BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemikiran manusia bersifat dinamis yang
artinya dapat berubah seiring waktu dan zaman yang akan dihadapinya, sebelum
adanya ilmu filsafat. Pemikiran manusia masih sangat awam, terbatas dan
tradisionalis sehingga dapat dikatakan sangat pasrah pada keadaan dan tidak
ingin mencari atau menelaah sesuatu itu secara lebih dalam lagi.
Pada masa Pramaterialistik, pemkiran filsafat
abad modern dalam versi barat dibagi menjadi 3 periode, yaitu zaman kuno yang
mana manusia memiliki kecerdasan yang murni. Meskipun diawali oleh berbagai
mitos tetapi filsafat dilahirkan dengan penuh kemurnian batin para filososof yang
kemudian menjadi fondasi perkembangan filsafat pada abad-abad selanjutnya.
Kemudian yang kedua zaman pertengahan yang mana alam pikiran dikungkung dan
didominasi oleh kekuatan dan kekuasaan gereja. Dan yang ketiga yaitu zaman
modern yang ditandai dengan kebebasan berfikir setiap orang bahkan menjadi
ideologi kaum intelektual.
Jika kita mendengar kalimat “Filsafat Yunani”
maka sudah tak asing lagi dengan kata-kata itu yang sering disebut-sebut oleh
manusia. Filsafat yunani itu sendiri sangat mempengaruhi pemikiran-pemikiran
filsafat pada zaman setelahnya. Bahkan, ajaran gerejapun telah dipengaruhi oleh
filsafat yunani.
Filsafat bagi orang Yunani pada masa itu bukan
merupakan ilmu pengetahuan yang terpisah dari ilmu pengetahuan yang lainnya,
melainkan meliputi segala pengetahuan. Keistimewaan orang-orang Yunani pada
masa itu ialah karena mereka mencaripengetahuan
semata-mata untuk tahu saja, mereka mencintai
pengetahuan semata-mata tanpa pengharapan keuntungan.
B.
Rumusan
Masalah.
1.
Apa pengertian dari
Pramaterialistik?
2.
Bagaimanakah pemikiran filsafat
pramaterialistik?
3.
Bagaimana filsafat membuka
cakrawala pemikiran hingga menumbuhkan sikap demitologi?
4.
Apa pengaruh filsafat Yunani
terhadap ajaran gereja?
C.
Tujuan
Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa
diharapkan mampu untuk :
1.
Mengetahui tentang
pramaterialistik.
2.
Mengenal filsafat pramaterialistik.
3.
Mengaplikasikan sikap demitologi
dalam pemikiran filsafat.
4.
Mengetahui pengaruh filsafat Yunani
terhadap ajaran Gereja.
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
Pramaterialistik.
Tahapan sejarah pemikiran filsafat abad modern
menurut versi barat dibagi menjadi 3 periode, yaitu :
1.
Ancient atau zaman kuno, suatu
zaman ketika manusia memiliki kecerdasan yang murni. Meskipun diawali oleh
berbagai mitos, pada zaman ini filsafat dilahirkan dengan penuh kemurnian batin
para filosof yang kemudian sebagai pondasi perkembangan filsafat pada abad-abad
selanjutnya. Pada zaman inilah, kemajuan berfikir manusia mulai menampakkan
diri, bahkan kemerdekaan berfikir tidak lagi terkekang. Tidak ada kekuatan
dengan dan atas nama siapapun yang mampu melumpuhkan pencaharian kebenaran
filosofis pada zaman ini.
2.
Medieval atau pertengahan, yakni
zaman ketika alam pikiran dikungkung dan didominasi oleh kekuatan dan kekuasaan
gereja. Pada zaman ini, kebebasan berfilsafat benar-benar dibatasi, yang
mengakibatkan ilmu pengetahuan terkebiri dan filsafat pun jatuh bangun dari
hasrat radikalisasi pemikirannya.
3.
Zaman modern, yakni zaman sesudah
abad pertengahan berakhir hingga sekarang yang berbeda jauh dengan zaman-zaman
sebelumnya. Kebebasan berfikir bukan hanya menjadi hak setiap orang, bahkan
menjadi ideology kaum intelektual. Objek pemikiran telah melintasi batas
kejumudan intelektual sebagai akibat kekuatan dan kekuasaan gereja. Agama yang
“suci” pada zaman ini hanyalah objek pemikiran filsafat yang kebenarannya tidak
henti-hentinya diperdebatkan.[1]
Zaman modern sebagai zaman yang datang setelah
sekian lama sinantikan semua manusia yang memiliki peradaban yang tinggi.
