BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar
Belakang
Meskipun
belakangan ini banyaknya buku-buku mengenai pengertian filsafat sudah banyak
yang diterbitkan baik itu beripa teremahan dari karya asing maupun hasil
tulisan sendiri tidak berarti kekeliruan mengenai filsafat bisa diselesaikan.
Jawaban mengenai apa itu filsafat memang belum tersingkat secara tuntas sejak
dulu hingga sekarang para ahli filsafat selalu kesulitan untuk mengartikan apa
itu filsafat? Karena keterbatasan sarana yang memadai untuk menyampaikan
maksud-maksud filsafat kepada masyarakat luas, makalah ini kami tulis guna
mempermudah pembelajaran ilmu filsafat.
1.2.Rumusan Masalah
Adapun
rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
yang dimaksud dengan positivisme ?
2.
Bagaimana
prespektif posotivistik terhadap masyarkat ?
3.
Siapakah
para tokoh dari positivisme ?
1.3.Tujuan Masalah
Adapun
tujuan masalah sebagai berikut :
- Mengetahui arti positivisme
- Mengetahui tanggapan para tokoh positivisme terhadap masyarakat
- Mengetahui riwayat hidup para tokoh positivisme
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Positivisme
Positivisme
diperkenalkan oleh Auguste Comte ( 1798 – 1857 ) yang tertuang dalam
karya utama Auguste Comte adalah Cours
de Philosophic Positive, yaitu kursus tentang Filsafat Positif (1830
– 1842 ) yang terbitkan dalam enam jilid. Selain itu, karyanya yang pantas
disebutkan di sini ialah Discour Lesprit Positive ( 1844 ) yang artinya
pembicaraan tentang Jiwa Positif. Dalam
karya inilah, Comte menguraikan secara singkat pendapat – pendapat positivis,
hukum tiga stadia, klasifikasi ilmu – ilmu pengetahuan dan bagan mengenai
tatanan dan kemajuan. [1]
Positivisme berasal dari kata “positif”. Kata “positif” di sini sama artinya
dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan fakta – fakta. Menurut positivisme,
pengetahuan kita tidak melebihi fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan
kita tidak boleh melebihi fakta – fakta. Dengan demikian, ilmu pengetahuan
empris menjadi contoh istimewa dalam bidang pengetahuan. Kemudian, filsafat pun
harus meneladani contoh itu. Oleh karena itu pulalah, fositivisme menolak
cabang filsafat metafiiska. Menanyakan “hakikat” benda benda atau “penyebab
yang sebenarnya”, bagi fisitivisme tidaklah mempunyai arti apa apa. Ilmu
pengetahuan, termasuk juga filsafat, hanya menyelidiki fakta fakta dan hubungan
yang terdapat antara fakta fakta. Tugas khusus filsafat ialah mengkoordinasikan
ilmu – ilmu pengetahuan yang beragam – ragam coraknya. Tentu saja, maksud
posotivisme berkaitan erat dengan apa yang dicita – citakan oleh empirisme.[2]
Positivisme pun mengutamakan pengalaman. Hanya saja, berbeda dengan empirisme
inggris yang menerima pengalaman batiniyah atau subjektif sebagai sumber
pengetahuan. Positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman
batiniah tersebut. Ia hanyalah mengandalkan fakta fakta belaka. Dengan
demikian, positivisme adalah aliran filsafat yang berpangkal dari fakta yang
fositif sesuatu yang di luar fakta atau keyakinan di kesampingkan dalam pembicaraan
dan ilmu pengetahuan.
Positiisme
berasal dari kata “fositif” yang berarti faktual, yaitu apa yang berdasarkan
fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak pernah boleh melebihi fakta fakta. Positivisme,
seperti empirisme, mengutamakan pengalaman sebagai sumber penegtahuan.
Perbedaan fositivisme dengan empirisme adalah bahwa fositivisme tidak menerima
sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah, tetapi hanya mengandalkan fakta
fakta belaka. Positivisme pertama kali diperkenalkan oleh Auguste Comte yang
dilahirkan di Monopellier. Karya utama Auguste Comte yang paling terkenal adalah
‘Cours de Pholosiphe Positive’ (kursus tentang filsafat fositif).
Aliran
ini lahir sebagai penyeimbang pertentangan yang terjadi antara lain empirisme
dan aliran rasionalsime. Aliran positivisme ini lahir berusaha menyempurnakan
aliran empirisme dan aliran rasionalsime, dengan cara memasukan perlunya
eksperimen dan ukuran ukuran. Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting
dalam memperoleh pengetahuan, tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan
diperkuat dengan eksperimen.[3]
Menurut
Auguste Comte, indra itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan, tetapi
harus di pertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen[4].
