Selasa, 12 Mei 2015

materialisme



Materialisme
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Pada abad pertama masehi faham ini tidak mendapat tanggapan yang serius, dan pada abad pertengahan orang masih menganggap asing faham ini. Baru pada zaman Aufklarung (pencerahan) materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di eropa barat. Pada abad ke-19 pertengahan aliran ini tumbuh subur dibarat disebabkan dengan paham ini orang-orang merasa mempunyai harapan- harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam.
            Selain itu paham materialisme ini peraktis tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti. Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang berat dan hebat dari kaum agama diman-mana. Hal ini disebabkan bahwa paham ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya tuhan (ateis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini kritik pun muncul dikalangan ulama-ulama barat yang menentang materialisme.
Adapun beberapa kritik yang dilontarkan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Materialisme mengatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari chaos (kacau balau). Padahal kata hegel  kacau balau yang mengatur bukan lagi kaca balau namanya.
b.      Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam padahal pada hakikatnya hukum alam ini adalah prbuatan rohani juga.
c.       Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. Padahal dalil itu menunjukan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu tuhan.
d.      Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.
Diantara tokoh aliran ini adalah Anaximenes (585-528), Anaximandros (610-545), Thales (625-545), Demokritos (460-545), Thomas Hobbes (1588-1679), Lamettrie (1709-1715), Feuerbach (1804-1877), Spencer (1820-1903), dan Karl Marx (1818-1883).
Idealisme.
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahaimi kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme diambil dari kata idea, yakni sesuatu yang hadir dalam jiwaidealisme mempunyai argument epistimologi tersendiri. Oleh karna itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung kepada spirit  tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argument epistimologi yang digunakan idealisme.
Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide atau pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Mula-mula dalam pemikiran filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari plato, yang menyatakan bahwa alam ideal itu merupakan  kenyataan sebenarnya. Adapunalam nyata yang menempati ruang ini hanyalah barupa banyangan saja dari alam idea itu. Aristoteles memeberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang  menggambarkan alam idea sebagai suatu tenaga (entelechi) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebernya dapar dikatakan sepanjang massa tidak pernah faham idealisme hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah idealisme ini.
Pada zaman Afklarung para filsuf yang mengakui aliran serba dua seperti descarates dan spinoza, yang mengenal dua pokok dua pokok yang bersifat keruhainiandan kebendaan. Selain itu segenap kaum agama sekaligus dapat di golongkan ke[ada penganut idealisme yang paling seti asepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak zaman idealisme pada masa abad ke 18 dan 19, yaitu saat jerman sedang memiliki pengaruh besar di eropa.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Plato (477-3470), B. Spinoza (1632-1677), Liebniz (1685-1753), Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1881), J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1755-1854), dan G. Hegel (1770-1831).




Maksum ali, 2102. Pengantar Filsafat. Jogjakarta. Ar-Ruzz Media




































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar