. Semua gagasan masih berbasis kepada pandangan tentang hakikat kekuatan rasio dan pengalaman manusia, yang secara substansial merupakan hakikat filsafat itu sendiri.[3]
B.     Filsafat Sebagai Sikap Demitologi
Sikap demitologi pada filsafat juga ditandai dengan Filsafat para Sofis pada abad ke-5 sampai ke-4 SM, dunia pendidikan dan pengajaran di Yunani dijalankan oleh para sofis tersebut. Mereka adalah para filsuf yang sangat mahir berpidato, berdebat, dan sekaligus juga mendidik. Mereka mendidik anak-anak muda dan berpidato serta berdebat di pasar-pasar atau pusat-pusat keramaian (dinamakan “agora”) di setiap Negara-kota (dinamakan “polis”).pendidikan dan pengajaran di Yunani saat itu dijalankan oleh para sofis ini.
Ajaran para sofis sangat berbeda dari para filsuf sebelumnya. Mereka tidak tertarik pada filsafat alam, ilmu pasti, atau metafisika, mereka menilai filsafat sebelumnya terlalu mengawang-awang. Mereka lebih tertarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia, moral, norma, dan politik. Hal-hal inilah yang dianggap perlu diajarkan pada generasi muda dan dikembangkan untuk kelangsungan Negara.
Namun sayangnya, seringkali kepandaian dan keterampilan mereka berdebat disalahgunakan untuk membalikkan kebenaran dan moralitas. Kebenaran dan moralitas oleh mereka dibuat relative. Mereka meragukan adanya kebenaran objektif dan universal. Mereka meragukan segala sesuatu dan kemudian mereka membuat justifikasi sendiri untuk kebenaran yang mereka bangun sendiri melalui argumentasi subjektif. Akibatnya, semua orang dianggap memiliki kebenaran sendiri, sejauh memiliki kemampuan dalam beragumentasi dalam perdebatan.
Fokus pemikiran mereka yang terarah pada manusia ansich membawa mereka pada keyakinan bahwa manusia adalah ukuran segala-segalanya. Tidak ada nilai baik, benar, atau indah dalam dirinya sendiri. Semuanya dianggap baik, benar, indah jika dihubungkan dengan persepsi individu. Akibatnya adalah bahwa tidak ada keniscayaan, tidak ada kebenaran yang objektif dan universal. Semuanya adalah relative. Para sofis memberi tekanan pada relatifisme nilai. Akibatnya, sendi-sendi kepastian moral dan hukum dalam masyarakat Yunani menjadi terancam.
Meski nama-nama parasofis diasosiasikan dengan hal-hal negatif karena pandangan-pandangannya yang relatifistik, namun harus diakui bahwa tidak semua sofis memiliki pandangan demikian. Tokoh-tokoh seperti Protagoras dan Hippias adalah tokoh-tokoh relative berwibawa dan terkemuka pada saat itudan memiliki reputasi yang positif. Disamping itu, ajaran para sofis pun sangat berharga bagi perkembangan filsafat Yunani, sehingga tidak dapat diabaikan sumbangannya bagi sejarah filsafat Yunani. Tiga serangkai filsuf paling terkemuka Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles lahir pada zaman para sofis hidup dan dibesarkan diantara mereka.[4]
Walaupun Socrates hidup di zaman sofis dengan hukum relativitasnya. Tetapi, ia sangat menantang relativisme yang diajarkan oleh para sofis. Menurutnya, kebenaran bukanlahsesuatu yang subjektif dan relative. Kita dapat menangkap adanya kebenaran objektif, yang tidaktergantung pada individu yang memikirkan atau menggapainya, dalam kehidupan sehari-hari, ada prilaku yang baik dan tidak baik, yang pantas dan tidak untuk dilakukan. Penentuan baik dan buruk, pantas dan tidaknya tidak terletak pada kekuatan argumentasi per orang, melainkan pada sesuatu pada sesuatu yang sifatnya universal. Berbuat jahat dimanapun adalah buruk, sedangkan berbut baik pastimerupakan kebaikan. Kebaikan bukan saja akan membawa kebahagiaan pada pelakunya, tetapi juga karena dalam dirinya memang baik.[5]
Socrates, Plato dan Aristoteles adalah penggerak gerakan sikap demitologi. Demitologi dapat diartikan bahwa waktu itu manusia mulai membuka alam fikirannya untuk mengungkapkan pendapatnya secara menyeluruh yang telah menjadikan filsafat mampu mencapai perkembangan yang mencengangkan (remarkable). Sejak itu filsafat yang bercorak mitologis berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang praktis dan mulai menjarak dengan aspek-aspek mistik. Indikatornya, terlihat dari pernyataan Aristoteles yang bahwa filsafat adalah aktivitas pemikiran yang dapat dipertanggung jawabkan. Kata pertanggungjawabkan ini mencakup pada neraca pemikiran karena segala dapat dibuktikan. Sebagai aktivitas rasional yang dipertanggungjawabkan, ilmu harus bebas dari ikatan keyakinan dan bebas dari doktrin dan pemahaman yang kaku.