Kekeliruan indra akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen membutuhkan ukuran
– ukuran yang jelas. Panas di ukur dengan derajat panas, jauh di ukur dengan
meteran, berat dengan kiloan, dan sebagainya. Kita tidak cukup mengatakan api
panas, matahari panas, kopi panas, ketika panas. Kita juga tidak cukup
mengatakan panas sekali, panas, tidak panas, kita memerlukan ukuran yang
teliti. Dari sinilah kemajuan sains benar benar berkembang. Positivisme
bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurkan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama. Dengan kata lain, ia menyempurnakan
metode ilmiah dengan memasukan perlunya eksperimern dan ukuran ukuran. Jadi
pada dasarnya positivisme itu sama dengan empirisme
plus rasionalisme.
2.2.Prespektif
Positivistik tentang Masyarakat
Meskipun
Comte yang memberikan istilah “positivisme”, gagasan yang terkandung dalam kata
itu bukan berasal dari dia. Kaum positivis percaaya bahwa masyrakat merupakan
bagian dari alam dan bahwa metode metode penelitian empiris dapat dipergunakan
untuk menemukan hukum – hukumnya sudah tersebar luas lingkungan intelektual
pada masa Comte. Akan tetapi, sementara kebanyakan kelompok positivis berasal
dari kalangan orang orang yang pogresif, yang bertekad mencampakkan tradsi
tradisi irasional dan memperbaharui masyarakat menurut hukum alam sehingga
menjadi lebih rasional, Comte percaya bahwa penemuan hukum – hukum alam itu
akan membukakan batas – batas yang pasti yang dalam kenyataan sosial, dan jika
melampaui batas batas itu, usaha pembaharuan akan merusakan dan menghasilkan
yang sebakilnya. Skeptisisme serta penghargaan terhadap tonggak – tonggak keteraturan
sosial tradisional menyebabkan dia di masukan ke dalam kategori orang
koservatif.
Comte melihat masyarakat sebagai suatu
keseluruhan organik yang kenyataannya
lebih dari pada sekedar jumlah bagian bagian yang saling bergantung, tetapi
untuk mengerti kenyataann ini, metode penelitian empiris harus digunakan dengan
keyakinan bahwa masyarakat merupakan suatu bagian dari alam seperti halnya
gejala fisik. Andreksi berpendapat, pendirian Comte bahwa masyarakat merupakan
bagian dari alam dan bahwa memperoleh pengetahuan tentang masyarakat menuntut
pengetahuan metode metode penelitian empiris dari ilmu - ilmu dan alam lainnya,
merupakan sumbangannya yang tidak terhingga nilainya terhadap perkembangan
sosiologi. Tentu saja, keyakinan inilah, dan bukan teori subtansifnya tentang
masyarakat, yang bernilai bagi usaha sosiologi sekarang ini.
Comte
melihat perkembangan ilmu tentang masyarakat yang bersifat alamiayah sebagai
puncak suatu proses kemajuan intelektual yang logis yang telah dilewati oleh
ilmu-ilmu lainnya. Kemajuan ini mencakup perkembangan dari bentuk- bentuk
pemikiran teologis purba, penjelasan metafisik, dan akhirnya sampai
terbentuknya hukum-hukum ilmiyah yang positif. Bidang sosiologi ( atau fisika
sosial ) adalah paling akhir melewati tahap-tahap ini, karna pokok permasalahan
nya, lebih kompleks dari pada yang terdapat dalam ilmu fisika dan biologi.
Meskipun
peresfektif teoretis Comte mencakup statika dan dinamika sosial, ( atau ahli
sosiologi sekarang ini menyebutnya struktur dan perubahan, ) hukum tiga tahap
merupakan usaha Comte untuk menjelaskan kemajuan evolusioner umat manusia dan
masa primitif sampai peradaban perancis abad ke 19 yang sangat maju. Hukum ini,
yang mungkin terkenal dan gagasan – gagasan teoretis pokok Comte, tidak lagi diterima
sebagai suatu penjelasan mengenai perubahan sejarah secara memadai. Juga
terlalu luas dan umum sehingga tidak dapat benar – benar tunduk pada pengujian
empiris secara teliti, yang menuntut Comte harus ada untuk membentuk hukum –
hukum sosiologi.
Singkatnya,
hukum itu menyatakan bahwa masyarakat atau umat manusia berkembang melalui tiga
tahap utama. Tahap – tahap ini ditentukan lebih lagi, pengaruh cara berfikir
yang berbeda – beda ini meluas kepola – pola kelembagaan dan organisasi sosial
masyarakat. Jadi, watak struktur sosial masyarakat bergantung pada gaya
epistemologisnya atau pandangan dunia, atau cara mengenal dan menjelaskan
gejala yang dominan.
Comte
menjelaskan hukum tiga tahap sebagai berikut :
“Dari
study mengenai perkembangan inteligensi manusia, melalui segala jaman, penemuan
muncul dari suatu hukum yang besar. Inilah hukumnya : bahwa setiap konsepsi
kita yang paling maju setiap cabang pengetahuan kita- berturut – turut melewati
tiga kondisi teoretis yang berbeda : teologis atau fiktif ; metafisik atau
abstrak ; ilmiah atau positif. Dengan kata lain, pikiran manusia pada dasarnya,
dalam pembangunannya, menggunakan tiga metode berfilsafat yang karakternya
sangat berbeda dan malah sangat bertentangan yang pertama merupakan titik tolak
yang harus ada dalam pemahaman manusia; yang kedua hanya keadaannya yang pasti
dan tak bergoyahkan.” ( Doyle Paul Jhonson, Robert MZ. Lawang, 85 ).[5]
Titik tolak ajaran Comte yang terkenal adalah tanggapannya atas perkembangan
pengetahuan manusia, baik perseorangan maupun umat manusia secara keseluruhan,
melalui tiga zaman atau stadia. Menurutnya, perkembangan menurut tiga zaman ini
merupakan hukum yang tetap. Ketiga zaman itu ialah zaman teologis, zaman
metafisis dan zaman ilmiyah atau positif.[6]
- Zaman Teologis
Pada
zaman teologis, manusia percaya bahwa dibelakang gejala – gejala alam terdapat
kuasa – kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala – gejala
tersebut. Kuasa – kuasa ini dianggap sbagai mahluk yang memiliki rasio dan
kehendak seperti manusia, tetapi orang percaya bahwa mereka berada pada
tingkatan yang lebih tinggi dari pada makhluk – makhluk insani biasa. Zaman
teologis dapat dibagi menjadi tiga periode berikut :
a. Animisme. Merupakan tahapan paling
primitif karena benda – benda dianggap mempunyai jiwa.
b. Politeisme. Merupakan perkembangan dari
tahap pertama. Pada tahap ini, manusia percaya pada dewa yang masing – masing
menguasai suatu lapangan tertentu, dewa laut, dewa gunung, dewa halilintar, dsb
c. Monoteisme. Tahap ini lebih tinggi dari
pada dua tahap sebelumnya, karena pada tahap ini, manusia hanya memandang satu
tuhan sebagai penguasa.
- Zaman Metafisis
Pada
zaman ini, kuasa – kuasa adikodrati diganti dengan konsep dan prinsip yang
abstrak, seperti “kodrat” dan penyedap Metafisika pada zaman ini dijungjung
tinggi.
- Zaman Positif
Zaman
ini dianggap Comte sebagai zaman tertinggi dari kehidupan manusia. Alasannya
ialah pada zaman ini tidak lagi ada usaha manusia untuk mencari penyebab –
penyebab yang terdapat dibelakang fakta – fakta. Manusia kini telah membatasi
diri dalam penyelidikannya pada fakta – fakta yang disajikan kepadanya. Atas
dasar obserfasi dan dengan menggunakan rasionya, manusia berusaha menetapkan
relasi atau hubungan persamaan dan urutan yang terdapat antara fakta – fakta.
Pada zaman terakhir ini lah dihasilkan ilmu pengetahuan dalam arti yang
sebenarnya.
Ilmu pengetahuan tidak semuanya mencapai
kematangan yang sama pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu memungkinkan
untuk melukiskan perkembangan ilmu pengetahuan berdasarkan rumitnya bahan yang
dipelajari didalamnya. Urutan perkembangan ilmu pengetahuan tersusun sedemikian
rupa sehingga yang satu selalu mengandalkan ilmu pengetahuan yang lain
mendahuluinya. Dengan demikian, Comte membedakan enam ilmu pengetahuan pokok
yaitu ilmu pasti, astronomi, fisika, kimia, biologi, dan puncaknya pada
sosiologi. Semua ilmu pengetahuan, menurut Comte, dapat dijabarkan kepada salah
satu pada enam ilmu tersebut.[7]
2.3.Riwayat
Hidup Auguste Comte
Riwayat
hidup setiap orang merupakan salah satu media dalam memahami alur berpikir dan
berbagi gagasan yang diciptanya, tidak terkecuali dengan riwayat hidup seorang
ilmuan dan filosof setingkat Auguste Comte oleh karena itu, pentimg disini
untuk menguraikan terlebih dahulu biografi Auguste Comte, dengan tujuan mengambil
serpihan – serpihan latar belakang dirinya sehingga mewujudkan pandangan –
pandangannya melalui fositivisme.
Auguste Comte dilahirkan di Montpellier,
prancis, tahun 1798. Keluarganya beragama katholik yang berddarah bangsawan.
Meskipun demikian, Auguste Comte tidak terlalu peduli dengan kebangsawanannya.
Ia mendapat pendidikan di paris dan lama hidup disana. Dikalangan teman –
temannya, Comte adalah mahasiswa yang keras kepala dan suka memberontak, yang
meninggalkan paris sesudah seorang mahasiswa yang memberontak dalam mendukung
napoleon di pecat. Auguste Comte memulai karir profesionalnya dengan memberi
les dalam bidang matematika. Meskipun ia sudah memperoleh pendidikan, perhatian
yang sebenarnya adalah pada masalah – masalah kemanusiaan dan sosial. Auguste
Comte dijadikan sebagai sekertaris oleh Sains Simon, dan diantara keduanya
menjalin erat kerja sama dalam mengembangkan karya awalnya sendiri. Sains Simon
adalah seorang yang tekun, aktif, bersemangat, dan tidak disiplin. Sedangkan
Auguste Comte seorang yang netodis, disiplin, dan refleksif. Akan tetapi,
sesudah tujuh tahun bersama pasangan ini pecah karena perdebatan mengenai
kepengarangan karya bersama, dan Auguste
Comte pun menolak pembibingannnya ini. Kondisi ekonomi Comte juga pas - pasan
saja, dan hampir terus menerus hidup miskin. Dia tidak pernah mamou menjamin
posisi profesional yang di bayar dengan semestinya dalam siste, pendidikan
tinggi prancis. Banyak karirnya berupa les privat, menyajikan ide ide
teoritisnya dalam suatu kursus privat yang dibayar oleh peserta peserta, dan
sekali menjadi penguji akademik kecil. Di akhhir hayatnya, dia hidup dari
pemberian orang orang yang mengaguminya dan pengikut pengikutnya agama
Humanitasnya.
Pergaulan Auguste Comte dengan gadis gadis
juga mendatangkan malapetaka. Tetapi, relevan untuk memahami evolusi dalam
pemikiran Comte, khususnya perubahan dalam tekanan tahap tahap akhir hidupnya
dari Positivisme ke cinta. Sedang ia mengembangkan filsafatnya ia menikah
dengan perempuan bekas pelacur yang bernama Caroline Massin, seorang wanita ang
lama enderita sakit, serta menanggung beban emosional dan ekonomi dengan Comte.
Setelah itu comte keluar dari rumah sakit, dengan sabar ia berusaha memenuhi
kebutuhan Comte, dan merawatnya sampai sembuh meskipun tanpa penghargaan Comte
dan kadang kadang disertai perlakuan yang kasar. Setelah pisah untuk beberapa
saat, isrinya pergi dan membiarkan dia sengsara dan gila. Dalam karya bukunya
politik positif yang dimaksudkan untuk mengenang “bidadari” – nya itu, ia berepndapat
bahwa kekuatan yang sebenarnya yang mendorong orang lain dalam kehidupannya
adalah perasaan, bukan pertumbuhan inteligeni yang mantap. Dia mengusulkan
suatu reorganisasi msyarakat, dengan sejumlah tata cara yang dirancang untuk
membangkitkan cita murni dan tidak egoistis, demi “kebesaran kemanusiaan”.
Tujuannya adalah mengembangkan suatu agama yang baru “Agama Humanitas” yang
merupakan sumber suberb bagi perasaan perasaan manusia serta megubahnya dari
cinta diri dan egoisme menjadi alturisme dan cinta, dan sekaligus tidak
membenarkan secara intelektual ajran ajaran agama tradisonal yang bersifat supernaturalistik.
Dengan kata lain agama Humanitas harus sesuai dengan standar – standar
intelektual serta persyaratan Positivisme.[8]
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Positivisme berasal dari kata “positif”.
Kata “positif” di sini sama artinya dengan faktual, yaitu apa yang berdasarkan
fakta – fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak melebihi
fakta-fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta –
fakta. Dengan demikian, ilmu pengetahuan empris menjadi contoh istimewa dalam
bidang pengetahuan. Kemudian, filsafat pun harus meneladani contoh itu. Oleh
karena itu pulalah, fositivisme menolak cabang filsafat metafiiska. Aliran
positivisme ini lahir berusaha menyempurnakan aliran empirisme dan aliran
rasionalsime, dengan cara memasukan perlunya eksperimen dan ukuran ukuran.
Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh pengetahuan,
tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen.
DAFTAR
PUSTAKA
Hakim,
Atang Abdul. 2008. Filsafat Umum Dari
Metologi Sampai Teofilosofi. Bandung : Pustaka Setia
Mustansyir,
Rizal. 1995. Filsafat Analitik. Jakarta
: PT RajaGrapindo Persada
A,
Susanto. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta
: Bumi Aksara
Poedjawijatna.
Pembimbing ke Arah Alam Filsafat
Wikipedia.com.positivisme.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar