BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar
bekalang masalah
Filsafat
merupakan pencarian kebenaran melalui alur berfikir yang sistematis, yang artinya perbincangan
mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti ssistem yang berlaku
sehingga tahap-tahapannya mudah diikuti. Sedangkan menurut sutardjo A. Wiramihardaja,
filsafat dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang cara berfikir terhadap
segala sesuatu atau sarwa sekalian alam[1].
Dalam filsafat terdapat beberapa pembahasan diantaranya seperti ontologi
yang membahas dalamteori hakikat yang mempertanyakan setiap eksistensi dengan
demikian sumbernya ditemukan, Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu
ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada
mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan lain sebagainya, aksiologi yang
membahas tentangteori tantang nilaiAksiologi memuat pemikiran tentang masalah
nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya nilai moral, nilai
agama, nilai keindahan., idealismeyang membahas tentang suatu aliran yang
mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan
jiwa dan ruh, etika, dan estetika dan lain sebagainya.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang beberapa pertanyaan
berikut;
1. Apa yang dimaksud ontologi, aksiologi , materialisme, idealisme,
etika, dan estetika ?
2. Apa objek kajian dalam ontologi, aksiologi, materialisme,
idealisme, etika, dan estetika?
3. jelaskan beberapa pendapat dalam pembahaaan materialisme,
idealisme dan estetika ?
C. Tujuan Masalah
Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami serta
mengerti tentang :
1. Mengetahui definisi dan maksud dari ontologi, aksiologi,
materialisme, idealisme, etika dan estetika.
2. Mengetahui
Objek ontologi, aksiologi, materialisme, idealisme, etika dan estetika.
3.
dapat menjelaskan beberapa pendapat dalam materialisme, idealisme dan estetika
BAB II
PEMBAHASAN
A.Ontologi
Ontologi adalah teori hakikat yang mempertanyakan setiap eksistensi
dengan demikian sumbernya ditemukan. Ontologi merupakan cabang teori hakikat
yang membicarakan tentang sesuatu yang ada. Istilah ontologi berasal dari
bahasa Yunani, yaitu ta onta berarti yang berada dan logosyang
berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian ontologi berarti ilmu
pengetahuan atau ajaran tentang yang berada. Kata ontologi pun berasal dari onsama
dengan being dan logossama dengan logic. Jadi ontologi
adalah the theory of being qua being(teori tentang keberadaan sebagai
keberadaan).[2]
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan
kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan
munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang
menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada
ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang
pertama kenyataan yang berupa materi (kebendaan) dan kedua kenyataan yang
berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada
dan yang mungkin ada yakni realitas, realita adalah ke-real-an. Realartinya
kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat ada adalah kenyataan yang sebenarnya pada
sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan
yang berubah.[3]
Ontologi menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara
fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang
logis, yang berlainan (objek-objek fisik, hal universal, abstraksi) dapat
dikatakan ada dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori
mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya
akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Objek Kajian Ontologi
Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada
umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk
kosmologi dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang
ada, yaitu Tuhan yang maha esa, pencipta dan pengatur serta penentu alam semesta.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas.
B. Aksiologi
Istilah aksiologi
berasal dari kata axios (Yunani) yang berarti nilai atau sesuatu yang
berharga, dan logos yang berarti ilmu, akal, atau teori. Jadi, aksiologi adalah
teori tantang nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia
untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Dalam kamus
bahasa indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan
manusia tentang nilai-nilai khususnya etika.
Objek Aksiologi
Aksiologi memuat
pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan.
Misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan. Aksiologi mengandung
pengertian lebih luas dari pada etika atau higher values of life (nilai-nilai
kehidupan yang bertaraf tinggi).
Aksiologi
memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan berikut. Untuk apa pengetahuan yang
berupa ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut
dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan
pilihan-pilihan moral?[4]
C. Materialisme
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa
dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik
adalah satu. Pada abad pertama masehi faham ini tidak mendapat tanggapan yang
serius, dan pada abad pertengahan orang masih menganggap asing faham ini. Baru
pada zaman Aufklarung (pencerahan) materialisme mendapat tanggapan dan penganut
yang penting di eropa barat. Pada abad ke-19 pertengahan aliran ini tumbuh
subur dibarat disebabkan dengan paham ini orang-orang merasa mempunyai harapan-
harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam.
