Selasa, 12 Mei 2015

ontologi,aksiologi dan idealisme



BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar bekalang masalah
Filsafat merupakan pencarian kebenaran melalui alur berfikir  yang sistematis, yang artinya perbincangan mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur mengikuti ssistem yang berlaku sehingga tahap-tahapannya mudah diikuti. Sedangkan menurut sutardjo A. Wiramihardaja, filsafat dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang cara berfikir terhadap segala sesuatu atau sarwa sekalian alam[1].
Dalam filsafat terdapat beberapa pembahasan diantaranya seperti ontologi yang membahas dalamteori hakikat yang mempertanyakan setiap eksistensi dengan demikian sumbernya ditemukan, Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan lain sebagainya, aksiologi yang membahas tentangteori tantang nilaiAksiologi memuat pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan., idealismeyang membahas tentang suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh, etika, dan estetika dan lain sebagainya. 
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang beberapa pertanyaan berikut;
1. Apa yang dimaksud ontologi, aksiologi , materialisme, idealisme, etika, dan estetika ?
2. Apa objek kajian dalam ontologi, aksiologi, materialisme, idealisme, etika, dan estetika?
3. jelaskan beberapa pendapat dalam pembahaaan materialisme, idealisme dan estetika ?
C. Tujuan Masalah
Dengan membaca makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami serta mengerti tentang :
1. Mengetahui definisi dan maksud dari ontologi, aksiologi, materialisme, idealisme, etika dan estetika.
2. Mengetahui Objek ontologi, aksiologi, materialisme, idealisme, etika dan estetika.
3. dapat menjelaskan beberapa pendapat dalam materialisme, idealisme dan estetika





















BAB II
PEMBAHASAN
A.Ontologi
Ontologi adalah teori hakikat yang mempertanyakan setiap eksistensi dengan demikian sumbernya ditemukan. Ontologi merupakan cabang teori hakikat yang membicarakan tentang sesuatu yang ada. Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu ta onta berarti yang berada dan logosyang berarti ilmu pengetahuan atau ajaran. Dengan demikian ontologi berarti ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada. Kata ontologi pun berasal dari onsama dengan being dan logossama dengan logic. Jadi ontologi adalah the theory of being qua being(teori tentang keberadaan sebagai keberadaan).[2]
Ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persoalan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama kenyataan yang berupa materi (kebendaan) dan kedua kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).
Pembicaraan tentang hakikat sangatlah luas, yaitu segala yang ada dan yang mungkin ada yakni realitas, realita adalah ke-real-an. Realartinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat ada adalah kenyataan yang sebenarnya pada sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu, juga bukan kenyataan yang berubah.[3]
Ontologi menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda dimana entitas dari kategori-kategori yang logis, yang berlainan (objek-objek fisik, hal universal, abstraksi) dapat dikatakan ada dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Objek Kajian Ontologi
Objek telaahan ontologi adalah yang ada, yaitu ada individu, ada umum, ada terbatas, ada tidak terbatas, ada universal, ada mutlak, termasuk kosmologi dan metafisika dan ada sesudah kematian maupun sumber segala yang ada, yaitu Tuhan yang maha esa, pencipta dan pengatur serta penentu alam semesta. Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas.
B. Aksiologi
            Istilah aksiologi berasal dari kata axios (Yunani) yang berarti nilai atau sesuatu yang berharga, dan logos yang berarti ilmu, akal, atau teori. Jadi, aksiologi adalah teori tantang nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Dalam kamus bahasa indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia tentang nilai-nilai khususnya etika.
 Objek Aksiologi
            Aksiologi memuat pemikiran tentang masalah nilai-nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan. Misalnya nilai moral, nilai agama, nilai keindahan. Aksiologi mengandung pengertian lebih luas dari pada etika atau higher values of life (nilai-nilai kehidupan yang bertaraf tinggi).
            Aksiologi memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan berikut. Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu digunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?[4]
C. Materialisme
Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu. Pada abad pertama masehi faham ini tidak mendapat tanggapan yang serius, dan pada abad pertengahan orang masih menganggap asing faham ini. Baru pada zaman Aufklarung (pencerahan) materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang penting di eropa barat. Pada abad ke-19 pertengahan aliran ini tumbuh subur dibarat disebabkan dengan paham ini orang-orang merasa mempunyai harapan- harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam.
Selain itu paham materialisme ini peraktis tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti. Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang berat dan hebat dari kaum agama diman-mana. Hal ini disebabkan bahwa paham ini pada abad ke-19 tidak mengakui adanya tuhan (ateis) yang sudah diyakini mengatur budi masyarakat. Pada masa ini kritik pun muncul dikalangan ulama-ulama barat yang menentang materialisme.
Adapun beberapa kritik yang dilontarkan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Materialisme mengatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari chaos (kacau balau). Padahal kata hegel  kacau balau yang mengatur bukan lagi kaca balau namanya.
b.      Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam padahal pada hakikatnya hukum alam ini adalah prbuatan rohani juga.
c.       Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. Padahal dalil itu menunjukan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu tuhan.
d.      Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.
Menurut materialisme, hakikat benda adalah materi benda itu sendiri. Rohani,  jiwa, spirit dan sebangsanya muncul dari benda. Rohani dan kawan-kawannya itu tidak akan ada seandainya tidak ada benda. Bagi materialisme, roh, jiwa itu tidak diakui keberadaannya, termasuk pula tuhan. materialisme tidak menyangkal adanya spirit, roh, termasuk tuhan. Akan tetapi, spirit dan tuhan itu muncul dari benda. Jadi, roh, tuhan, maupun spirit itubukan hakikat.
Ada beberapa alasan mengapa aliran materialisme dapat berkembang.
(1)   Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan, yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir. Pikiran yang masih sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu di luar ruang yang abstrak.
(2)   Penemuan-penemuan menunjukkan betapa bergantungnya jiwa pada badan. Maka peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol dalam peristiwa itu.
(3)   Dalam sejarahnya manusia memnag bergantung pada benda, seperti pada padi. Dewi sri dan tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda.
Diantara tokoh aliran ini adalah Anaximenes (585-528), Anaximandros (610-545), Thales (625-545), Demokritos (460-545), Thomas Hobbes (1588-1679), Lamettrie (1709-1715), Feuerbach (1804-1877), Spencer (1820-1903), dan Karl Marx (1818-1883).

