Selasa, 12 Mei 2015

positivisme awal perkembangan ilmiah



BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar  Belakang
Meskipun belakangan ini banyaknya buku-buku mengenai pengertian filsafat sudah banyak yang diterbitkan baik itu beripa teremahan dari karya asing maupun hasil tulisan sendiri tidak berarti kekeliruan mengenai filsafat bisa diselesaikan. Jawaban mengenai apa itu filsafat memang belum tersingkat secara tuntas sejak dulu hingga sekarang para ahli filsafat selalu kesulitan untuk mengartikan apa itu filsafat? Karena keterbatasan sarana yang memadai untuk menyampaikan maksud-maksud filsafat kepada masyarakat luas, makalah ini kami tulis guna mempermudah pembelajaran ilmu filsafat.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah sebagai berikut :
1.                Apa yang dimaksud dengan positivisme ?
2.                Bagaimana prespektif posotivistik terhadap masyarkat ?
3.                Siapakah para tokoh dari positivisme ?
1.3.Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah sebagai berikut :
  1. Mengetahui arti positivisme
  2. Mengetahui tanggapan para tokoh positivisme terhadap masyarakat
  3. Mengetahui riwayat hidup para tokoh positivisme




BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Positivisme
Positivisme diperkenalkan oleh  Auguste  Comte ( 1798 – 1857 ) yang tertuang dalam karya utama Auguste  Comte adalah Cours de Philosophic Positive, yaitu kursus tentang Filsafat Positif (1830 – 1842 ) yang terbitkan dalam enam jilid. Selain itu, karyanya yang pantas disebutkan di sini ialah Discour Lesprit Positive ( 1844 ) yang artinya pembicaraan tentang Jiwa Positif.  Dalam karya inilah, Comte menguraikan secara singkat pendapat – pendapat positivis, hukum tiga stadia, klasifikasi ilmu – ilmu pengetahuan dan bagan mengenai tatanan dan kemajuan. [1] Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata “positif” di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta – fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak melebihi fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta – fakta. Dengan demikian, ilmu pengetahuan empris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Kemudian, filsafat pun harus meneladani contoh itu. Oleh karena itu pulalah, fositivisme menolak cabang filsafat metafiiska. Menanyakan “hakikat” benda benda atau “penyebab yang sebenarnya”, bagi fisitivisme tidaklah mempunyai arti apa apa. Ilmu pengetahuan, termasuk juga filsafat, hanya menyelidiki fakta fakta dan hubungan yang terdapat antara fakta fakta. Tugas khusus filsafat ialah mengkoordinasikan ilmu – ilmu pengetahuan yang beragam – ragam coraknya. Tentu saja, maksud posotivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita – citakan oleh empirisme.[2] Positivisme pun mengutamakan pengalaman. Hanya saja, berbeda dengan empirisme inggris yang menerima pengalaman batiniyah atau subjektif sebagai sumber pengetahuan. Positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah tersebut. Ia hanyalah mengandalkan fakta fakta belaka. Dengan demikian, positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang fositif sesuatu yang di luar fakta atau keyakinan di kesampingkan dalam pembicaraan dan ilmu pengetahuan.
Positiisme berasal dari kata “fositif” yang berarti faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak pernah  boleh melebihi fakta fakta. Positivisme, seperti empirisme, mengutamakan pengalaman sebagai sumber penegtahuan. Perbedaan fositivisme dengan empirisme adalah bahwa fositivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah, tetapi hanya mengandalkan fakta fakta belaka. Positivisme pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte yang dilahirkan di Monopellier. Karya utama Auguste Comte yang paling terkenal adalah ‘Cours de Pholosiphe Positive’ (kursus tentang filsafat fositif).
Aliran ini lahir sebagai penyeimbang pertentangan yang terjadi antara lain empirisme dan aliran rasionalsime. Aliran positivisme ini lahir berusaha menyempurnakan aliran empirisme dan aliran rasionalsime, dengan cara memasukan perlunya eksperimen dan ukuran ukuran. Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen.[3]
Menurut Auguste Comte, indra itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus di pertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen[4]. Kekeliruan indra akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen membutuhkan ukuran – ukuran yang jelas. Panas di ukur dengan derajat panas, jauh di ukur dengan meteran, berat dengan kiloan, dan sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api panas, matahari panas, kopi panas, ketika panas. Kita juga tidak cukup mengatakan panas sekali, panas, tidak panas, kita memerlukan ukuran yang teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar benar berkembang. Positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurkan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukan perlunya eksperimern dan ukuran ukuran. Jadi pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme plus rasionalisme.
2.2.Prespektif Positivistik tentang Masyarakat
