BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Allah
menurunkan Qur’an kepada Rasul kita Muhammad Saw untu memberi petunjuk kepada
manusia. Qur’an ini merupakan pedoman manusia agar selamat di dunia maupun di
akhirat. Al-Qur’an telah kita bahwa diturunkan kepada nabi Muhammad pada abad
ke 7. Namun banyak dari pengikut nabi Muhammad di muka bumi ini yang tidak
mengetahui bagaimana Al-Qur’an diturunkan ke muka bumi hingga penulisan qur’an
yan lebih dikenal dengan mushaf al-qur’an. Maka dari itu hal tersebut yang
melatar belakangi pada penulisan makalah ini dengan tema “Sejarah Turun dan
Penulisan Al-Qur’an” semoga dengan ini pengikut nabi Muhammad Saw memahami
akan turun dan penulisan al-quran.
1.2.Rumusan Masalah
Makalah
ini telah disusun dengan berbagai rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian turunnya al-qur’an?
2. Bagaimana sejarah dan proses turunnya al-qur’an?
3. Bagaimana perkembangan penulisan
al-qur’an?
1.3.Tujuan Makalah
Adapun
tujuan pembuatan makalah adalah :
1. Agar umat islam mengerti makna turunnya
al-quran
2. Supaya umat islam mengetahui sejarah
serta proses turunnya al-qur’an
3. Agar umat islam mengetahui perkembangan penulisan
al-quran
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
PENGERTIAN TURUNNYA AL-QUR’AN
Menurut
Jumhurul Ulama’ arti Nuzulul Qur’an itu secara hakiki tidak cocok
untuk Al-Qur’an sebagai kalam Allah yang berada pada dzat-Nya. Sebab , dengan memakai ungkapan
“diturunkan” menghendaki adanya materi kalimat atau lafal atau tulisan huruf
yang riel yang harus diturunkan. Karena itu harus menggunakan arti majazi,
yaitu menetapkan / memantapkan / memberitahukan /menyampaikan Al-Qur’an, baik
di sampaikan Al-Qur’an itu ke Lauhil Mahfudz atau ke Baitul Izzah di langit
dunia, maupun kepada Nabi Muhammad SAW.
2.2 PROSES TURUNNYA AL-QUR’AN
Al-qur’an sebagai petunjuk dapat dikatakan seperti mercusuar
bagi nelyan,ia menkadi pedoman dari kesesatannya ia merupakan kalam mulia yang
diperdengarkan kepada seluruh makhluk dilangit dan dibumi. Maka turunnya
al-qur’an di guha hiro pada malam lailatul qodar membuat para malaikuat
terkesima dan bersyukur atas kemuliaan nabi muhammad yang dimuliakan Allah
dengan risalah yang terakhir ini untuk menjadi sebaik-baiknya umat dimuka bumi
ini “kemudian kami wariskan sebuah kitab kepada hamba-hamba kami yang telah
terpilih”. (QS.Fathir: 32) kemudian ayat bereikutnya turun
secara terpisah,berbeda dengan turunnya kitab-kitab samawi yang lain,dan
turunya ayat tersebut begitu berat dan mengejutkan nabi. Dan mulailah fajar
pagi menyingsing dengan risalah dimana rahasia-rahasia kebenaran Allah
diwujudkan.
Dan Rosullulah tidak menerima
risalah ini turun sekaligus tetapi secara berangsur-angsur dan tanpa paksaan
sehingga umatnya dapat memperbaiki sikap dan prilaku merek yang tidak benar, akan tetapi timbul
dari rasa kesadaran hati nuraninya. Maka Al-qur’an berfungsi penetapan dalam
hati nabi, sebagai hiburan bagi nya melalaui peristiwa kejadian-kejadian
sehingga sempuna risalah islam,dan sempurna
nikmat yang diberikan allah keada umat nabi Muhammad Saw.
A. Masa Turunnya Al-Qur’an
Penjelasan tentang turunnya
Al-qur’an dapat kita temukan dalam surat al-baqoroh : 184 dan surat al-hajr : 9
serta ad-dhukan ; 3, keseluruhan ayat tersebut sama sekali tidak memiliki pertentangan . Al-qur’an
diturunkan pada malam yang penuh barokah yaitu pada malam Lailatul qodar .