D. Idealisme.
Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh. Istilah idealisme diambil dari kata idea, yakni sesuatu yang hadir dalam jiwa idealisme mempunyai argument epistimologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi bergantung kepada spirit  tidak disebut idealis karena mereka tidak menggunakan argument epistimologi yang digunakan idealisme.
Idealisme juga didefinisikan sebagai suatu ajaran, faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas ruh-ruh (sukma) atau jiwa, ide-ide atau pikiran atau yang sejenis dengan itu. Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia. Mula-mula dalam pemikiran filsafat barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari plato, yang menyatakan bahwa alam ideal itu merupakan  kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa banyangan saja dari alam idea itu. Aristoteles memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang  menggambarkan alam idea sebagai suatu tenaga (entelIechi) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat dikatakan sepanjang massa tidak pernah faham idealisme hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah idealisme ini.[5]
Pada zaman Afklarung para filsuf yang mengakui aliran serba dua seperti descarates dan spinoza, yang mengenal dua pokok dua pokok yang bersifat keruhainiandan kebendaan. Selain itu segenap kaum agama sekaligus dapat di golongkan ke[ada penganut idealisme yang paling seti asepanjang masa, walaupun mereka tidak memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak zaman idealisme pada masa abad ke 18 dan 19, yaitu saat jerman sedang memiliki pengaruh besar di eropa.
Idealisme berpendapat hakikat benda adalah rohani, spirit, atau sebangsanya. Alasan mereka ialah sebagai berikut.
(1)   Nilai roh lebih tinggi dari pada badan
(2)   Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya.
(3)   Materi ialah kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada yang ada energi itu saja.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah: Plato (477-3470), B. Spinoza (1632-1677), Liebniz (1685-1753), Berkeley (1685-1753), Immanuel Kant (1724-1881), J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1755-1854), dan G. Hegel (1770-1831). 
E.Etika
Etika merupakan salah satu cabang ilmu filsafat yang membahas moralitas (norma-norma),  prinsip-prinsip moral, dan teori-teori moral. Etika merupakan cabang aksiologi yang membahas nilai baik dan buruk. Etika bisa didefinisikan sebagai nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok manusia (masyarakat) yang mengatur tingkah lakunya.
Ada beberapa teori tentang nilai baik-buruk (etika). Misalnya, teori nilai dari islam. Dalam islam nilai (etika) direntang menjadi lima kategori: baik sekali, baik, netral, buruk, buruk sekali, (wajib, sunnah, mubah, makruh, haram). Nilai dalam islam ditentukan oleh tuhan. Teori dari hedonisme mengajarkan bahwa sesuatu dianggap baik bila mengandung hedone (kenikmatn, kepuasan) bagi manusia. Teori ini telah ada sejak zaman yunani kuno. Bagi vitalisme, baik buruk ditentukan oleh ada atau tidak adanya kekuatan hidup yang terkandung oleh objek yang dinilai.manusia yang kuat, ulet, cerdas, itulah manusia yang baik.
Etika juga identik dengan kumpulan asas atau nilai-nilai moral. Frans Magnis Suseno mendefinisikan etika, berasal dari kata ethos yang berarti watak, yaitu sebuah ‘ilm(bukan ajaran), cabang filsafat atau pemikiran yang kritis dan mendasar tentang ajaran moral nilai baik/buruk, mengajari tentang orientasi hidup.
Munculnya nilai moral, norma, dan etika telah muncul di masyarakat sejak lama sekali, barang kali sejak manusia sudah mulai membedakan tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Filsafat etika dan moral mulai berkembang di zaman Yunani kuno karena di sanalah segala cabang filsafat dikaji oleh para filusuf. Salah satu karya yang terkenal adalah yang ditulis Aristoteles, yaitu Etika Nikomakea. Dalam buku ini mengatakan bahwa hidup harus bertujuan pada eudamoniayang bila dipahami akan menghasilkan perbuatan dan moral yang baik dan bijak. Sebenarnya buku itu adalah kumpulan tulisan yang awalnya adalah catatan-catatan dari kuliah-kuliahnya di Lyceum yang kemudian dibukukan sebagai persembahan untuk nikomakus, anak-anak laki-lakinya.
Istilah etika sebenarnya bersifat umum, yang dalam masyarakat yang satu dengan lainnya memiliki arti yang berbeda-beda. Frans Magnis Suseno menyebut sebagai ilmu yang mencari orientasi bagi usaha manusia untuk menjawab pertanyaan yang amat fundamental. “bagaimana saya harus hidup dan bertindak?”
            Dari pertanyaan itu, etika mencoba mempelajari bagaimana sesuatu itu layak dilakukan atau tidak. Biasanya, antara satu kelompok masyarakat dan lainnya memiliki perbedaan pandangan tentang mana yang layak dilakukan atau tidak. Artinya, apa yang harus dilakukan seseorang terkadang harus menyesuaikan diri dengan masyarakatnya, kalau tidak ia dipandang tidak punya etika. Meskipun demikian, di tengah perkembangan yang kian cepat akibat ilmu pengetahuan dan teknologi, juga terjadi perubahan tentang pandangan mengenai etika. Muncul filsafat etika yang baru terutama kalau di Indonesia akibat munculnya pandangan individualisme dan liberalisme sebagai filsafat moral. Suatu contoh pada zaman dulu, akan terasa aneh dan tidak etis (tidak bermoral) membiarkan orang kelaparan dan berkeliaran di jalan-jalan, tetapi saat ini hal tersebut adalah suatu yang biasa. Mengapa biasa? individualisme telah menjadi etika atau pandangan moral masyarakat. Urusan orang lain bukanlah urusan kita, begitulah ajarannya.[6]
F.Estetika           
Estetika adalah pengetahuan tentang sesuatu yang indah (mengandung keindahan). Jadi objeknya adalah hal yang dianggap indah dan hal yang dianggap tidak indah atau jelek. Ia membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya manusia.
Estetika adalah cabang filsafat yang memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa, atau selera (taste), kreasi, dan apresiasi tentang keindahan. Objek seni adalah keindahan. Kata dasarnya adalah indah yang dalam bahasa indonesia artinya bagus, permai, cantik, elok, dan lain sebagainya. Istilah indah sendiri mengacu pada berbagai macam aspek. Misalnya, ada yang mengatakan bahwa keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai daya tarik sepanjang zaman.