C.    Filsafat Yunani dan Ajaran Gereja.
Filsafat yunani sangat berpengaruh pada ajaran gereja, karena ilmu filsafat telah ada sebelum datang ajaran gereja. Ajaran gereja mulanya ada pada zaman patristik. Patristic itu sendiri mengandung artian bapak gereja. Pandangan pemikir agama pun terbagi menjadi tiga dalam menanggapi hal ini. Yang pertama berpendapat bahwa setelah ada wahyu illahi yang yterwujud dalam Yesus Kristus. Pandangan kedua berusaha untuk menengahinya dengan menyintesiskan kedua pemikiran tersebut, dan yang ketiga menyatakan bahwa filsafat Yunani merupakan langkah awal menuju agama.
Filsafat abad pertengahan merupakan zaman dimana filsafat berfungsi sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi agama. Sejauh filsafat bisa melayani theology, ia bisa diterima. Namun, filsafat yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan gereja ditolak. Banyak buku-buku filsafat zaman Yunani Kuno yang ditemukan kembali pada zaman ini, tetapi banyak diantaranya yang berangus, karena dinilai pemikiran kaum kafir. Kebebasan berfikir dipangkas. Oleh sebab itu,zaman ini sering dinamakan Abad kegelapan Filsafat. Relative tidak ada ajaran filsafat baru yang berkembang pada saat ini.[6]
Kekuasaan gereja yang begitu kuat bukan hanya menghambat perkembangan filsafat, tapi juga ilmu pengetahuan. Pada saat itu tidak dimungkinkan adanya temuan ilmiah yang bertentangan dengan ajaran gereja. Teori kopernikus (1473-1543) yang kemudian disebut “Revolusi Kopernikan” pun ditentang gereja. Untuk pertama kali dalam sejarah ilmu pengetahuan dan filsafat, Kopernikus menemukan bahwa matahari adalah pusat alam semesta dan semua planet, termasuk bumi mengelilingi matahari. Namun, teorinya itu bertentangan dengan ajaran gereja yang pada saat itu percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan semua planet (termasuk matahari) mengelilingi bumi. Oleh sebab itu, Kopernikus harus menahan diri untuk tidak mempublikasikan temuannya secara terbuka.[7]
Beberapa filsuf Kristen (Katholik) yang cukup terkemuka pada zaman ini diantaranya adalah Augustianus (354-430), Boethius ( 480-525), Thomas Aquinas (1225-1274), Duns Scotus (815-877), William Ockham (1228-1348). Sedangkan, para filsuf muslim diantaranya : Alkindi (801-873), Alfarabi (850-970), Ibnu Siena (980-1037).
Thomas Aquinas adalah seorang filsuf paling terkenal pada abad pertengahan. Ada sejumlah pemikiran filsafat yang ditulis olehnya, tetapi deskripsi dibawah ini akan dibatasi pada ajarannya mengenai “Lima Argumen Untuk Membuktikan Keberadaan Tuhan”. Argumen-argumen tersebut adalah sebagai berikut :
§  Gerak
Tidak ada sesuatu pun yang mampu bergerak dengan sendirinya. Sesuatu yang bergerak dipastikan memiliki sesuatu yang menggerakkan. Sesuatu yang menggerakan pasti juga mempunyai penggerak, demikian seterusnya. Namun, ada akhir dari penyebab yang menggerakan itu. Penyebab yang menggerakkan semua itu disebut Penggerak pertama. Penggerak pertama itu harus berupa kekuatan yang maha besar, jadi pasti bukan manusia atau mahkluk serupa manusia. Penggerak pertama itu adalah Tuhan.
§  Sebab-Akibat
Tidak ada sesuatu pun yang eksistensinya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tidak mungkin sesuatu menjadi sebab sekaligus menjadi akibat bagi eksistensinya sendiri. Suatu kejadian adalah akibat dari suatu penyebab dan penyebab itupun merupakan akibat dari penyebab-penyebab lainnya. Demikian seterusnya sampai ditemukan penyebab awal. Jika tidak ada penyebab awal, tidak akan terjadi rangkaian akibat sesudahnya. Atau, rangkaian kejadian tersebut tidak mungkin tanpa penyebab awal. Penyebab awal itu adalah Tuhan.
§  Ada dan Tiada
Segala sesuatu yang terdapat dalam alam semesta ini datang dan pergi, lahir dan mati, ada dan tiada. Sesuatu yang bisa ada dan tiada berarti ada di dalam waktu, terkena arus waktu, jadi tidak mungkin selamanya ada. Dengan begitu, ada masa dimana alam semesta ini belum ada. Keberadaan alam semesta dengan demikian bersifat kontingen. Sangat tidak masuk akal jika ketika alam semesta ini belum ada, belum ada sesuatu yang niscaya ada. Dipastikan bahwa ada sesuatu yang niscaya ada sepanjang masa. Sesuatu yang niscaya ada itu adalah Tuhan.
§  Kelas Kualitas
Ada beragam kualitas yang melekat pada objek, mulai kualitas yang lebih baik sampai yang lebih buruk. Penilaian kualitas tersebut memerlukan acuan yang paling absolut dan sempurna. Acuan paling absolut dan sempurna itu tidak lain adalah Tuhan.
§  Keteraturan Perencanaan
Alam semesta berjalan secara teratur dan keteraturan itu pasti bukan sesuatu yang kebetulan. Keteraturan itu geraknya mengikuti suatu pola, berjalan seperti sebuah anak panah menuju tujuan tertentu yang dikehendaki pemanahnya. Pemanahnya itu adalah Tuhan.[8]
Agama Kristen juga berpengaruh besar terhadap arah politik yang menguasai Imperium Romawi. Benar bahwa agama Kristen pada mulanya tidak menawarkan norma-norma atau pemikiran politik, karena agama tersebut lebih berorientasi pada masalah-masalah agama saja, tetapi secara bertahap, pemikiran politik itu muncul dari kelas paling bawah di Romawi. Mereka menyerukan bahwa semua makhluk sama dalam pandangan penciptanya. Kelas sosial, kefakiran, atau kedudukan sosial tidak menjadikan mereka berbeda. Orang-orang Kristen memang dalam waktu yang lama berada dalam tekanan Romawi. Namun, ketika Kaisar Konstantin menjadikan Kristen sebagai agama resmi bagi imperium Romawi pada abad ke 15 SM,  keadaan menjadi berubah. Kristen kemudian menjadi satu-satunya agama yang diperbolehkan di imperium Romawi.
Motif yang mendorong Konstantin menjadikan Kristen sebagai agama resmi pada pertama kalinya bersifat politik. Sebab, saat itu ia membutuhkan dukungan gereja,para pendeta, dan orang-orang Kristen untuk memperkuat Negara. Akan tetapi, kekuasaan gereja kuno tidak sepenuhnya mendukung Negara, khususnya ketika kaisar mencoba mencampuri urusan gereja dan ajaran-ajarannya. Oleh karena itu, orang-orang Kristen kemudian dihadapkan pada jalan taat kepada tuhan atau taat kepada pemerintah. Mereka ternyata lebih memlih jalan pertama. Dari sana, tumbuhlah dua kekuasaan dunia yang dipimpin kaisar  dan kekuasaan yang agama yang dipimpin kalangan gereja, sebagaimana ungkapan, “berikanlah kepada kaisar apa yang seharusnya diberikan kepadanya, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang seharusnya diberikan kepada-Nya”. Oleh karena itu, orang-orang Kristen memiliki ketaatan ganda antara Tuhan dan Kaisar. Inilah yang memengaruhi lahirnya mahzab dua tujuan: tujuan duniawi yang berhubungan langsung dengan Negara, dan tujuan abadi yang berhubungan langsung dengan gereja.[9]
Salah satu tokoh terkemuka pada zaman ini adalah St. Agustinus, sebenarnya dalam hal ini, proyek yang digariskan Agustinus untukmenyelamatkan manusia, merealisasikan kehidupan samawi, dan mendahulukan kehidupan samawi dari pada kehidupan duniawi, bersandar secara dominan kepada gereja sebagai pemersatu yang menggabungkan seluruh orang beriman untuk bersama-sama menyelamatkan manusia. Hanya saja, Augustianus mengaitkan keselamatan manusia dan kerelaan gereja kepadanya. Oleh karena itu, ia memandang kekuasaan gereja lebih dominan daripada kekuasaan dunia.
Augustinus juga mensyaratkan akidah Kristen menjadi keyakinan bagi manusia jika hendak menegakkan keadilan. Bahkan, ia melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa merupakan sebuah kekeliruan orang yang mengatakan bahwa Negara mampu memberikan hak pada setiap yang berhak mendapatkannya. Hal itu keliru, kecuali Negara itu berakidah Kristen. Dari sanalah, Augustinus menyertakan keadilan dengan Kristen. Dunning berkata “Keadilan hanya didapatkan dari mereka yang menyembah Allah, yakni orang-orang Kristen”.[10]
Disamping Augustinus, ada pula tokoh lain seperti Plotinus. Ia mengatakan bahwa Tuhan (ini mewakili metafisika) bukan untuk dipahami, melainkan untuk dirasakan. Oleh karena itu, tujuan filsafat (dan tujuan hidup secara umum) adalah bersatu dengan Tuhan. Jadi, dalam hidup ini rasa itulah satu-satunya yang dipimpin oleh kitab suci, pedoman hidup manusia. Filsafat rasional dan sains tidak penting, dan mempelajarinya merupakan usaha mubadzir. Karena Simplicius, salah seorang pengikut Plotinus, telah menutup sama sekali ruang gerak filsafat rasional, iman telah menang mutlak. Karena memang harus menang mutlak, orang-orang yang masih juga menghidupkan filsafat akal harus dimusuhi. Maka, pada tahun 415 Hypatia, seorang yang terpelajar, ahli dalam filsafat Aristoteles dibunuh. Tahun 529 Kaisar Justianus mengeluarkan undang-undang yang melarang ajaran filsafat apapun di Athena.[11]


















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian tadi, maka dapat disimpulkan bahwa Pramaterialistik terbagi pada 3 zaman, yaitu : Ancient atau zaman kuno, suatu zaman ketika manusia memiliki kecerdasan yang murni. Meskipun diawali mitos. Medieval atau pertengahan, yakni zaman ketika alam pikiran didominasi oleh kekuatan dan kekuasaan gereja. Zaman modern, yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir hingga sekarang yang berbeda jauh dengan zaman sebelumnya.
Filsafat juga berperan pada sikap manusia dalam hal pemikirannya, tokoh yang menggempor-gemporkan sikap ini antara lain: Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga tokoh ini berhasil memerankan filsafat sebagai salah satu media dalam sikap demitologi. Dengan Sikap demitologi ini, manusia menjadi lebih baik dan lebih bebas dalam menuangkan pemikirannya tanpa memandang apapun.
Tetapi pada zaman pertengahan, filsafat rasio sangat dibatasi oleh kekuasaan gereja sehingga jika ada ahli filsafat pastinya ia dimusuhi bahkan dihukum mati. Karena pada zaman pertengahan ini agama Kristen juga menjadi agama resmi Negara Konstantin dan mengedepankan iman.
Akal pada Abad Pertengahan ini benar-benar kalah. Hal itu kelihatan dengan jelas pada filsafat Plotinus,Augustinus, Anselmus. Pada Aquinas penghargaan terhadap akal muncul kembali, dank arena itu filsafatnya banyak mendapatkan kritik. Sebagaimana telah dikatakan, Abad pertengahan merupakan pembalasan terhadap dominasi akal yang hamper seratus persen pada zaman Yunani sebelumnya, terutama pada zaman sofis.
Abad Pertengahan juga melahirkan filosof yang lumayan, yaituThomas Aquinas. Ia lahir pada masa-masa menjelang habisnya kekuatan agama Kristen mempengaruhi jalan pemikiran. Tekanan terhadap pemikiran rasional pada waktu ia hidup telah banyak berkurang. Oleh karena itu, ia berhasil mengumumkan filsafat rasionalnya.Yang terkenal ialah beberapapembuktian tentang adanya Tuhan yang masih dipelajari orang hingga saat ini. Tetapi, filsafatnya ini tetap saja tidak disenangi oleh banyak tokoh  ketika itu. Lima dalil tentang adanya Tuhan dan Aquinas itu sebenarnya tidaklah kuat sebagaimana yang diduganya. Kelak banyak filosof yang menolaknya, terutama Kant.
Daftar Pustaka
Abdul Ali, Filsafat Politik Antara Barat dan Timur. Bandung: Pustaka Setia, 2010.
Abidin  Zainal, Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011
Atang, Beni, Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Tafsir Ahmad, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.


















[1] Atang, Beni, Filsafat Umum (Bandung : Pustaka Setia, 2008), h.245
[2] Ibid, h. 246
[3] Ibid, h. 246
[4] Zainal A, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta : Rajawali Press, 2011), h. 96-98
[5] Ibid, h. 99
[6] Ibid, h. 106
[7] Ibid, h. 107
[8] Ibid, h. 108-110
[9] Ali, Filsafat Politik Antara Barat dan Timur, ( Bandung : CV Pustaka Setia, 2010), h. 77
[10] Ibid, h. 81
[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2012), h. 113

Tidak ada komentar:

Posting Komentar