Setelah beberapa ilmuwan dan filosof terkekang oleh kekuatan politik yang
bergerak dengan mengatasnamakan agama, Tuhan, atau para dewa. Pada zaman ini,
perbudakan diuluhlantakan oleh kesadaran manusia terhadap jati dirinya. Harga
diri manusia bangkit dengan menjulangnya komunikasi global dan perkembangan
ilmu pengetahuan yang tidak terdeteksi sebelumnya. Dunia telah benar-benar sebesar
daun kelor. Zaman modern sebagai zaman yang tepat untuk menuangkan dengan bebas
segala pemikirannya.[2]
Ciri-ciri pemikiran filsafat modern, antara
lain menghidupkan kembali rasionalisme
keilmuan subjektisme (individualisme), humanisme dan lepas dari
pengaruh dan lepas dari ajaran gereja.
Dari konsep sejarah pemikiran yang menunjuk pada periode yang bersifat
individualism, kebangkitan kembali kebebasan berfikir merupakan masa yang
benar-benar kontrovesional dengan masa pada abad pertengahan.
Ahmad Syadali dan Mudzakir menguraikan secara
panjang lebar bahwa filsafat abad modern pada pokoknya dimulai dengan tiga
aliran, yaitu :
a.
Aliran rasionalisme dengan tokohnya
Rene Decrates (1596-1950 M)
b.
Aliran Empirisme dengan tokohnya
Francis Bacon (1210-1292 M)
c.
Aliran kritisisme dengan tokohnya
Immanuel Kant (1724-1804 M)
Tiga aliran filsafat diatas, tergolong pada
aliran pramaterialisme. Oleh karena itu, dapat diambil pemahaman bahwa
perkembangan filsafat pada abad modern memperlihatkan idealism pemikiran yang
luar biasa dilihat dari sisi perkembangan “cara berfikir” manusia. Pengaruh
eksternal terhadap pemikiran filosofis manusia belum banyak tersentuh oleh
kapitalisme. Semua gagasan masih berbasis kepada pandangan tentang hakikat
kekuatan rasio dan pengalaman manusia, yang secara substansial merupakan
hakikat filsafat itu sendiri.[3]
B.
Filsafat
Sebagai Sikap Demitologi
Sikap demitologi pada filsafat juga ditandai
dengan Filsafat para Sofis pada abad ke-5 sampai ke-4 SM, dunia pendidikan dan
pengajaran di Yunani dijalankan oleh para sofis tersebut. Mereka adalah para
filsuf yang sangat mahir berpidato, berdebat, dan sekaligus juga mendidik.
Mereka mendidik anak-anak muda dan berpidato serta berdebat di pasar-pasar atau
pusat-pusat keramaian (dinamakan “agora”) di setiap Negara-kota (dinamakan
“polis”).pendidikan dan pengajaran di Yunani saat itu dijalankan oleh para
sofis ini.
Ajaran para sofis sangat berbeda dari para
filsuf sebelumnya. Mereka tidak tertarik pada filsafat alam, ilmu pasti, atau
metafisika, mereka menilai filsafat sebelumnya terlalu mengawang-awang. Mereka
lebih tertarik pada hal-hal yang lebih konkret seperti makna hidup manusia,
moral, norma, dan politik. Hal-hal inilah yang dianggap perlu diajarkan pada
generasi muda dan dikembangkan untuk kelangsungan Negara.
Namun sayangnya, seringkali kepandaian dan
keterampilan mereka berdebat disalahgunakan untuk membalikkan kebenaran dan
moralitas. Kebenaran dan moralitas oleh mereka dibuat relative. Mereka
meragukan adanya kebenaran objektif dan universal. Mereka meragukan segala
sesuatu dan kemudian mereka membuat justifikasi sendiri untuk kebenaran yang
mereka bangun sendiri melalui argumentasi subjektif. Akibatnya, semua orang
dianggap memiliki kebenaran sendiri, sejauh memiliki kemampuan dalam
beragumentasi dalam perdebatan.