Yang menjadi perselisihan pendapat ialah turunya Al-qur’an dalam setiap
kejiadian dimana al-qur’an diturunkan secara berangsur-angsur sealama 23 tahun.
Ada tiga pendapat mengenai pola
turunnya wahyu :
1.Petama
: Madzhab ibnu abbas dan jamaah serta diikuti oleh jumhur ulama-bahwa maksud
nuzulul qur’an dalam tiga ayat di atas ialah turunnya sekaligus di baitul
izzah dari langit dunia untuk mengagungkannya, kemudian setelah itu turun
berangsur-angsur kepada Rosullah dalam 23 tahunsesui dengan peristiwa-pristiwa yang terjadi sejak
kerasulan beliau di Makkah selama 13 tahun dan di Madinah selama 10 tahun.
Alasannya mereka menginterpetasikan QS. Al-baqoroh 184. Ad-dukhan ; 3 dan al-qadar ; 1.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي
أُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ
وَ بَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan buan yang didalamnya
diturunkanal-qur’an sebagai petunjuk bagi manusa dan penjelasan-penjelasan
menegenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang batil (QS.
Al-baqoroh : 184)
Diriwayatkan
oleh ibnu abbas ia berkata : “bahwa Rosulullah ditulis sebagai Rosul diutus
sebagai Rosul SAW pada umur epat puluh tahun,kemudian ia tinggal di mekkah
tigabelas tahun dan dapat wahyu dari Allah,krmudian ia diperintahkan hijrah
selama sepuluh tahun,kemudian beliau wafat dalam usia enam puluh tiga
tahun.(HR.Bukhari)
2.
Kedua : madzhab as-syabi, bahwa maksud turunnya al-qur’an dalam tiga ayat
tersebut yaitu awal turunnya ayat tersebut kepada Rosulluah seperti telah kita ketahui bahawa
turunnya ayat al-qur’an pertama kali pada malam laiatul qodar yang terdapat
pada bulan ramadhan. Secara berangsur-angsur sesuai dengan peristiwa da
kejadia-kejadian selama 23 tahun.
وَقُرْءَانًا
فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَ نَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلًا
“Dan
qur’an telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya
perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bgaian (QS.
Al-Isro:106)
3.
ketiga : madzhab mufasir mereka berpendapat bahwasanya al-qur’an diturunkan
kebumi pada malam ke 23 lailatul qodar (atau 20,25, sesuai dengan pendapat
tinggalnya beliau dimekah) setiap malam itu diturunkan ayat-ayat yang telah
diturunkan Allah setiap tahunnya. Dan ketentuan ini turun setiap lailatul qodar
ke bumi untuk satu tahun penuh lalu turun berangsur-angsur kepada Rosulluah
setiap tahunnya. Mazhab ini adalah ijtihad para mufassir, dan tidak ada dalil
naqli yang dipakai dalam madzhab ini.
Alasan
madzhab musafir sesuai dengan dalil yang diriwayatkan oleh assabi baik
kesohehan nya maupun ketetapan nya yang dapat diterima tidak bertentangan dengan madzhab ibnu abbas menurut syekh
Mannaa’al-qattan bahwa al-quran turun dalam dua masa :
a. Turunnya al-qur’an secara keseluruhan
pada malam laiatul qodar di baitul izzah dari atasa langit bumi.
b. Turun nya al-qur’an dari atas langit
dunia kebumi secara terpisah dalam 23 tahun lamanya
Qurtubi telah memindahkan dari muka thil bin hayyan kisah
tentang kesepakatan pandangan dalam turunya al-qur’an sekaligus dalam satu
waktu dari lauhul mahfud ke baitil izzah dilangit duania. Sedangkan ibnu abbas
menafikan adanya pertentangan tiga yat tersebut dalam turunnya al-qur’an,
kenyataan yang dapat diketahui semasa hidup rosulullah dengan turunnya
al-qur’an selama 23 tahun selain bulan ramadhon.