Meskipun Comte yang memberikan istilah “positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata itu bukan berasal dari dia. Kaum positivis percaaya bahwa masyrakat merupakan bagian dari alam dan bahwa metode metode penelitian empiris dapat dipergunakan untuk menemukan hukum – hukumnya sudah tersebar luas lingkungan intelektual pada masa Comte. Akan tetapi, sementara kebanyakan kelompok positivis berasal dari kalangan orang orang yang pogresif, yang bertekad mencampakkan tradsi tradisi irasional dan memperbaharui masyarakat menurut hukum alam sehingga menjadi lebih rasional, Comte percaya bahwa penemuan hukum – hukum alam itu akan membukakan batas – batas yang pasti yang dalam kenyataan sosial, dan jika melampaui batas batas itu, usaha pembaharuan akan merusakan dan menghasilkan yang sebakilnya. Skeptisisme serta penghargaan terhadap tonggak – tonggak keteraturan sosial tradisional menyebabkan dia di masukan ke dalam kategori orang koservatif.
      Comte melihat masyarakat sebagai suatu keseluruhan organik yang  kenyataannya lebih dari pada sekedar jumlah bagian bagian yang saling bergantung, tetapi untuk mengerti kenyataann ini, metode penelitian empiris harus digunakan dengan keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya gejala fisik. Andreksi berpendapat, pendirian Comte bahwa masyarakat merupakan bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menuntut pengetahuan metode metode penelitian empiris dari ilmu - ilmu dan alam lainnya, merupakan sumbangannya yang tidak terhingga nilainya terhadap perkembangan sosiologi. Tentu saja, keyakinan inilah, dan bukan teori subtansifnya tentang masyarakat, yang bernilai bagi usaha sosiologi sekarang ini.   
Comte melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiayah sebagai puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis yang telah dilewati oleh ilmu-ilmu lainnya. Kemajuan ini mencakup perkembangan dari bentuk- bentuk pemikiran teologis purba, penjelasan metafisik, dan akhirnya sampai terbentuknya hukum-hukum ilmiyah yang positif. Bidang sosiologi ( atau fisika sosial ) adalah paling akhir melewati tahap-tahap ini, karna pokok permasalahan nya, lebih kompleks dari pada yang terdapat dalam ilmu fisika dan biologi.
Meskipun peresfektif teoretis Comte mencakup statika dan dinamika sosial, ( atau ahli sosiologi sekarang ini menyebutnya struktur dan perubahan, ) hukum tiga tahap merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dan masa primitif sampai peradaban perancis abad ke 19 yang sangat maju. Hukum ini, yang mungkin terkenal dan gagasan – gagasan teoretis pokok Comte, tidak lagi diterima sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga terlalu luas dan umum sehingga tidak dapat benar – benar tunduk pada pengujian empiris secara teliti, yang menuntut Comte harus ada untuk membentuk hukum – hukum sosiologi.
Singkatnya, hukum itu menyatakan bahwa masyarakat atau umat manusia berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap – tahap ini ditentukan lebih lagi, pengaruh cara berfikir yang berbeda – beda ini meluas kepola – pola kelembagaan dan organisasi sosial masyarakat. Jadi, watak struktur sosial masyarakat bergantung pada gaya epistemologisnya atau pandangan dunia, atau cara mengenal dan menjelaskan gejala yang dominan.
Comte menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut :
“Dari study mengenai perkembangan inteligensi manusia, melalui segala jaman, penemuan muncul dari suatu hukum yang besar. Inilah hukumnya : bahwa setiap konsepsi kita yang paling maju setiap cabang pengetahuan kita- berturut – turut melewati tiga kondisi teoretis yang berbeda : teologis atau fiktif ; metafisik atau abstrak ; ilmiah atau positif. Dengan kata lain, pikiran manusia pada dasarnya, dalam pembangunannya, menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya sangat berbeda dan malah sangat bertentangan yang pertama merupakan titik tolak yang harus ada dalam pemahaman manusia; yang kedua hanya keadaannya yang pasti dan tak bergoyahkan.” ( Doyle Paul Jhonson, Robert MZ. Lawang, 85 ).[5] Titik tolak ajaran Comte yang terkenal adalah tanggapannya atas perkembangan pengetahuan manusia, baik perseorangan maupun umat manusia secara keseluruhan, melalui tiga zaman atau stadia. Menurutnya, perkembangan menurut tiga zaman ini merupakan hukum yang tetap. Ketiga zaman itu ialah zaman teologis, zaman metafisis dan zaman ilmiyah atau positif.[6]
  1. Zaman Teologis
Pada zaman teologis, manusia percaya bahwa dibelakang gejala – gejala alam terdapat kuasa – kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala – gejala tersebut. Kuasa – kuasa ini dianggap sbagai mahluk yang memiliki rasio dan kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari pada makhluk – makhluk insani biasa. Zaman teologis dapat dibagi menjadi tiga periode berikut :
a.       Animisme. Merupakan tahapan paling primitif karena benda – benda dianggap mempunyai jiwa.
b.      Politeisme. Merupakan perkembangan dari tahap pertama. Pada tahap ini, manusia percaya pada dewa yang masing – masing menguasai suatu lapangan tertentu, dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar, dsb
c.       Monoteisme. Tahap ini lebih tinggi dari pada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap ini, manusia hanya memandang satu tuhan sebagai penguasa.
  1. Zaman Metafisis
Pada zaman ini, kuasa – kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip yang abstrak, seperti “kodrat” dan penyedap Metafisika pada zaman ini dijungjung tinggi.
  1. Zaman Positif
Zaman ini dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasannya ialah pada zaman ini tidak lagi ada usaha manusia untuk mencari penyebab – penyebab yang terdapat dibelakang fakta – fakta. Manusia kini telah membatasi diri dalam penyelidikannya pada fakta – fakta yang disajikan kepadanya. Atas dasar obserfasi dan dengan menggunakan rasionya, manusia berusaha menetapkan relasi atau hubungan persamaan dan urutan yang terdapat antara fakta – fakta. Pada zaman terakhir ini lah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang sebenarnya.
Ilmu pengetahuan tidak semuanya mencapai kematangan yang sama pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu memungkinkan untuk melukiskan perkembangan ilmu pengetahuan berdasarkan rumitnya bahan yang dipelajari didalamnya. Urutan perkembangan ilmu pengetahuan tersusun sedemikian rupa sehingga yang satu selalu mengandalkan ilmu pengetahuan yang lain mendahuluinya. Dengan demikian, Comte membedakan enam ilmu pengetahuan pokok yaitu ilmu pasti, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan puncaknya pada sosiologi. Semua ilmu pengetahuan, menurut Comte, dapat dijabarkan kepada salah satu pada enam ilmu tersebut.[7]
2.3.Riwayat Hidup Auguste Comte
Riwayat hidup setiap orang merupakan salah satu media dalam memahami alur berpikir dan berbagi gagasan yang diciptanya, tidak terkecuali dengan riwayat hidup seorang ilmuan dan filosof setingkat Auguste Comte oleh karena itu, pentimg disini untuk menguraikan terlebih dahulu biografi Auguste Comte, dengan tujuan mengambil serpihan – serpihan latar belakang dirinya sehingga mewujudkan pandangan – pandangannya melalui fositivisme.
  Auguste Comte dilahirkan di Montpellier, prancis, tahun 1798. Keluarganya beragama katholik yang berddarah bangsawan. Meskipun demikian, Auguste Comte tidak terlalu peduli dengan kebangsawanannya. Ia mendapat pendidikan di paris dan lama hidup disana. Dikalangan teman – temannya, Comte adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang meninggalkan paris sesudah seorang mahasiswa yang memberontak dalam mendukung napoleon di pecat. Auguste Comte memulai karir profesionalnya dengan memberi les dalam bidang matematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan, perhatian yang sebenarnya adalah pada masalah – masalah kemanusiaan dan sosial. Auguste Comte dijadikan sebagai sekertaris oleh Sains Simon, dan diantara keduanya menjalin erat kerja sama dalam mengembangkan karya awalnya sendiri. Sains Simon adalah seorang yang tekun, aktif, bersemangat, dan tidak disiplin. Sedangkan Auguste Comte seorang yang netodis, disiplin, dan refleksif. Akan tetapi, sesudah tujuh tahun bersama pasangan ini pecah karena perdebatan mengenai kepengarangan karya bersama, dan  Auguste Comte pun menolak pembibingannnya ini. Kondisi ekonomi Comte juga pas - pasan saja, dan hampir terus menerus hidup miskin. Dia tidak pernah mamou menjamin posisi profesional yang di bayar dengan semestinya dalam siste, pendidikan tinggi prancis. Banyak karirnya berupa les privat, menyajikan ide ide teoritisnya dalam suatu kursus privat yang dibayar oleh peserta peserta, dan sekali menjadi penguji akademik kecil. Di akhhir hayatnya, dia hidup dari pemberian orang orang yang mengaguminya dan pengikut pengikutnya agama Humanitasnya.
      Pergaulan Auguste Comte dengan gadis gadis juga mendatangkan malapetaka. Tetapi, relevan untuk memahami evolusi dalam pemikiran Comte, khususnya perubahan dalam tekanan tahap tahap akhir hidupnya dari Positivisme ke cinta. Sedang ia mengembangkan filsafatnya ia menikah dengan perempuan bekas pelacur yang bernama Caroline Massin, seorang wanita ang lama enderita sakit, serta menanggung beban emosional dan ekonomi dengan Comte. Setelah itu comte keluar dari rumah sakit, dengan sabar ia berusaha memenuhi kebutuhan Comte, dan merawatnya sampai sembuh meskipun tanpa penghargaan Comte dan kadang kadang disertai perlakuan yang kasar. Setelah pisah untuk beberapa saat, isrinya pergi dan membiarkan dia sengsara dan gila. Dalam karya bukunya politik positif yang dimaksudkan untuk mengenang “bidadari” – nya itu, ia berepndapat bahwa kekuatan yang sebenarnya yang mendorong orang lain dalam kehidupannya adalah perasaan, bukan pertumbuhan inteligeni yang mantap. Dia mengusulkan suatu reorganisasi msyarakat, dengan sejumlah tata cara yang dirancang untuk membangkitkan cita murni dan tidak egoistis, demi “kebesaran kemanusiaan”. Tujuannya adalah mengembangkan suatu agama yang baru “Agama Humanitas” yang merupakan sumber suberb bagi perasaan perasaan manusia serta megubahnya dari cinta diri dan egoisme menjadi alturisme dan cinta, dan sekaligus tidak membenarkan secara intelektual ajran ajaran agama tradisonal yang bersifat supernaturalistik. Dengan kata lain agama Humanitas harus sesuai dengan standar – standar intelektual serta persyaratan Positivisme.[8]  







BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata “positif” di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta – fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak melebihi fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta – fakta. Dengan demikian, ilmu pengetahuan empris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Kemudian, filsafat pun harus meneladani contoh itu. Oleh karena itu pulalah, fositivisme menolak cabang filsafat metafiiska. Aliran positivisme ini lahir berusaha menyempurnakan aliran empirisme dan aliran rasionalsime, dengan cara memasukan perlunya eksperimen dan ukuran ukuran. Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen.












DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Atang Abdul. 2008. Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung : Pustaka Setia
Mustansyir, Rizal. 1995. Filsafat Analitik. Jakarta : PT RajaGrapindo Persada
A, Susanto. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Bumi Aksara
Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Alam Filsafat
Wikipedia.com.positivisme.


[1] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Hal: 296
[2] Poedjawijatna. Pembimbing ke Arah Filsafat. Hal : 120
[3] Susanto, A. Filsafat Ilmu. Hal : 20
[4] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Hal: 318
[5] Rizal Mustansyir. Filsafat Analitik. Hal 66
[6] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Hal: 300 – 301
[7] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Hal: 317
[8] Atang Abdul Hakim, Filsafat Umum Dari Metologi Sampai Teofilosofi. Hal: 289 – 296

Tidak ada komentar:

Posting Komentar