Fokus pemikiran mereka yang terarah pada
manusia ansich membawa mereka pada keyakinan bahwa manusia adalah ukuran
segala-segalanya. Tidak ada nilai baik, benar, atau indah dalam dirinya
sendiri. Semuanya dianggap baik, benar, indah jika dihubungkan dengan persepsi
individu. Akibatnya adalah bahwa tidak ada keniscayaan, tidak ada kebenaran
yang objektif dan universal. Semuanya adalah relative. Para sofis memberi
tekanan pada relatifisme nilai. Akibatnya, sendi-sendi kepastian moral dan
hukum dalam masyarakat Yunani menjadi terancam.
Meski nama-nama parasofis diasosiasikan dengan
hal-hal negatif karena pandangan-pandangannya yang relatifistik, namun harus
diakui bahwa tidak semua sofis memiliki pandangan demikian. Tokoh-tokoh seperti
Protagoras dan Hippias adalah tokoh-tokoh relative berwibawa dan terkemuka pada
saat itudan memiliki reputasi yang positif. Disamping itu, ajaran para sofis
pun sangat berharga bagi perkembangan filsafat Yunani, sehingga tidak dapat
diabaikan sumbangannya bagi sejarah filsafat Yunani. Tiga serangkai filsuf
paling terkemuka Yunani seperti Socrates, Plato dan Aristoteles lahir pada
zaman para sofis hidup dan dibesarkan diantara mereka.[4]
Walaupun Socrates hidup di zaman sofis dengan
hukum relativitasnya. Tetapi, ia sangat menantang relativisme yang diajarkan
oleh para sofis. Menurutnya, kebenaran bukanlahsesuatu yang subjektif dan
relative. Kita dapat menangkap adanya kebenaran objektif, yang tidaktergantung
pada individu yang memikirkan atau menggapainya, dalam kehidupan sehari-hari,
ada prilaku yang baik dan tidak baik, yang pantas dan tidak untuk dilakukan.
Penentuan baik dan buruk, pantas dan tidaknya tidak terletak pada kekuatan
argumentasi per orang, melainkan pada sesuatu pada sesuatu yang sifatnya
universal. Berbuat jahat dimanapun adalah buruk, sedangkan berbut baik
pastimerupakan kebaikan. Kebaikan bukan saja akan membawa kebahagiaan pada
pelakunya, tetapi juga karena dalam dirinya memang baik.[5]
Socrates, Plato dan Aristoteles adalah
penggerak gerakan sikap demitologi. Demitologi dapat diartikan bahwa waktu itu
manusia mulai membuka alam fikirannya untuk mengungkapkan pendapatnya secara
menyeluruh yang telah menjadikan filsafat mampu mencapai perkembangan yang
mencengangkan (remarkable). Sejak itu filsafat yang bercorak mitologis
berkembang menjadi ilmu pengetahuan yang praktis dan mulai menjarak dengan
aspek-aspek mistik. Indikatornya, terlihat dari pernyataan Aristoteles yang
bahwa filsafat adalah aktivitas pemikiran yang dapat dipertanggung jawabkan.
Kata pertanggungjawabkan ini mencakup pada neraca pemikiran karena segala dapat
dibuktikan. Sebagai aktivitas rasional yang dipertanggungjawabkan, ilmu harus
bebas dari ikatan keyakinan dan bebas dari doktrin dan pemahaman yang kaku.
C.
Filsafat
Yunani dan Ajaran Gereja.
Filsafat yunani sangat berpengaruh pada ajaran
gereja, karena ilmu filsafat telah ada sebelum datang ajaran gereja. Ajaran
gereja mulanya ada pada zaman patristik. Patristic itu sendiri mengandung
artian bapak gereja. Pandangan pemikir agama pun terbagi menjadi tiga dalam
menanggapi hal ini. Yang pertama berpendapat bahwa setelah ada wahyu illahi
yang yterwujud dalam Yesus Kristus. Pandangan kedua berusaha untuk menengahinya
dengan menyintesiskan kedua pemikiran tersebut, dan yang ketiga menyatakan
bahwa filsafat Yunani merupakan langkah awal menuju agama.
Filsafat abad pertengahan merupakan zaman
dimana filsafat berfungsi sebagai alat untuk pembenaran atau justifikasi agama.
Sejauh filsafat bisa melayani theology, ia bisa diterima. Namun, filsafat yang
dianggap bertentangan dengan ajaran agama dan gereja ditolak. Banyak buku-buku
filsafat zaman Yunani Kuno yang ditemukan kembali pada zaman ini, tetapi banyak
diantaranya yang berangus, karena dinilai pemikiran kaum kafir. Kebebasan
berfikir dipangkas. Oleh sebab itu,zaman ini sering dinamakan Abad kegelapan
Filsafat. Relative tidak ada ajaran filsafat baru yang berkembang pada saat
ini.[6]
Kekuasaan gereja yang begitu kuat bukan hanya
menghambat perkembangan filsafat, tapi juga ilmu pengetahuan. Pada saat itu
tidak dimungkinkan adanya temuan ilmiah yang bertentangan dengan ajaran gereja.
Teori kopernikus (1473-1543) yang kemudian disebut “Revolusi Kopernikan” pun
ditentang gereja. Untuk pertama kali dalam sejarah ilmu pengetahuan dan
filsafat, Kopernikus menemukan bahwa matahari adalah pusat alam semesta dan
semua planet, termasuk bumi mengelilingi matahari. Namun, teorinya itu
bertentangan dengan ajaran gereja yang pada saat itu percaya bahwa bumi adalah
pusat alam semesta dan semua planet (termasuk matahari) mengelilingi bumi. Oleh
sebab itu, Kopernikus harus menahan diri untuk tidak mempublikasikan temuannya
secara terbuka.[7]
Beberapa filsuf Kristen (Katholik) yang cukup
terkemuka pada zaman ini diantaranya adalah Augustianus (354-430), Boethius (
480-525), Thomas Aquinas (1225-1274), Duns Scotus (815-877), William Ockham
(1228-1348). Sedangkan, para filsuf muslim diantaranya : Alkindi (801-873),
Alfarabi (850-970), Ibnu Siena (980-1037).
Thomas Aquinas adalah seorang filsuf paling
terkenal pada abad pertengahan. Ada sejumlah pemikiran filsafat yang ditulis
olehnya, tetapi deskripsi dibawah ini akan dibatasi pada ajarannya mengenai
“Lima Argumen Untuk Membuktikan Keberadaan Tuhan”. Argumen-argumen tersebut
adalah sebagai berikut :
§ Gerak
Tidak ada sesuatu pun yang mampu bergerak
dengan sendirinya. Sesuatu yang bergerak dipastikan memiliki sesuatu yang
menggerakkan. Sesuatu yang menggerakan pasti juga mempunyai penggerak, demikian
seterusnya. Namun, ada akhir dari penyebab yang menggerakan itu. Penyebab yang
menggerakkan semua itu disebut Penggerak pertama. Penggerak pertama itu harus
berupa kekuatan yang maha besar, jadi pasti bukan manusia atau mahkluk serupa
manusia. Penggerak pertama itu adalah Tuhan.
§ Sebab-Akibat
Tidak ada sesuatu pun yang eksistensinya
disebabkan oleh dirinya sendiri. Tidak mungkin sesuatu menjadi sebab sekaligus
menjadi akibat bagi eksistensinya sendiri. Suatu kejadian adalah akibat dari
suatu penyebab dan penyebab itupun merupakan akibat dari penyebab-penyebab
lainnya. Demikian seterusnya sampai ditemukan penyebab awal. Jika tidak ada
penyebab awal, tidak akan terjadi rangkaian akibat sesudahnya. Atau, rangkaian
kejadian tersebut tidak mungkin tanpa penyebab awal. Penyebab awal itu adalah
Tuhan.
§ Ada dan Tiada
Segala sesuatu yang terdapat dalam alam
semesta ini datang dan pergi, lahir dan mati, ada dan tiada. Sesuatu yang bisa
ada dan tiada berarti ada di dalam waktu, terkena arus waktu, jadi tidak
mungkin selamanya ada. Dengan begitu, ada masa dimana alam semesta ini belum
ada. Keberadaan alam semesta dengan demikian bersifat kontingen. Sangat tidak
masuk akal jika ketika alam semesta ini belum ada, belum ada sesuatu yang
niscaya ada. Dipastikan bahwa ada sesuatu yang niscaya ada sepanjang masa.
Sesuatu yang niscaya ada itu adalah Tuhan.
§ Kelas Kualitas
Ada beragam kualitas yang melekat pada objek,
mulai kualitas yang lebih baik sampai yang lebih buruk. Penilaian kualitas
tersebut memerlukan acuan yang paling absolut dan sempurna. Acuan paling
absolut dan sempurna itu tidak lain adalah Tuhan.