Selain itu paham materialisme ini peraktis tidak memerlukan
dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak juga teorinya jelas berpegang pada
kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti. Kemajuan aliran ini
mendapat tantangan yang berat dan hebat dari kaum agama diman-mana. Hal ini
disebabkan bahwa paham ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya tuhan (ateis)
yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini kritik pun muncul
dikalangan ulama-ulama barat yang menentang materialisme.
Adapun beberapa kritik yang dilontarkan tersebut adalah sebagai
berikut:
a.
Materialisme mengatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan
sendirinya dari chaos (kacau balau). Padahal kata hegel kacau balau yang mengatur bukan lagi kaca
balau namanya.
b.
Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum
alam padahal pada hakikatnya hukum alam ini adalah prbuatan rohani juga.
c.
Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada
asal benda itu sendiri. Padahal dalil itu menunjukan adanya sumber dari luar
alam itu sendiri yaitu tuhan.
d.
Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling
mendasar sekalipun.
Menurut materialisme, hakikat benda adalah materi benda itu
sendiri. Rohani, jiwa, spirit dan
sebangsanya muncul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada
seandainya tidak ada benda. Bagi materialisme, roh, jiwa itu tidak diakui
keberadaannya, termasuk pula tuhan. materialisme tidak
menyangkal adanya spirit, roh, termasuk tuhan. Akan tetapi, spirit dan tuhan
itu muncul dari benda. Jadi, roh, tuhan, maupun spirit itubukan hakikat.
Ada beberapa alasan mengapa aliran materialisme dapat berkembang.
(1)
Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan, yang dapat
diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran yang masih sederhana
tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
(2)
Penemuan-penemuan menunjukkan betapa bergantungnya jiwa pada badan.
Maka peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih
menonjol dalam peristiwa itu.
(3)
Dalam sejarahnya manusia memnag bergantung pada benda, seperti pada
padi. Dewi sri dan tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan
bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.
Diantara tokoh
aliran ini adalah Anaximenes (585-528), Anaximandros (610-545), Thales
(625-545), Demokritos (460-545), Thomas Hobbes (1588-1679), Lamettrie
(1709-1715), Feuerbach (1804-1877), Spencer (1820-1903), dan Karl Marx
(1818-1883).
D. Idealisme.
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia
fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme
diambil dari kata idea, yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa idealisme mempunyai
argument epistimologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang
mengajarkan bahwa materi bergantung kepada spirit tidak disebut idealis karena mereka tidak
menggunakan argument epistimologi yang digunakan idealisme.
Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau
aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau
jiwa, ide-ide atau pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan
aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.
Mula-mula dalam pemikiran filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang
murni dari plato, yang menyatakan bahwa alam ideal itu merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang
menempati ruang ini hanyalah berupa banyangan saja dari alam idea itu.
Aristoteles memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam idea sebagai suatu tenaga
(entelIechi) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya
dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang massa tidak pernah faham
idealisme hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya
pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah idealisme ini.[5]
Pada
zaman Afklarung para filsuf yang mengakui aliran serba dua seperti
descarates dan spinoza, yang mengenal dua pokok dua pokok yang bersifat
keruhainiandan kebendaan. Selain itu segenap kaum agama sekaligus dapat di
golongkan ke[ada penganut idealisme yang paling seti asepanjang masa, walaupun
mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak zaman
idealisme pada masa abad ke 18 dan 19, yaitu saat jerman sedang memiliki
pengaruh besar di eropa.
Idealisme berpendapat hakikat benda adalah rohani, spirit, atau sebangsanya.
Alasan mereka ialah sebagai berikut.
(1)
Nilai roh lebih tinggi dari pada badan
(2)
Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya.
(3)
Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada
yang ada energi itu saja.
Tokoh-tokoh
aliran ini adalah: Plato (477-3470), B. Spinoza (1632-1677), Liebniz
(1685-1753), Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1881), J. Fichte
(1762-1814), F. Schelling (1755-1854), dan G. Hegel (1770-1831).
E.Etika
Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas
moralitas (norma-norma), prinsip-prinsip
moral, dan teori-teori moral. Etika merupakan cabang aksiologi yang membahas
nilai baik dan buruk. Etika bisa didefinisikan sebagai nilai-nilai atau
norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok manusia (masyarakat)
yang mengatur tingkah lakunya.