B. Al-Qur’an Turun Secara Berangsur-angsur
Banya sekali ayat-ayat yang
menyatakan bahwa al-qur’an ialah kalam Allah dengan bahasa arab dan jibril
menurunkan nya kedalam hati rosulullah dan bahwa turunnya al-qur’an bukan lah
turun secara berangsur-angsur dan lafadz
tanziel menunjukan turunnya secara berangsur-angsur berveda dengan lafa inzaal
yang artinya turun sekaligus. Para ahli bhasa membedakan antara pengertian dua lafadz
tersebut tanziel ialah suatu yang diturunkan secara terpisah, sedangkan inzaal
sifatnya lebih umum.
Diantaranya ialah Allah SWT
berfirman dalam surat assuroh ayat 192 sampe 195,an-nahel ayat 102, al-jatsiah
ayat 2 al-baqoroh ayat 23 dan al-baqoroh ayat 97.
وَاِنَّهُ لَتَنْزِيْلُ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوْحُ الْأَمِيْنُ (193) عَلَى قَلْبِكَ
لِتَكُوْنَ مِنَ الْمُنْذِرِيْنَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِيْنٍ (195)
“Yang memberi peringatan dengan bahasa arab kebawa kesini dan qur’an ini benar-benar diturunkan oleh
tuhan semesta alam,dia dibawa turun oleh ar-ruhul amin (jibril) kedalam hati mu
(muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memeberi
peringatan,dengan bahasa arab yang jelas (QS.as-syuaro : 192-195)
Al-qur’an telah turun secara
berangsur-angsur selama 23 diantara nya adalah 13 tahun dan 10 tahun dimadinah.
Nash al-qur’an yang menunjukan hak ini adalah qur’an surat al-isroo ayat 106.
وَقُرْءَانًا
فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَ نَزَّلْنَاهُ تَنْزِيْلًا
Maksudnya kami (Allah) jadikan turunya
al-qur’an tersebut terpisah-pish agar engkau (muhammad) memebacakan nya pada
umat manusia tidak tergesa-gesa dan menetapkannya dalam dada mereka, dan kami
(Allah) turunkan al-quran seiring dengan peristiwa dan kejadian-kejadianya.
2.3 DESKRIPSI PENULISAN ALQUR’AN
Salah
satu yang sangat di banggakan umat islam dari dahulu hingga saat ini adalah
koentetikan alqur’an yang merupakan warisan islam terpenting dan paling
berharga. Meskipun mushaf yang kita kenal sekarang ini berdasarkan atas rasm
utsman bin affan ( al-mushaf’ala al-rasm al-Utsman ), akan tetapi sebenarnya ia
tidak begitu saja muncul sebagai sebuah karya besar yang hampa dari proses
panjang yang telah di lalui pada masa – masa sebelumnya.
Proses
itu di mulai pada masa rasulallah saw. Langsung mengingat, menghafalnya, dan
memberitahukan serta membacakannya kepada para sahaat, agar mereka mengingat
dan menghafalnya pula.
Selain
di hafal, wahyu alqur’an yang baru turun di tulis juru tulis wahyu, seperti Abu
Bakar al-siddiq, Umar bin Alkhatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib,
Muawiyah, Khalid bin Walid, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Tsabit bin Qays,
Amir bin Fuhairah, Umar bin al-As dan Zubair bin al-Awwam.
Setelah
Rasulallah Saw. Wafat, tonggak estafet pemeliharaan al-Qur’an di lanjutkan Abu
Bakar al-sidiq, Umar bin alkhatab dan Usman bin Affan. Upaya- upaya tersebut
muncul bersifat relative atas kondisi yang di hadapi umat islam yang di pandang
dapat mengancam keutuhan dan keaslian al-Qur’an.
Abu
Bakar al-Siddiq mengemban tugas pemeliharaan al-Qur’an dengan melakukan
penghimpunan naskah-naskah al-Qur’an yang berserakan menjadi satu mushaf.
Faktor pendorongusaha penghimpunan tersebut adanya kekhawatiran hilangnya
sesuatu dari al-Qur’an di sebabkan banyak para sahabat penghafal al-Qur’an yang
gugur di medan perang yamamah. Perang ini terjadi tahun 12 H antara kelompok
muslim melawan kelompok yang menyatakan diri keluar dari islam (murtad) di
bawah pimpinan muslimah al-Khazzab. Dalam pertempuran tersebut 70 orang
penghafal al-Qur’an gugur.
Pada
masa pemerintahan Umar bin al-Khattab belum tampak persoalan mengenai mushaf di
atas, tetapi setelah priode Utsman bin Affan baru mencuat persoalan yang
seriustentang qira’at, trutama setelah islam Armenia dan Azarbaijan. Bahkan,
kondisinya lebih kronis karena sudah mengarah kepada fanatisme golongan.
Masing-masing mengklaim paling benar, bahkan saling mengkafirkan. Kondisi yang
rawan tersebut akhirnya mengharuskan adanya tindakan pembukuan al-Qur’an
standar dalam rangka menjaga otentitas al-Qur’an sekaligus mereduksi dan
mengantisipasi konflik internal sekitar qira’at. Sejak masa ini umat islam
dalam membaca al-Qur’an berpegang pada bentuk bacaan yang sesuai dengan mushaf
Utsmani.
a. Pengertian Jam’u AL-Qur’an
Dalam sebagian besar literatur yang membahas tentang
ilmu- ilmu al-Qur’an, istilah yang di pakai untuk menunjukan arti penulisan,
pembukuan atau kodifikasi al-Qur’an jam’u al-Qur’an Artinya pengumpulan
al-Qur’an. Sementara hanya sebagian kecil literatur yang
memakai istilah kitab al-Qur’an artinya penulisan al-Qr’an serta tadwin
al-Qr’an artinya pembukuan al-Qur’an.
Para
ulama yang memakai istilah jam’u al-Qur’an membagi artinya dalam dua kategori;
pertama, proses penghafalan, kedua, proses pencatatan serta penulisan
al-Qur’an.
b. Penulisan Al-Qur’an Masa Nabi
Penulisan
atau pengumpulan al-Qur’an di masa rasulullah di kelompokan menjadi dua
kategori yaitu: pertama, pengumpulan dalam dada berupa hafalan dan pennghayatan
serta pengumpulan dalam catatan berupa penulisan kitab.
Berkaitan
dengan kondisi Nabi yang ummi, maka perhatian utama beliau adalah menghafal dan
mengahayati ayat-ayat yang di turunkan Ibn Abbas meriwayatkan, karena besarnya
konsentrasi Rasil kepada hafalan, hingga ketika wahyu belum selesai di
sampaikan malaikat jibril, Rasulallah menggerak-
gerakan kedua bibirnya agar dapat menghafalnya, karena itu, turnlah ayat :
لاَ تُحَرِّكْ بِهِ
لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ (16) إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ (17)
فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ (18) ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ
(19)
Artinya:
“
janganlah kamu gerakan lidahmu untuk membaca al-Qur’an karena hendak
cepat-cepat ( menguasai )-nya. Sesugguhnya atas tangan kamilah mengumpulkannya
( di dadamu ) dan membacakannya. Maka itulah bacaa’annya itu. Kemudian,
sesugguhnya atas tangan kamilah penjelasannya.” ( al-Qiyamah/75:16-19).
Nabi
Muhamad Saw. Setelah menerima wahyu langsung menyampaikan wahyu tersebut kepada
para sahabat agar mereka menghafalnya sesuai dengan hafalan Nabi, tidak kurang
dan tidak lebih. Dalam rangka menjaga kemurnian al-Qur’an, selain di tempuh
lewat jalur hafalan, juga di lengkapi dengan tulisan. Fakta sejarah
menginformasikan bahwa segera setelah menerima ayat al-Qur’an, Nabi Saw.
Memanggil para sahabat yang pandai menulis, untuk menulis ayat-ayat yang baru
saja di terimanya di sertai informasi tempat dan urutan setiap ayat dalam
suratnya. Ayat-ayat tersebut di tulis dalam pelepah-pelepah kurma, batu-batu,
kulit-kulit, atau tulang-tulang binatang.
Penulisan
pada masa ini belum terkumpul menjadi satu mushaf di sebabkan beberapa factor,
yaitu: yang pertama, tidak adanya factor pendorong untuk membukukan al-Qur’an
menjadi satu mushaf mengingat Rasulallah masih hidup dan banyaknya sahabat yang
menghafal L-Qur’an, dan sama sekali tidak ada unsur-unsur yang di duga akan
mengganggu kelestarian al-Qur’an. Kedua, al-Qur’an di turunkan secara berangsur-angsur, maka suatu hal yang
logis bila al-Qur’an baru bisa di bukukan dalam satu mushaf setelah nabi saw
wafat. Ketiga, selama proses turun al-Qur’an, masih terdapat kemungkinan adanya
adanya ayat-ayat al-Qur’an yang manshuk.
c. Pembukuan Masa Abu Bakar Al-shiddiq
Kaum
mislimin melakukan consensus untuk mengangkat Abu Bakar Al-shidiq sebagai
khalifah sepeninggal Nabi Saw. Pada awal masa pemerintahan Abu Bakar, terjadi
kekacauan akibat ulah Muslimah al-kazzab beserta pengikut-pengikutnya. Mereka
menolak membayar zakat dan murtad dari islam pasukan islam yang di pimpin
Khalid bin wild segera menumpas gerakan itu. Peristiwa tersrbut terjadi di
yamamah tahun 12 H. Akibatnya banyak sahabat yang gugur, termasuk 70 orang yang
di yaini telah hafal al-Qur’an.
Tinggal
berdarah di yamamah tersebut di cermati secara kritis oleh Umar bun al-khattab.
Ia menjadi risau dan khawatir peristiwa serupa terulang lagi, Sehingga banyak
korban dari kalangan hafidz yang gugur. Bila emikian, “masa depan” al-Qur’an
teancam. Maka muncul ide kreatif umar yang di sampaikan kepada Abu Bakar al-Siddiq
untuk segera mengumpulkan tulisan-tulisan al-Qur’an yang pernah di tulis pada
masa Nabi Saw.
Semula
Abu Bakar keberatan atas usul Umar dengan alasan belum pernah dilakukan Nabi
SAW, tetapi, akhirnya Umar berhasil meyakinkannya. Dibentuklah sebuah tim yang
dipimpin Zaid Tsabit dalam rangka merealisasikan mandat dan tugas suci tersebut
pada mulanya, Zaid keberatan, tetapi akhirnya juga dapat di yakinkan.
Zaid
bin Tsabit melaksanakan tugas beratnya dan mulia tersebut dengan sangat
hati-hati dibawah petunjuk Abu Bakar dan Umar sumber utama dalam penulisan
tersebut adalah ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis dan dicatat dihadapkan Nabi
SAW. Dan hafalan para sahabat. Dalam rentang waktu kerja tim Zaid pernah suatu kali menjumpai kesulitan,
mereka tidak menemuka naskah ayat 128 surah at-Taubah.
Hasil
kerja Zaid yang telah jadi mushaf Al-Qur’an disimpan oleh Abu Bakar sampai akhir
hayatnya. Setelah itu berpindah ketangan Umar bin Khattab. Sepeninggalan Umar mushaf
di simpan oleh hafashah binti Umar. Adapun karakterristik penulisan Al-Qur’an
pada masa Abu Bakar ini adalah;
1. Seluruh yar Al-Qur’an dikumpulkan dan
ditulis dalam satu mushaf berdasarkan penelitian yang cermat dan
seksama.
2. Meniadakan ayat-ayat Al-Qur’an yang
telah di mansukh.
3. Seluruh ayat yang ada telah di akui
kemutawatirannya.