Terdapat perbedaan keindahan menurut luasnya pengertian, yakni sebagai berikut.
·         Keindahan dalam arti yang luas
“pokoknya keindahan itu baik” kira-kira seperti itu mengartikan pendekatan keindahan dalam arti luas. pandangan ini muncul pada tahap masyarakat yang masih belum memiliki kemampuan untuk mendefinisikan keindahan. Menurut Yunani kuno mengatakan bahwa dalam keindahan terdapat kebajikan dan sebaliknya. Keindahan hasil dari fikiran yang indah dan adat istiadat yang indah. Bangsa Yunani juga mengenal keindahan dalam arti estetis yang disebutnya symmetria untuk keindahan berdasarkan penglihatan.
Jadi, pengertian keindahan dalam pengertian yang luas ini bisa saja meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual.
·         Keindahan dalam arti estetis murni, Keindahan dalam estetis murni menyangkut pengalam estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dicerapnya. Pandangan ini dipegaruhi oleh idealisme bahwa manusia memiliki ide bawaan. Jadi, konsep tentang keindahan disediakan oleh ide, bukan oleh objek materialnya.
·         Keindahan dalam arti terbatas (hubungannya dengan indra)Dalam pengertian ini keindahan dipahami berdasarkan apa yang ditangkap oleh indra yang dimiliki manusia. Suatu yang dianggap indah itu bisa dikenali melalui indra tersebut, kemudian akan dipresepsi oleh pikiran dan hati (rasa).
Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya. Nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjdai tolok ukur segalanya atau eksistensinya, maknanya, dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat sikis atau psikis. Dengan demikian, nilai subjektif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan, intelektualitas, dan hasil nilai subjektif selalu akan mengarah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Nilai itu objektif jika ia tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme yang beranggapan pada tolok ukur suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas bear-benar ada.
Keindahan memang harus dipahami berdasarkan hubungan antara subjek dan objek (yang nyata). Indah atau tidak iru merupakan kualitas yang dihasilkan olh penilaian yang dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Benda yang dianggap indah biasanya dikaitkan dengan kualitas paling hakiki. Jadi, keindahan pada dasarnya adalah sejumlah kualitas pokok tertenu yang terdapat pada suatu hal. Kualitas yang sering disebut adalah kesatuan (unity), keselarasan (harmony), kesetangkupan (symmetry), keseimbangan (balance), dan perlawanan (contras). Yang jelas keindahan adalah kualitas yang dinilai dari kenyataan. Kenyataan ini adalah materi tersusun dari berbagai keselarasan dan kebaikan dari garis, warna, bentuk, bau, ukuran, bunyi (nada), dan kata-kata. Adapula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengamat.[7]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Ø  Ontologi adalah cabang teori hakikat yang membicarakan hakikat sesuatu yang ada. Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya sesuatu, bukan kenyataan sementara atau keadaan yang menipu juga bukan kenyataan yang berubah.
Ø  Aksiologi adalah teori tantang nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai.
Ø  Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu
Ø  Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami kaitannya dengan jiwa dan ruh
Ø  Etika adalah cabang aksiologi yang  membahas tentang nilai baik dan buruk. Etika juga merupakan nilai-nilai atau norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau kelompok manusia yang mengatur tingkah lakunya.
Ø  Estetika adalah cabang filsafat yang memberikan perhatian pada sifat keindahan, seni, rasa atau selera, kerasi dan apreasi tentang sifat keindahan. Estetika merupakan studi tentang nilai-nilai yang dihasilkan dari emosi sensorikatau disebut dengan cita rasa atau selera.







DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Atang Abdul. 2008. Filsafat Umum. Bandung : Pustaka Setia
Tafsir, Ahmad. 2004.Filsafat Umum. Bandung : Pt Remaja Rosdakarya
Susanto, A. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Pt Bumi Aksara
Ali, Maksum. 2012. Pengantar Filsafat. Jogjakarta : Ar-Ruz Media
Suyomukti, Nurani. 2011. Pengantar Filsafat Umum. Depok : Ar-Ruz Media



[1] Beni Ahmad Saebani, filsafat Umum (Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm. 15
[2]Atang Abdul Hakim,  Filsafat Umum, (Bandung : Pustaka Setia, 2008) Hlm 22
[3]Ahmad Tafsir,Filsafat Umum, (Bandung  Pt Remaja Rosdakarya, 2004) Hlm 28
[4]A. Susanto, Filsafat Ilmu ( Jakarta, Pt Bumi Aksara : 2011 ) hlm, 90-91
[5]Maksum ali, Pengantar Filsafat, (Jogjakarta : Ar-Ruzz Media  2012),  hlm, 92-94

[6]Nurani Suyomukti, Pengantar Filsafat Umum, (Depok, Ar-Ruz Media :2011) Hlm. 210-212
[7]Nurani Suyomukti, Pengantar Filsafat Umum, (Depok, Ar-Ruz Media :2011) Hlm. 237-239

Tidak ada komentar:

Posting Komentar