§ Keteraturan Perencanaan
Alam semesta berjalan secara teratur dan
keteraturan itu pasti bukan sesuatu yang kebetulan. Keteraturan itu geraknya
mengikuti suatu pola, berjalan seperti sebuah anak panah menuju tujuan tertentu
yang dikehendaki pemanahnya. Pemanahnya itu adalah Tuhan.[8]
Agama Kristen juga berpengaruh besar terhadap
arah politik yang menguasai Imperium Romawi. Benar bahwa agama Kristen pada
mulanya tidak menawarkan norma-norma atau pemikiran politik, karena agama
tersebut lebih berorientasi pada masalah-masalah agama saja, tetapi secara
bertahap, pemikiran politik itu muncul dari kelas paling bawah di Romawi.
Mereka menyerukan bahwa semua makhluk sama dalam pandangan penciptanya. Kelas
sosial, kefakiran, atau kedudukan sosial tidak menjadikan mereka berbeda.
Orang-orang Kristen memang dalam waktu yang lama berada dalam tekanan Romawi.
Namun, ketika Kaisar Konstantin menjadikan Kristen sebagai agama resmi bagi
imperium Romawi pada abad ke 15 SM, keadaan menjadi berubah. Kristen kemudian
menjadi satu-satunya agama yang diperbolehkan di imperium Romawi.
Motif yang mendorong Konstantin menjadikan
Kristen sebagai agama resmi pada pertama kalinya bersifat politik. Sebab, saat
itu ia membutuhkan dukungan gereja,para pendeta, dan orang-orang Kristen untuk
memperkuat Negara. Akan tetapi, kekuasaan gereja kuno tidak sepenuhnya
mendukung Negara, khususnya ketika kaisar mencoba mencampuri urusan gereja dan
ajaran-ajarannya. Oleh karena itu, orang-orang Kristen kemudian dihadapkan pada
jalan taat kepada tuhan atau taat kepada pemerintah. Mereka ternyata lebih
memlih jalan pertama. Dari sana, tumbuhlah dua kekuasaan dunia yang dipimpin
kaisar dan kekuasaan yang agama yang
dipimpin kalangan gereja, sebagaimana ungkapan, “berikanlah kepada kaisar apa
yang seharusnya diberikan kepadanya, dan berikanlah kepada Tuhan apa yang
seharusnya diberikan kepada-Nya”. Oleh karena itu, orang-orang Kristen memiliki
ketaatan ganda antara Tuhan dan Kaisar. Inilah yang memengaruhi lahirnya mahzab
dua tujuan: tujuan duniawi yang berhubungan langsung dengan Negara, dan tujuan
abadi yang berhubungan langsung dengan gereja.[9]
Salah satu tokoh terkemuka pada zaman ini
adalah St. Agustinus, sebenarnya dalam hal ini, proyek yang digariskan
Agustinus untukmenyelamatkan manusia, merealisasikan kehidupan samawi, dan
mendahulukan kehidupan samawi dari pada kehidupan duniawi, bersandar secara
dominan kepada gereja sebagai pemersatu yang menggabungkan seluruh orang
beriman untuk bersama-sama menyelamatkan manusia. Hanya saja, Augustianus
mengaitkan keselamatan manusia dan kerelaan gereja kepadanya. Oleh karena itu,
ia memandang kekuasaan gereja lebih dominan daripada kekuasaan dunia.
Augustinus juga mensyaratkan akidah Kristen
menjadi keyakinan bagi manusia jika hendak menegakkan keadilan. Bahkan, ia
melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa merupakan sebuah kekeliruan orang
yang mengatakan bahwa Negara mampu memberikan hak pada setiap yang berhak
mendapatkannya. Hal itu keliru, kecuali Negara itu berakidah Kristen. Dari
sanalah, Augustinus menyertakan keadilan dengan Kristen. Dunning berkata
“Keadilan hanya didapatkan dari mereka yang menyembah Allah, yakni orang-orang
Kristen”.[10]
Disamping Augustinus, ada pula tokoh lain seperti
Plotinus. Ia mengatakan bahwa Tuhan (ini mewakili metafisika) bukan untuk
dipahami, melainkan untuk dirasakan. Oleh karena itu, tujuan filsafat (dan
tujuan hidup secara umum) adalah bersatu dengan Tuhan. Jadi, dalam hidup ini
rasa itulah satu-satunya yang dipimpin oleh kitab suci, pedoman hidup manusia.
Filsafat rasional dan sains tidak penting, dan mempelajarinya merupakan usaha
mubadzir. Karena Simplicius, salah seorang pengikut Plotinus, telah menutup
sama sekali ruang gerak filsafat rasional, iman telah menang mutlak. Karena
memang harus menang mutlak, orang-orang yang masih juga menghidupkan filsafat
akal harus dimusuhi. Maka, pada tahun 415 Hypatia, seorang yang terpelajar,
ahli dalam filsafat Aristoteles dibunuh. Tahun 529 Kaisar Justianus mengeluarkan
undang-undang yang melarang ajaran filsafat apapun di Athena.[11]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian tadi, maka dapat disimpulkan bahwa
Pramaterialistik terbagi pada 3 zaman, yaitu : Ancient atau zaman kuno, suatu
zaman ketika manusia memiliki kecerdasan yang murni. Meskipun diawali mitos. Medieval
atau pertengahan, yakni zaman ketika alam pikiran didominasi oleh kekuatan dan
kekuasaan gereja. Zaman modern, yakni zaman sesudah abad pertengahan berakhir
hingga sekarang yang berbeda jauh dengan zaman sebelumnya.
Filsafat juga berperan pada sikap manusia
dalam hal pemikirannya, tokoh yang menggempor-gemporkan sikap ini antara lain:
Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga tokoh ini berhasil memerankan filsafat
sebagai salah satu media dalam sikap demitologi. Dengan Sikap demitologi ini,
manusia menjadi lebih baik dan lebih bebas dalam menuangkan pemikirannya tanpa
memandang apapun.
Tetapi pada zaman pertengahan, filsafat rasio
sangat dibatasi oleh kekuasaan gereja sehingga jika ada ahli filsafat pastinya
ia dimusuhi bahkan dihukum mati. Karena pada zaman pertengahan ini agama
Kristen juga menjadi agama resmi Negara Konstantin dan mengedepankan iman.
Akal pada Abad Pertengahan ini benar-benar
kalah. Hal itu kelihatan dengan jelas pada filsafat Plotinus,Augustinus,
Anselmus. Pada Aquinas penghargaan terhadap akal muncul kembali, dank arena itu
filsafatnya banyak mendapatkan kritik. Sebagaimana telah dikatakan, Abad
pertengahan merupakan pembalasan terhadap dominasi akal yang hamper seratus
persen pada zaman Yunani sebelumnya, terutama pada zaman sofis.
Abad Pertengahan juga melahirkan filosof yang
lumayan, yaituThomas Aquinas. Ia lahir pada masa-masa menjelang habisnya
kekuatan agama Kristen mempengaruhi jalan pemikiran. Tekanan terhadap pemikiran
rasional pada waktu ia hidup telah banyak berkurang. Oleh karena itu, ia
berhasil mengumumkan filsafat rasionalnya.Yang terkenal ialah
beberapapembuktian tentang adanya Tuhan yang masih dipelajari orang hingga saat
ini. Tetapi, filsafatnya ini tetap saja tidak disenangi oleh banyak tokoh ketika itu. Lima dalil tentang adanya Tuhan
dan Aquinas itu sebenarnya tidaklah kuat sebagaimana yang diduganya. Kelak
banyak filosof yang menolaknya, terutama Kant.
Daftar Pustaka
Abdul Ali, Filsafat Politik Antara Barat dan Timur. Bandung:
Pustaka Setia, 2010.
Abidin Zainal, Pengantar Filsafat Barat.
Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011
Atang, Beni, Filsafat Umum dari
Metologi sampai Teofilosofi. Bandung: Pustaka Setia, 2008.
Tafsir Ahmad, Filsafat Umum Akal
dan Hati sejak Thales sampai Capra. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012.
[1] Atang, Beni, Filsafat Umum (Bandung :
Pustaka Setia, 2008), h.245
[2] Ibid, h. 246
[4] Zainal A, Pengantar Filsafat Barat,
(Jakarta : Rajawali Press, 2011), h. 96-98
[6] Ibid, h. 106
[7] Ibid, h. 107
[8] Ibid, h. 108-110
[9] Ali, Filsafat Politik Antara Barat dan
Timur, ( Bandung : CV Pustaka Setia, 2010), h. 77
[10] Ibid, h. 81
[11] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum (Bandung :
Remaja Rosdakarya, 2012), h. 113
Tidak ada komentar:
Posting Komentar