Ada beberapa teori tentang nilai baik-buruk (etika). Misalnya,
teori nilai dari islam. Dalam islam nilai (etika) direntang menjadi lima
kategori: baik sekali, baik, netral, buruk, buruk sekali, (wajib, sunnah,
mubah, makruh, haram). Nilai dalam islam ditentukan oleh tuhan. Teori dari
hedonisme mengajarkan bahwa sesuatu dianggap baik bila mengandung hedone
(kenikmatn, kepuasan) bagi manusia. Teori ini telah ada sejak zaman yunani
kuno. Bagi vitalisme, baik buruk ditentukan oleh ada atau tidak adanya kekuatan
hidup yang terkandung oleh objek yang dinilai.manusia yang kuat, ulet, cerdas,
itulah manusia yang baik.
Etika juga identik dengan kumpulan asas atau nilai-nilai moral.
Frans Magnis Suseno mendefinisikan etika, berasal dari kata ethos yang
berarti watak, yaitu sebuah ‘ilm(bukan ajaran), cabang filsafat atau
pemikiran yang kritis dan mendasar tentang ajaran moral nilai baik/buruk,
mengajari tentang orientasi hidup.
Munculnya nilai moral, norma, dan etika telah muncul di masyarakat
sejak lama sekali, barang kali sejak manusia sudah mulai membedakan tentang
mana yang baik dan mana yang buruk. Filsafat etika dan moral mulai berkembang
di zaman Yunani kuno karena di sanalah segala cabang filsafat dikaji oleh para
filusuf. Salah satu karya yang terkenal adalah yang ditulis Aristoteles, yaitu Etika
Nikomakea. Dalam buku ini mengatakan bahwa hidup harus bertujuan pada eudamoniayang
bila dipahami akan menghasilkan perbuatan dan moral yang baik dan bijak.
Sebenarnya buku itu adalah kumpulan tulisan yang awalnya adalah catatan-catatan
dari kuliah-kuliahnya di Lyceum yang kemudian dibukukan sebagai persembahan
untuk nikomakus, anak-anak laki-lakinya.
Istilah etika sebenarnya bersifat umum, yang dalam masyarakat yang
satu dengan lainnya memiliki arti yang berbeda-beda. Frans Magnis Suseno
menyebut sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab
pertanyaan yang amat fundamental. “bagaimana saya harus hidup dan bertindak?”
Dari pertanyaan
itu, etika mencoba mempelajari bagaimana sesuatu itu layak dilakukan atau
tidak. Biasanya, antara satu kelompok masyarakat dan lainnya memiliki perbedaan
pandangan tentang mana yang layak dilakukan atau tidak. Artinya, apa yang harus
dilakukan seseorang terkadang harus menyesuaikan diri dengan masyarakatnya,
kalau tidak ia dipandang tidak punya etika. Meskipun demikian, di tengah
perkembangan yang kian cepat akibat ilmu pengetahuan dan teknologi, juga
terjadi perubahan tentang pandangan mengenai etika. Muncul filsafat etika yang
baru terutama kalau di Indonesia akibat munculnya pandangan individualisme dan
liberalisme sebagai filsafat moral. Suatu contoh pada zaman dulu, akan terasa
aneh dan tidak etis (tidak bermoral) membiarkan orang kelaparan dan berkeliaran
di jalan-jalan, tetapi saat ini hal tersebut adalah suatu yang biasa. Mengapa
biasa? individualisme telah menjadi etika atau pandangan moral masyarakat.
Urusan orang lain bukanlah urusan kita, begitulah ajarannya.[6]
F.Estetika
Estetika adalah pengetahuan tentang sesuatu yang indah (mengandung
keindahan). Jadi objeknya adalah hal yang dianggap indah dan hal yang dianggap
tidak indah atau jelek. Ia membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada
kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau
aspek seni dari berbagai macam hasil budaya manusia.
Estetika adalah cabang filsafat yang memberikan perhatian pada
sifat keindahan, seni, rasa, atau selera (taste), kreasi, dan apresiasi
tentang keindahan. Objek seni adalah keindahan. Kata dasarnya adalah indah yang
dalam bahasa indonesia artinya bagus, permai, cantik, elok, dan lain
sebagainya. Istilah indah sendiri mengacu pada berbagai macam aspek. Misalnya,
ada yang mengatakan bahwa keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan adalah
kebenaran, kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai daya tarik sepanjang
zaman.
Terdapat perbedaan keindahan menurut luasnya pengertian, yakni
sebagai berikut.
·
Keindahan dalam arti yang luas
“pokoknya keindahan itu baik” kira-kira seperti itu mengartikan
pendekatan keindahan dalam arti luas. pandangan ini muncul pada tahap
masyarakat yang masih belum memiliki kemampuan untuk mendefinisikan keindahan.
Menurut Yunani kuno mengatakan bahwa dalam keindahan terdapat kebajikan dan
sebaliknya. Keindahan hasil dari fikiran yang indah dan adat istiadat yang
indah. Bangsa Yunani juga mengenal keindahan dalam arti estetis yang disebutnya
symmetria untuk keindahan berdasarkan penglihatan.
Jadi, pengertian keindahan dalam pengertian yang luas ini bisa saja
meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan
intelektual.
·
Keindahan dalam arti estetis murni, Keindahan dalam estetis murni
menyangkut pengalam estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala
sesuatu yang dicerapnya. Pandangan ini dipegaruhi oleh idealisme bahwa manusia
memiliki ide bawaan. Jadi, konsep tentang keindahan disediakan oleh ide, bukan
oleh objek materialnya.
·
Keindahan dalam arti terbatas (hubungannya dengan indra)Dalam
pengertian ini keindahan dipahami berdasarkan apa yang ditangkap oleh indra
yang dimiliki manusia. Suatu yang dianggap indah itu bisa dikenali melalui
indra tersebut, kemudian akan dipresepsi oleh pikiran dan hati (rasa).
Estetika
berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia
terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. Nilai itu objektif ataukah
subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari
filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam
segala hal, kesadaran manusia menjdai tolok ukur segalanya atau eksistensinya,
maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan
penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat sikis atau psikis. Dengan
demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang
dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan, intelektualitas, dan hasil nilai
subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak
senang.
Nilai itu
objektif jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai.
Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang
objektivisme yang beranggapan pada tolok ukur suatu gagasan berada pada
objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas bear-benar ada.
Keindahan memang harus dipahami berdasarkan hubungan antara subjek
dan objek (yang nyata). Indah atau tidak iru merupakan kualitas yang dihasilkan
olh penilaian yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Benda yang dianggap
indah biasanya dikaitkan dengan kualitas paling hakiki. Jadi, keindahan pada
dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok tertenu yang terdapat pada suatu hal.
Kualitas yang sering disebut adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony),
kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan
perlawanan (contras). Yang jelas keindahan adalah kualitas yang dinilai
dari kenyataan. Kenyataan ini adalah materi tersusun dari berbagai keselarasan
dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, bau, ukuran, bunyi (nada), dan
kata-kata. Adapula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan
hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan
si pengamat.[7]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Ø Ontologi adalah
cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Hakikat ada
adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan
yang menipu juga bukan kenyataan yang berubah.
Ø Aksiologi
adalah teori tantang nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki
manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Ø Materialisme
merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain
materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu
Ø Idealisme
adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat
dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh
Ø Etika adalah
cabang aksiologi yang membahas tentang
nilai baik dan buruk. Etika juga merupakan nilai-nilai atau norma-norma yang
menjadi pegangan seseorang atau kelompok manusia yang mengatur tingkah lakunya.
Ø Estetika adalah
cabang filsafat yang memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa atau
selera, kerasi dan apreasi tentang sifat keindahan. Estetika merupakan studi
tentang nilai-nilai yang dihasilkan dari emosi sensorikatau disebut dengan cita
rasa atau selera.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim,
Atang Abdul. 2008. Filsafat Umum. Bandung : Pustaka Setia
Tafsir,
Ahmad. 2004.Filsafat Umum. Bandung : Pt Remaja Rosdakarya
Susanto,
A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Pt Bumi Aksara
Ali,
Maksum. 2012. Pengantar Filsafat. Jogjakarta : Ar-Ruz Media
Suyomukti,
Nurani. 2011. Pengantar Filsafat Umum. Depok : Ar-Ruz Media
[2]Atang Abdul
Hakim, Filsafat Umum,
(Bandung : Pustaka Setia, 2008) Hlm 22
[3]Ahmad Tafsir,Filsafat
Umum, (Bandung Pt Remaja Rosdakarya,
2004) Hlm 28
[4]A. Susanto, Filsafat
Ilmu ( Jakarta, Pt Bumi Aksara : 2011 ) hlm, 90-91
[5]Maksum ali, Pengantar Filsafat, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media 2012),
hlm, 92-94
[6]Nurani
Suyomukti, Pengantar Filsafat Umum, (Depok, Ar-Ruz Media :2011) Hlm.
210-212
[7]Nurani
Suyomukti, Pengantar Filsafat Umum, (Depok, Ar-Ruz Media :2011) Hlm.
237-239
Tidak ada komentar:
Posting Komentar