4. Dialek arab yang dipakai dalam pembukuan
ini berjumlah 7 (qiraat) sebagaimana yang ditulis pada kulit unta pada
masa Rasulullah SAW.
d. Pembukuan Masa Ustman bin Affan
Pada
masa pemerintahan Ustman, wilayah Negara Islam telah meluas sampai ke Tripoli
Barat, Armenia dan Azarbaijan. Pada waktu itu,Islam sudah tersebar ke beberapa
wilayah di Afrika,Syira dan Persia. Para penghafal al –Qur’an pun akhirnya
menjadi tersebar, sehigga menimbulkan persoalan baru, yaitu saling dikalangan kaum muslimin mengenai bacaan (
qiraat) al – Quran.
Para
pemeluk islam di masing-masing daerah mempelajari dan menerima bacaan al –Quran
dari sahabat ahli qiraat, di daerah yang bersangkutan. Penduduk Syam misalnya,
belajar al-Quran pada Ubay bin Ka’bah. Warga kuffah bergru pada Abdullah bin
Mas’ud sementara penduduk yang tinggal di Basrah berguru dan membaca al-Quran
dengan qiraat Abu Musa al Asy’ari.
Ketika
terjadi perang Armenia dan Azarbaijan, diantara orang yang ikut menyerbu kedua
kota tersebut adalah Khuzaifah bin Alyaman. Ia melihat banyak perbedaan dalam
cara-cara membaca al- Quran, bahkan ia mengamati sebagian qiraat itu
bercampur dengan kesalahan. Utsman segera mengundang para sahabat dari Anshar
dan Muhajirin bermusyawarah mencari jalan keluar dari masalah serius tersebut.
Akhirnya, dicapai suatu kesepakatan agar mushaf abu bakar disalin kembali beberapa mushaf.
Mushaf-mushaf itu nntinya dikirim ke
berbagai kota atau daerah untuk dijadikan rujukan bagi kaum muslimin
terutama manakala terjadi perselisihan tentang qiraat al- Quran antar mereka.
Untuk terlaksana tugas tersebut, khalifah Utsman menunjuk satu tim yang terdiri
dari empat orang sahabat, yaitu: Zaid ibn Tsabit, Abdullah ibn Zubair, Said ibn
Al-‘As dan Abd Al- Rahman ibn al- Haris ibn Hisyam. Ke empat orang ini para
penulis wahyu.
Tentang
jumlah mushaf yang ditulis, berapapun jumlahnya tidak menjadi persoalan.
Yang pasti, upaya tersebut telah berhasil melahirkan mushaf baku sebagai rujukan kaum muslimin dan
menghilangkan perselisihan serta prpecahan diantara mereka. Beberapa
karakteristik mushaf al-Quran yang ditulis pada masa Ustman ibn Affan
antara lain;
1. Ayat ayat yang ditulis seluruhnya
berdasarkan riwayat mutawatir
2. Tidak memuat ayat-ayat yang mansukh
3. Surat-surat mupun ayat-ayatnya telah
disusun dengan tertib sebagai mana al-qur’an yang kita kenal sekarang. Tidak
seperti mushaf al-Qur’an yang itulis pada masa Abu Bakar yang hanya disusun
tertib ayat, sementara surat-suratnya disusun menurut urutan turun wahyu.
4. Tidak memuat sesuatu yang bukan
tergolong al-Qur’an seperti yang di tulis sebagian sahabat Nabi dalam
masing-masing mushafnya, sebagai penjelasan atau keterangan terhadap makna
ayat-ayat tertentu
5. Dialek yang dipakai dalam mushaf ini
hanya dialek Quraisy dengan alasan al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab
Quraisy sekalipun pada mulanya diizinkan membacanya dengan menggunakan dialek
lain.
e. Penyempurnaan Tulisan Al-Qur’an
Sepeninggal Ustman,
mushaf al-Qur’an belum diberi tanda baca seperti baris (harakat) dan
tanda pemisah ayat. Karna daerah kekuasaan Islam semakin meluas keberbagai
penjuru yang berlainan dialek dan bahasanya, dirasa perlu adanya tindakan
preventif dalam memelihara umat dari kekeliruan membaca dan memahami al-Qur’an.
Upaya tersebut baru
terealisir pada masa Khalifah Muawiyah ibn Abi Sufyan (40-60 H) o;eh Imam Abu
al-Aswad al-Duali, yang memberi harakat atau baris yang berupa titik merah pada
mushf al-Quran. Untuk ‘’a’’ (fathah) disebelah atas huruf, ‘’u’’(dlammah)
didepan huruf dan ‘’I’’ (kasrah)dibawah huruf.sedangkan syiddah
Usaha
selanjutnya dilakukan pada masa Khalifah Abdul Malik ibn Marwan (65-68H). dua
orang murid Abu al-Aswad al-Duali yaitu Nasar ibn Ashim dan Yahya ibn ya’mar
memberi tanda untuk beberapa huruf yang sama seperti ‘’ba’’, ‘’ta’’, dan
‘’tsa’’.
Dalam
berbagai sumber diriwayatkan bahwa ‘Ubaidillah bin Ziyad (w. 67 H)
memerintahkan kepada seseorang yang berasal dari persia untuk menambahkan huruf
alif (mad) pada dua ribu kata yang semestinya dibaca dengan suara
panjang. Misalnya, kanat menjadi kanat. Adapun penyempurnaan
tanda-tanda baca lain dilakukan oleh Imam Khalid ibn Ahmad pada tahun 162 H.
BAB
III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Pengertian turunnya alqur’an ialah
menetapkan / memantapkan / memberitahukan /menyampaikan Al-Qur’an, baik di
sampaikan Al-Qur’an itu ke Lauhil Mahfudz atau ke Baitul Izzah di langit dunia,
maupun kepada Nabi Muhammad.
Tahap-tahap turunnya Al-Qur’an” ialah
tertib dari fase-fase disampaikan kitab suci Al-Qur’an, mulai dari sisi Allah
hingga langsung kepada Nabi Muhammad SAW, kitab suci ini tidak seperti
kitab-kitab suci sebelumnya. Sebab
kitab suci ini diturunkan secara bertahap, sehingga betul-betul menunjukkan
kemukjizatannya.
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur berupa beberapa
ayat dari sebuah surat atau sebuah surat ynag pendek secara lengkap. Dan
penyampaian Al-Qur’an secara keseluruhan memakan waktu lebih kurang 23 tahun,
yakni 13 tahun waktu nabi masih tingggal di makkah sebelum hijrah dan 10 tahun
waktu nabi hijrah ke madinah.
Sedangkan permulaan turunya Al-Qur’an adalah pada
malam Lailatul Qadar, tanggal 17 Ramadhan pada waktu Nabi telah berusia 41
tahun bertepatan tanggal 6 Agustus 610 M, sewaktu beliau sedang
berkhalwat (meditasi ) di dalam gua hira’ di atas Jabal Nur. Ayat yang pertama
kali turun adalah 1-5 surah Al-Alaq:
Sedangkan Penulisan/penghimpunan Al-Qur’an mengalami 3
( tiga ) periode yaitu:
1) penulisan Al-Qur’an pada periode
Nabi Muhammad SAW
2) Penulisan Al-Qur’an pada
periode Khalifah Abu Bakar
3) Penulisan/ penghimpunan Al-Qur’an
periode Khalifah Utsman Bin Affan
Setelah kita
mengetahui dari sejarah turunnya al-qur’an al-karim, dan sejarah penulisan
Al-Qur’an yang begitu panjang prosesnya, semoga menimbulkan ketebalan iman kita
terhadap Al-Qur’an. Dan kita mau mengamalkan apa yang di perintahkan dalam
Al-Qur’an dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Al-Qur’an, sehingga
kita akan selamat di Dunia maupun di Akherat kelak, Amin
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran
Al-Karim dan Terjemahan
Al
Munawar, Said Agil Husin, 2005, Al Qur’an Membangun Tradisi Kesalahan
Hakiki, PT. Ciputat Press ; Ciputat
Al
Qattan, Manna Khalil, 2011, Studi Ilmu-ilmu Qur’an / Manna’ Khalil
al-Qattan, diterjemahkan dari bahasa arab oleh Mudzakir AS, Pustaka
Litera Antar Nusa;Bogor
http://cakzainul.blogspot.com/2012/02/makalah-ulumul-quran-sejarah-turun-dan.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar